Category Archives

176 Articles
Adobe Flash untuk Opera 24 GNU/Linux
Opera Developer

Adobe Flash untuk Opera 24 GNU/Linux

Basa-basi

Saya asumsikan Opera 24 dipasang seperti cara sebelum ini. Karena ini versi pengembang, Opera belum bisa menyalakan Adobe Flash. Itu sebabnya, akhir-akhir ini komputer saya stabil.

Saya mau membuang kestabilan itu demi eksperimen. Opera 24 dibangun di atas Chromium. Artinya, secara infrastruktur dia sudah menyediakan fasilitas Adobe Flash versi PPAPI (PepperFlash). Ini versi yang akan selalu diperbaharui oleh Adobe. Dan inilah cara jantan menyalakan PepperFlash Opera 24.

Pemasangan

Ada tiga bagian dalam pemasangan, memasang PepperFlash, membuat skrip pembungkus, dan membuat konfigurasi.

Memasang PepperFlash

PepperFlash didapatkan dari Chromium/Google Chrome. Kalau sudah memasang perangkat lunak tersebut, silakan saja salin direktori PepperFlash beserta isinya. Namun, saya asumsikan Anda belum memasang Chromium/Google Chrome.

Unduh Google Chrome dari saluran Unstable. Mengapa versi itu? Sebagai pengingat saja dan gaya-gayaan.

wget https://dl.google.com/linux/direct/google-chrome-unstable_current_amd64.deb

Ekstraksi PepperFlash ke /usr/local/lib/

ar p google-chrome-unstable_current_amd64.deb data.tar.lzma \
 | sudo tar xvfJ - -C/ ./opt/google/chrome-unstable/PepperFlash --xform='s,\(/opt/google/chrome-unstable/\),/usr/local/lib/,'

Selanjutnya membuat sebuah skrip tambahan.

Membuat Skrip Tambahan

Pada versi awal opera-developer merupakan tautan ke binari Opera. Saat ini saya akan membuat opera-developer sebagai skrip pembungkus. Ubah direktori jika Anda mengubah posisi instalasi.

Gunakan penyunting teks favorit Anda, kalau saya gunakan langsung:

cat > opera-developer << EOF
#!/bin/bash

# Allow the user to override command-line flags, bug #357629.
# This is based on Debian's opera-developer-browser package, and is intended
# to be consistent with Debian.
for f in /etc/opera-developer/*; do
    [[ -f ${f} ]] && source "${f}"
done

# Prefer user defined OPERA_USER_FLAGS (from env) over system
# default OPERA_FLAGS (from /etc/opera-developer/default).
OPERA_FLAGS=${OPERA_USER_FLAGS:-"$OPERA_FLAGS"}

if [[ ${EUID} == 0 && -O ${XDG_CONFIG_HOME:-${HOME}} ]]; then
    # Running as root with HOME owned by root.
    # Pass --user-data-dir to work around upstream failsafe.
    OPERA_FLAGS="--user-data-dir=${XDG_CONFIG_HOME:-${HOME}/.config}/opera-developer
        ${OPERA_FLAGS}"
fi

# Set the .desktop file name
export OPERA_DESKTOP="opera-developer.desktop"

exec -a "opera-developer" "/usr/local/lib/x86_64-linux-gnu/opera-developer/opera" --extra-plugin-dir=/usr/lib64/nsbrowser/plugins ${OPERA_FLAGS} "$@"
EOF

Ini skrip diambil dari skrip Chromium dan diubah secara barbar. Untuk saat ini, NPAPI (plugin-plugin Firefox) tidak lagi didukung oleh Chromium. Jadi, sepertinya menambah direktori NPAPI tidak perlu. Tapi saya terlalu malas untuk menghapusnya.

Mari pindahkan dan buat supaya bisa dieksekusi.

chmod +x opera-developer
sudo cp opera-developer /usr/local/bin

Nah, sekarang kita perlu mengatur OPERA_FLAGS.

Membuat Konfigurasi Tambahan

Saatnya membuat konfigurasi tambahan. Gunakan penyunting teks kesayangan atau seperti saya langsung dari terminal.

cat > default << EOF
# Default settings for chromium. This file is sourced by /usr/local/bin/opera-developer

# Options to pass to opera-developer
OPERA_FLAGS=" --ppapi-flash-path=/usr/local/lib/PepperFlash/libpepflashplayer.so --ppapi-flash-version=14.0.0.125"
EOF

Mari buat direktori /etc/opera-developer untuk berkas konfigurasi tersebut. Lalu, pindahkan ke sana.

sudo mkdir -p /etc/opera-developer
sudo cp default /etc/opera-developer/default

Selesai.

Kata Terakhir

Jalankan Opera dan akhirnya Adobe Flash pun berjalan. Sistem pun kembali tak stabil. FTW!

sed Membuang Sebuah Pola Hingga Baris Tertentu
RegEx

sed Membuang Sebuah Pola Hingga Baris Tertentu

RegEx

RegEx

Ada virus Windoze yang menginjeksi berkas-berkas HTML dengan VBScript dan binari berbahaya. Sepertinya target operasi mereka adalah pengembang Web yang menggunakan Windoze. Nantinya, HTML tersebut akan dipublikasikan di sebuah peladen dan diakses oleh banyak orang.

Kebetulan, dari hasil inspeksi bersih-bersih, kami menemukan adanya berkas-berkas HTML yang terinfeksi virus demikian. Kalau hanya satu atau dua, mungkin cukup dihapus. Tapi, kali ini harus memanggil Kapten Regex!

IFS=$(echo -en "\n\b") ; for a in `grep -rlH 'DropFileName = "svchost.exe"' .` ; do sed -i '/<SCRIPT Language=VBScript.*/,+14d' $a; done

Penjelasan:

  • IFS=$(echo -en "\n\b") ;
    Ini memberitahukan kepada BASH bahwa penanda akhir baris adalah Line Break (“\n” atau “\b”). Ini untuk mengatasi nama berkas dengan spasi.
  • grep -rlH 'DropFileName = "svchost.exe"' .
    Mencari berkas-berkas yang berisi ‘DropFileName = “svchost”‘ pada direktori ini “.” dan anak-anaknya.
  • sed -i '/<SCRIPT Language=VBScript.*/,+14d' $a
    Mencari pola “<SCRIPT Language=VBScript” dan menghapus pola tersebut dan 14 baris setelahnya.

Kebetulan saya membaca dulu berkas yang terinfeksi. Ia menginfeksi di akhir baris tapi bukan di baris baru. Wah, ini tantangan dalam menemukan pola yang benar. Apalagi memang beberapa HTML yang mendukung Windoze juga menggunakan VBScript.

Kebetulan saya bukan guru sed.  Saya tidak tahu bagaimana melanjutkan menghapus sampai akhir baris. Saya terpaksa menghitung ada berapa baris. Jumlah baris infeksi ada 14 baris.

Mungkin rekan-rekan ada peningkatan yang lebih bagus?

Terbitnya Opera 24 untuk GNU/Linux
Opera Developer

Terbitnya Opera 24 untuk GNU/Linux

Opera 24 for GNU/Linux

Opera 24.0.1537.0 for GNU/Linux

Setelah kurang lebih setahun, Opera tidak lagi merilis versi GNU/Linux. Setelah berpindah ke Chromium, mereka lebih berkonsentrasi di versi Windows dan MacOS. Kemarin, mereka membuat kejutan dengan menerbitkan versi pengembang (24.0.1537.0).

Yang menarik, mereka pun tak lupa bercanda-canda (self-trolling) di komentar. Memang, para pengguna GNU/Linux merasa yang paling ditinggalkan setelah hilang dari peredaran selama setahun. Saya sendiri termasuk yang memrotes namun pada akhirnya meninggalkan Opera dan menuju peramban lain. Padahal, Opera salah satu peramban tertua yang mendukung GNU/Linux. Bahkan, sempat masuk ke repositori utama Debian.

Walau pun dibilang Opera for Linux, tapi nampaknya Opera kali ini lebih ditujukan kepada Ubuntu. Kalau dilihat dari gambar, nampak tematik yang digunakan adalah tematik Ubuntu. Itu sebabnya, berkas yang diunduh pun paket Debian.

Pemasangan

Pemasangan saya tulis untuk yang Debian dan non-Debian.

Cara Debian

Untuk Debian, Ubuntu, dan variannya (termasuk BlankOn), cukup unduh dan pasang.

sudo dpkg -i opera-developer_24.0.1537.0_amd64.deb

Kadang, kalau terpasang standar tanpa diutak-atik, biasanya begitu diunduh sudah langsung ditanyakan untuk dipasang. Perintah ini cuma sekedar jaga-jaga saja kalau harus memasang manual melalui terminal.

Cara Non-Debian

Saya memberikan metodologi untuk memasang secara bersih pada sistem. Kebanyakan orang memasang dengan menggunakan standar FHS yakni pada direktori “/usr/local”. Saya asumsikan bahwa paket Debian Opera sudah diunduh pada direktori yang sama.

ar p opera-developer_24.0.1537.0_amd64.deb data.tar.xz \
   | sudo tar xvfJ - --xform='s,\(/usr/\),\1local/,' --exclude=usr/share/{lintian,menu} -C/

Itu semua satu baris perintah. Lalu, kemudian buat SETUID pada opera_sandbox agar bisa dijalankan oleh pengguna biasa.

sudo chmod 4755 /usr/local/lib/x86_64-linux-gnu/opera-developer/opera_sandbox

Selesai.

Terakhir

Saya menulis ini dari Opera Developer. Cukup stabil dan cepat. Saya suka sekali fitur preview. Fitur ini memperlihatkan isi sebuah tab saat titik tetikus melewati tab tersebut tanpa harus membuka tab itu. Lumayan membantu untuk orang yang suka bertab-tab ria.

Galat Heartbleed pada OpenSSL

Galat Heartbleed pada OpenSSL

Selagi Pemilu, ternyata muncul sebuah kehebohan tentang galat pada OpenSSL. Saya belum sempat menulis karena kehebohan Pemilu lebih terasa. Saya sudah memilih, loh.

Kehebohan tentang OpenSSL dikarenakan adanya sebuah modul di OpenSSL yang bernama Hearbeats. Modul ini menyebabkan OpenSSL membuka sampai 64KB memori untuk dibaca. Itu sebabnya, galat ini berbahaya karena bisa jadi 64KB memori itu berisi login, sandi, atau sertifikat X.509.

Cara mengatasinya?

Galat ini hanya ada pada OpenSSL versi 1.0.1 s.d. 1.0.1f dan 1.0.2-beta. Silakan tingkatkan ke versi 1.0.1g atau 1.0.2-beta1.

Atau cara kedua adalah dengan mematikan Hearbeats. Caranya dengan mengompilasi ulang OpenSSL Anda dengan menambah “-DOPENSSL_NO_HEARTBEATS” pada kompilasi untuk mematikan Heartbeats pada kompilasi.

Cara Paling Gampang

Anda sudah mengaktifkan repo keamanan distro Anda? Ya, tinggal:

$ sudo apt-get update && sudo apt-get dist-upgrade

Selesai.

Cara Agak Susah

Cara agak susah adalah dengan mengompilasi sendiri. Bisa ikuti cara BLFS.

Unduh OpenSSL-1.0.1g dan semuanya.

$ wget http://www.openssl.org/source/openssl-1.0.1g.tar.gz
$ wget http://www.linuxfromscratch.org/patches/blfs/svn/openssl-1.0.1g-fix_parallel_build-1.patch
$ wget http://www.linuxfromscratch.org/patches/blfs/svn/openssl-1.0.1g-fix_pod_syntax-1.patch

Buka dan tambal paket.

$ tar xvfz openssl-1.0.1g.tar.gz
$ cd openssl-1.0.1g
$ patch -Np1 -i ../openssl-1.0.1g-fix_parallel_build-1.patch
$ patch -Np1 -i ../openssl-1.0.1g-fix_pod_syntax-1.patch

Kompilasi.

$ ./config --prefix=/usr --openssldir=/etc/ssl --libdir=lib shared zlib-dynamic
$ make

Saya pikir Debian tidak akan menggunakan pustaka statik. Maka, matikan saja dari pada mengotori sistem.

$ sed -i 's# libcrypto.a##;s# libssl.a##' Makefile

Selanjutnya pasang.

$ sudo make MANDIR=/usr/share/man MANSUFFIX=ssl install
$ sudo install -dv -m755 /usr/share/doc/openssl-1.0.1g
$ sudo cp -vfr doc/* /usr/share/doc/openssl-1.0.1g

Beres.

Cara saya

Hmm… cara saya terlalu rumit untuk ditulis di sini. Nanti saja.

Bacaan Lebih Lanjut

TP Link TL-WN725N in Ubuntu 13.10 Saucy

TP Link TL-WN725N in Ubuntu 13.10 Saucy

TL-WN725N, image taken from TP Link's site.

TL-WN725N, image taken as is from TP Link’s site. Used according to TP Link’s site Terms of Use.

I was helping some folks setting up their PC. They used Edubuntu 13.10 and using a broadband provider. They got a modem connected into a Wireless LAN Access Point (WLAN AP).

They brought TP Link TL-WN725N to connect into the AP. It was suggested by their vendor. Well, it was a cheap one, so I think the vendor was right.

Unfortunately, installing it on Ubuntu 13.10 (Saucy) variant wasn’t that easy. Ubuntu 13.10 came with 3.11 kernel. After a long search, I have came up with solution. So, I wrote this tutorial for others to find.

Cut The Chase and Go On

To install this, make sure the PC got the right packages for building kernel modules.

sudo apt-get install linux-headers-generic build-essential dkms

Optionally, if you haven’t got GIT, install it:

sudo apt-get install git

Then, grab the driver’s source code:

git clone https://github.com/lwfinger/rtl8188eu

Get into the directory.

cd rtl8188eu

Compile.

make

And install.

sudo make install

Don’t forget to reload the kernel modules dependency.

sudo depmod -aq

Reboot, and enjoy.

Era Monolitik

Era Monolitik

Sejujurnya, saya sedih melihat perkembangan GNU/Linux saat ini. SABDL mengumumkan bahwa Ubuntu akan pindah dari Upstart ke SystemD. Hal ini mengingat keputusan Debian yang memutuskan untuk pindah dari SystemV ke SystemD.

Bug#727708: init system other points, and conclusionWe seem to be at the point of the process where at least those of us who did early investigation are stating conclusions. I think I have enough information to state mine, so will attempt to do so here.
via Debian

Tulisan Russ Allbery memberikan pemaparan jelas mengenai alasan pemilihan ini. Dari tiga kandidat pengganti SystemV (OpenRC, Upstart, Systemd), SystemD menang di atas segalanya. Integrasi yang ketat dengan kernel Linux adalah salah satu alasannya.

Gentoo Forums :: View topic – The Politics of systemdepisode #299) was giving some of his reasons why having Debian choose to go with systemd was a good thing for Linux. Personally, I felt that all of the reasons he gave were pretty weak and did not require systemd (they included mainly cgroups & socket activation).
via Gentoo

Sebagai pengguna Gentoo dan pengguna sistem GNU/Linux yang lama, saya juga merasakan sentimen yang sama dengan pengguna Gentoo yang lain. SystemD memaksakan kehendak untuk menggantikan semua hal. Dalam beberapa tahun ini, akan ada banyak sistem yang takkan jalan tanpa SystemD.

Ini lebih kecenderungan politik dan sungguh bertentangan dengan falsafah UNIX. UNIX memperkenalkan disain yang modular. Ada lapisan-lapisan yang bekerja dengan lapisannya sendiri. Satu aplikasi berjalan untuk menunaikan tugas spesifik saja dan ia mengerjakan tugas tersebut dengan sangat baik.

Untuk mengerti falsafah ini, kita mesti mengerti politik divide et impera yang dianut VOC dulu. Saya dulu mengerti tentang falsafah ini ketika belajar Pemrograman Fungsional dengan matematika Lambda-nya. Waktu itu saya belajar Haskell.

Inti dari falsafah ini sebagai berikut: sebuah masalah dipecah-pecah menjadi banyak permasalahan yang kecil. Masalah yang kecil tersebut kemudian dipecah kembali. Hal ini dilakukan hingga unit terkecil masalah tersebut sudah mencapai titik yang dapat diselesaikan langsung.

Itu sebabnya, di dalam UNIX (dan sistem-sistem yang menirunya), ada banyak aplikasi perkakas kecil yang bisa membaca pipa aplikasi dan meneruskan keluarannya ke pipa perintah selanjutnya. Jadi, setiap aplikasi kecil tersebut saling terisolasi.

Fungsionalitas yang terisolasi ini membuat uji unit lebih mudah. Faktor ketergantungan pihak eksternal pun minim. Untuk mencari tahu kesalahan ada di mana, isolasi ini membuat kita bisa mendeteksi di mana letak kesalahan yang menyebabkan proses terhenti.

Tentu, zaman sudah berganti. Mungkin banyak orang yang sudah tak paham lagi tentang isolasi masalah. Mereka pikir sebuah aplikasi pada suatu lapisan harus tahu lapisan di atasnya atau di bawahnya.

Contohnya, saya melihat banyak orang yang melakukan optimasi jaringan bahkan sampai berusaha menggabungkan lapisan 3 dan 4, misalnya. Ini demi pengaplikasian jaringan paket berbasis konten. Kompleksitas pun bertambah.

Disain yang seperti ini akan rawan galat. Galat ini tak dapat ditelusuri dengan mudah karena banyak faktor yang mempengaruhi. Akhirnya, galat ini yang mungkin mendekatkan kita kepada Tuhan YME.

SystemD pun nampaknya akan menggantikan banyak hal. Ia telah menggantikan UDEV dan beberapa skrip non-init. BlankOn 9 Suroboyo pun sudah terkena dampaknya. Sudah lama terindikasi memang bahwa mau tak mau dunia harus mengadopsi SystemD!

Saya hanya memprediksi, seperti halnya Linus yang menyesali keputusannya membuat kernel monolitik, suatu saat perancang sistem GNU/Linux akan menyesali keputusan saat ini. SystemD akan berkembang menjadi bloated seperti Windows.

Disainnya yang monolitik hendak menggantikan banyak fungsi membuat ia menjadi kompleks. Separasi yang tidak jelas menjadikan disain menjadi amburadul. Sistem yang kompleks sungguh rawan ketergantungan antar komponen-komponennya sendiri.

Bila saatnya itu tiba, maka akan sulit rasanya mematikan sebuah fitur yang tak perlu. Bisa jadi fitur tersebut menjadi sebuah ketergantungan siklik dengan fungsi yang lain. Ah, malam ini panjang dan menyedihkan. 🙁

Met Valentin bagi yang merayakan.

Bagaimana Memperbaiki Konfigurasi Privasi di Ubuntu

Bagaimana Memperbaiki Konfigurasi Privasi di Ubuntu

Fix UbuntuDisclaimer: In case you are either 1) a complete idiot; or 2) a lawyer; or 3) both, please be aware that this site is not affiliated with or approved by Canonical Limited. This site criticizes Canonical for certain privacy-invading features of Ubuntu and teaches users how to fix them.

Fix Ubuntu adalah situs yang berusaha memberitahukan bagaimana cara memperbaiki konfigurasi privasi di Ubuntu. Seperti yang kita tahu bersama, Canonical juga menaruh komponen survei yang terhubung dengan Internet. Hal ini membahayakan privasi.

Mengapa privasi penting?

Ada argumen yang mengatakan: “saya tidak berbuat jahat dan tidak ada yang disembunyikan, mengapa harus takut?”

Privasi adalah salah satu komponen penting dari demokrasi. Bangsa kita sudah diajari prinsip ini dengan istilah LUBER: Langsung, Umum, BEbas, Rahasia!

Data seanonim mungkin tetap akan bisa dilacak ke sumbernya dengan teknologi big data (heyho, what’s the Indonesian word for this?). Artinya, walau pun Anda disurvei tanpa menyertakan data pribadi, data tersebut kemungkinan besar dapat dilacak kepada Anda.

Informasi berhubungan dengan studi perilaku manusia. Data yang menyediakan informasi dapat digunakan untuk menentukan arah (forecasting). Dengan tahu arah (forecasting), sebuah entitas berkuasa dapat mendikte kehidupan manusia.

Netrunner 13.06
Netrunner Desktop

Netrunner 13.06

Netrunner Desktop

Netrunner Desktop

Netrunner 13.06 (Enigma) merupakan sebuah produk turunan Kubuntu 13.06 yang disponsori oleh Blue Systems. Menurut situsnya, Enigma berisi: (terjemahan dan ditambah dikit)

  • Perbaikan performa KWin (window manager bawaan KDE) sehingga bisa digunakan di mesin-mesin berkekuatan rendah.
  • Kate Minimap scrollbar.
  • KWallet aktif secara otomatis
  • Titik pojok kanan bawah aktif sebagai pintasan.
  • Penyederhanaan laman pengaturan.
  • Membuang WINE (karena tak begitu relevan)
  • Memasang ALSA, bukan Pulseaudio karena kompatibel dan bagus (terutama untuk Intel HDA). Intel HDA itu nama lain untuk teknologi keping audio terintegrasi yang banyak dipakai di PC dan laptop.
  • Firefox yang telah dilengkapi dengan Mozilla App-Store.
  • Tautan untuk memasang Steam Installer.
  • Mint Software Sources dan pengatur perangkat keras.
  • Aplikasi KDE yang biasa seperti Homerun 1.0, Tomahawk 0.7, dll.

Saya telah mengunduh Netrunner di KAMBING. Kalau ada yang tertarik, silakan unduh dari sana bila membutuhkan koneksi Internet lokal. Saya mencoba di VirtualBox dan hasilnya asyik sekali! Stabil dan lancar.

Hal yang menarik adalah sistem operasi ini membutuhkan koneksi Internet untuk bisa memiliki pengalaman terintegrasi. Akun web sudah ada semenjak KDE 4.x awal. Saya bahkan dulu menggunakan itu untuk menemukan rekan. Sayangnya, hanya ada satu rekan yang saya kenal dan sisanya tak jelas.

Pun demikian, rasanya sekarang semenjak GNOME, Windows 8, dan Android mengintegrasikan fitur akun web mereka, sepertinya integrasi dengan media sosial menjadi lekat. Sayangnya, oligopoli yang dilakukan telko di Indonesia menyebabkan harga data Internet masih mahal untuk bisa mengaktifkan fitur ini. Saya hanya beruntung memiliki PC di pusat data yang punya pita jaringan lebar.

Saya semenjak KDE 4.0 jatuh hati dan suka dengan visi mereka. Kalau saya menjelaskan lebih lanjut yang lain rasanya terlalu subyektif. Sayangnya, laptop saya sudah saya dedikasikan kepada BlankOn. PC saya karena untuk performa sudah memakai Gentoo. Jadi, sepertinya ini akan saya aktifkan di VirtualBox saja. Toh, bisa dibuat layar penuh dan pindah dengan mudah.

Fasilitas yang Menarik Menurut Saya

Proses Pemasangan

Repositori Ubuntu Raring Akhirnya Dirilis

Repositori Ubuntu Raring Akhirnya Dirilis

Raring

Om Tonny Sabastian, salah satu penggembala Kambing, telah selesai bertapa membuat repositori Ubuntu Raring. Ada 13 DVD yang siap untuk diunduh. Silakan sedot dan bagikan, Gan!

Anda fakir benwit? Saya juga! (Maksudnya kalau dari rumah koneksi modem 3G)

Menurut Juragan Apri, Anda dapat menggunakan jasa pihak ketiga yang sudah siap membakar DVD untuk Anda. Ada Juragan Kambing, Gudang Linux, Baliwae, dan toko-toko lainnya. Anda juga bisa berpartisipasi dengan menggandakan dan membagikan secara gratis ke tetangga Anda.

Sebenarnya, DVD ini sudah dibuat sejak hari pertama rilis Ubuntu. Namun, negara api menyerang! Eh, maksudnya, ada masalah teknis dengan Ubuntu 13.04 yang pindah ke udisk2. Skema udisk2 menautkan CD/DVD atau pun ruang penyimpan lainnya ke skema /media/$USER/$mountpoint. Hal ini membuat apt-cdrom tidak kompatibel dengan skema yang baru.

Menurut Om Tonny, ada dua cara yang dapat dilakukan, yakni:

  1. Menetap aturan udev agar titik kait di /media seperti pada Ubuntu Asks.
  2. Menambahkan secara manual di terminal:
    $ sudo apt-cdrom -m -d=/media/$USER/$MOUNT_POINT add

Ya, kira-kira demikian adanya. Ada juga tips dari orang yang lengkap dan menarik untuk mempermak Ubuntu Raring.

Selamat menjadi pintar!

unetbootin dan syslinux 5.x

unetbootin dan syslinux 5.x

Apa yang spesial dari syslinux 5? Dia memisahkan banyak modul dari paket inti. Akibatnya, ukuran lebih kecil, tapi banyak fungsionalitas yang tidak jalan.

Sebagai contoh, saya menggunakan unetbootin untuk memasang DVD1 CentOS 6.4 ke sebuah penyimpan USB 8GB. Ketika saya tancapkan pada komputer yang hendak saya pasang, yang muncul hanya tampilan:

boot:

Ternyata, tinggal jalankan ubnkern parameter berikut:

boot: ubnkern initrd=ubninit selinux=0

Mengapa SELinux dimatikan? Karena CentOS menggunakannya. Padahal aplikasi yang mau dipasang tidak kompatibel.

Mengenai apa itu perangkat lunak yang hendak dipasang, itu cerita lain. (NDA)

Kisah X11, Wayland, dan MIR dalam Perspektif Gerakan Perangkat Lunak Terbuka

Kisah X11, Wayland, dan MIR dalam Perspektif Gerakan Perangkat Lunak Terbuka

Where is the dragon?

Where is the dragon?

 

Komunitas Ubuntu saat ini terpecah dengan banyak tokoh-tokoh penting Ubuntu mengundurkan diri dari komunitas Ubuntu. Tokoh-tokoh penting seperti Martin Owens, Elisabeth K., dan beberapa pos yang memenuhi Planet Ubuntu lainnya menyatakan ketidaknyamanan mereka. Frustrasi mereka memuncak ketika proyek MIR diluncurkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Keberadaan proyek tersebut yang ternyata sudah 9 bulan sebelum diluncurkan membuat komunitas Ubuntu mempertanyakan transparansi Canonical.

MIR adalah sebuah pengganti X11 seperti Wayland yang akan bertindak sebagai penyedia grafis. Ada beberapa alasan MIR dibuat. Beberapa yang penting antara lain:

  1. Wayland waktu itu belum memiliki protokol masukan (Input Protocol).
  2. Cara Wayland dibuat membuat kehadiran penggerak-penggerak tertutur (prorietary drivers) tidak begitu disukai. Wayland awalnya dilisensikan LGPL, walau sekarang sudah pindah ke lisensi MIT. MIR dibuat agar kerja sama dengan nVIDIA dan AMD bisa terjadi untuk proyek MIR.
  3. NIH syndrome (Not Invented Here syndrome), sebuah sindrom yang menyebabkan pengembang membuat sendiri sebuah aplikasi/pustaka karena pengembang tidak terlibat dalam pengembangan solusi-solusi yang sudah ada.

Mungkin buat orang-orang yang hanya mengerti bahwa mereka mendapatkan perangkat lunak gratis tidak mengerti tentang prinsip-prinsip Perangkat Lunak Bebas (Free Software). Perangkat Lunak Bebas bukan berbicara mengenai gratis, melainkan kebebasan berpendapat dan menentukan nasib sendiri. Transparansi merupakan satu hal yang penting dalam berkontribusi. Bila suatu keputusan saat berubah tanpa pemberitahuan, orang tidak terlibat saat pengambilan keputusan akan merasa ditinggalkan. Maka mereka merasa kontribusi mereka sia-sia dan mereka hanya seperti dimanfaatkan saja!

MIR mungkin bisa mengundang banyak pengembangan perangkat lunak tertutup ke GNU/Linux. Namun, hal ini sangat berbahaya bagi gerakan Perangkat Lunak Bebas. Pengembangan GNU/Linux yang tertutup akan menyebabkan sistem operasi ini menjadi sama dengan sistem operasi lainnya.

Berhubung saat ini pundak saya sedang nyeri, saya tidak bisa menulis panjang lebar mengenai hal ini. Perlahan tapi pasti, para pengembang perangkat lunak sedang mengimplementasikan perangkat lunak tertutup berbasis DRM. Konsep yang paling berbahaya dari mereka adalah perangkat lunak tidak lagi dibeli, tetapi dipinjamkan kepada pengguna. Implikasi dari itu adalah perangkat keras yang dimiliki oleh pengguna tidak benar-benar dimiliki oleh pengguna karena diatur oleh pemilik (pengembang) perangkat lunak.

Perangkat PS4 yang akan keluar adalah salah satu contoh. Sistem ini digadang-gadang untuk hanya bisa memainkan satu cakram permainan di satu mesin saja. Artinya, tidak ada lagi istilah membeli perangkat lunak bekas atau tukar pinjam CD/DVD/Blue Ray. Anda hanya dipinjamkan sebuah salinan aplikasi yang hanya dapat dijalankan di satu mesin. Bayangkanlah, kalau ini sampai terjadi secara global, perangkat lunak semakin mahal saja.

Kalau perangkat lunak semakin mahal, cuma ada dua solusi: 1) memperkosa hukum dengan membuat bajakan; dan 2) terjadi jurang informasi yang dalam. Yang pertama akan menyebabkan supremasi hukum menjadi lemah dan itu akan merembet kepada kedaulatan sebuah negara. Sedangkan hal yang kedua akan menyebabkan yang miskin semakin miskin dan kesempatan untuk maju semakin kecil untuk orang-orang yang tak punya akses.

Saat ini masyarakat Indonesia tidak mengganggap kebutuhan perangkat lunak sebagai sesuatu yang amat penting. Namun, disadari atau tidak, kita semakin tergantung kepada keberadaan perangkat lunak. Mereka mendikte bagaimana generasi ini hidup. Bahkan, tanpa disadari generasi 10 tahun di bawah saya sudah tergantung terhadap teknologi. Apalagi banyak orang tua yang semakin mengikat anaknya kepada komputer semenjak usia dini dengan membelikan pad-pad dan lainnya.

Yak, sepertinya generasi Indonesia sesudah saya akan menjadi generasi yang bergantung kepada teknologi dan perangkat lunak yang menjalankannya. Mereka akan menggunakan piranti teknologi sebagai penyokong hidup mereka. Efisiensi akan bertambah, namun bagi orang yang tidak mampu akan tergeser oleh zaman.

Seperti kata Amartya Sen, orang miskin bukanlah orang yang tak punya. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki akses kepada kebutuhan dasar seperti tempat tinggal, pendidikan, dan pemenuhan hak azasi. Perangkat Lunak Bebas membuka akses tersebut bagi mereka yang tak mampu.

Maka pertanyaan untuk Canonical adalah bagaimana MIR dapat menjawab bahwa their Ubuntu is always a free software? Oh, wait, it’s no longer free as in free software but free as in gratis?

Yah, biar bagaimana pun Ubuntu tetap merupakan distro yang telah banyak berjasa. Mari kita lihat ke arah mana Ubuntu akan dibawa oleh Canonical. Semoga ke arah yang lebih baik. Semoga Ubuntu tetap untuk manusia.

Etika dan Bisnis

Etika dan Bisnis

Phoronix melaporkan tulisan Stallman (RMS) mengenai Ubuntu memasang spyware. RMS dalam tulisan tersebut menjelaskan bahwa Ubuntu telah memasang lens yang terhubung ke Internet sehingga pencarian yang dilakukan oleh pengguna di Dash diunggah ke Amazon. Ini merupakan sebuah pelanggaran hak privasi. Jono Bacon membuat tulisan menyanggah hal tersebut.

Bagi banyak orang, terutama orang Indonesia, pelanggaran privasi tidak terlalu berpengaruh. Banyak yang mengunggah foto-foto yang seharusnya pribadi ke Internet. Hal ini karena mereka menganggap bahwa Internet adalah sesuatu yang diskrit dari hidup mereka.

Memang, saat ini Internet merupakan sebuah kehidupan yang paralel. Namun, seiring dengan waktu dan teknologi komputasi awan, kehidupan manusia semakin integral dengan Internet. Sedikit demi sedikit kehidupan kita semakin tergantung dengan Internet.

Itu sebabnya, ketika Internet semakin terkontrol, maka kehidupan kita terkontrol. Setiap manusia dapat diarahkan kepada sesuatu yang diingini oleh pemegang Internet. Sayangnya, banyak pemerintahan yang menganggap mereka yang punya kendali, padahal kekuasaan ada pada korporasi global. Mereka mampu memberikan sugesti dengan menganalisis keinginan pengguna.

Mau contoh?

Lihat artis-artis zaman dahulu dan zaman sekarang. Dahulu, kulit sawo matang merupakan standar wanita cantik. Dan memang tepat seharusnya demikian karena orang Indonesia kebanyakan berkulit agak gelap.

Lihat artis zaman sekarang. Artis yang cantik adalah artis yang bermuka putih mulus dan berparas keindoan. Kulit harus putih dan berkilau. Berat badan harus kurus kerempeng. [Jujur, saya tidak suka ke mal karena saya sering hampir menangis melihat ada wanita yang kurus sekali (tidak normal sepertinya bulimia) dengan pakaian modis. Pikir saya, “Emak bapaknya kasih makan apa di rumah?”]

Saya melihat banyak wanita muda yang kehilangan kepercayaan diri akibat ini. Padahal, tidak ada yang salah dengan mereka. Sebagai penggemar novel visual Jepang (manga) saya mendapati bahwa ada banyak fetish yang tersedia. Artinya, setiap pria memiliki wanita idealnya masing-masing, namun sepertinya komersialisasi menganggap hanya ada satu selera.

Manusia

Ketika ada seseorang yang bertindak deviasi dari norma masyarakat. Mungkin Anda menyebutnya sebagai sebuah kejahatan. Tetapi, pada dasarnya ia menentukan sebuah pilihan. Artinya, ia mempraktikkan kehendak bebas yang ia miliki sebagai seorang manusia.

Memang, ada sebuah dilema ketika yang ia lakukan melukai orang lain. Pada titik inilah saya setuju bahwa ada perangkat pemerintahan yang membuat tingkah laku demikian harus diluruskan. Kebebasan hak yang dia lakukan melanggar hak orang lain. Seperti kata PMP (PPKn?), hak setiap orang dibatasi oleh hak orang lain.

Deviasi-deviasi yang terjadi pada manusia merupakan sebuah bentuk pertahanan manusia. Ibarat kata, manusia mempertaruhkan hartanya ke banyak tempat. Seandainya sebuah masyarakat gagal dan jatuh, satu masyarakat yang lain muncul.

Contoh deviasi pemikiran adalah pemikiran Bung Karno versus pemikiran Bung Hatta. Bagi Bung Karno, sekumpulan elit konglomerat yang terfokus dapat mengangkat negara. Berbeda dengan itu, Bung Hatta percaya dengan ekonomi yang terdistribusi.

Pemikiran Bung Karno melahirkan taipan-taipan ekonomi dan secara makro mengangkat ekonomi kita. Namun, ketika ekonomi dunia kolaps, ternyata sektor UMKM mampu bertahan. Sekarang, UMKM merupakan bisnis yang mengangkat Indonesia.

Konglomerasi dan ekonomi terdistribusi merupakan dua pandangan yang berbeda dari dua manusia. Keduanya dibiarkan muncul walau pun konglomerasi menjadi pemikiran arus utama. Namun, ketika konglomerasi gagal, pertahanan manusia berhasil memunculkan pemikiran yang lainnya sebagai solusi arus utama yang baru.

Itulah pentingnya keberagaman manusia. Ia tidak hanya berbicara etnosentrik, namun juga tentang pemikiran. Bhinneka Tunggal Ika bukan soal suku, namun juga pandangan yang dimiliki oleh manusia Indonesia.

Privasi

Ketika tindak-tanduk masyarakat dianalisis oleh sebuah entitas, ia memiliki kuasa untuk menggerakkan masyarakat untuk menjadi seperti yang ia mau. Apa yang terjadi bila entitas tersebut merupakan entitas komersial? Dapatkah ia meletakkan moral di atas kepentingan mencari keuntungan?

Tren ekonomi sosial dan berbasis humanitarian memang berkembang dewasa ini. Tetapi, pada akhirnya bisnis akan selalu berbicara bisnis. Ada neraca saldo yang harus diisi. Entitas komersial, sesuai dengan namanya, akan selalu bersifat komersial.

Jika kekuasaan pengetahuan akan tindakan manusia menjadi milik sekelompok orang, apakah dapat terjamin bahwa sekumpulan manusia itu tidak memanfaatkan hal tersebut untuk kepentingan ideologinya?

Hal yang terjadi di kenyataan,  seperti yang saya contohkan sebelumnya, adalah entitas komersial menggunakan itu untuk menggerakkan masyarakat untuk memiliki pemikiran yang sama. Mereka menyuntikkan pemikiran-pemikiran yang sesuai dengan tujuan mereka.

Inilah hasilnya:

  1. Penyeragaman pendapat yang terjadi di masyarakat menyebabkan keberagaman manusia menjadi dipertanyakan.
  2. Terjadi marginalisasi terhadap orang-orang yang tidak sesuai.
  3. Setiap yang berbeda dipaksa untuk menyesuaikan diri atau tertolak.

Inikah yang diingini oleh manusia? Inikah peradaban manusia?

Itu sebabnya, menolak memberikan data kepada entitas bisnis merupakan sebuah pilihan untuk melindungi manusia dari kepentingan-kepentingan komersial. Hak privasi menjunjung tinggi keberagaman manusia dengan memberikan kesempatan bagi manusia berkembang tanpa terekspos oleh dunia. Hal ini memberikan kontrol kepada manusia untuk ia bisa berpikir dan bertindak. Berpikir dan bertindak bukan karena dorongan orang lain, melainkan produksi dari pikiran orang tersebut sebagai makhluk yang memiliki jiwa dan hati nurani.

Privasi adalah salah satu instrumen untuk membela hak manusia dan mengangkat tinggi derajat manusia sebagai manusia yang berbeda dengan binatang.

Catatan

Ada banyak ide cerita dalam tulisan, jadi syukur kalau Anda mengerti tulisan saya. Saya, sih, menulis ini sebagai catatan kepada diri sendiri mengapa saya masih membela gerakan FOSS. Dunia penuh makna dan tidak sekedar yang terlihat.

Omong-omong, saya, sih, sudah sejak lama memakai BlankOn, jadi nampaknya seruan RMS untuk memboikot Ubuntu bukan buat saya. 🙂

Pelipur Lara: Torchlight 2
Torchlight 2 dari Steam, Tidak Perlu Daring

Pelipur Lara: Torchlight 2

Torchlight 2 dari Steam

Torchlight 2 dari Steam, Tidak Perlu Daring

Setelah kecewa dengan Diablo 3 yang harus selalu daring, saya menghentikan proyek membangun komputer Bermain. Seperti yang kita ketahui bersama, lebar pita jaringan di Indonesia itu tulisannya up to, yang artinya: “Sampeyan dapat primbon kali, ye, baru bisa benar-benar segitu kecepatannya.” Ya, sampai Ksatria Piningit datang, permainan yang selalu membutuhkan dedikasi pita jaringan itu tidak bisa diharapkan.

Untungnya, sudah ada Torchlight 2 buatan Runic. Permainan ini mirip dengan Diablo 2, satu-satunya permainan RPG yang saya mainkan dengan intensif dahulu. Kata teman saya, permainan ini dibuat oleh mantan pengembang Diablo. Hmmm… seingat saya, mereka bikin perusahaan dan mengembangkan Sacred.

Harga permainan ini di Steam saat ini US$19,99 atau sekitar Rp200.000,00. Mungkin nanti bisa lebih murah lagi ketika libur Natal. Tapi, ini sudah cukup terjangkau buat saya. Enak juga kalau membeli asli, saya jadi harus menjaga diri untuk tidak membeli banyak permainan dan terasa amat berharga permainan yang dibeli.

Torchlight 2 menggunakan mesin Ogre3D, sebuah pustaka kode sumber terbuka. Ogre3D sendiri dapat dijalankan di GNU/Linux, saya ingat dahulu InfoLINUX pernah membahas. Yang seru dari seri permainan ini adalah Torchlight yang pertama sudah ada di Ubuntu Apps. Saya merasa positif untuk versi asli Torchlight 2 untuk GNU/Linux.

Untuk memainkan Torchlight 2, saya tinggal menggunakan Wine:

$ wine Steam.exe -opengl -no-dwrite

Nah, perhatikan “-no-dwrite”. Itu parameter yang digunakan untuk Wine 1.5 (wine-unstable kalau di BlankOn). Kalau tidak, tulisan di Steam tak terbaca. Sepertinya dwrite.dll versi Wine 1.5 bermasalah.

Saya sudah memasang semuanya dan untuk komputer saya yang masih pakai Pentium D, VGA on-board GeForce 9200, dan memori 4G aplikasi berjalan lancar. Saya harus mengonfigurasi grafis menjadi medium dan mematikan FSAA.

Waduh, sudah terlalu banyak saya tulis. Saatnya bermain. Jangan lupa mandi.

Catatan #1: Log Server
Every wizard tinker his box.

Catatan #1: Log Server

Tinkering server

Every wizard tinker his box.

tl;dr

Bukan untuk konsumsi umum dan tidak disarankan untuk pemula. Hanya sebagai pengingat saja. Kerusakan akibat menggunakan trik-trik di tulisan ini adalah akibat pelaku sendiri.

Menguruskan Server

Untuk dapat mengecilkan server, dicari berkas yang lebih besar dari 100MB.

# find /var/log -type f -size +10000k -exec ls -lh {} \;

Biasanya /var/log/syslog. Coba cari tahu siapa yang sedang mengakses syslog.

# fuser /var/log/syslog

Biasanya, sih, rsyslog. Matikan saja dulu, cadangkan syslog, baru kosongkan:

# > /var/log/syslog
Bertahan Hidup Tanpa Network Manager

Bertahan Hidup Tanpa Network Manager

TL;DR

$ sudo iwlist wlan0 scan
$ sudo iwconfig wlan0 essid "Hotspot - UI, Balairung Selatan"
$ sudo dhclient wlan0

Versi Lengkap (Bonus RFKILL)

Tadi malam saya melakukan kesilapan dengan membuang paket Network Manager. Saya baru sadar setelah menjalankan ulang laptop. Akibatnya, laptop BlankOn Rote saya tidak dapat terhubung ke dalam  jaringan bergerak.

Tapi, tunggu dulu! Ternyata bisa dilakukan dengan sekumpulan perintah sederhana.

Kartu Jaringan (Opsional)

Ini tidak perlu dilakukan. Tetapi,  terkadang kita suka menonaktifkan tombol Wireless di laptop sehingga perangkat nonaktif. Cara paling cepat, sih, biasanya saya menjalankan ulang laptop dengan tombol Wireless menyala.

Mengetahui kartu jaringan mana yang buat jaringan bergerak

$ sudo iwconfig

Melihat status fisik kartu jaringan yang ada:

$ sudo rfkill list

Contoh punya saya:

$ sudo rfkill list
0: ideapad_wlan: Wireless LAN
    Soft blocked: no
    Hard blocked: no
1: ideapad_bluetooth: Bluetooth
    Soft blocked: yes
    Hard blocked: no
2: phy0: Wireless LAN
    Soft blocked: no
    Hard blocked: no

Mengaktifkan kartu jaringan:

$ rfkill unblock 2

Ganti 2 dengan kartu jaringan bergerak Anda (Kalau saya phy0, Intel Wireless).

Jaringan Bergerak

Mencari jaringan bergerak

$ sudo iwlist wlan0 scan

Kalau wlan0 tidak disebutkan, semua antarmuka jaringan akan dicari satu persatu oleh iwlist. Kebetulan kartu jaringan saya wlan0, jadi saya tak perlu mencari antarmuka yang lain.

Biar lebih sederhana, kita cukup mencari ESSID yang mau kita cari. Informasi yang lainnya tak perlu disertakan. Contohnya:

$ sudo iwlist wlan0 scan | grep ESSID
                    ESSID:"Hotspot - UI, Balairung Selatan"
                    ESSID:"CISCO-DLTT-8"
                    ESSID:"HotSpot - UI"
                    ESSID:"HotSpot-UI, Area Perpus-Lt.2-2"
                    ESSID:"HotSpot - UI"
                    ESSID:"EnGenius8B4A00"

Terhubung ke Titik Akses/ESSID/Router Jaringan Bergerak

Saya berada di Balairung UI. Untuk itu, saya memilih titik akses terdekat.

$ sudo iwconfig wlan0 essid "Hotspot - UI, Balairung Selatan"

Dapatkan IP

Setelah terhubung, saatnya mendapatkan informasi IP, DNS, dan segala macam. Gunakan klien DHCP.

$ sudo dhclient wlan0

Selesai

Buka peramban atau buka terminal dan pasang Network Manager. Ha… ha… ha….

Optimasi dengan Jemalloc
cpu-burn

Optimasi dengan Jemalloc

Biasanya Jemalloc dipakai oleh server high performance, Firefox, dan beberapa aplikasi lainnya. Setelah dicobakan ke Gentoo, ternyata Jemalloc bisa dipakai juga untuk lingkungan laptop saya. Hasilnya, aplikasi jauh lebih cepat.

Dapatkan Jemalloc

Ubuntu saya masih Ubuntu Precise. Jemalloc-nya masih 2.2.5. Versi Jemalloc di Quantal sudah pakai 3.0.0. Ya, sudah,  saya unduh saja:

$ wget http://www.canonware.com/download/jemalloc/jemalloc-3.0.0.tar.bz2
$ cd jemalloc-3.0.0

Jemalloc tidak membutuhkan banyak pustaka karena dia mengimplementasi ulang fungsi alokasi memori.

Konfigurasi

Untuk yang lemah iman, gunakan saja konfigurasi standar:

$ ./configure --prefix=/usr

Untuk yang suka tantangan seperti saya, mari kita gunakan:

$ ./configure --prefix=/usr  --enable-prof --enable-prof-libunwind --enable-dss --enable-xmalloc

Oh, iya, sebelum menjalankan perintah tersebut, terlebih dahulu pasang “libunwind” untuk melakukan profilling. Caranya:

$ sudo apt-get install libunwind7

Sebenarnya ada “–enable-lazy-lock”. Menurut referensi, dapat menyebabkan masalah pada beberapa aplikasi Java. Ya, sudah, saya tidak ikutkan. Saya banyak menggunakan aplikasi Java soalnya.

Kalau sudah, kompilasi:

$ make && sudo make install

Pakai

Untuk yang paranoid, mungkin bisa pilih aplikasi apa saja yang memakai Jemalloc. Caranya mudah, buka terminal dan buat LD_PRELOAD sebelum menjalankan aplikasi. Contoh:

$ export LD_PRELOAD=/usr/lib/libjemalloc.so.1
$ gedit # contoh aplikasinya gedit.

Untuk yang suka tantangan seperti saya, silakan langsung saja taruh pustaka Jemalloc di “/etc/ld.so.preload”. Dengan ini, setiap aplikasi yang berjalan pasti menggunakan Jemalloc. Caranya, sunting berkas tersebut dengan penyunting teks, atau gunakan:

$ echo "/usr/lib/libjemalloc.so.1" | sudo tee -a /etc/ld.so.preload

Beres.

Pengalaman

Dari penggunaan saya, sampai detik ini saya belum menemukan masalah. Malah, performa laptop saya meningkat. Sampai jumpa pada seri optimasi yang lain.

Bacaan Lebih Lanjut

Scalable memory allocation using jemallocThe Facebook website comprises a diverse set of server applications, most of which run on dedicated machines with 8+ CPU cores and 8+ GiB of RAM. These applications typically use POSIX threads for concurrent computations, with the goal of maximizing throughput by fully utilizing the CPUs and RAM.
Bakar! Bakar! Bakar!

Bakar! Bakar! Bakar!

Ketika berjalan-jalan di toko musik, saya menemukan album-album menarik. Saya menemukan CD Kla Project Dekade. Secara tak sengaja saya melihat ada album baru Saint Loco, Momentum. Langsung, saya membeli keduanya beserta satu album rohani Parade Band Festival dari RPK 96,3 FM.

Untuk album-album ini, saya melakukan hak salin saya atas mereka. Banjir besar Jakarta waktu lalu membuat kamar saya terendam dan menghancurkan banyak kaset yang tak dapat diketemukan lagi di toko kaset. Semenjak itu, saya merasa penting untuk membakar semuanya.

Dari pengalaman saya, pembakar nomor satu saya adalah K3B. Hal ini karena K3B mendukung modus Paranoia. Modus Paranoia membaca CD dan memastikan data yang dibakar sama. Entah mengapa, CD sepertinya gampang rusak kendati sudah disimpan dengan baik.

$ sudo apt-get install k3b libk3b6-extracodecs

Untuk beberapa format, pasang SOX.

$ sudo apt-get install sox

Saya, sih, tidak begitu memakai SOX karena saya memakai encodingyang lain. Terutama yang spesifik.

FLAC

FLAC adalah sebuah kompresi audio yang tidak menghilangkan detail suara. Biasanya, saya menggunakan FLAC untuk album-album luar negeri. Soalnya, entah mengapa mereka suaranya lebih kaya dibandingkan album sini. Tapi, beberapa album Indonesia, seperti dua album yang baru saya beli ini juga FLAC.

Untuk dapat menggunakan FLAC di K3B:

$ sudo apt-get install flac

Beres.

Musepack

Musepack adalah format hilang-detail (lossy) yang paling saya sukai. Kelemahan dari Musepack hanya satu, tidak banyak yang dapat memutar berkas format ini. Yah, berhubung semua koleksi musik saya untuk konsumsi pribadi, saya tidak peduli! Toh, saya memainkannya di laptop tercinta.

Cara pasang Musepack untuk bisa dipakai oleh K3B:

$ sudo apt-get install mppenc

Beres sudah.

AAC

AAC adalah format kedua yang saya rekomendasikan. Karena punya Apple, sudah pasti format ini didukung oleh banyak perangkat. Kalau kebetulan membawa laptop dianggap memusingkan, bisa memakai perangkat yang lebih mungil.

Ada dua encoding AAC di GNU/Linux. Yang pertama adalah FAAC dan yang kedua Nero AAC.  Untuk FAAC, tinggal memasangnya saja.

$ sudo apt-get install faac

Untuk Nero AAC, Anda harus mengunduhnya di situs Nero. Kemudian, ekstraksi 3 berkas aplikasi “neroAacEnc”, “neroAacTag”, dan “neroAacDec” ke direktori tertentu. Saya menaruhnya di “/usr/local/bin” seperti standar FHS.

Untuk memasang Nero AAC, ikuti langkah yang ada di sini. Saya mengubah skrip pembungkus (wrapper script) menjadi seperti berikut:

#!/bin/bash
/usr/local/bin/neroAacEnc -if "$1" -of "$2"
/usr/local/bin/neroAacTag "$2" -meta:title="$3" -meta:artist="$4" -meta:comment="$5" -meta:track="$6" -meta:album="$7" -meta:year="$8"

Berkas itu saya simpan menjadi “/usr/local/sbin/neroaac” mengikuti kaidah FHS.

Sedikit Catatan

Kalau tidak salah, dahulu saya pernah dengar UU kita mendukung penyalinan untuk tujuan back up.Semangatnya sama seperti fair use dalam UU di Amerika Serikat. Tapi, apakah UU kita masih mendukung ini, yah?

Saya berharap informasi di blog ini digunakan untuk tujuan yang benar. Hargailah artis yang sudah berupaya menghasilkan rekaman yang bagus. Belilah CD yang asli dan dukung artis yang Anda sukai agar mereka dapat berkembang.

Percaya, deh, ketika Anda membeli CD seharga Rp 80.000,00 (2 CD, Dekade) untuk sebuah maha karya, entah mengapa jadi tidak cepat bosan. Ini karena informasi spasial, detail alat musik, dan beberapa properti suara lagu tetap terjaga.

Tanpa steroid, equalizer normal dan efek-efek mati, sebuah lagu dari CD asli terdengar hingga ke sukma. Berlebihan? Coba saja kalau tidak percaya.

Memasang mod_pagespeed Pada Ubuntu/Debian

Memasang mod_pagespeed Pada Ubuntu/Debian

Modul mod_pagespeed adalah sebuah modul Apache yang digunakan untuk mengoptimisasi sebuah situs. Beberapa teknik optimasi misalnya mengecilkan berkas-berkas dan membuat mereka statik. Modul ini dikembangkan oleh Google.

Cara pakai:

  1. Pergi ke laman pengunduhan dan unduh berkas.debyang sesuai dengan arsitektur server.
  2. Pasang:
    sudo dpkg -i mod-pagespeed-beta_current_amd64.deb
  3. Muat ulang Apache2.
    sudo invoke-rc.d apache2 restart
  4. Selesai.

Optimasi

Kalau memori lebih besar, lebih baik taruh pagespeed ke memori. Caranya ada di dokumentasi.

Sedikit saran, kalau menggunakan solusi lain, lebih baik mod_pagespeed dimatikan atau solusi lain juga dimatikan. Sering kali solusi yang sama ditawarkan oleh solusi lain (misalnya penggunaan plugin tembolok WordPress yang juga mengompresi berkas). Jadi, pastikan solusi yang lain tidak saling bentrok.

Year of Gaming

Year of Gaming

Setelah kehilangan motivasi untuk meneruskan spesifikasi komputer super, saya pun bingung dengan dana yang tersedia. Tadinya, saya hendak membangun komputer untuk bermain khusus untuk Diablo 3. Seri Diablo adalah game spesial bagi saya. Mainnya tidak ada matinya.

Dulu saya “beli” Diablo buatan GPL (Glodok Punya License).  Setelah mengerti dan merasa cukup, saya memutuskan Diablo 3 sebagai game pertama saya yang asli. Sayang, fitur “Always Online” mematahkan semangat saya.

Batal sudah! Saya tidak mau berlangganan Internet super cepat jika hanya bisa digunakan di hari Sabtu saja. Tahu sendiri, ‘kan, biaya data plan di Indonesia mahal dan Menkominfo kerjaannya cuma ngurusin bokep dan berpantun ria.

Valve Masuk GNU/Linux

Sebenarnya isunya sudah lama. Si Larabel memberikan sedikit bocoran bahwa Valve sedang mengembangkan klien untuk GNU/Linux. Tapi, berhubung kadang-kadang artikel Phoronix suka mencari sensasi, saya tidak begitu percaya.

Wow, ternyata benar! Valve membuat situs khusus untuk GNU/LinuxGame pertama yang sudah berhasil ditaruh ke Ubuntu 12.04 adalah L4D2 (Left For Dead 2).

Horeeee….! 🙂

L4D2 adalah satu-satunya game FPS yang saya mainkan. Game ini spesial karena satu-satunya game FPS dengan cerita. Lalu, kalau kita berani keliling-keliling, pemandangannya bercerita. Atau, bahkan tokoh yang kita mainkan suka berbicara.

Omong-omong, sekarang sedang ada Steam Summer Sale. Satu game harganya cuma US$ 9.99 (sekitar 90.000an). Gratis update dan nurani tak lagi merasa bersalah. Saya langsung membeli Valve Complete Pack.

Sulitnya e-Commerce di Indonesia

Kebanyakan situs pembayaran menginginkan adanya kartu kredit sebagai alat pembayaran. Waduh, padahal, khan, kartu kredit artinya kartu hutang. Mengapa tidak diperbolehkan menggunakan kartu debit?

Ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam pembuatan kartu kredit:

  1. Tidak semua orang Indonesia diperbolehkan memiliki kartu kredit. Mungkin karena pekerjaan dan beberapa syarat lain yang tidak terpenuhi.
  2. Kartu kredit baru tidak bisa digunakan untuk transaksi melebihi sejumlah tertentu. Saya hendak membeli DLNA kit sendiri yang totalnya lebih dari 5 juta. Ya, wassalam…
  3. Kartu kredit menambah beban pengeluaran. Biayanya mahal.
  4. Kartu kredit dari bank di Indonesia terkadang tidak laku.

Omong-omong, saya tidak memiliki kartu kredit. Saya mengumpulkan data dari teman-teman. Saya tak suka MLM, tetapi sebelum Robert T. Kiyosaki menjadi raja MLM, dalam Cash Flow Quadrant, dia bilang untuk menggunting kartu kredit. Oprah Winfrey dalam The Oprah Winfrey Show juga selalu bilang gunting kartu kredit. Dua orang dari ekstrim berbeda berpendapat sama, jadi saya ngikut saja.

Lalu bagaimana cara saya membelinya? Kebetulan saya punya teman-teman yang lama melintang. Jadi, saya  minta bantuan mereka.

Saya agak ngeri kalau mau beli DLNA kit. Terkadang harga cukai lebih mahal dari barang sendiri. Mau cari-cari di Glodok juga saya tidak tahu tempatnya. Saya bukan orang kaya, kalau harganya sudah dua kali lipat, saya harus berpikir ulang.

Susah memang kalau mau riset dan bahan baku ada di luar negeri. Andai ada potongan harga cukai untuk barang-barang keperluan riset. Apakah ada hukumnya, kawan-kawan?

Melenceng dan Berhenti Menulis

Waduh, kok, pembahasan jadi melenceng.

Yah, begitulah saya. Memang membeli game di Internet ini termasuk riset saya untuk penggunaan e-Commerce. Omong-omong, saya bukan periset beneran. Tapi, sebagai seorang yang suka TIK saya suka meneliti fenomena dunia TIK.

Hasil dari riset saya selama di Universitas Indonesia:

  1. FOSS, saya melanjutkan tugas dari Pak Ibam untuk menjaga Kambing.
  2. Kartu pintar. Saya termasuk tim pembuat platform untuk infrastruktur Smart Infrastructure UI.
  3. Blog. UI yang pertama kali mengimplementasi WordPress MU.
  4. Surel. Implementaasi dari ASSP, standarisasi DKIM, dan lainnya
  5. Dan lain sebagainya.

Mengapa saya mem-bragging ini semua?

Saya cuma mau bilang, inilah dampak dari menggeluti FOSS. Pikiran jadi terbuka untuk menciptakan solusi, menyatukan yang ada, dan pantang menyerah. Sesuatu yang tidak akan Anda dapatkan dari menggunakan sistem tertutup.