Category Archives

226 Articles
Dari Tanah Kembali Ke Tanah

Dari Tanah Kembali Ke Tanah

Dennis Ritchie

Sebenarnya saya mendapat kabar dari sebuah pesan di Google Plus. Tapi karena ini masih simpang siur, saya menahan untuk memasang ini. Sayangnya, berita ini benar. ; ((

Saya tidak dapat berkata apa-apa selain dunia komputer benar-benar berhutang kepada Dennis A. Ritchie. Ia menulis bahasa C, ikut terlibat dalam pengembangan UNIX, dan menulis buku The C Programming Language (sampai ada aliasnya, K&R).

Dia adalah pahlawan untuk kita. Tanpa kontribusi dia, takkan ada Steve, Linus, Stallman, dan semua orang yang dapat kita sebutkan yang terlibat di dunia komputer.

Saya turut berduka cita. :((

TAMBAHAN:

Untuk kita yang mungkin tidak kenal dmr, ini tulisan dari maddog.

Saya lupa mencantumkan situs pribadi dmr.

Sejarah Ritchie dari Telegraph.

Apa Yang Terjadi

Apa Yang Terjadi

Seperti biasa, saya mau menulis tentang kejadian-kejadian di sekitar saya yang terpantau oleh saya. Berikut dengan komentar saya mengenai tugas kejadian tersebut.

Perangkat Keras Microsoft Windows 8 Certified Harus Menggunakan Kunci Perangkat Keras

Direncanakan bahwa setiap komputer (PC) yang hendak menggunakan sistem operasi Windows 8 harus menggunakan kunci perangkat keras. Kunci perangkat keras ini hendak dimasukkan oleh Microsoft ke dalam standar UEFI (Unified Extensible Firmware Interface). Hal ini menyebabkan perangkat keras yang berusaha memenuhi hal tersebut tidak dapat dipasang sistem operasi lain (GNU/Linux, BSD*, dan lain-lain). Hal ini karena mesin akan menolak setiap penggerak yang tidak ditandatangani oleh pemilik kunci. Menurut Microsoft, hal tersebut dilakukan oleh Microsoft untuk melindungi sistem operasinya dari serangan malware yang dapat menginjeksi kodenya sebelum sistem operasi dimuat.

Prinsip kerja penguncian tersebut menggunakan cara kerja PKI (Public Key Infrastructure). PKI adalah sebuah mekanisme penandatanganan yang melibatkan tiga kunci: kunci privat, kunci publik, dan kunci pihak ketiga (authority). Setiap tanda tangan yang dibuat oleh kunci privat hanya dapat diverifikasi oleh kunci publik. Fungsi dari pihak ketiga adalah untuk memverifikasi keduanya adalah kunci yang valid. Bagian ini diimplementasi di UEFI sebagai standar yang akan digunakan untuk memproteksi akses terhadap peralatan.

Standar UEFI merupakan perkembangan dari EFI. EFI merupakan solusi untuk menggantikan spesifikasi PC BIOS. Salah satu kekurangan dari PC BIOS adalah partisi yang didukungnya hanya 2TB saja. Selain itu, jumlah partisi yang dapat didukung lebih banyak. EFI sendiri sudah lebih dahulu digunakan oleh Apple di perangkat kerasnya. EFI tidak lagi menggunakan sistem partisi MBR, melainkan GPT. Standar UEFI ini sudah banyak diterapkan di server.

Kalau menurut saya, alasan Microsoft terlalu dibuat-buat. Mungkin, mereka hendak membuat DRM atau mereka memang takut terhadap sistem operasi GNU/Linux seperti Ubuntu dan Blankon. Kunci DRM sudah beredar di Internet dan keamanan komputer hanya ilusi sebab virus yang menginfeksi dewasa ini adalah skrip VB dan EXE bukan lagi COM. Bahkan, lebih tepatnya mereka bukan lagi virus. Seharusnya sudah disebut sebagai bakteri sebab ukurannya sudah sekitar 100KB (bandingkan dengan DieHard yang hanya 4KB, itu pun dianggap virus tergemuk).

Ah, seperti yang tertulis di dalam tautan awal, tidak perlu panik. Di beberapa kawasan seperti Eropa, langkah seperti ini dianggap sebagai monopoli. Tapi, saya cemas sebab negara-negara lemah seperti Indonesia rawan didiktatorkan. Ah, semoga ini hanya khayalan paranoid saya.

“Wartawan” versus SMAN 6

Saya kebetulan jarang membaca berita. Saya tahu hal ini blog seorang rekan tentang hak jawab SMAN 6. Kalau saya lihat sekilas di berita daring, kebanyakan memojokkan SMAN 6. Entah apa karena solidaritas jadi tidak berimbang. Saya sendiri tidak mengikuti pemberitaan dari awal sehingga saya tidak bisa memaparkan apa yang terjadi.

Tapi hal yang saya mau komentari pertama kali adalah situs SMUN 6 menggunakan Joomla! Ah, menurut pengalaman saya, situs-situs UI yang menggunakan Joomla adalah situs-situs yang paling sering di-crack (bukan hack!). Untuk dapat ditulisi oleh modul, saya mendapati bahwa banyak admin web Joomla yang memberi izin akses 777. ASTAGA! Anda tahu mengapa kalau “ls -al” berkas/direktori yang diberi hak akses 777 ditulis terang menusuk mata?

Itu artinya dia hendak bilang “Anda sudah gila?” 🙂

Menjalankan sebuah situs seharusnya memenuhi kaidah yang baik. Sebaiknya situs dijalankan dengan lingkungan tertutup (chroot/sanboxing).  Matikan fungsi-fungsi parameter global, eksekusi (exec, shell_exec, dan sebagainya), dan fungsi-fungsi PHP yang tak terpakai. Untuk lebih aman, gunakan FastCGI (php-fpm) untuk eksekusi berkas PHP dan blok akses terhadap yang lain pada server HTTP (NGINX, Apache, atau Lighttpd). Jika Anda menggunakan Debian atau Ubuntu, aktifkan repositori keamanan dan biasakan memperbaharui komponen sistem Anda. Pembaharuan dari sistem-sistem Debian relatif aman, kok, untuk kompabilitas.

Tentunya, menurut saya sistem PHP itu sendiri tidak aman. Kendati PHP 5.3 sudah mulai ketat, tetapi fungsi type safe tidak dijumpai pada versi-versi sebelumnya. Hal ini yang mengakibatkan string literal bisa diinjeksi oleh kode. Tentunya hal ini tak lepas dari cara pemrogram menulis kodenya dan kesalahan pada mesin PHP yang digunakan. Untuk lebih adil, saya cuma bilang, tak ada perangkat lunak yang tak memiliki celah. Menurut saya, cara teraman untuk web adalah membuat statik semua kontennya. Tentu, Anda akan kembali ke zaman purbakala. 🙂

Hal yang kedua adalah masalah domain. Sekali lagi, ini adalah pendapat pribadi tanpa mau menyerang siapa pun. Saya mohon maaf bila saya menyinggung orang.

SMAN 6 menggunakan domain “web.id”, bukan “sch.id”. Tidakkah ini sebuah ketidakkonsistenan? Dulu Universitas Indonesia menggunakan dengan bangga domain “ui.edu”. Tetapi, kemudian mungkin karena alasan nasionalisme, UI pindah ke domain “ui.ac.id”. Saya sendiri, sih, bangga dengan domain “ui.edu” adalah milik UI, bukan University of Illinois atau pun University of India. Bahkan, punya domain lebih dekat dengan domain EDU.

Saya juga senang juga, sih, menggunakan domain “ui.ac.id”. Boleh dibilang saya ini fanatik domain karena arti domain itu kebanggaan. Domain “.id” sendiri adalah kebanggaan dan punya cerita panjang. Saking bangganya, saya sampai saat ini belum mendaftarkan diri ke Kaskus sebelum ada domain id-nya. Habis, Kaskus mengaku komunitas Indonesia, tetapi domainnya masih punya Amerika. Ha… ha… ha…. :))

[Saya tahu latar belakang Kaskus berdomain itu dan maklum-maklum saja. Sebelum jadi arus utama, Kaskus harus berjibaku dengan memindahkan servernya bolak-balik antara Indonesia dan Amerika Serikat. Ehm… BB17 dan fight club masih ingat? :P]

Tentunya, kefanatikan domain ini mungkin sudah tidak relevan lagi. Semenjak ICANN mengobral TLD dengan gTLD-nya yang baru, banyak domain yang obral untuk bisa dapat pengguna. Banyak orang yang sudah mendaftarkan diri ke domain-domain negara lain. Bahkan, Indonesia mendaftarkan diri ke domain “.travel” untuk situs resmi pariwisatanya. Saya sepertinya sudah ketinggalan zaman.

Entahlah, saya mungkin perlu menyesuaikan diri. Hei, kawan-kawan, top posting sepertinya sudah lumrah….

Omong-omong soal domain, ada kelakar tentang sebuah bank. Bank di Amerika jatuh karena mortgage, tetapi bank di Indonesia jatuh karena belum bayar domain. Ha… ha… ha….

Selamat hari Jumat dan semoga Anda terhibur. Entri ini dibuat untuk mengimbangi entri-entri teknis. Abisnya blog ini dibilang terlalu berat, padahal cuman cuap-cuap ngasal.  Ha… ha… ha….

Internet dan Perubahan (Iklan Google Mantap!)

Internet dan Perubahan (Iklan Google Mantap!)

Terus terang, terakhir kali saya terharu adalah ketika menonton film Hachiko yang diperankan Richard Gere. Tetapi, iklan Google Chrome di Indonesia: “Google Chrome: Blood For Life” benar-benar menyentuh. Terharu, bergidik, dan akhirnya memutuskan untuk menjadi korban viral untuk mereka, ha… ha… ha….

Kita sering melihat perubahan di Mesir dan negara-negara Afrika Utara. Mungkin Internet bisa mengubah kita ke arah yang baik. Kita lihat saja siapa yang bisa meniup peluit pertama kali.

Etika, Kebebasan, dan Pembelajaran

Etika, Kebebasan, dan Pembelajaran

Situs utama kernel Linux, kernel.org, terkena serangan. Akibatnya, saat ini repositori utama tidak bisa diakses. Tapi, jangan panik dululah.

Untungnya Linux menggunakan DVCS (Distributed VCS) GIT. Dari sisi teknikal, setiap orang yang memiliki salinan GIT Linux bisa menjadi master yang baru. Berbeda dengan SVN atau CVS yang merupakan VCS lama yang tersentralisasi. Untung yang kedua lagi adalah setiap perubahan di dalam repositori memiliki tanda tangan digital. Hal ini memastikan bahwa perubahan pada struktur GIT yang ilegal akan dapat dideteksi dengan ketidaksamaan isi dengan tanda tangan digital (checksum).

Salah satu akibat yang serius adalah Google menutup server GIT Android untuk sementara waktu. Beruntung, banyak orang yang memiliki akun di GitHub dan tempat lainnya telah siap untuk menjadi master.

Saya rasa, pembobolan ini hanya sekedar memberikan efek kepada orang-orang awam bahwa bahkan GNU/Linux tidak aman. Tambah sedikit teori konspirasi dan bla… bla… bla…. Ah, keamanan server  bergantung kepada administratornya dan perangkat lunak dan penggunanya. Banyak sekali celah untuk masuk.

Hanya saja, saya tidak setuju dengan penggunaan kata hacked.  Bagi saya, sesuai dengan istilah Erik S. Raymond dan Richard M. Stallman dan tokoh-tokoh luar biasa lainnya yang ada pada saat saya mulai mengenal komputer dan etiket, hacking != cracking. Jangan samakan kegiatan mulia seperti hacking dengan kegiatan tidak bertanggung jawab seperti cracking.

[BTW, saya jadi ingat majalah komputer Mikrodata. Sayang, sewaktu banjir besar di Jakarta dulu, koleksi saya juga ikut hilang…. Btw lagi, saya bukan bapak-bapak tua, hentikan panggil saya Om! :)]

Etika dan Realita

Berhubungan dengan etika, saya jadi ingat apa yang menjadi prinsip. Dulu saya belajar bahwa ternyata kampus-kampus itu kebanyakan mengizinkan dan membebaskan jaringan lokal mereka. Mungkin rekan-rekan yang bersekolah di luar negeri lebih paham. Konon, kampus-kampus lebih banyak membuka port. Hal ini memang penting karena kampus adalah dunia akademis ada banyak kepentingan di sana yang tidak perlu dihambat.

Bayangkan, seandainya saya memasang saringan di proksi untuk situs-situs tertentu. Ternyata, ada fakultas yang membutuhkan informasi di sana. Setiap kali ada penelitian, seseorang harus meminta izin dahulu ke universitas. Atau jika ada seseorang yang tiba-tiba membutuhkan data-data tak layak untuk penelitian — benar, lho, rekan saya ada yang meneliti tentang SPAM dulu dan kesulitan meminta korpus data tersebut.

Menurut saya, ide adalah layaknya seperti aliran air dan proses kreativitas seperti sebuah gelas yang dicelupkan ke sungai ide. Saat mengurus perizinan itu seperti proses mengangkat gelas tersebut. Tentu, saat izin lolos dan disetujui, kita kembali menaruh gelas kreativitas. Tetapi, air yang melewatinya sudah tak lagi sama. Kita kehilangan air ide yang sudah lewat. Orang-orang yang punya ide membludak akan terdiam seandainya dia sempat tersendat.

Tetapi….

Sekarang ini seperti ada tren bagi anak muda (kecuali saya, hehehe… saya juga anak muda) untuk  dapat meng-crack sesuatu. Kata hack itu terpeyorasi sedemikian sehingga memiliki arti yang tidak seperti dulu lagi. Contohnya: “eh, status gw itu dibajak sama orang. Akun gw kena hack“, “Ini pin BB gw yang baru, yang lama udah ilang kena hack“, dan lain sebagainya.

Hmm…

Setelah saya teliti lebih lanjut, ternyata orang tersebut menggunakan sandi yang jelek seperti “mother” atau “father”. Ada juga yang mendaftar ke situs-situs aneh. Ah, saya jadi ingat, dahulu saya pernah ke sebuah Warnet dan mendapati ketika saya hendak mengakses SIAK, sandi dan nama penggunanya sudah ada. Nampaknya ada yang menyimpan sandi di Firefox. Sepertinya dia tidak membaca peringatan dan langsung menekan tombol “Yes”.

Omong-omong, berapa banyak dari Anda yang membaca peringatan secara sungguh-sungguh?

Budaya digital memang kompleks dan berbeda dengan budaya analog. Di dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya tindakan kita tercakup dalam KUHP dan UU dan peraturan lainnya. Tetapi, kita tidak pernah secara langsung bersentuhan. Semua hukum transien bagi kita.

Hal ini berbeda dengan budaya digital yang berakar dari budaya literasi. Setiap tindakan kita selalu disuguhi hukum. Hukum seperti copyright, patent, dan lain sebagainya mengakibatkan produsen perangkat lunak harus menyertakan legalitas. Selain itu, peluang-peluang bisnis yang baru juga bermunculan. Celakanya, setiap peluang tersebut berpeluang juga melanggar etika dan bahkan human rights. Ingat, budaya digital baru beberapa puluh tahun, sedangkan budaya analog sudah berkembang ribuan tahun hingga sekarang.

Ide-ide yang dahulu tampak tabu, namun setelah dimanfaatkan ternyata bermanfaat. Ide-ide yang dahulu tampak brilian ternyata saat dikembangkan ke budaya digital menimbulkan efek negatif. Intinya saat ini terjadi evolusi cepat dalam budaya digital. Kalau budaya ini sedang berkembang, maka yang paling dapat digantungkan saat ini adalah etiket. Hukum belum cukup kuat untuk dapat memanfaatkan sesuatu yang belum lumrah.

Sejauh mana etiket dapat dijunjung? Sejauh mana kebebasan dapat diayomi?

Kalau saya, sih, berpendapat sejauh teknologi yang dikuasai dapat mengayominya. Selama teknologi masih dapat mendukung, saya terima saja. Beberapa contoh kasus sayangnya saya tidak tahu apakah boleh diceritakan atau tidak menyebabkan hal-hal negatif. Intinya kebebasan tersedia, tetapi setiap kebebasan yang kebablasan mengakibatkan terjadinya pengerdilan kebebasan. Sedihnya, dari waktu ke waktu kebebasan semakin mengecil dan digantikan dengan aturan yang semakin ketat. Sayang.

Padahal saya setuju dengan Derek Sivers, jangan hukum semua orang karena kesalahan seseorang. Tetapi, ini negara demokrasi. Orang cenderung reaktif dan ketakutan pun perlu diayomi. Pengaturan jadi dirasa perlu. 🙁

Saya, sih, inginnya semua orang bertanggung jawab. Seperti Bibi Anne yang berkata, “within great power lies great responsibility”. Ketika sebuah kebebasan tersedia, hendaknya seseorang berpikir sebelum ia menyalahgunakan kebebasan itu. Ketika admin terpaksa memutuskan untuk menutup celah tersebut akibat penyalahgunaan, tidakkah pelaku berpikir bahwa hal tersebut berdampak pula kepada orang lain? Celah yang sebenarnya dapat digunakan untuk proses kreatif akhirnya tertutup.

Tentu banyak orang yang berpikir, kalau tahu ada celah, kok, tetap dibuka, sih?

Terkadang untuk inovasi Anda harus berada di area abu-abu. Akademisi sering berada di area tersebut untuk kepentingan penelitian. Sama seperti dokter kandungan yang memeriksa kandungan, setiap akademisi juga dilengkapi oleh etika akademik. Hal ini yang mengakibatkan bahwa kendati di area abu-abu, akademisi tetap bersikap netral dan justru menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Itu sebabnya akademik cenderung permisif. Lihat saja sejarah Facebook.

Tentu, tidak semua orang punya etika yang bagus. Semua kembali berpulang kepada hati masing-masing orang. Internet yang merupakan salah satu inti kebudayaan digital masih berkembang. Hanya saja, kembali perlu diingat, kebebasan ada bukan untuk disalahgunakan, tetapi manfaatkanlah untuk pengembangan. Menurut saya, seperti pengajaran PMP, kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain. Pikirkan dampak yang dialami oleh orang lain sebelum bertindak.

Berita Terbaru Dari Blog UI

Berita Terbaru Dari Blog UI

Ya, seperti biasa, secara berkala saya menyampaikan cerita-cerita di Blog Staff UI dan Blog MHS UI. Kali ini seru sekali karena ada artikel-artikel yang tidak terdapat di media manapun. Berhubung isu sensitif, saya akan mencoba seobyektif mungkin. Lagipula, saya menghindari tulisan berbau politis di blog ini. Tapi, saya sungguh senang sekali karena banyaknya artikel berkualitas.

Pemberian Gelar DR. HC dan Masa Depan UI

Menurut blog RANI GRACIAS, blog favorit saya, pemberian DR. H.C. kepada Raja Abdullah telah direncanakan semenjak 2007. Sebagai catatan dari Dr. Alwi Shihab, hukuman mati di Arab ditangani oleh sebuah lembaga tersendiri yang tidak boleh diintervensi raja. Nah, peran raja ini yang tidak diketahui oleh banyak orang adalah Raja Abdullah berusaha membentuk sebuah lembaga rekonsiliasi untuk menangani keluarga korban. Dan sisanya silakan baca sendiri di artikel terkait. 🙂

Kalau kita lihat gonjang-ganjing pertelevisian, nama Prof. (Em.) Emil Salim sering disebut-sebut. Tapi, saya menemukan transkrip orasi ilmiahnya yang dikutip di blog Juneman. Dari yang saya baca, saya tangkap bahwa sebenarnya yang dipersoalkan Beliau adalah prosedur UI yang carut marut dan membutuhkan good governance. Dari pertemuan mereka bertiga (Rektor UI, Dipo Alam selaku ILUNI, dan Beliau sendiri), mereka sepakat untuk membentuk tim pengkaji. Tidak ada di sana kata-kata penggulingan seperti judul-judul sensasional di beberapa media.

Kondisi carut marut ini tidak terlepas dari dihapuskannya UU BHP. Hal ini membuat UI dalam masa transisi. Masa transisi ini pula yang…. (Silakan baca sendiri, nggak enak spoiler.. :P)

Dua artikel ini sungguh membukakan. Seperti pendapat Prof. (Em.) Emil Salim di media massa, saya setuju bahwa masalah ini tidak baik dipolitisasi. Kampus harus tetap menjadi tempat idealis berkembang.

Artikel Lainnya

UI masuk QS World University Ranking 300 besar dunia. UI berada di peringkat 217 mengungguli banyak universitas. Kalau pendapat pribadi saya, ini benar sekali. Saat ini saja, jumlah mahasiswa asing sudah terasa. Sewaktu bulan puasa kemarin, tempat saya nongkrong minum kopi dipenuhi oleh noona-noona cantik. Saya bagai orang asing di sana. 🙂 Ini sebenarnya kalau tidak ada kasus di atas sungguh membanggakan karena mereka mau kuliah di UI.

[Serius, saya bangga, lho, soalnya terbayang sama saya seorang remaja berbakat di Korsel bercakap-cakap dengan rekannya: “Lo mau kuliah di mana?”; “mau coba ambil UI di Indonesia. Doakan, yah, moga-moga dapat.”]

Beberapa tips oleh Dr. Ari mengenai bulan Ramadhan dan Lebaran.  Saya suka gaya penulisan Beliau. Hal-hal sederhana dibahas dengan menyebutkan aspek medisnya. Benar-benar ahli di bidangnya.

Hal-hal yang berhubungan dengan perpustakaan juga disebutkan oleh Mbak Clara. Misalnya, preservasi bahan-bahan perpustakaan kala bencana, pentingnya profesi pustakawan, dan lain sebagainya.

Dan tulisan-tulisan menarik lainnya (maaf, mata sudah lelah). Bagi saya, tulisan-tulisan berkualitas dari sivitas akademika UI sungguh menjadi insentif tersendiri untuk mengembangkan dan memelihara infrastruktur blog. Pekerjaan yang berguna dan berkualitas itu sungguh menyenangkan, tidakkah Anda setuju?

Oh, Itu Lagi Tren

Oh, Itu Lagi Tren

Sewaktu terkena cacar bulan kemarin, saya praktis di rumah selama seminggu penuh. Dalam pesakitan tersebut, saya mengambil hikmah bahwa saya perlu istirahat. Lagipula, saya sudah lama tidak menonton TV.

Ternyata, demam Korea Selatan telah merambah pertelevisian Indonesia. Di TV hanya ada dua, entah menonton sinetron lokal atau menonton semua yang Korea (maaf, bagi saya gosip bukan tontonan jadi tidak saya masukkan). Saya baru tahu istilah “Suju” itu ternyata merujuk kepada “Super Junior”, sebuah grup boyband asal Korea. Ada juga versi wanitanya yang bernama SNSD yang kalau diinggriskan bernama “Girls Generation”. Yang menarik adalah ketika mereka konser, mereka tidak pernah lipsync.

Indonesia juga mengambil demam Korea Selatan ini dengan membuat grup-grup musik lokal. Yang paling awal adalah SM*SH [BACA: SMASH]. Saya heran dengan grup ini, kok, bisa-bisanya klip video mereka sederhana dan terkesan low budget. Padahal, kalau dilihat grup-grup lain yang bermunculan, klip videonya bagus-bagus.

Nah, dari grup-grup itu yang paling berkesan buat saya adalah 3in1. Saya melihat mereka bernyanyi di INBOX (acara musik di SCTV) tanpa lipsync. Wow, mereka hebat sekali, menyanyi sambil menari. Lalu, grup wanita yang saya lihat bagus adalah Cherry Belle. Grup wanita ini gerakannya banyak yang mirip SNSD, tetapi mereka kompak.

Pantas ada satu atau dua majalah (misalnya Gaul) yang membahas fenomena ini secara khusus. Saya lihat majalah itu, isinya poster dan info lengkap tentang mereka. Bahkan, banyak yang fanatik terhadap grup Korea. Sebagai contoh, seseorang marah ketika saya mengolok Suju karena mereka hanya bisa unison saja. Dia lalu bilang bahwa grup Korea yang sebenarnya adalah DBSK. Mereka yang mendobrak pasar Jepang dan pasar internasional. Sayangnya, karena masalah kontrak, mereka bubar.

Saya juga mengolok bahwa hidung mereka terlihat sama karena operasi plastik. Nah, orang itu bilang bahwa di Korea Selatan operasi plastik kecantikan itu sudah biasa. Bahkan, ada tren orang tua yang akan membiayai anaknya apa bila anaknya lulus SMA atau berprestasi.

Untungnya dalam hal ini, saya salut dengan grup 2ne1 yang menunjukkan bahwa wanita harus jadi diri sendiri. Ada anggota yang gemuk, ada anggota yang seperti laki-laki, dan ada yang tipikal wanita idola. Semuanya percaya diri dan menunjukkan sikapnya yang pantang tergerus oleh tren. Mereka menentukan tren mereka sendiri. Mereka sampai hari ini, AFAIK, tetap tidak operasi plastik.

Choqok choked

Choqok choked

This morning I fired up Choqok to see any new incoming tweets. I’m not a frequent tweep, but I sometimes use it to stalk watch over friends. Anyway, Choqok was getting blocked when I tried to subscribe to someone. It said that it had reached 150 requests per hour limit.

According to Twitter Developers page, REST call with unauthenticated is rated at 150 calls per hour. Hmm… my account is a private account, but I can see it unauthenticated? So, basically, we could make apps and distribute it to user. Then, we can farm the user and use them to spam.

A way around is to make the application using OAuth calls. It can do 350 calls per hour. Someone suggested that we could whitelist the application our selves. Whitelisted apps can make 20.000 calls per hour. Sweat!

I think rate limiting and SPAM issue are the thing that we would question when we go into Semantic Web. I like Sir Berners Lee idea of open web. But, can we have it if commercial companies keep getting ground and control the way we do in the Internet?

This kind of convince me that any social service should belong to non-profit organization. Just like how social information collaboration media such WIKIPEDIA.

~my2c

Catatan Untuk Server HTTP

Catatan Untuk Server HTTP

Untuk menggunakan Varnish, NGINX, dan PHP-FPM di Debian Squeeze, gunakan repositori DotDeb. Dotdeb disalin di KAMBING. Untuk mengaktifkan DotDeb:

$ cat /etc/apt/sources.list.d/dotdeb.list 
deb http://kambing.ui.ac.id/dotdeb/ squeeze all

PHP-FPM adalah jawaban dunia PHP untuk mode FastCGI. Sebelumnya, FastCGI untuk PHP dilakukan dengan menggunakan sebuah server web yang berjalan di belakang. Aplikasi server yang banyak dipakai misalnya SpawnCGI, FCGId, dan NGINX itu sendiri. Skenario ini agak kurang ampuh karena PHP tidak melakukan optimasi untuk itu.

Menurut orang-orang di web, NGINX tidak begitu baik dalam hal menembolokkan isi situs (walau sebagai reverse proxy ia sangat terbukti ampuh). Untuk itu, gunakan Varnish atau Squid. Para agan situs sekarang ini sepertinya mulai banyak memilih Varnish. Terbukti, kalau kita tanyakan kepada Mbah Gugel, topik “php-fpm nginx” itu sudah banyak yang membahas.

Sejauh penemuan saya, Drupal memiliki versi yang teroptimasi untuk Varnish yang dinamakan PressFlow. Untuk WordPress, ada WP-Varnish sudah mendukung penggunaan Varnish. Untuk kedua aplikasi tersebut, Varnish sepertinya sudah mumpuni. Sayangnya, Moodle tidak begitu bagus menggunakan Varnish. Semua barangnya diberi sesi sehingga sulit untuk ditembolokkan.

Tentu saja, pemilihan sistemberkas berpengaruh. Untuk MySQL, beberapa orang menyarankan menggunakan XFS. Untuk yang eksperimentalis, Anda bisa menggunakan Reiser4 untuk direktori web. Tetapi, perlu diketahui bahwa Reiser4 tidak didukung secara resmi dan sangat berbahaya (katanya). Menurut penuturan orang, JFS juga bagus.

Sepertinya banyak yang perlu dipelajari, terutama Moodle. Dia sepertinya bisa teroptimasi bila menggunakan Memcached.

Bacaan Lebih Lanjut:

Varnish tweak: https://www.varnish-cache.org/trac/wiki/Performance

Penembolok WordPress: http://www.thewpwiki.com/extensions/cache

Pengujian penembolok WordPress: http://cd34.com/blog/scalability/wordpress-cache-plugin-benchmarks/

Studi kasus sistemberkas: http://linuxtweaks.wordpress.com/tag/reiserfs-reiser3/

Moodle tweaks: http://docs.moodle.org/20/en/Performance

Moodle, Postgre atau MySQL: http://moodle.org/mod/forum/discuss.php?d=49195

Ubuntu!

Ubuntu!

Menarik sekali bermodalkan perangkat keras yang lama dan FOSS, orang bisa membuat komputer paralel. Kalau dilihat dari video, sang Profesor menggunakan GNU/Linux. Sepertinya dia menggunakan Fedora atau Gentoo. Ini merupakan contoh bagaimana FOSS bisa memungkinkan orang untuk berkembang lebih pesat.

Poin menarik yang disampaikan oleh sang Profesor ada di bagian hampir akhir video. Profesor itu hendak mengundang displin ilmu lain untuk menciptakan proses bisnis baru yang memungkin penggunaan komputer paralel. Ini menarik, mengingat kebanyakan universitas kita hanya disiplin murni. Padahal, sebuah masalah merupakan aspek dari multi-disiplin.

Saya mengamini perkataannya, bahwa ilmu komputer ada untuk membantu cabang ilmu lainnya. Pusat komputer di universitas seharusnya dapat membantu menjawab kebutuhan komputasi yang diperlukan oleh para periset. Riset yang mahal dapat dilakukan dengan murah bila dikerjakan bersama-sama. Apalagi, bisa jadi model permasalahan dalam sebuah domain ilmu telah diketemukan jawabannya dari paradigma berbeda dari cabang keilmuan lain.

What Social Media Is Missing

What Social Media Is Missing

The lost button of Facebook

The lost button of Facebook

TL;DR

I have always wish for a button other than a Like button to express other essential feelings. One particular button that was missing on Facebook or any other social media out there is a Hug button. With Facebook, we can only “like” other person but not other feeling.

NON TL;DR

When I met these kind of status updates, which happens all the time, the best solution for me is to give comment of “MAKAN2x ™“. This comment is unique for me because of the deep thought that I get before I said that. But, it was always mistakenly considered as a trolling comment by other. In the end, my unique notion of saying my empathy is useless.

Furthermore, Facebook is seems also suggests us to troll. When a person perceive a Like button on an unfortunate event, don’t that globally perceived as a way of saying, “I like your messed up situation”?

According of some studies, a social media can affects people with their emotion. In fact, according to a study that I can’t find the link yet, people with less emotional instability use less time for social media. A study tell us that Facebook is making an image of people but oneself are happy. That’s stressing.  On another side note, Facebook can be used as an online community to promote better hope for people that want to end their lives.

To show condolence is should be a default Facebook button, not a third party apps. Not all of us troll. We do care for other. Please give us a Hug button and stop people from abusing the Like button.

Melawan SPAM

Melawan SPAM

Di kerajaan antah-berantah seorang ksatria tengah melawan SPAM. SPAM, sebuah pesan yang tidak diinginkan dengan tujuan merusak. Ia dapat berupa promo produk pembesar alat kelamin pria hingga seorang pangeran dari sebuah negara yang tengah berkecamuk. Ia kadang menyaru bak seorang ksatria piningit yang hendak membetulkan sistem dengan menanyakan sandi kepada rakyat jelata. Yang menarik, ada juga berlaku seakan-akan menawarkan iPod gratis.

SPAM pada masa yang lampau

Dulu, SPAM hanya berupa tulisan cialis dan beberapa lainnya. Dengan menggunakan teknik bayesian sederhana, mereka dapat diberantas. Mereka dapat dikalahkan dengan mudah dengan menggunakan teknik statistika sederhana. Dengan menggunakan SpamAssassin, kita dapat membunuh mereka.

Biasanya, SpamAssassin digunakan bersama dengan antivirus ClamAV dengan menggunakan Amavis.

$ sudo apt-get install spamassassin clamav amavisd-new

SpamAssassin menggunakan Bayesian dan dulu ada SARE (SpamAssasin Rules Emporium) yang rajin menatar aturan-aturan anti-SPAM bagus. Sayangnya, sekarang sudah tak ada lagi. Katanya, lebih baik menggunakan Razor atau Pyzor.

Huruf itu bukan LATIN-1 dan UTF-8 saja, Jenderal!

Sayangnya, saat ini muncul pesan-pesan ninja. Dengan teknik 分身 mereka masuk ke dalam sistem tanpa bisa dibedakan. Admin mana pula yang bisa membaca hiragana, katakana, kanji, rusia, dan berbagai huruf-huruf tak standar lainnya? Karakterisasi penulisan romawi berbeda dengan kanji! Sudah begitu, kita tidak bisa pukul rata.

Dahulu, kita bisa saja beranggapan bahwa surat dengan bahasa Rusia, bahasa Jepang, dan bahasa Mandarin adalah SPAM-SPAM yang menyasar terkirim ke sistem surel kita. Sayangnya, (atau sebenarnya membanggakan, sih, tergantung dari sisi mana dilihat) Universitas Indonesia saat ini menjadi universitas riset berbasis internasional. Banyak sudah mahasiswa asing yang bersekolah di sini. Apalagi, banyak dosen yang kuliah di negara-negara maju yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa percakapan.

Contoh kasus, kami pernah menemukan surel yang menyangkut dengan menggunakan bahasa Thai dari seorang profesor di sana.

Untuk memeriksa surel yang menyangkut, biasanya MTA menyimpan surel SPAM di sebuah direktori dalam format UUEncode. Untuk dapat mengekstraksinya, silakan pasang uudeview:

$ sudo apt-get install uudeview

Untuk menggunakannya:

$ uudeview -i <SUREL_SPAM>

Ah, tapi siapa yang rela memperhatikan surel menyangkut satu persatu? Dalam statistik kami, surel SPAM yang masuk ke MX UI ada sekitar 50% lebih. Wow!

Tidak Ada Domain Spesifik

Hal yang paling telak adalah bagaimana menghindari tembakan teman (friendly fire, bahasa surelnya false positive). Pendekatan yang lazim dipakai selama ini di dalam dunia SPAM adalah menggunakan domain spesifik dan frekuensi kata. Nah, bagaimana jika seandainya di dalam UI terdapat banyak fakultas dengan menggunakan kata-kata yang bisa digolongkan sebagai SPAM?

Domain ui.ac.id digunakan oleh Kedokteran, Farmasi dan juga digunakan oleh Teknik. Maka, cara terbaik adalah dengan menggunakan domain spesifik berdasarkan pengguna. Wow, ada 180 ribuan lebih pengguna di UI. Bayangkan berapa sumber daya yang perlu diberdayakan? Saat ini ada sekitar 16 fakultas, belum terhitung lembaga-lembaga di bawah UI maupun fakultas.

Frekuensi kata juga tidak membantu. Kata-kata seperti universitas, penulis, dan kata-kata lain yang sering digunakan dalam SPAM banyak digunakan juga dalam surat-surat sungguhan. Saya tidak mengerti mengapa mereka menggunakan kata-kata seperti tersebut. Apalagi bila bertemu anti-SPAM masa lalu yang dapat memberi penalti hanya karena penulisan kata “analisis”.

Di hari-hari yang semakin jahat ini penggunaan Bayesian sudah tidak seefektif dahulu. Ia hanya dapat digunakan sebagai pelengkap.

Melawan Penyihir dari Barat

Dalam peperangan saat ini, para admin membentuk aliansi dan membentuk data-data inang yang sering mengirimkan SPAM. Daftar SPAM ini menggunakan sistem pelaporan dari para anggota aliansi. Kemudian, aliansi ini membentuk basisdata yang dapat diakses oleh para anggota dan juga orang-orang lain.

Contoh aliansi terkemuka ada Spamhaus, SpamCop, SORBS, Project Honey Pot, dan SenderBase. Ini belum terhitung lainnya yang dipakai spesifik di daerah tertentu dan beberapa sistem pelaporan yang hanya menggunakan buletin seperti anti-scam.de. Masing-masing dengan kebijakan berbeda.

Penyihir dari Barat tahu kelemahan mereka. Dia menggunakan cecunguk-cecunguknya untuk menginfeksi domain-domain sungguhan. Akibatnya, domain-domain tersebut diblok oleh aliansi-aliansi tersebut. Strategi ini digunakan oleh Penyihir dari Barat untuk menurunkan kredibilitas aliansi-aliansi tersebut.

Ah, entah mengapa masih banyak domain yang tidak mengonfigurasi MX-nya dengan benar sehingga menjadi open relay. Selain itu, komputer-komputer bervirus mengirimkan surel dari klien-klien mereka tanpa diputuskan. Penyihir dari Barat tahu bagaimana cara kerja Internet, namun tidak semua ksatria penjaga tahu.

Contoh nahas adalah domain-domain dari Indonesia seringkali mendapatkan blokade dari para aliansi karena ada satu atau dua domain dalam subnet yang sama menyepam dunia. Bagi Anda ksatria-ksatria gagah berani tentu mengakui beberapa minggu ini domain Anda sering diblokade, bukan? Untungnya UI memiliki ASN tersendiri, sehingga blok IP UI terpisah dari domain ID lainnya.

Contoh nahas internasional adalah Yahoo! Mail. Mereka sering menjadi korban backscatter. Hal ini yang membuat beberapa aliansi memblok Yahoo dan menganjurkan penggunanya tidak menggunakan layanan tersebut. Tentu saja, ini tidak mungkin. Banyak sudah orang yang menggunakan layanan ini dan tidak mungkin pindah ke GMail atau layanan surel lainnya.

[NB: Baru-baru ini Yahoo! tengah memperbaharui infrastruktur surelnya, mungkin dia sudah tak seburuk dulu]

Musuh dalam Selimut

Saat ini sudah ada teknik-teknik yang lebih efektif selain Bayesian seperti SPF dan DomainKey/DKIM yang mampu mengidentifikasi MX yang sesungguhnya. Biasanya teknik SPAM, terutama yang bermoduskan penipuan, menggunakan MX-MX liar yang terinfeksi untuk mengirimkan surel. Ternyata, protokol SMTP tidak mengharuskan domain pada pucuk “From: ” sama dengan domain pengirim. Akibatnya, bisa saja orang dari antah berantah mengirimkan surel sebagai berikut:

From: anakkeren@ui.ac.id
Reply-To: ejakulasi-dini@live.com
Subject: Anak Anda Cacingan?

Anda telah memenangkan Samsung Galaxy Tab 2, segera hubungi kami.

Ini bisa diatasi bila kita memasang SPF atau DomainKey/DKIM pada sistem surel kita. Masalahnya, tidak semua orang tahu SPF dan DomainKey/DKIM. Untuk SPF, tidak ada domain besar yang menganjurkannya  sebagai standar, walau pun sepertinya mereka juga menggunakannya. Berbeda dengan DomainKey/DKIM yang dikenali oleh Yahoo! Mail dan GMail untuk protektif.

Dan, seandainya pun kita bersusah payah memasang ini, ternyata ada juga penusukan dari belakang. Para pengguna yang belum paham keamanan memuat sandi mereka dengan kata-kata gampang, misalnya kata yang sama dengan login dan kata-kata sederhana. Lalu, ada juga teknik pura-pura menjadi admin untuk mencuri sandi pengguna. Akibatnya, sandi mereka tercopet dan digunakan untuk menggunakan virus.

Ah, apa yang bisa dilakukan bila konten terkirim adalah SPAM?

Pasrah dan menghapus SPAM yang tersisa, menghubungi aliansi-aliansi agar melepaskan UI dari daftar blokade, mengganti dengan paksa sandi pengguna, dan istighfar; bisa jadi admin UI banyak dosa sehingga terkena musibah itu. Ugh, paling kesal kalau sudah masuk SORBS, sudah susah daftar, lalu katanya harus bayar US$50.

Omong-omong, akhir-akhir ini Yahoo! Mail memiliki layanan yang baik. Begitu saya lapor, selang tak berapa lama surel dari UI bisa dikirimkan.

Kesimpulan

Jangan kasih sandi ke sembarang orang, admin tidak butuh sandi Anda.

Para Admin, mari bersatu, perjuangan masih panjang! Merdekaaaa….! [OST. Jangan Menyerah — lupa siapa yang nyanyi]

Omong-omong, amankah kalau MAILER-DAEMON kita arahkan ke /dev/null?

Lead Us Not Into Temptation

Lead Us Not Into Temptation

Lead us not into FacebookBeberapa hari ini saya menjumpai orang-orang memuji Google Plus. Banyak orang yang sudah muak dengan Facebook yang suka mengubah kebijakan privasi. Banyak yang suka dengan “inovasi” Google yang memiliki granularitas tinggi terhadap privasi. Saya beri tanda kutip karena Diaspora sudah melakukannya terlebih dahulu.

Slogan Google “jangan jadi jahat” cukup menimbulkan pertanyaan bagi saya: bagaimana jika dia berbalik menjadi jahat?

Banyak orang yang mengira bahwa dengan mempercayakan data dirinya ke Google, dia dapat dijamin. Siapakah yang dapat menjamin hukum di Internet? Jangan lupa, data Google juga ada di awan.

Paranoid?

Actual actual reality: nobody cares about his secrets.  (Also, I would be hard-pressed to find that wrench for $5.)

Actual actual reality: nobody cares about his secrets. (Also, I would be hard-pressed to find that wrench for $5.)

Apakah saya paranoid? Mungkin.

TAMBAHAN:

Ternyata Google sudah menyediakan proses untuk mengambil data-data kita dari setiap produk Google

Kalau ingin menghapus jejak di Google, gunakan Google Takeout.

In Google we trust. Perhaps….

Akan Seperti Dotcom, Kah?

Akan Seperti Dotcom, Kah?

Saya bukan orang bisnis dan mungkin ilmu saya kurang, tapi saya mau coba mencurahkan pikiran saya. Pikiran saya bukan perintah Tuhan, jadi kalau ada yang salah, CMIIW…. 🙂

Dari bincang-bincang dengan rekan-rekan dan dari artikel-artikel di DailySocial, sepertinya memang saat ini sedang menjamur startup. Pikir saya, ini seperti sekitar tahun 2000an dahulu ketika bisnis dotcom merebak. Walau pun ide-ide anak bangsa ini kreatif, tetapi pertanyaan saya timbul: apakah mereka dapat bertahan?

Mungkin Anda tidak tahu, ada banyak perusahaan multi nasional yang mulai fokus ke pasar Indonesia. Yahoo! mulai membangun kantor di sini. Walau pun secara eksplisit tidak diceritakan, tetapi dukungan Bahasa Indonesia di Google jauh lebih baik hari-hari ini. Pengusaha-pengusaha juga mulai membangun bisnis. Dan beberapa kisah NDA yang ndak bisa diceritakan…. 🙂

Lalu saya bertanya, akankah Indonesia bisa menjadi produsen di negerinya sendiri?

Kalau saya boleh positif bilang, Indonesia dapat menjadi raja konten (atau setidaknya salah satu negara konten) yang dapat menggerakkan industri kreatif. Yang diperlukan hanyalah faktor supaya industri kreatif bisa mendapatkan tempat yang layak.

Saya beruntung bisa melihat awal-awal kebangkitan Internet. Semua dimulai dengan iseng-iseng dan tiba-tiba ada audiens, dan akhirnya berkembang. Saya ingat, dulu davedays memulai ketenarannya dengan sebuah video banyolan mengisengi orang-orang yang berusaha mencari video porno di Youtube.

Menjadi Artis Internet

Selebritas di Internet pun mulai banyak: MysteryGuitarman, Ray William Johnson, dan smosh. Mereka semua secara profesional, dengan tetap berciri khas user content generated alias sebisa mungkin seperti buatan rumahan, membuat setiap saluran video mereka menarik.

Bagaimana mereka dapat bertahan hidup?

Rupanya Google juga memberikan sponsor untuk “artis”-“artis”-nya. Beberapa artis juga diundang ke dunia televisi. Tetapi, yang terutama adalah mereka juga membuat merek mereka terjual sebagai cinderamata. Banyak dari mereka yang membuat lagu parodi dan menjualnya di pasar iTunes.

Omong-omong soal parodi, apakah mereka tidak takut dituntut?

Kendati kini Amerika memiliki DMCA, warganya dilindungi oleh fair use dan First Amendment. Senjata ini memungkinkan konten-konten yang dianggap gila dan terkadang tak layak bila diperdengarkan di depan televisi dapat dibuat. Konten-konten yang miring ini justru menjual dan membuat acara hidup.

Saya termasuk orang yang mendukung kebebasan berbicara dan berpikir, serta toleransi! Budaya sensor yang berlebihan menurut saya tidaklah efektif. Coba saja, mana yang lebih menggiurkan? Foto seorang wanita dengan belahan dada hampir tersingkap atau foto bugilnya? Menurut saya dan …, foto yang pertama membuat imajinasi dan keingintahuan yang mendorong orang untuk lebih fokus. Selama Internet tidak bisa disensor sepenuhnya, budaya itu akan masuk pelan-pelan dan mematikan nilai-nilai keagamaan.

Jadi, dari pada buang-buang energi pada sensor, lebih baik fokus pada hal yang esensial.

Menjadikan Bisnis Yang Sehat

Tidak dapat dipungkiri, salah satu yang menyebabkan orang Indonesia mau membeli di Internet saat ini adalah sistem kepercayaan. Anda dapat mendaftar di Kaskus atau membuat laman sendiri di Facebook lalu menjual barang-barang Anda. Rekan saya bercerita bahwa banyak yang mulai serius dan berhenti bekerja karena barangnya menghasilkan.

Nah, itu masalahnya.

Di luar negeri, orang sudah mengenal pembayaran melalui PayPal. Ada juga bisnis yang menggunakan sistem donasi seperti Flattr. Terakhir, ada juga mulai menerapkan mata uang elektronik, bitcoin. Paypal bertindak sebagai pihak ketiga yang memediasi pembayaran. Flattr menyimpan uang orang-orang, kemudian akan membayarkan sejumlah uang kepada orang-orang yang diberi poin Flattr. Sedangkan, bitcoin bertindak sebagai mata uang tersendiri dan ramai diperdagangkan.

Bagaimana dengan Indonesia?

Kendati inisiatif-inisiatif dengan rasa percaya, seandainya ada bank atau konsorsium yang mau maju menerapkan ekonomi seperti PayPal, sulit rasanya untuk maju. Saya bukannya negatif, memang beberapa orang fasih dengan teknologi. Tetapi, pasar potensial justru di kalangan orang-orang yang tidak sefasih itu. Jangankan orang lain, saya saja masih kesulitan dalam mendaftarkan akun PayPal.

Kebanyakan pendaftaran dilakukan dengan menggunakan kartu kredit. Saya tidak punya dan tidak berniat akan memilikinya. Oprah Winfrey menyuruh menggunting kartu kredit, Robert T. Kiyosaki menyuruh membuang kartu kredit, dan beberapa referensi yang saya baca juga bilang begitu. Kendati mereka dari latar yang berbeda, semua setuju: kartu kredit tidak baik.

Saya bukannya anti kartu kredit. Hanya saja, pengalaman krisis finansial di Amerika tahun 2008 (dan sampai sekarang) yang membuat banyak negara bahkan sekelas Yunani bangkrut, menunjukkan bahwa penggunaan kartu kredit yang berlebihan akan membuat negara dalam kesulitan. Kenyataan bahwa optimisme bahwa manusia tidak akan maruk adalah omong kosong. Intinya, saya lebih suka membayar dari apa yang saya punyai, bukan dihutangi.

Saya berpikir, mengapa bank seperti BRI yang menjangkau pedesaan tidak membuat program pembayaran daring?

Maksud saya, dia bisa bekerja sama dengan PayPal atau toko-toko daring dalam membentuk jaringan. Bayangkan betapa pasar UMKM bisa terbantu, terutama kerajinan tangan, pertanian, dan perikanan (alias semuanya). Bank sekaliber BCA, Bukopin, BRI, dan bank lainnya, tentu bisa saja membentuk sebuah komunitas pasar daring. Di sana orang bisa menjual barang-barang yang bagus. Nilai plus juga kalau sistem ini menyediakan API yang bisa digunakan oleh pihak ketiga sehingga situs-situs lain juga dapat memanfaatkannya secara aman.

Di dalam pasar komunitas yang terhubung langsung ke bank itu, tersedia pasar-pasar yang tersegmentasi, seperti misalnya toko musik seperti iTunes. Orang-orang yang memiliki akun di banknya masing-masing bisa mendaftar melalui bank mereka dan mereka siap melakukan bisnis.

Di dalam toko ini, semua orang bisa melakukan banyak hal.

Komunitas

Impian saya.

Situs Daring Impian. Yang hijau artinya sudah ada, yang merah belum ada, yang kuning mungkin tak ada. 🙂

Saya rindu sekali nyanyian di kamar mandi saya bisa terjual. Tetapi, tidak mungkin Republik Cinta Management mendengarkan saya. Mau ketemu Ahmad Dhani pasti saya keburu digebuki penjaganya. Padahal, segmen pasar saya pasti ada. Saya yakin talenta saya akan membuat Simon Cowell menangis terharu mendengar lagu saya…. 🙂

Beruntung, kita punya Kaskus. Tetapi, sayangnya ia hanyalah forum. Kita masih saja membutuhkan Youtube. Situs-situs unggah video di Indonesia seperti IDWS lebih sering menyimpan video…. Padahal, buat kita yang fakir pita jaringan, saluran IIX satu-satunya jaringan tercepat. Seandainya pemerintah bisa menurunkan biaya investasi jaringan. Lalu, tidak menangkapi orang-orang yang berusaha membuat jaringan sendiri. Pasti situs seperti Nico-Nico Dauga akan dapat dilakukan.

Yah…

Begitulah impian saya. Sayangnya (atau untungnya?), Universitas Indonesia bukan entitas bisnis. Mungkin ide ini belum bisa diterapkan di UI, kendati menurut saya UI punya sistem dan sumber daya untuk itu. Tetapi, biarlah ide bisnis ini untuk orang-orang bisnis. Kami cukup memimpikan ide dan membuat nilai akademisnya. Semoga startup-startup sekarang tidak seperti dotcom yang lenyap. Dulu konsep crowdsource, API, dan integrasi masih belum kuat. Sekarang, banyak platform yang dapat digunakan. Hanya saja, untuk pasar Indonesia masih kurang.

TL;DR

Internet dapat menjadi industri apabila:

  1. Hukum jelas mengatur dan melindungi secara aktif warga Indonesia.
  2. Alat pembayaran di Internet yang digunakan aman dan hampir seragam.
  3. Komunitas yang kuat.
  4. Kebiasaan menggunakan FOSS!

Yang nomor empat tidak dibahas, tetapi kebanyakan aplikasi autotune, penyunting video, penggambar, dan lain sebagainya sudah ada proyek FOSS-nya.

Akhir kata, yah, kita lihat saja Menkominfo 2014 dan kebijakannya.

Memberi Nama Server

Memberi Nama Server

Memberi Nama Server

memberi nama server

Sepertinya ini benar sekali. Memberi nama server sepertinya sulit sekali. Lebih sulit dari memberi nama orang.

Generasi pertama virtualisasi UI diberi nama pahlawan. Sewaktu perang teknologi Xen dan VMWare, server VMWare diberi nama Superman, server Xen dengan nama Semangat45. Adminnya dikasih nama spiderman karena Spiderman adalah tokoh pahlawan yang pada akhirnya disalahkan ketika dia berniat menolong. Dia juga selalu terpisah dengan Mary Jane dan terpisah dari kehidupan normalnya sampai orang bilang Peter Parker adalah alter ego Spiderman. Sekarang keduanya sudah almarhum.

Generasi server MX (Mail eXchanger) UI dipilih berdasarkan nama keluarga buaya, ada Gharial, buaya dari India. Ada juga Aligator, buaya yang cuma ada di Amerika dan Cina. Ada juga Buaya, nama asli buaya Indonesia. Ada admin yang rada nyeleneh malah kasih nama Kadal, yang sekarang almarhum. Ada Krokodil, buaya besar dan ganas yang biasa kita kenal. Kalau mau tahu lebih lanjut, silakan gugel satu persatu nama tersebut.

Mengapa buaya?

Simbol buaya merupakan simbol kesetiaan di Betawi, berbeda dengan ungkapan buaya darat. Server MX UI dinamakan nama-nama itu karena sifat mereka yang dalam jangka lama akan selalu melayani sivitas UI. Surel merupakan salah satu sarana vital karena pusat korespondensi antar sivitas dengan instansi atau pun jurnal. Kesetiaan mereka memberikan setiap server tersebut berhak diberi nama sesuai dengan sifat mereka.

Kesenangan kami kepada Moy Moy Palaboy membuat kami memberi nama Marimar kepada salah satu server. Setiap kali menyentuh server itu, kami tersenyum. Lalu ada yang memasang video Youtube, ha… ha… ha….

Surel sebagai sumber informasi membuat kami memberi nama Clepuk. Ada juga kesenangan sama hewan peliharaan sehingga memberi nama server Harimau dan Marmut. Karena keluarga kelinci lebih imut, maka kami memberi nama Hamster dan Kelinci.

Supaya enak dibaca pada laporan ISO, akhirnya ada juga server dengan nama sistem-informasi. Ah, no fun-lah!

Sst… jangan tanya asal nama Kambing. 🙂

SIMAK UI Diperpanjang, FYI

SIMAK UI Diperpanjang, FYI

simak-ui

Pendaftaran SIMAK UI diperpanjang hingga 25 Juni 2011. Silakan kunjungi http://penerimaan.ui.ac.id/ untuk pendaftaran dan keterangan lebih lanjut.

DISCLAIMER:

Sesuai dengan disclaimer pada laman About Me, siapa tahu Anda belum baca, blog saya bukan blog resmi Universitas Indonesia. Tujuan saya memasang ini supaya siapa tahu Anda atau tetangga atau handai taulan Anda ada yang berminat mau masuk UI. Kalau mau tahu keterangan lebih lanjut, silakan ke tautan yang sudah saya berikan.

The Hidden Truth of Being Innovator

The Hidden Truth of Being Innovator

The Truth About Inventor That Would Not Be Taught Elsewhere

The truth about inventor that would not be taught elsewhere

There is a hidden truth about being think different.

Your idea would be ahead of its time that people would disbelief you. People would mock you and think that you are weird. Some fear you, some awe at you, but none will understands you, yet.

Ahead of its time means you are wacky. Some get tacky. Some caved in around you. Some who think they cared would stop you. The twisted thing is they are right and you are right too.

Being invented with things doesn’t means you are ahead of your time. Some would duplicate your efforts and some would shamelessly take it as if it was theirs. Next time you stop inventing is the moment of your death.

Either you chase your dreams or get trampled with it. It is addicting that you would contradicting yourself all of the time. The choice you have.

The fact is, you are alone in the light.

Sometimes, this put you on a curse that made you think that you are different and they aren’t. Thus, cursing you into a solitary life…

Bisakah?

Bisakah?

Dilarang Jongkok!

Kalau saja Romo Mangun masih hidup, ia pasti tidak akan membiarkan tanda ini berseliweran. Ah, berapa banyak bangunan baru yang sudah memasang tanda ini. Tidakkah arsitek mereka mengerti kecacatan bangunan mereka?

Coba Anda datang ke Universitas Indonesia. Saya belum pernah mengunjungi semua bangunan, terutama bangunan baru. Tetapi, di setiap bangunan yang saya kunjungi selalu terdapat dua tipe kloset: WC jongkok dan WC duduk. Selalu ada minimal dua WC untuk dua preferensi tersebut.

Saat merancang bangunan Universitas Indonesia, para pendiri bangsa ini menghargai preferensi budaya bangsa ini. Setiap orang yang masih menggunakan budaya bangsa ini berhak untuk mendapatkan fasilitas kenyamanan. Tak lupa pula, untuk tamu yang berkunjung dan tuan nyonya yang sudah terbiasa budaya Barat juga terlayani. Semuanya sama.

Menurut Anda, mana lebih higienis: mencebok dengan tangan atau dengan tisu?

Menurut video, keduanya sama-sama jorok. Kehigienisan ditentukan bagaimana cara Anda mencuci tangan, bukan cara Anda cebok. Baik cara asing mau pun cara Indonesia, keduanya tidak higienis. Ilmu modern menjawab itu dengan menyediakan antiseptik setiap kali kita membersihkan diri.

Memang, ada cerita mengenaskan ketika saya mencari gambar tentang WC jongkok. Kisah seorang gadis yang pangkal pahanya rusak (perhatian, jangan berusaha cari, fotonya sangat tidak pantas) akibat jatuh dari tempat dudukan. Mungkin maksud pengelola memang baik agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti itu. Apalagi, beberapa tempat perbelanjaan memiliki WC yang licin. Tetapi, ini tidak lepas dari pertanyaan mengapa arsiteknya dari semula tidak memperhitungkan adanya budaya ini?

Apakah kami yang masih menganut budaya lama tidak layak mendapatkan pelayanan yang sama? Apakah kami dianggap kuno dan tidak higienis? Apakah kami memang sudah usang dan tak layak mendapatkan tempat di dunia modern?

WC jongkok hanyalah sebuah bongkahan dari gunung es dari sebuah pertanyaan:

“Seberapa inferiorkah budaya Indonesia sehingga ia tak lagi mendapat tempat di kehidupan modern?”

Sebuah bangunan dibangun dengan kenyamanan di dalamnya, sebuah tempat perlindungan. Ia dibangun agar sang penghuni dan yang berkunjung terasa di rumah. Saya sangat menantikan mall atau plaza yang mengerti falsafah ini.

Karakter Non-ASCII Masih Belum Bisa

Karakter Non-ASCII Masih Belum Bisa

Beberapa tahun belakangan ini sering kali mahasiswa baru bertanya ketika mengetahui alamat surel mereka tidak sesuai dengan nama mereka. Contoh, adanya karakter apostrop: “pe’ter@ui.ac.id”. Memang, sebenarnya alamat surel itu ditaruh di dalam kurung siku, sehingga “Jan Peter A. R. <jan.pe’ter@ui.ac.id>” seharusnya bisa. Keterbatasan beberapa sistemberkas seperti FAT32 tidak memperbolehkan adanya karakter-karakter aneh. Selain itu, regex beberapa surel tidak memungkinkan adanya karakter aneh seperti apostrop.

Lalu, bagaimana seandainya jika ada alamat dalam karakter lain seperti “Jan Peter Alexander <ピーター@ui.ac.id>”?

Sayangnya, banyak surel di dunia masih bergantung kepada aturan RFC 821. Dalam RFC 821 itu karakter non-ASCII tidak diperbolehkan. Selain itu, masih banyak yang menggunakan huruf LATIN-1 (ISO 8859-1) sebagai huruf sistem mereka. Walau pun Unicode telah berhasil mendorong UTF-8 ke pelbagai sistem, tetap saja ada sistem yang tidak menggunakan standar tersebut. Banyak juga sistem anti spam membuang semua surel yang memiliki alamat non-ASCII.

Ada satu lagi, sih, yang menjadi penyebab mengapa karakter non-ASCII sulit diterapkan. Kebanyakan papan ketik yang digunakan masih menggunakan QWERTY 101 (atau variannya 104) tombol. Kesulitan yang terjadi adalah ketika hendak mengetikkan nama tersebut. Memang, setiap sistem operasi sudah menyediakan tombol untuk mengakses karakter unicode. Bahkan, sudah ada tabel maya untuk memudahkan pengguna. Hanya saja hal tersebut tidaklah lazim digunakan.

Seperti halnya bahasa Inggris sebagai bahasa pergaulan dunia, tampaknya ASCII masih menjadi bahasa pergaulan dunia juga.

[Bookmark] Kokoro no Tomo

[Bookmark] Kokoro no Tomo

DISCLAIMER

I remembered this song was used to play a lot in radio when I was young. The singer, Mayumi Itsuwa, sung it with a lovely voice that pierced through the heart. I tried to sing this on Karaoke, but the text was wrong. So, here, I bookmarked all of these just as reminder.

The clips

The original video clip as I remembered once:

[youtube TqulTNpd9BY]

I didn’t know what the song was, but when I saw the original video clip, I kinda get it. Well, I was young back then, but the sadness I can capture. As the time flows, humans parting.

Btw, the only word  that I remembered was “lullaby”. When I was a little, I would humming or singing perversion of the lyric until that part and sang it. Hehehe….

A version that has romaji text for Karaoke:

[youtube 6ZToJc2sXn0]

A nice Keroncong version from a Malaysian singer, Jamilah Abubakar. This song was arranged by Wawang Wijaya.

[youtube XQlxRNGj3HA]

Translations taken from a forum

Terjemahan dalam bahasa Indonesia

Teman Hati (Kekasih hati)

Kala itu mampu kulepaskan kepedihan dari hatimu
Semangatku pun bergelora menapaki jalan hidup ini
Sebelum bersua denganmu, kesepian aku berkelana
Biar kurasakan hangatnya jemarimu

Cinta senantiasa meninabobokkan
Tatkala lelah dalam perjalanan
Ingatlah diriku sebagai teman hati

Bahkan hati yang saling percaya terlupa entah di mana
Mengapa orang-orang mengejar kebahagiaan yang telah berlalu
Pejamkan matamu perlahan dan singkapkan jendela hatimu
Raih tanganku dan usap air matamu

Cinta senantiasa meninabobokkan
Tatkala lelah dalam perjalanan
Ingatlah diriku sebagai teman hati

from: http://ina-nagaoka.org/articles.php?mode=comments&id=86

English Version by a forum user luvakuma:

Friend in my heart (Means best friend, in other words)
kokoro no tomo

When I stole the pain from you, that time
ANATA KARA KURUSHIMI O UBAETA SONO TOKI
the courage to live flowed inside of me too
WATASHI NIMO IKITEYUKU YUUKI GA WAITE KURU
Until I met you I was a lonely SASURAI-BITO(*)
ANATA TO DEAU MADE WA KODOKU NA SASURAI-BITO
Let me feel the warmth in your hand
SONO TE NO NUKUMORI O KANJI SASETE

Love is always a lullaby
AI WA ITSUMO RARABAI
When you become tired of the journey
TABI NI TSUKARETA TOKI
With the friend in your heart
TADA KOKORO NO TOMO TO
Call me
WATASHI O YONDE

Forgetting about believing each other
SHINJIAU KOTO SAE DOKOKA NI WASURETE
Why do people chase the peaceful days that have gone by
HITO WA NAZE SUGITA HI NO SHIAWASE OIKAKERU
Closing my eyelids quietly, opening the door of my heart
SHIZUKA NI MABUTA TOJITE KOKORO NO DOA O HIRAKI
Once you grab me, wipe away my tears
WATASHI O TSUKANDARA NAMIDA FUITE

Love is always a lullaby
AI WA ITSUMO RARABAI
When you are weak
ANATA GA YOWAI TOKI
With the friend in your heart
TADA KOKORO NO TOMO TO
Call me
WATASHI O YONDE

Love is always a lullaby
AI WA ITSUMO RARABAI
When you become tired of the journey
TABI NI TSUKARETA TOKI
With the friend in your heart
TADA KOKORO NO TOMO TO
Call me
WATASHI O YONDE
Blog Bukan Tren Sesaat℠

Blog Bukan Tren Sesaat℠

Saya tidak sedang mendiskreditkan seseorang. Apalagi, masa kekanakan itu sudah selesai. Tetapi, judul ini tepat menggambarkan apa yang hendak saya ceritakan. Tujuan dari penulisan ini supaya penggunaan blog bisa lebih efektif. Sekali lagi, ini adalah sebuah coretan pribadi tanpa mengaitkan dengan kebijakan Universitas dan ditulis berdasarkan ingatan. Belum tentu akurat 100%.

Sekelebat Masa Lalu

Sekelebat Masa Lalu

Salah satu alasan yang mendemotivasi kami untuk mengurus blog adalah alasan bahwa blog UI, baik Blog Staff maupun Blog MHS dibuat untuk menaikkan ranking di Google mau pun Webometrik. Padahal, rencana blog ini sudah ada sebelum UI masuk ke percaturan Webometrik. Kami telah lama menimbang-nimbang apa saja yang diperlukan.

Berbagai eksperimen telah dilakukan di masa lalu sebelum blog dipublikasikan. Berbagai mesin sudah pernah dicicip. Dari Mambo/Joomla, XOOPS, bahkan hingga Drupal. Saya waktu itu sebenarnya memilih antara XOOPS dengan Drupal. Hanya saja, XOOPS belum familiar dan granularitas dari kontrol keamanannya masih asing. Drupal juga sama, sih, taxonomy-nya bujug buneng susahnya.

Oh, ya, pada masa itu sebelumnya telah terjadi perang saudara (lebay memang) antara penggemar Drupal dan Mambo (sekarang bernama Joomla!). Iang sebagai pendakwah Drupal dengan meyakinkan memenangkan hati kami. Saya, sih, secara pribadi tidak bisa PHP. Tapi dari statistik jumlah situs UI yang diserang, Joomla memang rajanya sasaran empuk. Saya pun setuju dengan Drupal.

Saya bukan pengembang web, yang saya butuhkan sebuah sistem yang dengan mudah dijaga. Drupal 4.9 jauh lebih aman dibandingkan dengan Mambo/Joomla. Hanya saja, Drupal 4.9 memiliki sebuah cacat fatal: antarmukanya lebih ditujukan kepada pengembang lanjutan dibandingkan pengguna biasa. Waktu itu menyunting tulisan di Drupal seperti menulis dengan menggunakan Notepad. Belum lagi ketika harus memasukkan gambar.

Karena penggunaan internal dan belum dipublikasikan, kami sempat mengabaikan blog. Apalagi, blog bukanlah bagian dari tugas kerja kami, sampai kini pun tidak. Untungnya FeHa mengangkat kembali ide tentang blog. Lalu dia mengusulkan:

Judul Re: realisasi blog
Pengirim Ferry Haris
Penerima Gladhi Guarddin, Jan Peter Alexander
Tanggal 30.10.2006 19:32
ok deh klo gitu....
untuk engine, Harvard dan edublogs menggunakan engine berikut:

http://mu.wordpress.org/

Ya, itulah cikal mula Blog Staff dan Blog MHS. Ah, ini kenangan pertama kali mendapatkan surel dari realisasi tersebut:

Judul New go.blog.ui.edu Blog: :: JP Banyak Kerjaan ::
Pengirim go.blog.ui.edu
Penerima Jan Peter Alexander
Tanggal 28.11.2006 10:29
Hi,

Blog Anda go.blog.ui.edu telah dibuat di:
http://go.blog.ui.edu/jpmrblood/

Berikut ini adalah akun administrator blog Anda:
 Username: jpmrblood
 Password: 39063c
Alamat Login: http://go.blog.ui.edu/jpmrblood/wp-login.php

Selamat berkarya

--Orang-orang stres @ go.blog.ui.edu

Setelah proses uji coba selesai, blog mengalami fase kedua.

Proses Inovasi dan Birokrasi

Proses birokrasi teknologi informasi di Universitas Indonesia cukup sederhana. Hal ini di satu sisi membukakan berbagai peluang dan inovasi. Tetapi, ini juga membuat sebuah problem. Setiap peluang teknologi informasi tanpa dasar SK Rektor (dalam sistem informasi) kurang memiliki dukungan kuat. Maksudnya dukungan tidak kuat itu adalah keberadaannya bisa hilang sewaktu-waktu misalnya bila pemeliharanya pindah kerja atau jadi Bapak/Ibu Rumah Tangga.

PPSI dan UI menurut saya sudah memberikan kesempatan besar untuk kami berinovasi. Sebagai bentuk tanggung jawab inovasi tersebut, tentang blog ini kami pikir ada hal-hal yang perlu dilakukan. Terutama untuk melindungi UI yang dengan niat baik mau mengadakan blog untuk para sivitasnya dan  untuk melindungi sivitas UI sendiri.

Salah satu pelindung kuat yang diciptakan adalah Disclaimer. Laman terpenting yang melindungi penulis dan penyedia (pihak UI) ini sempat kami pikir untuk digodok oleh bagian legal UI. Tetapi, waktu itu blog masih merupakan eksperimentasi, jadi kami takut sesumbar.

Untungnya Adin waktu itu mengambil laman Disclaimer dari Hotspot UI dan menjadikannya laman untuk blog UI. Tulisan disclaimer ini cukup untuk melindungi walaupun secara tulisan masih banyak kekurangan di sana-sini. [kami bukan orang hukum, jadi maaf bila tulisan agak acak kadut… :P]

Masalah berikutnya adalah penyediaan blog untuk mahasiswa. Sampai saat ini masih belum ada kesepakatan apakah akun UI mahasiswa tetap ketika ia sudah lulus. Ini sangat sulit untuk dijawab dan alasan utama keengganan mahasiswa untuk menggunakan Blog Mhs UI. Masuk akal, sih, menurut saya, kalau mereka mempertanyakan kelangsungan hasil karya mereka.

Pimpinan PPSI secara informal memberikan gestur untuk mereka tetap bisa menggunakan Blog MHS. Hal ini membuat sampai saat ini kami membiarkan mereka dan akan tetap berniat seperti itu. Apalagi, mahasiswa UI cerdas dan cukup menjaga nama baik UI. Bahkan, ada tulisan-tulisan mereka yang membanggakan sehingga kami pun sebisa mungkin mempertahankan hak mereka untuk menulis sekalipun mereka sudah lulus.

Solusi lain untuk melindungi blog mereka adalah kami menyediakan perkakas untuk mengimpor/ekspor blog. Baik di Blog Staff maupun Blog MHS, kami sudah menyediakan mekanisme sehingga apabila sivitas akademika UI hendak pindah dari Blog Staff atau pun Blog MHS, kami dapat bantu.

Kami berharap, mereka seharusnya tak perlu kuatir tentang tulisan mereka. Kecuali kalau ruang server terbakar, blog mereka tersimpan baik dalam back up berkesinambungan. Dan apabila terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan, tulisan mereka dapat diselamatkan dan ditaruh ke tempat lain. Setidaknya ini strategi yang kami sediakan.

Ada sebuah alasan kuat mengapa blog begitu diperjuangkan. Inilah sebenarnya salah satu visi ketika saya dan tim membicarakannya. Lebih tepatnya, ini alasan saya untuk tetap mengurus blog hingga kini.

Blog Sumber Pengetahuan

Ketika dalam kelas Knowledge Management, kami disuruh meneliti tentang sistem KM yang ada. Kelompok saya (bukan saya :P) memilih situs Microsoft untuk diteliti. Hal yang menarik, ternyata di dalam Microsoft sebelum ada Sharepoint, mereka ada Knowledge Base. Knowledge Base adalah  sebuah sistem tanya jawab yang melibatkan poin.

Setiap pertanyaan diberikan lebih dari satu solusi. Setiap solusi diberi poin sehingga ketika ada solusi yang paling banyak dipilih, solusi tersebut menjadi solusi yang terbaik. Solusi tersebut kemudian dipakai di dalam Help Center sebagai solusi yang direkomendasikan.  Mereka juga memliki Whitepaper dan beberapa dokumen lainnya. Lalu, mereka menyediakan pula manual. Dan tentunya, terakhir, mereka menyediakan hotline.

Dari sana saya menemukan bahwa kesulitan dalam mengonversikan dari tacit ke dalam pengetahuan eksternal atau pun sebaliknya adalah proses penangkapan itu sendiri. Proses ini memiliki faktor dominan yakni budaya tempat aktor (manusia yang terlibat dalam proses konversi. Artinya, kualitas konversi bergantung penuh terhadap budaya setempat. Budaya setempat merupakan sesuatu yang bisa berubah, tetapi tetap tidak bisa dipaksakan.

Spektrum Dokumentasi Formal dan Informal

Spektrum Dokumentasi Formal dan Informal

Sudah umum diketahui bahwa bangsa kita memiliki budaya verbal. Hal ini menimbulkan kesulitan bagi banyak orang, termasuk penulis, untuk mendokumentasikan pengetahuan yang dimiliki. Bahkan, dengan Bahasa Indonesia menjadi bahasa kelas tiga di negeri sendiri, setelah bahasa prokem dan bahasa Inggris, membuat bahasa menjadi kesulitan tersendiri untuk mendokumentasikan pengetahuan.

Sedikit catatan, salah satu alasan mengapa saya juga termasuk orang yang menginginkan Bahasa Indonesia dinaikkan derajat lebih lanjut adalah untuk membiasakan kita untuk mendeskripsikan sesuatu dengan jelas dalam bahasa lisan yang dekat dengan bahasa tulisan. Tentang halangan bahasa ini lebih lanjut tidak saya bahas karena ini bukan karya ilmiah dan itu bukan tujuan saya menulis tulisan ini.

Untungnya, seperti halnya teknologi lainnya, teknik pendokumentasian memiliki solusi sederhana dalam menemukannya di hati manusia: PERSONALISASI.

Personalisasi memberikan perasaan memiliki terhadap teknologi. Personalisasi menghilangkan persepsi alienasi terhadap suatu teknologi. Personalisasi membuat penerimaan terhadap sebuah teknologi. Perasaan-perasaan ini yang membuat nyaman manusia sehingga ia menggunakan teknologi tersebut secara aktif.

Dari sana, saya mendapatkan ide dalam hal proses pendokumentasian. Sebuah pengetahuan terdokumentasi sebaiknya melewati fase-fase evolusi. Berikut proses evolusi yang saya dapatkan waktu itu (microblogging belum ada):

  1. Pemilik pengetahuan tacit mengggunakan proses pendokumentasi yang terpersonalisasi seperti forum dan blog. Ini disebut zona informal tak terstruktur.
  2. Para pengumpul pengetahuan kemudian menangkap pengetahuan-pengetahuan ke struktur dokumentasi semi formal dan terstruktur. Instan dari perkakas ini adalah WIKI. Ini adalah zona semi formal terstruktur.
  3. Kemudian, pengetahuan yang sudah terdokumentasikan dalam WIKI dikumpulkan dan diformalkan menjadi bahasa formal semisal whitepaper, jurnal ilmiah, dan manual. Inilah zona formal terstruktur.

Tentu saja, dalam setiap tiga zona tersebut (zona informal tak terstruktur, semi formal tak terstruktur, dan formal) ada proses internal masing-masing zona dalam penciptaan, transfer, dan sintesis pengetahuan.

Uh, kok, tulisan ini jadi kayak paper, yah? 🙂

Pendokumentasian dengan Personalisasi

Pendokumentasian dengan Personalisasi

Belum ada microblogging pada masa lalu. Jadi, ketika saya katakan blog adalah blog yang konvensional yang tidak memiliki batas jumlah huruf.

Blog memiliki sifat berikut:

  1. Personal.
  2. Mendukung interaksi pembaca.
  3. Biasanya bahasa tidak terkungkung.

Berbeda dengan forum, blog selalu dimulai dengan pembagian sebuah pengetahuan. Hal ini membuat diskusi non-formal yang terjadi lebih bersifat menyempurnakan pengetahuan yang dibagikan. Hal ini membuat pengetahuan tersebut menjadi lebih lengkap.

Blog ditulis secara kronologis karena mendeskripsikan konsep jurnal. Berbeda dengan jurnal jenis lainnya, blog memiliki informasi meta yang membantu dalam penemuan kembali. Informasi meta ini dapat berfungsi sebagai query dalam menyintesis pengetahuan dari sekumpulan tulisan terdahulu. Contoh informasi meta yang umum adalah tanggal, kategori, tag, HTML meta, permalink, bahkan properti semantik seperti RDF dan sebagainya. Sebagian dari informasi meta tersebut dibuat secara otomatis oleh mesin blog dan bahkan transparan bagi manusia. Beberapa mesin blog memanfaatkan meta informasi ini untuk menghasilkan tautan antar tulisan. Hal ini menghasilkan navigasi pengetahuan yang lebih baik.

Untuk manusia biasanya digunakan dua informasi meta: kategori dan tag. Kategori adalah sebuah informasi meta yang membedakan setiap tulisan dalam ranah berbeda. Kategori berguna untuk melihat tipe-tipe tulisan yang ada. Sedangkan tag adalah informasi meta yang terdiri atas kata-kata kunci (keywords) yang ada dalam tulisan yang ditulis. Tag berguna untuk mencari tulisan-tulisan yang berhubungan dengan sebuah pengetahuan.

Dengan sifat pendokumentasian yang mudah dan penemuan kembali yang mudah, blog memiliki keuntungan dibandingkan alat pendokumentasi yang lain.

Kesimpulan

Jadi, blog ada bukan karena tren sesaat. Blog juga ada bukan karena ranking. Blog ada agar sivitas akademika Universitas Indonesia dapat mendokumentasikan pengetahuannya dan membagikan pengetahuan tersebut kepada orang lain. Dan dalam waktunya, melalui berbagai pengetahuan yang terkumpul tersebut, mereka dapat membuat paper ilmiah, menghasilkan ide usaha profit mau pun nonprofit, atau sekedar berefleksi untuk menentukan keputusan hidup.

Bisa jadi, mungkin ada ide lain yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Blog Bukan Tren Sesaat℠


℠ Blog bukan tren sesaat is an unofficial service mark from Universitas Indonesia’s Admin for a service to answer what is the use of blog service. [JOKE]

NB: Maaf, saya sudah memotong sebisa mungkin. Kemungkinan ada tulisan-tulisan yang tidak nyambung. Mohon komentar apa bila ada yang hendak ditambahkan atau ditanyakan.