Category Archives

226 Articles
Keamanan Perbankan

Keamanan Perbankan

EMV (Europay Mastercard Visa) adalah sebuah konsorsium yang dibuat untuk membuat standarisasi transaksi elektronik. Tujuan dari EMV adalah membuat interopabilitas transaksi antar bank sehingga suatu kartu elektronik dapat dipakai antar mesin-mesin EDC. Kartu BCA Flazz merupakan salah satu kartu yang memenuhi standar tersebut. Versi transaksi yang biasa dipakai adalah EMV versi 4 dan standar terbaru yang efektif mulai berjalan adalah standar 4.2.

Baru-baru ini sebuah riset menemukan celah keamanan dalam protokol EMV mengenai verifikasi PIN.[1] Dengan menggunakan sebuah alat dan kartu yang termodifikasi, seorang pencuri kartu dapat memasukkan nomor PIN ke dalam mesin dan membuatnya seakan-akan terverifikasi oleh kartu. Hal ini dapat terjadi karena ketika sebuah mesin EDC berkomunikasi dengan kartu untuk melakukan verifikasi PIN, sebuah alat membajak komunikasi di tengah-tengah dan memberikan pesan terverifikasi seakan-akan dari kartu. [2] Setidaknya serangan ini efektif terhadap bank-bank di Inggris. [3].

Menurut [4], celah keamanan ini memiliki pengaruh sebagai berikut:

  1. Transaksi daring dengan menggunakan kartu-kartu ini sangat mudah ditipu.
  2. Jumlah transaksi tidak terbatasi.
  3. Serangan ini tidak berfungsi kepada kartu yang sudah diblokir oleh bank. Itu sebabnya serangan ini berlaku antara waktu kartu hilang sampai pemilik melaporkan ke bank untuk kartu diblokir.
  4. Serangan ini berpengaruh kepada Bank yang menerapkan standar EMV.

Saya tidak tahu apakah BCA Flazz termasuk yang terkena. Seingat saya ketika melakukan pengamatan, kartu BCA Flazz sepertinya menggunakan Javacard (mengingat mereka bekerja sama dengan Gemalto). [5] Setahu saya, kartu-kartu Javacard Gemalto sudah menggunakan standarisasi GlobalPlatform 2.1.1. Standarisasi ini diakui oleh EMV sebagai salah satu protokol yang dapat digunakan dalam transaksi keuangan. Salah satu fitur GP 2.1.1 ini adalah pembuatan kanal komunikasi terenkripsi dengan mesin EDC sehingga data yang dikomunikasikan terenkripsi. Apakah BCA Flazz mengimplementasi fitur ini? Saya tidak tahu.

Keamanan adalah sebuah investasi yang mahal dan cepat sekali berubah. Semoga tulisan ini memberikan pencerahan bahwa keamanan yang terbaik adalah ketika kita berhati-hati terhadap transaksi keuangan yang kita lakukan. Hindari transaksi daring.


Silakan lihat lebih lanjut tayangan di bawah ini mengenai laporannya:


  1. Tom Espiner. Chip and PIN is broken, say researchers. ZDNet UK, 11 Februari 2010 17:01 <http://www.zdnet.co.uk/news/security-threats/2010/02/11/chip-and-pin-is-broken-say-researchers-40022674/> ^
  2. Steven J. Murdoch, Saar Drimer, Ross Anderson, dan Mike Bond. EMV PIN verification “wedge” vulnerability. (terakses 30 Desember 2010)<http://www.cl.cam.ac.uk/research/security/banking/nopin/> ^
  3. Cambridge researchers show that the Chip and PIN system is vulnerable to fraud. 11 Februari 2010 <http://www.cl.cam.ac.uk/research/security/banking/nopin/press-release.html> ^
  4. Ross Anderson.Chip and PIN is broken. 11 Februari 2010 (Terakses 30 Desember 2010)<http://www.lightbluetouchpaper.org/2010/02/11/chip-and-pin-is-broken/> ^
  5. http://www.gemalto.com/brochures/download-newsletters/FS-01.pdf ^
Pencarian Format Audio Yang Cukup

Pencarian Format Audio Yang Cukup

Belajar dari banjir besar yang menimpa Jakarta beberapa tahun lalu dan peminjaman yang tak kembali, hal yang pertama kali saya lakukan setiap kali saya membeli CD audio adalah menyalin CD tersebut dan menaruh koleksi CD pada tempat yang aman. Sedikit curhat, koleksi saya dulu masih kaset. Koleksi kaset saya berisi rekaman lagu-lagu rohani, termasuk rekaman terakhir Mbah Embong Rahardjo. Entah masih ada yang jual atau tidak, setidaknya saya belum menemukan kembali rekaman-rekaman tersebut di  toko-toko yang saya kunjungi.

Terus terang, untuk menyalin seluruh koleksi CD dengan format asli adalah hal yang gila, kecuali kalau saya mulai menggunakan server Kambing sebagai penyimpanan pribadi, ha… ha… ha…. Itu sebabnya, saya biasanya mengonversi format CDDA (format CD Audio) menjadi format yang lain. Kriteria yang saya gunakan untuk menggunakan sebuah format:

  1. Dapat dimainkan di GNU/Linux.
  2. Dapat mereservasi kualitas suara.
  3. Lisensi.

Nah, saya mau bagi-bagi pengalaman buat Anda yang punya kuping rada rese yang alergi mendengar suara berkualitas rendah. Atau bagi Anda yang punya peralatan Hi-Fi mahal yang under utilized (tidak secara maksimal digunakan). Atau bagi Anda yang sebal bermain-main dengan equalizer, DSP, dan normalisasi. Bagi Anda yang memiliki peralatan memadai dan ingin menikmati musik apa adanya tanpa steroid, ini saya coba bagikan pengalaman. Silakan komentar jika Anda memiliki pengalaman dengan yang lain.

MP3

Format buatan MPEG LA ini saya sebutkan pertama kali karena saya tidak pernah menggunakan format ini, karena:

  1. Secara baku, tak dapat dimainkan di GNU/Linux.
  2. Format suara tidak begitu bagus, termasuk lossy.
  3. Lisensi berlebihan, setiap pengguna komersil wajib untuk membayar paten untuk penggunaan format ini. Memang, bila di Indonesia ini tidak berlaku. Tapi, hei, mimpi besar saya adalah industri elektronik kita bisa mengekspor ke Amerika. Ha… ha… ha…

Ogg Vorbis

Format ini sama seperti MP3, tidak begitu bagus. Tergantung enkoder yang dipakai, Ogg Vorbis terkadang menyertakan gangguan suara (noise). Itu sebabnya, saya ingin mencari format yang lain karena saya suka lupa kalau konversinya harus menggunakan perkakas tertentu. SoundJuicer menghasilkan kualitas yang bagus, tetapi itu, ‘kan, GNOME. Saya menghindari memasang dua sistem besar.

  1. Format baku yang didukung oleh GNU/Linux.
  2. Suara cukup bagus, lossy.
  3. Bebas paten.

FLAC

FLAC saya gunakan untuk musisi favorit saya (Delirious?). Suaranya bagus sekali. Sayangnya, satu berkas berukuran 30 hingga 50 MB. Waduh!

  1. Format didukung oleh GNU/Linux.
  2. Suara keren, lossless. Ukuran besar.
  3. Bebas paten.

AAC+

AAC adalah format paling keren yang saya tahu untuk berkas-berkas suara dengan bitrate rendah. Dulu saya biasanya berlangganan radio Internet dengan format ini. Keuntungan AAC adalah format ini adalah format baku peralatan produksi Apple (iPad, iPhone, Mac, dll.) sehingga bagi yang punya peralatan-peralatan ini bisa segera digunakan. Restriksi lisensi AAC tidak seketat MP3. AAC tidak ada isu paten dan lisensi dalam mendistribusikan konten yang disimpan dengan format ini. Hanya produsen codec yang wajib membayar lisensi, itu sebabnya FFMPEG dan FAAC (dua implementasi FOSS untuk AAC) mendistribusikan programnya berupa kode sumber saja.

  1. Harus memasang paket tidak bebas (ubuntu-restricted-extras).
  2. Cocok untuk bitrate rendah seperti 2 kHz s.d. 96 kHz. Berguna untuk radio Internet.
  3. Pengguna (komersil dan non-komersil) gratis, pembuat codec harus bayar.

Musepack

Saat ini Musepack versi stabil SV8. Musepack adalah sebuah format suara perangkat lunak terbuka (open source). Dahulu kurang begitu diminati karena diduga melanggar banyak paten. Tetapi, saat ini hanya ada satu isu yang mungkin (baca: perlu kajian lebih lanjut) mengganjal yakni paten mengenai penggantian noise. Hal ini bukan halangan, menurut Wikipedia, karena bisa saja bagian tersebut diperbaharui dengan menggunakan metode lain. Saat ini saya mulai pindah ke Musepack sebagai format konversi dari CD yang saya beli.

  1. Ada 1 paten mengganjal membuatnya tidak terpasang otomatis di GNU/Linux.
  2. Suara mantap, cocok untuk bitrate tinggi (kualitas CD ke atas).
  3. Lisensi bebas.
Pengajaran Sejarah dalam Kultur Pop

Pengajaran Sejarah dalam Kultur Pop

[Baca: Education two point o]

Saya tertarik membaca sebuah novel visual (baca: komik) berjudul Shoukoku No Altair.[1] Bukan hanya saya, di forum daring novel grafis ini saya temukan banyak orang yang tertarik membahasnya. Beberapa orang Turki bahkan berusaha menulis tentang sejarah yang sebenarnya dan istilah-istilah yang ada dalam bahasa asli. [2] Saya bahkan jadi tertarik untuk mempelajari sejarah Turki Ottoman dan mencari jikalau visual novel ini sudah terbit di Indonesia. Sayangnya saya belum berhasil menemukan cetakan tersebut.

Novel visual ini berbicara tentang sejarah fiksi dari bangsa Turki. Protagonis adalah seorang Pasha muda bernama Mahmout. Ia sedang berada di era sebelum perang besar dengan bangsa Barat. Perjalanan Pasha muda ini dalam pengalaman berpolitik membuat ia harus dari satu negara ke negara lainnya. Cerita ini kompleks dan banyak intrik politik yang menarik. Cukup dalam untuk sebuah novel Shōnen.

Apa yang novel grafis itu berusaha sampaikan kepada pembacanya mampu memotivasi orang untuk mengenal lebih lanjut mengenai Turki. Bayangkan, seandainya sejarah kita pun ditulis dengan gaya visual novel. Alangkah terselamatkannya bangsa ini dari krisis identitas.

Omong-omong, sejarah Indonesia nyata lebih menegangkan dan dilengkapi bumbu romantisme dibandingkan kisah tiga negara.


  1. http://www.mangaupdates.com/series.html?id=12229 ^
  2. Perryhan. About Turkish Words. <http://forums.mangafox.com/showthread.php?t=219858> ^
Idea Marketplace

Idea Marketplace

Pak Jul (bukan nama sebenarnya) adalah salah seorang petani tomat di desanya. Pak Hermanto (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pengusaha waralaba masakan tradisional. Pak Jalawe (bukan nama sebenarnya) adalah seorang pengusaha transportasi. Mereka tidak tahu satu sama lain dan mereka tidak pernah berhubungan. Padahal, mereka masih di Pulau Jawa.

Perusahaan X berusaha mengalirkan CSR. Sekolah perintisan Y membutuhkan dana untuk proyek mereka, yakni pengadaan Internet sekolah. Keduanya tak pernah tahu keberadaan satu sama lain.

Perusahaan Z bergerak di bidang elektronik. Mahasiswa A memiliki ide untuk pengembangan ID Card sederhana untuk pengelolaan barang. Lebih murah dan efisien karena dia menggunakan teknologi terbaru, dengan protokol Z-Wave.

Dr Tian (bukan nama sebenarnya) memiliki kesimpulan aneh tentang pernapasan pasiennya. Ia tinggal di kota X. Dr. Albert (bukan nama sebenarnya) adalah seorang spesialis paru-paru lulusan John Hopkins. Ia berharap bisa membantu rekan senegaranya, makanya ia pulang ke Indonesia. Ia tinggal di Jakarta. Keduanya tidak pernah bertemu dan tidak saling kenal.

Onno W. Purbo dan kawan-kawan berusaha menghadirkan Internet kepada pelosok-pelosok. Mereka bahkan sampai belajar ke Thailand untuk membuat BTS sederhana. Namun, hambatan yang  seringkali mengganjal adalah persoalan sederhana: Pengadaan listrik. Mahasiswa B, C, dan D adalah mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir di bidang elektronik arus kuat. Mereka masing-masing sedang mengadakan tugas akhir perancangan pembangkit listrik tenaga alternatif.

Iang (bukan nama sebenarnya :P) adalah seorang mahasiswa/asisten riset di Amsterdam. Ia memiliki akses pengetahuan dalam membuat sebuah meja layar sentuhan-ganda (multi-touch screen) dengan bahan-bahan murah. Lab X adalah sebuah Lab di Indonesia yang hendak membuat penelitian tentang teknologi terkini yang bisa terjangkau. Mereka tak pernah tahu satu sama lain.

JP (bukan nama sebenarnya :P) adalah seorang yang cuma bisa bicara. Makanya, ia menulis ini dan bertanya kepada kawan-kawan: Adakah tempat nyata/situs di mana pihak-pihak tersebut bisa saling bertemu; di mana ide-ide tersebut dapat dibagikan dan semua orang bisa saling bertemu?

Indonesia Idea Marketplace. <– I’m wishing this is not a broken link like now…. :((

Bagaimana Kita Terkenang

Bagaimana Kita Terkenang

Saya merasa tertohok ketika membaca majalah Time edisi 6 Desember 2010, Special Timeframe Issue. Pada topik The World, Time menyediakan statistik yang sungguh menohok berbicara tentang perbandingan tahun 2000 dan 2010. Berikut cuplikannya:

# alasan 2000 2010
1 Luas es abadi di Artik (Kutub Selatan) 7,0 jt KM2 4,9 jt KM2
6 GDP Brazil US$3.700 US$8.536
8 Angka kematian Ibu saat melahirkan di Etiopia 750 470
9 Mobil Bentley di Rusia 0 103
10 Investasi Cina di Afrika 1,6 miliar 17 miliar
12 Penjualan telepon genggam di India 2 juta 545 juta
13 Pengguna Internet di Cina 22 juta 420 juta
14 Emisi CO2 Indonesia 267 ton metrik 434 metrik ton

Apakah Anda menyadari ada yang salah dengan tabel tersebut? Dunia mengingat Indonesia sebagai salah satu penyumbang polutan terbesar di dunia, berbeda dengan negara lain yang diingat akan pencapaiannya.

India telah mampu membuat telepon genggam menyentuh sampai ke daerah ruralnya dan model bisnis ini yang ditiru Indonesia.[1]  Mereka dengan keterbatasan mampu menciptakan peluang TIK (Teknologi Informasi Komputer)

GDP Brazil meningkat dua kali lipat lebih. Sungguh pencapaian fantastis. Tambahan juga,  Brazil merupakan salah satu negara pengadopsi FOSS (Perangkat Lunak Bebas dan Terbuka) paling progresif. Akibat hal tersebut, ITU, lembaga standarisasi global dalam telekomunikasi, menganugerahinya ITU Awards pada tahun 2009.[2] Di mana IGOS?

Ugh, sebelum saya membuat tulisan ini menjadi lebih menggugat, saya takkan membahas yang lain. Ini seharusnya menjadi tulisan yang lebih instropektif dan retrospektif. Saya takkan menggugat biaya komunikasi data yang mahal yang menyebabkan penyebaran Internet begitu tersendat. Begitu tersendatnya, saya tidak yakin apakah Indonesia bisa memenuhi janjinya kepada ITU yang akan menjadikan Indonesia zero blank spot (nol titik kosong) pada tahun 2015. Begitu tersendatnya sehingga hanya kaum muda progresif saja (yang notabene masyarakat urban) yang bisa mengerti. Pendidikan TIK kita begitu rendah sehingga orang tua membiarkan anak-anaknya dapat mengakses pornografi dengan mudah dan menteri kita hanya menawarkan solusi yang tak masuk akal: memasang filter di ISP. Hmm… keluar juga salah satu uneg-uneg saya. Ha… ha… ha….

Ada beberapa proyek harapan yang menjadi pertanyaan saya:

  1. Apa yang terjadi dengan program kesehatan Indonesia Sehat 2010? Di mana pertanggungjawabannya?
  2. Bagaimana dengan nasib megaproyek Palapa Ring?

Terus terang, saya tidak begitu mengikuti KPK dan semua kasus-kasus korupsi, termasuk Sisminbakum. Bagi saya, semua itu akan selalu ada karena  hal yang paling esensial tidak tersedia. Hal-hal esensial berikut:

  1. Infrastruktur komunikasi untuk mempercepat komunikasi, termasuk di dalamnya adalah transfer pengetahuan.
  2. Infrastruktur TIK untuk mempercepat transparansi informasi. Transparansi TIK ini juga mampu mencatat keberhasilan pegawai sehingga bonus bagi pegawai bisa layak diberikan. Insentif bagi pegawai publik.
  3. Infrastruktur pendidikan untuk membuka wawasan setiap insan bahwa korupsi akan merugikan di masa mendatang. Sehingga mereka tidak mudah dibodoh-bodohi oleh Iblis.

Palapa Ring menurut saya seharusnya bisa menjadi infrastruktur vital dalam pertukaran informasi. Departemen Perindustrian bisa menggunakannya untuk menyediakan layanan e-Commerce bagi petani, sehingga dapat meningkatkan taraf hidup petani dan membunuh tengkulak. Ia bisa menjadi jawaban bagi Departemen Kesehatan, terutama program Indonesia Sehat 2010-nya yang dapat mendeteksi proses endemik penyakit. Jadi, alih-alih memberikan fasilitas kesehatan kepada keluarga miskin, pemerintah bisa memproses pencegahan terjadinya penyakit. DIKTI bisa menggunakannya untuk memberikan konten-konten pendidikan kepada seluruh pelosok Indonesia. Memantau perkembangan pendidikan di daerah-daerah.

Tentu, semua butuh proses dan saya mengerti hal tersebut. UU Keterbukaan Informasi Publik baru saja disahkan dan butuh waktu untuk bisa menjadi kultur. Tetapi, saya rindu di 2010-2020 majalah Time akan menulis Indonesia dengan kebaikan. Kita pernah bisa menjadi negara penyeimbang dua blok yang menyebabkan perang Dingin tidak menjadi perang Dunia III. Kita pernah bisa berswasembada beras pada Pelita III. Kita pernah menjadi salah satu pasukan bola disegani di Asia. Kita pernah menyapu emas Olimpiade di cabang Bulutangkis.

Mengapa harus kepala negara lain yang mengingatkan saya akan pentingnya dasar negara saya? Mengapa harus orang lain yang menggugat penebangan kayu ilegal di Indonesia? Mengapa harus hasil penelitian peneliti asing yang digunakan oleh BRI untuk mikroekonomi? Mengapa infrastruktur transportasi masa kolonial yang masih saya gunakan?

.

Apa yang menyebabkan kita tidak bisa lagi diingat akan pencapaian kita?


  1. Maaf, saya lupa sumbernya, ada di wawancara Tempo dengan salah satu pemimpin perusahaan telekomunikasi. ^
  2. Michael Tiemann. President Lula of Brazil receives ITU Award, Open Source Software cited (updated). <http://www.opensource.org/node/443> ^
Komik Indonesia

Komik Indonesia

Minggu kemarin saya menonton TVOne yang membahas tentang komik Indonesia. Bagaimana komik Indonesia mengalami kematian pelan-pelan hingga tahun 1990-an praktis kalah dengan komik Jepang. Hingga kini komik Indonesia mati suri.

Banyak alasan yang orang berikan, tetapi menurut saya komik Indonesia mati karena kultur yang tidak benar.

Komik Indonesia yang populer pada era keemasan adalah komik-komik yang ditujukan kepada orang dewasa. Coba saja lihat kisah si Buta dari Gua Hantu, Kho Ping Ho, dan lain sebagainya. Kisahnya dalam, tone yang dipakai tebal dan serius. Bahkan, beberapa cerita cenderung berunsur politik. Zaman dulu itu era keemasan dari komik-komik dewasa semacam komik terbitan Dark Horse saat ini. Oh, ya, Dark Horse adalah penerbit komik (mereka menyebutnya novel grafis) seperti Sin City, Berserk, dan komik-komik dewasa lainnya.

Nah, masalahnya, stigma yang berkembang di masyarakat Indonesia pada masa-masa itu adalah komik disebut sebagai bacaan anak-anak. Orang yang telah beranjak dewasa akan merasa malu ketika hendak membeli komik. Pandangan negatif kepada komik inilah yang membuat pasar komik menurut saya menjadi serba salah. Coba tengok, mana ada komik untuk anak kecil dengan tokoh utama yang keluarganya dihabisi pada malam pernikahannya? (Si Buta Dari Gua Hantu)

Intinya, komik untuk dewasa bertumbuh di dalam lingkungan yang penuh stigma bahwa komik untuk anak kecil membunuh komikus dan pembaca potensial. Regenerasi pun terhenti. Sampai akhirnya kita kembali diserbu oleh komik Jepang, sebuah negara yang menerima kehadiran komik sebagai bagian dari kultur mereka tanpa malu-malu.

Orang Amerika mengatasi hal tersebut dengan menyebut komik-komik mereka sebagai Graphics Novel. Sedangkan orang Jepang berhasil membuat segmentasi komik. Apakah solusi Indonesia untuk komik dewasa dan cerita penuh intrik politik?

Keroncong Effect (Efek Keroncong)

Keroncong Effect (Efek Keroncong)

Bagaimana membuktikan teori Relativitas Einstein tentang jagat mengembang?

Dari tadi kami berpikir sudah jam 12 siang, tetapi ternyata setengah jam pun belum berlalu. Sungguh, lagu keroncong mampu membuat waktu berjalan lambat. Saya sendiri sudah habis mengoding, yang biasanya baru selesai jam 14.00 WIB. Waktu kompilasi pun berjalan cepat! Sewaktu mengunduh, Opera menyatakan ETA 3 menit, tetapi, waktu mengunduh dan memasang di daftar main tidak sampai 2 menit (plus menulis kodingan).

Dari tadi melihat jam, baru 2 menit berlalu. Dalam tempo kurang dari setengah jam, seluruh kerjaan yang biasanya mengambil waktu setengah hari selesai. Wow, bagaimana ini bisa terjadi?

Kronologis

Setelah pagi ini memasangkan lagu-lagu Batak di kantor, saya berinisiatif untuk memasang sebuah lagu keroncong, “Jembatan Merah”. Lagu ini didapatkan dari sebuah situs unggah bersama di Internet. Sepertinya direkam dari piringan hitam langsung ke komputer sehingga beberapa detail berkurang. Saya harus mengurangi Bass, dan menambah vokal, serta memberi efek Bauer. Itu pun suara penyanyi agak samar-samar.

Lalu, saya pun mulai mengunduh beberapa lagu yang lain seperti: “Keroncong Kemayoran”, “Keroncong Tanah Airku”, “Sepasang Mata Bola”,  “Rayuan Pulau Kelapa”, “Melati di Tapal Batas”, “Bengawan Solo”, “Selendang Sutera”, dan “Di Bawah Sinar Bulan Purnama”. Ini disertai dengan membaca planet-planet, menulis koding, kompilasi, berdiskusi, dan menulis WIKI di kelola.

Kami lalu sadar, waktu dimainkannya lagu Keroncong pertama sekitar 11 kurang tetapi semua tersebut sudah selesai 11.23 WIB. Kami telah tersedot ke dalam jagat dimensi di mana waktu berjalan lambat! Selamat datang di Keroncong Effect, lebih ampuh dari Butterfly Effect.

Saat ini sedang terjadi perdebatan antara kami, mengapa kami bisa berbuat banyak? Apakah Keroncong Effect benar-benar mengembangkan waktu? Ataukah ada delusi yang tercipta. Yang pasti, kami sangat tidak mengerti mengapa kami bisa begini.

Ada Apa Hari Ini

Ada Apa Hari Ini

Maaf, seharusnya kemarin, saat ini sudah hari berikutnya sepertinya.

Hari kemarin dipenuhi oleh tontonan menarik. Pertama, sedang ada Science Film Festival 2010 di Jakarta yang diselenggarakan oleh Musium Iptek TMII (tempat saya menonton), Goethe Institute (penggagas utama), Blitz Megaplex (tempat nonton juga), dan lain sebagainya (lihat poster saja). Ide yang menarik sekali, menyajikan ilmu pengetahuan dalam film-film pendek. Film ini gratis ditonton, tetapi katanya, sih, harus pesan tiket dulu. Katanya, sih….

Hari ini saya kebetulan sedang menemani anak-anak sekolah minggu  gereja saya. Kata kakak pembinanya akan ada acara menonton gratis. Ternyata, pemutaran film yang dimaksud adalah bagian dari festival film tersebut. Kami menonton dua film yang menarik: Mouse TV — Roller Coster; dan The Blue Wonder — The Island World of Raja Ampat. Omong-omong, saya melihat bahwa kedua film ini bukan di daftar tayang. Kalau menurut daftar tayang, seharusnya jam 12.00 s.d. 14.00 adalah film Saved by Seals dan Intelligent Plants. Kedua film yang seharusnya tayang itu ditandai 12+, yang artinya hanya dapat ditonton oleh yang berusia 12 tahun ke atas. Jadi, sepertinya panitia sengaja mengubah film tersebut karena tahu kami mau menonton.

Film yang pertama bercerita tentang bagaimana seseorang saat menaiki halilintar. Menurut saya, film ini menarik. Ia menceritakan dengan lelucon, anak-anak suka. Lagi pula, ceritanya singkat hanya enam menit. Jadi, anak-anak itu terpaku dan konsentrasi menonton. Maaf, lebih dari ini saya akan menjadi spoiler, lebih baik Anda menonton.

Film yang kedua bercerita tentang kekayaan biota laut di kepulauan Raja Ampat. Saya kecewa dengan narasi awal yang menyebutkan tempat tersebut berada di Papua Nugini. Untung saja, isinya menceritakan tempat tersebut ada di atas kepala burung dari pulau Papua. Duh! Coba cek dulu, dong! Apalagi disulihsuarakan, masakkan tidak dicek dulu isinya?

Omong-omong, saya sebagai seorang peduli konservasi sangat menyukai film yang kedua ini. Ia begitu detail menceritakan spesies-spesies langka yang didapatkan. Rekan saya yang seorang fotografer sangat terkesima melihat hasil jepretan makro dari film bawah laut. Kakak pembina juga menyukainya, terutama kuda laut. Hanya saja, beberapa anak tidak menyukainya. Bahkan, sampai ada yang tidak tahan sehingga keluar, dan saya harus menemaninya. Saya jadi tidak bisa menonton sepenuhnya. Tapi, anak-anak juga banyak yang suka tentang terumbu karang dan ikan-ikan yang aneh.

Sebelum menonton, di panggung ada peragaan IPTEK terlebih dahulu tentang nitrogen cair. Wah, ternyata hanya lima ribuan seliter. Tetapi, untuk mendapatkan Nitrogen ini harus ada izinnya. Lalu, setelah film pertama, diadakan kuis dengan alat peraga tentang Hukum Inersia. Sayang sekali, saat anak yang maju mencoba memperagakan, tali yang diikatkan ke ember yang diayunkannya putus. Setelah fim kedua, kami diberi kartu pos yang diisi secara antusias oleh anak-anak. Mereka berebutan untuk mengisi dan mengumpulkan. Isi pertanyaan kartu pos tersebut adalah “Apakah arti alam bagi kamu?”

Setelah itu, kami berkeliling di Musium IPTEK sebentar lalu pulang. Sayang sekali, saya menjumpai beberapa alat peraga sudah mulai rusak. Tetapi, ketika saya melapor, sang petugas bilang bahwa setiap sore selalu diadakan pemeriksaan rutin. Sungguh biaya yang mahal untuk merawat pusat ilmu ini. Saya berharap Musium IPTEK tetap ada dan terpelihara dengan baik. Saya melihat anak-anak sangat antusias saat berkeliling dan mencoba banyak hal, terutama rumah gempa.

Saya hampir mau membeli oleh-oleh bola kristal pemancar listrik — itu, lho, yang seperti pembangkit listrik Tesla. Bentuknya ada yang bulat dan lampu lava. Saya tergiur untuk membeli yang versi lampu lava. Tetapi, saya takut apabila ditaruh di rumah dan bolanya pecah, bisa terjadi kebakaran. Mungkin saya tertarik membelinya kapan-kapan setelah saya memutuskan hendak ditaruh di mana benda itu. My first geeky toy should be that lava lamp!

Setelah pulang, saya melihat ada tontonan “Scott Pilgrim vs The World”. Filmnya bagus, bintangnya Michael Cera dari Juno. Filmnya retro dan mirip seperti Gamer. Sepertinya tipe-tipe film festival.

Demikian laporan pandangan mata. Kesimpulan hari ini: sinema dapat menolong banyak aspek kehidupan. Auf wiedersehen!

[NB: Yang dimaksud dengan sekolah minggu adalah sebuah komunitas kristen untuk anak-anak dari batita hingga anak SMP.]

Serangan Lewat Paten Perangkat Lunak

Serangan Lewat Paten Perangkat Lunak

Sekitar tahun 2005 sampai dengan 2007, para pengadopsi perangkat lunak bebas dan terbuka (Free/Open Source Software atau FOSS) sering kali dihantui oleh kecemasan. Saat itu, sering terdengar kabar burung (FUD) yang mengatakan bahwa perangkat lunak yang mereka gunakan melanggar paten. Puncak dari serangan tersebut adalah dengan adanya usaha melegalisasi paten perangkat lunak di Eropa.[1] Kala itu, Eropa sedang dilobi untuk melegalkan paten atas perangkat lunak.

Melihat bahaya yang dapat diberikan, beramai-ramai para penggiat FOSS mengumpulkan suara. Mereka menyerukan kepada pengguna FOSS untuk mendatangi wakil parlemen terdekat mereka dan menyuarakan keberatan. Mereka menggalang suara dan melakukan petisi. Karena usaha penggalangan suara tersebut, parlemen Eropa menolak paten atas perangkat lunak sampai hari ini.

Paten Perangkat Lunak: Sebuah Perkenalan

Pernahkah Anda mendapati peramban Anda harus mengklik konten Flash hanya untuk mengaktifkan konten tersebut? Hal ini terjadi karena metode untuk memainkan langsung berkas Flash yang sudah terunduh merupakan paten milik Eolas. [2] Karena paten tersebut, setiap produsen peramban yang tidak terafiliasi dengan Eolas yang tidak membayar royalti dituntut oleh Eolas.

Paten perangkat lunak tidak memiliki definisi yang jelas.[3] Tetapi, secara umum paten perangkat lunak didefinisikan sebagai perlindungan terhadap penggunaan algoritma dalam aplikasi komputer. Yang dimaksud dengan algoritma bukanlah kode komputer yang tereksekusi, melainkan cara melakukan eksekusi komputer. Kendati menggunakan kode sumber yang lain, sebuah entitas pengimplementasi paten dapat dituntut oleh pemilik paten karena menggunakan cara yang sama dengan paten yang dimaksud.

Opera dan Internet Explorer tidak dapat langsung memuat dan memutar konten Flash. Paten untuk memainkan langsung konten-konten plugin telah terdaftar oleh Eolas dalam Paten Amerika Serikat nomor 5.838.906 (lima juta delapan ratus tiga puluh delapan sembilan ratus enam).[4] Paten ini diterbitkan 17 November 1998 di Amerika Serikat.[5] Pihak Opera dan Microsoft terpaksa membuat peramban mereka tidak secara otomatis memuat Flash. Mereka harus membuat metode lain, yakni membuat sebuah skrip Javascript yang dijalankan otomatis agar memuat konten Flash.

Paten dan Bahaya

Bagi para penggiat FOSS, paten perangkat lunak merupakan momok terbesar. Ada ketakutan ketika seseorang mengembangkan perangkat lunak bebas dan terbuka (FOSS) dapat terancam tuntutan. Stallman menggambarkan paten perangkat lunak sebagai ranjau yang dapat sewaktu-waktu meledak ketika dilewati.[6] Pengembang perangkat lunak bukanlah ahli hukum dan tidak semua memiliki sumber daya untuk melakukan riset paten terlebih dahulu. Sehingga, mereka dapat secara tidak sengaja mengimplementasi sebuah paten.

Para pengguna GNU/Linux mendapati distro yang digunakannya tidak memiliki kemampuan untuk memainkan MP3.  Mereka pun tidak dapat memainkan DVD asli mereka karena DVD asli terenkripsi dengan CSS (Content Scramble System). Sistem ini tidak berpengaruh kepada media bajakan. Sehingga, alih-alih membeli DVD asli, orang akan berpikir untuk membeli bajakan. Selain lebih murah, ada juga alasan teknis demikian.

Paten perangkat lunak dapat menyebabkan pengembang perangkat lunak kecil gulung tikar.[7] Ada perusahaan yang sama sekali tidak menghasilkan produk tetapi memiliki paten atas perangkat lunak. Perusahaan yang disebut sebagai patent troll ini menggunakan hak patennya untuk menuntut banyak pihak dan memperoleh keuntungan dari tuntutan tersebut. Lalu, ada korporasi yang menggunakan hak paten mereka untuk mendapatkan keuntungan.

Korporasi tentunya juga tidak terlepas dari bahaya tersebut. Mereka berusaha melindungi diri dengan membuat portfolio dari paten-paten. Selain itu, mereka juga melakukan negosiasi rahasia antar korporasi sehingga dapat melindungi diri mereka dan saling pengertian. Salah satu contoh yang terbaru adalah Red Hat yang melakukan transaksi rahasia dengan Acacia mengenai teknologi dalam JBoss.[8] [9] Akan tetapi, jelas sekali pihak-pihak yang tidak terlibat dalam perjanjian, pengembang JBoss lainnya, malah dalam bahaya. Padahal, mereka jelas-jelas turut berkontribusi dalam JBoss.

Industri, Globalisasi, dan Paten

Apakah ada inovasi dari sebuah perusahaan yang hanya mengandalkan paten perangkat lunak tanpa benar-benar mengimplementasi paten tersebut? Apakah yang dapat diuntungkan dari perlindungan hak tersebut? Benarkah ada industri yang terlindungi dengan paten tersebut?

Sewaktu Obama datang ke Indonesia dan dibuka kesempatan berdiskusi seperti sewaktu kunjungannya ke India, saya sempat memikirkan sebuah pertanyaan:

Mengapa bangsa Amerika menerapkan DMCA secara ketat dan justru menyakiti banyak pihak?

Digital Millenium Copyright Act (DMCA) adalah perangkat hukum Amerika yang baru untuk melindungi konten-konten digital. Berbeda dengan konten konvensional, konten digital seperti MP3, CDDA, dan lain sebagainya dapat disalin dengan rasio kualitas 1:1. Artinya, tidak terjadi penurunan kualitas sama sekali. Hal ini berbeda dengan kaset. Sehingga, industri musik melarang distribusi dalam bentuk lain selain apa yang telah dibeli oleh pengguna. Dengan kata lain, seseorang tidak dapat lagi menyalin MP3 yang telah dibelinya di iTunes ke dalam pemutar MP3-nya. Padahal, seharusnya ia berhak atas konten yang telah dibeli tersebut.

Memang, konteks proteksi salin (copyright) dan paten merupakan dua entitas yang berbeda. Tetapi, bayangkanlah bagaimana negara-negara lain dapat melakukan hal tersebut di luar Amerika dan orang Amerika hanya bisa mengelus-elus dada. Ketika teknologi DRM diterapkan, banyak pemain yang mengeluh karena permainannya tidak semulus yang dibayangkan.[10] Sebaliknya, para pengguna bajakan justru tidak mengalami hal tersebut. Hal ini justru membuat orang-orang yang seharusnya mendapatkan pelayanan lebih malah terbebani.

Hal inilah yang terjadi dalam dunia usaha dalam praktek paten. Jika hak salin menyakiti pengguna, maka hak paten menyakiti perusahaan-perusahaan kecil yang tidak berdaya menghadapi tuntutan hukum dari pemilik paten. Setiap inovasi yang dapat membantu banyak pihak terancam untuk tidak dapat digunakan. Para pengembang FOSS yang mengetahui teknologi terpaksa menghasilkan produk-produk cacat karena paten-paten tersebut.

Jika pada DMCA para pembajak yang diuntungkan, maka pada paten perangkat lunak justru negara-negara yang tidak memiliki paten perangkat lunak seperti Cina. Cina yang diuntungkan oleh kebijakan dalam negeri yang ketat memiliki visi bagi negaranya sendiri. Mereka harus dipaksa untuk meratifikasi perjanjian WTO. Akan tetapi, ketika mereka sudah siap, mereka pun pelan-pelan menerapkan perjanjian dengan WTO. Itu pun karena dipaksa. [11]

Apa implikasi dari negara Cina yang menerapkan kebijakan lemah terhadap perlindungan paten? Kita sering menjumpai produk-produk murah dari Cina. Imitasi BlackBerry seperti Blueberry, BlockBerry, atau pun sejenisnya seringkali dijumpai di pasaran yang ternyata hasil dari industri rumahan. [12] Mereka takkan pernah bisa memasarkan produk mereka ke Amerika karena paten yang mereka langgar, tetapi meningkatnya pasar Asia seperti Indonesia tidak akan membuat mereka gulung tikar karena keterbatasan tersebut. Justru, mereka menjadi lebih bersaing dibandingkan hal yang lain.

Lemahnya paten di Cina membuat industri elektronik berkembang pesat. Bahkan, industri komponen dapat dilakukan oleh industri rumahan sekali pun. Dengan dukungan regulasi dan birokrasi yang mudah, biaya pembuatan komponen lebih atraktif. Inovasi dan penekanan biaya dapat dilakukan dengan tidak perlu kuatir akan ancaman tuntutan. Hal ini yang membuat Cina menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat. Berbeda dengan Amerika yang mengalami stagnasi.

Kesimpulan

Paten perangkat lunak membahayakan industri perangkat lunak. Selain itu, ia menurunkan daya saing sebuah bangsa karena harus berhadapan dengan negara yang tidak mengakui paten. Ketidakjelasan definisi paten mematikan banyak inovasi. Pada jangka panjang, tidak seorang pun dapat diuntungkan dari paten.

Paten atas perangkat lunak harus dihapuskan dan dicegah untuk dapat diterapkan di Indonesia.


  1. No Software Patent. Current Situation. Ditulis sekitar tahun 2006. http://www.nosoftwarepatents.com/en/m/round3/index.html ^
  2. Wikipedia. Eolas. http://en.wikipedia.org/wiki/Eolas ^
  3. Wikipedia. Software Patent. http://en.wikipedia.org/wiki/Software_patent ^
  4. Espacenet.US5838906 (A). Distributed hypermedia method for automatically invoking external application providing interaction and display of embedded objects within a hypermedia document.http://v3.espacenet.com/publicationDetails/biblio?CC=US&NR=5838906&KC=&FT=E ^
  5. Doyle, et. al. USPTO Patent Full-Text And Image Database. United States Patent 5,838,906. http://patft.uspto.gov/netacgi/nph-Parser?Sect1=PTO1&Sect2=HITOFF&d=PALL&p=1&u=%2Fnetahtml%2FPTO%2Fsrchnum.htm&r=1&f=G&l=50&s1=5838906.PN.&OS=PN/5838906&RS=PN/5838906 ^
  6. Richard M. Stallman. Fighting Software Patents. http://www.gnu.org/philosophy/fighting-software-patents.html ^
  7. Nicholas Hebb. Please put an end to the faulty software patent system. Surat Terbuka Kepada Supreme Court. http://www.uspto.gov/patents/law/comments/bilski/bilski_i_hebb2010sep.pdf ^
  8. Bruce Perens. Red Hat’s Secret Patent Deal and the Fate of JBoss Developers. http://gigaom.com/cloud/red-hats-secret-patent-deal-and-the-fate-of-jboss-developers/ ^
  9. Sean Michael Kerner. Red Hat settles patent case with Acacia – shares few details. http://blog.internetnews.com/skerner/2010/10/red-hat-settles-patent-case-wi.html ^
  10. InfoMech. Why DRM Sucks. http://www.info-mech.com/drm_flaws.html ^
  11. Qingjiang Kong. Enforcement of WTO Agreements in China: Reality or Illusion? http://ebooks.worldscinet.com/ISBN/9789812777225/9789812777225_0013.html ^
  12. Tempo Interaktif. Pasar Bebas, Mangga Dua Banjir Telepon Seluler dari Cina. http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2010/03/18/brk,20100318-233494,id.html ^
Sungguh Terlalu!

Sungguh Terlalu!

Saya baru menemukan ternyata Malaysia sudah mengadopsi format Open Document Format for Office Applications(ODF) sebagai format resminya semenjak 2009. [1]

Kita sebagai salah satu implementator pertama FOSS (Free/Open Source Software). KAMBING.ui.ac.id telah melayani semenjak 2001. Mark datang ke Jakarta sudah dua kali untuk memperkenalkan Ubuntu. Tetapi, mengapa hanya sebatas IGOS saja kita berani masuk? Sudah itu, gerakan IGOS tidak pernah serius dan cenderung setengah-setengah. Kita sudah punya BlankonOS dan Kuliax sebagai distro GNU/Linux. Jika di UI berbasis Debian GNU/Linux, di ITB sarangnya FreeBSD.

Tapi, kok, kita melempem, yah, sekarang?

Ke mana orang-orang yang dahulu bervisi FOSS? Ke mana orang-orang yang dahulu di depan?

Apakah kita juga menunggu sampai Indonesia terjajah lagi secara pengetahuan?

Omong-omong, salut buat saudara-saudara kita di Malaysia yang luar biasa. Ugh, dari pada skandal salaman, saya lebih menyesalkan skandal yang ini.

Latar Belakang

ODF dikembangkan oleh Sun Microsystem kemudian diadopsi menjadi standar oleh OASIS TF. OASIS adalah badan standarisasi yang banyak bergerak di bidang standar terbuka untuk dokumen XML. Kemudian, ODF menjadi standar ISO/IEC 26300:2006. [2] ODF adalah format yang diusung sebagai format terbuka dan didukung oleh banyak aplikasi perkantoran Office 2010, OpenOffice 3, dan lain sebagainya.


  1. Dr. Roy Schestowitz. OpenDocument Format (ODF) Now Officially a Malaysian Standard. http://techrights.org/2009/10/29/odf-malaysian-standard-signed/ ^
  2. Wikipedia. http://en.wikipedia.org/wiki/OpenDocument ^
The Year of Trial (3)

The Year of Trial (3)

Year 2010 is also a trial for free software proponents  in Free/Open Source Software (FOSS). This addressed specifically by the bold moves made by Canonical in decision to put their popular distro, Ubuntu. Many would insult Mark and friends as being taking the fruit and making them as theirs. What significant codes do Canonical done that they were proclaiming themselves a great contributor of FOSS? Many felt enraged by the popularity of Ubuntu and the way people talking about GNU/Linux system as Ubuntu.

What I love to remember is how Mark talked about his commitment on Ubuntu. Years ago, after he sold Thawte and take a space tourism, he built Canonical and brought Ubuntu to live. When he flew to Jakarta, he said a statement about Ubuntu business model:

The software is free, but the service is ours.

What does that mean to be free? Is it a free of charge? I believe he may talked about free as in freedom, not free beer. That means, Ubuntu will always be a distro for free software. That’s why, like other seasoned GNU/Linux users, I got a little bit weary about all Canonical decisions in 2010. The way Ubuntu now is making it more and more like Mac and Steve Jobs. It have directions where people will only have flavour of Ubuntu. That is so wrong. The free software should always be a free choice,  a freedom exercised by creating systems you like and not bounded to one option.

Let me tell some background stories.

I think this is the conception of what I and others may get wrong. The catchphrase of Ubuntu is “Linux for human being.” and seasoned GNU/Linux are not human beings, they are immortals, i.e. gods. 😛

Seriously, what blocking GNU/Linux from being adapted with general people is the stigma around it. Its main feature, the freedom itself, is actually scaring people away. Common people would never really care about X stacks, kernel versions, or even patches. They just need a computer that Just Works. Furthermore, many hostile personality of engineers that would look down upon rookies scared these commoners. (Remember the RTFM?)

This man, Mark Shuttleworth, is making a stage where he sought that these free softwares should be taking down to earth. And I see that’s why I think Canonical contributed something very important for free software movement: Code of Conducts.

This invaluable contribution made the development of free software as a whole drawn with better tone towards new users. That’s why, we see communities growing steadily and people getting used with the free software ideas. Many community-based revolutions are happening in Ubuntu and implemented into other distro as well. For example: Install Fest, Ubuntu-tan, LoCo, etc.

Fast forward to the current time.

2010 is the year where Canonical get high criticism about its bold move on making the Ubuntu non-free software repository.

Celotehan (Seputar) Barack Obama

Celotehan (Seputar) Barack Obama

Semua orang mengarahkan pandangan ke TV. Bukan untuk menonton Presiden RI SBY di TVRI yang memimpin upacara Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan, tetapi untuk melihat Presiden USA memberikan kuliah umum di Balairung Universitas Indonesia yang diliput oleh RCTI, TVOne, dan MetroTV. Pidato tanpa teks yang dilakukan Obama ini berhasil menawan banyak orang. Dengan waktu sekitar 30 menit, ia secara tepat mengingatkan bangsa ini tentang apa yang kita punya.

Ini kedua kalinya saya merasa tertempak. Yang pertama kalinya adalah ketika Richard M. Stallman, Bapak gerakan Perangkat Lunak Bebas dan pendiri Free Software Foundation, datang ke Jakarta. Ia menyadarkan saya tentang potensi bangsa ini yang mulai hilang ketika ia pergi berbelanja. Ia membeli musik-musik gamelan di Duta Swara dan ketika di Plaza Indonesia, ia mampir ke sebuah toko penjual penganan. Ia memilih untuk mengambil risol dan sejenisnya. Wow, rasanya sebagai pemilik bangsa ini saya tertemplak dan keesokannya saya membeli batik pertama saya.

Templakan yang kedua datang pagi ini dari Obama. Di tengah-tengah krisis kepercayaan diri yang dimiliki bangsa ini — Isu-isu disintegrasi dan pemaksaan kehendak. Obama datang dan mengatakan bahwa Indonesia memiliki jawaban atas permasalahan dunia saat ini: Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Terus terang, semenjak UU Pornografi saya merasa pesimis akan negara ini. Tetapi, satu kalimat Obama yang cukup membuat saya berpikir ulang:

But I believed then, and I believe today, that we have a choice.[1]

Obama mewakili sebuah harapan akan masa depan yang lebih baik. Ia tidak beretorika ketika mengatakan Indonesia bisa mempengaruhi dunia. Seperti yang kita tahu, kita adalah pendiri gerakan Non Blok yang menyeimbangkan kekuatan Amerika dan Uni Soviet. Pasukan Garuda kita selalu di terima di mana saja dan selalu membekas di hati para penduduk lokal. Lihat bagaimana dahulu Presiden Soeharto diterima hangat di Kamboja karena pasukan Garuda yang turut membantu menyelesaikan konflik.

Hal yang menarik adalah komentar-komentar yang disajikan oleh ketiga stasiun televisi. Kalau saya boleh kasih nilai, maka pemenangnya adalah RCTI yang menghadirkan Agnes Monika dan Rektor Paramedina. Yang kedua adalah MetroTV yang mengundang Ibu-Ibu keren berbicara tentang potensi alam (maaf saya kurang begitu mengikuti siapa tamu-tamu itu). Dan yang paling kurang adalah TVOne yang menghadirkan tiga tokoh Islam.

RCTI paling jawara karena tepat menjelaskan siapa Indonesia: Negara Pancasila dengan penduduk Islam terbesar yang menganjurkan demokrasi. Kedua stasiun TV lainnya kurang, bahkan terjadi miskonsepsi dengan menyebut “‘negara Islam ini… negara Islam itu”. Seperti guru SD saya yang memberikan paradoks dalam pelajaran PMP: “Indonesia bukanlah negara Islam, tetapi negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia.” Kemudian Beliau mengatakan: “Indonesia sebagai negara Islam…” (Buat yang tidak ngeh, di penggalan kalimat tersebut kata mayoritas dibuang)

Komentar Agnes Monika juga mengingatkan kita bahwa Indonesia sudah punya konsep-konsep kearifan: “Bhinneka Tunggal Ika” dan “Menggantungkan Cita-cita Setinggi Langit”. Berbeda dengan ketiga komentator di TVOne yang cenderung apatis, Agnes mewakili generasi muda yang menyatakan keyakinan bahwa kita bisa berbuat banyak. Dan memang, kepada generasi mudalah target Obama.

Seperti yang kita ketahui, Obama terpilih karena ada suara-suara orang yang sebelumnya menolak ikut pemilu. Anak-anak muda di Amerika yang digerakkan oleh Twitter dan Facebook berbondong-bondong menyobloskan suara mereka kepada Obama. Di tengah kepungan kritik dari Republik dan kebijakan tidak populer dengan berusaha mendirikan mesjid di Ground Zero, Obama menyuarakan perubahan.

Ia mengatakan bahwa ketika ia terpilih, keadaan tidak akan cepat pulih. Dan di UI pun ia mengatakan bahwa tidak mudah menghapus dendam-dendam yang sudah dalam. Tetapi, ia memilih untuk menjalankan perubahan karena itulah masa depan.

Tepat seperti yang diomongkan salah satu komentator di TV: Soekarno tidak bilang rakyat miskin, tidak punya apa-apa, tetapi ia bilang bahwa Indonesia adalah negara dengan berlimpah ruah aset. Positivisme Obama merupakan sesuatu yang perlu kita dapatkan. Bahwa, masih ada hari esok.

Maaf, saya tidak begitu tertarik Barack Obama. Ada isu lain yang saya lebih tertarik. Sekian.


  1. Obama Speech at University of Indonesia – Transcript. http://obama-mamas.com/blog/?p=2104 ^
Numpang Nanya Fair Use (Dear Lazy Web)

Numpang Nanya Fair Use (Dear Lazy Web)

Saya tadi baru saja di-tweet oleh seorang penyanyi dari CD yang sedang saya ambil (rip). Dia protes karena saya mengambil isi konten. Tetapi, kemudian dibalas oleh pihak ketiga dengan bilang bahwa saya ambil dari CD asli. Memang, saya baru beli CD tersebut. SOP yang saya lakukan adalah langsung konversi ke OGG dan menyimpan CD aslinya.

Nah, masalah yang saya ingin tanyakan, wahai, para pakar hukum Indonesia. Legalkah saya melakukan hal tersebut?

Di Amerika saya tahu ada yang namanya Fair Use clause. Apakah di Indonesia juga ada?

Di Amerika saya tahu hukum pre-DMCA (Digital Millennium Copyright Act) memungkinkan saya untuk menyalin untuk keperluan cadangan (back up).

Saya tahu kebanyakan kita akan bilang tidak usah pedulikan soal begini. Tapi, seperti judul blog saya, mencoba untuk menjadi… 😀

The Year Of Trial (2)

The Year Of Trial (2)

This is a split from other post for the sake of those who can’t stand long writing. This is a legal stand that should be studied in Universitas Indonesia or any law school in Indonesia. For you that have the capability to comprehend, please, this legal matter is VERY important for us as fellow Indonesian to stand equal and provide a law system that cope this problem. If you are a practitioner in enterprise behavior, this may gives some think tank.

The Year of Enterprises FOSS

IBM and Redhat play a big role in FOSS and they seems understands the benefit of FOSS. Because of the protection, even many opponents can only spread FUDs without actually land a single blow. Well, they tried once but they failed.[1] Many enterprises shook in fears like Novell would cowered and took Microsoft offer in SMB by giving up on its copyright. Yet, many free software idealists stood and saying that they were reverse engineered. History proven, the libre wins.

You may cursed at Stallman. But, the software he created, GNU C Compiler (GCC), made Apple stands. AMD knows better that GNU/Linux systems were the saviour of their pinnacle, the very first x86-64 processor: AMD64. Back in the days, AMD were saved by the great contribution of Linux kernel of optimizing its code and the fast pace of FOSS development in accepting 64bit systems. That’s why, when they bought ATi, they sought to open the documents to FOSS developer. That’s why, we have a great open source ATi drivers now.

Some also learning in the learning process. Nokia had a hard learn in the past, but they now holding Qt and KDE communities intact. They’re still learning, thought, thus they don’t take any bold moves. This liberty that they provide may creates an environment in developing Meego, a platform they try to create with Intel. This project also took many talented FOSS developer into the game. Hey, the history still in making. We don’t know for sure.

The Year of Enterprise FOSS: For-Profit

What wary the most is the copyright assignment by Canonical to its product recently highlighted by LWN.[2] This issue is brought to light by Aaron Seigo on his rebuttal blog post on that subject.[3] He believed that such copyright assignment are subject to the holder to do things that could lead to harm. According to Mark, such agreement is a common theme done by others like Novell, RedHat, Zope, MySQL, etc. [4] Which is I believe why Aaron Seigo didn’t point a finger to Canonical, but only suggesting Canonical to revise some points.

When Mark mention FSF been doing it for years in GPL clause, it would not be the same as others. FSF, like other non-profit organization, is different from for-profit organization like Canonical. According to Kuhn, [5] FSF at least promise that 1) it would never turn the software proprietary and 2) FSF as non-profit identity served a different duty. FSF is there for a public charter: software freedom. This is different from Canonical that is for-profit that serves its owners.

There is a hard decision between developers and contributors to sign or not to sign. But, this discrepancy making

upstart

, which a modern SYSV startup replacement, in questionable state. Many other distributions would consider it, others may also consider to fork it, and there are also making new one like

systemd

.

The Year Of Enterprise Good Will

The reason why people in confusion is because we are depending solely on an enterprise good will. How far the social contract goes into effective? We knows every start up ranked up with a good will. They are enjoying being loved by their customers. They even have fanboyism around.

But,

As years gone and the company grows old, things change. Change in managements and/or ownerships may also direct the ship to a different direction. The social contract that bound the enterprise with people will have the time when it’s no longer “in direction with today’s company vision”. When such thing happen what can we, the society that being betrayed, can do?

Can we as a civilians that have our private data and attachments on that enterprise’s server?

For instance, Facebook have a privacy policy that subject to change based on Facebook’s Statement of Rights and Responsibilities. [6] The document tells that each user are given notice on Facebook change and given a chance to vote on Facebook Site Governance. There, according to the document, user can vote and being tell how to opt-out from the change. However based on today’s writtings date, the document also can be changed without us ever notice: [7]

4. We can make changes for legal or administrative reasons, or to correct an inaccurate statement, upon notice without opportunity to comment.

So, what is this legal or administrative reason?

The Year Of Enterprise Screw Up

Yes, this section is dedicated to Oracle. The one that sunk Java and making its founder left the company. The one that making OpenOffice.org in disarray. The one that being pointed at of their decision buying SUN is for the patent pool that the former company had. The one that accused as 21st patent troll because of the attack on Google Dalvik’s Java Runtime Environment engine.


  1. IT Blogwatch. Ding! Dong! SCO’s trial is dead; Linux is free!. http://blogs.computerworld.com/16304/ding_dong_scos_trial_is_dead_linux_is_free ^
  2. Jonathan Corbet, Community contributions and copyright assignment, 20 October 2009, http://lwn.net/Articles/359013/ ^
  3. Aaron J. Seigo, copyright assignments gone wild, or why i can not join Canonical’s contributor agreement program, 15 September 2010, http://aseigo.blogspot.com/2010/09/copyright-assignments-gone-wild-or-why.html ^
  4. ITWire, discussion board http://discuss.itwire.com/viewtopic.php?f=29&t=18036&p=68007 ^
  5. Bradley M. Kuhn. Not All Copyright Assignment is Created Equal. 1 February 2010, http://www.ebb.org/bkuhn/blog/2010/02/01/copyright-not-all-equal.html ^
  6. Facebook. Facebook’s Privacy Policy, pt 9. Other Terms http://www.facebook.com/policy.php ^
  7. Facebook. Statement of Rights and Responsibilities, pt 13. Amendments http://www.facebook.com/terms.php ^
The Year Of Trial (1)

The Year Of Trial (1)

Wow, we’re on the end of year. So many things happened, especially in the world of Free/Open Source Software. The change on enterprises shook many people in FOSS. The defeated SUN Microsystem and the glory it carry jeopardize the foundation of software landscape. We also have many strange behavior from many corporates including the proponent of FOSS. I’ll write it as a personal experience.

The Year of People Calling Freetards To Unsung Heroes

Many joined the flock of open source idealism never knew what it’s like to be at the bottom and struggling for years. Many of people whom never learn the history took most of the blame of many obstacles we are facing today in the FOSS because of the heretic ways of free software zealots. For instance, people would curse the libre zealots because they decided to oppose the inclusion of VLC to iPhone. They also curse the Stallman and FSF for making such bold move by taking GPL version 3 stricter.

Every ignorance would say: “since when software becomes religion?”

It is! Many would not realize, but software is the way we holds data, maintaining all aspects of life, and it’s our zen. In this century where people depend on machines and virtual tools, software inevitably IS one of the aspect that support life. So, just like religion, home, and right to speak, software is one of the basic right for 21st century mankind. Making it a libre is one of the determination of many libre zealots.

Now, people would accuse that libre software was in the past. Unfortunately, without libre software, we would never progress like we do today. Internet, the hub of many is composed by free software stack. Universities across the globe would never achieve grands and innovations. Many, especially third world country, would left behind. We will be ruled by the multinational corporates that hold proprietary copyrights and sets of patent pool.

Heck, back in 2003~2005, many fears the corporates because of the gigantic power those possesed could buy a state in America. Even Microsoft could face anti-trust trials and walk away with victories or loses. Many small enterprises and start ups crushed by the unjust competitions. De facto standards were proprietary, forcing others to follow in a crippled way. Free software balanced the power and making possible to many to access technologies that we could never imagine before.

Free Software is not about getting software gratis. Free software is about creating environment where people can get resource, share, and getting acknowledges. It is an idealism that born because of the thought of human rights. An answer for questions like:

  1. Why can’t I have my legally bought song on other device?
  2. Why can’t I have backups?
  3. Why can’t I share my song/books just like in the old days?
  4. Is my data and information safe?
  5. How this thing that I bought operates?
  6. Can I have guarantee of my business continuity?

Read the EULA! People takes money out of you and dictate you with everything without guarantee of what they provide. Meaning, they took your money and they have the rights of your software. But, they are not responsible for anything that happens with the software.

Is this fair to you?

Those so called freetards are taking the initiative for that fairness.

Film Psikopat

Film Psikopat

Bagaimana membuat film psikopat sendiri ala Indonesia?

Lagu Latar

Saya akan mulai dengan lagu latar. Setiap psikopat harus punya lagu yang dimainkan di latar ketika korban sedang di sekap di sebuah ruangan yang suram dan lembab. Ketika korban tersadar, di latar ada suara dari radio kaset yang memainkan lagu tersebut. Saya memilih lagu-lagu Betharia Sonata, terutama “Hati Yang Luka”.

Senjata

Saya memikirkan ide ini sebelum “The Horribly Slow Murderer with the Extremely Inefficient Weapon” diputar. Seorang psikopat harus bisa seni. Bila kebanyakan menggunakan jarum atau pun pisau. Menurut saya, senjata garpu lebih baik dari pada senjata pisau. Hal ini berhubungan dengan motif sang psikopat.

Saya juga berpikiran tentang gerindra, bukan partai tetapi pemotong besi.

Motif

Psikopat tokoh utama saya hanyalah seorang yang bosan. Ia kebetulan senang membaca buku dan melihat orang-orang di sekitarnya. Ia melihat banyak topeng dalam wajah manusia. Bagaimana seorang yang kuat berusaha memakan yang lemah. Bagaimana manusia seringkali dipeloroti oleh zaman modern. Ia melihat jiwa-jiwa kosong di dalam tubuh manusia.

Hei, terdengar klise?

Bagaimana seandainya dia terinspirasi oleh sebuah kejadian. Ia melihat bahwa manusia baru bisa mengeluarkan potensi tersembunyinya ketika manusia sedang dalam terdesak. Ia justru melihat pikiran yang paling murni dalam penerimaan terdapat ketika seseorang di dalam keadaan paling kelam dalam hidupnya. Ia secara tak sengaja menemukan bahwa manusia merasa hidup ketika di masa suram dan ketika terjadi masalah hidup dan mati yang mendatangkan keputusasaan. Inilah yang dia sebut sebagai pencerahan sejati.

Sayangnya, kejadian manusia mendapatkan pencerahan itu merupakan kejadian langka. Kejadian ini hanya satu dari banyak kejadian. Ia lalu mulai bertanya, apa sebab-sebab kejadian itu terjadi? Berapakah peluang terjadinya pencerahan itu? Apakah pencerahan itu sementara atau seumur hidup seseorang yang mengalami?

Jadi, setiap eksperimen yang dia lakukan sebenarnya untuk menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Ia berusaha menulis sebuah karya ilmiah.

Latar Belakang

Sang psikopat harus seorang yang terpelajar. Ia merupakan seorang idealis yang tinggal di Jakarta. Ia dekat bekerja dengan pemerintahan, tetapi merupakan entitas swasta. Bagaimana jika ia seorang psikolog amatir, yang juga merupakan tokoh pembicara, seorang motivator ulung yang sukses?

Ya, seorang motivator ulung menurut saya lebih tidak membosankan. Ia memiliki latar pendidikan teknis sehingga bisa merakit atau pun membuat kondisi ruangan yang bagus untuk menciptakan ruang laboratoriumnya.

Ia mulai berpikir tentang ide tentang pencerahan ketika temannya menilap uang hasil kerjanya. Kemudian, namanya menjadi cemar karena penyalahgunaan tersebut. Temannya adalah seorang sarjana psikologi dengan pengalaman mengajar. Ia bahkan telah memiliki buku, berbeda dengan tokoh kita yang memiliki nama karena memotivasi orang saja. Sampai keluarganya pun diculik untuk melindungi reputasi temannya. Ia berhasil membalas dendam dan merebut kembali uangnya dan keluarga yang diculik. Ketika hampir mati, sang teman berbisik, “puaskah kamu sekarang?” Lalu mati dengan tersenyum.

Lalu ia mulai bertanya-tanya hingga sampai sebuah postulat: “manusia perlu mati untuk merasakan hidup.”

Jagoan Utama, Kontra

Setiap psikopat memiliki tokoh lawan. Saya memilih tokoh baiknya adalah terpidana hukuman mati yang lolos dari penjara saat hendak dieksekusi. Kendaraan yang hendak mengantarnya tiba-tiba terkena ledakan. Entah oleh siapa.

Kontra dengan film lain, saya mau tokoh ini adalah seorang yang dipaksa untuk menjadi baik. Sebab, ia sendiri adalah seorang pembunuh dan perancang kejahatan. Ia sendiri pernah membunuh sekeluarga dengan tangannya sendiri. Masa lalunya begitu kelam.

Tema

Saya, sih, lebih suka kalau tema film ini adalah bagaimana menyusun metodologi sistematis dalam penelitian. Tentunya dari pandangan psikopat yang terlepas dari norma sosial. Ia tidak berusaha menjadi orang jahat, ia hanya sedang mengadakan penelitian. Seorang peneliti yang kelewat baik, tidak memperhitungkan emosi dan terpengaruh oleh pandangan dunia. Ia hanya memiliki sebuah teori yang hendak dibuktikan kebenarannya.

Akhir Cerita

Saya membuka komentar buat rekan-rekan yang punya ide. Saya lebih suka akhir cerita dengan plot twist dari sebuah plot twist yang merupakan sebuah plot twist. Apakah harus seperti Series of Unfortunate Event atau House Wax saya tidak tahu.

Agama, Pengetahuan, Dan Bencana

Agama, Pengetahuan, Dan Bencana

Menghubungkan bencana alam dengan agama sangat menyesatkan rakyat, kasihan.(Wimar Witoelar, 2010)

Sebuah kicau sederhana dari Wimar untuk kita semua yang membuat saya terusik untuk membahasnya. Memang, saat ini tengah terjadi dua bencana secara berturut, bahkan lebih:

  1. Bencana banjir Wasior
  2. Bencana tsunami di Sumatera Barat.
  3. Bencana meletusnya gunung Merapi.
  4. Bencana kereta api.
  5. Bencana banjir dan macet total DKI Jakarta.

Banyak korban yang meninggal, termasuk Mbah Marijan. Bangsa ini tentunya sedang berada dalam kemalangan. Sayangnya hal ini bisa dijadikan komoditas politik oleh orang-orang yang ingin mengadu nasib. Mereka bahkan tak segan-segannya mengatasnamakan agama, sebuah topik populer yang bisa dipakai untuk menanjak.

Sebagai seorang yang teredukasi, saya merasa prihatin tentang hal tersebut. Adalah hal yang efektif jika kita hendak menenangkan masyarakat dengan isu-isu agama. Akan tetapi, penggunaan alasan keagamaan untuk isu-isu sosial justru dapat melemahkan agama (backfired).

Coba lihat ketika bangsa Eropa berada pada Masa Kegelapan. Ketika itu dengan berbagai alasan, agama menjadi komoditas dalam banyak hal. Penguasa-penguasa menjadikan agama sebagai legitimasi. Penyelewengan-penyelewengan oleh institusi agama dan penghilangan hak asasi dapat dilakukan atas nama agama. Bahkan, para pengikut dibuat rasa takut.

Tetapi, ketakutan takkan bisa menahan amarah ketertindasan. Mereka pun memberontak terhadap kungkungan yang disebut agama ini. Semenjak zaman Reinasans, banyak orang mulai meragukan agama. Perang demi perang mulai mempertanyakan eksistensi Tuhan. Di manakah Tuhan ketika keluargaku mati dibom? Di manakah Tuhan ketika ibuku mati?

Salah satu yang menyedot perhatian dan berhasil membuat orang membuang keimanannya:

Jika Tuhan itu Baik dan Maha Kuasa, mengapa Ia membiarkan ciptaan-Nya menderita? (C. S. Lewis, 1940)

Wahai petualang-petualang politik, pertanyaan ini bisa membuat bangsa yang demikian religius menjadi murtad. Anda boleh berkilah bahwa setiap orang bisa saja dicuci otaknya. Setiap orang Indonesia yang kuat agamanya tidak mungkin bisa membuang imannya dengan mudah. Tetapi, fakta dan sejarah berkata lain!

Menurut saya sebagai seorang beragama, Tuhan tidak menciptakan logika agar orang terbebas dari-Nya. Justru, Tuhan memberikan logika agar mereka terbebas! Kesalahan para penafsir yang selama ini yang mengekang logika orang, bukannya memelihara dan memberi makanan yang sehat, membuat banyak orang kehilangan imannya. Pertanyaan-pertanyaan yang bukannya dijawab malah dibungkam dengan alasan bidah bisa jadi malah berbalik menjadi kelemahan agama.

Astaga!

Sebagai contoh, evolusi seringkali dianggap sebagai teori ngawur oleh kaum agamawan. Padahal dalam iman Kristen misalnya, tidak pernah dibahas bahwa tidak adanya kemungkinan evolusi. Tuhan menempatkan banyak ruang kepada interpretasi! Tetapi, hanya karena para penafsir menganggap evolusi manusia tidak mungkin maka mereka juga menolak teori evolusi secara mentah-mentah. Lihat, kaum evolusionis  mengolok-olok karena banyaknya bukti bahwa evolusi mungkin terjadi.

Jangan pernah membuang kemungkinan sesuatu yang mungkin ada bila tidak terdapat dalam kitab suci.

Bagaimana cara kita memandang pengetahuan?

Saya tertarik dengan konsep OWL (Ontology Web Language).  Bagi Anda yang agak buta dengan sistem temu-kembali (Information Retrieval), sebuah ontologi dalam membentuk semantik memiliki dua buah konsep:

  1. Asumsi dunia tertutup (close world assumption).
  2. Asumsi dunia terbuka (open world assumption).

OWL mengambil asumsi dunia terbuka. Artinya, ketika sebuah pengetahuan tidak terdapat dalam ontologi, ia akan menjawab tidak tahu. Berbeda dengan SQL yang akan mengembalikan nilai kosong (null) atau tidak. Maka, ketika sebuah ontologi dalam OWL dipadukan dengan ontologi lain yang lain, mesin pencacah akan memeriksa apakah kedua ontologi memiliki pengetahuan yang bertentangan. Mesin pencari akan menyebutkan galat apa bila demikian yang terjadi. Maka, digunakan penilaian dari ahli untuk menentukan pengetahuan yang mana yang benar.

Demikianlah seharusnya sikap para penafsir. Apabila sebuah masalah berlawanan dengan kitab suci, maka sebagai apologetik haruslah mereka membela kitab suci dengan argumen yang sistematis. Argumen tersebut dapat membenarkan logika cara berpikir orang. Maka, hal tersebut dapat menyebabkan seseorang (sang mesin pencacah), membuang pengetahuan yang salah dari repositori pengetahuannya. Hal ini menyebabkan perkembangan kehidupan manusia lebih maju.

Kesalahan kedua para apologetik ketika melakukan pembelaan iman adalah dengan pembelaan absolut maka semua dapat terjawab. Ada masalah dengan pemikiran ini. Beberapa hal yang menurut saya membuat pembelaan menjadi lemah:

  1. Perbedaan budaya saat penulisan kitab suci dilakukan menyebabkan beberapa konsep menjadi sulit dimengerti pada masa sekarang.
  2. Jejak sejarah telah lama kabur dan belum ada teknik-teknik arkeologi yang bisa menelusuri rekam sejarah. Bahkan, bisa jadi beberapa bukti sejarah telah terubah.
  3. Ilmu masih belum bisa menyebabkan mukjizat dan mukjizat bukan sesuatu yang bisa dibuat ulang dengan mudah. Bahkan, sudah ribuan tahun tapi belum ada penelitian resmi yang cukup autoratif untuk mempelajarinya.

Lucunya, poin nomor tiga saya dapatkan dari sebuah situs ateis.  Poin ini membuat saya sadar. Sebuah karya ilmiah dapat masuk jurnal bergengsi apa bila ada peer review, rekomendasi orang-orang yang ahli di dalamnya, dan apabila ia bisa dicobaulangkan kembali oleh ilmuwan lainnya. Siapa yang cukup autoratif untuk dapat menyobaulangkan beberapa mukjizat dalam kitab suci?

Menurut saya, saat ini adalah mustahil untuk itu. Baik para ilmuwan yang merasa bahwa agama adalah omong kosong maupun para agamawan yang menganggap ilmu sebagai bidah, tidak akan pernah mau bekerja sama. Lagi pula, dalam menyelidiki mukjizat perlu dilakukan metodologi yang disetujui bersama. Mungkinkah? Menurut saya sebagai seorang teknolog dan seorang percaya Tuhan hal tersebut bisa dilakukan.

Menurut saya, metodologi observasi, wawancara, mau pun metodologi kuantitatif bisa dilakukan. Seharusnya, hal yang perlu diteliti adalah bagaimana cara menilai mukjizat-mukjizat terjadi. Kemudian, perlu diteliti mana yang disebut mukjizat dan mana yang bisa disebut sebagai kebohongan. Tentukan basisnya dan mulai buat hipotesis. Dari sana baru bisa dibuat kerangka berpikirnya.

Sebagai contoh adalah bagaimana membentuk metodologi pengembangan perangkat lunak. Coba kita perhatikan jalinan makalah yang dipublikasikan oleh seorang/tim peneliti. Biasanya, pada jurnal yang pertama adalah melakukan proses observasi terhadap perusahaan-perusahaan pengembang perangkat lunak. Dari hasil itu, ditemukan beberapa cacat dan masalah terbuka. Pada jurnal berikutnya, penulis biasanya menentukan poin-poin yang menurutnya bisa membantu proses pengembangan perangkat lunak berdasarkan metodologi-metodologi yang ada sebelumnya. Pada jurnal berikutnya, penulis menulis hasil implementasinya dan beberapa peningkatan. Lalu, biasanya penulis tersebut mulai meneliti aspek-aspek tertentu, misalnya konflik antara pengembang dan penguji.

Sebelum dapat menjawab apakah ada mukjizat, seharusnya orang meneliti apakah ada kejadian-kejadian yang tidak alami. Mukjizat seharusnya merupakan kategori dari kejadian tersebut.

Intinya, ada beberapa langkah persiapan sebelum dapat meneliti mukjizat dan tidak seharusnya kita melompati langkah-langkah tersebut. Apalagi, masih ada pertentangan-pertentangan di dalamnya yang menyebabkan bias. Sama seperti pengobatan timur yang masih menjadi anak angkat dari ilmu medis modern (kendati mulai ada usaha-usaha untuk mempelajarinya).

Ada banyak hal yang belum terjawab dan terbuktikan dengan ilmiah, maka jangan pernah mengharapkan akan ada jawaban dengan kebenaran absolut di dalamnya. Absolutisme hanya akan mencederai iman dan menimbulkan pertentangan. Biarkan pertentangan itu muncul dan buat resolusi yang optimal terhadap hal tersebut. Bagaimana cara membuat resolusi optimal saya tinggalkan sebagai bahan latihan bagi para pembaca. 🙂

Tragedi-tragedi kemanusiaan yang terjadi bukankah sudah saatnya dipandang dalam pandangan edukasi? Bukankah sudah saatnya pemerintah mengevaluasi kurikulum yang ada? Bukankah sudah saatnya pengetahuan disesuaikan dengan lingkungan Indonesia?

Sebagai contoh, saya mengetahui konsep homeostasis melalui materi Biologi SMA, kalau tidak salah. Pada praktiknya, saya mengetahui bahwa bumi pun memiliki keadaan homeostatik dan hutan hujan tropis merupakan salah satu bagian kuat dari homeostatik. Ketika orang mulai menebang pohon, maka keseimbangan itu terganggu. Wajar bila terjadi banjir. Adalah tidak wajar jika justru kita tidak menghentikan pembalakan liar. Adalah tidak wajar ketika kita tidak memberdayakan ekonomi rakyat pedalaman.

Contoh lainnya adalah transportasi darat di DKI Jakarta dan pola pembangunan yang tidak terencana. Kita tahu bahwa ada dosa ketika orang korupsi dan memperbolehkan pengembang mendirikan bangunan di garis hijau. Kita tahu bahwa jalan tidak mungkin menampung kendaraan yang lewat. Kita tahu bahwa ketidakteraturan dalam lalu lintas menyebabkan kecelakaan? Bukankah dengan demikian kita telah menjadi berdosa karena membiarkan semua itu?

Lihatlah.

Proses ilmu pengetahuan justru membuat kita mengenali masalah-masalah yang perlu di atasi. Agama justru bisa menjadi polisi moral agar solusi yang benar bisa diterapkan. Bukankah kerakusan dan kesombongan merupakan dosa bagi agama-agama di Indonesia? Bukankah dengan moral agama dan pengetahuan yang kuat maka bangsa ini bisa memiliki landasan teknologi?

Agama seharusnya bukan menjadi boneka pengusir burung (scarecrow). Ia seharusnya menjadi pembebas, seperti definisinya yang mula: religio, mengikat kembali. Mengikat manusia kepada Tuhan dan tujuan-Nya yang mulia: mengurus bumi dan menjadi wakil-Nya, menjalani roda kehidupan dengan baik sampai mendapat pencerahan, atau pun dipersiapkan untuk dapat masuk surga.

Dan ilmu seharusnya menjadi penunjang, seperti ada tertulis: takut akan Tuhan awal mula pengetahuan.

Daftar Pustaka

C. S. Lewis (1940). [NO TITLE]. [NO PUBLISHER_PLACE]: [NO PUBLISHER].^
Wimar Witoelar (2010, 10 27). #wimar. Twitter. Retrieved [NO MONTH_ACCESS] [NO DAY_ACCESS], [NO YEAR_ACCESS] from Twitter: http://twitter.com/wimar/status/28841502535.^
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Manusia

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Manusia

Akhir-akhir ini banyak cerita tentang kasus intellectual property. Ada cerita juga tentang DMCA yang mulai dipakai oleh studio untuk menuntut pemblokiran torrent dan beberapa situs penyedia. Lalu, ada juga sebuah cerita tentang perusahaan-perusahaan mulai membangun HAKI sebagai port folio dan pengerukan keuntungan.

Tetapi yang paling menarik adalah ketika [ARS] melansir berita tentang Vatikan yang menghimbau agar negara maju tidak menerapkan hukum hak atas kekayaan  intelektual (HAKI) secara berlebihan. Sebelum lebih lanjut, saya peringatkan bahwa saya juga bukan seorang yang memuja hukum HAKI. Jika Anda menemui hal yang bias dalam tulisan saya, maka maklumlah. Ini sekedar tulisan ringan saja.

HAKI adalah sebuah sistem penghargaan bagi seseorang yang telah berhasil menemukan sesuatu. Tetapi, seringkali sistem ini dipakai untuk menahan kemajuan orang lain. Bahkan, membuat banyak orang kehilangan akses atas sebuah solusi hidup. Sebagai contoh, mantan menteri kesehatan kita, Siti Fadilla, memprotes bangsa Amerika karena telah mampu membuat vaksin flu burung dan menjual dengan harga mahal dari data umum yang dimiliki oleh WHO. Beberapa obat seperti obat kanker telah dipatenkan sehingga orang harus membayar mahal atas obat tersebut.

Tentu. Orang pasti mati, tinggal masalah waktu saja. Tetapi, untuk apakah penelitian bagi kesehatan manusia jika hanya demi kepentingan industri? Bukankah industri kesehatan sendiri didukung oleh pihak sponsor?

Pengakuan atas penemuan adalah hal yang penting. Tetapi, haruskah itu menahan orang lain untuk sembuh?

[ARS] Ars Technica. http://arstechnica.com/tech-policy/news/2010/10/vatican-to-rich-countries-stop-excessive-zeal-for-ip-rights.ars