Category Archives

226 Articles
The A Team (2010)

The A Team (2010)

Disclaimer: Jangan membanding-bandingkan dengan yang lama.

Huhuhu… tapi untuk yang sudah pernah nonton yang lama, cukup jadi beban pikiran juga untuk tidak membanding-bandingkan. Baiklah, menurut saya, hanya tokoh Face yang saya cukup acungi jempol sesuai dengan orangnya: seorang flamboyan seperti Cassanova. Tokoh B.A. kalah jauh bila dibandingkan dengan Mr. T (pemain aslinya yang juga seorang olahragawan di WCW). Kolonel Hanibal malah jadi kalah bersinar dengan Face bila dibandingkan dengan seri lamanya. Seperti biasa, Murdoch tampil dengan kegilaannya.

Beberapa penyesuaian dilakukan agar  tidak seperti filmnya. Mereka bukan lagi mantan sebuah unit perang Vietnam yang dijebak, melainkan pasukan Ranger yang dipimpin oleh seorang kolonel. Ini tentunya agar film ini lebih modern. Bayangkan, berapa usia mereka sekarang bila mereka adalah veteran perang Vietnam? Perubahan yang terjadi juga adalah kebiasaan menidurkan B.A. yang langsung disuntik. Padahal, dahulu biasanya dia dikasih makanan yang mengandung obat tidur.

Film ini menarik untuk ditonton.

Peringatan saya untuk film ini: Jangan beranjak sebelum filmnya benar-benar habis. Ada sesuatu yang menarik setelah credit title.

Edukasi dan Dunia Nyata

Edukasi dan Dunia Nyata

Dalam [1], ditemukan bahwa selama ini fundamental Ilmu Komputer sering kali mengajarkan asumsi yang salah, contohnya algoritma Heap. Menarik sekali bagaimana dibahas bahwa apa yang dibahas puluhan tahun di Ilmu Komputer, sudah tidak relevan lagi.

Ada yang bilang bahwa pendidikan di Indonesia untuk menyiapkan mahasiswanya untuk siap kerja, bukan siap untuk bersaing. Bersaing itu artinya mau berinvestasi. Bersaing itu berarti memikirkan efek jangka panjang. Bersaing itu artinya bisa bertahan, bukan cuma diam di kantor dan terima gaji tapi riset.

Ada yang bilang bahwa pendidikan sekarang membunuh karakter. Seorang pemadam kebakaran dicerca guru SMA-nya karena ia ingin jadi pemadam kebakaran. Bertahun kemudian, sang guru diselamatkan oleh orang tersebut. Satu dari kasus sukses pembangkangan terhadap pendidikan formal yang memberi nilai tinggi kepada para ekonom dan ilmuwan, tetapi tidak untuk musisi dan pelayan masyarakat.

Bagaimana menurut saya?

Pendidikan formal saat ini adalah sarana yang baik untuk membangun cara berpikir empiris. Seseorang akan dibangun untuk berpikir dengan logika formal, yakni menggunakan alasan yang benar dan mempertanyakan asumsi. Hal ini sesuai dengan sebuah ucapan yang menjadi dasar untuk filsafat: “Semakin aku tahu, semakin aku tahu bahwa aku tidak tahu”

Kendati sebuah ilmu dibangun secara empiris, dibuktikan error confidential level 0,001, masih ada 0,001% yang bisa menjadi corner case yang membuat sebuah argumentasi valid menjadi tidak valid. Dalam hal ini, sekali pun seseorang ilmuwan adalah puritan logika, ateis, dsb., namun dalam implementasinya ia akan tetap pada suatu titik mengandalkan iman/insting. Selayaknya ilmu manajemen yang bilang bahwa tidak ada yang pasti selain ketidakpastian itu sendiri, maka akan selalu ada yang namanya iman.

Mengapa demikian?

Ilmu fisika sederhana mengajarkan mengenai dasar dari iman tersebut. Bagaimanakah cara kita melihat seseorang yang mendorong pintu? Menurut ilmu Fisika, gaya dihitung dari jumlah gaya yang terlibat di dalamnya atau yang disebut dengan gaya resultan. Gaya resultan dihitung dengan misalnya dengan gaya dorong, friksi pintu dengan lantai, friksi pintu dengan dinding, tekanan udara. Tapi, sebenarnya ada gaya lain yang turut bekerja yang karena dianggap tidak signifikan, tidak diikutkan dalam perhitungan.

Sebuah anomali dapat terjadi apabila gaya yang tak terhitung itu ternyata berpengaruh. Seandainya tekanan angin memberikan 0,001% revisi gerak, maka pada suatu titik hal tersebut menyebabkan perubahan gerak yang mungkin kurang signifikan. Tetapi, pada satu waktu hal tersebut menyebabkan kegagalan, terutama untuk operasi-operasi yang membutuhkan presisi tinggi. Bukan itu saja, terkadang perubahan yang tidak signifikan itu menyebabkan efek longsor salju (avalanche effect) yang menyebabkan perubahan kecil tersebut teramplifikasi beribu-ribu kali.

Aduh, ini sebenarnya mau bikin entri yang ringan sebelum entri yang agak berat. Kok, jadi terasa berat, yah?

Ilmu adalah sebuah dasar untuk berpikir logis. Ilmu adalah sebuah kajian yang  mengisolasi masalah sehingga dapat dipecahkan. Dunia nyata adalah sebuah fungsi komposit dari berbagai masalah. Terkadang sebuah masalah hanya sebuah komponen konstanta, tetapi sering kali juga ternyata merupakan sebuah fungsi yang perlu diperhitungkan. Itulah sebabnya, sebagai orang yang semakin tahu, kita justru semakin tahu bahwa kita tidak tahu apa-apa. Seperti ilmu padi.

[1] Poul-Henning Kamp. http://queue.acm.org/detail.cfm?id=1814327

Perlindungan Privasi

Perlindungan Privasi

Topik “Ariel Peterporn” telah menjadi sebuah trending topic selama 9 jam. Begitu terkenalnya bahkan artis-artis di Amerika memberikan komentar mengenai topik tersebut. Menkominfo bahkan mengecam ketiga orang tersebut bakal terkena pasal 27 ayat 1 UU ITE 11 2008. Ketiga orang tersebut kehilangan muka dan ada yang sampai kehilangan pekerjaan. Sudah jatuh tertimpa tangga, ketiga orang tersebut dikecam ramai-ramai oleh masyarakat.

Tapi, tidakkah terpikir bahwa mereka adalah korban? Mereka bisa kehilangan masa depan, keluarga mereka malu, dan bahkan secara psikologis mereka terluka. Padahal, video-video yang beredar di Internet adalah video untuk konsumsi pribadi (kalau pun benar sekiranya itu video asli).

Benar atau salah perbuatan mereka adalah hak masing-masing individu dan relatif. Tetapi, telah terjadi pelanggaran hak azasi ketika ada seseorang/organisasi yang tanpa persetujuan pemilik data, mengedarkan dan menampilkan data tersebut. Padahal, data tersebut diperoleh dengan tanpa persetujuan dari pemilik data. Bukankah ini sebuah tindakan kriminal?

Berarti, boleh, dong, di masa mendatang ada seorang penjahat kelamin memasang kamera tersembunyi di kamar mandi cewek lalu mengedarkannya ke Internet. Toh, yang kena adalah si cewek yang kebetulan adalah seorang santri yang mau jadi ustadzah.

Tentunya privasi bukan cuma berbicara mengenai pornografi. Saat ini, terjadi perilaku yang tidak sehat oleh bank, institusi telekomunikasi, dan vendor-vendor yang telah menjual/membuka data kliennya kepada pihak ketiga. Padahal, data tersebut diberikan hanya untuk institusi tersebut dalam rangka kepentingan tertentu.

Contoh pelanggaran lain (selain kasus video) yang saya sering temui:

  1. Adanya tawaran berlangganan sebuah SMS layanan kepada pemilik nomor dari sebuah perusahaan telekomunikasi.
  2. Adanya penawaran program asuransi oleh sebuah institusi asuransi.
  3. Pembeberan status seseorang di dalam portofolio perusahaan tanpa persetujuan orang tersebut.

Di manakah perlindungan negara terhadap hak warga negaranya? Apakah dasar hukum mengenai Non-Disclosure Agreement (NDA) dan privacy policy? Bagaimana seorang warga negara dapat menuntut haknya untuk pemulihan nama baik?

Sudah saatnya Indonesia memiliki UU Privasi dan menerapkannya untuk melindungi seseorang!

Atau, jangan-jangan sebenarnya sudah ada? Wahai pembaca blog, komentar Anda saya minta, terutama yang Anda yang bisa menerangkan secara hukum. CMIIW.

Pemahaman Komputasi Pervasif dalam Mempertahankan Budaya Nasional

Pemahaman Komputasi Pervasif dalam Mempertahankan Budaya Nasional

Teknologi seperti telepon pintar, iPad, smart space, dan berbagai gadget yang saat ini berkembang merupakan hasil dari sebuah bidang ilmu: komputasi pervasif (Pervasive Computing). Pertama kali dicetuskan oleh mendiang Mark Weiser dalam visinya di [1] dengan istilah ubiquitous computing. Ide dari visinya adalah membuat komputer “menghilang”, bukan sekedar mengecil dan bisa dibawa-bawa. Komputer melebur dengan lingkungan sekitar; memperkaya perilaku lingkungan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan manusia yang ada. Komputer sebisa mungkin tidak mengganggu/menginvasi manusia dengan keberadaannya (unobtrusive), tetapi di latar bekerja membantu manusia. Sehingga, manusia bisa berkonsentrasi terhadap aktivitasnya.

Kalau kita lihat di [2], tidak ada sama sekali disebutkan Indonesia. Hal ini berbanding terbalik dengan justru maraknya penggunaan teknologi ini terutama di kota-kota besar. Akibat dari sekedar mengimpor, budaya Indonesia juga mengalami degradasi dan kehancuran. Perilaku budaya urban buka terasimilasi tetapi terinvasi. Budaya-budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya lokal mendominasi budaya lokal. Maka, jangan heran budaya nasional yang berdasarkan budaya daerah hanya akan menjadi legenda di buku-buku teks PPKn.

Mengapa demikian?

Jika dilihat dari ide awal dari Komputasi Pervasif, sebenarnya ia tidak melulu berbicara tentang teknologi elektronik. Justru, yang menjadi titik pembelajaran dari Komputasi Pervasif adalah tingkah laku manusia. Perilaku manusia berbicara mengenai komponen-komponen yang menarik seperti:

  1. Apa saja masalah yang dihadapi/tujuan dari manusia?
  2. Bagaimana cara manusia mencapai tujuannya?
  3. Perkakas apa yang dipakai manusia untuk mencapai tujuannya?
  4. Aturan/norma/kebiasaan apa yang dibuat manusia untuk beradaptasi?
  5. Dan berbagai hal dalam psikoanalisis atau pun antropologi.

Abstraksi-abstraksi sederhana yang menjelaskan tingkah laku manusia ini jelas sekali dibatasi oleh lingkup spasial. Suatu masalah umum yang dihadapi oleh manusia diatasi dengan cara berbeda tergantung pada lokasi tempat masalah itu dihadapi. Hal ini dikarenakan setiap lingkup spasial memiliki karakteristik (misalnya: kontur tanah, sumber daya alam yang tersedia, kondisi air tanah) berbeda.

Contoh sederhananya adalah makan. Ada masyarakat yang menyediakan wadah untuk setiap orang. Ada juga yang menaruh dalam sebuah wadah besar dan kemudian sekeluarga secara bersama-sama makan dari wadah tersebut. Ada yang memilih untuk memakan langsung makanannya dari tempat pemasakan. Ketiga contoh tersebut unik dan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Apa yang terjadi ketika budaya nasional terinvasi oleh budaya asing?

Ketika era industrialisasi menyerbu Indonesia, masyarakat Indonesia diperkenalkan dengan wadah plastik dan styrofoam. Harga pembungkus yang mudah terbakar ini sangat rendah jika dibandingkan dengan bahan lainnya. Keuntungan ini membuat masyarakat memilih untuk menggunakan wadah ini untuk makanannya.

Sayangnya, masuknya teknologi ini tidak disertai dengan perubahan perilaku masyarakat Indonesia.

Kecenderungan untuk membuang sampah ke alam secara sembarang merupakan perilaku yang dianut semenjak nenek moyang. Manusia Indonesia terbiasa dengan menggunakan dedaunan sebagai wadah. Dari generasi ke generasi dibangun sebuah pengetahuan mengenai sampah yang menjadi humus. Sampah yang dibuang sembarang itu diubah oleh alam menjadi pupuk kompos. Justru, sampah itu kembali ke alam sebagai nutrien yang menyuburkan.

Plastik bukanlah dedaunan! Perilaku tradisional demikian justru membuat tanah mengalami degradasi. Sisa plastik yang dibuang justru menjadi racun dan merusak aliran air. Banyak tanah yang tak laik lagi untuk ditumbuhi dan aliran air yang tersumbat sehingga menimbulkan banjir. Dari kedua hal tersebut, timbul efek domino seperti kelaparan, penyakit, kekeringan, dan bahkan problema sosial seperti hilangnya jaminan keamanan di lingkungan tersebut akibat banjir.

Teknologi adalah alat

Teknologi adalah alat merupakan prinsip dasar dari komputasi pervasif.

Jika digambarkan seperti SDLC, sebuah pemenuhan kebutuhan manusia (pemecahan masalah) merupakan sebuah proses iterasi dengan mempertimbangkan iterasi sebelumnya. Proses pemecahan masalah adalah sebuah pengembangan dari solusi yang telah ada untuk masalah tersebut. Ia bukanlah sebuah proses baru yang terlepas, berdiri sendiri, atau pun dibangun dari nol. Ia sebisa mungkin merupakan peningkatan dari solusi sebelumnya. Itu sebabnya ia tidak mengganggu (obtrusive) dan penambahannya bersifat transparan.

Itu sebabnya, pembelajaran mengenai perilaku masyarakat di sekitar untuk memenuhi kebutuhannya menginspirasi penemuan-penemuan di bidang komputasi pervasif. Hal ini justru berbanding terbalik dengan stigma yang berkembang di dalam masyarakat yang menyatakan bahwa budaya tradisional merupakan sebuah budaya yang usang. Budaya tradisional tidak menjawab tantangan zaman dan mengungkung manusia dalam kekurangan.

Jika kita mau jujur menilai, saat ini terjadi penurunan kualitas manusia. Tingkat stres justru lebih tinggi di perkotaan. Secara bertahun-tahun, masyarakat Dayak memenuhi kebutuhannya dari hutan secara tidak berlebihan. Namun, saat ini kondisi hutan hujan Indonesia dan kebakaran hutan turut menyumbang konsumsi karbon ke atmosfer yang berakibat terjadinya perubahan iklim. Sungai di kota besar seperti Jakarta jangankan bisa diminum, untuk dapat dilewati saja pun sudah tak layak. Bisa jadi, tinggal tunggu waktunya menunggu degradasi sampai pada titik yang menyebabkan kegemparan.

Budaya tradisional secara ketat telah menjaga kelangsungan hidup selama beratus tahun. Walau pun ada kekurangannya, setiap budaya lokal menjawab permasalahan dalam lingkup lokal. Dibangun dengan pemahaman lingkungan sekitar, pengetahuan ini disempurnakan dari generasi ke generasi menjadi sebuah hukum adat. Penyesuaian sesuai dengan lingkup lokal inilah yang menjadi tempat Komputasi Pervasif bermain.

Kustomisasi = Personalisasi= Lokalisasi Pemecahan Masalah

Hmm… tulisan ini sebenarnya hendak menjelaskan dengan bahasa ringan. Kok, jadi berat, ya?

Sebenarnya maksud dari tulisan ini adalah untuk memperkenalkan filosofi Komputasi Pervasif kepada khalayak ramai. Penelitian mengenai bidang ini tidak ada di Indonesia. Padahal, produk-produknya sudah ada di pasaran. Masalah-masalah sosial di Indonesia saat ini, penentuan kebijakan yang benar dapat dipecahkan dengan memiliki asumsi dasar yang dimiliki oleh dunia Komputasi Pervasif.

Kayanya budaya Indonesia justru menjadi kekuatan dalam membangun aplikasi dan peralatan canggih. Bisa jadi, ada di antara beribu-ribu budaya yang bhinneka ini, sebuah solusi untuk masyarakat modern dapat dikembangkan. Solusi yang selama ini mungkin terpatri oleh budaya Barat, ternyata secara bijak dapat dijawab lebih baik oleh kebudayaan lokal Indonesia.

Mengembangkan Komputasi Pervasif di Indonesia

Hal pertama yang perlu dilakukan dalam mengembangkan Komputasi Pervasif di Indonesia adalah  membuang jauh arogansi keilmuan. Seperti kedokteran Barat yang menerima dengan malu-malu ilmu akupunktur, saat ini penelitian di Indonesia yang melibatkan multidisiplin  ilmu masih kurang (kalau tak bisa dikatakan tidak ada). Padahal, lab Komputasi Pervasif adalah sebuah lab yang menggabungkan ilmu eksakta (komputer, teknik)  dengan ilmu sosial. Sebagai contoh, MIT dengan [3] memberikan slogan pada labnya sebagai “Pervasive, Human-centered Computing”. Hal ini berimplikasi kepada keluaran teknologinya yang justru untuk memperkaya kehidupan manusia.

Nokia baru mengganti slogannya pada tahun 2007 menjadi “connecting people” [4], tetapi teknologinya sudah ada semenjak puluhan tahun yang lalu. Kesadaran akan perlunya pemahaman tentang manusia baru terjadi akhir-akhir ini. Ada dua hal yang dapat diimplikasikan:

  1. Teknologi Saat Ini Cacat
  2. Kita belum ketinggalan.

Menurut Anda, apakah teknologi saat ini membuat cara kerja manusia menjadi lebih baik? Sebagai contoh, fenomena yang terjadi saat ini adalah banyak orang yang meng-SMS temannya ketika sedang berdiskusi kelompok. Sudah terbiasa di kalangan muda untuk memainkan HP-nya sambil mendengarkan temannya berbicara. Ada juga kasus lain ketika ada orang secara fisik bertemu satu sama lain, tetapi alih-alih menyapa keduanya malah asyik ber-SMS. Kasus lainnya adalah semakin banyak orang tenggelam dengan dunianya sendiri tanpa memperhatikan lingkungannya. Dengan bermodalkan ear phone dan HP zaman sekarang, hal tersebut bisa dilakukan.

Saya tidak ingin menyimpulkan benar atau salah. Seperti falsafah yang dianut oleh Komputasi Pervasif, setiap kesimpulan/jawaban atas masalah merupakan unik untuk solusi untuk lokal tertentu. Perilaku demikian benar atau salah adalah sebuah kesimpulan subyektif. Norma berlaku pada lingkungan yang berbeda juga berbeda satu sama lain. Tetapi dalam khasanah budaya nasional, apakah perkembangan demikian dapat diterima?

Budaya dan teknologi bukanlah bagian terpisah. Sudah saatnya dipelajari secara bersama dengan manusia sebagai subyeknya, bukan obyek.

Tulisan ini merupakan bagian awal dan saya berencana untuk menulis lebih lanjut mengenai topik apa saja yang sedang berkembang atau pun bisa dikembangkan di dalam Komputasi Pervasif. (dengan bahasa yang lebih manusiawi tentunya)

Referensi:

[1] Mark Weiser, The Computer for the 21st Century, SciAm <http://www.ubiq.com/hypertext/weiser/SciAmDraft3.html>

[2] Wikipedia, List of ubiquitous computing research centers, Wikipedia <http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_ubiquitous_computing_research_centers>

[3] MIT Project Oxygen. MIT <http://oxygen.csail.mit.edu/>

[4] Versa Creation. Versa <http://www.versacreations.net/advertising/166/business-slogan-35-connecting-people/>

Film Prince of Persia: Sand of Time

Film Prince of Persia: Sand of Time

Sewaktu DOS merajalela Digger, Pacman, Alley Cat, dan Frogger memenuhi tempat disket di rumah. Tetapi, Prince Persia (DOS) membekas di hati sebagai permainan RPG yang paling hebat, sulit, dan mengesalkan. Saya pun sudah lupa berapa tingkat harus dilewati, tetapi yang teringat oleh saya adalah seorang karakter 2D berusaha melompati dungeon dan mati tertusuk di bawah, ha… ha… ha….

Kini Prince of Persia menjadi film berdasarkan trilogi 3D-nya. Yang pertama saya tetapkan dalam hati adalah jangan terlalu mengharapkan Film yang diadaptasi dari game. Berbagai judul seperti misalnya Street Fighter, House of The Dead, dan Doom seperti dihancurkan reputasi legendarisnya ketika dibuatkan filmnya. Memang, ada pengecualian seperti Resident Evil 1 dan 2. Tetapi, cerita yang terakhir (nomor 3) mengecewakan dan berusaha keluar dari cerita sebelumnya. Oh, satu lagi film yang bagus: Silent Hill. Hmm… mungkin tidak semua film adaptasi game gagal, yah?

Hal yang menarik dari film Prince of Persia: Sand of Time adalah keterlibatan pencipta game-nya dalam proses produksi film. Mungkin ini yang membuat film ini menjadi menyenangkan untuk ditonton. Hal yang perlu diingat lagi saat menonton film ini adalah ini film buatan Disney! Jangan mengharapkan adanya adegan realistis seperti orang kebacok dan mati. Atau saat tertusuk keluar darah. Atau… ups… lebih baik tonton sendiri….

Mungkin karena ini adalah sebuah  film pop, cerita yang sebenarnya kelam terlihat kurang suram. Beberapa adegan asmara, tapi nanggung karena ini film Disney, disisipkan. Tapi, setelah saya berbincang-bincang dengan beberapa rekan, perkataan asmara itu yang diingat oleh rekan wanita. Wanita pemeran putri yang berlogat British itu terlihat biasa-biasa saja waktu pertama kali. Tetapi, kemampuan aktingnya membuktikan bahwa dia memang pantas untuk menjadi seorang putri. Putri dalam budaya film pop! 😀

Beberapa adegan mengingatkan saya kepada gerakan Aladdin di zaman Sega. Tetapi, gerakan aksinya, ugh, mengingatkan saya kepada Altair. Saya pikir ini film Assassin Creed. Tapi, mengingat kedua game ini berasal dari perusahaan yang sama (Ubisoft), mungkin saja sengaja dibuat demikian karena hendak dibuatkan game untuk film ini dengan menggunakan engine Assassin Creed. Biasalah… kalau franchise dibuat pasti dengan perencanaan ke arah sana. Apa lagi, teknologi trilogi game 3D dari Prince of Persia sudah 5+ tahun yang lalu. Kala itu slow motion engine yang membuat karakter bergerak seperti film Matrix menjadi sebuah inovasi yang luar biasa.

Ya, film ini adalah film yang bagus untuk ditonton.

Yang pasti, film yang sedang ditunggu-tunggu adalah Warcraft. Mana, yah?

Good User Interface Splats Bugs!

Good User Interface Splats Bugs!

You know, I have 30 drafts of unpublished blog entry. That’s because I don’t have enough time to edit. So, now I will try to make it simple without any reference or anything foolproof-friendly. Well, it’s their fault of being lazy, not to google, nor not following technological blogs. As for you, my good readers, may this open you to your own path of good mental of creating great tools.

Someday, may be I will tell the logic. May be… :DWe are challenged to create smart systems. We creates techniques like statistics (Bayesian, Hidden Markov Chain, etc.), Machine Learning (back propagation, etc.), extended logic (fuzzy logic, ternary logic, etc.) to predict what the user want. We try to provide adaptive preferences to provide smart environment. We want to eliminate user’s involvement. We want to create pervasive computing.

We may have an automated and adaptive system, but a good user interface perfects the system.

Take a look of Apple. Instead of using descriptive log dumped on the terminal, we have a computer icon playing dead. It doesn’t need any explanation and surely to send an error report that most likely will be discarded by the developer is a waste of time. Just put that icon to say: restart your computer. Elegant.

Facebook is the most notorious web place that resource hunger. The use of AJAX making this site look personal. Take a look at photo album. It loads longer than other because it try to cache the rest of the photo. But, hey, people wouldn’t complaining as long as that rotating circles tells them that the site is loading.

Windows effectively use “Refresh Desktop” menu item to convince many people that it is really useful to make system responsive. There is no use of refreshing your desktop. Toolkits by default repainting your desktop in microseconds. It is your system that suffer from bad library. But, hey, people buy this concept. They wouldn’t mind waiting if the refresh button there.

You see, many systems hide their flaw with good user interface. A good user interface also can protect the system fron abusive user behavior. This abusive behavior is expected because of the unknown status that the user face. Her anxiety and frustration would likely drive her to do unfavored actions.

All in all,

In expecting the unexpected, aside from good system architecture design, we also must consider of using good user interface to handle it.

Iseng-iseng Tak Berhadiah

Iseng-iseng Tak Berhadiah

Teman saya, Tonny, adalah penggemar berat dari si Niwat0ri. Dia mendapatkan buku yang dipesan dari blog. Katanya bertanda tangan. Hmm… kepingin iseng bikin halaman Facebook “Gerakan 2.000.000 Facebooker memesan Chicken Strip lewat situs”. :)) Omong-omong, dia meracuni saya dengan Chicken Strip dan tinggal tunggu waktunya Chicken Strip masuk ke Feedly saya. (Wogh, kesannya Feedly saya itu sangat berharga… hahaha….)

Yang saya sukai dari Chicken Strip adalah komik ini dibuat dengan menggunakan perangkat lunak terbuka dan bebas atau yang lebih dikenal dengan Free/Libre/Open Source Software (FLOSS) atau singkat FOSS. Karena itu, dia menjadi salah satu tautan di blog saya. Saya salut dengan dia yang bisa menggunakan Inkscape dan GIMP secara profesional.

Iseng-iseng yang kedua adalah tautan. Ketika saya menautkan profil saya di beberapa situs sosial, teman saya juga iseng-iseng membicarakan tentang Alexa. Sejujurnya, saya menghindari semua yang berbau SEO. Ada beberapa alasan bagi saya untuk menghindari SEO:

1 SAMPAH

Situs SEO cenderung menyampah dan membuat informasi sebenarnya terkubur dalam hasil pencarian. Informasi jadi sulit didapatkan. Kalau memang sebuah situs memiliki konten berharga, secara natural ia akan terdongkrak tanpa perlu menggunakan steroid.

2 PEMBAKUAN JEJARING (Web Standards)

Situs terbaik yang saya tahu adalah IBM.com, tapi dia tidak masuk Webometric dan tak terpajang di dalam kontes SEO mana pun. Padahal, situs yang baik adalah situs yang bisa setidaknya serupa dengan IBM.com. Ada banyak alasan mengapa IBM.com yang terbaik, beberapa pernah saya bahas di sini.

3 KESOPANAN

Ketika zaman di mana situs Geocities adalah situs pribadi terbaik (saya di Area51), privasi merupakan hal yang penting. Walau pun SPAM masih terminologi yang jarang, tetapi orang-orang pada saat itu sudah mengenal kesopanan (RFC 1855). Situs-situs mengenalkan dirinya dengan mendaftarkan secara akurat pada direktori umum. Bandingkan dengan situs beberapa situs SEO yang secara tidak sopan meninggalkan tautan dengan tidak benar.

Ironisnya, di Alexa saya dapati bahwa situs saya yang lain:  😆

[Penebalan saya yang berikan untuk menjelaskan mengapa saya tertawa lepas siang ini….]

Ranking saya sekitar 6,745,938. Lumayan — kata teman saya, saya sih tidak tahu– untuk situs yang sudah lama tak terurus dan kurang kerjaan….

Ah, tampaknya bercandaan ini harus dihentikan, seseorang ada yang mengajak makan siang. Yuk, tertawa.

[DISCLAIMER: Ini adalah entri becandaan sebelum entri terlalu serius.]

Great Teaser from CompFest 2010

Great Teaser from CompFest 2010

Fakultas Ilmu Komputer saat ini sedang mengadakan CompFest 2010. Yang menarik untuk ditulis dari CompFest 2010 ini bukan kegiatannya. Tetapi, saya suka dengan teaser yang mereka buat.

Teaser ini menggunakan tema permainan retro. Mereka menggunakan metode Post-It animation. Butuh kesabaran untuk menempelnya. Seperti claymation, animasi didapatkan dari bingkai-bingkai foto.

Sad Ending

Sad Ending

I’ve just heard the news, Sri Mulyani stepped down from Minister of Finance. I hate it! Why good people always victimized by this country’s rotten politics system? Why Century case only pointed to Sri Mulyani and Boediono as if they were the main culprit?We owe Sri Mulyani a lot! She put Indonesia on a stable state and kept Indonesia safe from 2008 global financial crisis. She put reformation on tax and government funding.Come on, people! Take a look at Greece now and how grateful we have a tough soon-to-be-former minister. A sad ending indeed.

Fragmented Ideas

Fragmented Ideas

Ugh, blog ini lama-lama jadi tempat curhat. Habisnya entri teknis makin lama makin jarang. Hahaha….

Alkisah (nyata) di sebuah kelas Jaringan Syaraf Tiruan, mahasiswanya diberikan tugas untuk menerapkan ilmu, terutama di Fuzzy Logic. Sementara itu, di sebuah kelas yang lain di kelas Komputasi Grid, seorang dosen memberikan beberapa perangkat lunak yang menggunakan MPI untuk dieksekusi. Di sebuah fakultas lain, sedang dijelaskan tentang virulogi dan protein-protein pembentuk. Sementara itu di sebuah fakultas lain, sebuah mesin robotik sedang dikembangkan untuk mendeteksi gerakan berdasarkan morfologi bentuk.

Jika Anda melihat fragmen-fragmen cerita itu, saya membayangkan sedang menonton Sin City dan setiap bagian merajut ceritanya masing-masing. Pada suatu bagian tertentu, ada saatnya ketika sebagian cerita itu bersinggungan. Padahal, kenyataannya mereka saling terkait satu sama lain, berusaha berjuang di Sin City.

Pada kelas JST, ada mahasiswa yang menggunakan Fuzzy untuk mendeteksi kemungkinan mendeteksi detak jantung bayi secara pasti. Seandainya orang di fakultas robotika mengetahui, ia bisa menggunakan algoritma yang ditemukan untuk membuat mesin sendiri. Tentunya, mereka membutuhkan ahli dalam bidang kesehatan untuk bisa menjelaskan konsep-konsep dan anomali yang mungkin terjadi. Hal ini hanya bisa diisi oleh ahli dari bidang medis.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Kata kuncinya adalah seandainya [X] tahu.

Nah, adakah publikasi sentral di Indonesia yang bisa dipakai ahli-ahli dan akademisi untuk saling bertukar pandangan dan mencari tahu? Jangan-jangan ada ide-ide se-Indonesia yang sebenarnya bisa dikombinasi untuk bisa bertukar pandang.

Do we have a chance to connect the dots?

You Don’t Get It, Do You?

You Don’t Get It, Do You?

I hate it when people shouting their voice out loud like they knew anything about it. Not that I don’t like differences, I do love people with different view. I’ve live in a country that taught me so. But, I don’t like people who think they do know everything like they were there from the very beginning. Then again, I’ll blog it so that we can understand each other.

1 There is a point why it should be called GNU/Linux.

Linux was a kernel written by Linus Torvalds in 90s. It became popular because Linus made it compiled with GCC (GNU C Collection). Since then, it grew into something cool and that just it. It still needs GNU framework to continue. It needs the GNU toolchain and so on to properly reboot. So, at this point some would say: “Oh, it’s just a compiler” or “Damn, right, it should be called GNU system”.

No, that’s not the point.

What we would see is there was two different viewpoint on that OS stack. It’s about the idealistic and the pragmatic one. Stallman is the guy who believes in promoting freedom in every aspect of software. You are free to modify, get source, and even sell it to another guy whom also share the same freedom as you. While Torvalds is the kind of guy who would see the world as it is and trying to coop with it with reasonable balance.

These two viewpoints are distant from each other and the freeloader tend to select the pragmatic. I think that’s probably okay. But, there is a catch that we need to ensure, that is that to let everyone knows that there is an idealistic part too. The “GNU” part is the thing to mark their idea.

The idealistic is trying to sound their words about free software and freedom. They believe in anything freedom and in society which people could gain and contribute back. This is sounds like socialism and many thinks that socialism is a bad thing like commie. But, it isn’t! This is like socialism but they encourage individual also.

Well, take a look around and see how capitalism had failed the economy. The swollen countries like US and Greece are examples of how capitalism got them. See how China grow a lot in these recent years. See how even US now have their hand on medical bill. Even now, people are not shy away from open standards.

This is what free software want to achieve:

To have open standard that everyone can do everything that she wants to.

2 That’s the reason of why Mozilla won’t support H.264

I’m always thinking, why don’t Ubuntu ship their distro with US and non-US version? I mean, why can’t I play the DVD that I bought? Why can’t I play the song that I rip from MY own CD? Why can’t I have my smooth font?

Then again, I think: so, what is this socialism about?

This is to remind people that there are some that don’t have the privilege as you do. There are things that bad that made you illegal to do something with your ways. Of course, some of us cheap bastards that bittorrenting things won’t get it. But, what about those who really want to do things legal?

Is it false to do something right? Why would we be punished when we doing virtue?

That’s because the industry had select the closed technology where you can’t have the content you bought withouth special players. Which sadly to say, that’s exclusivism. There will be people who won’t be able to participate because of the content which they afford to have is not playable using the method they have.

H.264 is a close standard which right now is going on trial version. In months to come, we would be charged to have this as our content format. Which means, there would be people that will be banned from experiencing the whole Internet. Which of course, a backslash to the idea of the Internet itself which to promote openness.

3 That’s what makes Apple move is a cute one

The way now Apple is on HTML5 thing is a way to prove that open standard is not for a hobbyist anymore. It has plausible strength which can withstand people doubt. With many people encouraging the idea of it, it could fill the thing that the proprietary can do. Plus, it can be optimized into another idea. Who knows.

I mean, look at the RIA hype. People wouldn’t even consider to move their business processes via web technology. But, thanks to the Eclipse technology (another yet open source technology) we can have a wonderful things. Thanks to the web services that open to everyone to study, we can have many wonderful technologies, including the OpenID, Amazon EC2, etc.

4 That’s why we need people to promote freedom.

Share and contribute. May the source be with you.

Andai

Andai

Ah, jalanan macet, terpaksa ke restoran terdekat. Untung ada hotspot gratis, jadinya bisa ngeblog.Akhirnya ada suara pluit lalu jalanan jadi lancar./me?Geleng-geleng lihat kelakuan orang Jakarta. Kalau saja mereka mau menunggu beberapa detik, tentu tidak akan diperlukan seorang polisi hanya untuk mengatur lalu lintas. Mereka bisa diperbantukan oleh KPK atau Densus88 untuk menguber para penjahat kita. Mobil-mobil itu juga tidak perlu menunggu hampir sejam lebih hanya untuk lancar.SIGHPantas saja negara ini tidak pernah maju. Pantas saja FOSS kita kurang berkembang. Pantas kita begini-begini saja.Apakah ada yang bersedia mendonasikan waktunya untuk kepentingan bersama walau sejenak? Apakah ada yang mau berkontribusi balik setelah menikmati? Apakah ada yang peduli?Apakah ini celotehan setelah penat di tengah jalan?Mungkin. Jangan  diambil hati. Ini sekedar tulisan ringan sekedar mengingatkan bahwa ini adalah blog, bukan jurnal ilmiah dan saya juga bisa santai. Hahaha….MAKAN2x ™

Hidup, Makan, Kerja

Hidup, Makan, Kerja

Makan untuk hidup

atau

Hidup untuk makan

?

 

Kerja untuk Hidup

atau

Hidup untuk Kerja

 ?

 

 Jika hidup harus didefinisikan,

maka apakah arti hidupmu

?

 

Dari tanah kembali ke tanah.

 

Referensi:

Maslow’s hierarchy of needs – Wikipedia, the free encyclopedia

Maslow’s hierarchy of needs is a theory in psychology proposed by Abraham Maslow in his 1943 paper “A Theory of Human Motivation” in Psychological Review . Maslow subsequently extended the idea to include his observations of humans’ innate curiosity. His theories parallel many other theories of human developmental psychology, some of which focus on describing the stages of growth in humans.

Text of Steve Jobs’ Commencement address (2005)

Go to the web site to view the video. I am honored to be with you today at your commencement from one of the finest universities in the world. I never graduated from college. Truth be told, this is the closest I’ve ever gotten to a college graduation.

Tokoh Jazz Terlupakan

Tokoh Jazz Terlupakan

Saya puas dengan Tempo minggu ini, dia membahas Java Jazz dan perkembangan dunia Jazz di Indonesia. Saya memang belum lahir lama di dunia ini dan saya mengenal Jazz dari rekan saya di SMP yang kala itu menganggap grup Acid Jazz macam Incognito sebagai bukan Jazz. Saya juga bukan seorang ahli musik yang mengerti tentang pentatonik dan musikalitas Jazz. Tetapi, saya tahu musisi Jazz yang selalu ada di hati saya adalah Embong Rahardjo (selain Bubi Chen) dan grup musik (World Music) Krakatau Band.

Mengapa mereka tidak dibahas atau bahkan disebut?

Totally Blatant Crap

Totally Blatant Crap

Because of the UI disaster, I’ve just now got the time to blog and blogwalking. Harry Sufehmi had given a shocking news on 24th Feb about IISA’s complain on IGOS movement (Indonesia Goes Open Source). Well, for those of you that actually read the document, you could see that the government recommendation is not the real issue, but it’s about the piracy movie industry. The recommendation is not that an issue.Right now I’m not capable to search deeper about the issue. But, from the document attached, it seems that about the MenPAN issuing recommendation letter about using FOSS can be solved by taking the recommendation letter. But, I agree with Harry Sufehmi, this is totally a false accusation. From my observation, all of the pirated CD/DVD here in Indonesia is from oversea.I’m not competent in legal field. Hello, friends from Law Faculty, please voice your voice. But, I can show you how other country promotes FOSS.The most prominent FOSS leader is European Union. How they promote FOSS, but can get away from accusation?The key is about market is limited to FOSS software only that making Microsoft US software company can’t play well. Different than Indonesia that only recommended the FOSS software, EU strictly enforce Open Standards to all of their government projects. That’s why Microsoft push a big effort to get OOXML an ISO standard.Why can they push open standard? Well, the reason is clear: to promote interopability.Ah, I’m very pissed off right now and can’t make better judgement. I’m pissed how our country can be dictated easily. Look how Brazillian government can promote Free/Open Source Software. I’m very pissed! So, before this blog entry becoming a flame war and unproductive, I’d rather stop now and will considering on writing better blog entry.This makes me want to use FOSS even more.Reference:http://harry.sufehmi.com/archives/2010-02-24-2257/

Kata untuk Surat Elektronik (e-mail)

Kata untuk Surat Elektronik (e-mail)

Baru lihat dari blognya [BR] tentang penggunaan kata email dalam Bahasa Indonesia. Satu kata yang saya bisa katakan, seandainya ini dibahas dahulu kala, maka saya akan memilih kata “surel” dari pada “ratron”.  Dahulu ketika hendak mendokumentasi [MAILUI], saya melakukan pertarungan antara dua kata “surel” dan “ratron”. Keduanya imbang digunakan. Tetapi, kata “ratron” akhirnya dipilih menjadi kata pengganti email di [MAILUI] karena digunakan oleh PT Pos Indonesia.

Hal yang menarik dibahas di [BR] adalah kata-kata pengganti tersebut asing dan malah membuat pusing kepala. Untungnya, Bahasa Indonesia cukup fleksibel untuk menaturalisasi (menyerap) kata-kata asing menjadi kata-kata Bahasa Indonesia. Misalnya:

  • Kata “design” diserap menjadi “disain”.
  • Kata “interview” diserap menjadi “interviu”.
  • Kata “authentication” diserap menjadi “otentikasi” atau “autentikasi”.

Dari contoh-contoh tersebut dapat diketahui bahwa aturan penyerapan dalam Bahasa Indonesia menggunakan aturan pendengaran (fonologi). Maka, kata email bila mengikuti kaidah penyerapan menjadi kata “imel” karena demikianlah cara kita menyebut kata tersebut.

Tentunya, masalah tentang surat elektronik dan laser hanya sebagian kecil dari masalah utama: kurangnya sosialisasi Bahasa Indonesia. Sudah jadi rahasia bagi umum bahwa di Indonesia ini sudah ada yang namanya Pusat Bahasa. Dari situ kita sebenarnya bisa tahu informasi tentang bahasa, seperti misalnya justifikasi penggunaan kata “jadwal” dan bukan “jadual”. [PB]

Tapi, coba tengok produk mereka yang sangat tidak bersahabat: KBBI Daring [KBBI]. KBBI Daring hanya memperbolehkan kata yang tepat, tidak boleh yang lain. Mereka bisa saja memasang Apache Lucene untuk mengindeks data seperti [LONTAR]. Atau kalau mereka mau, mereka bisa saja membuat Google Custom Search pada situs mereka dan biarkan mesin pencari itu yang buat indeks. Sehingga, kita dapat dibantu dengan menemukan kata yang kita maksud.

Saya mendapatkan proyek-proyek dari [ITB], [UGM], dan [kamus.net]. Sayangnya yang mereka buat adalah kamus untuk penerjemahan, bukan kamus Bahasa Indonesia. Tetapi, saya suka fasilitas [kamus.net] yang menyertakan fasilitas kata hari ini (“word of the day”) untuk mengenal kata-kata baru.

Proyek WORDNET Indonesia yang dilakukan oleh Information Retrieval Lab FASILKOM UI [WNUI] belum menyediakan antarmuka pencarian untuk kata-kata tersebut. WORDNET [PRU] sendiri adalah sebuah proyek dari Princeton University yang terkenal itu. Saya suka mencari arti kata bahasa Inggris dengan menggunakan Google dan selalu menemukan artinya dari sana. Semoga saja proyek ini bisa segera digunakan.

Adakah rekan-rekan yang mengetahui proyek lainnya? Silahkan berkomentar.

Saya rindu supaya komunitas Bahasa Indonesia bersatu dan menerapkan proyek bersama. Seandainya ada situs de facto yang menjadi rujukan Bahasa Indonesia…

Referensi:

[BR]  http://rahard.wordpress.com/2010/02/17/email-atau-surel/

[MAILUI] http://webmail.ui.ac.id/

[IANG]  http://fajran.web.id/story/2009/01/19/otentikasi-autentikasi-authentifikasi

[POLEYD] http://polisieyd.blogsome.com/dari-ejaan-van-ophuijsen-hingga-eyd/

[BLG] http://indonesiasaram.wordpress.com/2008/03/09/mengenai-penyerapan-kataistilah/

[KNDR] http://www.kendaripos.co.id/index.php?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=8835

[PB] http://pusatbahasa.depdiknas.go.id/lamanv4/?q=detail_petunjukpraktis/55

[KBBI] http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/

[LONTAR] http://lontar.cs.ui.ac.id/Lontar/opac/themes/ng/

[ITB] http://kamus.itb.ac.id/

[UGM] http://kamus.ugm.ac.id/

[kamus.net] http://www.kamus.net/

[WNUI] http://bahasa.cs.ui.ac.id/wordnet/main/index.php

[PRU] http://wordnet.princeton.edu/