Category Archives

226 Articles
Derita Seorang Administrator

Derita Seorang Administrator

Teknologi sekarang canggih sekali, terutama dalam usaha penerjemahan. Hal ini dimanfaatkan oleh para penyampah (SPAMMER) untuk melakukan social engineering attack. Social engineering attack adalah usaha pembobolan sebuah sistem dengan memanfaatkan kelengahan pengguna. Tekniknya banyak dan yang biasa digunakan misalnya phising dan menguntit dalam dunia maya (cyber stalking).

Dari waktu ke waktu kami mencatat penipuan yang digunakan oleh para penyampah untuk mencuri informasi login UI di sini. Perhatikan evolusi yang menakutkan surel dari waktu ke waktu. Yang paling bawah adalah yang paling terbaru saat ini. Bahasa yang digunakan sudah sangat natural sehingga tidak terasa seperti proses penerjemahan. Wow! Uhm, maksud saya: Duh! [Sebagai akademisi, saya kagum dengan teknik Temu Kembali yang semakin canggih, tapi secara administrator saya merasa sedih]

Sudah ada orang yang menjadi korban. Hal ini menyebabkan pengiriman dari Universitas Indonesia ke Yahoo! Mail tersendat-sendat. Saya bukannya sentimen kepada Yahoo! Mail, mereka berhak memblok kami karena kami kurang awas. Tapi, kok rasanya GMAIL, SpamCop, SpamHaus, SenderBase, dan beberapa anti SPAM yang harus dihubungi satu persatu tidak pernah memblok dengan begitu kuat.

Ah, entahlah, saya tidak ingin menyalahkan siapa pun. Yang pasti, sudah ada banyak antrian ke Yahoo! Mail sekarang. Sudah sejak lama kami pasang peringatan kepada pengguna bahwa kami tidak pernah meminta informasi akun apalagi sandi kepada pengguna. Ditulis dengan warna merah dan ditaruh paling atas.

Bagaimana strategi rekan-rekan dalam mengatasi hal ini?

Milikku Adalah Yang Melekat Padaku

Milikku Adalah Yang Melekat Padaku

Terkadang kita berpikir bahwa apa yang kita miliki benar-benar milik kita. Tetapi, benarkah demikian? Kemarin lusa saya kehilangan ATM saya. Akibatnya, saya tidak dapat mengambil uang, sedangkan bank tutup hari libur. Walau pun baru gajian, tetapi gaji itu tidak dapat dinikmati. Bukankah berarti sesuatu yang merupakan milik saya itu ternyata bukan milik saya karena saya tidak dapat menggunakannya?

Hari ini saya ke kantor, lalu memainkan bulu tangkis. Sayangnya ketika pulang, saya lupa membawa dompet. Padahal, kantor saya dilengkapi dengan fasilitas kartu pintar sehingga saya tidak dapat masuk tanpa kartu. Sudah memencet bel belasan menit, tetapi tidak ada orang di dalam. Wow, hanya saya yang bisa masuk ke sana. Tetapi, hak ekslusif ini justru yang membuat saya tak dapat ditolong oleh orang lain. Saya hanya dapat merasakan hawa AC yang dingin yang keluar dari sela-sela pintu tersebut sementara saya kepanasan.

Bengong di depan ruangan sendiri tak bisa masuk. Saya hanya menunggu siapa tahu ada rekan kerja saya yang datang. Tidak ada satu pun yang datang. Beruntung, ada satpam yang berpatroli yang mengatakan bahwa ada kartu cadangan di kantor mereka. Saya pun mencari-cari sampai akhirnya menemukan rekan satpam yang memiliki kartu tersebut. Proses ini pun lama karena satpam tersebut sedang patroli juga.

Saya sadar….

Hanya karena kita telah diberikan hak untuk menikmati sesuatu, bukan berarti hak tersebut adalah sesuatu yang milik kita. Hanya anugerah-Nyalah yang membuat kita dapat menikmati apa pun yang ada pada kita. Sisanya adalah titipan yang mungkin dapat kita nikmati atau hanya sebagai status milik kita.

Kini saya mengerti lebih dalam lagi arti kata bersyukur.

Kegunaan Web

Kegunaan Web

Ketika saya menjelajah Internet, saya menemukan bahwa University of Toronto Scarborough (UTSC) mendukung Web Content Accessibility Guidelines (WGAC 2.0).  Yang menarik dari UTSC adalah mereka menyediakan sebuah komunitas tersendiri untuk para pengembang web di UTSC.  Seseorang di Universitas Stanford membuatkan sebuah presentasi mengenai itu.

Menarik sekali!

Saya lalu melihat bagaimana situs UTSC dan melihat beberapa hal yang menarik. Mereka sungguh memperhatikan usabilitas! Berbeda sekali dengan situs-situs di Indonesia.

Uhm, tadinya saya hendak berbicara mengenai usabilitas. Tetapi, saya tertarik dengan crowdsourcing yang dilakukan di sana. Jadi saya mau berhenti dulu dan membicarakan tentang itu.

Korelasi Antara Motivasi Mengerjakan Karya Ilmiah dan Menonton Youtube dengan Menggunakan Facebook Secara Aktif

Korelasi Antara Motivasi Mengerjakan Karya Ilmiah dan Menonton Youtube dengan Menggunakan Facebook Secara Aktif

Hipotesis f = n t + m Y

Terjadi Korelasi Positif antara Motivasi Mengerjakan Tugas Akademis dan Menonton Youtube dengan Menggunakan Facebook Secara Aktif

Setelah melewati malam-malam berproskrastinasi dan menjelang batas akhir pengumpulan karya ilmiah, ditemukan hipotesis awal bahwa adanya kecenderungan positif ketika hendak mengerjakan karya ilmiah mengakibatkan aktivitas mencari video menarik di YouTube dan peningkatan penggunaan Facebook secara aktif. Diduga ini adalah sebuah gejala yang lazim terjadi di masyarakat.

Digunakan pendekatan Random Sampling dengan menggunakan distribusi Poison. Alasan penggunaan distribusi Poison bukan distribusi normal adalah karena supaya keren.

[This is what I’ve got when browsing scientific journals and multitasking processor and a tabbed browser.]


Self note:

GANBATTE!

Self condolence:

I wish my Sunday school teacher taught me self control against those beasts of social network world…. Oh, wait, there wasn’t Internet back then… -_-’

Crowdsourcing Dalam Pembelajaran, Sebuah Introduksi

Crowdsourcing Dalam Pembelajaran, Sebuah Introduksi

Definisi

Menurut pengertian Wikipedia, crowdsourcing adalah sebuah kegiatan untuk mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh pekerja atau pun kontraktor kepada sebuah grup yang besar dan tak terkira yang disebut komunitas, melalui undangan terbuka. Saya masih menunggu Ivan Lanin dan kawan-kawan membuatkan Bahasa Indonesianya. 🙂

Menurut Ade Indarta, crowdsourcing dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dengan menciptakan magnet bagi orang untuk berkontribusi. Magnet yang kuat bahkan membuat para profesional pun tertarik menginvestasikan waktu senggangnya untuk memberikan kontribusi.

Menurut Adriansyah et. al., ada beberapa kelebihan dan kekurangan crowdsourcing. Crowdsourcing membuat perusahaan mendapatkan kualitas hasil yang luar biasa dengan biaya minimal. Setiap orang yang memberikan kontribusi tidak dibayar. Namun, karena banyak yang tidak dibayar, terjadi dilema saat untuk mengomersialiasikan hasil kerja tersebut dengan melisensikannya.

Komunikasi

Komunitas yang luas merupakan sebuah pedang bermata dua. Perbedaan budaya dan jam tidur serta ego masing-masing kontributor dapat menyebabkan sebuah komunitas menjadi sangat hebat atau sebaliknya hancur. Oleh sebab itu, salah satu komponen yang paling penting dalam crowdsourcing adalah menjaga jalur komunikasi.

Pengguna Internet pada masa awal menggunakan RFC 1855 sebagai pedoman berkomunikasi. Canonical membangun komunitas Ubuntu dengan menciptakan Ubuntu Code of Conduct. Perkembangan yang lebih kuat memunculkan proyek OpenRespect yang ditujukan bagi komunitas Internet pada umumnya.

Menurut saya, OpenRespect merupakan sebuah proses modern dari RFC 1855. Pada masa RFC 1855, kebanyakan pengguna Internet berasal dari universitas. Sehingga, diskusi diharapkan berlangsung formal. Media surel yang banyak digunakan pada masa itu juga membuat diskusi berlangsung cepat. Sedangkan, masa ini banyak media selain surel yang tidak dipenuhi oleh RFC 1855.

Resolusi Konflik

Konflik dalam komunitas sering terjadi. Tetapi, bagaimana apa bila terjadi konflik antara pemangku jabatan dengan komunitas?

Kasus Dell Hell membuat Dell harus menciptakan citranya kembali selama bertahun-tahun.

Mantan Manajer Teknis Nokia, Arvi, mengakui kesalahan Nokia dan meminta maaf karena baru belajar masuk ke FOSS.

Saat ini resolusi konflik sedang terjadi di komunitas Ubuntu dengan Canonical. Selain itu, di Indonesia ada juga kasus menarik seperti Kaskus.

Masalah Terbuka

Ada masalah terbuka mengenai crowdsourcing:

  1. Pada ranah keilmuan apa ia dipelajari?
  2. Bagaimana membangun komunitas yang baik?
  3. Bagaimana cara mengatasi resolusi konflik?
  4. Bagaimana cara mengatasi perbedaan budaya, jam biologis, dan pendapatan?

Penutup

Saya kurang tahu apakah Crowdsourcing dipelajari di kuliah Psikologi atau Ekonomi. Tetapi, dengan semakin banyaknya iklim enterpreneurship yang memanfaatkan komunitas, sudah saatnya ia menjadi sebuah studi yang komprehensif.

Apa Maksud “Digital Creativity”?

Apa Maksud “Digital Creativity”?

Seorang rekan bertanya tentang arti slogan INAICTA 2011:

Leverage Digital Creativity for National Economic Growth

Sebuah pertanyaan yang benar-benar mengena dalam hati saya. Sebagai seorang yang pernah ikut dalam tim INAICTA/APICTA 2007, saya pun berpikir dan menjawab:

“The next thing after Koprol”. Sesuatu yang beda, bisa dijual, dan orang nangkep konsepnya.

Ya, iyalah, kriteria pertama dari sebuah produksi industri kreatif adalah sesuatu yang berbeda. Sebuah produk yang dimiliki hanya oleh sang produsen, unik. Tidak melulu berkualitas tinggi. Tetapi, ada daya tarik yang berbeda dengan orang lain. Daya tarik itu bukan melulu tentang produk tersebut.

Aneh memang, tetapi sebuah produk yang bisa dijual bukan berarti produk tersebut adalah produk yang dewasa. Produk tersebut memiliki sesuatu yang bisa memiliki daya tarik. Misalnya, walau pun produk Cina tidak begitu berkualitas, tetapi harganya yang murah dan dapat dengan mudah dikustomisasi membuat banyak penjual dari negara lain membelinya. Produk Jerman terkenal dengan kualitasnya sehingga walau pun harga mahal, ada saja yang membelinya. Produk FOSS dikerjakan oleh kontributor di waktu senggang, tetapi komunitas yang kuat membuat banyak orang dan organisasi yang mendukung. Produk Apple banyak yang membeli walau pun mahal karena mereka menempatkan barang-barang mereka sebagai barang premium.

Yah, kira-kira Anda mengertilah….

Produk yang berbeda ini harus bisa dijual. Tampaknya INAICTA/APICTA ini adalah ajang temu antara tim dengan investor. Saya pikir jika Anda seorang enterpreuner bermodalkan ide kreatif, INAICTA/APICTA bisa menjadi ajang untuk Anda bisa menjual produk Anda. Asalkan Anda punya ide yang dapat dikomunikasikan kepada investor dalam bentuk ROI, tak jawara pun tak mengapa. Yang penting ada investor yang tertarik produk Anda.

Hal yang menarik, di APICTA Anda bahkan bisa menyewa seorang presenter untuk menjual produk Anda! Entah sekarang, tetapi sewaktu 2007 kemarin, sih, begitu katanya. Itu makanya, berbeda dengan presentasi kuliah, di sana Anda tidak perlu bergiliran untuk mempresentasikan produk Anda. Anda hanya perlu meyakinkan juri, investor, atau setidaknya diri Anda bahwa ide Anda berharga.

Hal yang paling aneh dari industri kreatif adalah justru familiaritas orang-orang dalam penggunaannya. Semakin aneh produk Anda, tetapi bila ada jembatan keledainya, orang akan tertarik menggunakannya. Makanya, usahakan banyak use case yang bisa dikomunikasikan kepada orang.

Sebenarnya dari penelitian saya, saya menemukan bahwa Google Wave memiliki konsep yang benar mengenai komunikasi. Ia mengumpulkan apa pun yang bisa dianggap sebagai kanal komunikasi. Hal tersebut bisa saja dokumen yang disunting bersama, sebuah korespondensi surel, sebuah percakapan, dan lain sebagainya. Hanya saja, ia terlalu maju untuk waktunya. Ia membutuhkan sumber daya yang belum mencukupi saat itu. Dan, tidak seorang pun mengerti konsep Wave. Saya pun tampaknya tidak. 🙂

Dahulu, ketika mempresentasikan di depan juri, saya menemukan bahwa bingkai kerja SmartInfrastructure UI yang kami kerjakan tidaklah familiar. Kami kesulitan menjelaskan konsep. Bahkan, ada satu juri yang dari negara lain yang bertanya tentang keamanan kartu pintar, sesuatu yang merupakan fitur dasar dari kartu pintar. Saya sadar, tidak semua orang punya latar belakang yang sama dengan yang kita punya. Berbeda dengan presentasi tugas akhir yang berusaha membuat dosen terkesan dengan banyak jargon, presentasi produk harus punya jargon yang membumi.

Kata-kata seperti enkripsi, dekripsi, Master Key, dan kata-kata ajaib dari dunia CIS (Cryptography and Information Security), sebaiknya dijabarkan dengan bahasa: mampu melindungi dari penipuan. Ketika ditanya tentang detailnya, tetap saja gunakan jargon membumi dan menghindari jargon-jargon aneh. Bahkan, tidak perlu orang tahu tentang APDU. Yah, namanya juga orang dari dunia bicara lewat kode, khilaf kami!

Hal ini cukup memicu saya untuk belajar mengkomunikasikan sesuatu dengan bahasa yang dipahami oleh orang lain.

Ah, saya berbicara seakan-akan sudah empu. Saya juga masih banyak belajar. Pengalaman saya ini mungkin banyak kekurangan, tetapi saya mau belajar untuk membagikannya. Mungkin Anda juga dapat membagikan sesuatu. Seperti slogan web Iang zaman dulu, “ilmu itu, ya, untuk dibagi”.

Berita Terbaru dan Komentar Saya

Berita Terbaru dan Komentar Saya

Ubuntu 11.04 telah diluncurkan. Kalau saya boleh bilang, Ubuntu kali ini adalah sebuah produk pertama hasil inovasi Canonical dengan komunitas Ubuntu. Salah satu inovasinya adalah penggunaan Unity sebagai Desktop Manager. Unity adalah sebuah produk Ubuntu untuk menghasilkan antarmuka yang intuitif dan bagian dari Project Ayatana, sebuah proyek riset antarmuka komunitas Ubuntu yang dipimpin oleh Canonical.

Alm. Paus Yohanes Paulus II diberkati (beatified) pada tanggal 1 Maret. Proses pemberkatan ini memberikan peluang bagi Beliau untuk dapat dicalonkan menjadi santo. Saat ini orang banyak mengenalnya dengan aib anak buahnya yang terlibat pelecehan seksual sehingga banyak orang liberal yang menentang hal tersebut. Tetapi, menurut saya pribadi, Beliau termasuk seorang tokoh pemersatu dan telah berjuang untuk kedamaian selama puluhan tahun hidupnya. Saya ingat, Beliau pernah mengunjungi Indonesia. Oh, ya, tahukah Anda bahwa di bawah Beliau, Vatikan membela rakyat Palestina. Jadi, menurut saya, Beliau memang layak disebut sebagai tokoh pendamai. Omong-omong, saya bukan seorang Katolik, jadi saya tidak tahu istilah beatification itu apa dalam Bahasa Indonesia.

Osama Bin Laden telah meninggal dalam sebuah operasi penyerbuan oleh tim Navy SEAL Amerika. Hal yang menarik adalah hal ini membuat Partai Republik bungkam. Dari banyak hal yang saya lihat, selama ini Partai Republik sering kali menjatuhkan citra Obama. Dengan adanya berita ini, banyak orang Amerika (setidak dari blog-blog yang saya baca) bertanya apakah Presiden AS bisa mengakhiri perang Irak dan memanggil pulang tentaranya. Asal Anda tahu, tidak semua warga AS setuju perang Irak. Tetapi, presiden terdahulu (Bush) membuat Patriot Act untuk membungkam suara-suara “sumbang”.

Majalah TEMPO menulis tentang makam seorang pahlawan yang dibongkar. Sejujurnya, ini mengangkat nilai sentimentil saya. Apakah sedemikian buruknya kita menghargai pahlawan kita? Walau pun mereka tak sempurna, tidakkah kita bisa menghargai jasa yang besar? Bukankah kita selalu bilang, “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya”? Saya tidak tahu sejarah beliau, tetapi saya prihatin. Semoga ini bisa diselesaikan dengan baik.

Yak, sekian dari berita terbaru saya.

UI dan HAKI

UI dan HAKI

HAKI Logo UI

HAKI Logo UI

Saya mendapati spanduk di situs UI yang tak mengarah ke mana-mana. Saya cari di Google dan membuat tautannya ke arah yang benar, setidaknya di blog ini, yakni menuju SIYANKI UI (Sistem Informasi Pelayanan Hak Kekayaan Intelektual Universitas Indonesia). Di dalam sistem informasi tersebut, ada tautan yang berisi dokumen HAKI tentang logo Makara UI. Isinya berisi pemindaian sertifikat-sertifikat HAKI.

Sistem ini menggunakan spanduk utama berupa gambar penuh. Padahal, seharusnya logo dan nama sistem berupa tulisan dengan format Heading (H1 atau H2). Jadinya saya tidak bisa menyalin tapi terpaksa mengetik. Ini bertentangan dengan ide web semantik. Tetapi, di Google ia urutan pertama ketika kita mencari “HAKI UI”. Namun, tak tampak ketika mengetik “logo UI”. Wajarlah, mengingat lawannya adalah situs-situs lain yang sudah bertahun-tahun bercokol.

Ah, saya benci per-SEO-an dan lagi pula, sistem ini sangat bagus. Halaman pertama dari SIYANKI UI menjelaskan tentang posisi legal MAKARA UI. Sangat menjelaskan dan tepat. Situs ini bisa jadi referensi ketika kita mau berbicara tentang kepastian hukum penggunaan MAKARA UI. Kudos kepada pengembang.

Yang pasti, HAKI adalah barang baru di Indonesia. Pertama kali yang saya tahu adalah UU tahun 2001, tahun HAKI pertama kali disosialisasikan untuk digunakan. Saya tidak tahu apakah sebelumnya ada UU HAKI, karena itu saya tetap menyimpan MP3 pra 2001. UU ini tidak berlaku surut, ‘kan?

Nah, berbicara soal HAKI, apakah yang dimaksud dengan HAKI? Apakah perangkat lunak/algoritma termasuk yang bisa di-HAKI-kan? Nah, itu saya pikir butuh orang hukum yang membahasnya.

Hal yang menarik dari soal HAKI adalah sejauh mana penggunaan logo seperti UI yang dapat digunakan? Istilahnya, sekarang banyak taksi yang mirip dengan taksi Blue Bird. Apakah logo dan biru Blue Bird juga sudah dipatenkan? Ataukah jangan-jangan tidak sama sekali.

Nah, apakah logo makara UI dengan bentuk yang lain (merah biru untuk Fasilkom, perak untuk ekonomi, dan lainnya) juga dilindungi oleh sertifikat ini? Saya melihat hanya logo kuning saja yang dilindungi merek tersebut.

Lalu, apakah nama Universitas Indonesia itu sendiri dipatenkan? Sejauh mana penggunaan nama UI itu diperbolehkan?

Nah, itu baru masalah di pucuk permukaan gunung es. Ada masalah lain seperti apakah negara ini menggunakan fair use clause? Apakah implementasi yang telah ada yang bukan dari organisasi Universitas Indonesia boleh dilanjutkan?

Lalu, jika terjadi penindakan, bagaimanakah sikap UI? Apakah represif? Apakah karya seni pun dilabrak? Ataukah ada strategi humanistik yang dimiliki UI untuk mengatasi pelanggaran HAKI?

Ini sebenarnya sebuah isu yang sedang dihadapi di luar negeri sana. Sekarang korporasi sedang bingung bagaimana mengomersialisasikan perangkat lunak bebas dan terbuka (FOSS). Nokia dulu kena getahnya di tahun 2008 dan kini Oracle.

Lalu, ada juga kisah troll paten. Sebuah sebutan untuk perusahaan yang hanya mengumpulkan paten sebagai portfolionya tapi tidak pernah benar-benar mengimplementasikannya. Bila ada perusahaan lain yang hendak mengimplementasikan sebuah inovasi yang didalamnya terkandung mekanisme yang ada di paten tersebut, maka perusahaan tersebut akan dituntut.

Itu yang membunuh Amerika Serikat dan membuat Cina maju. Troll paten hanya terdengar di Amerika Serikat dan Cina tidak begitu menghargai patennya. Sehingga, di Cina orang bebas meniru apa saja dan mengekspornya ke luar negeri. Mereka cukup lama dalam menerapkan

Ah, melihat UI telah menggunakan HAKI, berarti sudah memberikan kontribusi kepada Indonesia dalam penegakan HAKI. Pertanyaannya,  apakah Indonesia akan menjalani proses yang sama seperti Amerika Serikat dalam hal kemandekan penciptaan?

Hal yang dapat terjawab lima belas sampai dua puluh tahun mendatang…. 😛

Cara Mencari Paper/Jurnal Ilmiah

Cara Mencari Paper/Jurnal Ilmiah

Bagi yang tidak tahu bagaimana cara mencari jurnal ilmiah, Anda bisa mencarinya menggunakan Google. Misalnya, Storage Area Network, maka ketik di Google “Storage Area Network paper”. Dan urutan pertama pencarian yang saya dapatkan adalah whitepaper (dokumen teknis) yang berjudul “Storage Area Network Architectures. Technology White Paper”.

Untuk dapat mengutip dokumen ilmiah, saya biasanya mencari di CiteseerX. Tinggal cari dan ketik “Storage Area Network” maka akan diketemukan dokumen ilmiah yang relevan. Dalam contoh ini, dapat diketemukan bahwa dokumen ilmiah yang terbaru terbit tahun 2002 dan dokumen yang teratas tahun 2000. Hal ini menandakan bahwa teknologi ini sudah lama dan kemungkinan sudah cukup stabil.

Itu sebabnya, sekarang ini saya lebih suka berlangganan kepada situs-situs teknologi dan berlangganan planet-planet teknologi. Saya hanya berlangganan di dunia FOSS. Bukannya saya pilih kasih, planet teknologi yang ada di FOSS itu lebih personal dan terbuka dalam membahas jeroan teknologi yang sedang berkembang. Bahkan, ide-ide yang belum muncul tetapi potensial didapatkan di sana.

Untuk situs-situs berbayar seperti IEEE, selain memanfaatkan fasilitas kampus, silakan colek-colek kolega yang ada di universitas luar Indonesia. Mereka biasanya punya akses tak terbatas kepada jurnal-jurnal tersebut. Tetapi, terkadang kalau kita tahu surel orang yang menulis paper tersebut, kita bisa menulis kepada mereka. Biasanya mereka merespon dengan baik dan mau memberikan masukan tentang topik yang hendak kita cari. Hanya saja, jangan terlalu berharap, karena bisa jadi mereka sedang sibuk atau sudah emeritus. Ha… ha… ha….

Punya Kita Sendiri

Nah, ini saya belum pernah coba. Tapi, saya iseng-iseng mencoba mencari referensi jurnal nasional. Lalu, saya menemukan Jurnal Makara, Repositori UI, dan perpustakaan UI sendiri. Untuk Jurnal Makara dan Repositori UI sepertinya tidak tertatar. Perpustakaan UI membutuhkan akses fisik ke perpustakaan UI. Tetapi, setidaknya kita bisa cek dulu sebelum datang.

Satu lagi usaha dari INHERENT Dikti adalah membuat Garuda. Tampilan seperti Bing, gambar latarnya berat. Tetapi, hasil pencarian yang digunakannya sangat cepat. Dia sepertinya menggunakan Lucene sebagai indexer engine.

Bagaimana cara Anda mencari bahan?

Crowdsourcing Economy

Crowdsourcing Economy

Video Yochai Benkler ini menjelaskan tentang sebuah ekonomi baru: crowdsourcing. Intinya, sebuah masalah besar, sebuah pasar besar, atau apa pun yang tidak mungkin dilakukan sendiri, tetapi bisa dilakukan bila diserahkan kepada publik. Dan semua yang besar itu merupakan masalah pada abad sekarang ini.

Contohnya, tahun 2002 Jepang membuat sebuah komputer super EarthSim. Beberapa tahun kemudian, Blue Gene dibuat dengan performa sedikit di atas EarthSim. Tetapi, komputer super sejati yang digunakan oleh NASA adalah SETI@HOME. Sebuah proyek yang memungkinkan orang menyumbangkan sebagian siklus prosesornya saat sedang menjalankan screensaver untuk melakukan perhitungan. Jutaan komputer di seluruh dunia yang berpartisipasi secara sukarela memberikan kekuatan komputasi jauh di atas kedua komputer super tersebut.

Contoh yang lainnya adalah informasi tentang Barbie. Anda takkan mendapatkan informasi yang lengkap dari ensiklopedia Britannica. Tetapi, ketika Anda membuka Wikipedia, Anda akan mendapatkan informasi yang lengkap. Tidak ada ensiklopedi yang dapat mengalahkan kelengkapan informasi Wikipedia.

Dan contoh lainnya seperti Apache Web Server, Google vs. Yahoo! index, dan lain sebagainya. Perangkat lunak bebas dan terbuka (Free and Open Source Software/FOSS) membuka cakrawala berpikir bagi teknologi informasi. Ia membuat industri informasi tidak lagi dikuasai oleh sebuah entitas, melainkan diserahkan kepada masyarakat (general public). Dan, hasilnya teknologi-teknologi yang tak terpikirkan.

Hanya saja, saya ingin ketika orang berpikir mengenai FOSS, orang tidak berpikir berbicara tentang gratis. FOSS berbicara tentang ekonomi sosial. Bukan komunisme yang tidak menghargai hak perseorangan atau pun kapitalisme yang telah gagal menjawab permasalahan dunia. Tetapi, sebuah sosialisme yang dilandasi dengan pemenuhan kebutuhan bersama sekaligus menghargai hak-hak individu.

Seperti yang saya bahas dalam visi saya mengenai FOSS, FOSS adalah sebuah perubahan paradigma berpikir. Seperti yang diujarkan dalam video di atas, ekonomi berbasiskan kontribusi orang banyak ini, crowdsourcing, menjadi momok bagi sistem ekonomi saat ini. Hal ini wajar terjadi karena terjadi perbedaan pemikiran era industrialisasi yang berbicara mengenai kapitalisme dengan era kebebasan informasi yang saya pikir merupakan sebuah sosialisme yang tertuang ulang dalam ide FOSS.

Untuk membangun sebuah infrastruktur pada masa industrialisasi, seseorang/badan (entitas) mesti memiliki dana besar. Untuk dapat menutupi investasi yang besar, dibutuhkan pasar yang besar. Untuk itu, entitas ekonomi tersebut secara natural akan melakukan apa pun untuk melindungi kepentingan pemodal. Hal ini perlu dilakukan agar mereka dapat bertahan hidup.

Itu sebabnya, lobi-lobi di badan hukum agar menggolkan Undang-Undang lazim terjadi, setidaknya di Amerika. Ini yang membuat korporasi berkuasa. Karena kapitalisme menilai dari uang yang masuk, faktor kemanusiaan semakin dihilangkan. Maka, dengan mudah sebuah korporasi memindahkan unit bisnisnya ke luar negeri untuk memiliki tenaga kerja yang lebih baik (baca: murah).

Apakah mereka salah? Tentu tidak, seperti yang saya katakan, industri butuh kapital untuk bisa hidup. Motivasi ini yang membuat mereka harus bertahan. Setidaknya, itu yang terjadi dengan industri sepatu Indonesia. Nike, Neckerman, dan industri sepatu luar negeri memindahkan pabrik mereka ke negara-negara yang lebih baik dari Indonesia, dalam artian kepastian hukum, tenaga kerja yang murah, dan situasi yang kondusif.

Secara ekonomi mereka menang, tetapi secara kemanusiaan telah gagal. Bukankah sistem ekonomi dibangun untuk menyejahterakan seluruh umat manusia? Bukankah teori-teori ekonomi tersebut dilakukan untuk mengatasi masalah kemiskinan? Bukankah kekuatan hukum seharusnya dibuat untuk membuat warga negara dapat hidup damai?

Lalu, mengapa pengangguran kian bertambah? Mengapa angka kejahatan semakin bertambah? Mengapa seluruh rakyat harus menanggung hutang konglomerat?

Tanpa menyalahkan siapa pun, saya pikir sudah saatnya pola pikir industrialisme diubah ulang. Sudah saatnya kita mulai berpikir ulang mengenai sistem ekonomi kita. Tidakkah dunia telah gagal mempertahankan kapitalisme yang ternodai dengan korupsi dan ketamakan?

FOSS bukan berbicara mengenai perangkat lunak yang dapat didapatkan secara gratis. FOSS berbicara tentang ide yang di dalamnya kita dapat berbagi atau pun memberikan dengan menerima bayaran tanpa mengurangi hak orang tersebut untuk dapat menggunakan, memodifikasi, mau pun menjual kembali apa yang dia sudah punya. Pemenuhan kebutuhan bukan berdasarkan uang, melainkan kepentingan.

Berikut merupakan salah satu praktik dari FOSS:

Video ini menceritakan kisah hidup Marcin Jakubowski. Ia hanyalah seorang doktoral (Ph.D.) yang memutuskan untuk bertani. Awalnya, ia membeli sebuah traktor. Traktor itu rusak dan ia membayar untuk mereparasinya. Lalu, traktor itu rusak lagi dan dia tidak mampu untuk kedua kalinya.

Ia lalu memutuskan untuk membuat sebuah traktor sendiri. Kemudian, ia mempublikasikan rancang bangun traktornya ke dalam sebuah wiki. Ia juga memvideokan cara-cara pembuatan traktor. Ia juga menyertakan alat-alat yang dibutuhkan dan harga per komponen. Hasilnya, orang-orang dari seluruh dunia mulai mempraktikkan dan mengkontribusikan kembali hasil pekerjaan mereka. Saat ia berbicara, sudah ada 8 prototipe traktor yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Dan proyek ini bisa berkelanjutan karena sudah ada lebih dari 200 donor.

Crowdsource Indonesia

Apa yang bisa kita bawa ke Indonesia?

Untungnya, ide ini telah terlebih dahulu terkooptasi oleh para Bapak dan Ibu pendahulu kita. Semangat ini jelas tercipta di dalam UUD 1945 terutama dalam pasal 33: [1]

  1. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
  2. Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
  3. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Seperti yang dikatakan oleh Yochai Benkler, sudah seharusnya orang tidak lagi menciptakan perkakas jadi untuk sebuah tujuan tertentu (well-manufactured appliance). Akan tetapi, sudah saatnya kita menciptakan sebuah produk yang menjadi sebuah perkakas terbuka. Bukan menciptakan sebuah solusi saja, tetapi menciptakan sebuah landasan (platform) yang di dalamnya ide-ide yang sebelumnya tidak terpikirkan dapat diwujudkan.

Bebaskan Infrastruktur

Sudah saatnya pemerintah tidak lagi berpikir bahwa dia adalah titik pivot. Pemerintah seharusnya berpikir untuk membangun sesuatu dan biarkan masyarakat umum berpendapat untuk apa itu. Selama ini, menurut saya, pemerintah terbebani sebagai pengambil keputusan dalam menentukan segala hal. Padahal, deregulasi yang didengungkan semenjak era 90an berkata sebaliknya. Dalam hal ini, pemerintah cukup sebagai penyedia (enabler) untuk inovasi.

Terkadang, bila dirasa perlu dan dengan pengawasan, pemerintah perlu juga berperan sebagai regulator untuk memastikan semua dapat terencana. Kalau mengaitkan dengan UUD 1945, artinya untuk infrastruktur atau pun hal-hal yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.

Kalau dari pengertian tersebut, bukankah seharusnya infrastruktur dasar seharusnya dikuasai oleh negara?

Infrastruktur ATM yang digunakan oleh seluruh perbankan untuk menyalurkan hidupnya kepada masyarakat, bukankah seharusnya dikuasai negara? Bukankah moda transportasi darat yang digunakan orang banyak seharusnya dikuasai oleh negara? Bukankah seharusnya jaringan serat optik yang menghubungkan jejaring lokal se-Indonesia seharusnya dikuasai oleh negara?

Dikuasai bukan berarti dimiliki, tetapi dikelola dan apabila dianggap perlu dapat mengintervensi. Negara dalam pembelajaran saya dulu sewaktu zaman PMP/PPKn (entah apa sekarang istilahnya) disebut sebagai Pemerintah dan Rakyat. Artinya, seharusnya ada mekanisme sosial yang di dalamnya rakyat dapat memberikan kontribusi. Kontribusi bukan hanya kritik mau pun saran, tetapi juga bisa berupa modal dan pengawasan.

Jadi,

Malaysia bisa menghasilkan infrastruktur murah pada jaringan perbankan. Maka Indonesia, mohon telanlah kepentingan pribadi masing-masing bank dan lihat pembangunan seluruh Indonesia. Indonesia dengan keadaan geografis seperti ini membutuhkan biaya mahal bila dikerjakan sendiri. Infrastruktur bank yang menjangkau pelosok dapat mengalahkan praktik ijon yang mendera masyarakat desa.

Moda transportasi darat yang dikuasai oleh negara menjamin setiap orang untuk dapat melakukan peran dalam berkontribusi baik dalam hal kritik, saran, mau pun modal yang bisa diaudit dan dipertanggungjawabkan. [Bah! katanya minyak diturunkan tiga kali, tapi, kok, ongkos nggak turun-turun?]

Saya prihatin dengan regulasi sekarang yang harus membuat pihak-pihak yang hendak berinvestasi dalam pembangunan serat optik untuk membayar pelbagai macam pajak. Seharusnya, mereka yang bersedia menginvestasikan serat optik diberi insentif dan kemudahan. Dengan kemudian mereka juga berkontribusi kepada masyarakat, antara lain menyediakan jaringan komunal.

Selain membebaskan frekuensi tertentu untuk hubungan radio, seharusnya pemerintah membangun konsorsium penyedia layanan untuk membangun infrastruktur. Bukankah cara ini yang dipakai dalam Busway? Bahkan lebih lagi, mengapa tidak dibebaskan saja orang-orang yang hendak membuat infrastrukturnya sendiri, alih-alih ditangkap dan dipenjarakan?

Intinya, tidak perlu lagi jaringan kabel optik dari satu penyedia layanan terpacul oleh penyedia layanan saingan. Karena, infrastruktur disediakan oleh konsorsium dan pemerintah sebagai wasitnya. Kalau memang mau memakai mekanisme pasar, biarkan pasar bekerja dan kreativitas bagi kepentingan bersama terjadi.

Saya termasuk orang yang kurang beruntung dalam layanan Internet. Saya seorang yang punya pengetahuan untuk membangun infrastruktur. Tetapi, kisah RT/RW Net membuat saya berpikir ulang untuk membuat WIFI. Padahal, daripada saya menunggu investasi FirstMedia yang cuma sampai kompleks sebelah, sebenarnya saya punya kemampuan untuk membuat router bebas yang bisa terhubung dari satu kompleks ke kompleks lainnya.

Implikasinya, tentu untuk jangka pendek saya bisa bermain game daring dengan tetangga dari kompleks sebelah, mempererat silaturahmi dengan tetangga sebelah. Untuk jangka panjang, sebuah komunitas Internet yang terjangkau dapat menyediakan layanan antar tetangga, jualan daring yang dapat menjangkau lebih banyak pelanggan, bahkan media distribusi Buku Sekolah Elektronik. Saya pun dapat menyebutkan banyak teknologi komputasi pervasif yang dapat dilakukan, namun sekarang mustahil.

Hal yang lain adalah dengan mengimplementasikan Wajanbolik untuk desa-desa tertinggal seharusnya dapat dikerjakan tanpa harus dituntut karena menggunakan frekuensi tanpa izin. Seharusnya, pemerintah cukup mengatur agar permainan dilakukan secara adil dan tertata rapi. Bukan menghambat inovasi.

Bahaya Yang Mengancam

Sebagai masyarakat global, kita tidak boleh lepas tanggung jawab dari masalah dunia. Saat ini, semakin berkurangnya sumber daya alam dan ketimpangan pertumbuhan yang melahirkan radikalisme (terorisme), malnutrisi, dan korupsi. Dan tren ini semakin meningkat. Saya kuatir, dengan degradasi sistematis seperti sekarang ini, dunia akan mengalami kebangkrutan total. Padahal, ada cukup sumber daya alam bagi kita.

Mungkin saya mau pun Anda tidak dapat memikirkannya. Bagaimana dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi segenap rakyat Indonesia dan mencerdaskan Indonesia. Akan tetapi, mungkin ada dari jutaan penduduk Indonesia yang bila diberi kesempatan dapat menjawab.

Percayalah, akan lebih baik bila tidak sendirian berpikir mengenai Indonesia. Ide-ide yang tak terpikirkan sebelumnya dapat lahir dan kesejahteraan kita dapat meningkat. Sehingga, alih-alih kita mencari pekerjaan, kita dapat membuat sendiri pekerjaan secara legal. Dan apabila perusahaan-perusahaan asing itu hendak pergi, kita tidak perlu menjilat sepatu mereka supaya tinggal.

Apa Yang Bisa Saya Lakukan

Apabila Anda seorang guru sejarah atau PMP/PPKn (saya tidak tahu namanya sekarang), mohon jangan nilai tugas siswa Anda dengan penggaris. Biarkan mereka mengeksplorasi ide-ide Bapak dan Ibu pendiri negara ini. Hal ini agar mereka tidak seperti kita yang telah kehilangan semangat sosialisme. Mungkin, pada generasi mereka, mereka mengerti ide sosialisme yang benar.

Apabila Anda seorang PNS yang baru masuk, ingatlah ini dan mohon terus bertahan sampai Anda sampai di suatu titik ketika Anda punya kuasa mengambil keputusan, perbaikilah hukum.

Mari kita publikasikan ide-ide penelitian yang dapat dimanfaatkan oleh orang lain. Memang sulit. Tetapi, daripada berdebu di perpustakaan atau pun tercuri dalam karya tulis lainnya, bukankah lebih baik dipublikasikan dan dimanfaatkan bersama?

Hanya itu yang terpikirkan oleh saya, tetapi saya percaya bahwa Anda memiliki potensi untuk berpikir lebih baik dari saya.

Mari kita crowdsourcing membangun Indonesia, karena mebangun masyarakat mahdani bukan tugas individu.

Saya hanya mempublikasikan ide saya ini. Bila tidak layak, anggap saja tulisan ini sebagai obrolan di warung kopi. Silakan tampilkan ide Anda.


  1. http://indonesia.ahrchk.net/news/mainfile.php/Constitution/22/ ^
Debunking Myth: Lives of UI Admin

Debunking Myth: Lives of UI Admin

Preface

Every now and then mere mortals tend to think we are some old guys with irresponsible attitude. They would think that we are the one that doing day to day job. They would felt a giant walls when trying to communicate.

We are even depicted as evil grand immortals that grinding from darkness, as one of Blizzard personnel said out of fear:[1]

How could you kill a man without no life?

With the instilled fear, we are often subjected to fear. It took courtesy to be human-like from us. People used to think we are demi-gods. Through this article I would assess every myth that made us looks like a feared, untouched being.

We are working as we sleep

Admin working as we dreaming

Admin works as we dreaming

Imagine if we took down some proxies and upgrade them in, let’s say,  12 o’clock. You, facebookers, would spit us in the face. I imagine if we took down a machine or two where mortals awaken. They would scream and begged, “O, great admins, thou presence is thy grace. Out of angst instill our hope in thy.”

We took time in the night to have jobs done. That’s why you would often have a mislead into thinking that we don’t rest. That we don’t have a dream. That we are engulfed with our world and severe our mortal bodies. Often we are thought as beings that works at daylight and a nocturnal also. Some said that we are “manusia siang-malam”.

That fear also happens when mere mortals often mail us at two o’clock in the morning and hope for their response. They get what they want. And that’s frightening for some, because they would in awe of the awesomeness of our response. In that fear, they would say that we are not a normal being because we don’t sleep.

That’s a false. We too have a place to sleep. We too took our time to close our eyes. To have dreams and enjoy ourselves in it.

We also try to blend in social beings

We do socialize

We do socialize

We also take pride in blend in. Like Dexter father used to say in Session 1, “Dexter, you’ve got to blend in.” We too blend in in the society. We are a group of diverse people, with multi cultural and gender. We don’t discriminate though the fact that we are über being born with great power.

There are times when mortals would seek audience with us and take our name as “Pak”, “Mas”, or any specific label toward men. Though we are one, there are many in us. We took form also in women. So, addressing gender specific to us is a prejudice you, mere mortals, tend to do.

You see, we too take our time hanging around in coffee shop. Took time to know mere beings and seeing their frailty. We also helped through the hands of Faculty admins. We spoke each other casually like other beings.

We too have affection

Affection

Admin criterion

We too have affection towards other. Like mere mortals, we have criterion for our mates. We too don’t want bad apple. Could you spend the rest of your life with someone who totally incompatible?

No, just like you, mere mortals, we take decision carefully. We have our enjoyment of having the right person. Our time is unlimited, as we are deemed to have no lives; how could you be dead if no lives in you?

We have our ideal person

We too have love

We too have love

That’s why we too have our type of someone we like. Like a saying, “there is a fetish for every part of body,” we have many ideal person as our companion. We don’t discriminate, as long as the person reliable and scalable, we don’t see any preference.

I guess because of the experience from long ago that some of us may want to have a specific person. But, that’s personal as we are one, we are also diverse.

Conclusion

We have loves, we have criterion, we are tolerable, and we too have time to sleep. Thus, we, Admin UI, are normal.

Q.E.D.

 


  1. SouthPark, eps. 1008. Make Love, Not Warcraft. 2006. ^
Aku Padamu

Aku Padamu

Konon, iPhone dahulu terinspirasi oleh SonyEricsson W950. Konon lagi, Steve Job terinspirasi dari Sony mengenai pola model bisnis Apple sekarang. Diktat dari pusat dengan kode sumber tertutup bagi umum. Semua, termasuk pembakuan, harus sesuai Apple.

Untungnya, sebuah entri blog oleh SonyEricsson memberikan bukti bahwa SE sudah insyaf. SE memberikan pilihan bagi para pengguna lanjut untuk dapat mengustomisasi teleponnya. Mereka memperbolehkan pengguna membuka kunci (unlock/rooting) bootloader sehingga racikan lain dapat berjalan. Bahkan, mereka akan menyediakan sebuah web service bagi para pengguna lanjut tersebut untuk memulihkan konfigurasi telepon mereka.

Memang, karena ini bagi pengguna lanjut, garansi menjadi tidak berlaku bila kustomisasi dilakukan. Tetapi, setidaknya ini membuka peluang bagi para pemodifikasi untuk secara sah melakukan modifikasi pada perangkat SE. Selama ini yang lain hanya tutup mata terhadap hal tersebut dan SE yang pertama kali menyatakan mendukung perangkat produksinya untuk dapat dimodifikasi.

Omong-omong, fitur ini tidak berlaku untuk semua rilis Sony Xperia. Saya belum tahu versi apa yang bisa, tetapi sepertinya untuk produk-produk tahun 2011. Yang pasti, saya tertarik untuk membeli produk SE. Kebetulan, saya pengguna SE dari sejak SE Z600. Sekarang saya memakai W508i dan sering hang (SIM not detected). Sepertinya W508i tidak tahan banting (literally ;P) sehingga gampang rusak.

Bagi saya, yang fobia SMS, produk SE menawarkan bantalan enak untuk mengetik; berbeda dengan Nokia yang berdisain ringkih tetapi kurang nyaman untuk mengetik. Yah, preferensi berbeda bagi tiap orang. Yang pasti, dengan model pengembangan semakin terbuka, SE telah menambah satu poin positif bagi saya.

Hanya satu yang saya takutkan, proposal riset bisa mandek kalau tiap malam harus ngoprek-ngoprek….

Read More

Sebegitu Parahnyakah?

Sebegitu Parahnyakah?

Siswa: Soal Banyak, Dibaginya pun Acak! – Kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com – Para siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional (UN) pada April mendatang mengeluhkan aturan tentang lima paket soal pada UN 2011. Siswa mengeluh karena model lima paket soal ini akan menyulitkan mereka mencontek. Aturan baru UN 2011 akan mengatur lima paket soal pada satu mata pelajaran yang sama.

Kalau di Internet, siswa tersebut sedang melakukan troll bait, alias hanya bercanda dengan menimbulkan amarah bagi yang lain. Tetapi, alasannya gak banget! Apakah memang sekarang sudah terbiasa untuk mencontek?

Lalu untuk apakah mereka les sampai malam?

Ah, apakah ini memang benar-benar gambaran untuk sistem pendidikan sekarang?

~pleaseTellMeThisIsAnEarly1stAprilJoke… 🙁

Berita Menakutkan

Berita Menakutkan

Belum selesai dengan Internet Neutrality, ada lagi berita santer tak sedap. Comodo SSL Certificate telah diserang oleh pemerintah Iran dan berhasil dijebol. Sertifikat yang digunakan oleh Comodo SSL terpasang di peramban-peramban besar. Dengan ini, banyak situs besar yang terkena dampaknya. Menurut info, pemerintah Iran semenjak membuka polisi Cyber-nya, telah berusaha untuk menyadap banyak pihak untuk menjaga keamanan.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah Microsoft menghapus fitur HTTPS untuk banyak negara. Kendati demikian, Microsoft menampiknya dan bilang bahwa itu adalah sebuah galat. Mereka bilang, galat tersebut sedang ditelusuri penyebabnya.

Makanya, kalau ada BitTorrent, proyek Diaspora, dan bahkan FSF, bukan karena mereka kurang kerjaan atau berusaha jadi pahlawan kesiangan. Kebebasan berpendapat adalah harga mati.

tl;dr

tl;dr

Ada beberapa keberatan yang saya hendak ajukan kepada penggiat dunia maya sekarang, berhubungan terhadap aksesibilitas:

  1. Buat tema yang pas. Jangan membuat komentar menjadi mubazir.
  2. Hentikan konten sampah.
  3. Jangan berdebat kusir.

Buat Tema Yang Pas

Sering kali, dalam sebuah terbitan yang menarik melibatkan diskusi yang panjang. Nah, tema yang tidak memperhatikan segi komentar yang panjang sering kali membuat orang tidak membaca komentar orang lain. Memang, seharusnya sang komentator belajar untuk mengirim komentar singkat. Tapi, kalau labelnya sudah humaniora, filsafat, bahkan agama, mana mungkin penjelasan bisa pendek?

Sering kali kita pusing membaca komentar orang dalam sebuah entri karena terlihat panjang. Beberapa mesin tematik juga secara brutal memotong baris-baris kosong pada komentar yang menyebabkan komentar-komentar panjang jadi terpotong. Malas jadinya membaca sehingga komentar seperlunya dan sekenanya. Inilah salah satu asal-muasal perang suci di komentar (flamewars).

Mari perhatikan RFC 678. Ini adalah kebijakan masa lalu tentang tulisan digital. Lebar tulisan maksimal seharusnya 72 karakter dan tingginya 60 baris. Memang, semenjak zaman lebar pita berlimpah dan aspek monitor semakin dalam, kita mulai meninggalkan konvensi-konvensi ini. Tapi, kok, semakin lama tulisan panjang semakin sulit untuk dibaca.

Coba perhatikan jurnal-jurnal ilmiah semacam ACM dan IEEE Conference. Kebanyakan tata letak mereka menggunakan dua kolom. Hal ini agar tulisan lebih padat dan mudah dibaca. Aspek mudah dibaca ini yang membuat banyak orang, terutama para pemrogram, menentukan bahwa jarak ideal sebuah tulisan adalah 60 karakter.

Omong-omong, kalau Anda membuat CSS untuk formulir isian sehingga berwarna seperti tematik situs Anda, jangan lupa untuk memberi warna kontras terhadap huruf yang diberikan warna tulisan Anda. Tidak semua sistem operasi menggunakan warna putih sebagai warna tematiknya. Kalau tidak bisa, lebih baik tinggalkan warna isian formulir Anda sesuai dengan warna baku peramban masing-masing pengunjung Anda.

Hentikan Konten Sampah

Anda tidak akan kaya dengan menaruh iklan di Internet. Yang ada hanyalah Anda mengganggu orang-orang dalam mencari konten di Internet. Masalah SEO ini membuat pening kepala. Saya sering kali terganggu dalam mencari topik-topik penelitian, terutama ketika mencari tulisan-tulisan populer.

Saya sudah lama tidak lagi membaca buku. Jurnal-jurnal ilmiah jauh lebih tertatar. Lalu, ketika blog mulai dipakai untuk menulis hal-hal yang bisa jadi tren di masa mendatang, saya memilih untuk membaca blog.

Sebagai contoh, coba lihat bufferbloat. Ini isu terkini dan belum dibahas secara mendetail dalam jurnal mana pun. Baru sekedar wacana tak begitu lama dan baru satu bengkel kerja yang membahasnya. Artinya, ini bisa jadi topik baru yang bisa diteliti untuk menghasilkan barang produksi baru. Bayangkan seandainya yang nomor satu adalah tautan-tautan SEO. Bisa-bisa masalah sebenarnya menjadi kabur.

Hentikan Berdebat Kusir

Hal terakhir yang membuat pening adalah ketika banyak yang berdebat kusir. Hal ini paling banyak saya temui di dalam debat-debat keagamaan. Menurut saya, kebanyakan dari mereka hanyalah untuk memuaskan ego mereka. Untuk membuktikan kalau mereka benar dan orang lain salah. Sama sekali bukan buat Tuhan.

Tidak ada yang bertobat. Hanya menambah kebencian. Tidak ada garis kesimpulan. Sumpah serapah pun acap kali muncul.

Sebagai pengguna lama dalam Internet, perlu saya tegaskan satu hal:

Identitas di Internet bukanlah sumber yang dapat dipercaya.

Masih segar diingatan bahwa Wikipedia masih belum dapat dipercaya. Internet adalah sumber yang tidak dapat dipercaya. Tentu ini berkontradiksi dengan apa yang saya tulis pada poin sebelumnya, yakni saya menggunakan Internet sebagai sumber bahan pembelajaran.

Masalahnya, sering kali orang membaca tulisan dan menganggapnya sebagai kebenaran. Beberapa kaum fundamentalis bahkan menggunakan referensi tautan di Internet untuk menjustifikasikannya. Bahkan, tanpa dikonfirmasikan lebih lanjut, ada orang yang menganggap sebuah komentar di forum Internet sebagai sebuah kebenaran.

Saya teringat tulisan Budi Rahadjo di InfoLINUX beberapa waktu yang lalu. Orang bisa saja menyampah dalam Internet dan Internet akan merekamnya sebagai sebuah kebenaran. Bermodalkan beberapa lorong, orang bisa menjadi siapa saja. Facebook dan Twitter bahkan memudahkan penipuan jenis ini.

Orang bisa saja menulis apa pun di Internet. Tetapi, tanpa data akurat, Anda berhak (bahkan wajib) untuk ragu. Hentikan berdebat dengan orang/bot/troll bila masing-masing pihak berpijak pada tanah yang berbeda. Tidak akan adil. Tidak akan menyelesaikan masalah.

Nokia Menjual Lisensi Komersial Qt

Nokia Menjual Lisensi Komersial Qt

Nokia menjual lisensi komersialnya kepada Digia. Digia adalah sebuah perusahaan Finlandia yang bergerak di bidang solusi perangkat bergerak. Menurut koran Finlandia yang dikutip di dalam forum Phoronix, 19 pekerja Nokia Qt di Oslo dan Kalifornia dipindahkan ke Digia. Kesembilan belas pekerja tersebut bekerja di bagian komersialisasi Qt. Sisanya tetap di Nokia Qt.

Karena ini bukan blog berita, maka saya sampaikan opini saya.

Tindakan ini merupakan tindakan yang baik dari Nokia kepada dunia Qt dan perangkat lunak terbuka. Saat ini Nokia tengah berbenah. Mereka sudah kecolongan jauh akibat Android buatan Google dan iOS buatan Apple. Di tengah kekisruhan itu, Elop CEO Nokia memberikan solusi untuk menggandeng Windows Phone 7 buatan Microsoft. Sehingga, Meego dan Symbian dikesampingkan.

Tentunya, berbeda dengan perusahaan Amerika yang menghitung per kuartal, sebagai perusahaan Eropa Nokia menghitung efek jangka panjang dari Qt. Oleh sebab itu, perusahaan ini berusaha untuk mempertahankan Qt dan Meego. Tetapi, mereka semakin mengurangi beban yang dibutuhkan dan rasa ketidakpercayaan komunitas mereka kepada puncak kekuasaan. Jadi, saya masih berpikir bahwa setelah gagal dengan WP7 nanti, Nokia akan meluncurkan perangkat genggam berbasis Meego. Sampai saat itu tiba, mari berharap mereka tidak bangkrut.