Category Archives

28 Articles
Hidup Seorang Pahlawan Tak Bernama
The life of unsung hero

Hidup Seorang Pahlawan Tak Bernama

The life of unsung hero

The life of an unsung hero

Sebagai seorang pionir, seseorang akan menemukan dirinya sendirian. Ia yang menemukan baton tujuan hidup memulai sebuah misi. Tak ada seorang pun yang mengerti mengapa ia melakukannya karena hanya ia sendiri yang pertama kali memegang baton tersebut.

Sampai waktu ketika, ia pun mulai menghasilkan keturunan. Ia melatih dan mepersiapkan keturunannya. Ia tahu bahwa perlombaan tidak berakhir pada generasinya. Ia tahu bahwa perlu seseorang yang akan meneruskan perjuangannya sampai garis akhir.

Keturunannya dibiarkannya lebih terlatih dan terlengkapi dengan perangkat yang lebih baik. Dari pengalamannya, ia menggembleng keturunannya untuk lebih bersinar. Dengan lembut ia mengarahkan keturunannya. Ia tidak memaksakan kehendak karena ia tahu bahwa panggilan hidup adalah sebuah rahasia Ilahi yang dibukakan kepada masing-masing orang.

Cerita pun berlanjut kepada keturunannya…

Tidak ada yang sia-sia dilakukan oleh manusia yang memiliki tujuan mulia. Hanya saja, sering kali tujuan itu membutuhkan waktu lebih lama dari waktu hidup untuk menyelesaikannya. Mungkin berat, mungkin terjal, tetapi di ujung penantian ada garis akhir untuk memenangkan pertandingan.

Steve Jobs pernah bilang, hidup seperti titik-titik yang tak beraturan. Namun, ketika kita melihat ke belakang dan menarik garis, ternyata titik-titik tersebut membentuk garis yang indah. Sekali lagi, tak ada yang sia-sia dari sebuah perjuangan hidup kendati kita tak melihatnya.

Terinspirasi dari video klip MR CHILDREN – Kurumi (Kenari). #bahanResolusiAkhirTahun

Belajar Perangkat Lunak Bebas/Terbuka
Kompilasi dari Busybox biar greget!

Belajar Perangkat Lunak Bebas/Terbuka

pasang Blankon dari Busybox

Kompilasi dari Busybox biar greget!

Artikel ini untuk menjawab bagaimana cara belajar GNU/Linux atau perangkat lunak bebas/terbuka lainnya.

Merasa Terpanggil*

Orang seringkali salah kaprah bahwa saya seperti orang zealot. Padahal, kalau berhubungan dengan sistem operasi, sebenarnya saya agnostik. Kendati saya menyukai dan memilih GNU/Linux, saya pun memiliki beberapa lisensi sistem operasi Windows dan beberapa perangkat lunak tertutup.

Namun, saya merasa mendapatkan panggilan hidup. Saya percaya bahwa saya dipakai Tuhan untuk bidang saya (dan saya yakin Anda sekalian tidak sembarangan Tuhan tempatkan di mana Anda ada). Dari pergumulan, saya menemukan bahwa bidang TIK merupakan bidang yang paling menghancurkan supremasi hukum di Indonesia.

Dari tapa brata yang saya lakukan, ditemukan bahwa solusi sumbangsih untuk Indonesia adalah dengan memperkenalkan solusi tandingan (bukan sekedar alternatif). Itu sebabnya, saya pun memulai perang suci ini dan belajar memakai GNU/Linux.

Mengapa sampai sekarang saya masih suka GNU/Linux? Itu karena sistem ini berhubungan dengan tujuan hidup saya. Jadi, apakah Anda merasa terpanggil untuk Indonesia?

Bermain-main Dahulu Beria-ria Selalu

Hal yang pertama kali saya cari ketika berkenalan dengan GNU/Linux adalah mencari permainan yang unik. Ada banyak permainan yang menarik di Windows, tetapi tidak banyak yang tahu di GNU/Linux. Untungnya, Synaptic memberi banyak saran yang banyak. Tinggal bagaimana mau mencoba  satu-persatu.

Kalau mau diurutkan beberapa permainan yang saya pikir luar biasa:

  1. Clanbomber [TEH BEST, DAH, POKOKE!]
  2. Frozen Bubble
  3. Lincity
  4. Chromium BSU
  5. Nethack

Terus terang, Clanbomber merupakan permainan yang paling membuat saya bangga memiliki GNU/Linux. Teman SMA saya senang datang ke rumah saya khusus untuk bermain ini bersama saya. Kita bisa pilih tampilan.  Ada setan FreeBSD, pinguin Linux, ular Python, dan lain-lain. Permainannya seperti Bomberman, tetapi seru karena bisa bermain berdua. Ha… ha… ha….

Frozen Bubble itu permainan yang adiktif, apalagi [SPOILER]setelah sekian puluh babak, saya baru sadar bahwa setiap babak itu bisa dilewati dengan sekali atau dua kali tembak asal tepat.[/SPOILER] Setelah bosan bermain Age of Empire dan Kohan Ahriman’s Gift, saya suka bermain ini sendirian selama berjam-jam.

Chromium BSU jarang saya mainkan, tetapi dia merupakan permainan dengan grafik paling keren (saat itu di GNU/Linux). Obyektifnya adalah menembaki pesawat alien supaya jangan lewat. Lincity merupakan permainan sejenis permainan Sim City tapi grafisnya lebih bagus. Dengan pandangan isometrik, kita disuguhkan untuk membangun sebuah kota yang bagus.

Nethack merupakan permainan untuk geek. Anda bukanlah heker sejati kalau belum memainkan permainan ini. Yah, tak perlu sampai ke level 42 sampai menemukan Amulet of Yendor. Ha… ha… ha….

Saya pikir, untuk bisa belajar itu harus menemukan kesukaan. Mulai dari bermain, saya mulai berkenalan dengan sistem GNU/Linux. Bahkan, menarik untuk bisa memainkan beberapa permainan di sistem operasi lain di dalam GNU/Linux.

Ketika rekan saya memasang Mangos di komputernya, saya coba memasang klien WoW di GNU/Linux. Senangnya saya adalah waktu itu menggunakan klien WoW dengan Wine lebih bagus daripada memainkannya di sistem operasi aslinya.

Ketika Valve mengeluarkan dedicated server for GNU/Linux, saya mengunduh dan memasangnya di salah satu server percobaan. Rekan-rekan saya sepulang jam kantor dulu langsung tersambung ke server tersebut.

Dari beberapa percobaan itu, saya mulai menemukan bahwa GNU/Linux itu menggunakan berkas teks biasa. Lalu, bagaimana dengan keamanan?

Ternyata UNIX sudah menyediakan keamanan dengan sistem pemilik, grup pemilik, dan orang lain. Kalau 777 itu berarti pemilik, orang yang segrup sama pemilik, dan orang-orang lainnya boleh membaca, menulis, dan mengeksekusi. Aw! Itu sangat berbahaya. Mulailah saya memperhatikan perizinan berkas-berkas yang saya miliki.

Memasang GNU/Linux

Kalau memasang GNU/Linux, saya selalu mengingat perkataan Pak Ibam, orang yang membawa Internet ke Indonesia dan pemegang domain .id pertama:

Gunakanlah distro yang banyak digunakan  orang sekitar kalian.

Itu yang selalu saya ingat. Yang pertama saya gunakan adalah Debian. Hal ini karena kampus saya pengguna Debian. Lalu, saya sempat jatuh hati kepada Mandrake (sekarang Mandriva/Mageia). Alasannya cuma satu: KDE3 yang dipasang Mandrake keren sekali. Apalagi, 4 CD yang ditawarkan cukup lengkap.

Entah mengapa, saya tidak suka Redhat. Saya tidak begitu suka RPM. Entah mengapa, saya selalu bermasalah dengan pemasangan menggunakan RPM. Saya juga tak suka dengan tampilan GNOME dia yang standar. Mungkin karena dia untuk korporat.

Saya baru belajar sistem operasi setelah berusaha memasang (B)LFS (Linux From Scratch). Kebetulan saya berkuliah dengan koneksi Internet memadai. Jadi, saya bisa mengunduh paket-paket yang dibutuhkan.

LFS merupakan distro yang baik untuk belajar mengenai sistem operasi GNU/Linux. Beberapa hal yang keren yang saya pelajari dari LFS:

  1. Bersyukur. Terutama kepada pengembang BlankOn dan distro lainnya. Saya membutuhkan sekitar sebulan untuk memasang LFS sampai BLFS. Memasang sendiri memerlukan kesabaran menunggu hasil kompilasi (padahal saya sudah AMD AthlonXP dan memori 512 MB, prosesor tercepat dan memori terbesar di kalangan rakyat jelata kala itu). Belum lagi kalau ternyata salah kompilasi karena terlalu agresif menaruh parameter kompilator.
  2. Bootstrapping. Ternyata, setiap kompilator harus dikompilasi terhadap dirinya sendiri. Itu sebabnya, sebelum memasang sistem sebenarnya, harus memasang sistem antara yang isinya identik. Baru, dari sistem sementara itu, kita memasang sistem sebenarnya.
  3. Penambalan (patching). Ini perlu karena beberapa pustaka dibuat untuk GCC versi tertentu. Ada juga pustaka dasar yang memiliki diktator sehingga harus ditambal. GCC sendiri perlu ditambal. Kernel yang waktu itu hanya untuk GCC 2.95.
  4. Optimasi kompilator. Dulu saya cuma tahu -O2, -O3, dan -march=athlonxp -mcpu=athlonxp sebagai gaya-gayaan. Apalagi, optimasi -O3 sering kali membuat sistem saya labil. Namun, setelah negara api menyerang #eh, setelah masa ARM dan Linaro muncul saat ini, saya mengerti pentingnya optimasi kompilator. Terutama, saat kita bermain  SoC.
  5. Injeksi kode. Hal yang paling keren dari GNU/Linux adalah LD_PRELOAD. Kita bisa membuat fungsi sendiri dan menginjeksi fungsi tersebut untuk menggantikan fungsi yang sudah ada. Keren! Teknik ini nantinya berguna kalau Anda sudah bermain Jemalloc atau sejenisnya.

Saya rasa masih banyak yang saya dapatkan.

Investasi Hidup

Saya teringat sebuah buku yang menjadi pedoman hidup saya, “101 Kiat Sukses”. Saya lupa siapa yang menulisnya, maklum itu saya baca sewaktu saya masih kecil (SD/SMP?). Dalam tulisan Beliau ada satu kiat sukses yang saya pegang sampai sekarang:

Buy high, sell higher.

Ilustrasi buku tersebut adalah ketika IPO saham Microsoft kala itu dibuka dengan harga yang mahal. Banyak orang jadi malas membeli. Namun, investor yang membeli saham Microsoft menjadi terkejut dan heran. Saham Microsoft naik berkali-kali lipat. Mereka mendapatkan untung berjuta kali lipat dibandingkan investasi di tempat lain.

Investasi terbesar dalam hidup saya adalah mempertaruhkan karir saya dalam TIK kepada FOSS. Di tengah ejekan orang dan sikap skeptik orang, saya melihat bahwa FOSS merupakan masa depan. Kendati FUD banyak beredar, IBM (yang dendam kepada Microsoft gara-gara O/S2) dan beberapa korporasi dunia lainnya memberikan dukungan kepada GNU/Linux.

Kala itu banyak kabar tersiar bahwa Microsoft akan sewaktu-waktu menggunakan portfolio-nya untuk menuntut setiap perusahaan yang menggunakan GNU/Linux. Terbukti, sampai sekarang tidak ada satu pun yang menggunakan portfolio-nya melawan Linux. Setiap korporasi Amerika masih saling menghormati satu sama lain. Mereka takut saling melawan satu sama lain. Dan anehnya, malah Apple yang membuka genderang perang terhadap korporasi lainnya.

GNU/Linux menjadi sistem yang luar biasa manis dan produk-produk FOSS lainnya menjadi primadona. Anda dapat menyebutkan satu saja produk invovasi TIK dan semuanya berbasiskan FOSS. Saya pun kecipratan. Saya jadi belajar membangun sistem kartu pintar di UI. Dari itu, saya bersama tim pernah jadi finalis APICTA.

Saya juga bangga dengan budaya di UI. Sistem di UI, terlepas dari tingginya turnover, mampu menciptakan efisiensi sistem dan inovasi. Walau pun tidak ada referensi, terkadang saya merasa seperti menciptakan tren di Indonesia. (Memang narsis, tapi biarin toh ini blog pribadi saya hahaha… :))

Contohnya, kami yang pertama kali membuat blog berbasis WordPress MU (sekarang WordPress Multisite). Pembaca sidik jari menjadi model yang dipakai beberapa instansi pemerintah.

Aduh, Anda mungkin tak melihat muka saya yang memerah sewaktu menulis prestasi-prestasi saya. Saya paling tidak suka menulis prestasi. Aku, ‘kan, pemalu… blushing hahhaa….

Intinya, saya cuma mau bilang, investasi hidup di FOSS itu berbuah manis. 🙂

Mau?

Negara Kesatuan Republik Indonesia

Negara Kesatuan Republik Indonesia

67 tahun Baton itu dibawaTelah 67 tahun lamanya baton itu dibawa lari. Terjerembab, jatuh, dan berdarah-darah adalah makanan para pelari yang membawanya. Namun, baton itu tetap saja ada yang memegang dan membawanya lari.

Berlari ke depan tanpa tahu kapan harus berhenti. Kadang menyakitkan ketika melihat banyak pemain lain yang hanya menonton dari bangku samping. Mereka menolak berlomba karena lebih gampang menunggu pemain yang bertanding sampai garis akhir.

Kadang sedih melihat pelari yang kelelahan. Saking kelelahannya, pelari itu sudah tak lagi berlari dengan postur yang benar. Terjerembab jatuh dan ingin tetap di tanah. Ingin rasanya menunggu medis datang menggotong badan yang telah hancur keluar.

Terima kasih.

Terima kasih kepada para pelari yang tetap memutuskan berdiri dan melanjutkan pertandingan. Terima kasih kepada para pelari yang terus bertanding hingga akhirnya sampai di titik tempat pelari berikutnya. Terima kasih kepada para pelari yang legowo memberikan batonnya kepada pelari berikutnya.

Kendati telah banyak yang menyangsikan; kendati telah banyak yang berhenti berlari; kendati banyak yang berusaha mengganti baton dengan baton lainnya; akan selalu ada orang yang setia membawa lari baton itu.

Akan selalu ada orang yang mengingat pelari terdahulu yang telah tumbang. Akan selalu ada orang yang mengingat mereka yang berlari. Akan ada orang-orang yang memutuskan untuk berlari membawa baton itu kendati mereka tak dibuatkan nomor punggung.

Ya, sudah 67 tahun baton itu dibawa dari generasi ke generasi.  Ada tahun-tahun datang dan pergi. Satu generasi berakhir dan satu generasi lahir. Saya yakin, baton itu akan terus dibawa sampai kiamat. Amin.

Dirgahayu kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merdeka!

That Parting

That Parting

Left Unnoticed

In this evolving world, all  come and go. There are  times when we are the sun. There are  glorious days when we are exalted. There are times when people need us. There are times when we are significance.

Then, there will be a time when we must make a journey. Journey which we will ended up being alone, unnoticed. Some would let not go of the truth by lingering. They would cling unto something they might got. Some would spit on people whom they thought were into them. And some would try to forget that.

There would be times when we prime. There would be times when we should preparing. In those times, lets make ways for the new one. For our time is short in this young earth.

There would be times our children look upon us. They would cling unto us. They would listen to us. Then, they would make their own ways. Suddenly, we are not needed that much anymore. That’s okay, that’s natural.

Parting is a painful process. Not because it is the truth. Not because it is a process of lifecycle. It is because it sets us apart from the world we knew. It’s a lonesome journey.

As people make ways for the newcomers, the old left unnoticed. When the journey must be walked, all that’s left is us and our Creator. Viva la vida.

Reality Hits You Hard, Bro

Reality Hits You Hard, Bro

I Am A Hero!

Once upon a time, there was a time when human making physical interaction…

I found out lately that many people would disconnected from physical world. I know I won’t say that it was reality. Because, reality is something that happened yet it was subjective to what we have perceived. After all, we are mere group of synapses receiving electric signal within our brain.

This all started when I saw a group of little people whom staring to their mobile devices. While one person told a story, a person suddenly laugh. Her friend had put a funny status. Then, there were most the time when they were just idling and texting with their fingers.

Once, pervasive computing was there to have a dream of enhanced reality. They were envisioned as transient tools. They were supposed to be in the background, not distracting humans. Games were produce as a convenient way to kill time. And human supposed to be live outside.

But, why would I live outside?

People are having rat race. Mommy never home. I barely talked to my father. This game is my salvation.

I don’t need anything. I don’t need get bullied at school. I need to connect with my friend. Stop wasting my time. I am king in this world.

What world?

A world that was implemented ever since I was able to have computer in my phone. I don’t remember when, That  was in elementary school. My first handphone and let rest.

END OF THE INTERVIEW WITH THE LAST PERSON ON EARTH WHOM MAKING PHYSICAL COMMUNICATION

Melawan SPAM

Melawan SPAM

Di kerajaan antah-berantah seorang ksatria tengah melawan SPAM. SPAM, sebuah pesan yang tidak diinginkan dengan tujuan merusak. Ia dapat berupa promo produk pembesar alat kelamin pria hingga seorang pangeran dari sebuah negara yang tengah berkecamuk. Ia kadang menyaru bak seorang ksatria piningit yang hendak membetulkan sistem dengan menanyakan sandi kepada rakyat jelata. Yang menarik, ada juga berlaku seakan-akan menawarkan iPod gratis.

SPAM pada masa yang lampau

Dulu, SPAM hanya berupa tulisan cialis dan beberapa lainnya. Dengan menggunakan teknik bayesian sederhana, mereka dapat diberantas. Mereka dapat dikalahkan dengan mudah dengan menggunakan teknik statistika sederhana. Dengan menggunakan SpamAssassin, kita dapat membunuh mereka.

Biasanya, SpamAssassin digunakan bersama dengan antivirus ClamAV dengan menggunakan Amavis.

$ sudo apt-get install spamassassin clamav amavisd-new

SpamAssassin menggunakan Bayesian dan dulu ada SARE (SpamAssasin Rules Emporium) yang rajin menatar aturan-aturan anti-SPAM bagus. Sayangnya, sekarang sudah tak ada lagi. Katanya, lebih baik menggunakan Razor atau Pyzor.

Huruf itu bukan LATIN-1 dan UTF-8 saja, Jenderal!

Sayangnya, saat ini muncul pesan-pesan ninja. Dengan teknik 分身 mereka masuk ke dalam sistem tanpa bisa dibedakan. Admin mana pula yang bisa membaca hiragana, katakana, kanji, rusia, dan berbagai huruf-huruf tak standar lainnya? Karakterisasi penulisan romawi berbeda dengan kanji! Sudah begitu, kita tidak bisa pukul rata.

Dahulu, kita bisa saja beranggapan bahwa surat dengan bahasa Rusia, bahasa Jepang, dan bahasa Mandarin adalah SPAM-SPAM yang menyasar terkirim ke sistem surel kita. Sayangnya, (atau sebenarnya membanggakan, sih, tergantung dari sisi mana dilihat) Universitas Indonesia saat ini menjadi universitas riset berbasis internasional. Banyak sudah mahasiswa asing yang bersekolah di sini. Apalagi, banyak dosen yang kuliah di negara-negara maju yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa percakapan.

Contoh kasus, kami pernah menemukan surel yang menyangkut dengan menggunakan bahasa Thai dari seorang profesor di sana.

Untuk memeriksa surel yang menyangkut, biasanya MTA menyimpan surel SPAM di sebuah direktori dalam format UUEncode. Untuk dapat mengekstraksinya, silakan pasang uudeview:

$ sudo apt-get install uudeview

Untuk menggunakannya:

$ uudeview -i <SUREL_SPAM>

Ah, tapi siapa yang rela memperhatikan surel menyangkut satu persatu? Dalam statistik kami, surel SPAM yang masuk ke MX UI ada sekitar 50% lebih. Wow!

Tidak Ada Domain Spesifik

Hal yang paling telak adalah bagaimana menghindari tembakan teman (friendly fire, bahasa surelnya false positive). Pendekatan yang lazim dipakai selama ini di dalam dunia SPAM adalah menggunakan domain spesifik dan frekuensi kata. Nah, bagaimana jika seandainya di dalam UI terdapat banyak fakultas dengan menggunakan kata-kata yang bisa digolongkan sebagai SPAM?

Domain ui.ac.id digunakan oleh Kedokteran, Farmasi dan juga digunakan oleh Teknik. Maka, cara terbaik adalah dengan menggunakan domain spesifik berdasarkan pengguna. Wow, ada 180 ribuan lebih pengguna di UI. Bayangkan berapa sumber daya yang perlu diberdayakan? Saat ini ada sekitar 16 fakultas, belum terhitung lembaga-lembaga di bawah UI maupun fakultas.

Frekuensi kata juga tidak membantu. Kata-kata seperti universitas, penulis, dan kata-kata lain yang sering digunakan dalam SPAM banyak digunakan juga dalam surat-surat sungguhan. Saya tidak mengerti mengapa mereka menggunakan kata-kata seperti tersebut. Apalagi bila bertemu anti-SPAM masa lalu yang dapat memberi penalti hanya karena penulisan kata “analisis”.

Di hari-hari yang semakin jahat ini penggunaan Bayesian sudah tidak seefektif dahulu. Ia hanya dapat digunakan sebagai pelengkap.

Melawan Penyihir dari Barat

Dalam peperangan saat ini, para admin membentuk aliansi dan membentuk data-data inang yang sering mengirimkan SPAM. Daftar SPAM ini menggunakan sistem pelaporan dari para anggota aliansi. Kemudian, aliansi ini membentuk basisdata yang dapat diakses oleh para anggota dan juga orang-orang lain.

Contoh aliansi terkemuka ada Spamhaus, SpamCop, SORBS, Project Honey Pot, dan SenderBase. Ini belum terhitung lainnya yang dipakai spesifik di daerah tertentu dan beberapa sistem pelaporan yang hanya menggunakan buletin seperti anti-scam.de. Masing-masing dengan kebijakan berbeda.

Penyihir dari Barat tahu kelemahan mereka. Dia menggunakan cecunguk-cecunguknya untuk menginfeksi domain-domain sungguhan. Akibatnya, domain-domain tersebut diblok oleh aliansi-aliansi tersebut. Strategi ini digunakan oleh Penyihir dari Barat untuk menurunkan kredibilitas aliansi-aliansi tersebut.

Ah, entah mengapa masih banyak domain yang tidak mengonfigurasi MX-nya dengan benar sehingga menjadi open relay. Selain itu, komputer-komputer bervirus mengirimkan surel dari klien-klien mereka tanpa diputuskan. Penyihir dari Barat tahu bagaimana cara kerja Internet, namun tidak semua ksatria penjaga tahu.

Contoh nahas adalah domain-domain dari Indonesia seringkali mendapatkan blokade dari para aliansi karena ada satu atau dua domain dalam subnet yang sama menyepam dunia. Bagi Anda ksatria-ksatria gagah berani tentu mengakui beberapa minggu ini domain Anda sering diblokade, bukan? Untungnya UI memiliki ASN tersendiri, sehingga blok IP UI terpisah dari domain ID lainnya.

Contoh nahas internasional adalah Yahoo! Mail. Mereka sering menjadi korban backscatter. Hal ini yang membuat beberapa aliansi memblok Yahoo dan menganjurkan penggunanya tidak menggunakan layanan tersebut. Tentu saja, ini tidak mungkin. Banyak sudah orang yang menggunakan layanan ini dan tidak mungkin pindah ke GMail atau layanan surel lainnya.

[NB: Baru-baru ini Yahoo! tengah memperbaharui infrastruktur surelnya, mungkin dia sudah tak seburuk dulu]

Musuh dalam Selimut

Saat ini sudah ada teknik-teknik yang lebih efektif selain Bayesian seperti SPF dan DomainKey/DKIM yang mampu mengidentifikasi MX yang sesungguhnya. Biasanya teknik SPAM, terutama yang bermoduskan penipuan, menggunakan MX-MX liar yang terinfeksi untuk mengirimkan surel. Ternyata, protokol SMTP tidak mengharuskan domain pada pucuk “From: ” sama dengan domain pengirim. Akibatnya, bisa saja orang dari antah berantah mengirimkan surel sebagai berikut:

From: anakkeren@ui.ac.id
Reply-To: ejakulasi-dini@live.com
Subject: Anak Anda Cacingan?

Anda telah memenangkan Samsung Galaxy Tab 2, segera hubungi kami.

Ini bisa diatasi bila kita memasang SPF atau DomainKey/DKIM pada sistem surel kita. Masalahnya, tidak semua orang tahu SPF dan DomainKey/DKIM. Untuk SPF, tidak ada domain besar yang menganjurkannya  sebagai standar, walau pun sepertinya mereka juga menggunakannya. Berbeda dengan DomainKey/DKIM yang dikenali oleh Yahoo! Mail dan GMail untuk protektif.

Dan, seandainya pun kita bersusah payah memasang ini, ternyata ada juga penusukan dari belakang. Para pengguna yang belum paham keamanan memuat sandi mereka dengan kata-kata gampang, misalnya kata yang sama dengan login dan kata-kata sederhana. Lalu, ada juga teknik pura-pura menjadi admin untuk mencuri sandi pengguna. Akibatnya, sandi mereka tercopet dan digunakan untuk menggunakan virus.

Ah, apa yang bisa dilakukan bila konten terkirim adalah SPAM?

Pasrah dan menghapus SPAM yang tersisa, menghubungi aliansi-aliansi agar melepaskan UI dari daftar blokade, mengganti dengan paksa sandi pengguna, dan istighfar; bisa jadi admin UI banyak dosa sehingga terkena musibah itu. Ugh, paling kesal kalau sudah masuk SORBS, sudah susah daftar, lalu katanya harus bayar US$50.

Omong-omong, akhir-akhir ini Yahoo! Mail memiliki layanan yang baik. Begitu saya lapor, selang tak berapa lama surel dari UI bisa dikirimkan.

Kesimpulan

Jangan kasih sandi ke sembarang orang, admin tidak butuh sandi Anda.

Para Admin, mari bersatu, perjuangan masih panjang! Merdekaaaa….! [OST. Jangan Menyerah — lupa siapa yang nyanyi]

Omong-omong, amankah kalau MAILER-DAEMON kita arahkan ke /dev/null?

Patent Troll

Patent Troll

Patent Troll

Patent Troll, Patentes Troglodytarum, adalah makhluk yang berkeriapan di sekitar jembatan pengetahuan. Ia menghalangi siapa pun yang hendak menyeberang ke pulau inovasi. Senjata utamanya adalah sekumpulan paten tanpa implementasi. Mangsa utamanya adalah ksatria inovator.

Patent Troll, Patentes Troglodytarum, is a creature that lurks in the gate of knowledge. It guards against people that tries to go to the island of Innovation. Its fang is a pool of unimplemented patents. Its main diet is innovator warrior.


Kepada yang terhormat siapa pun yang sedang menggodok Undang-Undang Hak Cipta di Senayan, yang terhormat yang akan menjadi Menkominfo 2014, dan kepada pihak-pihak terkait.

Waspadalah terhadap makhluk ini.

 

Lady in waiting

Lady in waiting

Lady in waiting

Lady in waiting

What if I’m only a side character, the one that died. You know, how the scriptwriter always use the death of a closest friend for the main protagonist as a catalyst for the main protagonist to rise. It’s kinda sad how sidekick would ended up just as a decoration in the end. We would not shine more than the main protagonist
Wait, am I a sidekick? What if I’m the villain? Am I the one that started the whole session? The one that jeopardize the whole people just to be kicked in the end? Am I the one that people would cheered if I died?
Oh, my mind playing tricks on me. Even though I tried hard, I will find there is anyone that higher than me. Even if I have someone to serve me, I still have to bowed to some one else. Should I said that I don’t  care?
Even when you are a lady in waiting, the fact of you are a noble is not fade away. Heck, even you have your own nobility. So, why would you ashamed?
Embrace yourself. A lady-in-waiting is in fact a perfect noble. Don’t be someone you are not, but someone that you feel it fit to yourself. God knows, when you served the tea, when you eased the tears, a perfect someone would want have the honor dance with you. Even he is not a prince. Even if he is not the king himself.
But, he is your king, the one that would stood beside you and fill the castle with love. Is there anything in life you could ever asked when you have someone to grow old with?
—-
This drawing is inspired by Michelle Phan’s youtube channel. When she make up her face, it was like using Photoshop. Inspired me to draw a lady face. Yeah, many detail left as an exercise. Using MyPaint 0.9.1
Hello Narwhal

Hello Narwhal

Narwhal Is Coming

Narwhal and mankind

Once upon a time, there was a place where knowledge were bound to people that have. No man ever had the knowledge. It was leased and taken without man knew what’s what. Until one day in the year of Unity, Narwhal, the descendant of the sea of knowledge came.

She with the gentle knowledge greeted the saints of man and gave them love of knowledge. To share, to study, and to have new one. Those saints adopted the knowledge and spread it around. The knowledge brought many new possibilities of inventions to enhance the way people lives. It gave people abilities and teared down walls.

Get it, share it, spread it. Hello, Ubuntu, GNU/Linux for human beings.

Debunking Myth: Lives of UI Admin

Debunking Myth: Lives of UI Admin

Preface

Every now and then mere mortals tend to think we are some old guys with irresponsible attitude. They would think that we are the one that doing day to day job. They would felt a giant walls when trying to communicate.

We are even depicted as evil grand immortals that grinding from darkness, as one of Blizzard personnel said out of fear:[1]

How could you kill a man without no life?

With the instilled fear, we are often subjected to fear. It took courtesy to be human-like from us. People used to think we are demi-gods. Through this article I would assess every myth that made us looks like a feared, untouched being.

We are working as we sleep

Admin working as we dreaming

Admin works as we dreaming

Imagine if we took down some proxies and upgrade them in, let’s say,  12 o’clock. You, facebookers, would spit us in the face. I imagine if we took down a machine or two where mortals awaken. They would scream and begged, “O, great admins, thou presence is thy grace. Out of angst instill our hope in thy.”

We took time in the night to have jobs done. That’s why you would often have a mislead into thinking that we don’t rest. That we don’t have a dream. That we are engulfed with our world and severe our mortal bodies. Often we are thought as beings that works at daylight and a nocturnal also. Some said that we are “manusia siang-malam”.

That fear also happens when mere mortals often mail us at two o’clock in the morning and hope for their response. They get what they want. And that’s frightening for some, because they would in awe of the awesomeness of our response. In that fear, they would say that we are not a normal being because we don’t sleep.

That’s a false. We too have a place to sleep. We too took our time to close our eyes. To have dreams and enjoy ourselves in it.

We also try to blend in social beings

We do socialize

We do socialize

We also take pride in blend in. Like Dexter father used to say in Session 1, “Dexter, you’ve got to blend in.” We too blend in in the society. We are a group of diverse people, with multi cultural and gender. We don’t discriminate though the fact that we are über being born with great power.

There are times when mortals would seek audience with us and take our name as “Pak”, “Mas”, or any specific label toward men. Though we are one, there are many in us. We took form also in women. So, addressing gender specific to us is a prejudice you, mere mortals, tend to do.

You see, we too take our time hanging around in coffee shop. Took time to know mere beings and seeing their frailty. We also helped through the hands of Faculty admins. We spoke each other casually like other beings.

We too have affection

Affection

Admin criterion

We too have affection towards other. Like mere mortals, we have criterion for our mates. We too don’t want bad apple. Could you spend the rest of your life with someone who totally incompatible?

No, just like you, mere mortals, we take decision carefully. We have our enjoyment of having the right person. Our time is unlimited, as we are deemed to have no lives; how could you be dead if no lives in you?

We have our ideal person

We too have love

We too have love

That’s why we too have our type of someone we like. Like a saying, “there is a fetish for every part of body,” we have many ideal person as our companion. We don’t discriminate, as long as the person reliable and scalable, we don’t see any preference.

I guess because of the experience from long ago that some of us may want to have a specific person. But, that’s personal as we are one, we are also diverse.

Conclusion

We have loves, we have criterion, we are tolerable, and we too have time to sleep. Thus, we, Admin UI, are normal.

Q.E.D.

 


  1. SouthPark, eps. 1008. Make Love, Not Warcraft. 2006. ^
The Severe Consequence of Miss Communication

The Severe Consequence of Miss Communication

Miss Communication

Miss Communication

You would think that you are in the spot.

Every eyes are on you and the world suddenly is your responsibility.

You are suddenly the chosen one, a hero of justice.

Your benevolence made you proud that you have became chauvinistic.

As you part with your old self,

you wage a war against those who oppose you.

You think what they’ve done is unmistakeably mad.

You have had enough of enduring the suffer, it’s judgement time.

Not knowing by you,

the enemy also think the same think

You wouldn’t knew it from the start

because you cut your communication link.

 

Now, tell me, who’s winning this war?

Cause I could only see that both of you died.

Career Path
Workers and Goal

Career Path

Workers and Goal

Workers and Goal

As soon as a baby born in this world. The person get burdened by the parents desire. They want their child to be something. They give everything it takes to make the person to the top.

As the baby grows, the toddler left with its nanny. Two of its beneficiaries are on job ensuring they would have best world. The toddler got its first lesson of loneliness.

The two beneficiaries think that the toddler could not compete. It has to have best education. So, the beneficiaries took the toddler to pre school and gives the toddler the “best” education.

We ought to have the ability to read before entering elementary school, so the beneficiaries thought. Then, they give every lessons that matters to the toddler. They give swimming lesson, music lesson, and many more lessons. They ensure the best nutrition for the toddler.

It has anything that its development need but love; a pat in the head and words saying, “I love you, child”.  The second lesson of unwanted.

It’s now already six years old and running well in the elementary. It compete with other toddlers.  Each of them have their beneficiaries walking over hell just to bend them good. So, they were also enhanced in the early.

The competition is fierce. Many of those were lose the light and decided to kill themselves. Some going on strike with their lives. Some plunge themselves into drugs. Some strangled themselves in negative environments. Some walking on limbo.

The toddler isn’t one of them. It has reached the goal and now striving into university. It’s beneficiaries were so lucky. They decide to invest their investment on a career path that they think best for its own goodness.

The toddler wants to have fun. But, what is fun? The toddler isn’t quite get it. It never learns to have it.

No dreams from the past have in its heart. It doesn’t even have a heart that shines like it used to. The third lesson is to throw away dream.

It now have its path on the way that the beneficiaries think. After all, it survives from the harshness of its little heart. It now has the ability to kill all the yearning.

It sets on one thing: money. Yeah, it doesn’t need happYness. It doesn’t need good sleep. It doesn’t have to have loyalty or good things. It just need to live.

Well, have the toddler asked itself, what’s the use of years of living for? I guess it would have that in the end.

Do you have to be smart to be happy?

Do you have to have everything just to smile?

Do you even know how to live?

Toddler?

Internet Distraction

Internet Distraction

Internet Distraction

Internet Distraction

Once upon a time there was a young brave warrior who fought gallantly through the Internet. The warrior sought not for fame. Nor has taken interest in fortune. To quench the thirst for knowledge was his heart had.

Bestowed by a divine lady of the lake, the warrior was tasked to go to Google Docs. With research proposal in mind and a handful of TODO list in hand, the warrior open up the browser. Not knowing what ahead, the warrior had take part in the holy crusade, journeying through the night.

Suddenly, the witch from west appeared. Like a poisonous snake, the raven cast a spell.  Before chanting, the raven witch  spoke,

“Thou art thought of Great Will. How impudent thou pure soul. We shall cast thou a binding. Thou shalt not spake future.”

The raven witch placed rap, death, and original runes. Unknown to the warrior, the witch had chanting a powerful spell. So powerful that the spell also ate the poor witch mind in the process, controlling the witch’s mind with madness. With blood lusted  mind, the raven witch cast the “Friday” spell.

The spell opened the portal to other world. It unleashed beasts. Those made the road with unsighted view. The blue flame bird, known for its little chanting ability breathing its links with other monsters. The evil Plurkers, was lurking from the dead road trying to find forever alone. Ray monster carrying a tube like letter “u” prying on poor man’s eye. Captivated by those monsters, many of the companion was falter.

The most evil of them was not a living thing. Or so we thought. The warrior must fought against the will of the book of Face. It cursed its bearer with many distraction spell. It was originally made with mermaid bloods. The pages was made from succubus’ skin. It ate the victim’s time. The bearer would be sucked; the book was sipping the life out of the poor soul.

Thus, came the morning and the holy task was a big fail. The warrior stood and cried. Unfortunately, that was too late.

Restoran dan Semua Yang Ada

Restoran dan Semua Yang Ada

Pengunjung, Pemilik, dan Anak Pemilik Restoran

Pengunjung, Pemilik, dan Anak Pemilik Restoran

Ada banyak pengunjung yang senang mengunjungi sebuah restoran. Alasan utama mereka pastinya karena kebutuhan mereka terpenuhi. Pelayanan yang disediakan restoran tersebut memuaskan. Kita dianggap tinggi di dalam restoran tersebut.

Banyak yang berkunjung untuk menu-menu istimewa yang tak dijumpai. Apalagi bila restoran tersebut menyediakan harga yang sangat terjangkau. Pastinya, lebih banyak orang yang berkunjung. Kantong-kantong yang bergemerincing pun berkunjung.

Cuma, ketika sebuah api menyala dan mulai membakar restoran tersebut. Semua orang berlarian ke luar menyelamatkan diri. Sambil membawa barang masing-masing, mereka mulai panik dan histeris.  Mereka yang lapar segera bergegas ke restoran lainnya dan berusaha melupakan kebakaran tersebut.

Dengan wajah terpesona, termangu, bahkan sedih, pengunjung yang lain memutuskan untuk lihat dari luar. Beberapa bingung dengan membuat berbagai spekulasi mengenai penyebab kebakaran. Yang lainnya bersedih, mereka membayangkan bagaimana nasib para pekerja restoran itu. Mereka juga sedih karena tempat makan mereka hilang.

Empati mulai bermunculan melihat sang pemilik mulai memadamkan api. Dari luar restoran, mereka berharap agar pemilik restoran pergi keluar dan meninggalkan restoran yang terbakar. Tak ada seorang yang berani membantu. Apalagi, api sudah semakin membesar.

Frustrasi itu ternyata tidak menghinggapi seseorang. Berbeda dengan yang lain, ia tidak berlari keluar. Ia justru segera mencari ember untuk diisi air. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha memadamkan api. Bahu membahu bersama pemilik restoran, ia mencari cara.

Gagahnya api tidak memadamkan semangatnya. Dengan tekun ia mencari sumber air. Tergopoh-gopoh, berlekas-lekas, dan dengan teliti ia menyiram air dalam ember ke sumber-sumber api. Sumber api yang bisa dipadamkan segera dicarinya. Sampai datang pemadam kebakaran memadamkan api, ia tetap terus memadamkan api hingga padam benar.

Hinggaplah kebingungan di antara pengunjung yang lain. Bertanya-tanya tentang gerangan orang ini. Yang rela bersama sang pemilik memadamkan api. Ketika ditanya, orang tersebut menjawab, “restoran ini milik ayah saya. Kami hidup dari sini. Puluhan tahun kami membangunnya.”

Indonesia, milikmukah?