Category Archives

226 Articles
Up Way Sign

Up Way Sign

This way up

This Way Up

  On the other side of the world the sign shows the sky. Before you take a good leap, the sign shows you the direction to prepare the leap. Never look down to your hardships. When people look down on you. When everything is upside down. When you are nothing. When you becoming nothing. When you fail. It‚Äôs a way to have you make a jump. Prepare the jump and smile. ūüėČ
Obrolan Warung Kopi: Sinema Indonesia

Obrolan Warung Kopi: Sinema Indonesia

Ternyata topik ini masih panas, ya? Saya jadi tertarik setelah melihat tulisan rekan saya di sini. Saya pikir ada baiknya kita melihat sejarah perjuangan Amerika di sini. Lalu, mari kita bertanya ke mana saja sineas kita selama belasan tahun belajar? Mengapa pocong masih bermain film? Memangnya ketika pajak royalti diterapkan, maka film Hollywood tidak jadi masuk? Benarkah industri film tersebut akan memblokade pasar ratusan juta dengan omset miliaran?

Hal yang menarik dari semua ini adalah mengapa baru sekarang pemerintah menaikkan pajak? Sebuah keputusan yang tidak populer menjelang Pemilu 2014. Setelah saya berkonsultasi dengan Mbah Google, diketemukan sebuah alasan dari seorang sutradara yang termuat dalam koran Jawa Pos. Walau pun demikian, Beliau segera membetulkan dengan tweet-tweet-nya.

Pernahkah kita bertanya, apakah selama ini 21 Cineplex ¬†menjalankan CSR? Benarkah mereka mendukung film nasional? Ataukah argumen “agar film-film Indonesia ada yang memutar” baru muncul setelah bioskopnya terancam mengalami kerugian?

Kalau memang 21 Cineplex mendukung film nasional, seharusnya mereka menyediakan satu atau dua slot untuk memutar film-film independen Indonesia. Tetapi, coba kita bertanya; berapa, sih, film-film yang telah diangkat oleh 21 Cineplex? Yang tidak menggunakan uang milyaran agar dapat bisa diputar di sana? Pernahkah kita bertanya, mengapa film-film festival tidak dipasang oleh 21 Cineplex?

slurp [ngopi dulu biar gak tegang….]

Saat ini bioskop-bioskop minta dibela karena pasokan keuntungannya hendak dipajak tinggi. Maka, saya pun balik bertanya; apabila mereka sudah dibela, apa yang mereka yang akan mereka lakukan sebagai wujud terima kasih? Apakah mereka akan mengenalkan film-film berkualitas Indonesia? Apakah mereka akan mulai membantu industri film nasional untuk bergeliat?

Memangnya apa salahnya dengan orang-orang yang sudah mulai menonton lewat DVD? Saya sendiri pun demikian. Keberisikan ABG-ABG dan telepon genggam yang masih menyala saat menonton film bioskop sering membuat saya kehilangan momen dalam film. Dengan menonton DVD, bisnis penyewaan DVD akan meningkat dan banyak terbuka lapangan pekerjaan. Toh, film di bioskop sekarang ini juga sama saja. Bayangkan, Heart Locker (2008) baru diputar sekitar tahun 2009 setelah mendapatkan piala Oscar.

Efek lain dari kebangkrutan bioskop adalah juga melindungi ABG-ABG malang yang sering cabut sekolah.  Dengan tidak masuknya film-film Hollywood, kita sedang melindungi remaja-remaja malang tersebut dari konsumerisme yang menjadi tema film-film Hollywood. Saya tahu, ini argumen gila tanpa mempertimbangkan faktor yang lain. Tapi, argumen ini sama saja, bahkan lebih baik, dengan argumen yang mengaitkan pajak royalti film asing dengan industri film nasional.

Kalau pun bioskop yang telah ada sekarang mati, maka akan ada bioskop-bioskop alternatif atau pun distribusi-distribusid dengan media lain. Orang bilang bahwa pembajakan membuat industri musik mati. Toh, kita lihat industri musik kita berevolusi dengan menciptakan ringback tone. Proses bisnis ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya dan terbukti lebih menguntungkan. Penyedia layanan telekomunikasi bahu membahu dengan industri musik dalam mendistribusikan lagu. Walau pun terkadang kurang ajar, suka memasang ringback tone tanpa diminta, teknik pendistribusian konten ini menuai keuntungan.

Bisnis seperti biasa.

Jangan mengaitkan insentif pemerintah yang kurang terhadap perfilman Indonesia dengan keterancaman bisnis. Jangan mengaitkan ekosistem yang tidak sehat saat ini yang mengakibatkan industri sinema Indonesia kesulitan mengembangkan filmnya dengan isu pajak royalti. Jangan merasa bahwa ketika film-film Hollywood diboikot, maka kita tidak punya jalan keluar.

Bagaimana jika justru dengan momen ini pihak industri film Indonesia melakukan konsolidasi?

Oh, iya, ini kopinya berapa, mbak?

#1st

#1st



There is always a first time for every thing. The scariest and the toughest of them all. Have to have the strongest of all reasons to be with this.

Don’t know if this would be good. Don’t know if this is the right thing to do. Don’t want to go with something. Standing in the fog of war scares most of the heart.

Well, just take the first step. It is always the most difficult. Don’t worry about doing it wrong. Every first step would have the chance of failure. That’s why we learn.

Pajak Royalti Film

Pajak Royalti Film

Setelah beberapa lama menyimak, saya mau coba berkomentar. Sekali lagi, ini pendapat pribadi saya, seorang yang banyak omong.

Selama ini ternyata film impor Hollywood tidak terkena pajak royalti seperti halnya film Indonesia. Maka, dengan dasar keadilan, pemerintah memutuskan untuk menerapkan pajak royalti film. Hal ini, menurut banyak sumber yang saya baca, menimbul kekuatiran akan hilangnya pekerjaan ribuan pekerja bioskop. Selain itu, dengan tutupnya bioskop-bioskop maka film Indonesia tetap saja tidak dapat diputar.

Kebetulan saya seorang yang lahir di masa transisi. Sewaktu saya kecil, banyak bioskop independen bermunculan. Bioskop di depan Atrium Senen, bioskop Megaria, Bioskop Jakarta, sampai bioskop-bioskop samping pasar. Sebelum ada monopoli Grup 21, mereka tidak sekedar memasang film Ranjang Pengantin. Saya ingat, dahulu ayah saya membawa saya menonton film-film Asia Timur. Ada film tentang Yakuza, film kolosal Dinasti Ming, dan film-film Mafia. Film-film tersebut hanya dapat ditonton di bioskop samping pasar Kramat Jati.

Kemudian, masuklah Grup 21 dan hak eksklusifnya untuk memutar film-film Hollywood. Dengan strategi bisnis mereka yang bagus, ruang yang nyaman, dan film-film yang bagus, kami mulai menonton film Hollywood di bioskop 21. Saya ingat, film pertama yang saya tonton di bioskop 21 adalah film Jumanji. Semenjak itu, kami lebih suka menonton di bioskop 21. Akhirnya, bioskop-bioskop yang saya tidak ingat lagi namanya mulai terdegradasi dan mati.

Bisnis seperti biasa.

Sekarang, orang Indonesia hanya mengenal Grup 21 sebagai bioskop. Adapun kompetitornya hanyalah Blitz Megaplex dan festival-festival film. Mereka sudah tidak tahu bahwa dahulu ada banyak bioskop independen yang pernah menawarkan film-film kompetitif dan variatif. Mereka juga tidak pernah tahu berapa bioskop yang telah tiada akibat hak eksklusif Grup 21. Mereka tidak tahu berapa banyak usaha layar tancap yang sudah hilang.

Dunia berevolusi, demikian juga ekonomi. Asalkan memang pasar bebas berlaku, pasti ada pasar baru yang terbentuk. Asalkan status quo bermain adil, maka akan ada banyak solusi bermunculan. Jadi, saya pikir pajak royalti film asing tidak perlu dipersoalkan. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa pocong masih sering main film.

Oh, iya, seandainya film tersebut tidak dilisensikan di Indonesia, berarti konten film tersebut tidak milik siapa-siapa di negeri ini. Maka, ketika kita membeli CD/DVD distribusi, unduhan torrent, atau situs-situs penyedia unduhan, kita tidak sedang membajak. Hak cipta bukan milik siapa-siapa di negeri ini karena film tersebut tidak terdaftar resmi di sini.

Bumpy Ride Now

Bumpy Ride Now

Downhill Ride

Downhill Ride

Life is just like taking a downhill motorcycling. You could say that it needs a lot of courage to do that and proper safety to keep you alive. Everyone in that activity knows that each of us would get hurt once in a while.

Well, what do you expect?

We know the road is bumpy. We know the road is slippery sometimes. We know that it ain’t an easy ride. We know that we don’t know anything ’till we tried. An experienced rider may gives you one or two messages. But, until you get the grip of it then you understand.

The problem is, it could cost a life to understand that. Sometimes part of your limbs. Some broken ribs, maybe. The worst of all is when you could not do the competition. That’s why people who understand the risk tried to tell other, sharing what they think the best; using the best method one could think of.

Anyway, what can an expert do when people doesn’t listen to his/her thought?

Well, the expert just have to force him/herself to be there watching from the sideline. It is not his/her competition. It is the person’s he/she cared so much. As the person falling apart, one can only sighing. Wish that the person would listen.

There is no need to regret what people chose. It’s their own fault. It’s their own downfall. There is nothing you can do about it. You had your best, yet the person was not listening. You’ve made your point.

But, why are you crying because of the ignorance?

That’s because you are human. That’s because you are perfectly healthy. That’s because you have a heart. One may wished that he/she won’t be that human; wished for not regretting much; wished for not throwing away all hope, especially the particular hope that the one he/she care would listen.

Well, watching from the sideline has it merit. On that bumpy ride when the person you care fall, you could be the one that cried for that person. You could be the one that take his/her hand. You could get relieve once you know that the person is alright. The person thanks you. He/she learned his/her lesson.

To be a human, a bumpy ride now and ahead. Until you see the finish line. A smile for enjoying the ride and a thrill of excitement, don’t you think?

Drama Sabun Nokia 2

Drama Sabun Nokia 2

Menurut analisis dari Tomi T. Ahonen, Nokia sudah mengalami kekalahan banyak semester kemarin. Itu sebabnya, siapa pun CEO baru Nokia, akan ada kehilangan dari pihak Nokia. Harus ada yang diamputasi.

Lalu mengapa N9 diamputasi ditahan setahun peluncurannya? N9 seharusnya menjadi telepon genggam pertama Nokia yang mengangkat harkat Meego. Isu yang berkembang adalah karena adanya tablet yang akan diluncurkan oleh Nokia.

Sayangnya baik Tomi maupun para spekulan itu tidak tahu, Stephen Elop memiliki saham di Microsoft. Tentu saja, ia sebagai salah satu mantan eksekutif Microsoft, akan membela Microsoft yang telah kehilangan bagian pasar (1,5% saja) di pasar perangkat bergerak. Ini bisa jadi sabotase dari Microsoft.

Mari kita ikuti drama sabun Nokia. Mari kita berharap agar Nokia tidak masuk daftar rekan strategis yang mati akibat kelakuan Microsoft.


NB: Saya bukan pengguna Nokia. Tetapi, Nokia adalah contoh nyata untuk membuktikan apakah meninggalkan FOSS adalah benar atau salah. Nokia bisa menjadi tumbal untuk pembenaran dua paham yang sedang berkembang. Menarik untuk diikuti.

A Heart Retribution

A Heart Retribution

A Heart Fallen in Love

A Heart Fallen in Love

People used to think that love will set you free. It will glow. But, little did they learn that love is self sacrifice. To have a heart shine and glimmering in light, there are things that should be devoted. Rights being violated. Existence being reduced.

Trapped Heart

Trapped Heart

To have a heart falling in love means your heart bounded to the ground. You can’t just walk away and say goodbye. Memories strain you to go flying.

Many tried and it left a hole in their heart. Well, there isn’t any to begin with. It was only the heart that was never set free. It was because you are not the one star anymore. Suddenly, you became a planet that needed a Sun. Rotating, revoluting, couldn’t even have one inch revolting.

Violator Shot Down

Violator Shot Down

Even when you be able to be free, there would be a chance where your heart would be shot again. When your heart soar into the sky of freedom. When you headed into the sun setting. When nothing hinder. BAM! You got shot.

When that time comes, read the image sequence backwards. That is, when you learn how people fall in love. Remember to have self sacrifice. And let their heart shines. Is it worth it?

THE BEGINNING…

Drama Sabun Nokia

Drama Sabun Nokia

Seperti dugaan saya, kerja sama Nokia – Microsoft menuai kritik dari banyak pihak. Kendati demikian, pihak KDE banyak yang memasang sikap lihat dan tunggu, termasuk Aaron Seigo.

Nah, gosip tak akan sip kalau begitu. Beruntung, ada salah seorang dari komunitas KDE yang membuat tajuk ini menarik.

Salah satu yang menarik adalah kebijakan yang diambil Elop menikam banyak pihak di Nokia dari belakang. Salah satunya adalah pemerintah Finlandia Uni Eropa yang baru saja mengucurkan dana untuk mengembangkan Symbian untuk program padat karya.

Jangan salah sangka, dibandingkan Android yang menidurkan aplikasi di latar; atau pun WP7 yang tidak bisa sama sekali, Symbian memiliki paralelisasi dengan thread. Hanya sayang, OVI terlambat.

Hal yang menarik adalah pertanyaan mengapa Nokia mau memilih WP7 yang  jauh inferior dari apapun?

Ternyata Elop adalah salah satu dari 10 besar individu pemegang saham Microsoft. Cukup menambah kecurigaan.

Saat ini di tubuh Nokia cukup berkecamuk. Kita lihat saja, apakah Elop keluar atau revolusi di tubuh Nokia.

Saya bukan ekstrimis. Saya juga bukan pengguna Nokia. Saya hanya pengguna KDE. Tapi, drama ini cocok untuk bahan penelitian korporasi dan perangkat lunak terbuka.

Omong-omong ini dari telepon genggam jadi kurang nyaman. Detail dan tautan menyusul.

Bacaan lebih lanjut: http://piacentini.blog.br/2011/02/elop-is-after-me/

Drama Yang Bagus

Drama Yang Bagus

Akhirnya, seperti yang diduga sebelumnya, ketahuan juga belang pembocoran memo internal CEO Nokia Elop.  Nokia yang dinakhodainya telah menandatangani perjanjian tak terikat dengan Microsoft. Akhirnya Nokia memutuskan untuk menggunakan produk-produk Microsoft.

Saya bukan anti Microsoft. Nokia telah mengusung banyak kawan dari dunia perangkat lunak terbuka. Ketika Nokia mengusung Microsoft, bagaimana dengan Meego? Bagaimana reaksi komunitas KDE? Menarik sekali.

Semoga….

Galangan Yang Terbakar dan Minyak yang Keluar

Galangan Yang Terbakar dan Minyak yang Keluar

Seorang rekan memberikan sebuah tautan mengenai Apple di Engadget yang terdapat juga di blog internal Nokia. Intinya tentang nota internal CEO Nokia, Stephen Elop, yang mengeluhkan Nokia kurang kompetitif. Dia mengeluhkan bahwa Nokia telah dikalahkan di berbagai lini. Pada pasar kelas tinggi, Apple menyelak Nokia dengan iPhone dan ekosistemnya. Lalu pada pasar inovasi, Google mengalahkan Symbian dengan Androidnya. Yang paling telak, perusahaan-perusahaan kecil di Shenzen mengalahkan mereka dengan telepon-telepon genggam murah meriah. Nokia tak ada perubahan apa pun dan hanya melihat dan kehilangan banyak kesempatan.

Baguslah, semoga nota ini tidak terlambat seperti SUN Microsystem. SUN Microsystem sering kali diberikan sebagai contoh tragis sebagai perusahaan pendukung perangkat lunak bebas dan terbuka. Itu pernyataan salah kaprah! Asal tahu saja, kesalahan SUN Microsystem adalah mereka terlambat membuka teknologi mereka untuk perangkat lunak bebas dan terbuka. OpenSolaris terlambat keluar setelah orang-orang telah menggunakan GNU/Linux dan sistem BSD pada server-server mereka. Java terlambat menjadi terbuka setelah ada .NET, Python, dan berbagai bahasa inovatif lainnya. Mereka terlambat untuk mengambil keputusan dan lebih dikarenakan dorongan pasar.

Nokia, Anda telah membuat keputusan benar dengan mengakuisisi Trolltech, perusahaan pengembang utama Qt (inti dari KDE). Anda telah membuat keputusan baik dengan membuat Qt berlisensi terbuka namun bisa digunakan untuk komersial. Anda juga telah membuat keputusan bagus dengan mengadopsi Maemo dan menggabungkannya dengan Intel menjadi Meego. Seperti yang dibilang oleh Ari Jaaksi beberapa tahun lalu, Anda telah belajar untuk menjadi bagian dalam ekosistem perangkat lunak terbuka.

Masalahnya, semenjak Nokia Internet Tablet tahun 2005 lalu dan N900 yang tidak pernah diumbar ke publik, Anda tidak pernah lagi membuat perangkat lunak terbuka. Pasar OVI Anda juga tidak menarik karena para pengembang tidak tahu bagaimana cara masuk ke sana. Lagi pula, sudah beberapa kali Anda mengubah fundamental OVI sehingga orang bingung menggunakannya. Cepat sekali perangkat yang Anda produksi tidak didukung oleh OVI. Padahal, bisa jadi produk-produk yang Anda produksi tahun ini beberapa tahun lagi baru ada di negara-negara ketiga. Kendati Anda telah membuka Symbian OS, tetap saja itu karena GNU/Linux telah lebih dahulu masuk.

Mari ambil contoh Android. Kendati sekarang sudah versi 2.3 (Gingerbread), masih banyak perangkat-perangkat yang menggunakan versi 1.6 (Donut). Hal ini dikarenakan ada perusahaan brengsek yang tidak taat GPL yang tidak menyertakan kode sumbernya sehingga komunitas dan bahkan produsen pengguna chipset-nya terpaksa menggunakan versi 1.6. Tetapi, karena keterbukaan dari Android, banyak pemodifikasi yang berusaha mengoptimalkan perangkat ini. Karena bebas, produsen Android di Cina menciptakan sendiri pasar aplikasinya. Sehingga, bagi produsen yang tidak mampu menekan perjanjian dengan Google untuk menyertakan Google Market, mereka bisa membuat sendiri. Bahkan, dengan bahasa mereka sendiri sehingga pasar Cina dengan mudah dipenetrasi karena memakai bahasa ibu.

CEO Anda benar dengan menyatakan bahwa Meego bisa jadi sebuah fenomena baru. Dengan Qt sebagai dasarnya, Meego dapat menerjemahkan banyak aplikasi PC ke dalam perangkat-perangkatnya yang berbasis Meego. Tapi, ini bukan masalah teknologi, Anda punya teknologi superior. Ini bukan soal pasar, Anda punya banyak pengikut yang mau membeli. Ini tentang sikap Anda.

Sikap Anda terhadap komunitas dan para pengembang menentukan apakah Meego bisa menjadi pengembangan idaman. Apple telah menemukan momentumnya, tetapi saya rasa dalam beberapa tahun tak lama lagi mereka akan jatuh. Atau setidaknya mereka akan tetap di pasar yang itu saja.  Telah banyak pengembang mengeluhkan tentang proses masuk ke dalam pasar Apple. Pengembangan yang hanya dapat dilakukan di atas produk-produk Apple mengalienasi kemungkinan mahasiswa-mahasiswa kreatif dalam berinovasi.

Inovasi mereka semakin lama semakin terkejar oleh Android. Dengan dukungan perusahaan-perusahaan Cina yang mempekerjakan buruh murah, Android dapat masuk ke pasar mana saja dengan harga murah meriah. Dengan dukungan komunitas seperti Slatedroid dan CyannogenMod, mereka bisa membuat inovasi yang tak terbayangkan. Aplikasi-aplikasi dapat dengan mudah dibuat dan banyak orang yang dengan waktu luangnya bisa belajar SDK Android yang bisa didapatkan secara bebas.

Mari ambil contoh telepon genggam milik saya, Nexian Journey. Telepon murah meriah ini adalah sebuah perangkat murah Cina yang dibundel dengan merek Nexian Journey. Ada merek seperti Commtiva Z71, Boston, atau merek lainnya dari telepon ini menyatakan bahwa telepon ini ada di mana-mana. Akibatnya, banyak modifikasi yang dibuat oleh pemodifikasi yang bertebaran di Internet. Salah satu yang menjadi kesukaan saya adalah CyannogenMod versi 7 (CM7).

Aslinya, Nexian Journey ini lambat, bahkan versi Eclair (Android versi 2.1) suka hang. Pemodifikasi CM7 telah membuat telepon saya menjadi lebih kencang dari Galaxy S. [1]  Bayangkan, telepon seharga satu jutaan bisa membalap telepon kelas atas.

Saya suka dengan Google yang menutup mata terhadap komunitas yang menyertakan tautan kepada Google Market. Kendati secara hukum itu adalah ilegal, tetapi secara etika seharusnya hal tersebut diperbolehkan. Maksud saya, bukankah Google membuat aplikasi Google Market berjalan di perangkat-perangkat yang dia dukung saja? Pastinya, hanya orang-orang yang memiliki perangkat yang sebelumnya memiliki Google Market yang bisa menggunakan perangkat lunak tersebut. Seandainya pun ada perangkat ilegal, Google bisa menuntutnya. Buat apa membuat teknologi gagal seperti DRM yang hanya menyusahkan para pengguna aslinya?

Anda lihat, Nokia, komunitas bukanlah sosok yang saklek. Komunitas cenderung pemaaf. Kendati Google tidak sepenuhnya terbuka, mereka sebisa mungkin menjelaskan kepada komunitas mengapa mereka tidak bisa terbuka. Seperti AMD sewaktu mengakuisisi ATi, agak lama janjinya untuk terbuka kepada komunitas bisa terpenuhi. Itu pun tidak semua bisa dilakukan. Mereka memberitahukan tentang adanya perjanjian tertutup terhadap teknologi ATi yang tidak bisa dibuka untuk umum. Komunitas pun mahfum. Bagusnya lagi, AMD berusaha mengejar ketertinggalan penggerak (driver) terbuka mereka terhadap Catalyst dengan mempublikasikan spesifikasi produk terbaru mereka. Akibatnya, mereka punya kompetisi dan penggerak terbuka menjadi jauh lebih cepat.

Sekarang bukanlah masa komunitas stereotip Amerika yang memperlakukan konsumen sekedar pemakai bodoh. Sekarang adalah masanya okultisme teknologi. Orang mengaitkan pribadi mereka terhadap sebuah merek. Bukan sekedar keren atau gaya, tetapi soal eksistensi dia di dalam merek tersebut. Bukan sekedar copy cat tetapi sebuah personalisasi yang membuat setiap individu berbeda. Apalagi, generasi masa ini dan akan datang tidak memerlukan gelar sarjana teknik untuk dapat mengerti teknologi. Orang tidak lagi alergi terhadap jargon-jargon teknis. Jargon teknis pun banyak berubah sehingga lebih alami. Anda tahu, seperti jargon “Web 2.0” dan bagaimana jargon ini menjadi bagian keren dalam masyarakat. Teknologi sudah menjadi bagian tren.[2]

Ketika Nokia membuat komunitas Nokia beberapa waktu lalu dan aplikasi narsistiknya, saya sempat bertanya dalam hati. Hendak di bawa ke mana komunitas ini? Ternyata hanya seperti komunitas promo. Maaf, konsumen tidak sebodoh itu. Komunitas promo hanya akan bertahan ketika tidak ada komunitas promo tandingan lainnya. Tetapi ketika Nokia sudah menyertakan pengguna dalam pengembangan, seperti komunitas Ubuntu dan Ubuntu Brainstorm-nya, orang-orang akan merasa bahagia bisa berpartisipasi. Ketika Nokia sudah siap dengan menghadapi dinamika dan gesekan-gesekan dalam komunitas seperti komunitas Ubuntu dan Code of Conduct-nya, Nokia sudah bisa aman berinovasi.

Komunikasi viral adalah alat pemasaran paling jitu saat ini. Bermodalkan Twitter, Facebook, 4chan, dan media sosial lainnya, Anda bisa mempromosikan banyak hal. Anda bisa lihat contoh berbagai meme atau tren di Youtube. Bagaimana seorang anak kecil bernama Justin Bieber menjadi bintang setelah penampilannya di Youtube. Tetapi, berhati-hatilah terhadap komunitas. Anda tidak mau menjadi dell hell selanjutnya, kan?

Sudah bukan zamannya lagi memasarkan brand atau solusi. Ini zamannya komunitas digital. Perangkat teknologi adalah sebuah gerbang, infrastruktur. Seberapa jauh Anda mau jadi gerbang, wahai Nokia? Apa maksud Anda dengan “connecting people”?


  1. Berdasarkan hasil uji Quadrant Standard nilai saya 854, sedikit di atas Galaxy S. Uji terakhir saya menggunakan CM7 Build 33. ^
  2. Saya bahkan menemukan jargon-jargon non-teknologi yang terinspirasi seperti, Edukasi 2.0, tweeps, tweet, blog, dan lain sebagainya. ^
Once Upon A Time: A MyPaint Showcase

Once Upon A Time: A MyPaint Showcase

Knight In The Shinny Armor

The Knight

Everyone is like a princess.

Waiting for her knight in a shinny armor comes with his glory. He would break the silence. He would bleed and get dirty. He will not falter no matter what. All that sketches in his mind is a princess waiting for him at the end of the darkness.

Dragon, witches, castle

Obstacles

With his glory, he fights the odds. He fights the fiercing dragon. He fights the witches and break the spells that cast upon. He crosses the river. He breaks down the centuries unmoved gate. Climb to the tallest tower and save the princess.

Then, that prince would tell the princess how much he loves her. The prince would bow down and asks her to marry him. He takes the princess to his kingdom and makes her his queen for life.

Broken Heart

The Prince's Heart

Little did the princess know…

that the prince’s heart was broken in the process.

–:: F I N ::–

Read More

Gong Xi Fa Cai

Gong Xi Fa Cai

As the title suggests.

Inilah babak baru pada era humanisme; ketika idealisme saling berbentrok dan jawabannya adalah toleransi. Bulan Januari kemarin, ada setidaknya dua berita. Yang pertama adalah bagaimana saudara Muslim melindungi saudaranya yang Kristen Koptik ketika mengadakan Misa. Yang kedua adalah bagaimana saudara Kristen melindungi saudara Muslimnya yang sedang sholat.

Serangan 11 September telah membuat peningkatan rasa curiga. Banyak stereotip generalisasi yang membuat saudara-saudara dari belahan dunia yang berbeda memiliki persepsi yang berbeda. Tak kenal maka tak sayang, demikianlah ungkapan kita menggambarkan. Propaganda politik yang menyebabkan distorsi menyebabkan banyak orang salah sangka.

Dunia tidak seburuk itu. Di tengah radikalisme yang tengah berkembang, humanisme juga berkembang. Biarlah tahun baru ini menjadi babak baru untuk setiap orang bisa memandang sesamanya manusia sebagai bagian dirinya yang tak terpisahkan.

Sosialisme dan Indonesia

Sosialisme dan Indonesia

‚ÄúIf I give to the poor, they call me saint; if I ask why there are poor, they call me a communist.‚ÄĚ –Don Helder Camera

Silakan tuduh saya sedang melakukan propaganda. Atau, silakan tuduh saya sedang termakan romantika sosialisme bapak-bapak pendiri negara kita. Atau, terpengaruh pemikiran Gandhi di India. Saya bukanlah seorang Smurf, tetapi sosialisme merupakan bagian dari kehidupan beragama.[1]

Ketika roda perekonomian mengerucut pada beberapa orang, maka terjadi eliminasi bagi yang tidak beruntung. Setiap orang yang tidak dapat bertahan hidup akan hilang dan kemudian pudar. Banyak orang yang mengira bahwa rakyat Indonesia begitu malasnya maka mereka pantas untuk menjadi miskin. Mereka pantas untuk tereliminasi.

Tetapi, film 28 Days Later dan kejadian di Tunisia dan Mesir membuat saya cemas. Akankah Indonesia menjadi seperti itu? Ketidakpedulian tingkat tinggi yang sedang berlangsung saat ini membuat teorema survival the fittest terasa lancar. Orang-orang merasakan bahwa ini adalah bagian alami dari kehidupan. Tentu ini adalah alami. Tetapi  yang saya takutkan adalah selain survival the fittest, ada hukum kedua penyelamatan: Evolusi.

Bagaimana seandainya terjadi proses evolusi. Mereka yang “tidak beruntung” melakukan proses kreatif dengan menjarah orang-orang yang “beruntung”?

Mari kita mulai ikutan berkontribusi terhadap ekonomi Indonesia. Mengutip iklan Maspion: “Cintailah produk-produk Indonesia.” Tapi, jangan lupa, wahai, pengusaha, tingkatkanlah kualitas produk-produk Anda. Kami bukan kelinci percobaan.

Simbiosis mutualisme.


  1. Saya tidak bisa klaim agama lain, tetapi jelas Injil dan Taurat berbicara sangat tegas mengenai kepekaan sosial. ^

  1. Saya tidak bisa klaim agama lain, tetapi jelas Injil dan Taurat berbicara sangat tegas mengenai kepekaan sosial. ^
Stored Procedures, Anyone?

Stored Procedures, Anyone?

I’m learning to be a pragmatist. But, values that I have kept in mind always making me into the sense of rejection of almost all of the pragmatic solutions. I do love running system, but I hate unmaintainable systems.

One mind that I would love to tackle is the prohibition of using stored procedure. I would love to know how my mind playing tricks on me or is it true?

An article by Roland Bouman interestingly gives an insight: People loves stored procedures. It fast and it is more practical. Some people who hate it said that it would be not portable. But, as I read, most organizations don’t move their databases into new backend. This is because of most databases are not that compatible with standards. Some notes about CPU scalability things. But, that’s MySQL specific. So far I read, the stored procedure are in favor.

BUT

I do found an interesting fact: It was about the PROGRAMMER portability.

The most reasonable fact about portability is about programmer turnover. You have a divine programmer and you have contracts with vendor to ensure your database is up-to-date in ten years. Suddenly, Google hijack your programmer and you left with a new one. Well, let’s hope the new one is like advertized.

For instance, the new developer won’t excuse his/her new system lackiness because of database performance hits. ¬†Using stored procedure wildly will bring your system unauditable. That’s not good.

A well designed SQL scheme will always produces great results. Results are not just results. It also speaks about underlaying systems and business logic. That’s why we implemented MVC practice.

I still believe in Ariya Hidayat’s: Don’t code what you can’t debug tommorow. Long story short, I still believe stored procedure is a bad practice. Of course, I’m not a DBA, thoughts?

Sup Kacang Merah dan Hak Kesulungan

Sup Kacang Merah dan Hak Kesulungan

Esau hanya bisa meraung. Ishak ayahnya telah memberikan seluruh berkatnya kepada Yakub, adiknya. Ayahnya telah tertipu dan mengira bahwa Yakub adalah Esau. Ibu Yakub menyuruh Yakub untuk menempeli badannya dengan bulu agar seperti Esau. Akibatnya, keturunan Yakub mendapat berkat dan keturunan Esau harus berjuang untuk dapat selamat.

Menurut penuturan, hal ini terjadi karena Esau telah menjual hak kesulungannya pada waktu yang lampau. Suatu hari ia merasa lapar ketika ia pulang berburu. Ia melihat adiknya Yakub sedang memasak sup kacang merah. Ia meminta sepiring sup kacang merah dari Yakub. Yakub kemudian memberikan sebuah TOS (Term Of Service) yang menyatakan bahwa ketika Esau setuju menggunakan layanannya, hak kesulungan menjadi milik Yakub. Tanpa pikir panjang, Esau menyetujui perjanjian itu.

Sering kali dengan mudah orang bertanya, “mengapa Anda begitu idealis memperjuangkan perangkat lunak bebas dan terbuka?” Salah satu kisah kuno tentang penukaran haknya demi kenyamanan (convenience) ini menjadi referensi yang pas. Begitu banyak hal yang telah didapatkan dengan gratis (taken for granted) dan orang sering mempertanyakan mengapa masih saja ada pihak yang tidak berkompromi.

Keputusan Google yang memilih membuang dukungan H.264 membuat kontroversi. Bagi orang yang tidak paham, mereka mempertanyakan komitmen Google terhadap open web. Keputusan ini mengikuti keputusan Mozilla Foundation (Firefox) dan Opera yang tidak mendukung H.264. Padahal, saat ini perangkat-perangkat keras yang beredar banyak yang mendukung H.264. Dengan keputusan ini, mereka bertiga telah mendiskreditkan banyak perangkat. Harga yang mahal untuk sebuah kebebasan.

Tahukah Anda, bahwa MPEG LA (konsorsium pemegang paten H.264) ditengah kegentarannya  memperpanjang keputusan untuk tidak memungut royalti hingga 31 Desember 2015? Tahukah Anda sebelum Microsoft merilis WebMatrix, ia menganggap sepi perangkat lunak bebas dan terbuka? Tahukah Anda bahwa karena Sir Tim Berners-Lee menon-royaltikan implementasi HTTP-nya maka kita memiliki Internet? Tahukah Anda bahwa GCC buatan Stallman dan kawan-kawan menolong Apple? Tahukah Anda bahwa Android menggunakan kernel Linux? Tahukah Anda bahwa penelitian di banyak universitas[1] menggunakan perangkat lunak bebas dan terbuka? Ia juga mendukung aktivis kebebasan?

Ideologi

Mendukung perangkat lunak bebas dan terbuka bukanlah soal uang. Sebagian besar dari pendukung ideologi ini bukanlah orang-orang tak mampu. Royalti dan teman-temannya telah menghancurkan banyak inovasi. Mereka juga membuat jarak (gap) digital. Ada perasaan bersalah ketika membeli barang-barang yang seharusnya dapat mengubah hidup banyak orang. Mendukung perangkat lunak bebas dan terbuka menjadi sebuah gerakan moral.

Gerakan perangkat lunak bebas dan terbuka adalah sebuah gerakan sosialis. Banyak orang dari zaman modernisme menganggap bahwa sosialisme adalah fasis dan komunis. Padahal, agama Yudaisme dan agama-agama lainnya yang populer sudah lebih dahulu mengusung idealisme ini. Pengaturan kesejahteraan bersama merupakan bagian yang tak tergantikan. Sebagai sebuah negara beragama Indonesia seharusnya sudah paham tentang idealisme ini. Apalagi, konsep gotong royong merupakan bagian tak terpisahkan dari filosofi perangkat lunak bebas dan terbuka ini.

Hal yang paling menakutkan dari berbagi adalah ketakutan orang akan memanfaatkan ide yang kita buat menjadi idenya. Ketakutan ini yang membuat banyak perpustakaan institusi pendidikan di Indonesia menyimpan rapat-rapat hasil riset sivitasnya. Fakta yang menarik adalah sejauh mana pun ide itu tersimpan, tetap saja jasa pembuatan skripsi laris. Plagiarisme tetap ada dan malah membuat orang tidak bisa memeriksa keaslian karya ilmiah tersebut. Bahkan, tidak seorang pun dapat memverifikasi kebenaran hasil karya ilmiah tersebut.¬†Tidak heran, ada orang yang mengeluhkan mengenai “kebohongan” karya-karya ilmiah yang dia baca ketika dipraktikkan. Bisa jadi, ada kesalahan dalam penghitungan sehingga tanpa maksud untuk manipulatif, sang peneliti menghasilkan kesimpulan yang salah.

Satu hal lagi yang paling menakutkan dari ketakutan ini adalah hilangnya potensi pemikiran bertahun-tahun. Bayangkan, berapa banyak lulusan yang telah diterbitkan setiap tahun tetapi penelitian di Indonesia menjadi mandeg. Perpustakaan menjadi sebuah lubang hitam di mana ide-ide yang kreatif hilang dan menjadi arsip yang ada selama bertahun-tahun. Padahal, ada tangisan dan air mata dalam mengerjakannya [penulis pun sempat masuk rumah sakit karena pleumotoraks akibat begadang mengerjakan student project]. Investor yang tertarik tidak akan pernah tahu bahwa ada solusi yang telah dibuat oleh akademisi untuk masalahnya. Seiring dengan waktu, ide yang tak pernah dibagikan menjadi  basi (obsolete).

Universitas-universitas di dunia pun menyadari ini. Itu sebabnya, banyak yang mulai mempublikasikan karya-karyanya. Hal ini akan sangat berat dilakukan apa bila pemikiran masih tidak dapat menerima konsep keterbukaan ini. Perangkat lunak bebas dan terbuka memberikan filosofi  yang sama dengan semangat berbagi. Bahkan, perangkat lunak bebas dan terbuka tumbuh dari lingkungan akademisi yang memiliki semangat berbagi dan penghargaan (kredit) atas karya orang.

Politically and Morally Correct

Mana lebih dahulu: ayam atau telur? Menaikkan gaji pegawai atau meningkatkan devisa? Ketakutan sebagian besar orang tentang sistem yang akuntabel adalah hilangnya “pendapatan sampingan” yang mereka punya. Padahal, ketika administrasi menggunakan perangkat lunak bebas dan terbuka, ada peluang lain yang terbuka dengan cara legal.

Gerakan perangkat lunak bebas dan terbuka juga menghadirkan peluang proyek-proyek sosial yang mendekatkan banyak orang kepada Internet. Onno W. Purbo dan rekan-rekan banyak melakukan penetrasi ke desa-desa. Bahkan POSS UI pun banyak melakukan penetrasi ke sekolah-sekolah. Di manakah perangkat lunak tertutup (proprietary)? Adakah mereka melakukan hal-hal sosial? Yang saya ingat hanyalah sebuah kalimat menyesakkan dari seorang VP perusahaan perangkat lunak.

Ide tentang sebuah komunitas yang maju bukanlah milik perangkat lunak bebas dan terbuka. Akan tetapi, saat ini yang paling konsisten memperjuangkannya tanpa senjata adalah perangkat lunak. Untuk dapat mengerti semangat berbagi ada banyak cara seperti memberikan sedekah. Akan tetapi, yang paling bisa membuat perubahan terhadap banyak orang adalah ketika kita menggunakan dan mendukung perangkat lunak bebas dan terbuka.

Kata Akhir

Semua hasil perjuangan ada harga mahal yang harus dibayar. Untuk tak bergeming dari prinsip membutuhkan pengorbanan yang sepadan. Hasilnya pun sepadan. Kompromi terhadap kebebasan demi kenyamanan sama saja seperti Esau menjual hak kesulungannya kepada Yakub. Pragmatis boleh, tetapi idealisme harus terus diperjuangkan.


  1. Untuk ini, Anda harus membaca banyak jurnal ilmiah, terutama jurnal-jurnal teknologi. ^
Berkenalan dengan <em>Cloud Computing</em>

Berkenalan dengan Cloud Computing

Zaman sekarang adalah zamannya cloud computing. Sebuah istilah yang mengacu kepada komputasi berbasiskan jaringan. Berbeda dengan komputasi konvensional, komputasi awan memberikan sebuah kotak hitam (baca:cloud), sebuah jaringan dengan unit-unit komputasi yang saling terhubung. Klien hanya perlu memanggil fungsi tertentu dengan parameter data tertentu dan kemudian menunggu hasil perhitungan.

Sejujurnya, sewaktu menyusun ini saya pun kesulitan mendefinisikan istilah. Banyak istilah yang sudah tertukar-tukar maupun kabur akibat dari definisi yang tidak seragam dan kepentingan bisnis. Agar tidak menakutkan, saya memutuskan untuk tidak membuat catatan kaki dan daftar pustaka, tetapi lebih menyediakan tautan. Semoga Anda bisa membaca ini dengan nyaman.

Apa itu cloud/awan?

Internet adalah sebuah awan besar. Istilah awan merujuk kepada sebuah infrastruktur maya yang kita tidak tahu fisiknya. Pengembang perangkat lunak biasa menyebut istilah tersebut sebagai black box. Artinya, hanya diketahui ia membutuhkan sebuah masukan dan menghasilkan sebuah keluaran. Tetapi, proses internalnya tidak kita ketahui.

Apa itu unit komputasi?

Unit komputasi bisa berarti apa saja, dari sebuah embedded device berprosesor ARM, PC biasa, hingga sebuah kluster. Namun, satu hal yang pasti, unit-unit komputasi ini diatur oleh sebuah koordinator yang mendistribusikan tugas-tugas komputasi.

Perkenalan (Tidak) Singkat cloud computing

Kalau menurut definisi yang diberikan, komputasi awan ini berkembang dalam berbagai bentuk.  Dalam perkenalan saya di berbagai dunia, ternyata ada beberapa konsep cloud computing yang berkembang yang menurut saya sama. Dalam seksi ini saya akan memberikan cloud computing dalam tiga dunia:

  1. Grid Computing (Dunia Akademis)
  2. Cloud Computing (Dunia Bisnis)
  3. People Computing (Dunia Sosial/Ubiquitous Computing/Pervasive Computing)

Grid Computing

Seperti Decision Support System yang berubah jargon menjadi Bussiness Intelegence, cloud computing terkenal di dunia akademik dengan nama grid computing. Fitur dari grid computing ini adalah mengumpulkan kluster-kluster yang ada menjadi sebuah komputasi besar. Definisi dari sebuah kluster adalah sekumpulan komputer yang biasanya identik dalam sebuah situs/ruang server. Contohnya, Universitas Indonesia memiliki kluster Hastinapura yang (tadinya) tergabung dengan kluster di UGM membentuk sebuah grid yang dinamakan InGRID. InGRID adalah sebuah usaha untuk membuat sistem Grid dengan menggunakan jaringan antar universitas (INHERENT).

Sedikit catatan mengenai InGRID, saat ini yang tertarik untuk mengembangkannya di Fakultas Ilmu Komputer adalah Prof. Heru Suhartanto. Beliau sangat tertarik untuk menggunakan InGRID untuk penelitian. Seingat saya, salah satu penelitian (masih dalam tahap awal) adalah simulasi tumbukan molekul obat-obatan tradisional Indonesia. Saya pribadi mengingat hal tersebut sebagai langkah yang hebat. Bayangkan, selama ini yang melakukan proses simulasi tumbukan adalah perusahaan farmasi luar negeri yang melisensikan hasil kerjanya kepada perusahaan-perusahaan Indonesia untuk membuat obat paten. Saat ini beliau sedang meneliti tentang kemungkinan penggunaan NVIDIA CUDA untuk menjadi kluster berikutnya.

Dari contoh penggunaan Grid, berbeda dengan dunia bisnis, dunia akademik memerlukan sebuah komputasi besar yang terjangkau untuk melakukan perhitungan kompleks. Biasanya, sistem Grid menggunakan seluruh sumber daya untuk menghitung dan tidak memiliki integrasi yang menyeluruh. Karena sistem Grid dikembangkan oleh lingkungan yang terbiasa dengan oprek-mengoprek (alias akademik), antarmuka yang disediakan tidak begitu baik dibandingkan versi komersil seperti Amazon EC.[1] Aplikasi-aplikasi yang sudah jadi pun tidak banyak. Kebanyakan harus memrogram ulang dengan MPI. Bahasa utama dalam pemrograman biasanya Fortran dan C/C++.

Cloud Computing

Inilah terminologi yang sedang berkembang saat ini. Berbeda dengan di dunia akademik, Cloud Computing bagaikan sebuah komputer maya raksasa yang digunakan oleh banyak orang/organisasi/entitas. Contoh penyedia komputasi ini adalah Amazon EC dan Microsoft Windows Azure. Untuk memudahkan orang dan pemasaran, komputasi ini menurut evolusinya terbagi atas berikut:

  1. Software As A Service (SaaS)
  2. Infrastructure As A Service (IaaS). Kata lainnya adalah virtualisasi.

SaaS adalah konsep yang paling awal dari cloud computing. Contoh sederhana dari SaaS adalah Google Docs. Berbeda dengan perangkat lunak tradisional yang disediakan di komputer masing-masing, perangkat lunak SaaS terdapat di dalam jaringan dan hanya dipasang ketika digunakan (baca:diakses). Ada banyak cara mengimplementasikan SaaS. Menurut saya, ada dua jenis yang penting:

  1. Dumb/Thin Client. Dalam konsep ini, semua bagian aplikasi dan perhitungannya berada di awan. Klien hanya mengaksesnya. Konsep yang mirip dengan ini contohnya LTSP. Contoh teknologi ini adalah Java Web Start.
  2. Rich Internet Application (RIA).

Kedua terminologi di atas pun sudah mulai mengabur saat ini. Hal yang perlu diingat adalah perangkat lunak yang berkembang di pasaran saat ini sudah mulai mengimplementasikan konsep dari RIA. Konsep RIA yang berkembang adalah Service Oriented Architechture (SOA). Komunikasi antara klien dan server dalam SOA menggunakan web service. Ada banyak teknologi web service, contohnya XML-RPC, WS-Profile, AJAX, dan RESTful. Satu hal yang mereka setujui adalah penggunaan tumpukan (stack) yang lazim digunakan dalam teknologi Web (TCP, IP, HTTP).

Bagaimana dengan IaaS?

Telah lama VMWare menjadi pemimpin pasar dalam dunia virtualisasi. Namun, baru pada saat XEN memasuki pasar, dunia membuat banyak inovasi virtualisasi. XEN adalah sebuah teknologi virtualisasi yang dibuka bebas (open sourced). Salah satu inovasi virtualisasi adalah pembuatan antar muka untuk mengatur sumber daya instan (instance) yang berjalan. Istilah instan merujuk kepada sebuah sistem operasi virtual yang berjalan di atas sistem operasi utama. Salah satu yang telah melihat peluang bisnis ini adalah Amazon. Perusahaan ini memanfaatkan Xen pada arsitektur Amazon Elastic Compute Cloud-nya (Amazon EC2).

Virtualisasi yang disediakan oleh perusahaan penyedia IaaS ini telah dilengkapi oleh antar muka yang intuitif dan web service untuk mengakses secara langsung. Sehingga, tidak diperlukan pengetahuan tentang Xen atau pun infrastruktur yang ada di belakangnya. Kemudahan ini yang menjadi daya tarik bagi klien untuk menggunakan fasilitas cloud computing.

People Computing/People Science

Mayoritas komputasi di dunia ini tidak lagi terletak pada pusat-pusat super komputer dan ruang-ruang mesin sebuah institusi. Namun, komputasi itu kini terdistribusi di ratusan juta komputer pribadi di seluruh dunia. [2]

Ada begitu banyak komputer yang terjual di muka bumi ini. Sebagian dari mereka terhubung dengan Internet. Sebagian besar dari mereka tidak digunakan secara maksimal (under-utilized). Mengapa tidak menggunakan sumber daya ini untuk keperluan riset? Inilah sebuah pemikiran yang dilakukan ketika proyek SETI@home dan Folding@home ketika diluncurkan. Dengan menggunakan BOINC sebagai bingkaikerja masing-masing, keduanya berusaha menggunakan komputasi yang tersebar dalam Internet untuk keperluan perhitungan.

Dunia berkembang lebih dari itu. Dengan munculnya telepon pintar (smartphone) yang dilengkapi dengan pelbagai sensor, people computing berkembang bukan hanya menggunakan media komputer. Beberapa proyek berusaha melibatkan individu-individu untuk melaporkan data melalui perangkat bergeraknya. Seseorang berfungsi sebagai sensor. Ada dua jenis sensor yang ditawarkan berdasarkan waktu penyediaan data:

  1. Sensor diskrit (discrete sensor).
  2. Sensor berkelanjutan.

Sensor diskrit adalah istilah yang saya berikan kepada sistem yang melibatkan pelaporan. Biasanya pada sistem lalulintas misalnya. Seseorang melaporkan kejadian seperti kemacetan. Data ini tidak selalu diberikan oleh orang tersebut, tetapi bisa jadi diberikan oleh orang lain. Karena berdasarkan laporan sukarela, pelaporan tidak dalam waktu yang sewaktu-waktu. Salah satu contoh people computing adalah proyek bantuan amatir Merapi beberapa waktu lalu. Mereka menggunakan media Twitter sebagai pelaporan dan saluran tertentu (hash tag tertentu) digunakan oleh para penolong untuk berkomunikasi. Contoh yang lainnya adalah pelaporan lalu lintas pada lewatmana.com. Contoh lainnya adalah proyek untuk mengukur tingkat polusi udara.

Sensor berkelanjutan biasanya memerlukan seseorang untuk memasang aplikasi/alat tertentu pada perangkat bergeraknya. Kemudian, secara periodik data yang dikumpulkan dikirimkan kepada server. Biasanya proyek ini lebih berhubungan dengan keadaan lingkungan. Perhatian yang diberikan biasanya adalah mengukur tingkat suhu, cuaca, kadar udara, dan lain sebagainya. Partisipasi warga dalam sebuah lingkungan dalam menyediakan data kemudian memberikan sebuah gambaran menyeluruh tentang apa yang terjadi.

Dari kedua jenis ini, dapat disimpulkan, people computing/science, adalah sebuah terminologi untuk menggunakan individu-individu sebagai penyedia data. Kemudian, data tersebut teragregasi dalam sebuah pusat pengolahan data dan kemudian diolah menjadi kesimpulan. Biasanya untuk penghargaan privasi, data diserahkan secara anonim.


  1. Judith Myerson. Cloud computing versus grid computing. IBM Developer Workshop. http://www.ibm.com/developerworks/web/library/wa-cloudgrid/ ^
  2. David P. Anderson. Public Computing: Reconnecting People to Science. Dipresentasikan pada Conference on Shared Knowledge and the Web, Residencia de Estu-diantess, Madrid, Spain, Nov. 17-19 2003. 21 Maret 2004. http://boinc.berkeley.edu/boinc2.pdf ^
The Year of The Smart

The Year of The Smart

Sewaktu melewati stasiun Pondok Cina, saya melihat sebuah pembaca RFID. Iseng-iseng saya mencoba menempelkan kartu mahasiswa dan terdeteksi kartu tidak dikenali. Benar dugaan saya, sepertinya teknologi kartu yang digunakan adalah MiFare Basic. Kartu UI juga memiliki emulasi MiFare, bahkan lebih dari itu, memiliki konformasi disain FIPS level 2, dan mendukung operasi EMV 4.x. Sangat menarik bila bisa digunakan yang lainnya.

Tentunya, dunia implementasi tidak seindah dunia teknis. Faktor regulasi yang belum siap dan segala macam faktor non teknis menyebabkan hal tersebut menjadi sulit terjadi. Namun intinya, sepertinya tahun ini PT KAI telah bersiap-siap untuk memasuki fase uji coba. Kuartal tahun kemarin sepertinya alat-alat tersebut hanya diujicobakan internal saja. Menarik sekali proses penerapan mereka terhadap teknologi ini. Cukup berhati-hati:

  1. Bulan-bulan awal mereka hanya menaruh mesin-mesin pembaca tiket.
  2. Mereka sempat membuat shell tempat tapping kartu nantinya. Belum ada mesinnya tapi sudah diproyeksikan.
  3. Mereka juga pelan-pelan membuat sekat dan pengamanan. Pelan sekali, bahkan, mungkin Anda tidak akan memperhatikan infrastruktur fisik pengamanan bertambah dari waktu ke waktu.
  4. Pelayanan juga semakin hari semakin membaik, tapi pelan. Mula-mula, beberapa kereta ekspres, kemudian beberapa kereta AC Ekonomi sudah dilengkapi dengan suara tujuan selanjutnya.
  5. PT KAI membentuk anak perusahaan untuk khusus mengurusi komuter JABODETABEK.
  6. Dan selanjutnya.

Hal yang menarik adalah bukan bagaimana proses peningkatan kerja berlangsung. Proses untuk mendukung sebuah infrastruktur yang menggunakan kartu pintar tidak sekedar bermodalkan infrastruktur IT yang kuat, tetapi juga layanan yang handal. Rekan dari sebuah bank penyedia micropayment pernah mengatakan banknya pernah diajak kerja sama oleh PT KAI namun kerja sama itu ditolak. Hal ini karena PT KAI belum bisa menjamin pelayanannya. Memang, waktu itu lebih banyak orang yang tidak membeli tiket ketimbang membeli tiket dan orang ramai-ramai memilih nangkring di atas kereta.

Memang, masih lama sepertinya PT KAI untuk meluncurkan tiket elektronik ini. Tetapi, saya tetap salut dengan adanya kemauan untuk berubah.  Semoga tahun ini kita bisa mengejar ketertinggalan dalam pelayanan modern.

2011 Wishlist Series: Congratulate!

2011 Wishlist Series: Congratulate!

Dear friends and others,

Congratulation on becoming PNS (Pegawai Negeri Sipil). My wish for you to keep the idealism and not to be yet another batch of handful corruptors.

I know the country is sucked right now. People from business said that even when government don’t do anything, the economy will runs itself. I kind of not like it. There are souls and blood spilled to obtain the thing called independence. Hopefully, it won’t go to waste.

People always said that the problems are deep and no easy way to resolve it. Some suggested to kill all the people in the age of  40 who runs the system. Some find idealism in a religious believe that not even think this country is considered anymore. Some even suggested that this country is long dead.

Well, to me this is it! This is where you practice your speech. When your idealism runs to your blood and you shouted at the government. With banners and tires being burned and leaflets. Now, you have the power to change.

I know it’s hard. That’s what some of our brothers and sister said as a Jihad, your Jihad! You know the hardest part of this Jihad? People will asked you, why would you have no cars eventhough ¬†you are in the ministry of X. You will hold projects of million dollars, yet you have an income of hundreds. The worst of it all, it took 5 years from now before one of you can take a seat where decisions are made. You will have to endure, gnashing your teeth, and even rumbling your thoughts.

Many people still have their faith intact. But, today’s climate, not just environment but also politics, making people where is this God? And I’m having difficulties lately to explain the concept of God’s love. Who can said God is loving and just when we see poor people being treated harsh.

Interpreter Language Barrier as Software Engineering  Evolve

Interpreter Language Barrier as Software Engineering Evolve

I’m not a maintainer of any interpreter language. The story begin with the Lucas Nussbaum’s open post to resign from Ruby packaging team. [1]¬†To recap, the reason of his resignation is:

  1. The confusing state of Ruby version.
  2. Language barrier, there are lots of core decision happening in Japannese forum.
  3. Trolls.

Yes, the third one is the most factor of how developers stepped down in the past. But, that necesarily the cause of the problem. As I am using Java as default platform for development, I see also the problem in that language. And that’s not all. In recent post, there is also a dispute about the decision of Arch Linux that putting Python 3, the 3rd version, as the default interpreter, not the 2nd version. Many distros using second version of the language as default. These kind of problem shows that those interpreted languages are divided by two opposite polar:

  1. Those that agree with the distro packaging team, who prefer the stable version of the said language.
  2. Those that agree with the upstream, who prefer rather “bleeding edge” version of the upstream.

These two paradigm clash and sprouting trolls among the interweb and without ever being achieve anything significant other than insults.

I find that is counterproductive. I see that the world is changing and so does how software developed. People change and the mindset also changes. To sum it up, I think the real problem lies on these:

  1. Waterfall, “the ancient stable”, versus Agile Method, “release early, release often”.
  2. Software engineers versus Hacker
  3. Universal versus The Right Way ™
  4. Bridge between the two paradigms.

The old ways vs. Revolutionary ways

The good old text book of software development ranging from Waterfall SDLC, RAD, Rational Rose, and etc. always put emphasize on developing the software on auditable, maintained, and tested. All of the methodologies always have sequences of things that needs to be done, layers of Q&A and documentations. We have been told to put strong project maintainability and coding in such a manner that we need to ensure that our code runs on the functional and non-functional requirements. In other words, old software engineers taught to be careful with the code because it lasted.

These paradigm changed in the 2000s. Developers of this century are fascinated by many agile methods that circumvent many protocols that was there. Take an example of Extreme Programming. They put the user and the programmer head on and they code and they debug together. A code with test units that’s all they need to have as requirement for the method. We also see the rise of many new technology, platforms, and interesting ways of thinking. Those are rapidly introduced and having evolution in the hand of users and developers.

Arguably, the paradigm of compiling first versus edit now and done also has the part of it. People would see the result from the interpreted version faster than the old ways of programming that needs to compile a handful stack of libraries just to have a stable build. Web 2.0 with its technology stacks introduce people to have rapid development. ¬†You just have to edit in an alpha site, see the published result right away just by pressing “Reload” button. What people have in their server is not a binary version that often hinder people to make adjustment because of the lack of source code. Everyone can edit their webapps right away just with a simple editor.

Interestingly, it is the Free/Open Source Software (FOSS) that gives the thought of “release early, release often”. This is understandable, though. As FOSS are filled with hackers and technology enthusiasts, people often benefit by releasing their code early to receive inputs from others. Open development nourishes the opportunity and attracts many new contributors. People also have benefit with it. A bugfix release can be immediately launched. Something that proprietary software can’t do these days.

These new interesting way of software engineering is often less documented. The hackerish environment of “show me the code” also making contributors without proper degree in software engineering can make software. Hey, even an anaestheistist can even contribute a significant kernel code. These “amateurs” ¬†are not familiar with software engineering process and often fond of the result of their thinking. Many new and young developers face new challenges: The fast pace of new technologies being brought to the world! This also making old ways seems deprecated.

People just love to release half baked code, recently. With new technologies, we are often seing prove of concept being pushed into code. This kind of preassure is because many don’t want their idea becoming vaporware or obsolete. People are competing in a healthy way just to make their solution a standard.

Interopability!

Many GNU/Linux distros comes from a generation of great software developers. Those distros are blessed with the streamlined ways of installing. Be it with providing automated compiling script like Gentoo and Slackware. Or, solid and traditional installation way with packages such as Redhat, Debian, and Mandriva. All of them have an orthodox ways of how people should install the software and resolve the dependencies. There are guidelines of how people should package their softwares and how they should act wisely. This design ensures that each of the software is maintained properly.

Now, interpreted languages faces a dilemma against that kind of practice. Operating system like Windows series doesn’t have that convention. The only way to publish your software is to have all the dependency included in your installer. This is why those operating systems becaming bloated in each passing time. The OS not only faces different version of softwares, but also different path used for libraries. Each software have their own DLLs just to ensure the right version is available. They don’t have any in common other that using “Program Files” as installation place. But, what about configurations? They are scattered in “.sys” and “.ini” files located on system32 or windows directory. They are also put their configuration on registry. So many places that when we uninstall a program, we just couldn’t erase them all.

These different approaches prove to be a barrier to Virtual Machines (VMs/the one that interpreted the language). To have uniform ways of application in different platform, the VMs decided to create a system that detached from the host. This means, each VM have their own ways of handling codes so that they ensure different host make same behavior. Java even made it further: it made the GUI a part from native look. The VM of Java just recently making an emulation of GTK+2 look and feel, but it still not the same as the native. Oh, as a note, the different ways of many native graphical OS draw its GUI components also led to technical difficulty of obtaining the same look and feel. It would need extra work just to maintain that one.

A New Beginning

There are many problems other than that, those usually involves in politics and technical. But, what I have presented here is adequate enough to point out major flaw in today’s problem, especially in building sane interpreted environment. My ideal proposal is to bridge the gap between the rapid enhancement versus stable enhancement.

Distros should learn a relaxed way to have rapid development softwares included in their distro. I like the idea of Debian Volatile project. It provide fresh versions to be installed in the system. I think it is underused because it only take care of email stuff. What if volatile packages like the interpreter managed also in that section? People who needs fast paced libraries can benefited from it. People who needs stable version just opt-out from the repository anyway. Thus, both world should be satisfied.

What I think to see is how upstream and downstream communicate. Many would excuse that targeting random distros are probably way to lame. That’s not necessarily¬†true. There should be a clear way of how people could integrate VMs into an operating system. I mean, we have the documentation of how to package things. But, we don’t see what is needed to integrate an environment. It would be cool if either upstream provide guidelines for packagers, or the packagers help upstream to have consensus of how packaging things. (Oh, don’t forget to sign in openrespect.org)

For example, there is this disparity between C/Fortran/any compiling code versus Java bytecode in term of searching needed libraries. Every compiled bits knows that libraries are stored in /lib, usr/lib, or /usr/local/lib. I wish Java also have that ability for searching the needed libraries. I wish there is a registry-like capability that caches Java classes globally. So, each time we running a Java application, we need not to know where are the jars completely.

Of course, there are many problems would hinder. Especially when dealing with universality. But, I think the key is how people should communicate and learn each other ways.


NB: Maaf saya pakai bahasa Inggris, habisnya saya pikir tulisan ini melanggar cara tulis untuk orang Indonesia: terlalu panjang. Dari pada tl;dr dan tulisan ini jadi sia-sia, lebih baik pakai bahasa Inggris biar bisa jadi kontribusi buat orang lain. Please, prove me wrong with non-SEO comments.


  1. Lucas Nussbaum. Giving up on Ruby packaging. 2 January 2011 http://www.lucas-nussbaum.net/blog/?p=617 ^