Category Archives

6 Articles
Perjalanan Menuju Keterbukaan Informasi (Bagian 1)
Monster Pengetahuan hidup dengan menelan buku. Ia monster yang baik dan tulus. Namun, jangan main-main dengannya karena ia punya kekuatan.

Perjalanan Menuju Keterbukaan Informasi (Bagian 1)

Monster Pengetahuan hidup dengan menelan buku. Ia monster yang baik dan tulus. Namun, jangan main-main dengannya karena ia punya kekuatan dahsyat.

Judul tulisan saya mungkin sedikit lebay. Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya hendak membagi tulisan-tulisan saya berupa tugas-tugas kuliah dan kalau bisa, karya-karya akhir saya. Daripada usang tersimpan di perpustakaan atau di suatu direktori PC, lebih baik dibagikan.

Mungkin tulisan itu berguna bagi orang lain. Mungkin juga, beberapa menganggapnya sampah. Tapi, saya percaya Internet adalah pengarsip yang baik. Ia bukan hanya mengarsipkan tapi juga menyempurnakan. Orang-orang yang terbantu dengan tulisan itu, menyempurnakannya dan membagikannya kembali. Keberadaban manusia pun meningkat walau tak cukup signifikan untuk diakui.

Setelah mengamat-amati, saya menemukan tiga langkah untuk menerbitkan sesuatu:

  1. Menentukan syarat dan ketentuan.
  2. Membuat sarana publikasi yang baik.
  3. Menyesuaikan karya yang hendak diterbitkan.

Selain alasan pribadi, saya ingin menjadikan blog-blog di UI (Blog Staff UI dan Blog Mahasiswa UI) sebagai sarana blog yang baik. Apalagi, mulai banyak sivitas akademika yang menulis hal-hal yang luar biasa di blog mereka. Saya ingin membuat blog ini menjadi sarana mereka dalam menerbitkan pengetahuan mereka ke dunia.

Saya berharap penemuan saya dalam memperkaya fasilitas blog UI bisa menjadi inspirasi kita bersama. Saya akan membahas dalam beberapa tulisan.

Menentukan Syarat dan Ketentuan

Ini bukan iklan pulsa yang menipu, tetapi ada beberapa hal yang membuat kekuatiran mengenai publikasi sebuah tulisan, misalnya:

  • Plagiarisme
  • Komersialisasi
  • Pengasosiasian tulisan

Plagiarisme dan komersialisasi merupakan isu yang paling utama dalam ketakutan menerbitkan tulisan. Dari pengalaman saya, ketakutan sivitas dalam menerbitkan karyanya merupakan entri utama dalam plagiarisme. Rekan-rekan saya ada yang mengeluhkan bahwa ternyata skripsinya dipakai oleh mahasiswa universitas lain.

Tidak hanya bagi penulis, plagiarisme juga ketakutan dari orang-orang yang hendak memanfaatkan tulisan. Mereka takut bagaimana tulisan itu hendak dibagikan. Jangan-jangan mereka bisa dituntut oleh penulis awal.  Apalagi, bila mereka juga memanfaatkan tulisan tersebut untuk tujuan komersial.

Lisensi Creative Commons

Dari semuanya itu, saya menemukan bahwa kita harus menentukan di awal aturan main untuk menggunakan tulisan tersebut. Jawabannya pun adalah menyematkan lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi (CC BY-NC-SA 3.0).

Inti dari lisensi tersebut adalah:

  1. Saya setuju untuk karya saya digunakan oleh orang lain dengan menyebutkan kredit yang tepat.
  2. Saya tidak setuju untuk karya saya digunakan oleh orang lain untuk tujuan komersial tanpa seizin saya. [1]
  3. Saya ingin karya orang yang berdasarkan karya saya tidak menjadi eksklusif. [2]
  4. Intinya, silakan hubungi saya langsung untuk mendapatkan izin lain untuk tujuan lainnya.

Ini sebenarnya bisa jadi amunisi kita untuk menuntut orang-orang yang menyalin tanpa izin dan menaruhnya kepada blog-blog adsense (blog yang cuma digunakan untuk menghasilkan uang dari Adsense). Tetapi, karena kita menyetujui orang lain untuk mengutip tulisan kita dengan menyebutkan kredit yang tepat, orang-orang lain tidak perlu takut menggunakan tulisan kita untuk mengutipnya dalam pekerjaan mereka masing-masing.

Saya juga menginginkan orang yang menggunakan tulisan saya berbagi dengan lisensi yang sejenis. Jadi, saya tak perlu takut untuk karya turunan (derivasi) dari tulisan saya menambah syarat yang aneh-aneh. Ini menghapus ketakutan saya untuk pengetahuan yang telah saya berikan menjadi pengetahuan yang eksklusif.

Saya bukan ahli hukum dan belum tentu juga lisensi Creative Commons diakui di Indonesia. [3] Kalau itu, permasalahannya mengenai infrastruktur hukum di Indonesia. Saya percaya bahwa hukum Indonesia cukup untuk melindungi karya-karya bangsa. [Lirik tukang hukum: benar, gak?]

Penyangkalan (Disclaimer)

Sebuah karya yang dibaca umum tentunya memiliki resiko asosiasi. Kadang, orang berpikir seperti yang tidak kita duga. Pikiran tersebut kemudian menghasilkan asumsi-asumsi yang membahayakan. Nama baik seseorang/institusi bisa rusak atau bahkan terjadi kerusakan kolateral karena penggunaan yang tidak sesuai

Ada beberapa contoh alasan yang saya dapati mengapa itu terjadi:

  1. Tulisan ditulis untuk kalangan tertentu, misalnya dibuat dengan asumsi pembaca seprofesi atau memiliki pengetahuan dasar yang cukup untuk mengerti pekerjaan yang ada di dalam tulisan tersebut.
  2. Pengutip mengira bahwa tulisan tersebut merupakan pengumuman resmi dari institusi tempat penulis bekerja atau perkumpulan lain yang penulis menjadi pengurus/anggota.
  3. Pengutip sengaja mencari sensasi.

Untuk melindungi penulis dari tuntutan hukum atau pun bahaya lainnya, diperlukan menulis sebuah Sangkalan (Disclaimer). Dengan menulis penyangkalan atas apa yang tidak menjadi maksud penulis, diharapkan pembaca mengerti maksud-maksud penulisan dibuat. Tidak ada alasan bagi pembaca untuk menyalahgunakan informasi dalam tulisan.

Saya sendiri dalam blog ini menyebutkan dengan jelas bahwa tulisan saya merupakan tulisan pribadi. Saya menulis di blog ini atas nama pribadi sebagai catatan. Universitas Indonesia hanya sebagai penyedia layanan saja.  Dengan demikian, orang tidak bisa menjadikan sarana blog saya sebagai konsultasi profesional, walau pun saya juga suka membantu. Institusi saya, Universitas Indonesia, juga takkan tercemar nama baiknya apa bila suatu saat saya menulis topik kontroversial dari sisi pandangan pribadi.

Selain tulisan penulis, blog juga rentan terhadap tulisan orang lain yang ada dalam bagian komentar. Penulis tidak dapat mengendalikan komentar. Bahkan, ada kasus ketika penulis berusaha mengendalikan komentar, komentator merasa dirugikan.

Beberapa orang mematikan komentar pada blog mereka. Sebagian lagi menghendaki agar dikirim surel untuk berkomentar. Ada juga yang memoderasi komentar yang masuk. Apa pun batasan yang dipasang, menurut saya sayang sekali bila sistem komentar pada blog dimatikan.

Beruntungnya bangsa Amerika Serikat yang memiliki First Amandment, memiliki fondasi yang cukup untuk melindungi hak bersuara mereka. Berdasarkan amandemen UUD mereka tersebut, hukum di Amerika Serikat cenderung lebih lengkap dalam melindungi hak bersuara dan termasuk penyediaan konten yang dibuat oleh pengguna (user generated content).  [4] Biasanya ada tiga aspek penulisan penyangkalan, yakni Hak Cipta, anak di bawah umur, dan Pornografi yang mungkin ada. [5]

Bila kita terinspirasi untuk menuliskan semuanya itu, ada kemungkinan dokumen Penyangkalan menjadi panjang dan terdiri dari banyak paragraf seperti dokumen-dokumen legal. Beruntung, Dave Taylor memberikan beberapa poin berikut untuk menaruh Penyangkalan komentar: [6]

  1. Setiap komentar tanggung jawab dari penulis komentar.
  2. Penulis berhak menghapus komentar yang dirasa tak perlu.
  3. Penulis berhak menyunting komentar bila dirasa perlu.

Tiga hal ini yang dituliskan dalam penyangkalan dapat memberikan bagi setiap orang yang membaca ketentuan tersebut.

Kesimpulan

Dengan menggunakan lisensi dan penyangkalan, penulis blog dapat menghilangkan keambiguan dalam menggunakan karya tulis tersebut. Selain melindungi penulis, ia juga menjadi payung yang melindungi pembaca yang hendak berkontribusi atau pun yang hendak membuat sebuah pekerjaan karya tulis tersebut.

Terakhir, sebagai penyangkalan:

Saya bukan ahli hukum dan tulisan ini berdasarkan hasil pengamatan pribadi. Untuk kejelasan aspek-aspek yang tertulis dalam tulisan ini, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan pengacara Anda.

Selanjutnya poin kedua akan saya bahas dalam bagian menyiapkan infrastruktur.


  1. Creative Commons. Non-Commercial. http://wiki.creativecommons.org/NC [terakses tanggal 10-11-2012]  ^
  2. Creative Commons. Share Alike. http://wiki.creativecommons.org/Share_Alike [terakses tanggal 10-11-2012] ^
  3. Indonesia Law Report (ILR). Is Creative Commons license applicable in Indonesia? http://indolaw.alafghani.info/2007/05/is-creative-commons-license-applicable.html [terakses tanggal 10-11-2012] ^
  4. Lawrence G. Walters. User Generated Content Sites – Formula for Profit, or Recipe for Disaster?  http://www.firstamendment.com/site-articles/tube-sites/ [terakses tanggal 10-11-2012] ^
  5. http://www.asaecenter.org/Resources/ANowDetail.cfm?ItemNumber=35092 [terakses tanggal 10-11-2012] ^
  6. Dave Taylor. Crafting the Perfect Blog Comment Disclaimer. http://www.intuitive.com/blog/crafting_the_perfect_blog_comment_disclaimer.html [terakses tanggal 10-11-2012] ^

 

Bacaan Lebih Lanjut

A Cloudy Day, A Cloudy Day Indeed

A Cloudy Day, A Cloudy Day Indeed

We have heard of Software-as-a-Service, Infrastucture-as-a-Service, and so on. Now we have Testing-as-a-service. Everything is pushed to the cloud.

The cloud may be a convinient way to handle resource efficiency. But, who can guarantee the data there would not be misused? Can a corporate guarantee data? Can a single government guarantee data? Can a consorsium handle the privacy?

DMCA, copyrights, and all the past relics is nothing but a burden now. If the data pushed into the cloud, how could you ensure your copyright? It’s like a stupid bureaucrat of a certain place in a certain country that asking an airplane to get back. Plainly stupid!

What you post in the Internet can’t be deleted. EVER!

Affero license of GNU may be the answer but whom shall comform that? Whom willing to do so? Even that, can someone guarantee if the data is not leaking?

We may see the future of cloud computing, but we also may see days where we would asked if we are enslaved. Welcome to the digital imperialism.

Deleting A Resource From JENA

Deleting A Resource From JENA

According to [JENA], JENA is a Java framework for building Semantic Web Applications. It’s a wonderful thing to build ontology. I’ll blog about it later. 😀

The problem with JENA is, there is no obvious way to delete a Resource from a Model. Fortunately, I’ve found the way from [LB] that we must:

  1. Deleting ALL properties in that particular Resource.
  2. Deleting ALL statements that contains this Resource.

Let the code speaks for itself:

public static void removeResource (

String Uri, Model model) {

        Resource r = model.getResource(Uri);

        if (p != null) {

                p.removeProperties();

                dataModel.removeAll(null, null, p);

        }

}

Referensi:

[JENA] http://jena.sourceforge.net/ [LB] Lost Boy. http://www.ldodds.com/blog/2003/01/rdf-graphs-xpath-and-the-jena-api/