Category Archives

176 Articles
Google Chrome dan Flash

Google Chrome dan Flash

Google Chrome

Saya menggunakan Google Chrome untuk memiliki Adobe Flash terbaru. Maklum, si Adobe sudah memutuskan untuk tidak memperbaharui plugin Flash untuk GNU/Linux. Versi terakhir yang bisa dipakai adalah 11.2.

Untuk GNU/Linux, Adobe menggunakan API Google Chrome. Versi Adobe Flash di peramban Google Chrome sekarang adalah 11.3.31.218. Ya, sudah tanpa banyak basa-basi, mari pasang Adobe Flash, eh, Google Chrome.

Masukkan Repositori Google

$ wget -q -O - https://dl-ssl.google.com/linux/linux_signing_key.pub | sudo apt-key add -
$ echo "deb http://dl.google.com/linux/chrome/deb/ stable main" | sudo tee -a /etc/apt/sources.list.d/google-chrome.list
$ sudo apt-get update

Pasang Google Chrome. Saya sendiri lebih suka yang Unstable.

$ sudo apt-get install google-chrome-unstable

Selesai sudah.

Bacaan lebih lanjut

Daftar perangkat lunak Google untuk GNU/Linux. 

PPA untuk Tampilan Alternatif

PPA untuk Tampilan Alternatif

Agak bosan dengan Unity? Punya koneksi Internet yang cukup? Ingin melihat paradigma HCI (istilah populernya sekarang UX) yang berbeda? Atau Anda kurang kerjaan seperti saya? Silakan ikuti.

Enlightenment DR-17 (E17)

Saya mengikuti dari semenjak zaman mahasiswa dan sudah hampir sepuluh tahun (atau jangan-jangan sudah lebih?) masih versi SVN saja. Yang keren dari lingkungan ini adalah dia bisa jalan di lingkungan PDA Zaurus. Zaurus adalah perangkat masa lalu yang keren jauh sebelum BB berkuasa. Saat ini, saya menggunakan versi SVN dan cukup baik penggunaannya.

Kelemahan: systray tidak ada (systray bisa diaktifkan, ternyata modulnya secara baku dimatikan) dan wallpaper belum bisa diganti dengan gambar biasa. Tapi, sekarang E17 sudah punya composite sendiri dan sepertinya dia berjalan di atas OpenGL ES. Wajar, sih, mengingat beliau digunakan untuk telepon pintar.

deb http://ppa.launchpad.net/hannes-janetzek/enlightenment-svn/ubuntu precise main
deb-src http://ppa.launchpad.net/hannes-janetzek/enlightenment-svn/ubuntu precise main

Saya pakai ini sekarang. Katanya, sih, sudah ada modul systray, saya sedang berusaha mencarinya di PPA. Yah, kalau tak ada, saya akan kompilasi sendiri.

Cinnamon

Sudah banyak yang membahas desktop turunan GNOME3 ini. Dibuat oleh pengembang Linux Mint dan tersedia untuk banyak distro. Cinnamon, sebuah GNOME3 dengan kelakuan mirip GNOME2.

deb http://ppa.launchpad.net/bimsebasse/cinnamonextras/ubuntu precise main
deb-src http://ppa.launchpad.net/bimsebasse/cinnamonextras/ubuntu precise main
deb http://ppa.launchpad.net/gwendal-lebihan-dev/cinnamon-stable/ubuntu precise main
deb-src http://ppa.launchpad.net/gwendal-lebihan-dev/cinnamon-stable/ubuntu precise main

Saya pasang ini tapi cuma sebentar memakainya. Not trying to be a hipster but this isn’t an alternative anymore and too mainstream… 🙂

Elementary

Elementary merupakan sebuah desktop untuk ElementaryOS, sebuah distro GNU/Linux yang mengambil falsafah kesederhanaan. Mereka ingin membuat semuanya sederhana tanpa keribetan antarmuka. Bukan antarmuka untuk saya yang pasti. Bagi saya, banyaknya pilihan itu mengasyikkan untuk menghasilkan sebuah desktop yang terpersonalisasi.

Oh, omong-omong dia butuh beberapa paket tambahan.

deb http://ppa.launchpad.net/elementary-os/daily/ubuntu precise main
deb-src http://ppa.launchpad.net/elementary-os/daily/ubuntu precise main

# SQLHeavy Stable
deb http://ppa.launchpad.net/nemequ/sqlheavy/ubuntu precise main
deb-src http://ppa.launchpad.net/nemequ/sqlheavy/ubuntu precise main

# Midori development version (needed for some modules)
deb http://ppa.launchpad.net/midori/midori-dev/ubuntu precise main
deb-src http://ppa.launchpad.net/midori/midori-dev/ubuntu precise main

##  Webkit needed by Midori
deb http://ppa.launchpad.net/webkit-team/ppa/ubuntu precise main
deb-src http://ppa.launchpad.net/webkit-team/ppa/ubuntu precise main

Yak, sekian. Ada lagi, ‘kah, tambahan desktop yang eksotik lainnya?

Bonus: Unity Lens

Unity Lens adalah sebuah penyaring bagi Dash, sebuah komponen Unity desktop baku Ubuntu. Contoh Lens yang terpasang misalnya Music Lens yang berisi lagu-lagu yang ada di komputer atau lagu yang terakhir dimainkan. Ada banyak Lens lainnya yang menarik.

deb http://ppa.launchpad.net/scopes-packagers/ppa/ubuntu precise main
deb-src http://ppa.launchpad.net/scopes-packagers/ppa/ubuntu precise main

Silakan cari-cari Lens yang keren dan pasang.

MyPaint Tidak Bisa Menggambar

MyPaint Tidak Bisa Menggambar

Penyebab MyPaint tidak bisa menggambar bila menggunakan tetikus adalah karena fitur sensitivitas penekanan tombol aktif. Fitur ini berguna bila kita menggunakan tablet. Tapi, berhubung kita menggambar murah meriah, fitur ini perlu dimatikan.

  1. Buka menu MyPaint –> Preferensi
  2. Pada Input Pinsil ubah nilai Modus menjadi “Tak aktif (tiada sensitivitas tekanan
  3. Klik tombol Oke untuk mengaktifkan perubahan.

Beres.

Better Sound Clarity With ALSA

Better Sound Clarity With ALSA

The Problem

ALSA default SRC is using flat (linear) mixing when sampling audio into 48KB. To make it worse, the sound was already been sampled by Pulseaudio. Double extra lost precision.

The Solution

Add a line to “.asoundrc” to enable “samplerate_best”:

$ cat >> ~/.asoundrc << PUTUS
defaults.pcm.rate_converter "samplerate_best"
PUTUS

If your player use ALSA only, just replay audio and you will hear the difference. I’m disabling Pulseaudio remixing also by adding this line to “/etc/pulse/daemon.conf”:

disable-remixing = yes

And kill pulseaudio, or just logout and login back if you don’t know how.

A Tip

You could use “speexrate_best” instead of “samplerate_best”. Some user on the Internet said it was more light. But, I’ve found out in my laptop that speex consume slightly higher CPU rate than libsamplerate. Anyway, just check using “top”, no science about it. You might have different result.

Please consider these three factors that matter:

  1. You have a constraint on CPU usage. Using more CPU cause battery to dry faster.
  2. Your hardware is not that good. Using low dynamics gears will not propagate better result.
  3. Your hearing is not that sensitive.
I hope I made a polite gesture, not intend to mock anyone. Anyway, that’s why I would ask you to test by changing “defaults.pcm.rate_converter” parameter between “samplerate_best” and “speexrate_best”. There is also “speexrate_medium” and “samplerate_medium” that might already suit the need.
Last, the most important one, don’t let loudness fool you! It is dangerous to put high volume and hear it for long time. It would worn out your ear. I myself using 30%~45% Master volume (about -30dB~-25.50dB). It feel low at first, but hours of using headphone will explain you why it is better. Btw again, some people said to use PCM instead of Master volume for changing volume level. But, in my case, it is better to play the Master volume than PCM. Again, it might vary on you.

The Story

Imagine this, a person has a Sennheiser PX-100, customized with PX-202 ear pad. Removed all the nasty MP3 and use only FLAC, Musepack, AAC+ and OGG — last one is because that person is fond of Free Software and free standard. The person only plays songs ripped from original CD the person bought over the years.

Usually I would suggest that person to use patched OSS4, enabling Production quality. The problem is over the year Ubuntu making OSS4 less compatible. Too much compiling would shy that people away from GNU/Linux. Thankfully, ALSA also have the right software mixing.

Membuat BlankOn Pattimura Kompatibel dengan PPA

Membuat BlankOn Pattimura Kompatibel dengan PPA

Ketika saya berusaha menambahkan PPA dengan menggunakan perintah “apt-add-repository”, saya selalu menemukan galat berikut:

Traceback (most recent call last):
  File "/usr/bin/apt-add-repository", line 60, in <module>
    sp = SoftwareProperties()    
  File "/usr/lib/python2.7/dist-packages/softwareproperties/SoftwareProperties.py", line 90, in __init__
    self.reload_sourceslist()
  File "/usr/lib/python2.7/dist-packages/softwareproperties/SoftwareProperties.py", line 538, in reload_sourceslist
    self.distro.get_sources(self.sourceslist)    
  File "/usr/lib/python2.7/dist-packages/aptsources/distro.py", line 91, in get_sources
    raise NoDistroTemplateException("Error: could not find a "
aptsources.distro.NoDistroTemplateException: Error: could not find a distribution template

Menurut artikel di Ask Ubuntu, ternyata hal ini karena berkas “/etc/lsb-release” terbaca bukan Ubuntu. Dan ternyata isinya:

$ cat /etc/lsb-release
DISTRIB_ID=BlankOn
DISTRIB_RELEASE=5.0
DISTRIB_CODENAME=nanggar
DISTRIB_DESCRIPTION="BlankOn Nanggar"

Hah? Nanggar? Ternyata laptop saya sudah sejak lama dipasang BlankOn. Ha… ha… ha… saya suka pindah bolak-balik antara Ubuntu dengan BlankOn. Toh hanya sejauh “apt-get”) saja. Jadi, saya ubah saja menjadi:

DISTRIB_ID=Ubuntu
DISTRIB_RELEASE=10.04
DISTRIB_CODENAME=lucid
DISTRIB_DESCRIPTION="Ubuntu Lucid Lynx"

Beres. Ini juga bisa dipakai untuk pindah ke LTS yang baru nantinya.

Memasang Ubuntu Precise dari BlankOn Pattimura

Memasang Ubuntu Precise dari BlankOn Pattimura

TL;DR

Inti dari tulisan ini adalah memasang menggunakan debootstrap. Ada beberapa alasan yang menyebabkan memasang Ubuntu Precise dengan menggunakan metode ini. Kalau saya:

  1. Saya menggunakan LVM dan CD pemasang Ubuntu tidak mendukung LVM.
  2. Saya suka menggunakan debootstrap.
  3. Beberapa konfigurasi dasar di BlankOn disalin oleh debootstrap sehingga saya terbantu.
  4. Saya ingin mencoba yang baru dan proses ini mengedukasi saya.
  5. Saya kurang kerjaan dan pengen iseng-iseng.

Persiapan Sebelum Debootstrap

Ada beberapa langkah persiapan:

  1. Memasang paket debootstrap dari Ubuntu Precise.
  2. Mempersiapkan partisi yang dibutuhkan.

Memasang Paket Debootstrap dari Ubuntu Precise

Paket debootstrap dari Pattimura belum memuat Precise. Untuk itu, kita perlu memasangnya dari repositori Precise. Hal ini bisa dilakukan karena debootstrap dapat dipasang di semua arsitektur (arch=All). Anda dapat mengunduh sendiri lalu menggunakan dpkg atau cukup klik tautan ini di peramban Anda agar otomatis terpasang. Kalau saya, sih, memilih cara yang kedua. 🙂

Mempersiapkan Partisi

Saya asumsikan partisi telah tersedia. Dalam contoh saya, saya memberi partisi sebagai “/dev/mapper/Linux_LVM-UbuntuLucid”. Biasalah, sebelumnya saya coba-coba Ubuntu Lucid. Biar afdol, format dengan sistemberkas kesukaan: [Hati-hati, perintah ini menghapus isi partisi. PASTIKAN TIDAK ADA DATA PENTING]

$ sudo mkfs.reiserfs /dev/mapper/Linux_LVM-UbuntuLucid -l "Ubuntu 12.04"

Saya suka sekali memberi label pada setiap partisi. Praktik ini sangat berguna bila Anda bekerja di Pusat Data dan melibatkan banyak partisi. Kali ini saya memberi label “Ubuntu 12.04” untuk membedakan Pattimura dengan Precise.

Lanjut Debootstrap

Lakukan langkah-langkah yang biasa dilakukan saat debootstrap, yakni:

  1. Mengaitkan (mount) partisi yang mau dipakai ke sebuah direktori.
  2. Melakukan debootstrap ke direktori tersebut.
  3. Mengaitkan sistemberkas khusus ke sub-sub direktori yang diperlukan.

Mengaitkan Partisi

Kaitkan partisi yang telah dipersiapkan ke sebuah direktori kosong; saya menggunakan “/mnt”:

$ sudo mount /dev/mapper/Linux_LVM-UbuntuLucid /mnt/

Pasang Paket Dasar Ubuntu

Memasang paket-paket dasar Ubuntu Precise dengan debootstrap.

sudo debootstrap precise /mnt/ http://kambing.ui.ac.id/ubuntu/

Kaitkan Sistemberkas Khusus

Sebelum melakukan modifikasi lebih lanjut, pasang sistemberkas khusus. Hal ini diperlukan karena ada beberapa paket yang membutuhkan informasi kernel yang berjalan. Mereka memerlukan akses ke perangkat keras agar dapat terpasang dengan baik. Untuk itu, ada tiga buah sistemberkas khusus yang diperlukan:

dev
Dulu ada sistemberkas devfs yang mengonfigurasi direktori dev. Lalu ada juga skrip MAKEDEV yang mengisi direktori tersebut dengan berkas-berkas khusus. Sekarang, kita hanya perlu menautkan /dev saja karena sistem modern sudah menggunakan udev.
devpts
Sistem berkas ini digunakan untuk mengemulasi lingkungan terminal. Biasanya digunakan oleh XTerm, SSHd, dan bahkan aplikasi pemaket Debian untuk membaca terminal.
proc
Sistemberkas ini berisi informasi kernel. Informasi itu misalnya proses yang berjalan dan propertinya, sistemberkas yang terpasang, dan lain sebagainya.
sysfs
Sysfs adalah sebuah sistem berkas yang disediakan untuk aplikasi-aplikasi dapat mengakses perangkat-perangkat keras yang ada.

Mari pasang keempat sistemberkas tersebut:

$ sudo mount /dev/ /mnt/dev -o bind
$ sudo mount none /mnt/dev/pts -t devpts
$ sudo mount none /mnt/proc -t proc
$ sudo mount none /mnt/sys -t sysfs

Partisi “/mnt” sampai saat ini telah siap untuk digunakan sebagai partisi utama (root partition).

Masuk Ke Direktori Tersebut

Mari masuk ke direktori tersebut untuk konfigurasi lebih lanjut. Untuk masuk, digunakan chroot yang mengemulasi lingkungan konsol dengan menjadikan sebuah direktori menjadi lingkungan tersendiri. Lingkungan yang berjalan tergantung direktori tersebut. Banyak sistem operasi baru (termasuk Ubuntu) menggunakan Dash dari pada BASH sebagai program konsolnya. Kebetulan saya lebih suka BASH.

Mari masuk ke lingkungan sistem baru kita dengan menggunakan BASH yang terpasang di sana.

$ sudo chroot /mnt /bin/bash

Pemasangan Lingkungan Dasar

Ada beberapa langkah untuk memasang Precise:

  1. Mempersiapkan repositori (opsional karena yang utama ditambahkan otomatis oleh debootstrap).
  2. Memasang dukungan Bahasa Indonesia
  3. Mengonfigurasi waktu sistem.
  4. Memasang perkakas sistem berkas.
  5. Memasang desktop.
  6. Menambah pengguna baru.
  7. Memasang kernel Linux.

Memasang Repositori Cadangan (Opsional)

Ubuntu Precise saat ini masih versi alfa. Artinya, banyak sekali perubahan yang terjadi sehingga repositori masih belum stabil. Perubahan-perubahan ini menyebabkan pencerminan lokal seperti Kambing dan Indika membutuhkan waktu lebih lama untuk sinkronisasi dengan repositori utama.

Kalau Anda memiliki akses Internet lumayan, silakan kunjungi daftar pencerminan Ubuntu dan periksa situs-situs yang Up-to-date. Saya memilih menggunakan situs dari Jepang, JAIST sebagai situs cermin tambahan.

Setelah memutuskan, saya menambahkan situs pencerminan tersebut ke berkas sources.list saya. Di dalam informasi tentang JAIST, saya ubah “Display sources.list entries for: ” menjadi “Precise (12.04)”.Lalu setelah itu saya menyalin dua baris di bawahnya yang berubah menjadi konfigurasi sources.list untuk Precise.

Langkah selanjutnya menambahkan dua baris tersebut ke sources.list. Saya tetap menggunakan Kambing sebagai situs utama, sehingga saya menambahkannya dua baris tersebut di akhir baris.

BONUS: Karena ViM belum terpasang, saya memberikan dua opsi untuk memasang repositori cadangan.

Cara L33t

Lakukan langkah berikut di dalam lingkungan chroot.

# cat >> /etc/apt/sources.list << PUTUS

deb http://ftp.jaist.ac.jp/pub/Linux/ubuntu/ precise main
deb-src http://ftp.jaist.ac.jp/pub/Linux/ubuntu/ precise main
PUTUS

Cara Biasa

Buka terminal satu lagi dan tambahkan dua baris entri deb dan deb-src tersebut.

$ sudo gedit /mnt/etc/apt/sources.list

Tambahkan dua entri setelah entri repositori utama dan simpan berkas tersebut.

Perbaharui Daftar Paket

Setelah masuk ke dalam lingkungan chroot, entah Anda memutuskan untuk menambah repositori atau tidak, jangan lupa memperbaharui daftar paket.

# apt-get update

Pasang Bahasa Indonesia

Sebagai seorang Indonesia, saya cinta Bahasa Indonesia. Saya lebih suka melihat kata “Sedang memproses pemicu untuk gnome-menus … ” dari pada versi bahasa Inggrisnya. Itu sebabnya, saya tidak ingin langkah ini opsional.

# apt-get install language-pack-id

Konfigurasi Waktu

Untuk mengonfigurasi waktu, lakukan langkah berikut:

# dpkg-reconfigure tzdata

Lalu pilih Asia.

Memilih Asia

Pilih Asia

kemudian Jakarta.

Memllih Jakarta.

Memilih Jakarta.

Untuk Anda yang berada di zona waktu selain Indonesia Barat (WIB), pilih Jayapura untuk Indonesia Timur (WIT) atau Makassar untuk Indonesia Tengah (WITA).

Memasang Perkakas Sistemberkas

Secara baku Ubuntu hanya memasang perkakas untuk EXT3, EXT4, NFS, CRAMFS, dan FAT32. Padahal, saya menggunakan LVM dan di atasnya terpasang ReiserFS. Agar sistem dapat digunakan saat nanti di-boot, saya harus memasang perkakas untuk LVM dan ReiserFS.

# apt-get install lvm2 reiserfsprogs

Mungkin jika Anda menggunakan XFS:

# apt-get install xfsprogs

Atau ada partisi NTFS:

# apt-get install ntfs-3g

Memasang Desktop

Sekarang saatnya memasang desktop Ubuntu. Anda bisa memasang Kubuntu, Lubuntu, Xubuntu, atau bahkan megonfigurasi sendiri. Tetapi, untuk kesederhanaan saya memilih untuk memasang yang baku dari Ubuntu.

# apt-get install ubuntu-desktop

Saat proses pemasangan ini berlangsung Anda jangan lupa ngopi, salam ke tetangga, ajak main anak Anda, atau lihat-lihat status gebetan di media sosial. Oh, sudah makan, belum?

Menambahkan Pengguna Baru

Tambahkan satu atau dua pengguna baru. Misalnya saya menambahkan satu pengguna baru:

# adduser jp
Menambhakan pengguna 'jp' ...
MEnambah grup baru /etc/skel' ...
Masukkan sandi lewat UNIX baru:
Masukkan ulang sandi lewar UNIX baru:
passwd: password updated successfully
Changing the user information for jp
Enter the new value, or press ENTER for the default
        Full Name []: Jan Peter Alexander Rajagukguk
        Room Number []:
        Work Phone []:
        Home Phone []:
        Other []:
Apakah informasi ini benar? [y/N] y

Tambahkan hak administrator kepada pengguna yang berhak. Misalnya akun saya.

# adduser jp sudo

Ubuntu Desktop sudah memasang sudo dan grup “sudo” otomatis ditambahkan sebagai grup administrator. Silakan cek dengan perintah “visudo” untuk mengetahui grup apa saja yang dikonfigurasi demikian.

Memasang Kernel

Langkah selanjutnya adalah memasang kernel. Saya pilih yang generik saja.

# apt-get install linux-image-generic

Proses pemasangan ini juga memasang GRUB PC (alias GRUB2). GRUB PC akan menanyakan partisi khusus yang hendak Anda pasang. Pilihkan cakram utama Anda, biasanya sih “/dev/sda”. Gunakan tombol panah atas dan bawah untuk navigasi. Tekan tombol spasi untuk memilih.

Pilih /dev/sda

Pilih /dev/sda (cakram keras utama)

Sampai tahap ini sistem sudah siap untuk digunakan. Selanjutnya kita akan bersih-bersih.

Bonus: Beberapa Langkah Tambahan

Saya menyertakan bonus untuk beberapa langkah tambahan untuk menyempurnakan pemasangan Precise ini, yakni:

  1. Memasang aplikasi-aplikasi dasar favorit.
  2. Memasang SSH.
  3. Mengonfigurasi direktori rumah (home) dan direktori lainnya.

Memasang Aplikasi Favorit

Saya suka memakai ViM.

# apt-get install vim

Memasang SSH

SSH server seringkali tidak dipasang, tetapi, saya suka mengakses laptop saya untuk menyalin berkas-berkas penting (misalnya anime, dokumen kantor, dll.) dari komputer lain.

# apt-get install ssh

Langkah berikut opsional, tetapi saya ingin agar konfigurasi SSH saya di BlankOn dan di Ubuntu ini sama. Untuk itu, buka jendela terminal lain dan salin berkas-berkas konfigurasi SSH.

$ sudo cp /etc/ssh/* /mnt/etc/ssh/

Saya lakukan ini supaya kunci SSH di BlankOn dan Ubuntu sama. Dengan ini kalau mau masuk dari mesin lain, klien tidak mencurigai kunci yang berbeda setiap kali berganti sistem operasi.

Mengonfigurasi Partisi Lain

Untuk lebih gampang, silakan gunakan GEdit untuk memodifikasi fstab. Misalnya, di terminal lain Anda gunakan perintah:

$ sudo gedit /etc/fstab /mnt/etc/fstab

Lihat baris mana saja yang perlu ditambahkan. Kecuali partisi dasar, yang lainnya tambahkan saja. Saya menambahkan partisi rumah ke dalam fstab. Kebetulan saya memisahkan partisi rumah “/home” ke dalam partisi yang berbeda.

Pembenahan Sebelum Masuk Ke Ubuntu

Langkah-langkah yang perlu dilakukan sebelum komputer dinyalaulangkan untuk masuk ke dalam sistem baru.

Cara Malas

Langsung nyalaulangkan komputer Anda.

Cara Aang Anak Baik

Berikut langkah-langkah yang baik:

  1. Keluar dari lingkungan chroot dengan menekan tombol CTRL-D.
  2. Lepaskan kaitan sistemberkas yang telah kita pakai.oun
    $ umount /mnt/dev/pts /mnt/proc /mnt/sys /mnt/dev
  3. Baru nyalaulangkan komputer Anda.

Perbaikan Di Dalam Ubuntu Precise

Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki:

  1. Dukungan Bahasa
  2. Entri GRUB untuk Opera

Dukungan Bahasa

Terus terang saya tidak tahu apa yang saya lakukan, karena Ubuntu ini versi masih alfa.

Saya masuk ke dalam Language Support dan memasang dukungan Bahasa Indonesia. Entah mengapa, Ubuntu malah memasang bahasa Inggris. Akhirnya, saya pancing dengan mengaktifkan bahasa Inggris dan memilih “Apply System-wide”. Kemudian, saya pilih Bahasa Indonesia dan Apply System-wide. Terakhir, saya membuang dukungan bahasa Inggris. Lalu saya menyalaulangkan Ubuntu saya.

Membetulkan GRUB

Saya ketika memasang Ubuntu Precise hanya menjumpai Ubuntu dan Windows XP saja pada entri GRUB. Untuk mendapatkan entri BlankOn, saya melakukan ini:

$ sudo dpkg-reconfigure grub-pc

Dan lanjutkan saja terus, nanti di akhir konfigurasi GRUB PC akan mencari kembali partisi-partisi yang ada sistem operasinya.

Sekian

Demikian adanya.

Ubuntu Baru

Ubuntu Baru Saya

Membetulkan Akonadi

Membetulkan Akonadi

Sampai hari ini saya selalu menggunakan Thunderbird. Hal ini karena KMail selalu gagal dijalankan. Entah mengapa dia selalu gagal membuat proses anakan.

Solusinya mudah, selama ini Akonadi berusaha menjalankan MySQL. Sekarang, kita hanya perlu jalankan MySQL server langsung dan biarkan Akonadi mengakses MySQL tersebut.

  1. Pastikan MySQL berjalan:
    $ sudo /etc/init.d/mysql start
  2. Akses MySQL:
    $ mysql -u root -p
  3. Buat basisdata untuk akonadi:
    mysql> create database akonadi;
  4. Tambahkan hak akses:
    mysql> grant all on akonadi.* to akonadi@localhost identified by 'akonadi123';
  5. Keluar dari MySQL:
    mysql> quit;

Setelah itu, mari ubah konfigurasi Akonadi:

  1. Jalankan Run dan ketik akonadi untuk mencari Akonadi Configuration, atau Anda dapat mengaksesnya dari systemsettings. Berikut tampilan Run:
  2. Di dalam Akonadi Configuration lakukan hal-hal berikut:
    • Hilangkan centang pada “Use internal MySQL Server”
    • Database name: akonadi
    • Nama pengguna: akonadi
    • Sandi: akonadi123
    • Hilangkan isian “Options”
  3. Klik “Terapkan” dan jalanulangkan Akonadi dengan memencet tombol “Restart”.
  4. Selesai.
Masalah Serius Java

Masalah Serius Java

Bagi pengguna GNU/Linux, terutama Debian dan turunannya, terdapat dua masalah serius:

  1. Debian akan membuang Oracle Java dari repositorinya karena perubahan lisensi.
  2. Masalah keamanan serius pada protokol keamanan TLS/SSL yang menyebabkan seseorang dapat melakukan penyerangan (tidak spesifik GNU/Linux saja karena ini adalah kelemahan pada protokol).

Debian akan membuang Oracle Java dari repositorinya karena masalah lisensi. Hal ini terjadi karena lisensi SUN DLJ telah dicabut dan digantikan pada pembaharuan Java terbaru (J2SE 6 Update 29 dan J2SE 7). Oracle tampaknya mau mengusung OpenJDK sebagai satu-satunya solusi Java yang dapat didistribusikan oleh distro-distro GNU/Linux.

Kalau menurut pengalaman saya, OpenJDK kurang bagus. Terutama dalam bidang saya, kartu pintar. Saya melihat Oracle Java lebih stabil dalam mengimplementasi JSR 268. Waktu itu, mesin e-Akses yang menggunakan OpenJDK sering tidak responsif. Tentu saja, itu sudah lebih dari setahun yang lalu. Saya mungkin hendak mengujinya lebih lanjut.

Untuk pemakai akhir, setiap orang dapat mengunduh langsung Oracle Java di situsnya. Saya tidak tahu tentang perjanjian Canonical dan Oracle. Berhubung Oracle Java didistribusikan di repositori Canonical Partner, kemungkinan Ubuntu masih dapat mengakses Oracle Java.

Masalah yang kedua adalah ditemukan sebuah masalah serius pada protokol SSL 3.1 dan TLS 1.0. Galat yang bernama BEAST TLS (Browser Exploit Against SSL/TLS) ini membuat penyerang mengambil cookies dari situs yang terenkripsi sekalipun. Menurut BUG #689661 Mozilla, penyerang dapat mengambil cookies yang sedang aktif dan dapat menggunakan cookies tersebut untuk masuk ke dalam situs aman semacam Google, Paypal, atau situs mana pun yang menggunakan HTTPS.

Solusi sederhana dari Mozilla adalah dengan mematikan Java Plugin pada peramban. Kalau dari tulisan lain, mematikan dukungan SSL 3.0 dan TLS 1.0, hanya menggunakan protokol SSL 3.2, TLS 1.1, dan TLS 1.2 saja. Saya tidak tahu berapa situs yang sudah mendukung protokol TLS 1.1+. Lagipula, berapa, sih, versi peramban yang sudah mendukung TLS 1.1+?

Bagi rekan-rekan yang memiliki situs, tampaknya Anda perlu memperbaharui protokol HTTPS Anda dengan menggunakan protokol TLS 1.1+ atau SSL 3.2. Hal ini karena masalah BEAST bukan hanya spesifik pada Java.

TAMBAHAN:

Ternyata Oracle Java sudah tak lagi tersedia di Ubuntu. Pengguna Ubuntu juga harus mengunduhnya secara manual. Versi terakhir yang ada di Canonical Partner adalah J2SE 6 Update 26, sedangkan yang terbaru adalah Update 29.

Menyalakan WIFI Pada Ubuntu 10.04/Blankon 7

Menyalakan WIFI Pada Ubuntu 10.04/Blankon 7

Ketika menyalakan laptop (Lenovo Y41), saya mendapati bahwa ternyata WIFI saya tak menyala. Biasanya, sih, saya matikan laptop lalu saya aktifkan saklar WIFI/Bluetooth, baru nyalakan kembali laptop. Tapi, seandainya Anda sedang melakukan sesuatu yang penting (bagi Anda, misalnya mengompilasi kernel dengan kemampuan Rick Roll). Anda tidak ingin mematikan komputer Anda, dong. Nah, ini tips jika Anda terlanjur menyalakan laptop ketika saklar masih mati.

Setelah bertanya pada Mbah Google dan arsip forum Ubuntu dan coba-coba untuk mengisolasi permasalahan, saya temukan bahwa masalahnya ternyata ada dua antarmuka:

$ rfkill list
0: ideapad_wlan: Wireless LAN
        Soft blocked: yes
        Hard blocked: yes
1: ideapad_bluetooth: Bluetooth
        Soft blocked: yes
        Hard blocked: yes
2: phy0: Wireless LAN
        Soft blocked: yes
        Hard blocked: yes

Aktifkan saklar Anda:

$ rfkill list
0: ideapad_wlan: Wireless LAN
        Soft blocked: no
        Hard blocked: no
1: ideapad_bluetooth: Bluetooth
        Soft blocked: yes
        Hard blocked: no
2: phy0: Wireless LAN
        Soft blocked: yes
        Hard blocked: no

Wah, lihat, ada dua antarmuka yang berubah. Sepertinya ada dua antarmuka yang harus dibuka dan Ubuntu 10.04  (dan turunannya) tak bisa mengaktifkan keduanya secara otomatis. Soft block artinya perangkat keras dimatikan dari penggerak (driver/software). Saatnya membuka soft block masing-masing antarmuka:

$ sudo rfkill unblock 0
$ sudo rfkill unblock 2

Beres.

Catatan: anehnya dulu tak pernah terjadi di versi Ubuntu terdahulu…. -_-‘

Installing Debian Squeeze on XServe 3.1

Installing Debian Squeeze on XServe 3.1

This tutorial is using a custom ISO of Ubuntu downloaded from here.

The Challenges

We have Apple XServe 3.1 servers here. They are equipped with a JBOD, Promise VTrek E610F. It connected via Fibre Channel. We have configured them for RAID6 28 TB.

The best part of the challenge is that XServe 3.1 use EFI. Some people would suggested us to use rEFIt and chainload it to GRUB2. We could use “bless” command from OSX.

The problem is, we have stripped the original 150 GB harddrive. The reason was because it was only had one drive without RAID. Data integrity was in question so we have to use only the JBOD.

Another problem is because PC BIOS couldn’t handle more than 2 TB. We just have to use GPT. Besides, GPT is the part of EFI.

So, I took the challenge to not use the OSX but to install directly from GNU/Linux installer from EFI to a GPT partition.

The Preparation

I got this challenge from my friend because he gave up on installing the XServe. From his previous attempt, I got 64 Bit Mac (AMD64) alternate install CD downloaded from Ubuntu. I don’t know where he got the ISO. Please download here. Not bad, I can use it to debootstrap the partitions.

To start, boot the CD and choose Expert Install. The Expert Install mode would let us select few things manually. Here’s the things that I’ve selected:

  1. Language: Indonesia – Bahasa Indonesia
  2. Keyboard: USA :: Macintosh :: No Compose Key
  3. Installer component from CD: [*] choose-mirror: To select mirror [*] network-console: To enable SSH server, I can configure from remote. [*] parted-udeb: To manually create partition.
  4. Configure the network.

If you don’t want to have remote install, you could disable network-console. In my case, I don’t like to be in the server room and to move XServe with its JBOD is daunting. I would like to configure everything from my nice warm room office.

After configuring the network jump to the run shell option. Or, after we have configure SSH credential, we could SSH to the machine with username “installer”. And choose to start a shell. Either way, we would be presented with a little console program: BusyBox. It isn’t feature-rich like BASH, but it serves right with compact size.

On The Shell

First, we partition our drive. We are using parted instead of fdisk because the later doesn’t support GPT partition type. The Apple’s EFI specification needs a FAT32 partition to load the EFI binary. That partition should be at the range of the first 2 TB disk. It doesn’t have to big, just few megs actually would do. So, here’s my partition:

  1. 20 MB FAT32 partition at the beginning with BOOT flag on.
  2. 20 GB partition for our GNU/Linux partition.

We have lots of RAMs, so we disable swap partition. But, yours might differ. From my research, the semantic web/4th paradigm world, it seems people prefer XFS because it is optimized for big data. So, from the beginning I choose XFS. Again, yours might differ. So, here’s the two commands:

# parted -s /dev/sda mklabel gpt mkpart EFI fat32 0% 20MB toggle 1 boot
# parted -s /dev/sda mkpart primary reiserfs 20MB 20GB
# mkfs.xfs /dev/sda2
# mount /dev/sda2 /mnt -t xfs

I have difficulty to format the FAT32 partition, I think the Installer CD is dying. So, I decided to format it later. Now, let’s install it via bootstrap it and copy the files that were configured earlier from the installer:

# debootstrap squeeze /mnt http://kambing.ui.ac.id/debian/
# cp /etc/{fstab,hostname,hosts,resolv.conf} /mnt/etc
# cp /etc/network/interfaces /mnt/etc/network/interfaces

BusyBox can’t do the array like the above. You have to parse it one by one (copy fstab, then hostname, and so on). I just put that way for convenience. Next, we mount the important filesystems and chroot to our new system. I explicitly use BASH instead of DASH, the default shell in Ubuntu.

# mount /dev /mnt/dev -o bind
# mount none /mnt/proc -t proc
# mount none /mnt/sys -t sysfs
# chroot /mnt /bin/bash

On Chrooted Shell: The Basic Packages

First thing to do is to add other repositories to “/etc/apt/sources.list”.

# cat > /etc/apt/sources.list << EOF
deb http://kambing.ui.ac.id/debian squeeze main contrib non-free
deb-src http://kambing.ui.ac.id/debian squeeze main contrib non-free 

deb http://kambing.ui.ac.id/debian-security/ squeeze/updates main contrib non-free
deb-src http://kambing.ui.ac.id/debian-security/ squeeze/updates main contrib non-free 

deb http://kambing.ui.ac.id/debian-backports/ squeeze-backports main contrib non-free
deb-src http://kambing.ui.ac.id/debian-backports/ squeeze-backports main contrib non-free
EOF

I put away the “>”  so you could just copy and paste above. Use a mirror near you. KAMBING is the nearest for me. Then, update and upgrade:

# apt-get update
# apt-get upgrade

Install essential applications. I’m using XFS, that’s why I install xfsprogs. Adjust it with your own filesystem tools. The dosfstools are for FAT32 and so on. I too put SSH server there.

# apt-get install xfsprogs dosfstools parted bash-completion less eject ssh

I’m use ViM. So, optionally, I do this:

# apt-get install vim
# update-alternatives --config editor
There are 3 choices for the alternative editor (providing /usr/bin/editor).

  Selection    Path                Priority   Status
------------------------------------------------------------
* 0            /bin/nano            40        auto mode
  1            /bin/nano            40        manual mode
  2            /usr/bin/vim.basic   30        manual mode
  3            /usr/bin/vim.tiny    10        manual mode

Press enter to keep the current choice[*], or type selection number: 2
update-alternatives: using /usr/bin/vim.basic to provide /usr/bin/editor (editor) in manual mode.

Next, we are going to change the preferences of our system.

On Chrooted Shell: Personalizing System

Let’s add a user with admin privileges. The default system, sudo is not installed. So, we must get it first

# apt-get install sudo
# adduser user
# adduser user sudo

Install and configure our language. Mine is “id_ID.UTF-8”. Also, configure clock (Timezone). Mine is “Asia/Jakarta”.

# apt-get install locales && dpkg-reconfigure locales
# dpkg-reconfigure tzdata

Time is crucial for server. Install NTP server to have our server clock right. Don’t forget to edit the editor to get our nearest NTP server.

# apt-get install ntp
# $EDITOR /etc/ntp.conf
# /etc/init.d/ntp restart

We can check the avaibility of the NTP servers.

# ntpq -p

Last thing, let’s install our Linux kernel.

# apt-get install linux-image-2.6-amd64 firmware-linux-nonfree

The next one is the most challenging one: making our server boot from EFI on GPT partition.

Building GRUB2 from Unstable

I have many failed attempts using the default grub-efi 1.98 from Squeeze. As I realize, the Natty installer is using 1.99 version of GRUB2. I decided to go to that route.

GRUB2 1.99 is available at unstable and must get backported to Squeeze. We must compile it ourselves. So, here’s how to.

Get all the requirements for GRUB2 in Squeeze. There is another optional package we need: libfuse-dev for building grub-mount. It can be skipped, but it’s not that bad to add few bytes on that functionality. We need also autogen because the GRUB2 source is taken from Bazaar.

# apt-get build-dep grub2
# apt-get install autogen libfuse-dev

Next, add Debian source repository for unstable/SID. Don’t add the binary, it will upgrade your system to unstable/SID.

# echo "deb-src  http://kambing.ui.ac.id/debian unstable main contrib non-free" > /etc/apt/sources.list.d/unstable.list
# apt-get update

Get the source.

# apt-get source grub2
# cd grub2-1.99/

We could build the package manually, but I prefer the Debian way. Fortunately, the showstopper of doing the Debian way is only the GCC requirement. Unstable/SID  is using gcc-4.5 while Squeeze using gcc-4.4. The solution is simple, find all the occurrences and change all of them.

# grep -ri "gcc-4.5" debian/*
debian/changelog:    - Build with gcc-4.5 on ppc64.
debian/control: gcc-4.5-multilib [i386 kopensolaris-i386 any-amd64 any-ppc64 any-sparc],
debian/control: gcc-4.5,
debian/rules:CC := gcc-4.5

There are three files that affected. You could use sed/awk, or using your favorite editor to change all of the gcc-4.5 to gcc-4.4. I’m using ViM with regex. Of course, it is advised that we change the version also. I’m not doing it because we are not trying to publish it. This build has bug, yet sufficient for our need. 😛

Okay, the next thing is to build all of the packages.

# dpkg-buildpackage -b -uc -d

All of the Debian packages are built on the top of our source directory. Let’s install all of the EFI versions. But wait, before you could install, the package needs to install efibootmgr, an application for setting the default drive to boot on UEFI (Universal EFI) compatible board. Unfortunately, XServe is using Apple’s own EFI implementation, so the application is useless. We must use bless, an application on OSX for that purpose. Oh, btw, install the ucf and os-probes.

# apt-get install efibootmgr ucf os-probes
# cd ..  && dpkg -i grub-common_1.99-11_amd64.deb \
    grub2-common_1.99-11_amd64.deb grub-efi-amd64*  \
    grub-efi_1.99-11_amd64.deb

Now, we are ready to get into the show.

Installing GRUB2 EFI

Before we take further, I want to say something. I am gratefully to the developer of the grub-install for making an undocumented parameter  –debug. That parameter saves me and made me to see what’s going on.

Okay, now we need to prepare our partition for EFI. It should be FAT32 and mounted at “/boot/efi”. Let’s create one.

# mkfs.vfat /dev/sda1
# mkdir -p /boot/efi && mount /dev/sda1 /boot/efi

Next, we run the GRUB installer.

# grub-install --bootloader-id=BOOT --removable --debug

The parameter “–bootloader-id=BOOT –removable” is what I found out after I analyze “/usr/sbin/grub-install” script. Basically, I want  GRUB2 installs its EFI file at “(hd0,gpt1)/EFI/BOOT/BOOTX64.EFI” (in its FAT32 partition). Some UEFI board may have other vendor such as Ubuntu, GRUB, etc. But, XServe doesn’t understand other vendor, yet. We could only use the default prefix where XServe’s EFI would search for EFI binary.

Don’t restart yet, because next is the most important one.

Fix GRUB2 EFI

You know why I used the “–debug”? It was because I kept on going to the GRUB Rescue mode with error message telling that GRUB could not found the proper disk. In the GRUB Rescue, I’ve found out that the prefix was wrong. The prefix was pointing to ” ((null),gpt2)/boot/grub”. Wew, that was wrong.

After I’ve found the problem, it seems that the “/usr/sbin/grub-install” didn’t generate the right prefix. From the debug, I’ve found the culprit:

... (OMITTED by me)
+ /usr/bin/grub-mkimage -d /usr/lib/grub/x86_64-efi -O x86_64-efi --output=/boot/grub/core.efi --prefix=(,gpt2)/boot/grub xfs part_gpt
... (OMITTED by me)

I couldn’t found out what went wrong. The solution is to generate the EFI binary manually.

# /usr/bin/grub-mkimage -d /usr/lib/grub/x86_64-efi -O x86_64-efi --output=/boot/grub/core.efi --prefix="(hd0,gpt2)"/boot/grub xfs part_gpt
# cp /boot/grub/core.efi /boot/efi/EFI/BOOT/BOOTX64.EFI

These two lines were the thing that the “/usr/sbin/grub-install” used incorrectly.

Configuring GRUB2 Settings

We need to add lines so that the screen won’t messed up. We disable the modeset and keep the screen resolution. Use:

# dpkg-reconfigure grub-efi-amd64

and add  “nomodeset  gfxpayload=keep” to the “Linux command line:” option. Or edit “/etc/default/grub and put the string to GRUB_CMDLINE_LINUX.

THE END

After we install, we can do two things. First, we call update-grub to detect all of available kernels. And, we could add “/boot/efi” to “/etc/fstab”.

# update-grub
# echo "/dev/sda1       /boot/efi       vfat    defaults        0       0" >> /etc/fstab

Last step is reboot and having your new system shines.

FIN.

UPDATE

As Isaac Alcocer pointed out on his comment, using the LTS Ubuntu 12.04 might be the easiest way. With it, you would only have to edit the GRUB.

Pengayaan Blankon: Medibuntu

Pengayaan Blankon: Medibuntu

Medibuntu adalah sebuah repositori paket-paket yang tidak mungkin masuk ke dalam repositori resmi Ubuntu. Penyebab utama hal tersebut adalah karena adanya paten algoritma di Amerika Serikat. Tetapi, negara seperti Indonesia dan sebagian negara di Eropa tidak mengenal paten algoritma.

[Hal ini akan tetap legal kecuali apabila RUU Hak Cipta yang baru yang sedang digodok nanti tiba-tiba memasukan unsur-unsur DMCA dan menolak unsur-unsur Fair Use]

Langsung saja, tambahkan “/etc/apt/sources.list.d/medibuntu.list”:

$ sudo $EDITOR /etc/apt/sources.list.d/medibuntu.list
deb http://kambing.ui.ac.id/medibuntu/ natty free non-free
deb http://kambing.ui.ac.id/medibuntu/ natty-staging free non-free

Ganti $EDITOR dengan penyunting favorit Anda (vim, nano, kwrite, gedit, dll). Daftar paket yang ada:

http://kambing.ui.ac.id/medibuntu/natty/index.html

Oh, omong-omong saat ini lebih mantap menggunakan repo UGM. Mereka lebih terbaru dari Kambing. Entah mengapa situs sumber RSYNC di Kambing tak bisa dihubungi. Baru saja saya lihat ternyata sudah 77 hari tak terbaharui. Ya, saya baharui saja dari repo UGM [“Matur nuwun, mbah”]. Cukup ganti “kambing.ui.ac.id” menjadi “repo.ugm.ac.id”; sisanya sama.

Setelah selesai menambahkan berkas “/etc/apt/sources.list.d/medibuntu.list”, perbaharui daftar repositori dan unduh tanda tangan paket Medibuntu:

$ sudo apt-get update
$ sudo apt-get install medibuntu-keyring

Selamat menikmati paket-paket Medibuntu.

Menambah Repositori Debian

Menambah Repositori Debian

Sistem yang menggunakan pemberkasan Debian seperti Debian, Ubuntu, dan Blankon secara tradisional memiliki berkas “/etc/apt/sources.list” yang berisi daftar repositori yang dipakai. Repositori adalah tempat yang menyimpan berkas-berkas paket Debian (.deb). Repositori bisa berupa server web lokal atau pun daring, media lepas seperti CD, DVD, atau USB, dan lain sebagainya.

Untuk lebih efektif, Debian dan turunannya telah menyediakan sebuah direktori “/etc/apt/sources.list.d/” sebagai tempat tambahan untuk menaruh daftar repositori. Direktori ini sangat efektif untuk memasukkan repositori-repositori yang tidak baku dalam berkas-berkas individu berekstensi “.list”. Sebagai contoh, isi direktori “/etc/apt/sources.list.d/” saya:

$ ls -al /etc/apt/sources.list.d
total 57
drwxr-xr-x 2 root root 712 2011-08-23 08:21 .
drwxr-xr-x 6 root root 448 2011-08-23 07:58 ..
-rw-r--r-- 1 root root 108 2011-08-05 18:48 canonical-partner.list
-rw-r--r-- 1 root root  60 2011-01-05 09:39 canonical-partner.list.distUpgrade
-rw-r--r-- 1 root root  60 2010-12-30 17:09 canonical-partner.list.save
-rw-r--r-- 1 root root 134 2011-01-05 09:39 kernel-ppa-ppa-maverick.list.distUpgrade
-rw-r--r-- 1 root root 134 2010-12-30 17:09 kernel-ppa-ppa-maverick.list.save
-rw-r--r-- 1 root root 230 2011-08-05 18:48 kernel-ppa-ppa-natty.list
-rw-r--r-- 1 root root 170 2011-08-23 08:21 nautilus-elementary.list
-rw-r--r-- 1 root root 140 2011-08-15 16:03 openlp.list
-rw-r--r-- 1 root root 154 2011-01-05 09:39 ubuntu-mozilla-daily-ppa-maverick.list.distUpgrade
-rw-r--r-- 1 root root 250 2011-08-05 18:48 ubuntu-mozilla-daily-ppa-natty.list
-rw-r--r-- 1 root root 141 2011-08-19 22:13 umplayer-webupd8.list
-rw-r--r-- 1 root root 119 2011-08-05 18:48 virtualbox.list
-rw-r--r-- 1 root root  71 2011-01-05 09:39 virtualbox.list.distUpgrade
-rw-r--r-- 1 root root  71 2010-12-30 17:09 virtualbox.list.save

Jika Anda perhatikan isi direktori saya, terdapat berkas-berkas dari zaman Maverick. Inilah keajaiban dari direktori tersebut. Ketika sistem hendak diperbaharui ke versi terbaru, repositori-repositori tersebut dinonaktifkan sehingga tidak mengganggu proses pembaharuan. Hal ini akan sulit dilakukan bila semua lokasi repositori tertulis hanya di “/etc/apt/sources.list”. Dulu kita harus memberi tanda komentar ke setiap baris repositori di “/etc/apt/sources.list”.

[Untung ada REGEX! :P]

Contoh salah satu berkas repositori per individu ini antara lain:

$ cat /etc/apt/sources.list.d/openlp.list
deb http://ppa.launchpad.net/openlp-core/release/ubuntu natty main
deb-src http://ppa.launchpad.net/openlp-core/release/ubuntu natty main

Lalu, apa yang menjadi isi “/etc/apt/sources.list”? Saya hanya menaruh repositori Blankon dan Ubuntu resmi.

$ cat /etc/apt/sources.list
deb http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty main restricted universe multiverse
deb-src http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty main restricted universe multiverse

deb http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-security main restricted universe multiverse
deb-src http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-security main restricted universe multiverse

deb http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-updates main restricted universe multiverse
deb-src http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-updates main restricted universe multiverse

deb http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-proposed main restricted universe multiverse
deb-src http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-proposed main restricted universe multiverse

deb http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-backports main restricted universe multiverse
deb-src http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-backports main restricted universe multiverse

deb http://kambing.ui.ac.id/blankon pattimura main restricted extras extras-restricted
deb-src http://kambing.ui.ac.id/blankon pattimura main restricted extras extras-restricted

deb http://kambing.ui.ac.id/blankon pattimura-security main restricted extras extras-restricted
deb-src http://kambing.ui.ac.id/blankon pattimura-security main restricted extras extras-restricted

deb http://kambing.ui.ac.id/blankon pattimura-updates main restricted extras extras-restricted
deb-src http://kambing.ui.ac.id/blankon pattimura-updates main restricted extras extras-restricted

Dengan demikian, ketika nanti saya pindah ke Blankon 8 atau Ubuntu 11.11, saya dapat meminimalkan potensi kesulitan.

Koneksi ke WebPAM PROe

Koneksi ke WebPAM PROe

XServe memiliki aksesori JBOD (Just a Bunch Of Disks, sebuah server penyimpan besar) Promise VTrek E610F. Ia terhubung ke XServe dengan menggunakan dua koneksi fibre channel. VTrek menyediakan RAID 0, 1, 5, 6, 10, 15.

Nah, masalah muncul ketika kita butuh untuk mengonfigurasi VTrek. Hal ini terjadi misalnya karena iseng melepas salah satu cakram penyimpan lalu memasang lagi. Atau misalnya karena kita tidak suka dengan konfigurasi RAID yang ada. Atau kombinasi keduanya.

Untungnya VTrek menyediakan konsol manajemen berbasis web, WebPAM PROe. Untuk bisa terhubung ke sana, disarankan oleh manual bahwa konsol tersebut dan komputer harus terhubung ke switch. Artinya, kalau mau laptop kita terhubung langsung ke VTrek harus menggunakan kabel RJ45 silang (cross).

Setelah terhubung, ternyata DHCP tidak berjalan. Penasaran dengan itu, saya pun melihat XServe yang masih belum terkonfigurasi. Ia bisa menggunakan DHCP untuk terhubung ke WebPAM.

Dari hasil konsultasi  Mbah Gugel dan keberuntungan orang ganteng, saya akhirnya menemukan bahwa DHCP di OSX tidak standar. Ia menggunakan protokol Bonjour. Atau bahasa standarnya sekarang: Zeroconf.

Weleh, baru kali ini saya bersyukur AVAHI secara baku terpasang dan menyala di Debian/Ubuntu/Blankon. Tadinya saya bingung bagaimana cara mengonfigurasinya. Tetapi, ternyata di Blankon sudah gampang.

Koneksi ke VTrek

Klik kanan pada ikon Network Manager dan pilih Edit Connections.

Membuka Network Manager

Selanjutnya, buat profil koneksi baru dengan menekan tombol “Add” pada bagian “Wired”. Nanti muncul dialog profil baru. Di bagian “IPv4 Settings”,  ubah “Method” menjadi “Link-Local Only”. Biasakan untuk memberi nama profil koneksi. Saya menamakan “OSX Network”. Setelah selesai, simpan.

Profil Koneksi

Profil Koneksi

Setelah itu, kita bisa klik kanan dan mengaktifkan koneksi “OSX Network”. Sebagai informasi, ternyata mereka menggunakan IP lokal dengan netmask 255.255.0.0. Pertanyaannya adalah berapa alamat IP Trek?

Kata web, dia menggunakan alamat 10.0.0.1. Tetapi, itu Trek yang versi biasa sedangkan ini adalah Trek yang sudah dipaketkan khusus untuk XServe.

Untungnya, salah satu protokol Zeroconf adalah mDNS/DNS-SD. Yay! Ini lebih gampang dari yang dikira. Saya pun pergi ke konsol dan ketik:

$ avahi-browse -a
+   eth0 IPv6 rajagukguk-laptop [00:1b:38:9e:e2:1c]         Workstation          local
+   eth0 IPv4 rajagukguk-laptop [00:1b:38:9e:e2:1c]         Workstation          local
+   eth0 IPv6 rajagukguk-laptop                             Remote Disk Management local
+   eth0 IPv4 rajagukguk-laptop                             Remote Disk Management local
+   eth0 IPv4 Promise-VTrak-E610f-2000-0001-5561-0c04 [00:01:55:61:0c:04] Workstation          local
+   eth0 IPv4 Promise VTrak E610f 2000-0001-5561-0c04       Web Site             local
^CGot SIGINT, quitting.
Perintah Avahi untuk mendapatkan layanan yang ada di dalam jaringan ini mencari layanan dengan melakukan multicastke jaringan. Nah, perhatikan keluaran yang saya garis merah. Alamat VTrek adalah "Promise-VTrak-E610f-2000-0001-5561-0c04.local". Oh, iya, di akhir pencarian saya menekan CRTL+C untuk menghentikan pencarian.

Setelah itu, tinggal nyalakan Firefox dan pergi ke halaman WebPAM.

WebPAM PROe

WebPAM PROe

Memasang Ubuntu pada XServe

Memasang Ubuntu pada XServe

Persiapan

Apple XServe menggunakan EFI untuk booting. Jadi, siapkan CD Installer yang bisa mem-boot menggunakan EFI. Omong-omong, sepertinya pendahulu saya sudah memasang rEFIt sehingga saya bisa menjalankan CD. Walau menurut situs rEFIt, hal ini sebenarnya tidak perlu, tetapi ini membantu saya. Yah, yang penting jalan saya sudah dilempengkan. Saya menggunakan CD Pemasang Ubuntu yang sudah mendukung EFI. Hadiah dari pendahulu. Jadi, saya tinggal masuk ke CD pemasangan dengan modus ahli (expert mode).

Sedikit catatan untuk CD Pemasang Ubuntu, dia sering mengakses server-server luar secara otomatis (misalnya security.ubuntu.com). Hal ini yang mengakibatkan kita sering melihat menu kosong karena proses di belakang sedang berjalan. Hal ini mengesalkan karena saya tidak tahu bagaimana pindah ke terminal. Kalau di server biasa, tombol ALT+F(n) (n = 1..6) bisa ditekan. Nah, di XServe dengan papan ketik Mac jadi bingung saya. Jadi, kalau lagi diam sejenak tak jelas, jangan keburu panik, mungkin itu karena Pemasang Ubuntu sedang berusaha mengakses server Ubuntu.

Proses Instalasi

Untung dulu saya senang main Ding Dong. Nah, pertama-tama untuk bisa masuk ke pemilih, sebelum layar putih, tekan tombol Option berulang-ulang (seperti hendak mengeluarkan jurus tendangan seribu Chun Li). Ini biasanya layarnya putih agak keabuabuan lalu setelah beberapa saat akan muncul pertama kali ikon rEFIt yang masuk ke cakram (harddisk) dan kursor tetikus. Lalu, setelah beberapa saat lagi, akan muncul ikon masuk ke CD. Nah, kalau sudah muncul, hentikan menekan tombol berulang-ulang, capek soalnya. Pilih masuk ke CD.

Nah setelah itu pilih instalasi biasa.

Oh, iya, saya memilih untuk memasang dari jauh lewat SSH. Enaknya dengan SSH adalah kita tak perlu lama-lama di ruang server. Lagipula, kita bisa memilih masuk ke dalam menu instalasi atau menjalankan terminal. Ini penting karena kita perlu secara manual untuk memilih konfigurasi GRUB. Makanya, saya buka dua terminal, satu untuk menu instalasi (pemasangan) dan satu untuk  terminal biasa.

Jangan lupa untuk memasang SSH Server pada pemilihan perangkat lunak yang diperlukan.

Pada saat selesai memasang dan hendak manyalaulangkan server, buka terminal. Ubuntu mengaitkan partisi kita ke /target. Maka:

$ chroot /target /bin/bash
$ $EDITOR /boot/grub/grub.cf

Ganti $EDITOR dengan “nano” atau “vi”. (Maaf, bukannya gak mau nyebut Emacs, yang gunain pasti gak perlu baca baris ini :P)

Pada baris kernel, buang opsi “ro silent splash …” dan ganti dengan “ro verbose”. XServe menghasilkan artifak yang membuat kita tidak bisa melihat apa yang terjadi. Walau pun menggunakan kartu grafis nVIDIA, tetapi lebih baik dimatikan saja.

TODO

Hal pertama adalah framebuffer. Tampaknya framebuffer perlu dikilik terlebih dahulu. Sebab, kendati bisa masuk ke sistem, pada saat Ubuntu mereset terminal, layar jadi hitam. Itu pentingnya server SSH telah terpasang di saat pemasangan awal.

Hal yang kedua adalah mengonfigurasi ruang penyimpan. XServe yang saya sedang oprek terhubung ke Promise VTrak E610f. Sepertinya Ubuntu hanya mengenali kontroler ini. Padahal di XServe sudah ada cakram internal. Nah, saya ingin mengenali cakram yang internal juga.

Saya tidak tahu konfigurasi VTrak, tetapi kata situsnya, sih, secara baku dia menggunakan RAID 6. Nah, beruntung dia menggunakan RJ-45 sebagai konektor kepada laman administrasinya. Saya mau lihat dulu konfigurasinya.

Yah, sekian sekilas laporan pandangan mata.

Unofficial TODO

Beliin Mac, dong, buat latihan. Ini papan ketiknya gak nyaman banget. Gak biasa….

Bacaan Lebih Lanjut

UEFIBooting – Community Help Wiki

Caution if you want to dual boot. Due to bug 769669 the boot partition will be formatted. This has resulted in the Windows bootloader being deleted for some users of Ubuntu 11.04 & 11.10. This issue has been resolved in Ubuntu 12.04.

http://kb.promise.com/KnowledgebaseArticle10084.aspx

Products – Xeon Server, Controller, Storage, Processors, Networking & More | Acmemicro

On Product Home page, customers can find the most popular server products in the market, including the latest Intel Xeon E7 V2 family, GPU Solution, Fusion-io products, GPU cards for Bitcoin, Dell product lineups, Intel Xeon Phi Cards, Nvidia Tesla & Quadro cards, storage solutions, High Density server solutions, etc.

Instalasi OpenSong 1.7 pada Ubuntu

Instalasi OpenSong 1.7 pada Ubuntu

OpenSong adalah aplikasi presentasi lagu rohani semacam EasyWorship. Di situsnya saat ini tertera versi 1.6.2, sedangkan pada Sourceforge sudah versi 1.7.  Silakan ke sana dan unduh berkas binari. Sebagai catatan, OpenSong hanya memiliki binari i386. Kalau memakai BlankOn seperti saya, secara otomatis paket Debiannya (.deb) akan dipasang oleh gDebi setelah selesai diunduh.

Situs OpenSong menyediakan laman unduhan lain seperti Alkitab terjemahan baru dan gambar-gambar latar.

Melompat dari Ubuntu Natty ke BlankOn Pattimura

Melompat dari Ubuntu Natty ke BlankOn Pattimura

Saya ngiler melihat tulisan teman yang berhasil memasang BlankOn Pattimura. Sayangnya, tautan tidak ada karena Planet Ubuntu-ID tidak bisa terakses. Duh, kok sering, yah? Maka berbekal jiwa yang membara berhubung hendak hari merdeka, saya melakukan lompatan iman ke Blankon Pattimura.

Persiapan

Karena ini lompatan iman, saya tidak melakukan penyimpanan. Jadi, langsung saja saya tambahkan repositori BlankOn ke dalam daftar repositori saya. Berikut isi dari berkas “/etc/apt/sources.list”:

deb http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty main restricted universe multiverse
deb-src http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty main restricted universe multiverse

deb http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-security main restricted universe multiverse
deb-src http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-security main restricted universe multiverse

deb http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-updates main restricted universe multiverse
deb-src http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-updates main restricted universe multiverse

deb http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-proposed main restricted universe multiverse
deb-src http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-proposed main restricted universe multiverse

deb http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-backports main restricted universe multiverse
deb-src http://kambing.ui.ac.id/ubuntu natty-backports main restricted universe multiverse

deb http://kambing.ui.ac.id/blankon pattimura main restricted extras extras-restricted
deb-src http://kambing.ui.ac.id/blankon pattimura main restricted extras extras-restricted

deb http://kambing.ui.ac.id/blankon pattimura-security main restricted extras extras-restricted
deb-src http://kambing.ui.ac.id/blankon pattimura-security main restricted extras extras-restricted

deb http://kambing.ui.ac.id/blankon pattimura-updates main restricted extras extras-restricted
deb-src http://kambing.ui.ac.id/blankon pattimura-updates main restricted extras extras-restricted

Proses Lompatan

Berikut ini adalah transkrip dari sejarah terminal saya. Di dalamnya terdapat langkah-langkah yang saya lakukan. Kalau ada nomor yang lompat-lompat, itu karena saya kurangi beberapa hal yang tidak berhubungan dengan pemasangan Pattimura.

Buang semua Kubuntu dan paket-paket lama. Kalau tidak salah Kubuntu ini saya pakai semenjak zaman 8.10 kalau tidak salah. Saya membuang paket lama karena ruang yang hendak dipakai kurang. Biasanya, setiap beberapa iterasi, saya menghapus sistem Ubuntu dan memasangnya dari awal. Sayangnya, kali ini konfigurasi saya agak nyeleneh, partisi dasar (root partition) seluruhnya berada di LVM2.

  457  sudo apt-cache search blankon
  458  sudo apt-get remove kubuntu-desktop
  462  sudo apt-get autoremove
  463  sudo apt-get remove kubuntu-*
  464  sudo apt-get remove linux-image*
  465  sudo apt-get remove kubuntu-default-settings 
  466  sudo apt-get install blankon-desktop
  467  sudo apt-get clean

Saya mengonfigurasi ulang GRUB2 (grub-pc) untuk membaca ulang kernel yang tersisa. Hati-hati terhadap baris 464, itu bisa menghapus seluruh kernel Anda. Makanya, saya langsung memasang kernel baru. Saya tidak memilih kernel asli Pattimura (3.0.0), tetapi memilih kernel yang lebih baru (3.0.1).

  468  sudo dpkg-reconfigure grub-pc
  469  ls -al /boot/
  470  apt-cache search linux-image
  471  sudo apt-et install linux-image
  472  sudo apt-get install linux-image
  473  sudo apt-get install linux-image-3.0.1-0-generic
  474  sudo reboot

Saya juga berusaha melihat proses apa yang masih berjalan dan memutuskan untuk membuang setiap aplikasi yang berhubungan dengan KDE.

  475  top
  476  sudo apt-get remove virtuoso-*

Nah, ini beberapa hal yang saya lakukan yang sebenarnya tidak perlu, ternyata sudah terpasang otomatis. Saya tulis di sini sebagai bahan catatan.

  477  sudo apt-cache search blankon
  478  sudo apt-get install gfxboot-themes-blankon
  479  sudo apt-get install gfxboot-themes-pattimura 
  480  apt-cache search blankon
  481  sudo apt-get install pattimura-contextual-desktop-theme 
  482  sudo reboot

Aplikasi wajib saya, Yakuake dan Pidgin, turut musnah akibat hilangnya KDE. Huruf Ubuntu juga turut hilang. Maka, saya coba pasang ulang.

  483  sudo apt-get install yakuake
  484  apt-cache search minefield
  485  apt-cache search firefox
  486  sudo apt-get remove firefox-4.0 --purge
  487  sudo apt-get autoremove --purge
  488  sudo apt-get install ttf-ubuntu-font-family
  489  sudo apt-get dist-upgrade 
  490  sudo apt-get -f install
  491  sudo apt-get install pidgin
  492  sudo synaptc
  493  sudo synaptic
  494  history
  495  sudo apt-get install pidgin
  496  sudo apt-get update
  497  sudo apt-get dist-upgrade
  498  sudo apt-get install pidgin blankon-branding-pidgin

Saya juga berusaha mencari-cari paket yang berhubungan dengan BlankOn di Synaptic. Saya coba memasang sebisanya.

Beberapa Catatan

Secara singkat, saya puas dengan tampilan BlankOn. Saya salut terutama terhadap panduan dalam Bahasa Indonesia dalam bentuk PDF. Ini benar-benar karya bangsa yang sangat besar.

Nah, berhubung saya pengguna baru BlankOn dan terutama GNOME (setelah bertahun-tahun dimanjakan KDE4), ada beberapa catatan yang saya berharap kalau rekan-rekan sudi menjawab memberi saya gambaran:

  1. Saya belum menemukan cara untuk mengubah perintah Run dari bakunya ALT+F2 menjadi META+R.  Ternyata dengan menekan tombol kecil dipojok synapse (nama aplikasi Run yang dipakai Blankon) mengaktifkan Properti. Di sana banyak pilihan termasuk mengubah perintah aktif.
  2. Saya tidak terbiasa menggunakan menu dan tetikus. Saya masih belum bisa menemukan ringkasan papan ketik untuk membuka menu. Kalau di Windows itu biasanya tombol META. Kalau di KDE, saya menggunakan Run saja.
  3. Saya masih belum bisa menjalankan Compiz. Dulu di Ubuntu ada menu Desktop Effect untuk mengaktifkannya.
  4. Saya tidak tahu apa aplikasi untuk mengambil skrinsut, terpaksa memasang “ksnapshot”.
Sepertinya itu saja. Berhubung sekarang sudah pagi, saya harus bersiap-siap untuk kerja. Tak sabar untuk mengoprek nanti…. 😛
Berikut tampilan ala kadarnya dari laptop saya:

Desktop saya

Menu di Pattimura

Aplikasi Run di Pattimura, di sebelah kata Internet ada bulatan kecil (pojok kanan atas) yang kalau ditekan keluar menu yang salah satunya mengubah Preferensi.

  BONUS: Gambar latar yang saya pakai, dahulu saya buat dengan memodifikasi sebuah gambar di Internet demi keperluan gambar latar e-Akses untuk Sumpah Pemuda. Jangan lupa buang ekstensi “.pdf”-nya.  
Pidgin Not In Systray

Pidgin Not In Systray

Opsi Pada Pidgin

Pidgin's option

If you are a KDE user like me and wondered what’s wrong with Pidgin not showing on the systray. After I moved to KDE SC 4.5, suddenly Pidgin not showing in the systray anymore. The problem persisted in my Kubuntu laptop and Gentoo workstation.

Just now, I found out by accident that by default the systray in Pidgin never showed.

So, to fix that, go to Preferences. In the Interface tab, change “Show system tray icon” to “Always”.

Wow, I’ve been trying to search the patch almost 2 years and actually the reason is that simple? 😛

FileZilla for SFTP Between Windows and Ubuntu
Connected FileZilla with two panes, the left is our original host and the right side is the remote host. Use this like Midnight Commander.

FileZilla for SFTP Between Windows and Ubuntu

For some reasons, for instance, you are fall in love with Hatsune Miku (初音ミク).  You are on your other workstation and you are cursed with Windows Vista. You are unable to format it because it’s your office property. An urge made you  downloaded these cute songs from Nico-Nico. Oh, no, you want to save it to your true computer running GNU/Linux, badly!

Unfortunately, WinSCP can’t handle UTF-8 encoding well. Using enconv doesn’t actually helps alot. The other possibility is you use WinSCP and PuTTY to rename it into original name song. Or, you could give up and putting impurity to the filename with romaji instead of actual kanji. Blasphemy!

Fortunately, we have FileZilla and it’s able to use SFTP. Make sure your real computer uses SSH. Real GNU/Linux always install it. But, if you don’t just install it, e.g. in Debian/Ubuntu:

$ sudo apt-get install ssh

That will install openssh-server, openssh-client and a bunch of its dependency. I’m using Gentoo and openssh-server is the first thing I install. So, I don’t want to repeat the install process just to show you. Just assuming you already done it.

Setup FileZilla

FileZilla HowTO Steps

  1. After you download and few clicks to install and run the FileZilla programs, open the Site Manager in File –> Site Manager (CTRL + S).
  2. Insert your workstation’s IP address. In my paranoid setup I set non-standard SSH port for my real computer. So, I put 8080 as the port. (Default port is 22)
  3. Set your connection type as SFTP.
  4. On Logon Type, click the drop down menu and select Interactive. You know why I advise you to do that? It’s because when using public computer, especially those that are prone to bots and evil grinding crackers, it is important that you don’t save your credentials.
  5. Put your name on the User input box.
  6. Select Connect.

Bizarrely,  FileZilla doesn’t have a save button but it will automatically save your configuration. Well, handy if you are used to it.

Now you can use it to browse like usual:

FileZilla connected

Connected FileZilla with two panes, the left is our original host and the right side is the remote host. Use this like Midnight Commander.

Oh, btw, 3-D is better than 2-D, keep that in mind or you could saddened your parents. 😉

Kita Juga Punya

Kita Juga Punya

Om Milisdad menulis tentang AVLinux, sebuah distro GNU/Linux yang menyediakan perkakas bagi anak band. Nah, sekalian saja saya juga mau mengasih tahu kepada rekan-rekan kalau rekan kita Koben, salah satu penggembala Kambing, juga membuat distro GNU/Linux untuk gitaris. Nama distro buat timnya adalah Harmoni. Pabriknya tersedia di Kode POSS dan bisa diakses oleh semua orang.

Ide distro ini sederhana, ia menyediakan efek gitar bagi pemain gitar. Tancapkan gitar Anda dengan konverter 6,35 mm ke 3,5 mm, lalu dari laptop, komputer, atau komputer kecil,  sambungkan ke mixer. Di laptop tersebut, Anda bisa set efek-efek Rakarrack yang Anda mau. Semuanya tergantung kemampuan Anda dalam meramu.

Serunya, Harmoni menyediakan versi untuk penyimpan USB. Anda bisa menyimpan beberapa USB saat touring. Atau ketika skripsi/tesis/disertasi mentok dan Anda butuh jamming. Atau sekedar gaya ketika ke studio membawa laptop bak profesional. 🙂

Tentu saja, Rakarrack tidak terbatas pada gitar saja. Ada juga yang mencoba untuk men-sampling pada drum. Ada juga yang menggunakannya pada nettop. Kalau saya, sih, berencana menggunakannya sebagai efek bas supaya bisa musik tekno.

Terlepas dari itu semua, distro ini masih Beta. Belum pernah dicoba di live performance baru sekedar di studio. Sewaktu ada acara kampus kami kemarin, Koben sebenarnya sudah mau menggunakan distronya, tetapi entah mengapa dia lupa mempersiapkan di saat-saat terakhir….

[Cih, udah diingetin dari taon kemaren… Latian juga udah pake, live malah minjem efek orang.  Dasar labil, gak pede, dst… dst… dst…. hahahaha…. =))]

Distro turunan Ubuntu  ini sepertinya perlu sentuhan banyak orang, terutama rekan-rekan musisi. Silakan coba langsung saja. Cara pakainya ada di Wiki. Oh, iya, jangan kasih tahu Koben kalau saya sudah kasih tahu rekan-rekan. Soalnya distro ini bukan saya yang buat, tapi saya sekedar membagikan saja. 🙂

Memasang 4Store 1.1.3 Pada Debian/Ubuntu

Memasang 4Store 1.1.3 Pada Debian/Ubuntu

Bagi yang suka bermain dengan web semantik atau pun sekedar menggunakan teknologinya, pasti pernah dengar 4Store. Katanya, sih, sangat cepat. Sayangnya, pada saat penulisan entri ini, ternyata paket Debian Squeeze masih belum mendukung.

Jika Anda seberuntung laptop saya yang menggunakan Ubuntu Natty Narwhal, silakan pasang:

$ apt-get install librasqal2-dev libraptor2-dev build-essential libpcre3-dev libglib2.0-dev ncurses-dev libreadline-dev libxml2-dev libgmp3-dev

Untuk yang tidak seberuntung itu, silakan ikuti cara berikut ini untuk mempersiapkan 4Store. Tetapi pasang dahulu kebutuhan kecuali libraptor2-dev dan librasqal2-dev.

Memasang Raptor2

Unduh Raptor2 di sini. Versi teranyar saat ditulis adalah 2.0.2. Cara instalasi:

$ tar xvfz raptor2-2.0.2.tar.gz && cd raptor2-2.0.2
$ ./configure --prefix=/usr --disable-static && make && sudo make install

Saya tidak suka pustaka statik dan saya lebih suka memasang ke “/usr” dari “/usr/local”.

Pasang Rasqal2

Tampaknya pada Rasqal2 menggunakan versi GMP yang terbaru. Akibatnya, terjadi galat “mpf_round” ketika hendak mengompilasi. Silakan unduh tambalan di sini. Untuk Rasqal2, unduh di sini. Jadi:

$ tar xvfz rasqal-0.9.25.tar.gz && cd rasqal-0.9.25

Tambal kode sumber:

$ wget https://github.com/dajobe/rasqal/commit/c5126ea60f4556a402c6fb74f0edae04ddcb796b.patch --no-check-certificate
$ patch -Np1 -i c5126ea60f4556a402c6fb74f0edae04ddcb796b.patch

Kalau berhasil, nanti berkas “src/rasqal_decimal.c” ditambal. Lalu, jalankan proses yang seperti biasa:

$ ./configure --prefix=/usr --disable-static && make && sudo make install

Pasang 4Store

Unduh 4Store di sini. Lakukan hal yang seperti biasa.

$ tar xvfz 4store-v1.1.3.tar.gz && cd 4store-v1.1.3
$ ./configure --prefix=/usr --disable-static && make && sudo make install

Selesai

Sudah selesai, selanjutnya terserah Anda. 😛