Category Archives

76 Articles
Galat Heartbleed pada OpenSSL

Galat Heartbleed pada OpenSSL

Selagi Pemilu, ternyata muncul sebuah kehebohan tentang galat pada OpenSSL. Saya belum sempat menulis karena kehebohan Pemilu lebih terasa. Saya sudah memilih, loh.

Kehebohan tentang OpenSSL dikarenakan adanya sebuah modul di OpenSSL yang bernama Hearbeats. Modul ini menyebabkan OpenSSL membuka sampai 64KB memori untuk dibaca. Itu sebabnya, galat ini berbahaya karena bisa jadi 64KB memori itu berisi login, sandi, atau sertifikat X.509.

Cara mengatasinya?

Galat ini hanya ada pada OpenSSL versi 1.0.1 s.d. 1.0.1f dan 1.0.2-beta. Silakan tingkatkan ke versi 1.0.1g atau 1.0.2-beta1.

Atau cara kedua adalah dengan mematikan Hearbeats. Caranya dengan mengompilasi ulang OpenSSL Anda dengan menambah “-DOPENSSL_NO_HEARTBEATS” pada kompilasi untuk mematikan Heartbeats pada kompilasi.

Cara Paling Gampang

Anda sudah mengaktifkan repo keamanan distro Anda? Ya, tinggal:

$ sudo apt-get update && sudo apt-get dist-upgrade

Selesai.

Cara Agak Susah

Cara agak susah adalah dengan mengompilasi sendiri. Bisa ikuti cara BLFS.

Unduh OpenSSL-1.0.1g dan semuanya.

$ wget http://www.openssl.org/source/openssl-1.0.1g.tar.gz
$ wget http://www.linuxfromscratch.org/patches/blfs/svn/openssl-1.0.1g-fix_parallel_build-1.patch
$ wget http://www.linuxfromscratch.org/patches/blfs/svn/openssl-1.0.1g-fix_pod_syntax-1.patch

Buka dan tambal paket.

$ tar xvfz openssl-1.0.1g.tar.gz
$ cd openssl-1.0.1g
$ patch -Np1 -i ../openssl-1.0.1g-fix_parallel_build-1.patch
$ patch -Np1 -i ../openssl-1.0.1g-fix_pod_syntax-1.patch

Kompilasi.

$ ./config --prefix=/usr --openssldir=/etc/ssl --libdir=lib shared zlib-dynamic
$ make

Saya pikir Debian tidak akan menggunakan pustaka statik. Maka, matikan saja dari pada mengotori sistem.

$ sed -i 's# libcrypto.a##;s# libssl.a##' Makefile

Selanjutnya pasang.

$ sudo make MANDIR=/usr/share/man MANSUFFIX=ssl install
$ sudo install -dv -m755 /usr/share/doc/openssl-1.0.1g
$ sudo cp -vfr doc/* /usr/share/doc/openssl-1.0.1g

Beres.

Cara saya

Hmm… cara saya terlalu rumit untuk ditulis di sini. Nanti saja.

Bacaan Lebih Lanjut

Tambahan Pemasangan untuk BlankOn Suroboyo

Tambahan Pemasangan untuk BlankOn Suroboyo

Citarasa itu berbeda tiap orang. Ini adalah versi BlankOn yang seharusnya ada menurut saya. Kalau tak setuju, tak mengapa. Kali ini saya menggunakan Root Terminal yang tersedia dengan mudah di BlankOn untuk menghindari sudo.

Pindah ke systemd Sepenuhnya

Seperti yang diberitakan, Debian akan membuang sysvinit dan pindah ke systemd pada iterasi berikutnya. Versi GNOME3 yang menjadi dasar BlankOn pun menggunakan modul yang sama. Maka, saya menggunakan inisiatif untuk mengganti saat ini juga.

Pertama-tama, pastikan akar direktori terpasang di /etc/fstab. Asumsi saya adalah sistemberkas diformat EXT4. Silakan ganti dengan format yang lainnya jika berbeda.

# cat /etc/mounts | grep ext4 >> /etc/fstab

Lalu, pasang systemd-sysv untuk menggantikan sysvinit:

# apt-get install systemd-sysv

Silakan nyalakan ulang BlankOn untuk mengaktifkan systemd. Perhatikan bahwa waktu mulai pun lebih cepat dibandingkan dengan sysvinit.

Segala Sesuatu tentang VirtualBox

Anda dapat melewati bagian ini. Saya memerlukan langkah-langkah ini karena saya menggunakan BlankOn pada VirtualBox di komputer kerja saya.

Memasang VirtualBox Guest

BlankOn menggunakan XOrg versi 1.15. Versi ini tidak didukung dengan baik oleh Virtual Box 4.3.6, versi terbaru Virtual Box saat penulisan ini. Diperlukan VirtualBox Guest Additions yang versi beta (4.3.7) untuk itu.

Pada komputer inang, unduh:

$ wget https://www.virtualbox.org/download/testcase/VBoxGuestAdditions_4.3.7-92075.iso

Selanjutnya, lakukan hal-hal berikut di BlankOn. Buka terminal di BlankOn dan lakukan. Pasang paket-paket ketergantungan.

# apt-get install dkms linux-headers-3.12-1-amd64

Entah mengapa, BlankOn juga memasang linux-image-3.9.1-amd64. Buang saja:

# apt-get remove --purge linux-image-3.9.1-amd64 # update-grub

Pada VirtualBox Anda di inang, pasang ISO yang sudah diunduh tadi ke BlankOn. Kalau benar, BlankOn akan menanyakan apakah CD yang baru dimasukkan hendak dijalankan atau tidak. Bila tak berjalan otomatis, langsung saja jalankan dari terminal.

Cari tahu dipasang ke direktori mana:

# mount | grep sr0

Pada kasus saya, saya pindah ke direktori berikut:

# cd /media/jp/VBOXADDITIONS_4.3.7_92080

Lalu, pasang VirtualBox Guest Additions:

# ./VBoxLinuxAdditions.run

Tunggu beberapa saat dan nyalakan kembali BlankOn.

Menambahkan Pengguna ke Grup vboxsf

Agar dapat mengakses direktori-direktori yang dibagi-pakai oleh VirtualBox, pengguna harus tergabung dalam grup vboxsf. Untuk menambahkan pengguna tersebut:

# adduser jp vboxsf

Keluar dari sesi BlankOn dan masuk kembali.

Memasang SSH

Saya bingung mengapa dewasa ini SSH tidak dipasang secara otomatis.

# apt-get install ssh

Dan, SSH pun terpasang.

Memasang Peluncur Aplikasi

Peluncur aplikasi KDE menggunakan KRunner. GNOME Shell menggunakan peluncur internal. Namun, sayangnya Manokwari tidak ada peluncur aplikasi.

Untungnya, ada aplikasi pihak ketiga. Ada GNOME Do yang menggunakan Mono. Ada Synapse yang biasa digunakan oleh BlankOn Pattimura dan pendahulunya. Ada Kupfer yang juga ringan. Terakhir, yang paling ringan dari itu semua: dmenu.

Saya tertarik pada Kupfer, namun untuk sementara ini saya memasang Synapse saja:

# apt-get install synapse

Sementara ini baru itu saja yang saya tambahkan.

Memasang BlankOn Suroboyo

Memasang BlankOn Suroboyo

BlankOn Suroboyo sudah rilis dan ada di Kambing pada hari kasih sayang. Saya pun mencoba memasang di Virtual Box. Kebetulan laptop saya tidak saya pegang, belum bisa pasang di sana.

Tampilan Depan Pemasangan

Tampilan Depan Pemasangan

Tampilan depan dibuat baku dengan bahasa Inggris. Nampaknya BlankOn juga bervisi untuk dapat digunakan oleh dunia. Tapi, untuk kasus saya, saya ubah menjadi Bahasa Indonesia. Setelah itu pilih Pasang BlankOn.

Laman Selamat Datang dalam pemasangan BlankOn 9.0

Laman Selamat Datang dalam pemasangan BlankOn 9.0

Pada langkah berikutnya, ada pemilihan ruang penyimpan yang menjadi target pemasangan. Berhubung saya menggunakan satu ruang penyimpan saja, saya langsung pilih itu saja.

Target Pemasangan

Target Pemasangan, yakni ruang penyimpan untuk memasang BlankOn.

Selanjutnya akan masuk ke laman Personalisasi. Sayangnya, ada beberapa yang saya perlu komentari di laman ini.

Berikut yang saya hendak komentari:

  1. Nama Komputer hanya boleh huruf kecil. Padahal RFC 1123 bagian 2.1, adendum dari RFC 952, menyatakan bahwa Nama Komputer boleh alfanumerik (angka dan huruf) dan simbol “-“. Seharusnya, “rajagukguk-blankon” sebuah nama yang valid.
  2. Sandi hanya diperbolehkan kombinasi alfanumerik. Untuk saat ini, praktik penggunaan sandi dengan menggunakan karakter-karakter non-alfanumerik seperti “-_# &^%!~`” adalah lumrah. Sistem pun dapat menyimpan karakter-karakter tersebut.

Untuk mengatasi hal ini, saya menggunakan Nama Komputer sementara, “rajaon”, dan sandi yang alfanumerik. Toh, nanti setelah selesai saya bisa mengganti keduanya.

Ringkasan hasil konfigurasi

Ringkasan hasil konfigurasi sebelum pemasangan dimulai.

Pilih “BERIKUTNYA” untuk lanjut dan memasang BlankOn Suroboyo. Saya suka sekali tampilan pemasangan ini, sederhana dan cepat. Saya hanya mengalokasikan memori 512MB ke sistem operasi ini. Lumayanlah, ini cukup untuk nantinya dicoba ke komputer-komputer tua yang sering disumbangkan untuk amal.

Proses pemasangan

Pemasangan berlangsung dan saya bisa lanjut.

Biasanya di sini ada salindia tentang fitur-fitur sistem operasi. Kali ini aplikasi pemasangan BlankOn Suroboyo hanya memperlihatkan perkembangan proses pemasangan sistem. Apakah ini untuk menurunkan kebutuhan memori? Ya, tak penting juga, sih. Toh, biasanya saat proses pemasangan kita melakukan kegiatan lain.

Selesai

Selesai pemasangan

Untuk masuk ke sistem baru pilih “Jalankan ulang komputer dan gunakan sistem baru”.

Tampilan Selamat Datang BlankOn Suroboyo 9.0

Tampilan Selamat Datang BlankOn Suroboyo 9.0

BlankOn Suroboyo menyediakan dua sesi secara baku:

  • Sesi BlankOn
  • Sesi GNOME

Secara baku, menggunakan sesi BlankOn.

Klik pada tombol di samping untuk memilih sesi. Normalnya ini tak perlu dilakukan.

Klik pada tombol di samping untuk memilih sesi. Normalnya ini tak perlu dilakukan.

Ini tampilan Destop.

Kali ini saya sedang libur, sehingga saya punya waktu untuk melihat parade aplikasi yang ada di BlankOn. Aplikasi terlihat menyatu dengan tematik. Saya mau bilang satu kata untuk GeoBlankOn: KEREN! [Sengaja ditebalkan dan dimiringkan untuk menunjukkan kekaguman yang saya miliki untuk para pengembang BlankOn]

Omong-omong, skrinsut ini diambil dari GIMP yang ada di BlankOn Suroboyo. Lalu, berkas-berkas ditransfer ke komputer dengan menggunakan SFTP dari Peramban Berkas. Cukup intuitif bagi yang mau mencoba.

Beberapa catatan yang saya lakukan setelah sebentar mencoba BlankOn:

  1. Synaptic tidak ada. Synaptic memiliki fitur untuk membuat berkas teks yang berisi berkas-berkas yang perlu diunduh untuk memasang suatu aplikasi. Fitur daftar unduhan ini perlu agar dapat mengunduh berkas-berkas paket Debian yang diperlukan dari komputer lain (Warnet misalnya). Kalau Warsi menyediakan fitur ini, saya dan banyak orang yang punya koneksi terbatas sangat berterima kasih.
  2. Dokumentasi penggunaan aplikasi belum tersedia. Biasanya saya memberitahukan kepada rekan-rekan untuk membaca dokumentasi yang bagus tersebut. Namun, kali ini BlankOn Suroboyo belum memilikinya.
  3. Tidak ada pemulai aplikasi (runner). Fitur ini sangat diperlukan untuk memulai aplikasi tanpa harus dari menu. Yah, memang ini untuk pengguna lanjutan. Tapi, ini membuat kerja lebih cepat.
  4. Manokwari sepertinya masih belum mengimplementasi Pintasan papan ketik. Saya masih harus menggunakan tetikus untuk mengakses menu. Alangkah baiknya bila bisa menggunakan pintasan papan ketik seperti beberapa versi sebelum Suroboyo.
  5. Tematik yang streamlined sangat solid, nampak sekali bahwa pengembang BlankOn menggunakan waktu mereka untuk membuat sebuah produk solid. Kudos untuk pengembang BlankOn.
  6. Saya menjalankan GIMP dan menjalankan aplikasi yang saya tangkap secara bersamaan hanya dengan komputer 512MB. WOW!

Yak, begitulah kira-kira. Saya menyarankan untuk para pengguna pemula untuk masuk ke BlankOn Suroboyo. Saya sendiri mau mengambil laptop dan memasang BlankOn 9. 🙂

Era Monolitik

Era Monolitik

Sejujurnya, saya sedih melihat perkembangan GNU/Linux saat ini. SABDL mengumumkan bahwa Ubuntu akan pindah dari Upstart ke SystemD. Hal ini mengingat keputusan Debian yang memutuskan untuk pindah dari SystemV ke SystemD.

Bug#727708: init system other points, and conclusionWe seem to be at the point of the process where at least those of us who did early investigation are stating conclusions. I think I have enough information to state mine, so will attempt to do so here.
via Debian

Tulisan Russ Allbery memberikan pemaparan jelas mengenai alasan pemilihan ini. Dari tiga kandidat pengganti SystemV (OpenRC, Upstart, Systemd), SystemD menang di atas segalanya. Integrasi yang ketat dengan kernel Linux adalah salah satu alasannya.

Gentoo Forums :: View topic – The Politics of systemdepisode #299) was giving some of his reasons why having Debian choose to go with systemd was a good thing for Linux. Personally, I felt that all of the reasons he gave were pretty weak and did not require systemd (they included mainly cgroups & socket activation).
via Gentoo

Sebagai pengguna Gentoo dan pengguna sistem GNU/Linux yang lama, saya juga merasakan sentimen yang sama dengan pengguna Gentoo yang lain. SystemD memaksakan kehendak untuk menggantikan semua hal. Dalam beberapa tahun ini, akan ada banyak sistem yang takkan jalan tanpa SystemD.

Ini lebih kecenderungan politik dan sungguh bertentangan dengan falsafah UNIX. UNIX memperkenalkan disain yang modular. Ada lapisan-lapisan yang bekerja dengan lapisannya sendiri. Satu aplikasi berjalan untuk menunaikan tugas spesifik saja dan ia mengerjakan tugas tersebut dengan sangat baik.

Untuk mengerti falsafah ini, kita mesti mengerti politik divide et impera yang dianut VOC dulu. Saya dulu mengerti tentang falsafah ini ketika belajar Pemrograman Fungsional dengan matematika Lambda-nya. Waktu itu saya belajar Haskell.

Inti dari falsafah ini sebagai berikut: sebuah masalah dipecah-pecah menjadi banyak permasalahan yang kecil. Masalah yang kecil tersebut kemudian dipecah kembali. Hal ini dilakukan hingga unit terkecil masalah tersebut sudah mencapai titik yang dapat diselesaikan langsung.

Itu sebabnya, di dalam UNIX (dan sistem-sistem yang menirunya), ada banyak aplikasi perkakas kecil yang bisa membaca pipa aplikasi dan meneruskan keluarannya ke pipa perintah selanjutnya. Jadi, setiap aplikasi kecil tersebut saling terisolasi.

Fungsionalitas yang terisolasi ini membuat uji unit lebih mudah. Faktor ketergantungan pihak eksternal pun minim. Untuk mencari tahu kesalahan ada di mana, isolasi ini membuat kita bisa mendeteksi di mana letak kesalahan yang menyebabkan proses terhenti.

Tentu, zaman sudah berganti. Mungkin banyak orang yang sudah tak paham lagi tentang isolasi masalah. Mereka pikir sebuah aplikasi pada suatu lapisan harus tahu lapisan di atasnya atau di bawahnya.

Contohnya, saya melihat banyak orang yang melakukan optimasi jaringan bahkan sampai berusaha menggabungkan lapisan 3 dan 4, misalnya. Ini demi pengaplikasian jaringan paket berbasis konten. Kompleksitas pun bertambah.

Disain yang seperti ini akan rawan galat. Galat ini tak dapat ditelusuri dengan mudah karena banyak faktor yang mempengaruhi. Akhirnya, galat ini yang mungkin mendekatkan kita kepada Tuhan YME.

SystemD pun nampaknya akan menggantikan banyak hal. Ia telah menggantikan UDEV dan beberapa skrip non-init. BlankOn 9 Suroboyo pun sudah terkena dampaknya. Sudah lama terindikasi memang bahwa mau tak mau dunia harus mengadopsi SystemD!

Saya hanya memprediksi, seperti halnya Linus yang menyesali keputusannya membuat kernel monolitik, suatu saat perancang sistem GNU/Linux akan menyesali keputusan saat ini. SystemD akan berkembang menjadi bloated seperti Windows.

Disainnya yang monolitik hendak menggantikan banyak fungsi membuat ia menjadi kompleks. Separasi yang tidak jelas menjadikan disain menjadi amburadul. Sistem yang kompleks sungguh rawan ketergantungan antar komponen-komponennya sendiri.

Bila saatnya itu tiba, maka akan sulit rasanya mematikan sebuah fitur yang tak perlu. Bisa jadi fitur tersebut menjadi sebuah ketergantungan siklik dengan fungsi yang lain. Ah, malam ini panjang dan menyedihkan. 🙁

Met Valentin bagi yang merayakan.

Memasang NewGenLib, Sebuah ILS Lainnya
NewGenLib

Memasang NewGenLib, Sebuah ILS Lainnya

NewGenLib banyak juga disebutkan dalam referensi mencari sistem perpustakaan terintegrasi (ILS). ILS ini sepertinya dibuat untuk berjalan pada sistem operasi Windows. Hal ini membuat NextGenLib tidak begitu memperhatikan keamanan.

Banyak kode yang ditulis langsung (hardcoded) sehingga menyebabkan kustomisasi agak sulit. Berkas instalasi memasang ke banyak direktori di /usr. Sejujurnya, saya tidak ingin Anda membaca panduan instalasi perangkat ini di mana pun. Dari semua yang saya temui, tidak ada satu pun yang cukup aman.

Lalu mengapa saya tetap menulis ini? Karena ILS ini sangat menarik. Setelah mencobanya, saya melihat fitur-fitur yang baik. Selain itu, pemasangan cukup mudah dibandingkan ILS yang lain. Itu sebabnya, saya akan mencoba memasang NewGenLib seaman mungkin.

Kali ini saya menggunakan BlankOn Suroboyo.

Pasang Berkas-berkas yang Dibutuhkan

NextGenLib hanya membutuh Java dan PostgreSQL. Tomcat, SOLr, dan lainnya sudah terbundel.

$ sudo apt-get install openjdk-7-jdk postgresql postgresql-contrib

Saya juga memasang unzip untuk mengekstraksi berkas pasangan. (Opsional)

$ sudo apt-get install unzip

Buat Basisdata

Buat pengguna.

$ sudo -u postgres createuser ngl -P

Masukkan sandi Anda. Lalu, selanjutnya buat basisdata.

$ sudo -u postgres createdb ngldb -O ngl

Silakan Anda ganti ngl dan ngldb dengan penamaan yang sesuai selera.

Unduh Berkas Pemasangan

Unduh NewGenLib, ekstraksi, dan masuk ke direktori.

$ wget http://www.verussolutions.biz/downloadNGL.php -O InstallNGL3.0.zip
$ unzip InstallNGL3.0.zip
$ cd InstallNGL3.0

Selanjutnya saya akan membahas kustomisasi pemasangan.

Kustomisasi Berkas Konfigurasi Pemasangan

Ada dua yang saya hendak ubah:

  • apache-ant-1.8.1/bin/config.ini
  • Berkas-berkas yang berisi direktori data

Kedua berkas ini akan dibahas lebih lanjut.

Berkas config.ini

Berkas config.ini merupakan konfigurasi utama, berikut saya tulis seluruh isi berkas tersebut. Anda bisa gunakan penyunting favorit Anda, saya menggunakan cat saja.

$ cat > apache-ant-1.8.1/bin/config.ini << EOF
installation.directory=/opt/NGL3
ServerIPAddress=localhost
DatabasePort=5432
DefaultDatabase=ngldb
DatabaseUserName=ngl
DatabasePassword=passwd
source.location=/home/user/InstallNGL3.0
restore.database=blank
NewGenLib.Database=ngldb
NewGenLib.Database.UserName=ngl
NewGenLib.Database.Password=passwd123
VERUS.SUBSCRIPTION.ID=""
VERUS.VERIFICATION.CODE=""
EOF

Saya akan menaruh instalasi NextGenLib di /opt/ngl agar sesuai dengan FHS. Ganti lokasi kode sumber di tempat di mana Anda mengekstrasi kode sumber. Misalnya, /tmp/InstallNGL3.0. Yang lainnya berhubung dengan basisdata, pengguna basisdata, dan sandinya.

Sekali lagi, hanya untuk tutorial ini saja saya tulis sandinya passwd123. Anda harus menggunakan sandi yang aman untuk instalasi Anda! Jangan ikut menggunakan sandi yang aneh.

Berkas-berkas Pemasangan Direktori Data

Saya hendak mengganti pemasangan data NextGenLib dari /usr ke /srv/ngl agar lebih rapi. Untuk itu, saya perlu mengubah skrip Installation.xml agar sesuai dengan itu.

$ sed -i.bak "s/\/usr/\/srv\/ngl/g" apache-ant-1.8.1/bin/Installation.xml
$ sed -i.bak "s/\/usr/\/srv\/ngl/g" apache-ant-1.8.1/bin/apache-ant-1.8.1/bin/migration303.xml
$ sed -i.bak "s/\/usr/\/srv\/ngl/g" apache-ant-1.8.1/bin/migration303.xml 
$ sed -i.bak "s/\/usr/\/srv\/ngl/g" apache-ant-1.8.1/bin/Migration.xml
$ sed -i.bak "s/\/usr/\/srv\/ngl/g" upgrade303/migration303.xml

Demikian.

Menjalankan Pemasangan

Saatnya menjalankan pemasangan.

$ export JAVA_HOME=/usr/lib/jvm/java-1.7.0-openjdk-amd64
$ sudo ./Install.sh

Membetulkan Perizinan

Buat pengguna yang akan menjalankan NextGenLib.

$ sudo adduser ngl

Ya, saya memang kurang kreatif dalam memberi nama. Selanjutnya ubah letak direktori data:

$ sudo sed -i.bak "s/\/usr/\/srv\/ngl/g" /opt/NGL3/apache-tomcat-6.0.32/webapps/desktop/NewGenLibDesktopFiles/SystemFiles/Env_Var.txt
$ sudo sed -i.bak "s/\/usr/\/srv\/ngl/g" /opt/NGL3/apache-tomcat-6.0.32/webapps/desktop/NewGenLibDesktopFiles/SystemFiles/ENV_VAR.txt 
$ sudo sed -i.bak "s/\/usr/\/srv\/ngl/g" /opt/NGL3/apache-tomcat-6.0.32/webapps/desktop/Launch.jsp

Satu konfigurasi lagi:

$ sudo sed -i.bak "s/\/usr/\/srv\/ngl/g" /srv/ngl/NewGenLibFiles/SystemFiles/ENV_VAR.txt

Ubah perizinan:

$ sudo chown -R ngl:ngl /opt/NGL3 /srv/ngl
$ sudo chmod +x /opt/NGL3/apache-tomcat-6.0.32/bin/*.sh

Selanjutnya coba jalankan NextGenLib.

Menjalankan NextGenLib

Saya kebetulan menjalankan NextGenLib pada VirtualBox. Hal ini menyebabkan saya harus membuat port lain selain 8080. Kebetulan port tersebut digunakan oleh aplikasi lain. NextGenLib membaca port yang ada di klien sehingga port di sistem harus sama dengan port yang diteruskan.

Untuk itu, saya lakukan langkah opsional ini.

$ sudo -u ngl sed -i.bak "s/8080/18080/g" /srv/ngl/NewGenLibFiles/SystemFiles/ENV_VAR.txt
$ sudo -u ngl sed -i.bak "s/8080/18080/g" /opt/NGL3/apache-tomcat-6.0.32/conf/server.xml

Perintah tersebut mengganti seluruh port yang ada dari 8080 menjadi 18080.

Saya tidak berhasil menemukan konfigurasi yang membuat /usr/NextGenFiles sebagai pusat konfigurasi. Sepertinya dia menulis langsung di aplikasi langsung (hardcoded). Terpaksa sebagai jalan tengah dibuatkan tautan ke direktori tersebut.

$ sudo ln -sf /srv/ngl/NewGenLibFiles/ /usr

Untuk mengubah itu, perlu melakukan kompilasi. Ini menambah kompleksitas dan membuat NextGenLib tidak begitu seksi lagi. Apalagi ini untuk orang awam.

Untuk menguji apakah ini sudah jalan, silakan jalankan secara manual.

$ sudo -u ngl /opt/NGL3/apache-tomcat-6.0.32/bin/catalina.sh run

Kalau sudah bisa, silakan pergi ke peramban dan akses http://127.0.0.1:18080/newgenlibctxt/ untuk melihat OPAC.

NextGenLib OPAC

NextGenLib OPAC

Saya senang dengan fitur NextGenLib. Dia dapat menjalankan aplikasi klien dengan menggunakan Java. Karena pemasangannya tidak terlalu rumit seperti yang sudah-sudah, saya akan memberikan bonus: Dasbor.

Dasbor Klien

Untuk dapat mengakses dasbor klien, Anda dapat mengarahkan peramban Anda ke http://localhost:18080/newgenlibctxt/LaunchApplication untuk mendapatkan aplikasi  klien berbasis Java.

Awalnya Anda akan ditanyakan alamat peladen.

Java Client asking to select the host.

Java Client asking to select the host.

Saya memasukkan localhost karena memang berjalan di VirtualBox. Anda bisa masukkan alamat FQDN peladen Anda bila Anda memasang di sebuah mesin terdedikasi.

Ketika berhasil terhubung, aplikasi akan menanyakan pengguna dan sandi masuknya.

Java Client asking for login

Java Client asking for login

NewGenLib secara baku memulai dengan pengguna “1” dan bersandikan “abc“. Bilamana aplikasi tidak bisa masuk, kemungkinan ada perubahan data saat pemasangan. Saya juga awalnya tidak bisa masuk. Saya akali dengan mengganti sandi pengguna “1” dengan “test“. Caranya:

$ psql -d ngldb -h localhost -U ngl -c "update patron set user_password = md5('test');"

Ini SQL mengubah sandi semua pengguna di basisdata. Untungnya, baru ada satu pengguna di basisdata.

Kalau sudah bisa masuk, maka akan dibawa ke dasbor.

Java client dashboard

Java client dashboard

Saya akui, dasbor NewGenLib sangat baik dan cukup mudah untuk dilihat. Yang pasti, dengan bermodalkan pemrograman berbasis Java, kita dapat mengubah tampilan menjadi lebih baik.

Omong-omong, administrasi pun dapat diakses dari laman situs. Namun, klien Java menyediakan halaman yang lebih intuitif menurut sekilas pemandangan saya.

Yak, kira-kira begitulah.

Mencoba SLiMS Cendana 7

Mencoba SLiMS Cendana 7

SLiMS Open Source Library Management System (SLiMS) adalah sebuah manajemen koleksi perpustakaan daring. Selain keanggotaan, kode batang, dan pengaturan koleksi, SLiMS mendukung OPAC dengan pustaka Javascript terbaru. Sayangnya, dia hanya mendukung basisdata MySQL (MariaDB, Percona, dan sejenisnya), tetapi tidak PostgreSQL. Padahal, PostgreSQL lebih bagus dibandingkan dengan MySQL.

Kali ini menjelang pulang kantor saya akan memasang SLiMS dengan menggunakan sistem berbasis NGINX, PHP-FPM, dan MySQL. Ingat, kawan-kawan, ini adalah sebuah keisengan. Jangan lupa untuk riset lebih lanjut. Saya membangun sistem ini dari BlankOn 9 hasil debootstrap.

Memasang Hal-hal Dasar

Mari kita hal-hal dasar sebelum memasang Senayan

Memasang Sistem Dasar

Mari memasang aplikasi-aplikasi yang diperlukan.

$ sudo apt-get install nginx php5-fpm mysql-server php5-mysqlnd php5-gd

NGINX, PHP5-FPM, dan MySQL dipasang. Saya menggunakan MySQL Native Driver (MySQL ND) bukan libmysqlclient. Hal ini karena MySQL ND lebih efisien.(Andrea Usu, 2010) Tak lupa saya juga memasang PHP GD karena SLiMS menggunakannya untuk memroses gambar dan kode batang.

Membuat Basisdata

Lalu mari buat sebuah basisdata Senayan:

$ sudo mysql --defaults-file=/etc/mysql/debian.cnf

Debian menggunakan berkas konfigurasi untuk masuk sebagai administrator MySQL. Berkas konfigurasi ini tidak dapat diakses kecuali oleh root.

mysql> create database senayandb;
mysql> grant all privileges on senayandb.* to senayan@localhost identified by 'senayan123';
mysql> flush privileges;

Setelah itu, keluar dari klien PostgreSQL.

mysql> \q

Anda tentunya tidak akan menggunakan senayan, senayandb, dan “senayan123”, ‘kan? Anda tidak sebodoh itu, ‘kan? Gunakan nama yang lain yang lebih aman!

Memasang Senayan

Saatnya mengunduh Senayan:

$ wget http://slims.web.id/download/slims7-cendana-stable.tar.gz

Lalu memekarkan berkas tersebut:

$ tar xvfz slims7-cendana-stable.tar.gz

Entah mengapa seluruh berkas yang saya ekstraksi memiliki izin 755. Artinya, setiap berkas tersebut rawan untuk bisa dieksekusi. Sebelum diolah lebih lanjut, mari kita betulkan:

$ find slims7_cendana-slims7-cendana/ -type f -exec chmod 644 {} \;

Pindahkan ke /var/www dan buat menjadi milik www-data

$ sudo mv slims7_cendana-slims7-cendana /var/www
$ sudo chown -R 33:33 /var/www

Saatnya mengaktifkan NGINX. Buat konfigurasi situs. Saat ini saya membuat konfigurasi situs berdasarkan /etc/nginx/sites-available/default. Anda dapat mengutak-atik lebih lanjut.

$ cat >> slims < EOF
server {
    listen 80 default_server;
    listen [::]:80 default_server ipv6only=on;

    root /var/www;
    index index.html index.htm index.php;

    # Make site accessible from http://localhost/
    server_name localhost;

    location / {
        # First attempt to serve request as file, then
        # as directory, then fall back to displaying a 404.
        try_files $uri $uri/ =404;
        # Uncomment to enable naxsi on this location
        # include /etc/nginx/naxsi.rules
    }

    # pass the PHP scripts to FastCGI server listening on 127.0.0.1:9000
    #
    location ~ \.php$ {
        fastcgi_split_path_info ^(.+\.php)(/.+)$;
        # NOTE: You should have "cgi.fix_pathinfo = 0;" in php.ini

        # With php5-cgi alone:
        #fastcgi_pass 127.0.0.1:9000;
        # With php5-fpm:
        fastcgi_pass unix:/var/run/php5-fpm.sock;
        fastcgi_index index.php;
        include fastcgi_params;
    }

    # deny access to .htaccess files, if Apache's document root
    # concurs with nginx's one
    #
    location ~ /\.ht {
        deny all;
    }
}
EOF
$ sudo cp slims /etc/nginx/sites-available/slims
$ rm slims

Cara menyunting konfigurasi ini sebenarnya dapat dilakukan dengan mudah menggunakan penyunting favorit Anda (ViM, EMACS, pico, dll.)

$ sudo $EDITOR /etc/nginx/sites-available/slims

Isi dengan konfigurasi yang diwarnai merah. Perhatikan, ganti localhost dengan domain Anda yang benar.

Sekarang, saatnya mengaktifkan SLiMS dan menonaktifkan konfigurasi baku.

$ sudo rm -f /etc/nginx/sites-enabled/default
$ sudo ln -sf /etc/nginx/sites-available/slims /etc/nginx/sites-enabled/slims

Setelah itu, saatnya menyalakan ulang NGINX.

$ sudo invoke-rc.d nginx restart

Selesai. Selanjutnya tinggal mengarahkan peramban kepada situs kita.

Mengonfigurasi Situs

Kalau Anda telah selesai mengonfigurasi dengan benar, maka tampilan pertama dari SLiMS di peramban adalah laman pemasangan.

A Welcome screen for SLiMS setup.

01. A welcoming start for SLiMS setup.

Pilih "Let's Start The Installation" untuk lanjut. Maka pada laman berikutnya akan ditampilkan isian untuk mengonfigurasi.

Setup configuration for SLiMS

02. Setup configuration for SLiMS

Halaman kedua intinya untuk mengonfigurasi basisdata dan admin SLiMS. Contoh yang saya isi untuk isian tersebut:

Database Host localhost
Database Name senayandb
Database Username senayan
Database Password **********
Generate Sample Data Yes
Username pustakawan
Password *************
Retype Password *************

Saya memilih untuk memasang data contoh agar mendapatkan gambaran mengenai apa itu SLiMS. Nanti kalau sudah digunakan secara penuh, tentunya data contoh ini tak perlu dipasang. Bahkan, dapat dihapus begitu saja. Setelah mengisi itu semua, pilih "Continue" untuk lanjut ke halaman terakhir.

Setup completed

03. Setup completed

Halaman terakhir memberikan rekomendasi untuk menghapus direktori "install/". Namun sebelumnya, mari memulai SLiMS dengan memilih "OK, start the SLiMS". Maka, Anda akan dibawa ke laman depan SLiMS.

SLiMS frontpage

SLiMS frontpage

Seperti rekomendasi pemasang SLiMS, mari hapus direktori pemasangan dan juga membetulkan perizinan berkas yang ada.

$ sudo rm -rf /var/www/install
$ sudo chmod 644 /var/www/sysconfig.local.inc.php

Sampai sini proses konfigurasi awal berhasil. Anda sudah dapat berpuas diri dan berpesta ria. Selanjutnya adalah proses yang saya hendak lakukan di dalam SLiMS agar lebih bagus. Tapi, itu, 'kan, tergantung selera masing-masing.

Bacaan Lebih Lanjut

Daftar Pustaka

Andrea Usu (2010, August 3). Benchmark: libmysql vs mysqlnd. Retrieved Jan 16, 2014 from https://usu.li/benchmark-libmysql-vs-mysqlnd/.^
Tak Ada Rotan Akar Pun Jadi (debootstrap)

Tak Ada Rotan Akar Pun Jadi (debootstrap)

Sepertinya pada hari ini paket BlankOn Suroboyo tidak menyediakan paket debootstrap yang berisi BlankOn. Saya lihat di direktori bersangkutan (/usr/share/debootstrap/scripts/) hanya berisi skrip-skrip Debian dan Ubuntu.

Ya, sudah, berhubung saya mau memasang sistem baru, saya pun menggunakan trik berikut:

# apt-get install deboostrap
# cd /usr/share/debootstrap/scripts/
# ln -sf sid suroboyo

Jadi, deh, selanjutnya saya tinggal melangkah seperti biasa:

# deboostrap suroboyo /mnt http://kambing.ui.ac.id/blankon/

Semua ini dilakukan di Root Terminal yang disediakan oleh CD BlankOn Suroboyo Jahitan 2.

Oh, iya, mengapa saya nekat menggunakan skrip Debian? Karena BlankOn dibangun berdasarkan Debian.

Yak, sekarang lanjut pasang-pasang.

Bacaan Lebih Lanjut

Pemasangan Lanjutan Setelah kde-full

Pemasangan Lanjutan Setelah kde-full

KDE SC on BlankOn

KDE SC on BlankOn

Ternyata kde-full tidak memasang KDE sepenuhnya. Ada beberapa paket yang tidak dipasang. Berikut beberapa paket yang tidak wajib tapi tak bisa hidup tanpanya yang akan saya pasang.

Bahasa Indonesia

Kendati locales telah dikonfigurasi untuk ber-Bahasa Indonesia, namun KDE masih menggunakan bahasa Inggris. Untuk mengaktifkan Bahasa Indonesia:

$ sudo apt-get install task-indonesian-kde-desktop

Mengapa repot Bahasa Indonesia? Kalau bukan orang Indonesia, siapa yang akan memakai bahasa persatuan ini?

Pemaket

Kalau suka dengan apt-get, silakan saja. Tapi, sekali-sekali mata ingin dimanjakan dengan GUI. Maka, pasang untuk GUI:

$ sudo apt-get install kdesudo apper

Aplikasi apper adalah nama lain dari kpackagekit. Saya tak tahu kapan ia berubah nama.

Terminal

Yakuake adalah terminal terbaik.

$ sudo apt-get install yakuake

Terminal tanpa Yakuake itu seperti sayur tanpa garam. Bisa dimakan tapi hambar. Pokoknya Yakuake itu keren.

Debootstrap BlankOn 9 Suroboyo

Debootstrap BlankOn 9 Suroboyo

Saya rasa sudah saatnya saya menjalankan ritual untuk setiap distro yang ada di Kambing: Debootstrap! Mengapa saya bisa? Karena pelayannya ada di ruang sebelah. Tapi, kalau Anda bukan fakir pita jaringan, Anda bisa juga, kok. Apalagi BlankOn itu tidak matre.

Diasumsikan Anda sudah membuat partisi dengan GParted/FDisk atau apa pun. Saya anggap partisinya sudah jadi. Saya menggunakan ISO DVD BlankOn Suroboyo Jahitan 1 sebagai sistem operasi utama. Di DVD itu tersedia juga GParted. Saya menjalankan semua ini di VirtualBox, aplikasi penyedia mesin maya yang gratis dan murah meriah.

Persiapan

Buka Root Terminal supaya tidak usah susah payah menggunakan sudo. Pertama-tama pasang debootstrap pada BlankOn Live yang sedang dipakai:

# apt-get install debootstrap

Lalu, pasang direktori utama yang akan dipasang sistem:

# mount /dev/sda1 /mnt

Jalankan Debootstrap Seperti Biasa (Termasuk Kesalahannya)

Setelah itu, jalankan debootstrap:

# debootstrap suroboyo /mnt http://kambing.ui.ac.id/blankon/

Yak, seperti sebelumnya, selalu ada galat seperti ini:

E: Couldn't download packages: libdb5.1

Setelah saya periksa, sepertinya satu direktori berikut tidak di-rsync oleh Kambing:

http://kambing.ui.ac.id/blankon/pool/d/db/

Ya, sudah, pindahkan repositori ke situs BlankOn yang utama:

# debootstrap suroboyo /mnt http://arsip.blankonlinux.or.id/blankon/

Hmm… ingatkan saya untuk periksa skrip sedot. Ha… ha… ha….

Pasang Sistem-sistem Berkas yang Perlu

Pasangkanlah:

# mount -o bind /dev /mnt/dev
# mount -t proc none /mnt/proc
# mount -t sysfs none /mnt/sys
# mount -t devpts none /mnt/dev/pts

Masuk ke dalam sistem BlankOn:

# chroot /mnt /bin/bash

Konfigurasi Sistem Dasar

Ada beberapa konfigurasi berkas.

Pasang Berkas sources.list

Berkas ini berisi repositori yang akan dipakai oleh BlankOn untuk memasang perangkat lunak.

Kata Om Larry Wall, kemalasan adalah sebuah kebijaksanaan. Maka, berbeda dengan tulisan terdahulu, saya gunakan versi yang sudah jadi. Selain itu, saya ganti dari repositori utama ke KAMBING. Saya pilih KAMBING karena fisiknya ada di ruang sebelah, buat saya lebih cepat.

# wget http://dev.blankonlinux.or.id/export/current%3A/suroboyo/blankon-repository-setup/sources.list -O- | sed 's/arsip.blankonlinux.or/kambing.ui.ac/' > /etc/apt/sources.list

Sekalian saja diperbaharui sistem ini:

# apt-get update && apt-get dist-upgrade

Beres.

Pasang Berkas fstab

Saya berniat memasang systemd. Seperti pada temuan saya yang lalu, maka perlu menaruh sistem berkas utama ke fstab. Kebetulan saya hanya ada satu partisi saja (/dev/sda1). Jadi, saya pasanglah itu ke fstab:

# cat /proc/mounts | grep sda1 > /etc/fstab

Beres.

Pasang Yang Penting-penting

Ada beberapa yang penting seperti penyunting, sudo, dan lain sebagainya.

# apt-get install vim sudo e2fsprogs

Tambahkan reiserfsprogs dan *progs lainnya untuk sistem berkas kesukaan Anda. Perkakas-perkakas ini diperlukan untuk memanipulasi sistem berkas Anda.

Konfigurasi Waktu dan Lokalitas

Ubah zona waktu.

# dpkg-reconfigure tzdata

Ubah lokalitas menjadi Bahasa Indonesia. Pilih id-ID.UTF8 saja!

# apt-get install locales && dpkg-reconfigure locales

Tambahkan Pengguna Utama

# adduser jp

Tambahkan ke grup sudo agar bisa jadi admin:

# adduser jp sudo

Pasang Kernel

Terakhir pasang kernel. Saat penulisan, di repositori kernel Linux terbaru versi 3.10-3. Ya, saya pasang itu saja:

# apt-get install linux-image-3.10-3-amd64

Pasang Bootloader

Pasang GRUB2:

# apt-get install grub2

Beres. Sampai sini sudah sistem dasar, berikutnya adalah terserah saya.

.—::: TAMAT :::—.

Tambahan 0: Pasang Penggerak VirtualBox

Kebetulan BlankOn saya berjalan di VirtualBox. Saya perlu memasang penggerak untuk VirtualBox:

# apt-get install virtualbox-guest-x11

Beres.

Tambahan 1: Pasang KDE SC

Kali ini saya mau iseng memasang KDE SC sebagai destop saya. Saya senang KDE SC.

# apt-get install kde-full

Peringatan dari saya:

0 upgraded, 1125 newly installed, 0 to remove and 0 not upgraded.
Need to get 944 MB of archives.
After this operation, 2518 MB of additional disk space will be used.

Ya, kalau memang kuat, silakan saja lanjut.

Di masa jeda pemasangan ini, Apakah Anda sudah menyapa anak dan istri Anda? Ataukah sudah Anda sungkeman ke orang tua Anda? Hari ini cerah, loh, silakan keluar sebentar main layang-layang.

Eh, sudah tak bisa lagi? Ya, sudah, silakan menatap proses pemasangan.

Integrasi LDAP dengan PAM pada GNU/Linux BlankOn Suroboyo

Integrasi LDAP dengan PAM pada GNU/Linux BlankOn Suroboyo

ldap

Sangkalan: BlankOn Suroboyo saat penulisan masih dijahit sehingga tidak cocok untuk konsumsi rakyat jelata. Tulisan ini hanya untuk heker terutama admin universitas yang mengelola komputer Lab dan punya akses ke LDAP.

Saya senang karena sudah menonton Azrax dan sudah menang DoTA 2. Untuk merayakannya, saya ingin menyambungkan BlankOn Suroboyo Jahitan 1 (+pembaharuan) saya dengan LDAP universitas.

Langkah Sebelumnya

Pastikan pelayan LDAP telah menyala dan berfungsi. Untuk menjaga keamanan, sebaiknya LDAP disambungkan dengan koneksi TLS (port 636) bukan yang biasa (port 389). Untuk terhubung, ada dua cara, yakni menggunakan STunnel ke port 636 dan mengarahkan ke localhost:389, atau langsung terhubung ke pelayan LDAP.

Cara STunnel dilakukan karena biasanya GNUTLS (pustaka enkripsi selain OpenSSL) bermasalah dengan sertifikat yang-ditandatangani-sendiri (self-signed). Tapi, saya menghindari cara tersebut karena kurang jantan. Saya mau menyusahkan diri untuk bisa menemukan jalan keluarnya.

Langkah 1: Pasang Paket Autentikasi LDAP

Pasang langsung:

$ sudo apt-get install libpam-ldapd

Selesai.

Kok, gampang? Mana NSS dan bla… bla… bla…?

Iya, soalnya libpam-ldapd adalah paket yang terbaru menggantikan libpam-ldap.

Langkah 2: Ubah Konfigurasi

Ada beberapa konfigurasi yang harus diubah.

Langkah 2a: Konfigurasi NSLCD

Layanan libpam-ldapd yang baru menggunakan layanan nslcd sebagai pelayan autentikasi LDAP. Untuk itu, ubah konfigurasinya:

$ sudo $EDITOR /etc/nslcd

Yang pertama, ubah URL berikut:

uri ldap://127.0.0.1/

menjadi IP pelayan LDAP Anda.

Yang kedua, Ubah DN dasar pada baris berikut:

base dc=example,dc=com

menjadi DN dasar LDAP Anda.

Jika Anda menggunakan skema LDAPS (seperti yang saya sebutkan sebelumnya) dan pelayan server Anda menggunakan sertifikat sendiri, maka harus diubah agar NSLCD tidak meminta sertifikat yang valid. Pastikan baris berikut diaktifkan:

tls_reqcert never

Selesai.

Langkah 2b: Mengubah  nsswitch.conf

Mengubah layanan yang terdaftar di NSS agar menggunakan LDAP:

$  sudo vi /etc/nsswitch.conf

Ubah layanan passwd, group, dan shadow menjadi:

passwd: files ldap
group: files ldap
shadow: files ldap

Awalnya menggunakan compat, tapi lebih baik menggunakan files baru ldap menurut dokumentasi libpam-ldapd. Omong-omong, setiap baris itu artinya layanan passwd misalnya akan memeriksa ke berkas (/etc/passwd) terlebih dahulu sebelum ke LDAP. Anda bisa buat sebaliknya kalau mau.

Langkah 2c: Tambahkan Baris Sesi

Tambahkan satu baris untuk membuat direktori rumah bila belum ada.

$ echo "session     required      pam_mkhomedir.so skel=/etc/skel umask=0022" | sudo tee -a  /etc/pam.d/common-session

Baris ini akan menyebabkan pengguna yang login bila direktori rumahnya belum ada akan dibuat otomatis.

Langkah 3: Uji Coba

Anda tentunya tidak akan nekat langsung menjalankan LDAP, ‘kan?

Matikan layanan NSCD dan NSLCD:

$ sudo /etc/init.d/nscd stop
$ sudo /etc/init.d/nslcd stop

Lalu jalankan manual NSLCD dengan mengaktifkan debugging:

$ sudo nslcd -d

Lalu, pindah ke terminal lain untuk mencoba login sebagai pengguna LDAP.

Kalau misalnya berhasil dan tidak ada masalah, berhentikan NSLCD dan nyalakan kembali kedua layanan tersebut.

$ sudo /etc/init.d/nslcd start
$ sudo /etc/init.d/nscd start

Selesai.

Langkah 4: Ubah Penyambut LightDM

BlankOn menggunakan tematik Manokwari. Sangat indah memang, namun sayangnya tidak bisa digunakan untuk LDAP.

Hal ini karena pengguna LDAP belum ada di sistem saat ia pertama kali masuk. Padahal, penyambut BlankOn hanya menampilkan ikon pengguna yang sudah ada. Untuk itu, dengan sangat terpaksa penyambut diubah menjadi penyambut baku dari Debian.

$ sudo apt-get install lightdm-gtk-greeter

Lalu, ubah berkas berikut:

$ sudo $EDITOR /etc/lightdm/lightdm.conf

Ubah baris berikut:

greeter-session=lightdm-webkit-greeter

menjadi:

greeter-session=lightdm-gtk-greeter

Tinggal mengulang LightDM.

Langkah 5: Jalankan Sistem dengan LDAP

Lebih baik jalankan ulang mesin Anda untuk mencoba sebenarnya dan lihat hasilnya.

Tulisan ini akan diperbaharui dari waktu ke waktu bila memungkinkan.

Daftar Pustaka

Arthur de Jong ([NO YEAR], [NO MONTH] [NO DAY]). LDAP authentication with nss-pam-ldapd Retrieved Sept. 25, 2013 from Arthur de Jong: http://arthurdejong.org/nss-pam-ldapd/setup.
Debian WIKI Team (2012, Oct. 16). Configuring LDAP Authentication Retrieved Sept. 25, 2013 from Debian WIKI Team: https://wiki.debian.org/LDAP/PAM.
Zoke (2011, Nov. 5). How to change the LightDM theme/greeter?. Ask Ubuntu. Retrieved Sept. 25, 2013 from Ask Ubuntu: http://askubuntu.com/questions/75755/how-to-change-the-lightdm-theme-greeter.
Blankon 9 Jahitan 1: Infinality

Blankon 9 Jahitan 1: Infinality

Bagi saya huruf di BlankOn terlihat kabur (blurry) pada monitor saya (1600×900) Mungkin ada konfigurasi yang perlu diperbaiki. Mungkin ada paket yang perlu ditambahkan. Mungkin perlu banyak berdoa.

Untuk solusi grafik lebih jelas, Apple memberikan solusi dengan menambah resolusi dan menamainya Retina display. Sayangnya, monitor saya tidak sebagus itu. Dengan resolusi terbatas, saya pun berusaha membuat tulisan yang jelas, kriuk, dan indah.

Memasang Konfigurasi Fontconfig Infinality

Cara yang pertama adalah dengan memasang sekumpulan konfigurasi yang dibuat dengan konfigurasi Infinality. Ini seperti yang dikemukakan oleh WebUpd8:

echo "deb http://ppa.launchpad.net/no1wantdthisname/ppa/ubuntu raring main" | sudo tee /etc/apt/sources.list.d/infinality.list
echo "deb-src http://ppa.launchpad.net/no1wantdthisname/ppa/ubuntu raring main" | sudo tee -a /etc/apt/sources.list.d/infinality.list
sudo apt-key adv --keyserver keyserver.ubuntu.com --recv-keys E985B27B
sudo apt-get update

Lalu pasang paket konfigurasi Infinality.

sudo apt-get install fontconfig-infinality

Saya mengikuti konfigurasi di komputer kerja saya (Gentoo) dengan memasang konfigurasi gaya infinality, Anda bisa pilih yang lain dengan membaca artikel. Berikut cara saya mengganti konfigurasi:

sudo bash /etc/fonts/infinality/infctl.sh setstyle infinality

Anda dapat mengganti gaya infinality dengan gaya-gaya berikut:

debug infinality linux osx osx2 win7 win98 winxp

Sampai di sini Anda bisa lihat perubahan, atau lebih afdol kalau keluar dari destop dan masuk kembali.

Memasang Freetype yang sudah ditambal

Anda bisa mengikuti cara di bawah ini sebagai bahan pembelajaran membangun paket Debian. Atau, silakan unduh paket yang sudah jadi pada http://kambing.ui.ac.id/jp/infinality/ dan pasang sendiri paket libfreetype6_2.4.12-0ubuntu0ppa1_amd64.deb.

Untuk tingkat lanjut, saatnya memasang Freetype yang ditambal dengan tambalan Infinality. Versi yang tersedia di repositori adalah untuk Ubuntu Raring. Untuk itu, saya sarankan  paket Freetype tersebut dikompilasi ulang khusus untuk BlankOn.

Pertama-tama persiapkan tempat untuk membangun paket:

mkdir -p ~/Bangun/DEB && cd ~/Bangun/DEB

Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah Freetype yang dibentuk sebenarnya ditujukan kepada Ubuntu Raring (raring). Pada saat penulisan, Freetype yang ada di repositori versi 2.4.12, sedangkan BlankOn Suroboyo (suroboyo) versi 2.4.9.  Untuk itu, perlu diset versi yang akan dipasang adalah versi raring. Anda dapat menggunakan APT Policy atau gunakan cara jantan seperti saya. Ha… ha… ha….

Pasang paket-paket pengembangan yang diperlukan:

sudo apt-get build-dep -t raring libfreetype6

Setelah memasang paket-paket tersebut, unduh paket yang diperlukan:

apt-get source -t raring libfreetype6

Menambahkan parameter “-b” akan otomatis membangun paket kode sumber yang akan diunduh menjadi paket Debian. Namun, Anda tentunya mau jantan bukan? Tidak perlu menambahkan hal tersebut. Kita harus bangun sendiri paketnya.

Masuk ke dalam direktori kode sumber Freetype yang telah dipasang oleh apt-get:

cd freetype-2.4.12

Di dalam direktori tersebut, tanyakan paket apa saja yang diperlukan untuk membangun paket Debian.

dpkg-checkbuilddeps

BlankOn yang saya pasang membutuhkan paket-paket berikut ini:

sudo apt-get install docbook-to-man libx11-dev x11proto-core-dev libz-dev quilt

Lalu bangun paket Freetype:

dpkg-buildpackage

Ah, setelah saya lihat-lihat, ini juga gampang. Duh, ternyata sekarang Debian tidak sesulit dulu dalam membangun paket. Eh, iya, intinya ada tiga berkas berikut yang tersedia di atas direktori Freetype:

freetype2-demos_2.4.12-0ubuntu0ppa1_amd64.deb libfreetype6_2.4.12-0ubuntu0ppa1_amd64.deb libfreetype6-dev_2.4.12-0ubuntu0ppa1_amd64.deb

Tinggal dipasang saja:

sudo dpkg -i ../libfreetype6_2.4.12-0ubuntu0ppa1_amd64.deb

Dan muat ulang destop. Seharusnya ada perubahan.

BlankOn 9 Jahitan 1: Pemanis

BlankOn 9 Jahitan 1: Pemanis

PERHATIAN: BlankOn 9 Jahitan 1 masih dalam proses pemasakan, belum matang. Bagi yang perutnya tidak kuat makan agak mentah, jangan coba-coba. Ini buat para pecinta alam yang sudah biasa hidup di alam liar.

Tulisan kali ini adalah menambah hal-hal yang tidak penting, sekedar menambah beban kepada CPU, dan iseng-iseng berhadiah. Tujuannya? Karena saya bisa!

Pintasan Desktop

Biasanya orang suka menaruh aplikasi dan dokumen di desktop. Saya, sih, tidak suka cara kerja itu. Sudah ada Synapse yang memanjakan pencarian. Terus, mengapa saya melakukan ini? Karena saya bisa!

Tambah Pintasan ke desktop pada Manokwari.

Gambar1: Tambah Pintasan ke desktop pada Manokwari.

Contoh paling gampang adalah dengan menambahkan aplikasi yang sudah ada di menu BlankOn ke desktop. Misalnya, saya mau menambah Chromium. Caranya:

  1. Klik pada Aplikasi (blankon)
  2. Klik pada Internet
  3. Klik kanan pada Peramban Web Chromium nanti muncul seperti Gambar 1.
  4. Klik pada Tambahkan ke Destop

Apakah memang desktop dinaturalisasi menjadi destop pada Bahasa Indonesia?

Conky

BlankOn Suroboyo dengan gambar latar Tugu Pahlawan dan Conky

Gambar 2: BlankOn Suroboyo dengan gambar latar Tugu Pahlawan dan Conky

Conky adalah GKrellM versi modern. Aplikasi ini menyediakan informasi di desktop. Informasinya bisa apa saja, tapi yang paling lazim adalah info perangkat keras, jam, dan pengatur aplikasi musik. Setiap tampilan data yang dibuat Conky bisa diberi tema. Saya kurang berbakat untuk itu. Untung ada satu orang kurang kerjaan yang mengumpulkan itu semua pada satu situs. Saya pun menjadi malas dan mengunduh tematik yang ada. Saya memilih Infinity Conky. Berikut cara pasang saya.
sudo apt-get install conky-all
Unduh dan pasang konfigurasi Infinity Conky:
cd ~ && wget -O infinity-noobslab-eth1.zip http://goo.gl/ZiFbd  
unzip infinity-noobslab-eth1.zip && rm infinity-noobslab-eth1.zip
Kebetulan saya memakai Ethernet, kalau misalnya mau memasang yang versi nirkabel buat laptop:
cd ~ && wget -O infinity-noobslab-wlan1.zip http://goo.gl/qkIWg
unzip infinity-noobslab-wlan1.zip && rm infinity-noobslab-wlan1.zip
Buat berkas pintasan Conky agar setiap kali masuk ke desktop, Conky berjalan. Anda bisa menggunakan GEdit atau ViM, tapi cara hekernya begini:
cat > ~/.config/autostart/conky.desktop << EOF
[Desktop Entry]
Name=Conky
Exec=conky -d
Encoding=UTF-8
Type=Application
X-GNOME-Autostart-enabled=true
Icon=/usr/share/pixmaps/debian-logo.png
GenericName[id_ID.UTF-8]=Conky bikin destop yang bikin ngiler! xD
EOF
Berkas pintasan itu biasanya berekstensi .desktop kalau pada GNU/Linux — sesuai dengan standar XDG. Setiap Manajer Desktop seperti GNOME atau KDE yang mengikuti standarisasi XDG akan menjalankan semua pintasan yang ada pada direktori $HOME/.config/autostart setiap kali ia mulai. Mirip direktori Startup pada Windoze.

Plymouth

Hal terakhir yang tidak berguna adalah memasang tempelan yang bisa “muter-muter ketika sedang boot”. Sebenarnya BlankOn Suroboyo cukup cepat, namun tetap saja ada orang yang tak suka lihat teks-teks jalan. Ya, sudah, ini saya perkenalkan sebuah bootsplash yang bisa muter-muterin gambar. Kalau Anda menggunakan penggerak nouveau (nVIDIA yang versi FOSS), ati, atau intel yang sudah ada di MESA, langsung lanjut saja. Kalau tidak, sebelumnya silakan mampir di sini untuk melihat panduan memasang vesafb (Framebufer generik untuk VESA). Cukup mudah sebenarnya. Sekarang saatnya pasang Plymouth:
sudo apt-get install plymouth plymouth-theme-blankon
Untuk memilih tematik BlankOn, ketik:
sudo /usr/sbin/plymouth-set-default-theme blankon
Kalau tidak suka atau bosan, Anda bisa lihat tematik yang lain:
/usr/sbin/plymouth-set-default-theme --list
Kalau saya, saya membuat sendiri tematik berdasarkan ambil-ambil barang di Internet dan menyatukannya secara ngasal tanpa memperhatikan hak cipta dan merek dagang (Pak Rus kayaknya bakal maklum, deh) dengan menamainya blankon-spinner.  Saya membuatnya dari Azenis Plymouth. Setiap kali mengganti tematik Plymouth, jangan lupa untuk memperbaharui initramfs.
sudo update-initramfs -u
Dan sudah siap ketika komputer dinyalakan ulang. Kira-kira itu saja yang saya tahu paket-paket yang tidak berguna cuma sekedar buat pamer. Apa lagi, yah, aplikasi yang buat berat-beratin komputer?
BlankOn 9 Jahitan 1: GNOME 3 dan systemd

BlankOn 9 Jahitan 1: GNOME 3 dan systemd

PERHATIAN: BlankOn 9 Jahitan 1 masih taraf pengembangan. Sebagai seorang heker ayam, saya cuma mau iseng saja menunggu sampai rilis. Syukur-syukur kalau tulisan ini membantu banyak orang. Tulisan ini dari heker ayam untuk para heker-heker lainnya, tidak cocok untuk nubitol. 🙂

Menurut tiket #1309, zona waktu tidak juga berubah. Saya sudah menyebutkan cara mengubahnya di tulisan saya sebelum ini. Ternyata isu tersebut masih saja ada. Darah heker ayam saya memuncak dan mulai mengais ke dalam. Dari kemarin saya tidak bisa konsentrasi bermain DoTA 2 dan rasanya tidak mau makan (yang terakhir bercanda).

Saya lihat BlankOn 9 menggunakan GNOME 3.8.3 dan ternyata menurut forum ArkLinux, GNOME 3 terintegrasi kuat dengan Systemd. Fungsi jam memanggil API DBUS systemd untuk mengubah waktu sistem. Celakanya, BlankOn masih menggunakan Sysvinit seperti Debian bapaknya. Itu sebabnya, fungsi tanggal di BlankOn 9 tidak bisa digunakan.

[Sistem init sysvinit, systemd, dan upstart adalah manajemen layanan GNU/Linux. Mereka yang berfungsi menyalakan setiap layanan yang ada. Fungsi yang terbaru bahkan mereka bisa menyalakan layanan-layanan yang lain yang harus menyala sebelum menyalakan sebuah layanan (dependency-based service).]

Saya sangat menyayangkan sikap GNOME yang melawan falsafah UNIX. Keterikatan kepada satu sistem init ini berakibat kepada sistem lainnya tidak berfungsi. Seharusnya, diciptakan shim yang mengabstraksi setiap implementasi sistem. Karena kediktatoran ini, untuk mendapatkan pengalaman penuh menggunakan GNOME 3, setiap distribusi diberi pilihan:

  1. Pindah sepenuhnya menggunakan systemd.
  2. Jangan gunakan GNOME 3 dan ganti ke pengatur destop lain.
  3. Tambal GNOME 3 agar menggunakan API yang benar.
  4. Berdoa agar dibukakan pintu tobat bagi para pengembang GNOME sehingga mereka kembali waras.

Saya memilih untuk pindah ke systemd karena saya digambarkan sebagai Sheldon Cooper, pemalas dan pragmatis.

Memasang systemd

Untuk dapat memasang systemd, saya memasang paket-paket yang diperlukan. Saya terkejut ternyata BlankOn sudah memasang systemd di sistem! Hanya saja, mereka hanya dipasang sebagai ketergantungan paket saja. Jadi, saya hanya perlu memasang sedikit.

Memasang Pengatur Grafikal systemd

Pengatur grafikal systemd dapat dipasang dengan:

apt-get install systemd-ui

Memasang Penuh systemd

Saya memasang paket-paket berikut:

  • dh-systemd (1.7)
  • live-config-systemd (3.0.23-1)
  • systemd-sysv (44-12)

Mencabut paket ESENSIAL berikut:

  • sysvinit

Mencabut paket-paket berikut:

  • blankon-live-config
  • live-config
  • live-config-sysvinit

Paket dh-systemd digunakan untuk para pengembang yang mau memindahkan layanan mereka dari format sysvinit ke systemd. Saya memasang hanya untuk berjaga-jaga saja.

Yang diperlukan adalah systemd-sysv yang membuat tautan (symlink) dari /bin/systemd ke /bin/init dan menyediakan fungsi-fungsi shutdown,  Hal ini membuat paket tersebut tidak kompatibel dengan sysvinit. Saat ini sysvinit masih dianggap paket esensial Debian. Artinya, kehilangan paket tersebut dapat menyebabkan kerusakan sistem bila diutak-atik sembarangan.

Paket live-config-systemd saya pasang karena live-config-sysvinit terpasang. Kata manual,sih, dia berisi skrip-skrip yang mengonfigurasi layanan pada sistem.Pasang sajalah.

Jadi, saya memasang seperti ini:

sudo apt-get install dh-systemd live-config-systemd systemd-sysv

Saya mengerjakan ini dengan memasang di Manajer Paket Synaptic.

Memasang Kembali Paket yang Terbuang

Jadi ceritanya paket blankon-live-config membutuhkan paket maya live-config yang terbuang karena sysvinit-live-config terbuang. Ya, berhubung systemd-live-config sudah dipasang, maka paket maya sudah bisa dipasang kembali. Alas, kita pun bisa memasang kembali blankon-live-config.

sudo apt-get install live-config blankon-live-config

Dan paket-paket yang penting sudah selesai.

Pastikan FSTAB Berisi Partisi Utama

Ketika saya memasang skrip-skrip di atas, saya kelimpungan karena sistem saya tidak bisa berjalan. Sistem bisa menyala, tapi tidak bisa masuk ke dalam grafikal. Hanya ada layar kosong hitam. Berhubung saya menggunakan VirtualBox, saya tidak bisa pindah ke terminal teks.

Ketika saya masuk ke Mode Pemulihan, saya menemukan bahwa partisi utama saya (root directory) masih dipasang hanya-baca. Artinya, systemd belum memasang ulang baca-tulis partisi tersebut. Solusinya? Tambahkan partisi utama ke dalam FSTAB.

Pertama, pasang ulang agar bisa baca-tulis

mount -o remount,rw /

Setelah itu, cari entri di /proc/mounts partisi utama. Misalnya punya saya:

# cat /proc/mounts
sysfs /sys sysfs rw,nosuid,nodev,noexec,relatime 0 0
proc /proc proc rw,nosuid,nodev,noexec,relatime 0 0
udev /dev devtmpfs rw,relatime,size=10240k,nr_inodes=255484,mode=755 0 0
devpts /dev/pts devpts rw,nosuid,noexec,relatime,gid=5,mode=620,ptmxmode=000 0 0
tmpfs /run tmpfs rw,nosuid,relatime,size=412156k,mode=755 0 0
/dev/disk/by-uuid/2acd3ce0-5e0a-4cb0-82ac-351d92af5a31 / ext4 rw,relatime,data=ordered 0 0
tmpfs /dev/shm tmpfs rw,nosuid,nodev,relatime 0 0
tmpfs /sys/fs/cgroup tmpfs rw,nosuid,nodev,noexec,relatime,mode=755 0 0
cgroup /sys/fs/cgroup/systemd cgroup rw,nosuid,nodev,noexec,relatime,release_agent=/lib/systemd/systemd-cgroups-agent,name=systemd 0 0
cgroup /sys/fs/cgroup/cpuset cgroup rw,nosuid,nodev,noexec,relatime,cpuset 0 0
cgroup /sys/fs/cgroup/cpu,cpuacct cgroup rw,nosuid,nodev,noexec,relatime,cpuacct,cpu 0 0
cgroup /sys/fs/cgroup/devices cgroup rw,nosuid,nodev,noexec,relatime,devices 0 0
cgroup /sys/fs/cgroup/freezer cgroup rw,nosuid,nodev,noexec,relatime,freezer 0 0
cgroup /sys/fs/cgroup/net_cls cgroup rw,nosuid,nodev,noexec,relatime,net_cls 0 0
cgroup /sys/fs/cgroup/blkio cgroup rw,nosuid,nodev,noexec,relatime,blkio 0 0
cgroup /sys/fs/cgroup/perf_event cgroup rw,nosuid,nodev,noexec,relatime,perf_event 0 0
systemd-1 /proc/sys/fs/binfmt_misc autofs rw,relatime,fd=23,pgrp=1,timeout=300,minproto=5,maxproto=5,direct 0 0
securityfs /sys/kernel/security securityfs rw,relatime 0 0
debugfs /sys/kernel/debug debugfs rw,relatime 0 0
tmpfs /run/user tmpfs rw,nosuid,nodev,noexec,relatime,size=102400k,mode=755 0 0
tmpfs /run/lock tmpfs rw,nosuid,nodev,noexec,relatime,size=5120k 0 0
hugetlbfs /dev/hugepages hugetlbfs rw,relatime 0 0
mqueue /dev/mqueue mqueue rw,relatime 0 0
fusectl /sys/fs/fuse/connections fusectl rw,relatime 0 0
none /media/sf_Musik vboxsf rw,nodev,relatime 0 0

Perhatikan yang saya cetak tebal. Anda dapat menulis manual dengan cari tahu apakah itu sebenarnya bernama /dev/sda1 atau yang lainnya.Kalau saya, kebetulan hanya itu yang bertipe EXT4, saya masukkan dengan cara heker:

# cat /proc/mounts | grep ext4 >> /etc/fstab

Yak, artinya baca isi /proc/mounts, kemudian saring baris yang berisi “ext4” dan tambahkan baris tersebut ke berkas /etc/fstab. Mudah, bukan?

Pertimbangan Terakhir Sebelum Pindah

SYSVINIT berbeda dengan SYSTEMD!

Kalau sysvinit membuat layanan di /etc/init.d dan dijalankan melalui rc.N: N menyatakan runlevel (biasanya dari 0 sampai dengan 7). Sedangkan systemd melihat layanan yang ada di /lib/systemd dan /usr/lib/systemd. Jangan lupa, keduanya memiliki format berkas layanan yang berbeda.

Anda bisa cari tahu tentang perbedaan keduanya lebih lanjut di Internet. Yang pasti, ketika kita pindah ke SYSTEMD, artinya setiap skrip yang dibuat menggunakan SYSVINIT tidak akan berjalan lagi!

Pastikan sistem Anda sudah kompatibel dengan systemd. Kebetulan saya memasang dari awal, jadi setiap layanan dipasang oleh Debian dengan format SYSVINIT dan SYSTEMD. Dari awal sudah cocok. Namun, buat Anda yang membuat aplikasi sendiri atau memasang dari paket lain harus memperhatikan skrip layanan yang hendak dipasang juga memuat skrip layanan berformat SYSTEMD.

Intinya, kalau paket Debian, sih, seharusnya kompatibel.

BlankOn 9 Jahitan 1: Isu Chromium

BlankOn 9 Jahitan 1: Isu Chromium

Setelah saya seldiki lebih lanjut, ternyata Chromium masih menunjukkan isu yang sama: Tidak responsif mengakses Chrome Store. Ketika dijalankan di terminal, terlihat ada pesan berikut:

OpenGL Warning: glXChooseFBConfig returning NULL, due to attrib=0x2, next=0x20

Nampaknya, VirtualBox Guest Addition tidak memiliki ekstensi OpenGL tersebut. Saya belum menyelidiki lebih lanjut, namun solusi sementara adalah mematikan OpenGL untuk menggambar laman di Chromium. Caranya dengan menjalankan Chromium dengan perintah berikut:

chromium-browser --disable-accelerated-compositing

Dan semua laman pun menjadi normal. Semua, kecuali laman yang memuat WebGL. Yah, nasib karena menggunakan virtualisasi.

BlankOn 9 Jahitan 1: Menambah yang Penting

BlankOn 9 Jahitan 1: Menambah yang Penting

Sekali lagi saya ingatkan bahwa BlankOn 9 Jahitan 1 belum mencapai tahap final. Saya pikir mereka masih akan terus berkembang. Tapi, sebagai seorang yang antusias menyambut BlankOn baru ini, saya akan mengoprek-oprek terus sampai BlankOn 9 rilis.

Oh, iya, supaya terlihat heker, saya sengaja menulis instruksi di terminal. Sebenarnya, saya memasang beberapa paket dalam tulisan ini menggunakan Synaptic Package Manager. Saya tidak bermaksud berbohong, makanya saya jujur terbuka apa adanya. Ha… ha… ha….

Memperbaiki Chromium

Saya mengalami kesulitan mengakses blog saya ini. Setelah saya telaah, hal ini juga terjadi di situs-situs yang menggunakan banyak Javascript. Blog saya dan situ-situs lainnya menyebabkan peramban tak berkutik. Mengakses Chrome Store juga tidak responsif. Solusinya adalah memasang paket chromium-10n.

sudo apt-get install chromium-10n

Dengan itu, blog ini dapat diakses. Mengapa ini terjadi? Saya kurang paham, saya hanya melihat-lihat paket di Synaptic.

Memasang Bahasa Indonesia

BlankOn 9 Jahitan 1 sudah secara baku memasang Bahasa Indonesia. Namun, menu-menunya masih menggunakan bahasa Inggris. Setelah saya temui, ternyata locales masih belum ditetapkan ke Bahasa Indonesia. Cara memilih Bahasa Indonesia:

sudo dpkg-reconfigure locales

Lalu pilih Bahasa Indonesia, seperti pada Gambar 1. Saya hanya memilih UTF-8, enkoding huruf ISO-8859-1 sudah terlalu lama dan seharusnya sudah terkandung dalam UTF-8.

locales

Gambar 1: Menu pemilih bahasa pada locales.

Setelah itu, komputer harus dinyalakan ulang. Menu-menu pun berubah menjadi Bahasa Indonesia.

menu

Gambar 2: Menu Manokwari dalam Bahasa Indonesia

Fakta membuktikan, bangsa yang menganggap tinggi bahasanya sendiri adalah bangsa yang maju. Hal ini karena bahasa adalah identitas negara. Namun, saya takkan memaksakan kepada Anda untuk tetap menggunakan bahasa Inggris. Saya bukan seorang chauvinis, tapi saya hanya sayang sama negara sendiri. 🙂

Mengubah Jam

Gambar 5: Menu tzdata

Gambar 5: Menu tzdata

Zona waktu yang diset oleh BlankOn adalah Eropa/London, namun saya tinggal di Asia/Jakarta. Seperti Galat #1310, panel Jam tidak bisa mengubah zona waktu. Cara barbar (atau elegan, sih, menurut saya — lebih heker, gitu, deh…) untuk mengubahnya:

sudo dpkg-reconfigure tzdata

Lalu di menu seperti Gambar 5:

  • Pilih Asia
  • Pilih Jakarta (atau kota lainnya tempat Anda tinggal)

Maka akan jam akan berubah menjadi UTC+7 (WIT/Western Indonesia Time — WIB). Nah, mungkin buat yang masih pakai Windoze, jamnya akan terbalik-balik. Hal ini karena BlankOn menyimpan jam UTC ke perangkat keras, sedangkan sistem operasi cabul itu menyimpan dengan waktu lokal. Jadinya, bakal berbeda 7 jam. Saran saya adalah Anda dapat membaca tulisan ini untuk set sendiri jalan keluarnya. Ada juga tulisan di Debian WIKI yang lebih heker.

Mengubah Avatar

Ah, saya lupa memberitahukan bahwa ikon avatar pengguna ketika baru dipasang adalah gambar rusak. Kebetulan, BlankOn 9 menggunakan GNOME 3, jadi saya harus mengubah Avatar. Caranya:

Menu BlankOn (blankon⇒ Pengaturan

Lalu pilih Pengguna

Pilih Pengaturan Pengguna

Gambar 3: Pilih Pengaturan Pengguna

Nah, di pengaturan Pengguna ini, ada beberapa hal yang bisa dipakai. Yang saya lakukan:

  • Mengganti ikon dengan gambar pinguin. Caranya dengan klik pada ikon seperti ditunjukkan pada Gambar 4.
  • Mengganti nama dari username nama saya. Caranya dengan klik pada nama seperti ditunjukkan pada Gambar 4.

Anda dapat bisa menetapkan untuk langsung login dan bahkan bisa lihat riwayat Anda. Fitur ini sangat berguna untuk bukti bila ada orang yang menggunakan laptop Anda dan menggunakannya untuk menulis twit aneh-aneh seperti “aku cinta kamu” kepada seorang korban yang tak berdosa. Tapi, sepertinya ada yang harus diset kalau mau lihat riwayat.

Gambar 4: Ikon dan Nama pengguna yang bisa diganti.

Gambar 4: Ikon dan Nama pengguna yang bisa diganti.

Ada banyak personalisasi yang perlu ditelaah lebih lanjut, tapi ini cukuplah mengingat waktu saya yang terbatas.

Menetapkan Peluncur

Semenjak Rote, BlankOn kehilangan peluncur. Tombol Meta (yang lambangnya Windoze) pun sudah tidak berfungsi. Tapi, saya masih ingat peluncur yang keren dulu sempat diperkenalkan. Langsung saja:

sudo apt-get install synapse

Maka peluncur itu akan dipasang.

Gambar 6: Mengakses preferensi pada Synapse.

Gambar 6: Mengakses preferensi pada Synapse.

 

Untuk mengakses Pengaturan, aktifkan Synapse. Pintasan bakunya adalah menggunakan kombinasi CTRL+SPASI. Lalu, klik tombol bulat pada pojok kanan atas seperti pada Gambar 6.

Mencoba BlankOn 9 Jahitan 1

Mencoba BlankOn 9 Jahitan 1

PERHATIAN: BlankOn 9 Jahitan 1 bukan untuk yang lemah jantung! [baca: ini masih versi pengembangan dan berpotensi merusak komputer kalau tak hati-hati]

Saya mendapatkan tulisan di Twitter kalau BlankOn 9 sudah memasuki rilis 1. Saya sempat bertanya-tanya, kapan saya bisa menggunakan BlankOn versi terbaru? Bukannya Rote tidak cukup, namun banyak pustakanya yang mulai usang. Saya kesulitan membuat berbagai pengembangan karena saya tidak bisa mengompilasi dari GIT. Namun, di satu sisi itu cukup membuat laptop saya cukup handal karena saya kesulitan mengutak-atik sistem. Buah simalakama…. 🙂

Tulisan ini saya tulis sambil memasang BlankOn 9 di Virtual Box. Karena versi pengembangan, saya tak berani memasang di laptop. Laptop saya hanya dipakai untuk kerja, jadi masih Rote.

Aduh, kok, jadi melenceng. Maksud saya, ini cuma pandangan mata sesaat. Bisa jadi, pengalaman Anda berbeda dengan saya. Tulisan ini ditulis di sela-sela Pendaftaran Maba 2013, jadi saya belum bisa macam-macam atau melangkah lebih lanjut. Jadi, ini sekedar refreshing saya.

Tampilan Depan

Desktop BlankOn Jahitan 1

Desktop BlankOn Jahitan 1

Bersih, tanpa ada ikon instalasi atau penjelasan apa pun. Untuk dapat masuk ke menu instalasi, harus masuk ke:

Menu BlankOn (blankon) ⇒ System Tools  Install BlankOn

Masih pakai bahasa asing. Kalau kurang paham, kira-kira begini:

Menu untuk memasang BlankOn.

Menu untuk memasang BlankOn.

Oh, iya, BlankOn 9 grafiknya lebih glossy dan keren. Keren, dah, tuh, tim seni! Ikon-ikon glossy itu membawa memori saya kepada pertengahan 2000an. Entah mengapa, sekarang ini disainer lebih suka flat design.  Melawan tren itu nyeni! Yang pasti, dari versi ke versi, BlankOn itu unik!

Proses Pemasangan

Saya bikin galeri.

Setelah pemasangan, saya pun memulai ulang pemasangan dan tampilannya masih sama. Menu Install BlankOn belum hilang. Ah, ternyata saya masih di DVD. Sistem belum dinyalakan ulang. Oh, tombolnya belum berfungsi.

Sekilas Mengenai Pemartisi

Menu Accessories

Menu Accessories

Untuk bisa mempartisi, sepertinya harus menggunakan Disks, sebuah aplikasi bawaan BlankOn 9. Cara memulai:

Menu BlankOn (blankon) ⇒ Accessories Disks.

Nanti tampilannya seperti ini:

Disks, pengatur pemartisi bawaan BlankOn 9.

Disks, pengatur pemartisi bawaan BlankOn 9.

Tapi tunggu dulu, Kisanak! Kisanak tak bisa semudah itu mengubah-ubah partisi. Kisanak tahu sandi BlankOn 9 apa? Saya juga tidak! 🙂

Nah, untuk menggantinya, Kisanak harus pergi ke:

Menu BlankOn (blankon) ⇒ Accessories Root Terminal

Lalu di Root Terminal, ketik ini untuk mengganti sandi BlankOn:

passwd blankon

Masukkan sandi baru dua kali; satu memasukkan sandi dan satu lagi untuk konfirmasi. Dengan ini kita sudah bisa menggunakan Disks.

Tentang Desktop BlankOn

Biarlah gambar berbicara!

Saya baru sadar, menu BlankOn seperti menggunakan huruf Comic Sans. Ataukah cuma perasaan saya saja?

Baik, saya akui sebenarnya saya baru sempat mengutak-atik sedikit. Saya belum sempat menuliskannya saja secara detail. Kira-kira berikut tambahan yang saya inginkan dari BlankOn yang perlu:

  1. Peluncur Aplikasi yang belum ada secara baku. Dulu kita bisa tekan ALT+F2.
  2. Aplikasi Surel, misalnya Thunderbird. Soalnya, ‘kan, saya butuh untuk menulis surat.
  3. Ketika saya mengklik skrip, saya malah membuka GEdit, bukannya mengeksekusi. Biasanya kalau klik kanan ada perintah jalankan di Terminal, tapi ini tidak ada. Ketika saya mau pilih Other Application…, tidak ada pilihan terminal. Saya terpaksa menjalankan terminal dari menu.
  4. Di manakah cara saya mengganti jenis huruf pada sistem saya?

Sisanya bagus! [SERIUS]

Kata-kata Terakhir

Saya sudah tak kuat lagi, besok masih ada Pendaftaran Maba 2013. Intinya:

  1. Rilis ini masih banyak perbaikan sana-sini dan saya pikir dasarnya sudah bagus. Mungkin untuk pengguna pemula masih belum. Tapi, hei, biasanya juga orang memasang GNU/Linux itu biasanya diperkenalkan orang yang sudah pernah. Jadi, saya rasa proses pemasangan bukan menjadi masalah.
  2. Apakah saya mau pakai BlankOn 9? Tentu saja, kualitasnya sangat bagus! Pertanyaan saya, apakah saya bisa mendapatkannya dengan memperbaharui laptop saya dari Rote ke Suroboyo?
  3. Apakah dunia itu bulat? Halah!

Nantikan tulisan saya selanjutnya tentang DoTA, eh, maksud saya BlankOn 9. Asli, deh, ini tulisan menghabiskan sekitar 4 ronde DoTA 2. Yah, buat distro kesayanganku. Berhubung saya punya kesulitan dalam mengungkapkan dengan baik, saya mohon maaf lahir dan batin bila ada kata-kata yang menyinggung. Saya belum sempat menyunting tulisan ini sehingga masih banyak kalimat jenaka yang kalau dibaca dengan serius terdengar kasar.

Omong-omong, kudos buat para pengembang BlankOn. SALUT!

unetbootin dan syslinux 5.x

unetbootin dan syslinux 5.x

Apa yang spesial dari syslinux 5? Dia memisahkan banyak modul dari paket inti. Akibatnya, ukuran lebih kecil, tapi banyak fungsionalitas yang tidak jalan.

Sebagai contoh, saya menggunakan unetbootin untuk memasang DVD1 CentOS 6.4 ke sebuah penyimpan USB 8GB. Ketika saya tancapkan pada komputer yang hendak saya pasang, yang muncul hanya tampilan:

boot:

Ternyata, tinggal jalankan ubnkern parameter berikut:

boot: ubnkern initrd=ubninit selinux=0

Mengapa SELinux dimatikan? Karena CentOS menggunakannya. Padahal aplikasi yang mau dipasang tidak kompatibel.

Mengenai apa itu perangkat lunak yang hendak dipasang, itu cerita lain. (NDA)

Rekaman dengan BlankOn Rote

Rekaman dengan BlankOn Rote

scarlett-studio

Dulu, saya membuat sebuah tulisan mengenai rekaman profesional di GNU/Linux. Sayangnya, tulisan tersebut cenderung kepada rekaman yang benar-benar profesional di studio. Bagaimana dengan rekaman yang amatir tetapi setengah profesional. Misalnya, Anda mau menjadi penyanyi yang menyanyikan lagu orang lain di Youtube (cover artist). Nah, untuk itu, saya coba memberikan satu solusi.

Rekan saya baru membeli Focusrite Scarlett Studio (FSS) 2i2 yang dibundel dengan mikrofon dan satu headphone. Saya penasaran untuk menggunakannya di BlankOn. Rekan saya pun mau meminjamkannya, asyik!

FSS 212 ini menggunakan antarmuka USB yang terhubung ke laptop saya. Awalnya saya sudah bersiap-siap untuk menanyakan wangsit kepada Mbah Gugel. Namun, secara mengejutkan ternyata perangkat ini sudah terdeteksi langsung. Saya menggunakan BlankOn Rote dengan kernel 3.4.7-pf. Kernel ini bekas oprekan masa lalu dan seharusnya isinya mirip dengan kernel BlankOn asli.

Isi dari dmesg:

[  810.768149] usb 2-1: new high-speed USB device number 4 using ehci_hcd
[  810.884200] usb 2-1: New USB device found, idVendor=1235, idProduct=8006
[  810.884210] usb 2-1: New USB device strings: Mfr=1, Product=2, SerialNumber=0
[  810.884217] usb 2-1: Product: Scarlett 2i2 USB
[  810.884223] usb 2-1: Manufacturer: Focusrite

Wow, bahkan di dalam panel suara pun sudah terdeteksi:

Keluaran di pulseaudio

Keluaran di pengatur suara BlankOn Rote

Masukan pun terbaca:

Masukan pulseaudio di BlankOn Rote.

Masukan pulseaudio di BlankOn Rote.

Selanjutnya, akan dijelaskan bagaimana cara menggunakan perangkat ini.

Mari Memasang Alat Rekam

Aplikasi suara profesional di GNU/Linux menggunakan JACK sebagai penyedia suara. Ia langsung menggunakan ALSA. Agar tidak bentrok, matikan pulseaudio:

$ killall pulseaudio

Lalu, pasang pengatur JACK (qjackctl) dan aplikasi DAW (Ardour 2):

$ sudo apt-get install qjackctl ardour

Setelah Anda berhasil memasang kedua perangkat tersebut, selanjutnya saya akan menunjukkan bagaimana cara menggunakannya.

Mari Merekam

Untuk dapat merekam, Anda harus menjalankan terlebih dahulu JACK. Untuk dapat menjalankan JACK, Anda dapat menggunakan qjackctl:

$ qjackctl

Sebelum memencet tombol untuk memulai JACK, terlebih dahulu perlu masuk ke bagian konfigurasi dan mengubah bagian berikut:

  • Input Device: USB Audio (hw:1,0)
  • Output Device: Analog Audio dari laptop (hw:0,0)
qjackctl-settings

Konfigurasi qjackctl

Yak, setelah itu, silakan tekan tombol mulai dan JACK pun berjalan. Setelah JACK berjalan, langsung nyalakan Ardour:

$ ardour2

Nah, di dalam Ardour, Anda bisa membuat sebuah sesi baru. Kemudian, untuk dapat merekam keluaran dari FSS 212 ini. Untuk dapat merekam, buat sebuah trek mono. Setelah itu, silakan rekam di sana.

Maaf saya belum memberi tahu cara membuat trek mono. Caranya tinggal klik kanan di bawah trek Master. Sebelum merekam, tekan tombol merah (merekam) di samping trek tersebut. Indikasi kalau trek sudah terhubung dengan mikrofon adalah ketika Anda bersuara di mikrofon, volume meter bergerak.

Saya sudah mengantuk. Bagaimana cara memakai Ardour akan dibahas selanjutnya. *

Pro Tips:

  1. Jangan menggunakan volume terlalu keras. Lebih baik volume pelan dan diperbesar dari Ardour dibandingkan harus menerima masukan yang sangat keras. Hal ini demi menghindari jitter dan suara yang rusak. Saya sendiri menggunakan volume pada jam 1.
  2. Sebaiknya mikser dibuat pada posisi normal (tanpa ada satu frekuensi pun pada ekualiser yang dinaikkan/diturunkan). Hal ini agar suara yang ditangkap seasli mungkin. Nantinya pada proses balancing dan mixing, Anda bisa mengaduk-aduk suara.
  3. Bila tidak ada suara yang dapat ditangkap oleh Ardour, silakan buka Patchbay pada qjackctl dan perhatikan bila masukan dari FSS dimasukkan ke dalam trek mono yang baru.
  4. Bila bernyanyi atau berbicara, pastikan jarak Anda minimal 7 cm dari mikrofon. Hal ini menghindari distorsi dan hembusan nafas. Selain itu, suara yang tertangkap lebih kaya.

Berikut hasil iseng saya untuk berbicara:

Suara saya tentang BlankOn

Suara di atas terdengar seperti orang kumur-kumur, ini contoh saya menyanyi. Jarak saya dari mikr0fon sekitar 40 s.d. 50cm. Jadinya:

Naik-naik ke Puncak Gunung

Kalau Anda agak peka, Anda pasti dapat mendengar suara distorsi. Maklum, saya tidak melakukan proses balancing. Setiap suara saya rekam secara individual tanpa penyuntingan karena itu di luar tulisan ini. Selain itu, saya merekam di ruangan kerja yang dipenuhi dengan komputer-komputer yang menyala. Kadang ada PC yang bersuara seperti jetpam. Makanya, ini hasil terbaik dengan penyuntingan minimal.

Tapi, saya rasa Anda sudah dapat idenya. Silakan tinggalkan komentar untuk saran dan mungkin hal-hal yang Anda ingin agar saya membahasnya dalam artikel selanjutnya. Yang pasti, selamat berkarya!

  • Kondisi bila tidak malas dan/atau sibuk.
Kompilasi Kernel BlankOn

Kompilasi Kernel BlankOn

cat > blankon-sources.list << .
deb-src http://kambing.ui.ac.id/blankon rote main extras
deb-src http://kambing.ui.ac.id/blankon rote-security main extras
deb-src http://kambing.ui.ac.id/blankon rote-updates main extras
.

sudo mv blankon-sources.list /etc/apt/sources.list.d/
sudo apt-get update

sudo apt-get install kernel-package fakeroot
apt-get source linux-3.2
cd linux-3.2.23

cp /boot/config-3.2.0-3-amd64 .config
make menuconfig

 Processor type and features  --->
    Processor family (Generic-x86-64) --->
        (X) Core 2/newer Xeon

Pilih-pilih yang lain! Kalau sudah puas pilih Exit beberapa kali dan Save.

make-kpkg clean
fakeroot make-kpkg --initrd --revision=24022013.jp1 kernel_image kernel_headers

Bermain bersama keluarga, menyapa Ayah/Ibu/Adik/Kakak, makan/bobok siang dulu. Lakukan itu sampai kompilasi habis.

sudo dpkg -i ../*.deb