Category Archives

226 Articles
Pengembangan Terpadu Lab Riset: Studi Kasus MIT Media LAB

Pengembangan Terpadu Lab Riset: Studi Kasus MIT Media LAB

Ars memberitakan tentang Media Lab, sebuah lab riset pengembangan terpadu milik MIT. Dari sana muncul LEGO, Guitar Hero, OLPC dan lain sebagainya. Hal yang menarik dari lab riset ini adalah bagaimana lab ini bekerja. Saya hanya berusaha merangkum apa yang ada di artikel ke dalam Bahasa Indonesia. Semoga bisa menginspirasi.

#1 Posisi Lab dalam Universitas

Media Lab berada dalam sebuah departemen [baca: fakultas] tersendiri terpisah dari departemen mana pun. Hal ini menyebabkan pengambilan keputusan dapat dilakukan independen dari yang lain. Independensi ini menyebabkan ia dapat menciptakan proses bisnis yang kreatif, berbeda dengan yang lainnya.

#2 Perekrutan

Berbeda dengan departemen yang lain, perekrutan dilakukan dengan sang profesor* yang memilih mahasiswanya sendiri. Setiap mahasiswa direkrut untuk membantu proyek-proyek riset yang sedang berjalan. Independensi perekrutan mahasiswa ini cukup unik karena bisa jadi ada seorang dengan gelar MD masuk ke bidang arsitektur.

#3 Disiplin Ilmu

Cabang ilmu lab riset ini termasuk antar-disiplin. Akan tetapi, hal yang menarik adalah studi-studi riset sebuah cabang ilmu yang diambil ditilik juga dari cabang ilmu yang lain. Mereka membuat batasan antar cabang ilmu menjadi kabur, seperti seni dan arsitektur atau biologi dan arsitektur.

Sedikit catatan, hal ini berbeda dengan persepsi di Indonesia (terutama di penerimaan PNS). Seorang Doktoral harus mengikuti cabang ilmu yang linear untuk bisa diakui gelarnya. Padahal, ilmu yang berkembang saat ini tidak melulu murni. Bisa jadi seorang Doktoral Humanologi ternyata dari cabang Fisika. Ia mengalami perjalanan yang mengakibatkan ia mulai mempertimbangkan studi dari aspek sosial. Hei, ilmu adalah lautan luas dan manusia hanyalah saujana yang berusaha mengarunginya.

#4 Cara Riset

Masing-masing mereka mengembangkan secara terbuka (high profile). Mereka diarahkan kepada pengembangan produk jadi, bukan prototipe. Karena pengembangan mereka terkadang bukan di waktu mereka (ahead of their time) sehingga tidak jelas juntrungannya. Pengembangan produk yang tidak jelas juntrungannya tetap dapat dilakukan apabila tetap mendapatkan sponsor. Hal ini dikarenakan bisa jadi ketika dipresentasikan, produk-produk riset tersebut ternyata menjadi jawaban atas masalah yang dialami perusahaan-perusahaan sponsor.

#5 Pembiayaan

Pembiayaan dilakukan dengan komersialisasi hasil riset. Apabila sebuah perusahaan telah memberi dana melebihi jumlah tertentu, maka perusahaan tersebut diberi hak untuk mengakses beberapa karya intelektual hasil lab riset ini. Dengan adanya sponsor, mereka harus secara berkala membuat laporan (presentasi) kepada perusahaan-perusahaan pembiaya untuk meyakinkan mereka.

#6 Pencapaian

Perusahaan-perusahaan jebolan Media Lab: http://www.media.mit.edu/sponsorship/spin-offs

Riset-riset berjalan: http://www.media.mit.edu/research/highlights

# Penutup

Ini masalah terbuka dari artikel tersebut:

  1. Pengaburan batasan ranah ilmu yang memungkinkan ranah ilmu berbeda membedah permasalahan suatu ranah ilmu.
  2. Kultur terbuka merupakan sebuah masalah sosial tersendiri. Bagaimana caranya mengembangkan pemikiran untuk berbagi dengan orang lain tanpa curiga berlebih takut dijiplak adalah salah satu tantangan.
  3. Penghapusan birokasi dengan menyerahkan pembiayaan sponsor sebagai proses seleksi.

Mari berdiskusi.

* Apa Bahasa Indonesia untuk tenure? Saya coba ganti dengan profesor.

TOEFL On Bahasa Indonesia (Uji Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Asing)

TOEFL On Bahasa Indonesia (Uji Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Asing)

Saya sering menjumpai orang tua mengajarkan bahasa Inggris kepada anak mereka semenjak dini. Bahkan, anak-anak itu diajari berinteraksi dengan menggunakan bahasa Inggris. Orang tua ini biasanya beralasan bahwa anak mereka dipersiapkan untuk menghadapi globalisasi.

[PERINGATAN] Buat yang malas baca, silakan baca dua paragraf awal dan dua/tiga paragraf akhir. [/PERINGATAN]

Read More

FOSS dan Bisnis (Belum Selesai)

FOSS dan Bisnis (Belum Selesai)

Entah sudah berapa lama kita dicekoki ekonomi Liberal sehingga kita tidak percaya akan ekonomi seperti desa Smurf. Penetrasi FOSS dan GNU/Linux yang lambat ke perusahaan-perusahaan di Indonesia membuat saya teringat akan isu beberapa tahun yang lalu. Kala itu kesulitan dalam mengajari bisnis untuk menggunakan solusi FOSS adalah kesulitan dalam pelaporan keuangan. Bagaimana mungkin Anda menulis Rp 0,00 di laporan keuangan Anda untuk perangkat lunak? Dunia bisnis kala itu tidak mengenal barang yang tidak memiliki biaya (cost).

Sampai sekarang pun, masih banyak  yang alergi menggunakan FOSS sebagai solusi bisnis. Menurut hasil pengamatan saya, saya mengidentifikasi permasalahan tersebut menjadi beberapa poin:

1 Masih banyak kalangan bisnis yang menganggap bahwa perangkat lunak sebagai sekunder.

Banyak bisnis yang mengira bahwa perangkat lunak hanya merupakan perkakas saja. Bahkan, sebagian hanya memandangnya sebagai bagian dari portfolio saja. Beberapa bahkan memberikan porsi yang kecil kepada kebutuhan teknologi informasi (TI). Boro-boro punya roadmap TI yang jelas, beberapa bahkan memiliki cakupan staf TI (IT staff coverage) yang kurang. Alhasil, bisnis tersebut tidak merancang TI-nya dengan baik, bahkan sering kali TI-nya membebani perusahaan.

Sebelum saya menjelaskan, saya coba tanyakan kepada Anda: mengapa di korporasi besar ada CIO (Chief of Information Officer) yang hampir setara dengan CEO?

Ulasan ini bisa sangat panjang, tapi untuk mempersingkat, saya cukup bilang salah satu jawabannya adalah model bisnis (bussiness model).

Beberapa tahun yang lalu Bill Gates pernah bilang bahwa perusahaan di masa depan bukan lagi bertarung produk, tetapi model bisnis. Hal ini karena pada banyak sektor produk-produk yang ditawarkan memiliki kualitas yang hampir sama, contohnya bank. Lalu, apa yang bisa mereka tawarkan untuk promosi dan membedakan sebuah bank dari yang lain? Berbagai kemudahan dan bonus.

Menawarkan kemudahan berarti merombak beberapa proses bisnis (Bussiness Process Reengineering/BPR). Perombakan proses bisnis ini menyebabkan perubahan alur informasi dan birokrasi. Beberapa SOP diubah dan para pemainnya harus dilatih ulang. Hal ini bisa menyebabkan pembengkakan biaya. Bahkan, untuk pasar-pasar yang sengit, beberapa perusahaan bisa tertinggal bila tidak menyesuaikan diri.

Di sinilah pentingnya perangkat lunak berperan. Harga yang harus dibayar bisa ditekan seandainya perangkat lunak yang digunakan memberikan fleksibilitas lebih. Perangkat lunak menjadi nadir sebuah perusahaan. Ia menjadi penentu proses bisnis yang terjadi, kendati keputusan ada di tangan para eksekutif. Sebagai contoh, Anda takkan pernah berani mengambil keputusan sebelum laporan keuangan selesai. Anda akan menunggu komputasi keuangan yang ada sebelum menentukan arah.

Bagi perusahaan yang maju, Anda akan menunggu hasil dari Oracle BI atau pun sistem-sistem lainnya untuk melihat kecenderungan. Tapi, bagaimana jika seandainya parameter yang digunakan untuk menganalisis berubah dan cara menghitungnya disesuaikan? Anda pasti harus menunggu konsultan atau pihak ketiga untuk menambal aplikasi. Sudah pasti, harganya tidak murah dan memakan waktu.

Contoh sederhana lainnya adalah proses bisnis waralaba. Bagaimana Anda bisa menciptakan komponen kustom? Waralaba yang modern menggunakan perangkat lunak untuk menyimpan informasi dan mengolah data. Lalu bagaimana seandainya seorang partner melihat ada sebuah peluang di bisnis lokal mereka? Bagaimana cara membuat mereka tetap compliance dengan praktik bisnis waralaba?

Inilah pentingnya memiliki roadmap Teknologi Informasi. Seiring bisnis berkembang, cara pengolahan informasi juga harus mampu beradaptasi. Perangkat lunak yang hanya menawarkan proses bisnis statis tanpa bisa mengubah malah menjadi beban.

[BERSAMBUNG (kalo sempet… :P)]

Maaf, istirahat siang sudah mau selesai dan sudah ada 40+ lebih tulisan saya yang menjadi draft tanpa di-publish. Dari pada tidak jadi-jadi, maka saya tampilkan saja entri ini. Silakan berkomentar, dan mohon maaf bila saya belum sempat menyertakan referensi atau pun membuat tulisan ini lebih ringkas.

Komunitas dan Kebebasan

Komunitas dan Kebebasan

Sebuah entri oleh [WILM] memberikan sebuah informasi tentang permasalahan mengenai tim Ubuntu Artwork yang merasa tersisihkan karena tidak lagi diikutkan pada Maverick dan Lucid. Kalau saya boleh rangkum, Canonical merasa bahwa milis Ubuntu Artwork tidak lagi memberikan diskusi yang baik dalam memberi masukan. Sehingga, mereka mulai mengambil sebuah jalan cepat, menyewa profesional untuk membuat huruf dan disain.

Menurut saya, Hardy Heron adalah sebuah gambar latar yang paling hebat yang pernah diciptakan untuk komunitas perangkat lunak bebas. Gambar burung heron itu tersedia dalam bentuk SVG, sebuah kode sumber yang bisa diubah. Proses pemasukan gambar itu melibatkan komunitas dan membuat Ubuntu, sebagai distro yang memiliki komitmen kepada perangkat lunak bebas, masukan yang sangat berharga.

Hal tersebut memang di masa lalu. Tindakan Canonical akhir-akhir ini cukup meresahkan banyak orang. Setelah keputusan tertutup untuk membuat ikon jendela di sebelah kiri, banyak orang mulai meragukan niat baik Canonical sebagai pemegang lisensi Ubuntu. Saya pikir ini wajar.

Buat Anda yang masih buta, dan saya akan coba angkat ini menjadi sebuah topik sendiri, GNU/Linux adalah sebuah sistem operasi yang sarat dengan utopia. Di dalamnya, berbagai sudut pandang berkembang dan salah satunya adalah paham mengenai kebebasan. Alam kebebasan mengenal yang namanya demokrasi. Oleh sebab itu, sebuah keputusan tertutup merupakan awal dari kehancuran demokrasi tersebut.

Memang, demokrasi adalah sebuah kemewahan dan terkadang bisa menjadi bias dan anarki. Selain karena kebebasan berpendapat versus kemampuan orang dalam menjadi asertif, demokrasi melibatkan banyak kepala yang harus mencapai konsensus. Ubuntu yang telah berkembang menjadi sebuah entitas dan tengah gencar menerobos komputer kerja korporasi, bukan sekedar server saja, berusaha melakukan perubahan radikal. Perubahan tersebut takkan secepat ini apabila ada diskusi yang terlibat.

Internet adalah sebuah rimba liar yang sering kali memuat hal-hal kasar. Sering kali sebuah diskusi berubah menjadi debat kusir dan kata-mengatai. Sering kali sebuah status quo melawan revolusioner mencapai titik mati sehingga tidak ada penyelesaian. Kebebasan berekspresi sering kali dibablaskan dengan menabrak berbagai etika. Hal-hal tersebut merusak banyak hasil kerja dan membuat orang bertalenta mundur.

Akan tetapi, bukankah Ubuntu telah memberikan Code of Conduct, sebuah produk konsensus bagi komunitas Ubuntu untuk saling menghormati satu sama lain? Dengan demikian, seharusnya komunitas Ubuntu bisa berperan lebih baik lagi dalam diskusi yang baik.

Sebelum Anda berpikir bahwa Canonical menjadi the next Microsoft, Anda perlu ketahui bahwa apa yang dilakukan Canonical menurut saya adalah langkah yang benar menurut cara-cara modern. Dengan iterasi setiap 6 bulan, inovasi Ubuntu harus ada dalam setiap rilisnya. Dengan menggunakan profesional, inovasi tersebut dapat terjadi. Mulai dari penggantian warna coklat menjadi ungu (aubergine). Penggantian gambar latar dan ikon, tema Ubuntu, penggunaan plymouth, pembuatan huruf, dan berbagai keputusan-keputusan lainnya membuat Ubuntu semakin menarik dari hari ke hari.

Tapi, inovasi-inovasi inilah yang membahayakan Ubuntu.

Ubuntu bukanlah sebuah perangkat lunak dari modernisme. Ia adalah sebuah perangkat lunak sosio-humanis. Ia lahir dari gerakan melawan modernisme dan kapitalisme. Ia merupakan hasil dari gerakan gotong royong dari desa Smurf. Ya, utopia yang diciptakan oleh desa Smurf terjadi di sini. Smurf developer tidak akan marah bila Smurf-Smurf gembul memetik perangkat lunaknya dari kebun. Mereka tetap senang dan bahagia karena telah membantu orang lain. Mereka bahagia karena telah berkontribusi.

Tetapi, apa yang terjadi apabila Smurf-Smurf tersebut tidak lagi diikutkan dalam menanam ladangnya?

Banyak orang mengira bahwa ketika seseorang berhenti bekerja dan menikmati dunia akan membuat bahagia. Sayangnya, proses kreatif manusia dan kenikmatan mengetahui bahwa mereka dibutuhkan (atau kebutuhan tingkat keempat Maslow) membuat mereka yang berhenti bekerja seperti kehilangan diri mereka sendiri. Ujung-ujungnya, mereka menjadi kecewa.

Apa yang terjadi? Ada dua kemungkinan besar yang mungkin terjadi:

  1. Smurf-Smurf tersebut meninggalkan desa Smurf dan papa Smurf sendirian.
  2. Smurf-Smurf tersebut melakukan kudeta dan membuat desa Smurf versi baru.

Mandriva yang dicabangkan Mageia [PHO] adalah keputusan nomor 2. Ketika perusahaan induk Mandriva mengalami krisis sehingga menimbulkan ketidakpastian bagi Mandriva, komunitas Mandriva memutuskan untuk berjalan sendiri. Mereka tidak sudi hasil kerja bertahun-tahun mereka terhilang hanya karena korporasi. Perusahaan boleh bangkrut, tetapi komunitas tetap jalan.

Sumber daya komunitas dapat dibilang tak terbatas. Dengan kemampuan Internet, setiap komunitas dapat menjadi kekuatan  yang dapat mengubah. Namun, untuk Ubuntu mengalami hal tersebut adalah sebuah kemunduran bagi pergerakan perangkat lunak bebas/terbuka. Saat ini pergerakan perangkat lunak bebas/terbuka tengah mengalami momentum akibat Ubuntu yang melibatkan banyak komunitas.

Komunitas sebagai publisitas merupakan sebuah taktik yang jamak bagi perkembangan perangkat lunak bebas/terbuka. Tanpa ada komunitas, kebebasan takkan pernah bisa dijalankan dan dibuktikan. Oleh sebab itu, sebuah komunitas merupakan harga mati yang harus dijaga.

Saat ini, tim Ubuntu Artwork sedang berbenah. Saya sebagai pengamat hanya menyarankan, sebaiknya Mark dan Canonical segera merangkul mereka. Jangan sampai komunitas ini mati. Komunitas ini telah berbuat banyak bagi Ubuntu di masa lalu dan berpotensi dapat menjadi lebih baik di masa mendatang. Bila komunitas ini tidak segera dirangkul, kehancuran komunitas ini akan menjadi portfolio yang buruk bagi Ubuntu dan dapat menyebabkan efek berantai.

Referensi:

[WILM] http://thorwil.wordpress.com/2010/09/19/ubuntu-artwork-crisis/

[PHO] Phoronix. http://www.phoronix.com/scan.php?page=news_item&px=ODYxNg

Terima Kasih, Malaysia

Terima Kasih, Malaysia

Adalah tindakan yang tepat dari Menteri Luar Negeri kita untuk menolak penarikan duta besar. Saya tidak habis pikir dengan emosi beberapa orang yang tidak mengerti betapa seharusnya kita berterima kasih kepada Malaysia, saudara serumpun kita. Tidakkah mereka telah membuka mata kita? Sebelum Anda menuduh saya tidak nasionalis, mari kita bahas mengapa kita perlu berterima kasih kepada Malaysia.

Sebelum kasus tarian Reog, batik dan budaya Indonesia seakan-akan berjalan kepada kepunahan. Kementerian pariwisata bahkan tidak pernah secara serius memperhatikan daerah-daerah potensial. Bahkan, informasi tentang penyelaman dan wisata eksotis di Indonesia malah didapatkan dari orang-orang asing. Yang ada di acara TV, kecuali TVRI, semua menayangkan wisata ke luar negeri.

Seberapa tersentaknya saya? Terus terang, saya baru membeli batik setelah Richard M. Stallman (RMS) waktu itu datang ke Indonesia. Ketika saya turut menemani dia, dia menanyakan tempat untuk membeli CD-CD gamelan. Bahkan, ketika di Plaza Senayan, kami mampir ke sebuah toko. Di sebelah kiri toko itu, semua penganan Indonesia seperti risol dan sebagainya ditawarkan. Di sebelah kanan, toko itu menjual semua penganan asing seperti tart, cake, dan sebagainya. Menariknya, RMS hanya ada di etalase kiri.

Astaga, beliau yang adalah seorang bule malah membeli barang Indonesia. Mengapa saya yang orang Indonesia justru kehilangan identitas Keindonesiaan saya? Benar-benar, saya pun merefleksikan diri dan memutuskan membeli baju batik. Saya juga ketika berkunjung ke kampung halaman di Samosir membeli baju-baju. Sayang, di Tomok pelayanannya membuat saya malas memborong. Saya hanya membeli beberapa saja.

Berbicara tentang Malaysia, saya baru tahu kalau ternyata kita berbatasan dengan 10 negara. Selama ini, saya pikir negara tetangga kita hanya Papua New Guinea, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Hal yang paling parah lagi, saya mendengar dari narasumber di TVOne, ternyata dulu diakui hanya ada 3 mil batas laut kita. Baru sekitar tahun 70-80an ada konvensi PBB yang memberikan batas 200 mil untuk negara kepulauan. Indonesia termasuk yang meratifikasinya.

Masalahnya, Indonesia belum menyelesaikan PR-nya. Kita masih belum selesai mengadakan perjanjian dengan 10 negara-negara tadi — hanya beberapa negara saja yang sudah selesia. Bayangkan bom waktu ini: Seandainya Indonesia tidak segera menyelesaikan masalah ini dan Indonesia dicabut haknya dari 200 mil batas pantai, maka di selat Sunda akan ada perairan internasional. Bayangkan, di antara pulau Sumatera dan Jawa akan ada perairan internasional!

Bukankah kita sekarang sedang dibangunkan dari mimpi indah? Bukan saat ini kita sedang kembali dipertanyakan: apakah Indonesia? Apakah Indonesia hanya bagi pulau Jawa? Apakah Indonesia hanya bagi Jakarta? Apakah saudara-saudara kita yang selama ini meneriakkan referendum benar-benar membutuhkan keadilan? Apakah memang kita, Indonesia?

Cerita Tanpa Alkisah

Cerita Tanpa Alkisah

"Dude, are you going in? Sudah lama berdiri, kok, gak masuk juga?" Tukas Raphael kepada Arjuna yang hanya berdiri di depan pintu. "Cepat putuskan mau masuk atau mau keluar," lanjutnya lagi.

"Raphael, hentikan!" Tegur Master Splinter.

"Oh, maaf, maaf. Saya permisi," ujar Bima. Ia terkesiap melihat begitu banyak lampu dan makanan. Ia pun segera minggir dan mempersilakan keempat kura-kura dan guru mereka masuk. Hari itu cukup panas dan ia sebenarnya memutuskan untuk sekedar sesekali memberi dirinya kemewahan. Sayangnya, ia begitu bingung untuk masuk. Ia masih berhitung dan termangu melihat orang-orang di dalam makan dengan nyaman.

Ah, senangnya bila ia bisa seperti demikian setiap hari. Perang Bharatayuddha seakan sebuah memori dari masa masih dekat. Ia dengan pakaian kegagahannya berperang bersama saudara-saudaranya dalam menuntut hak yang telah terampas. Kemenangan yang luar biasa. Begitu banyak yang mengeluk-elukkannya.

Sinar keemasan yang jatuh saat ia memakai jubah perang. Sinar temaram pagi dari jendela-jendela kuil begitu menguatkannya. Di tengah ketenangan itu, ia bersujud dan ibunya datang memberikan berkat. Segenap rakyat di kiri dan kanan menyambut dengan khusyuk dan kekaguman yang mendalam.

"Hoy, ngape lo bengong?" Petruk menepuk punggung Bima membangunkannya. Bima terkejut dan terkesiap.

Petruk dengan bijak kemudian tersenyum: "Yuk, lanjut lagi."

Keduanya pun kembali ke perempatan jalan dan berjualan koran dan rokok. Hari yang semakin panas tak mengendurkan mereka untuk terus berjualan. Dalam kondisi puasa seperti ini, pendapatan dari rokok bisa menurun. Mereka harus juga menjual hal-hal yang lain.

Bima mengelus-elus perutnya. Ia bingung, entah harus mengelus perutnya ataukah harus mengelus kerongkongannya. Ia sangat lapar dan sudah seminggu ia belum makan. Tetapi, hari ini matahari terik menerjang seperti tanpa ada penyaring. Terus langsung menusuk ke dalam sum-sum. Ia seorang ksatria dan ia sudah terbiasa untuk ini. Tapi, ia terbayang akan ibunya, Kunti.

"Hey, bengong lagi, bengong lagi." Ujar seorang pemuda. "Kalian keluarga yang sangat kolot!" "Kalau saja kalian ikut meminta-minta seperti orang-orang, kalian pasti sudah enak. Inikan zamannya orang menjadi dermawan."

Ucapan pemuda itu benar-benar menohok hati Bima, tetapi ia tahu. Ia sedang melakukan penyucian diri. Bahwa ada hidup yang lebih besar dari pada hidup itu sendiri. Bahwa ia sedang berusaha menjalani kehidupan mulia yang

"Ya, ya, ya" Ujar pemuda itu tepat memotong batin Bima, "kalian kalau berkata itu selalu menggunakan kata-kata sulit! Ini zaman pragmatis, Coy!" "Silakan bawa filsafat lo itu kepada orang-orang kaya."

Untung saja saat itu sudah setengah tiga sore. Pemuda ini selalu menantang Bima dan menunggu saat sampai Bima marah dan menggunakan kekuatannya. Tapi Bima tidak bergeming. Ia tahu bahwa provokasi itu tidak akan membuat ia mati. Pokoknya ia harus diam.

"Ah, gak asyik! Mendingan gw ke sono aja biar resep!" Tukas pemuda itu meninggalkan Bima dan keluarganya. Bima melihat pemuda itu pergi ke perempatan lain tak jauh dari situ. Ia melihat di kejauhan pemuda tersebut bertemu Gadis Penjual Bunga dan membantu anak itu berjualan. Wow! Jadi banyak yang beli.

Bima lalu menghampiri seorang pedagang kaki lima di pinggir jalan. Kepada pemuda berbaju lusuh berwarna hijau ini Bima mengeluh:

"Barda, susah sekali, yah, berjualan."

"Lo, masih untung, Bim. Coba lihat gw. Tuh, kebetulan bakal ada anak-anak lewat."

Seorang anak bersama Ibunya lewat keduanya.

"Mommy, let me give the beggars."

"Oh, good boy, kamu, Nak. Hayo kasihkan kepada mereka. Ini."

Ibu itu mengeluarkan dompetnya lalu memberikan anaknya uang. Dengan polosnya, anak itu lalu memberikan uang kepada mereka berdua. Lalu dengan bangga:

"Look, mommy. I have give them money."

"Good boy, son. Now, let's walk out of here."  "Mina! Cepat bawakan makanan si bungsu ini. Setelah itu keduanya berlalu.

"Tuh, padahal gw jualan. Mentang-mentang gw bawa monyet di pundak dan gw buta, mereka mengira gw pengemis yang bisa main Topeng Monyet."

Keduanya tersenyum kecut.

TIBA-TIBA

Priiit….! "Dilarang berjualan sepanjang jalur ini." Ujar seorang berseragam dengan menggunakan pengeras suara.

Lalu, dari balik truk tronton di belakangnya, keluar segerombolan orang berbaju dinas dengan pentungan. Segera, mereka mengejar satu-persatu pedagang asongan. Bima sang Pahlawan hanya bisa berlari. Barda pun hanya pasrah saat dagangannya berserakan dihambur-hamburkan oleh petugas-petugas itu.

TAMAT.

Re: Kompilasi MPlayer (Menjawab Iang)

Re: Kompilasi MPlayer (Menjawab Iang)

Karena jawabannya cukup panjang, saya putuskan untuk menjadikan ini sebuah entri baru. Untuk lebih jelas, saya mencoba merunut apa yang saya sudah lakukan.

#1 Mengunduh MPlayer subversion harian dari situsnya.

#2 Mengonfigurasinya dengan parameter baku tanpa embel-embel

$./configure --prefix=/usr

#3 Mengubah berkas config.mak

Konfigurasi mengubah

CFLAGS, CXXFLAGS
, dan
DEPFLAGS
dengan mengubah nilai "
-march=native
" menjadi "
-march=core2
" dan menambahkan "
-msse4.1
".

#4 Buat dan pasang seperti biasa.

 

#Hasil dengan keluaran video baku (

-vo xv
)

Dengan menggunakan Xv, memutar film menghabiskan CPU sekitar 60%. Hasil keluaran dengan nama film sengaja disamarkan disisipkan di akhir entri ini.

#Hasil dengan menggunakan video vdpau (

-vo vdpau
)

Sayangnya, dengan menggunakan VDPAU, malah menghasilkan 70~80% lebih. Apakah ada yang salah  dengan konfigurasi kompilasi? Kemungkinan, sih, karena memakai blob NVIDIA versi 256.25 (beta).

#Lampiran Keluaran Xv:

MPlayer SVN-r30554-4.4.4 (C) 2000-2010 MPlayer Team

Playing *CENSORED*_[1920x1080_h264][CB5C7E26].mkv.
libavformat file format detected.
[matroska @ 0x1363a50]max_analyze_duration reached
[matroska @ 0x1363a50]Estimating duration from bitrate, this may be inaccurate
[lavf] stream 0: video (h264), -vid 0, x264
[lavf] stream 1: audio (aac), -aid 0, -alang jpn, AAC
[lavf] stream 2: subtitle (unknown), -sid 0, -slang eng, ASS
VIDEO:  [H264]  1920x1080  0bpp  23.976 fps    0.0 kbps ( 0.0 kbyte/s)
Clip info:
 title: *CENSORED*
==========================================================================
Opening video decoder: [ffmpeg] FFmpeg's libavcodec codec family
Selected video codec: [ffh264] vfm: ffmpeg (FFmpeg H.264)
==========================================================================
==========================================================================
Opening audio decoder: [faad] AAC (MPEG2/4 Advanced Audio Coding)
FAAD: compressed input bitrate missing, assuming 128kbit/s!
AUDIO: 48000 Hz, 2 ch, s16le, 128.0 kbit/8.33% (ratio: 16000->192000)
Selected audio codec: [faad] afm: faad (FAAD AAC (MPEG-2/MPEG-4 Audio))
==========================================================================
AO: [alsa] 48000Hz 2ch s16le (2 bytes per sample)
Starting playback...
Movie-Aspect is 1.78:1 - prescaling to correct movie aspect.
VO: [xv] 1920x1080 => 1920x1080 Planar YV12

I Hate Vendor-Locked Solution!

I Hate Vendor-Locked Solution!

Ugh, ingin rasanya mencak-mencak. Tapi saya sadar, blog ini dikonsumsi oleh khalayak ramai. Jadi, saya coba curhat dengan mengerem saja. Kalau mau baca curhatan saya silakan, kalau tidak, ya, silakan lewat saja.

Saat ini saya sedang berbulan madu dengan Gentoo. Saya berhasil memasang KDE4.4, Netbeans, MPlayer, yakuake, dan qmmp. Sungguh luar biasa! Saya bisa mendengarkan musik, memainkan berkas film kualitas HD, dan menjalankan Netbeans 6.9 tanpa membuat PC bernyanyi Poco-poco.

Pengetahuan kompilasi optimal dengan Gentoo ini lalu saya konversikan ke instalasi Debian/Ubuntu saya. Lumayan, pada mesin Celeron, MPlayer yang dikompilasi ulang menurunkan beban CPU dari ~90% menjadi ~1% saja. Saya berencana untuk mengompilasi ulang beberapa paket di Debian/Ubuntu (Hey, itu sebabnya ada

deb-src
). Entahlah, saya harus membaca-baca dulu spesifikasi SSSE3.

Sayangnya, bulan madu dengan kompilasi berjalan tidak mulus. Saya menemukan kesulitan ketika saya hendak mengompilasi salah satu komponen e-Akses, saya menemui kegagalan. Padahal, saya sudah mengorbankan kesucian 64 bit dengan memasang emulasi 32 bit. Oh, tidak, ternyata gara-gara sebuah komponen tertutup yang terkompilasi 32 bit.

Dasar vendor!

Haduh, itu pustaka dikompilasi dengan 32 bit. Sudah begitu, pustaka itu menggunakan libstdc++5, sebuah pustaka kuno! Ayolah, zaman begini masih pakai pustaka tersebut? Padahal, distro-distro terbaru (termasuk Ubuntu semenjak Lucid) sudah tidak lagi memaketkan libstdc++5 — sudah bertahun-tahun pindah ke libstdc++6!

Benar kata [ARLIED], mengapa pembuat perangkat keras masih saja menyembunyikan pustaka yang hendak mengakses perangkat keras mereka? Bukankah mereka seharusnya membuat perangkat keras? Terkadang, saya juga tidak habis pikir dengan alasan perlindungan kekayaan intelektual. Terhadap apa? Bukankah disain perangkat keras mereka sudah dilindungi hak cipta?

Saat ini, pasar solusi berbasis GNU/Linux meningkat. Hal ini karena adanya inovasi dan implementasi sistem embedded. Perangkat Windows, .NET, dan segala macam yang ringkih tidak lagi menjadi dominasi. Semua semakin menginginkan efisiensi dan performa, termasuk dari segi biaya.

Coba kita lihat peta GNU/Linux dan FOSS secara umum dalam percaturan perangkat keras.

Nokia yang sudah mengakuisisi Trolltech berniat membuat implementasi Meego yang lebih dahsyat dengan menggunakan Qt. Nokia ditemani Intel akan membuat solusi yang menarik, Untuk sementara, ponsel N900 cukup memuaskan dahaga para pengilik FOSS. Berbagai perkakas kecil yang dibuat dari Qt semakin memperkaya ponsel Symbian ini. Oh, ya, tahukah Anda bahwa kernel Symbian sudah dirilis ulang sebagai kode terbuka (open source)?

Siapa yang tidak tahu Google? Dia dan Androidnya, yang walau pun cukup dimaki-maki karena sering kali mengembangkan di belakang layar lalu merilis penuh, memberi napas baru kepada FOSS. Android telah memberi kesan kepada khalayak bahwa FOSS bukan aplikasi main-main.

Lalu bagaimana Indonesia?

Saya terus terang senang dengan IGOS, POSS, Aria Hidayat, mdamt, dan orang-orang lainnya yang telah mengharumkan nama FOSS di Indonesia. Tetapi, selama perguruan tinggi di Indonesia tidak menangkap ombak ini, pergerakan FOSS di Indonesia hanya usaha perorangan saja. Bayangkan, masakkan masih ada seorang praktisi IT yang ngeri menggunakan GNU/Linux? Lagipula, masakkan sampai sekarang Indonesia masih menganggap bahwa GNU/Linux hanyalah subtitusi Windows.

Yang benar saja!

Ada falsafah, pengajaran, dan kualitas yang dikejar dalam FOSS. FOSS tidak sekedar berbicara mengenai perangkat lunak gratis. FOSS mengajarkan kreativitas. FOSS mengajarkan humanitarian dan etika akademik. FOSS mengajarkan penghargaan setinggi-tingginya kepada manusia, bukan perusahaan.

Lihat Brazil. Oh, jangan, lihat yang paling dekat saja: Malaysia. Walau pun mereka terlambat masuk, sekitar 2008, sekarang ini mereka berpindah ke FOSS dengan perlahan tapi pasti.

Ugh, kok, makin melebar? He… he… he…

Maksud saya, sayang sekali Indonesia tidak secara terstruktur berpindah ke FOSS. Bayangkanlah, seandainya itu bisa terjadi, kita bisa membuat industri solusi elektronik yang cerdas. Bukan hanya mengimpor dari Cina.

Seandainya itu tidak terjadi, saya tidak akan mencak-mencak. Karena, saya tahu, saya mendapat dukungan penuh dari vendor (yang notabene bangsa sendiri) yang merilis perangkat kerasnya untuk dikembangkan semakin keren secara bersama-sama.

Anda tidak tahu, mungkin ada fungsionalitas dari produk Anda yang belum Anda pikirkan sebelumnya dan ada orang lain dalam komunitas yang menemukan fungsionalitas itu.


Referensi:

[ARLIED] http://airlied.livejournal.com/73115.html

Beginilah Adanya

Beginilah Adanya

Banyak sekali sistem informasi UI yang tidak diketahui oleh sivitas akademika UI yang bisa diakses dan digunakan. Nah, kebetulan ketika kami sedang mencari video-video UI, kami menemukan http://podcast.ui.ac.id/ yang berisi video-video yang kebanyakan dokumentasi dari kegiatan UI. Ada banyak

Legenda Kampus Rawamangun

Dokumentasi Pentas Seni Rawamangun 1987 yang mengundang Alm. Kasino dan Alm. Dono. Wow, ternyata Kasino jago juga, yah, suaranya. Dia mengospek mahasiswa dan mahasiswi baru dengan lancar. Eh, tapi ternyata dia memegang daftar “kerjaan” buat mereka. Yang pasti, mereka tampaknya terlihat malu-malu. Ya, jelas saja, walau pun mereka sedikit dan dikocok perut, ternyata di depan mereka ada ratusan penonton yang menyaksikan. Saya juga pastinya tidak akan berani menatap ke depan ha… ha… ha…. 😀

Tari Saman

http://podcast.ui.ac.id/videos/246/tari-saman_liga-tari-krida-budaya-ui

Cuma satu kata saya bilang: Wow! 😀

The Nunung CS

http://podcast.ui.ac.id/videos/252/the-nunung-cs_mapres-2010

Hahaha… saya suka sekali lagunya. Lucu dan menggelitik.

Dll

Ada lagi yang lain, tapi itu sudah cukup untuk memperkenalkan apa itu podcast.ui.ac.id. Dengan menggunakan penggerak kode terbuka (open source engine) dan talenta yang kreatif, Universitas Indonesia telah mampu membuat sesuatu yang luar biasa. Saya sendiri berdecak kagum.

Pembangunan Tim yang Menyenangkan

Pembangunan Tim yang Menyenangkan

[DISCLAIMER: A guilty pleasure is an act that you would normally won’t do but in your heart you want to do it. This is a story of a fun guilty pleasure experience.]

Kalau dirasa beberapa hari ini Kambing terasa lambat, mohon maklum; penjaganya lagi pada ikut pembangunan tim oleh Universitas Indonesia. Bertempat di Sari Ater, Ciater, para penjaga merasakan sakau selama dua hari tanpa menyentuh komputer. Walau pun demikian, suasana akrab terasa di atmosfir dan kami bisa bersenang-senang bersama para pegawai Pusat Administrasi UI (PAU) lainnya. Hanya, ada satu berita tak menyenangkan: Jerman tak lolos….

Acara dimulai dengan meluncur dari gedung rektorat menggunakan Bis Big Bird. Di dalam bis berpenyejuk tersebut ternyata tersedia TV dan dua buah mikrofon untuk berkaraoke. Pada mulanya, kami memasang lagu Koes Ploes. Lalu, berhubung saya ada di generasi ini, saya coba untuk minta lagu kontemporer. Ternyata, lagu kontemporernya benar-benar terkini. Saya bengong dan tidak tahu mau nyanyi apa. Siapa, sih, grup musik Salju? Lagu-lagu ST12 saya tidak tahu. Saya pikir lagu-lagu terkini itu semacam Gigi, Slank, Dewa 19, Padi, dan sejenisnya. Ah, akhirnya kembali ke lagu lawas dari Broery Marantika.

Hmmm… sepertinya cerita ini tidak ingin saya tuliskan secara detail. Banyak guilty pleasure, kegilaan-kegilaan, yang dilakukan di sana. Malu kalau semua diceritakan, ha… ha… ha….

Kegiatan Resmi

Hari pertama dimulai dengan perlombaan. Untungnya Sayangnya, hujan turun sehingga kegiatan berlangsung di dalam ruang serba guna. Bayangkan kalau di luar, pasti tim komputer yang hanya berotot di jari bisa kalah total. Kegiatan di dalam ruangan ini juga menyenangkan. Menurunkan bambu yang dipegang bersama-sama ternyata sulit juga, yah. Untungnya, tim kami bisa membalas ronde fisik itu dengan permainan penjumlahan angka. Ya ampun, sejenis sudoku mau diberikan kepada kami yang sudah bisa Tower of Hanoi? Ck… ck… ck… 😀

Saya salut dengan pembawa acaranya. Walau pun dia merencanakan untuk membuat acara di luar, tetapi dia mampu berimprovisasi dengan keterbatasan sehingga kami bisa tetap bersenang-senang. Omong-omong, apakah kami dinilai?

Hari kedua kami melakukan tea walk. Sejujurnya, saya tidak begitu menyukai kegiatan ini. Mengapa tidak ada LAN party? Install party Ubuntu misalnya; ataupun acara pimp my Ubuntu? Mengapa hanya ada kegiatan fisik berjalan kaki? Oh, tidaaaaakk…. komputer, sudah lebih dari 4 jam aku belum menyentuhmu. Ha… ha… ha….

Tentu saja saya senang berjalan di sana. Selain menawarkan wallpaper 3D,  berjalan di tengah-tengah kebun teh juga mencuci paru-paru yang selama ini selalu dipenuhi dengan silikon dan bau plastik baru. Tanpa menggunakan VGA high end,  kita bisa menikmati pemandangan stereo. Layarnya pun lebih dari 19″ dan pastinya kualitas HD. Bisa disentuh pula.

Ketika diakhir perjalanan tea walk, kami disuguhi teh asli. Hal yang disayangkan adalah teh tersebut disuguhkan dengan menggunakan bekas air mineral plastik. Ugh, panas-panas dituangkan ke dalam plastik. Saya sedikit ngeri minumnya. Lain kali, mungkin kalau ada perjalanan lagi, saya harus membawa gelas logam sendiri. Tetapi, memang sesuai dengan aslinya, teh itu pahit. 😀

Kegiatan Bebas

Nah, ini yang paling sip. Dimulai dengan karaoke di bis, kami lalu melanjutkan kegilaan di dalam ruangan. Hal ini terjadi setelah kami selesai melakukan aktivitas bebas. Semua orang dikumpulkan di ruang serba guna dan acara musik dimulai. Beberapa orang menyumbangkan suara mereka. Itu belum seberapa, tetapi berikut inilah kegilaan yang menyenangkan terjadi.

Pertama-tama, kami melakukan yang belum pernah dilakukan sebelumnya: menari dangdut! Yahoo…!

Kami pada mulanya gengsi maju. Hal ini karena tidak ada yang pernah coba dan rasanya agak sungkan menari dangdut dilihat pimpinan. Tapi, akibat gerakan tantang menantang dan rasa penasaran yang mendalam, kami akhirnya turun satu persatu — Tabe untuk staf PLK yang memberi kami keberanian untuk maju. Gerakan kami dibandingkan yang lain terlihat kaku karena  baru pertama kali ikut tarian Dangdut. Ah, peduli amat! Yang penting seru dan lagi tidak ada juri. Semua orang tampak bersenang-senang, termasuk para atasan yang juga terlihat turun. Lagu yang paling seru adalah “Kopi Dangdut”!

Terus terang, saya baru mengerti enaknya tarian dangdut. Setiap orang bebas bergerak dan tidak dibatasi seperti tari lainnya. Tetapi, saya secara amatiran mencoba mengklasifikasinya menjadi dua bagian. Yang pertama adalah klasifikasi berdasarkan gerakan kaki:

  1. Kaki maju mundur. Gerakan ini dilakukan bersama dengan pasangan.
  2. Gerakan mengitar. Gerakan ini biasanya dilakukan oleh orang-orang penyawer yang mengelilingi penyanyi. Mereka mengitari penyanyi dengan perlahan.
  3. Gerakan di tempat. Gerakan ini untuk penari dangdut yang sendirian tanpa pasangan.

Yang kedua, saya berusaha mengklasifikasi berdasarkan gerakan tangan:

  1. Jempol terangkat. Gerakan ini ditandai dengan tangan yang mengepal dan jempol yang terbuka. Ada banyak variasi gerakan ini: gerakan sejajar jidat,  gerakan sejajar dada, dan lain sebagainya. Gerakan ini merupakan gerakan stereotipe gerakan dangdut yang saya sering lihat.
  2. Gerakan silat. Dangdut dengan perpaduan tari Jaipong. Saya pertama kali melihatnya di Ancol sehingga saya mencobanya malam itu. Menarik sekali!
  3. Acak. Kadang ada tari yang terlihat acak, tetapi setelah dilihat dari kejauhan, mereka juga menyatu. Sulit untuk menggambarkannya, tapi gerakannya memang acak.

Sayangnya ketika lagu berikutnya, semua kembali ke bangku masing-masing. Lagu “Cindai” dengan irama Cha Cha membuat hanya beberapa yang turun. Maklum, tak banyak yang bisa menari ballroom. Alih-alih, kami hanya bisa melihat. Lagi pula, tari dangdut menghabiskan stamina juga. Kami turun lagi setelah kemudian dimainkan lagu Poco-poco. Dulu waktu zaman EBTA, senam poco-poco adalah salah satu materi yang diujikan. Tetapi, ternyata dulu itu sudah sangat lama sehingga saya juga sudah lupa gerakannya, ha… ha… ha…. Untungnya, ada satu gadis yang menarikannya dengan baik.

Setelah lagu Poco-Poco, orang-orang dipersilakan kembali. Setelah itulah kegilaan terjadi. Kami membajak panggung dan merebut mik dari penyanyi yang disewa untuk menyanyi. Kami bergantian bernyanyi sampai malam ditemani oleh pengiring musik. Awalnya, salah satu penggembala ragu. Tapi, seperti pepatah bilang: When in Rome, do as Romans do! Kalau sedang berlibur, jadilah pelancong yang baik: buang rasa malu dan bersenang-senang. Saya dan rekan maju duluan baru dengan menarik dia. Dia akhirnya coba satu lagu dan jadi ketagihan. Rencananya malah kami ingin sambung Karaoke di Jakarta minggu depan. 😀

Menginap di Sari Ater tentunya tidak lengkap tanpa mandi air panas. Pada malam hari, kami berendam di air panas. Berhubung kami tamu hotel, kami leluasa masuk. Malam itu sepi sekali, kami berendam di air terjun air panas. Lalu, bule-bule melihat kami berendam dan ikutan. Dari aksennya, mereka sepertinya dari Australia. Ah, pemandangan menarik tambah cewek blonde. Ha… ha… ha….

Hmm… tampaknya saya sudah lelah menulis. Hal lain yang kami lakukan adalah melakukan perang Paint Ball melawan PPSP. Tampak sekali kami salah strategi memilih tempat. Ternyata ruang untuk berlindung di tempat kami kurang. Kami pun sempat sesumbar ketika mau 5 vs. 7 orang karena 2 orang wanita. Ternyata 2 orang wanita itu jago, ha… ha… ha….

Akibat kesesumbaran kami, kami sukses dibantai. Walau pun demikian, saya bisa membuat 1 head shot.  Saya hanya tertembak sekali di kaki dan keserempet lengan baju sekali. Rekan yang lain ada yang lebih parah karena baru pertama kali bermain. Semangat tim PPSP berjuang demi merebut bandwith dari kami membuat kami kalah lebih telak lagi. 😀

Wahai tim PPSP, kami minta rematch di Bumi Wiyata! 😛

Setelah itu, saya ikutan adu panah dan baru tahu ternyata memanah itu susah. Cuma 12 panah tapi pegalnya terasa, untung langsung berendam lagi. Dan panah zaman sekarang itu ternyata tidak menyentuh anak panah, melainkan cukup menarik tali panah; persis seperti seorang miko di Inuyasha. Setelah mencoba memanah, saya berpikir kalau Robin Hood dulu memakai steroid supaya bisa memanah cepat. 😛

Selain Jerman kalah, liburan bersama pegawai PAU kali ini sangat menyenangkan. Orang-orang yang selama ini cuma kenal lewat surel dan obrolan dapat saya jumpai langsung. Saya menemukan bahwa semua orang UI itu pada dasarnya ramah dan memiliki sifat iseng yang baik. Menyenangkan sekali bisa bekerja dan mengenal dengan rekan-rekan semua. Saya cuma bilang: sayang Adji keluar bukan bulan depan. 😀

Indonesia Mencari Bakat

Indonesia Mencari Bakat

Indonesia Mencari Bakat merupakan sebuah acara waralaba untuk mencari bakat dari Indonesia yang disiarkan secara eksklusif dari TransTV. Yang berbeda dari acara ini dengan Indonesian Idol dan Akademi Fantasi adalah bakat yang dicari bukan sekedar menyanyi. Acara ini benar-benar unik; setiap orang memiliki bakat dan ditampilkan dengan baik. Acara ini seperti Gong Show, tetapi acara ini membiarkan bakat-bakat tersebut berkembang setiap minggunya, bila tak tereliminasi.

Saya senang dengan acara ini karena acara ini tidak berusaha mengeksploitasi para pesertanya, tetapi malah membuat mereka melakukan gebrakan-gebrakan baru. Saya suka dengan tim juri yang menunjukkan kualitasnya sebagai juri: mengangkat moral para peserta. Saya benci dengan juri yang cuma bisa menjatuhkan mental para peserta.

Apa gunanya menjatuhkan peserta?

Simon Cowell walau pun ketus, punya hal yang baik yang dia berikan kepada para peserta. Ia ketus, tapi komentar dia tidak berlebihan. Namun, semua tokoh ingin-jadi-Simon berkomentar seperti punya masalah superior-complex atau post-power syndrome. Hal yang lebih mengesalkan adalah adanya acara tangis-tangisan yang terdramatisasi. Hal ini menimbulkan kesan orang Indonesia seperti orang lemah. Itu sebabnya, saya benci acara realita. Tapi tidak untuk Indonesia Mencari Bakat.

Sebelum lanjut, saya mau bilang:

Semua peserta yang malam ini tampil tidak pantas untuk dieliminasi. Mereka terlalu bagus untuk dibuang. Maksud saya, lihat permainan mereka sangat baik. Lebih dari itu, setiap minggu permainan mereka berkembang. Hal yang paling diacungi jempol adalah beberapa dari mereka membawa identitas Indonesia. Wow!

Saya ingin membahas mereka semua, tapi tampaknya saya cuma pilih beberapa sebelum saya bosan mengetik. Ha… ha… ha….

Belda

Belda merupakan penari kesukaan saya. Hal yang paling diacungi jempol dari dia adalah tarian api yang menarik. Memang, tarian api yang paling keren ada dari Hawaii, tetapi Indonesia sebenarnya punya tarian api. Seandainya dia diberi kesempatan beberapa minggu untuk eksplorasi kebudayaan Indonesia, atau lebih baik lagi bila ada orang yang mengajari dia, dia pasti akan jauh lebih keren dan unik. Maksud saya, saya belum melihat dia melakukan atraksi bersama dengan para debus, bermain bola api seperti daerah asalnya, dan menari di atas bara api. Wow! Saya bayangkan itu pasti keren.

Dalam benak saya, saya ingin melihat tubuhnya terbakar dan menari-nari. Lalu, di belakang ada api mancur yang menyembur-nyembur dengan indah. Setiap properti api yang menyala-nyala itu tersinkronisasi dengan gerakan tubuhnya. Atau, setidaknya kipas yang dipegangnya diakrobatikkan dengan gerakan-gerakan silat atau kungfu. Ugh, butuh waktu memang, tapi dia pasti bisa berkembang.

Teknologi sekarang pasti sudah maju sehingga krim anti panas. Seandainya dia diperkenalkan dengan teknologi itu, pasti lebih keren. Dia pasti akan lebih gila lagi seperti Lintang dengan api menyala-nyala. Oh, iya, seandainya TransTV membuat panggung di luar, pasti lebih menarik. Sebab saya dengar, Belda mengalami kesulitan teknis dalam mengatur panggung. Wajar saja, properti yang digunakannya adalah properti yang berbahaya. Sayang, sungguh sayang.

Banyak orang yang seram melihat matanya, tetapi saya justru mengagumi matanya sebagai sebuah ikon. Ia seperti ikon anak metal, tetapi ia membawa sesuatu yang berbeda. Ia seorang seniman yang eksotis! Ia adalah Belda sang penari api.

Rumingkang

Saya sebenarnya sudah malas menulis, tetapi ada sesuatu yang spesial dari Rumingkang yang membuat saya mau terus menulis. Rumingkang adalah sebuah avatar budaya Indonesia. Malam ini Rumingkang memberikan kontribusi yang menarik yang sebenarnya bisa menjadi sarana untuk konservasi budaya Indonesia.

Salah satu juri bertanya kepada Rumingkang: “Siapakah penyedia busana (wardrobe) dari Rumingkang?” Ini sebenarnya sebuah konsep menarik, rumah busana bekerja sama dengan penari tradisional dalam menyediakan kostum penari. Konsep sponsor seperti ini sudah berjalan di pelbagai acara, tetapi malam ini Rumingkang mendobrak dengan memberikan sebuah solusi sponsor untuk mengangkat budaya Indonesia.

Ya, bekerja sama dengan sebuah rumah butik bukanlah hal yang aneh, malah sebuah solusi menang-menang yang baik. Seandainya para penari kita dan rumah busana lainnya mau juga melakukan hal yang sama. Para penari dapat dengan baik menari dan ikut memperkenalkan disain dari rumah butik yang mensponsorinya. Dengan demikian, para penari terpacu untuk maju dan rumah butik dapat menantang dirinya ke level yang lebih atas dengan menyediakan baju-baju tradisional yang modern. Keduanya sama-sama berusaha menunjukkan kelasnya masing-masing. Wow!

Atau sebagai bentuk CSR, seandainya rumah butik memberikan satu slot dalam acara pagelaran butiknya dengan menampilkan para penari atau busana nusantara yang modern. Ini bisa membuat orang-orang takjub. Jadi, bukan cuma sekedar bule-bule saja yang berusaha belajar tradisi Indonesia, tetapi orang-orang Indonesia juga. Karena, selain budaya itu lestari dan populer, orang-orang yang terlibat di dalamnya juga terjaga kehidupannya.

Kembali kepada Rumingkang.

Pada mulanya saya dan keluarga tidak begitu menjagokan Rumingkang. Kalau hanya menarikan tarian tradisional, itu suatu hal yang membosankan. Tetapi, mereka malam ini memberi unsur yang luar biasa: mencampur tarian tradisional bahkan silat Betawi dan modern dance menjadi tarian Rumingkang. Wow! Sebuah usaha mempertahankan tradisi dengan memberikan warna baru untuk eksplorasi. Bukankah setiap tarian tradisional berkembang dari masa ke masa? Begitu juga dengan tarian tradisional di tangan Rumingkang; mereka memberi sebuah warna baru, yakni tari Rumingkang.

Klantink

Ugh, saya mau berhenti menulis tapi teringat akan satu grup musisi lagi: Klantink!

Titi Sjuman malam ini terlihat haru tapi dia tidak secara eksplisit menceritakan apa yang dia harukan. Menurut interpretasi saya, dia terharu melihat Klantink malam hari ini. Klantink memang berhak untuk diberi apresiasi malam ini. Tetapi sedikit catatan, saya benci acara perkenalan yang untungnya hanya nyaris mendramatisasi pertemuan Klantink dengan anggota keluarganya. Tetap jaga kuallitas acara ini!

Tidak ada yang menarik dari penampilan grup ini, tetapi mereka dengan pedenya menunjukkan kualitas mereka. Salut saya! Oh, iya, maksud saya tampang dan bentuk badan mereka tidak ada yang menarik. Tetapi, kemampuan mereka dan cara mereka memberikan apresiasi sangat luar biasa. Malam ini mereka menunjukkan kemampuan mereka dengan baik.

Hudson

Keren.

Dan lain-lain

Aduh, maaf, saya sudah lelah dan mau tidur. Berto dan kawan-kawan lainnya juga tak kalah bagus. Tetapi, saya sudah mengantuk. Wow!