Category Archives

226 Articles
Perjalanan Menuju Keterbukaan Informasi (Bagian 1)
Monster Pengetahuan hidup dengan menelan buku. Ia monster yang baik dan tulus. Namun, jangan main-main dengannya karena ia punya kekuatan.

Perjalanan Menuju Keterbukaan Informasi (Bagian 1)

Monster Pengetahuan hidup dengan menelan buku. Ia monster yang baik dan tulus. Namun, jangan main-main dengannya karena ia punya kekuatan dahsyat.

Judul tulisan saya mungkin sedikit lebay. Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya hendak membagi tulisan-tulisan saya berupa tugas-tugas kuliah dan kalau bisa, karya-karya akhir saya. Daripada usang tersimpan di perpustakaan atau di suatu direktori PC, lebih baik dibagikan.

Mungkin tulisan itu berguna bagi orang lain. Mungkin juga, beberapa menganggapnya sampah. Tapi, saya percaya Internet adalah pengarsip yang baik. Ia bukan hanya mengarsipkan tapi juga menyempurnakan. Orang-orang yang terbantu dengan tulisan itu, menyempurnakannya dan membagikannya kembali. Keberadaban manusia pun meningkat walau tak cukup signifikan untuk diakui.

Setelah mengamat-amati, saya menemukan tiga langkah untuk menerbitkan sesuatu:

  1. Menentukan syarat dan ketentuan.
  2. Membuat sarana publikasi yang baik.
  3. Menyesuaikan karya yang hendak diterbitkan.

Selain alasan pribadi, saya ingin menjadikan blog-blog di UI (Blog Staff UI dan Blog Mahasiswa UI) sebagai sarana blog yang baik. Apalagi, mulai banyak sivitas akademika yang menulis hal-hal yang luar biasa di blog mereka. Saya ingin membuat blog ini menjadi sarana mereka dalam menerbitkan pengetahuan mereka ke dunia.

Saya berharap penemuan saya dalam memperkaya fasilitas blog UI bisa menjadi inspirasi kita bersama. Saya akan membahas dalam beberapa tulisan.

Menentukan Syarat dan Ketentuan

Ini bukan iklan pulsa yang menipu, tetapi ada beberapa hal yang membuat kekuatiran mengenai publikasi sebuah tulisan, misalnya:

  • Plagiarisme
  • Komersialisasi
  • Pengasosiasian tulisan

Plagiarisme dan komersialisasi merupakan isu yang paling utama dalam ketakutan menerbitkan tulisan. Dari pengalaman saya, ketakutan sivitas dalam menerbitkan karyanya merupakan entri utama dalam plagiarisme. Rekan-rekan saya ada yang mengeluhkan bahwa ternyata skripsinya dipakai oleh mahasiswa universitas lain.

Tidak hanya bagi penulis, plagiarisme juga ketakutan dari orang-orang yang hendak memanfaatkan tulisan. Mereka takut bagaimana tulisan itu hendak dibagikan. Jangan-jangan mereka bisa dituntut oleh penulis awal.  Apalagi, bila mereka juga memanfaatkan tulisan tersebut untuk tujuan komersial.

Lisensi Creative Commons

Dari semuanya itu, saya menemukan bahwa kita harus menentukan di awal aturan main untuk menggunakan tulisan tersebut. Jawabannya pun adalah menyematkan lisensi Creative Commons Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa 3.0 Tanpa Adaptasi (CC BY-NC-SA 3.0).

Inti dari lisensi tersebut adalah:

  1. Saya setuju untuk karya saya digunakan oleh orang lain dengan menyebutkan kredit yang tepat.
  2. Saya tidak setuju untuk karya saya digunakan oleh orang lain untuk tujuan komersial tanpa seizin saya. [1]
  3. Saya ingin karya orang yang berdasarkan karya saya tidak menjadi eksklusif. [2]
  4. Intinya, silakan hubungi saya langsung untuk mendapatkan izin lain untuk tujuan lainnya.

Ini sebenarnya bisa jadi amunisi kita untuk menuntut orang-orang yang menyalin tanpa izin dan menaruhnya kepada blog-blog adsense (blog yang cuma digunakan untuk menghasilkan uang dari Adsense). Tetapi, karena kita menyetujui orang lain untuk mengutip tulisan kita dengan menyebutkan kredit yang tepat, orang-orang lain tidak perlu takut menggunakan tulisan kita untuk mengutipnya dalam pekerjaan mereka masing-masing.

Saya juga menginginkan orang yang menggunakan tulisan saya berbagi dengan lisensi yang sejenis. Jadi, saya tak perlu takut untuk karya turunan (derivasi) dari tulisan saya menambah syarat yang aneh-aneh. Ini menghapus ketakutan saya untuk pengetahuan yang telah saya berikan menjadi pengetahuan yang eksklusif.

Saya bukan ahli hukum dan belum tentu juga lisensi Creative Commons diakui di Indonesia. [3] Kalau itu, permasalahannya mengenai infrastruktur hukum di Indonesia. Saya percaya bahwa hukum Indonesia cukup untuk melindungi karya-karya bangsa. [Lirik tukang hukum: benar, gak?]

Penyangkalan (Disclaimer)

Sebuah karya yang dibaca umum tentunya memiliki resiko asosiasi. Kadang, orang berpikir seperti yang tidak kita duga. Pikiran tersebut kemudian menghasilkan asumsi-asumsi yang membahayakan. Nama baik seseorang/institusi bisa rusak atau bahkan terjadi kerusakan kolateral karena penggunaan yang tidak sesuai

Ada beberapa contoh alasan yang saya dapati mengapa itu terjadi:

  1. Tulisan ditulis untuk kalangan tertentu, misalnya dibuat dengan asumsi pembaca seprofesi atau memiliki pengetahuan dasar yang cukup untuk mengerti pekerjaan yang ada di dalam tulisan tersebut.
  2. Pengutip mengira bahwa tulisan tersebut merupakan pengumuman resmi dari institusi tempat penulis bekerja atau perkumpulan lain yang penulis menjadi pengurus/anggota.
  3. Pengutip sengaja mencari sensasi.

Untuk melindungi penulis dari tuntutan hukum atau pun bahaya lainnya, diperlukan menulis sebuah Sangkalan (Disclaimer). Dengan menulis penyangkalan atas apa yang tidak menjadi maksud penulis, diharapkan pembaca mengerti maksud-maksud penulisan dibuat. Tidak ada alasan bagi pembaca untuk menyalahgunakan informasi dalam tulisan.

Saya sendiri dalam blog ini menyebutkan dengan jelas bahwa tulisan saya merupakan tulisan pribadi. Saya menulis di blog ini atas nama pribadi sebagai catatan. Universitas Indonesia hanya sebagai penyedia layanan saja.  Dengan demikian, orang tidak bisa menjadikan sarana blog saya sebagai konsultasi profesional, walau pun saya juga suka membantu. Institusi saya, Universitas Indonesia, juga takkan tercemar nama baiknya apa bila suatu saat saya menulis topik kontroversial dari sisi pandangan pribadi.

Selain tulisan penulis, blog juga rentan terhadap tulisan orang lain yang ada dalam bagian komentar. Penulis tidak dapat mengendalikan komentar. Bahkan, ada kasus ketika penulis berusaha mengendalikan komentar, komentator merasa dirugikan.

Beberapa orang mematikan komentar pada blog mereka. Sebagian lagi menghendaki agar dikirim surel untuk berkomentar. Ada juga yang memoderasi komentar yang masuk. Apa pun batasan yang dipasang, menurut saya sayang sekali bila sistem komentar pada blog dimatikan.

Beruntungnya bangsa Amerika Serikat yang memiliki First Amandment, memiliki fondasi yang cukup untuk melindungi hak bersuara mereka. Berdasarkan amandemen UUD mereka tersebut, hukum di Amerika Serikat cenderung lebih lengkap dalam melindungi hak bersuara dan termasuk penyediaan konten yang dibuat oleh pengguna (user generated content).  [4] Biasanya ada tiga aspek penulisan penyangkalan, yakni Hak Cipta, anak di bawah umur, dan Pornografi yang mungkin ada. [5]

Bila kita terinspirasi untuk menuliskan semuanya itu, ada kemungkinan dokumen Penyangkalan menjadi panjang dan terdiri dari banyak paragraf seperti dokumen-dokumen legal. Beruntung, Dave Taylor memberikan beberapa poin berikut untuk menaruh Penyangkalan komentar: [6]

  1. Setiap komentar tanggung jawab dari penulis komentar.
  2. Penulis berhak menghapus komentar yang dirasa tak perlu.
  3. Penulis berhak menyunting komentar bila dirasa perlu.

Tiga hal ini yang dituliskan dalam penyangkalan dapat memberikan bagi setiap orang yang membaca ketentuan tersebut.

Kesimpulan

Dengan menggunakan lisensi dan penyangkalan, penulis blog dapat menghilangkan keambiguan dalam menggunakan karya tulis tersebut. Selain melindungi penulis, ia juga menjadi payung yang melindungi pembaca yang hendak berkontribusi atau pun yang hendak membuat sebuah pekerjaan karya tulis tersebut.

Terakhir, sebagai penyangkalan:

Saya bukan ahli hukum dan tulisan ini berdasarkan hasil pengamatan pribadi. Untuk kejelasan aspek-aspek yang tertulis dalam tulisan ini, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan pengacara Anda.

Selanjutnya poin kedua akan saya bahas dalam bagian menyiapkan infrastruktur.


  1. Creative Commons. Non-Commercial. http://wiki.creativecommons.org/NC [terakses tanggal 10-11-2012]  ^
  2. Creative Commons. Share Alike. http://wiki.creativecommons.org/Share_Alike [terakses tanggal 10-11-2012] ^
  3. Indonesia Law Report (ILR). Is Creative Commons license applicable in Indonesia? http://indolaw.alafghani.info/2007/05/is-creative-commons-license-applicable.html [terakses tanggal 10-11-2012] ^
  4. Lawrence G. Walters. User Generated Content Sites – Formula for Profit, or Recipe for Disaster?  http://www.firstamendment.com/site-articles/tube-sites/ [terakses tanggal 10-11-2012] ^
  5. http://www.asaecenter.org/Resources/ANowDetail.cfm?ItemNumber=35092 [terakses tanggal 10-11-2012] ^
  6. Dave Taylor. Crafting the Perfect Blog Comment Disclaimer. http://www.intuitive.com/blog/crafting_the_perfect_blog_comment_disclaimer.html [terakses tanggal 10-11-2012] ^

 

Bacaan Lebih Lanjut

Data Terbuka, Bukan Sekedar Masalah Transparansi
Pengetahuan adalah sumber kekuasaan.

Data Terbuka, Bukan Sekedar Masalah Transparansi

Tome of Knowledge

Pengetahuan adalah sumber kekuasaan.

Biasanya, pemerintah menggunakan sebuah proyek pemerintah menggunakan tender dengan dana triliunan untuk memenuhi suatu target capaian. Pemerintah melalui kontraktor pihak ketiga, membangun infrastruktur bagi masyarakat. Namun, semenjak adanya crowdsourcing, pemerintah daerah dapat mengutilisasi data-data yang dimilikinya menjadi pengetahuan yang kaya dan menjadi sebuah industri tersendiri.

Ada beberapa aspek yang menyebabkan industri data terbuka:

  • Keterbukaan Pemerintah Daerah dalam memberikan data.
  • Partisipasi aktif warga dalam memperkaya data.
  • Teknologi Semantik.

Keterbukaan Pemerintah Daerah

Pemerintah Daerah sebagai penyedia dan inang dari data-data yang ada memiliki kewajiban untuk melepas data-datanya kepada publik untuk dapat dikonsumsi oleh publik. Secara hukum, UU Keterbukaan Informasi Publik telah memberikan dasar hukum untuk mereka melepaskan data ke publik. Kebijakan-kebijakan publik sebenarnya bisa dirilis dan dikonsumsi oleh warga.

Untuk memulai membuka data, Pemerintah Daerah akan memiliki sikap paranoid. Ini wajar. Jangankan mereka, orang-orang di dunia akademisi saja yang katanya punya semangat berbagi dan kritis masih banyak yang belum mau membuka informasinya. Itu sebabnya, sebelum berbicara mengenai keterbukaan data kebijakan untuk transparansi, sebaiknya pemerintah berkonsentrasi kepada data-data yang memang untuk umum.

Sebagai langkah awal, ada tiga jenis data yang dapat dibuka oleh Pemerintah Daerah antara lain:

  • Data spasial, misalnya lokasi tempat umum seperti terminal, pemberhentian Bus, SPBU, pasar, dan museum.
  • Data kronologis, misalnya jadwal layanan publik, acara komunitas, dan jadwal angkutan umum.
  • Data info, misalnya properti kesenian/budaya lokal dan produk-produk lokal.

Data tersebut awalnya dimasukkan oleh pemerintah. Namun, diharapkan sistem dapat diperkaya dengan masukan dari Warga.

Partisipasi Warga

Ada beberapa alasan untuk visibilitas partisipasi warga:

  • Adanya ledakan penggunaan media sosial merupakan sebuah indikasi positif mengenai kesiapan warga dalam memberikan data.
  • Penggunaan perangkat bergerak dan Internet yang semakin jamak membuat warga dapat menggunakan aplikasi-aplikasi khusus yang telah dilengkapi dengan teknologi spasial.
  • Secara psikologis, walau pun ini pendapat pribadi saya, bangsa ini menyukai aplikasi-aplikasi personal yang membuat mereka lebih dikenal.

Hal yang perlu diperhatikan adalah vandalisme data. Ada beberapa solusi untuk ini:

  • Moderasi data. Mahal karena memerlukan orang-orang khusus untuk itu. Namun, dengan strategi prioritas data, dapat ditekan jumlah orang yang diperlukan. Dapat juga diserahkan kepada warga-warga yang berkomitmen.
  • Pemeringkatan data. Dengan ini, warga dapat menurunkan data-data yang tidak baik dan mempromosikan data yang benar.
  • Pelaporan data. Warga dapat melaporkan ketidakbenaran data.

Teknologi Web Semantik

Kebetulan riset mahasiswa saya mengenai teknologi semantik. Teknologi Web Semantik merupakan bagian dari manajemen pengetahuan. Properti yang paling penting dari konsep Web Semantik adalah Web Semantik menggunakan konsep open world assumption.

Konsep open world assumption menentukan kebenaran sebuah pernyataan dari repositori pengetahuan yang ada. Namun, bila sebuah pernyataan tidak didapati dalam repositori, maka informasi ini dinyatakan sebagai tidak dapat ditentukan (bukan benar atau salah).

Pusing, yah? Contohnya:

Di dalam repositori pengetahuan terdapat pernyataan sebagai berikut:

“JP” adalah “Warga Jakarta”

Lalu, kemudian ada sebuah pernyataan baru berikut:

“Peter” adalah “Warga Jakarta”

Untuk Web Semantik, ketika ditanyakan kebenarannya, dia akan menjawab “Tidak Tahu”. Sehingga, informasi tersebut dapat ditambahkan ke dalam repositori pengetahuan sebagai sebuah nilai kebenaran (truth value).

Prinsip inilah yang kemudian dipakai dalam Web Semantik untuk melakukan mash up data. Data dari satu situs dapat dipakai untuk memperkaya informasi dari situs lainnya. Hal ini membuat adanya situs-situs tertentu untuk memenuhi kebutuhan tertentu. (niche)

Bayangkan, berapa bisnis lokal yang dapat memperkaya layanannya dengan menggunakan data-data tersebut? Dengan itu, layanan kepada warga lebih baik, bisnis semakin berkembang, dan pajak pun bisa bertambah.

Tentu saja, ini perlu waktu dan investasi, terutama komitmen.

Saya tidak janji, tapi saya coba membuka tulisan-tulisan saya mengenai ini lebih lanjut.* (Kalau tidak malas dan waktu mengizinkan)

Seperti biasa, saya berusaha menyingkat tulisan ini dan membuang banyak detail. Mudah-mudahan tidak terlalu rumit dan panjang. Video di bawah ini menjelaskan contoh kasus pemerintah daerah Washington D.C. yang melepas datanya dan bagaimana pihak ketiga memanfaatkan data tersebut untuk memberikan layanan yang luar biasa kepada warganya.

Identitas di Internet
Identitas di Internet

Identitas di Internet

Anonimitas

Identitas di Internet

Saat ini ada dua kutub pandangan mengenai identitas Internet. Yang pertama adalah penganut Transparansi (a single identity transparancy). Identitas di Internet harus berupa identitas asli dan bukan identitas palsu. Dengan adanya identitas asli ini, pengguna identitas dapat bertindak sepantasnya. Pendapat ini didukung oleh Mark Zuckerberg, pendiri Facebook.

Yang kedua adalah penganut Anonim (undisclosed identities). Identitas di Internet harus mendukung kebebasan berpendapat dan anonimitas merupakan salah satu alat untuk itu. Pendapat ini didukung oleh Christopher Poole alias M00t, pendiri 4Chan.

TL;DR

Selamanya Internet akan menjadi sebuah sumber anonim. Identitas di Internet takkan pernah bisa dipercaya. Hanya orang bodoh yang benar-benar mempercayainya.

Keunggulan anonimitas tersebut merupakan sarana yang penting untuk orang dapat bersuara. Terkadang, sebuah kebenaran hanya perlu diperdengarkan untuk orang bisa menyelidikinya. Media-media arus umum yang sudah tersetir menyebabkan dibutuhkan saluran alternatif untuk dapat menyuarakan hal tersebut.

Kebenaran Data di Internet

Internet bisa menjadi sebuah tempat untuk menyampah [Budi Rahadjo, Mari “Menyampah” Di Internet, InfoLINUX Juli 2003]. Hal ini bisa dilakukan dengan menyediakan informasi yang tidak akurat secara massal. Ketika informasi salah tersebut tersedia secara massal, maka informasi tersebut menjadi sebuah informasi kebenaran. Sebagai contoh, beramai-ramai orang menulis Perang Diponegoro terjadi tahun 1815, bukan 1825. Mesin pencari akan menemukan 1815 sebagai sebuah “kebenaran”.

Dokumen-dokumen “kebenaran” ini banyak beredar di Intenet. Celakanya, banyak orang, termasuk Bang Rhoma, yang menganggap bahwa sumber data ini benar. Padahal, bahkan Wikipedia pun tidak dapat dijadikan sumber referensi bagi tulisan ilmiah. Walau pun ada usaha-usaha dalam meningkatkan kualitas Wikipedia, tetapi tetap sampai saat ini Wikipedia tidak dapat dijadikan bahan rujukan langsung.

Prinsip sebuah tulisan ilmiah adalah memiliki dasar-dasar yang telah dibuktikan dari penelitian orang lain. Hipotesis yang dipaparkan dapat diujicobakan kembali. Yang terutama, adanya pengakuan dari pihak-pihak autoritatif yang mendukung hipotesis tersebut (penyunting/editor). Internet, sebagai sumber tulisan yang bebas tidak selalu memiliki penyunting yang dapat dipertangungjawabkan.

Ketidakjelasan informasi inilah yang menyebabkan kebenaran dalam Internet harus selalu dipertanyakan.

Internet dan Anonimitas

Ketidakjelasan Internet dapat pula dijelaskan melalui protokol Internet itu sendiri yang memang anonim. Protokol HTTP yang dibangun di atas TCP/IP lazim dipakai untuk berhubungan. Protokol HTTP adalah sebuah protokol yang tidak menyimpan keadaan terakhir (stateless). Setiap sambungan dianggap sambungan yang berbeda satu sama lain. Saya memutuskan untuk menjelaskannya dengan analogi kisah warung serba ada, Warung Wawan.

Analogi Anda dan Warung Wawan

Ketika Anda ke warung Wawan, berapa kali pun Anda datang ke warungnya, Anda akan dianggap seperti pertama kali datang. Wawan takkan pernah mengenali Anda. Hal ini karena warung Wawan yang stateless tidak akan pernah menyimpan informasi kedatangan Anda sehingga sulit untuk berelasi dengan Wawan.

Salah satu kekurangan dari Warung Wawan adalah sebagai berikut: suatu hari Anda lupa kembalian. Anda datang ke warung Wawan dan dia tidak mengenali siapa Anda dan Anda sulit untuk mengklaim uang Anda. Apalagi, pada saat itu warung Wawan sedang ramai dikunjungi puluhan pengunjung.

Warung Wawan pun berusaha untuk memperbaiki diri dengan mencatat kedatangan Anda. Ia berusaha mencatat kedatangan Anda dengan memberikan tiket. Hal ini yang dilakukan oleh banyak situs dengan menyediakan Cookie dan Session. Wawan menyuruh Anda ke mana-mana membawa tiket tersebut.

Ketika Heker datang di tengah-tengah Anda dan Wawan. Heker melihat sebuah peluang dari tiket tersebut. Dengan bermodalkan kamera digital SLR, ia berhasil memotret tiket tersebut. Kemudian, ia mencetak tiket tersebut sehingga mirip 100% dengan tiket Anda.

Ketika Anda pulang, Heker diam-diam mendatangi Warung Wawan. Wawan seperti biasa menanyakan tiket yang dimiliki. Wawan lihat tiket Anda di tangan Heker, “Oh, Pak Anda, selamat datang!”. Wawan pun mulai menawarkan produk-produk berkualitas tinggi kepada Heker. Wow, ternyata Anda telah meninggalkan sejumlah uang yang sangat besar di Warung Wawan agar tidak perlu membawa uang.

Heker membeli dildo, video-video SM, dan segulung tisu dari Warung Wawan dengan menggunakan tiket Anda. Anda tidak sadar kalau uangnya dipakai untuk membeli barang-barang najis dari Warung Wawan. Hal ini karena mungkin jumlah transaksinya tidak terlalu besar dibandingkan apa yang biasa Anda beli. Apalagi, Anda terlalu sibuk belajar agama dan kenegarawanan.

Sepuluh tahun kemudian, Anda mencalonkan diri menjadi seorang Gubernur. Seorang yang santun, saleh, dan bervisi menjadi citra diri Anda. Semua orang kagum pada sosok yang seakan tak bercacat cela. Namun tidak demikian halnya dengan Cericek. Wartawan ini tidak percaya dengan citra sempurna ini. Ia bersama rekan-rekan media lainnya berlomba mencari cela Anda.

Lelah karena gagal menemukan kelelahan, tak sengaja Cericek mengunjungi warung Wawan. Wawan yang polos dan kini telah lebih ramah pada pengunjungnya pun menyapa Cericek, “kecil-kecil begini, warung ini langganannya Pak Anda, lho…”. Cericek terkejut mendengar berita durian jatuh ini.

Cericek mulai mengorek-ngorek informasi mengenai Anda. Wawan yang polos pun sampai memperlihatkan rekam jejak Anda. Tidak ada UU yang melindungi rekam jejak dan privasi seseorang di Indonesia, jadi Wawan pun tak sadar bahwa rekam jejak dan privasi itu adalah sesuatu yang penting. Apalagi, Anda sudah menjadi figur publik.

Cericek pun membeli log tersebut dengan harga yang mahal dari Wawan. Dari log yang berbuku-buku itu, tak sengaja ia melihat pembelian dildo dan video-video tak wajar. Cericek melonjak kegirangan. Ia pun membuka komputer dan mulai mengetik artikel “Anda dan hobi tersembunyinya”. Penyuntingnya pun kegirangan dengan informasi itu dan memutuskan untuk memasang berita tersebut di halaman depan.

Anonim dalam Jaringan

Jaringan Internet itu sendiri anonim. Sebuah paket yang dikirimkan dari peladen ke peramban dan sebaliknya melewati berbagai jaringan. Itu sebabnya, Internet disebut sebagai jaringan tak terpercaya. Paket tersebut seakan dilemparkan ke dalam kotak hitam dan di ujung sana menantikan paket tersebut tidak tahu telah melewati mana saja. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya.

Sebagai contoh, sebuah percobaan traceroute (sebuah perkakas sederhana yang bertujuan melihat tempat-tempat persinggahan paket jaringan) ke sebuah tujuan dari tempat tertentu akan menghasilkan jalur tertentu. Pada waktu yang lain, ketika traceroute kembali dijalankan dengan parameter yang sama, jalur yang dihasilkan berubah.

Ada beberapa alasan yang terpikirkan oleh saya saat menulis ini:

  • Bisa jadi sebuah ISP menerapkan NAT dengan IP publik yang berubah-ubah.
  • Alokator antrian menerapkan algoritma Round Robin pada pengiriman paket.
  • Ada router yang sedang rusak atau diganti baru misalnya.
  • Router menghitung ulang jalur transmisi dan menemukan jalur optimal yang baru.
  • dan lain sebagainya.

Internet itu sendiri adalah sekumpulan jaringan lokal yang saling terhubung dan memutuskan untuk bisa saling berkomunikasi satu sama lain. Ia seperti sebuah LAN dari sekumpulan WAN. Kita tidak tahu apa yang terjadi ketika sebuah paket di WAN tertentu.

Identitas dan Kebebasan Bersuara

Beruntung, yang hancur pada cerita Anda dan Warung Wawan hanyalah sebuah karir politik seseorang. Namun, malang bila ini terjadi kepada para aktivis HAM dan oposisi. Mereka yang mempertaruhkan hidup mereka untuk memperjuangkan hak-hak orang lain terancam dengan adanya identitas. Di tengah opresi kediktatoran dan kekuatan legal korporasi, jelas mereka yang tak berkuasa tak dapat terang-terangan menyuarakan kegalauan.

Kekuatan Internet sebagai sebuah sumber informasi yang perlu dikonfirmasi merupakan keuntungan bagi para golongan kiri untuk menyuarakan suara mereka. Kasus penjelekan citra KPK merupakan contoh klasik. Ketika media-media berita Indonesia tidak berani memberitakan secara gamblang, suara-suara di media sosial menyatakan keresahan mereka.

Boleh jadi, Jokowi merupakan contoh tokoh yang memilih jalur ini. Ketika partai-partai memilih Foke, Jokowi memilih untuk merangkul Internet. Sikap simpatik Jokowi membuat dia dikagumi di Kaskus. Penjualan pernak-pernik Jokowi lewat forum Jual-Beli cukup banyak menyedot perhatian. Suara dari mulut-ke-mulut di Internet membuat golongan muda yang melek Internet dan BBM (baca: sebagian besar warga Jakarta) membuat orang banyak terpaut kepada Jokowi.

Saya sendiri melihat ini merupakan peluang perubahan bagi tatanan bernegara kita. Partai-partai perlu mawas diri dan tak lagi merasa bahwa mereka adalah pusat tata surya. Internet menjadi suara populer setelah berita. Bahkan di Amerika Serikat sendiri, FOX News mulai dipertanyakan sebagai sumber berita satu-satunya.

Tentu, kebebasan berpendapat perlu waktu. Dari sampel kualitas komentar pada situs-situs berita, para pemberi komentar seakan anak-anak yang tidak pernah diajari oleh orang tuanya. Namun, ini adalah sebuah pertanda bagus. Ini adalah proses awal dari kesadaran akan hak mengeluarkan pendapat. Saat ini orang masih berpikir bahwa identitas aslinya terlindungi.

Bangsa kita mungkin masih dalam euforia awal bebas berpendapat. Vandalisme dalam berbicara itu suatu saat akan terkikis. Seiring dengan kejamakan berpendapat, bangsa ini akan mulai berpendapat dengan benar. Bahkan, bisa jadi akan terjadi pelaporan fakta secara daring. Hal ini mungkin terjadi karena orang masih merasa bahwa identitas aslinya terlindungi dan mudah-mudahan ada UU yang melindungi.

Identitas Media Sosial

Salah satu keresahan saya adalah adanya usaha pembuatan identitas asli pada media sosial. Media sosial berusaha menjadi pusat penyedia identitas dan berusaha seakan-akan yang paling valid di Internet. Padahal, ada beberapa hal yang membuat identitas asli di Internet itu adalah semu.

Proses Registrasi yang Longgar

Proses registrasi ke sebuah media sosial hanya cukup menyediakan alamat surel. Hal ini menyebabkan seorang dapat meregistrasikan diri dengan informasi palsu tapi terlihat valid.

Sebagai contoh [Akun ini tidak pernah ada dan hanya contoh fiktif], saya dapat menjadi “Indira Sukma Dewi” dengan menyediakan data sebagai berikut:

  • Membuat surel di Yahoo dengan alamat “indri.sukma@yahoo.com”.
  • Menyediakan foto-foto yang diambil dari Google Image Search seorang artis Thailand yang tak terkenal. Atau ambil dari forum. Kalau mau niat sedikit, gunakan GIMP untuk mengubah beberapa fitur gambar.
  • Menyediakan alamat antah berantah yang benar-benar ada tetapi sebenarnya tidak ada. Misalnya, “Jatinegara Kaum, Jakarta Timur”.

Apakah data tersebut bisa dibuat? Tentu saja bisa. Mungkin beberapa berargumen bahwa Yahoo! Mail memerlukan alamat surel kedua. Tetapi, dengan menggunakan alamat surel sekali pakai yang tersedia di Internet, kita bisa mendaftarkan diri sebagai orang lain.

Dengan demikian, terbukti bahwa media sosial sebagai penyedia identitas tidak seharusnya dijadikan sumber yang valid.

Internet Melibatkan Kebijakan Antar Negara

Pendiri Wikileak, Assange, memiliki banyak negara yang bersedia untuk menerimanya untuk suaka politik. Hal ini karena tidak ada satu negara pun di muka bumi yang benar-benar bisa menekan Internet. Amerika hanya bisa mendorong negara sekutunya untuk bisa menahan Assange sehingga bisa di deportasi ke Swedia dan baru benar-benar bisa ditangkap oleh Amerika.

Contoh lainnya adalah 4Shared. Server mereka terletak di negara Long Islands (British), sebelah Puerto Rico. Sehingga, Indonesia tidak dapat mengejar untuk menutup pusat layanan data yang memiliki banyak lagu musisi Indonesia.

Ketika seseorang mempercayakan data identitas Anda kepada sebuah perusahaan di Amerika Serikat semacam Facebook, Google, dan lain sebagainya, seseorang sebenarnya menyerahkan data tersebut kepada niatan baik sang penyedia layanan media sosial. Data di dalam media sosial tidak dapat benar-benar hilang seperti yang diinginkan pengguna. Namun, tidak ada seorang pun yang dapat menuntut media sosial.

Kebijakan privasi yang sering berubah-ubah sering kali menjadi celah bagi media sosial dalam melindungi dirinya dari tuntutan. Lemahnya kebijakan privasi dan perlindungan konsumen di sebuah negara menjadi celah bermain bagi para pengiklan. Apalagi, bila pengiklan membuat perusahaan di negara-negara yang tidak memiliki perjanjian ekstradisi.

Sebuah pertanyaan yang relevan yang perlu dipertanyakan pada sistem Indonesia, disadur dan diubah dari Lawyers.com:

  • Apakah negara saya menyediakan perlindungan hukum bagi perlindungan privasi saya di media sosial.
  • Jika ada, proteksi apakah yang disediakan bagi perlindungan privasi? Uang ganti rugi?
  • Jika sebuah gambar yang saya taruh di media sosial digunakan oleh pihak ketiga, adakah perlindungan terhadap Hak Salin (copyright?)? Dapatkah penyedia media sosial yang harus bertanggung jawab atas hal tersebut?

Internet menyebabkan sebuah hukum dalam sebuah negara tidak benar-benar efektif 100%.

Perlindungan Negara Terhadap Internet

Tentu saja, ketika dibilang bahwa Internet adalah sebuah alam rimba tidak sepenuhnya benar. Negara dapat menyediakan perlindungan bagi warganya dengan menyediakan klausul yang tepat bagi penyedia jasa di Internet.

Sebagai contoh, untuk melindungi hak paten perusahaan di Amerika, setiap produk yang masuk ke dalam Amerika Serikat harus sesuai dengan hukum. Apabila sebuah perusahaan gagal memenuhi tuntutan hukum, Amerika secara resmi melakukan pelarangan terhadap peredaran produk-produk yang melanggar.

Dengan kata lain, kekuatan potensi pasar di Amerika Serikat memaksa perusahaan asing sekalipun untuk memenuhi tuntutan mereka.

Indonesia sebagai negara dengan potensi pasar yang besar sebenarnya dapat berbuat seperti itu. Indonesia berhak meminta kepada sebuah operator layanan jasa pesan teks untuk memindahkan pusat datanya ke Indonesia. Sehingga, layanan tersebut dapat dipantau dan apa bila ada proses hukum yang melibatkan operator tersebut, hukum di Indonesia dapat menjangkaunya.

Pemerintah sebagai pengawas juga memerlukan transparansi. Namun, saya percaya UU Keterbukaan Informasi Publik menyediakan instrumen bagi publik untuk memonitor pemerintah. Fungsi pemonitoran ini penting agar pemerintah tidak menjadi diktator.

Sikap Saya (Kesimpulan)

Saya percaya bahwa Internet harus dipahami sebagai anonim. Hal ini penting agar orang tidak mempercayai sepenuhnya informasi pseudo dari identitas di sosial media atau apa pun penyedia informasi. Namun, jaminan anonim ini memberikan dorongan agar orang dapat menyuarakan suara-suara yang terkungkung. Keadilan dapat ditegakkan dan bara dalam sekam bisa dipadamkan.

Sebagai sumber informasi alternatif, Internet tidak seharusnya dipercaya 100%. Namun, ia bisa memberikan perspektif berbeda yang dapat membukakan pandangan. Dengan kata lain, ia mencerdaskan manusia penggunanya.


NB:

Maaf tulisan ini seperti ala carte karena saya sudah memangkas banyak topik mengenai identitas dan privasi. Tapi, hasilnya masih saja seabrek tulisan… 😛

Perangkat Lunak dan Kehidupan Bernegara

Perangkat Lunak dan Kehidupan Bernegara

Ada beberapa berita yang beredar di Internet yang cukup berpengaruh saat ini mengenai teknologi dan pengaruhnya terhadap berbangsa dan bernegara. Seringkali orang meremehkan fungsi vital teknologi sebagai infrastruktur dasar dalam berkomunikasi. Artinya, secara tidak sadar, manusia yang telah terhubung secara digital hidupnya, pada level berbeda, bergantung kepada perangkat lunak. Itu sebabnya, saya gatal menulis catatan ini.

Tidak seperti koran yang menulis berita beropini dengan label “Fakta”, saya dari mula akan bilang bahwa artikel ini berisi pendapat saya. Jadi, sudah pasti tidak 100% obyektif.

Sekali Lagi UEFI dan “Trusted Computing”

Tulisan Matthew Garrett tentang UEFI membuat saya tambah kuatir tentang masa depan perkomputeran. Garret berpendapat bahwa UEFI memang akan memiliki beberapa celah keamanan untuk rilis-rilis awal. Tetapi, seiring dengan perbaikan, celah-celah itu tertutup sehingga tidak ada lagi tersisa untuk diserang.

Sebagai seorang yang berkecimpung dengan dunia komputer, saya cuma bisa geleng-geleng. Masalah keamanan itu masalah kucing-kucingan. Seberapa kuat pun sebuah algoritma, dengan binari lebih besar dari kernel Linux, pasti ada saja celah dari firmware UEFI. Saya termasuk yang tidak setuju dengan fitur secure boot pada UEFI.

UEFI merupakan sebuah bagian dari yang namanya “Trusted Computing”, komputasi terpercaya. Sebuah ide tentang bagaimana komputer bisa dibuat agar komputer bebas dari virus, trojan, dan aplikasi-aplikasi ganas. Perlindungan sempurna karena dari semenjak menyalakan komputer, sudah ditentukan hanya aplikasi-aplikasi yang dipercaya saja yang berjalan.

Masalahnya, mereka memutuskan bahwa pengguna, yang seharusnya pemilik perangkat keras, tidak termasuk yang dapat dipercaya. Hal ini karena banyak pengguna yang menggunakan program ilegal untuk menjalankan torrent atau pun aplikasi peretas. Kendali ada di tangan korporasi terpercaya.

Penjajahan Hak Milik Barang

Cory Doctorow dalam ceramahnya mengingatkan tentang bahaya mengenai hal ini. Pemerintah yang represif dapat memasang alat penyadap dan memotong kebebasan. Selain itu, peran sektor-sektor bisnis menentukan fungsi mana saja yang dapat diaktifkan dari sebuah produk yang kita beli.

Orang bilang bahwa sekarang zamannya gadget (doctorow menyebut “appliance”, tetapi saya pikir kita lebih familiar menyebutnya “gadget”). Sebuah perangkat dibuat untuk memenuhi fungsi-fungsi tertentu saja. Misalnya, untuk membuat sebuah TV pintar, membuat telepon pintar, dan lain sebagainya.

Namun, kenyataannya bahan yang digunakan sebenarnya adalah sebuah komputasi untuk kebutuhan umum (general purpose computing). Komputer ini kemudian disusupi dengan aplikasi mata-mata (spyware) yang mencegah pengguna tidak bisa melakukan apa pun selain yang dibutuhkan. Ia bahkan bisa membuat barang tersebut melakukan penghancuran diri sendiri.

Anda tahu masalahnya di mana?

Nantinya orang bukan lagi membeli barang, tetapi menyewa barang berdasarkan EULA. Hal ini karena orang tidak benar-benar memiliki barang yang “dibelinya”.

Sensor dan Pengawasan

Perang dunia maya itu nyata. Mereka bukan sekedar perang-perang ingusan yang sekedar mengubah tampilan situs. Mereka perang untuk mencuri dan menghancurkan sumber daya negara lain.

Mungkin perang tersebut tidak langsung mengenai warga sipil. Teknologi dari perang tersebut akan dapat diimplementasikan ke dalam dunia sipil. Dengan menggunakan teknologi tersebut, kebebasan sipil dapat dikendalikan.

Sensor terhadap informasi menyebabkan teknologi tidak dapat lagi digunakan untuk melakukan protes. Dukungan terhadap KPK dan institusi lainnya mungkin tidak dapat disalurkan lagi. Oposisi pun dapat dibungkam.

Terjadi tren di seluruh dunia, termasuk di Amerika, muncul usaha pemerintah untuk dapat menyensor warganya. Dari sensor Twitter, sensor hasil pencaharian di Google, dan sampai penutupan jalur Internet (One kill switch).

Kalau menurut saya, ini wajar saja terjadi. Seperti dahulu wartawan demikian tidak terkendali dan akibatnya borok perang Vietnam terbuka. Wartawan melaporkan strategi tentara Amerika yang membakar desa-desa. Ini yang menyebabkan rakyat Amerika marah dan mencabut dukungan terhadap perang Vietnam.

Apa yang terjadi di Mesir dan Syria merupakan alarm bagi pemerintah. Hukum yang saat ini memenangkan lobi-lobi korporasi membuat banyak pihak yang terpinggirkan merasa hak mereka diambil. Bukan tidak mungkin, kejatuhan ekonomi Eropa akan menjatuhkan ekonomi global. Rakyat tentu akan bertanya, mengapa ini bisa terjadi? Dan sisanya dapat dibayangkan sendiri.

Jika pemerintah dapat mengendalikan teknologi komunikasi, ke manakah arah bara dalam sekam itu pergi?

Open Government

Untungnya, saat ini sudah banyak proyek Open Government (OpenGov) di seluruh dunia. Dari sisi pemerintahan, OpenGov adalah sebuah kebijakan transparansi yang memperbolehkan warganya mengakses dokumen-dokumen negara. Dengan demikian, warga negara dapat mengakses dokumen tersebut.

Dari sisi ilmu komputer, OpenGov merupakan evolusi dari e-government. Dalam sistem ini, interaksi antar dua sistem dapat dilakukan karena penggunaan dokumen standar terbuka. Selain itu, pemanfaatan teknologi web semantik membuat data-data tersebut dapat dipadukan untuk menjadi sebuah pengetahuan baru.

Sayangnya, keterbukaan adalah sesuatu yang terlihat menakutkan. Sama seperti proyek-proyek data terbuka, OpenGov banyak berbenturan dengan keengganan negara untuk membuka dokumennya. Lagipula, ada beberapa dokumen negara yang merupakan rahasia negara. Bagaimana dengan itu?

Indonesia memiliki instrumen UU Keterbukaan Informasi Publik. Saya belum mempelajarinya secara ekstensif, tetapi setidaknya semangat keterbukaan dapat dilihat dalam UU tersebut. Ini sebuah langkah maju.

Keterbukaan informasi publik ini merupakan sebuah instrumen untuk menguatkan rasa memiliki bagi warga negara. Sebagai instrumen hukum, ia membuka proses audit yang menjamin sebuah pemerintahan tidak korup. Sebagai sebuah alat negara, ia membuka peluang untuk warga negara untuk aktif berkontribusi.

e-Voting

Gunnar Wolf menulis tentang ketidaksetujuannya menggunakan e-voting.

e-Voting memiliki keunggulan memungut suara dengan cepat, mudah, dan murah. Karena segala sesuatu dijalankan secara elektronik, segala sesuatu dapat dihitung secara waktu nyata.

Menurut Wolf, e-voting terbukti merupakan solusi yang mahal. Selain itu, penggunaan e-voting insecure, violates secrecy, allows for fraud. Atau kalau dialihbahasakan, e-voting tidak aman karena; 1) rekam jejak pemilih dapat diketahui; 2) sistem dapat disusupi untuk menambahkan suara.

Kalau mau dianalogikan, sebagai kasus pengumpulan data anonim yang ternyata mengandung sebuah kata kunci. Memang, kata kunci ini tidak terdeteksi. Tetapi dengan menggunakan teknik temu kembali, data dapat dilacak kepada seseorang. Jadi, data tidak benar-benar anonim.

Memang, ini bisa menjadi sebuah fitur atau galat. Tergantung bagaimana regulasi dapat mengatur transparansi sistem. Pada lain pihak, pengembang Debian lainnya menceritakan tentang pembaharuan sistem pemungutan suara di Belgia. Di sana kini dibuat juga versi cetak kertas pemungutan suara. Dengann adanya versi cetak ini, penghitungan manual dapat dilakukan.

Hmm… teknologi bila sudah bermain di ranah sosial menjadi rumit. Banyak aspek sosial dan filosofis yang mennjadi pertimbangan. Sebuah sistem “nggak sekedar tinggal” perlu dikembangkan dengan baik. Itu sebabnya, saya pikir sudah saatnya laboraturium kajian berkembang, bukan sekedar laboratorium cabang murni saja.

Kesimpulan


NB:

Tadinya saya tidak ingin memasang entri ini. Habis, terlihat paranoid. Saya hanya sekedar iseng mencoba Lekhonee GNOME yang ternyata tidak punya tombol untuk menyimpan sebagai Draft. Ya, sudah, berhubung sudah teragregat di banyak tempat. Saya selesaikan saja tulisan ini.

Tapi, memang masyarakat global saling terkait satu sama lain dan suatu usaha di negara lain terhubung ke negara lainnya. Indonesia pasti terkena. Dan salah satu isu yang paling santer saat ini, ya, itu, usaha penyensoran hak dengan iming-iming kemudahan.

Hal ini diumpamakan Esau yang menukar hak kesulungannya untuk sepiring kacang merah.

NB2:

ternyata masalahnya Lekhonee menimpa tulisan sebelumnya. Mungkin saya tak sengaja memasang.

Satu Alasan Lagi Mengapa FOSS Penting

Satu Alasan Lagi Mengapa FOSS Penting

Mengapa FOSS, terutama Free Software (Perangkat Lunak Bebas) itu penting?

Berita tentang perang dunia maya dewasa ini (kasus Cina vs Google, Iran vs Amerika) yang menghasilkan banyak virus tak terdeteksi. Dari yang pertama kali diketahui publik, Stuxnet, sampai yang terbaru sekarang: Flame. Semua mengindikasikan bahwa sistem operasi merupakan sebuah bagian tak terpisahkan dari sistem informasi.

Saya sering kali menjumpai banyak orang meremehkan sistem informasi. Padahal, setiap hari perusahaan menggunakan sistem informasi sebagai basis dalam menjalankan operasi sehari-hari. Artinya, sistem informasi merupakan bagian dari formula rahasia dari sebuah perusahaan. Orang yang bisa menguasai sistem informasi perusahaan dapat menggunakan informasi tersebut untuk memberitahu perusahaan saingan (corporate spionage). Atau, sang karyawan keluar dari perusahaan dan membangun sendiri dengan formula bisnis (baca: SOP) yang telah disempurnakan.

Dan bagaimana dengan sistem operasi?

Ketika Sistem Operasi yang digunakan tidak menyediakan kode sumber, orang dapat bertanya, “apakah di antara bergiga-giga binari yang terpasang, beberapa ratus kilobita berisi pintu belakang?” Dapatkah sebuah perusahaan asing dapat menjamin bahwa sistem operasinya tidak ditumpangi oleh berbagai kepentingan?

Beberapa waktu yang lalu, pengembang utama OpenBSD marah dan mempublikasikan sebuah surat yang dikirimkan kepadanya. Beberapa pengembang OpenBSD dituduh sengaja menyusupkan pintu belakang pada kode IPSec. Hal ini sengaja dilakukan atas, menurut surat tersebut, prakarsa FBI.

Memang, integritas pengembang utama tersebut merupakan hal yang layak diacungi jempol. Namun, dunia pengembangan tidak seperti demikian. Beberapa orang pengembang mungkin saja disusupi tanpa diketahui oleh perusahaan pengembang. Apalagi, pengembangan perangkat lunak tertutup selalu dibatasi oleh banyaknya kode dan tenggat waktu peluncuran aplikasi. Tentunya, tidak semua perusahaan akan rela melakukan uji kotak putih pada aplikasi tertentu.

Saya tidak tahu apakah di Indonesia juga ada standarisasi seperti NIST yang mempublikasikan FIPS. Saya tahu ada standar SNI untuk perangkat lunak sepuluh level. Tapi, itu kalau tidak salah seperti CMMI-Dev hanya memformulasikan daur hidup perangkat lunak. Apakah ada SNI untuk standar sekuritas perangkat lunak? (Yup, SNI bukan buat helm saja. :))

Hmm… saya rasa saya berhenti di sini saja. Nanti saya dikira orang yang jago di bidang ini. Saya cuma kebetulan berkecimpung di dunia kartu pintar dan mengenal sedikit Diffie Hellman. Saya tidak seperti seseorang yang punya skripsi tentang kelemahan Diffie-Hellman. Kemampuan saya tidak seperti Boy Surya, saya tidak berani sok macam-macam bila hanya bermodalkan menjelajah Internet saja. Ha… ha… ha….

Seperti artikel tentang dunia rekaman profesional, saya hendak berargumen bahwa perangkat lunak bebas dan terbuka adalah penting bagi ketahanan nasional. Dengan tersedianya kode sumber, setiap bagian dari perangkat lunak dapat diteliti. Setiap bagian dapat dilakukan pengujian terhadap keamanan. Hal ini dapat dilakukan karena Anda memiliki kendali atas kode sumber dari aplikasi yang Anda pasang.

Tentunya, FOSS tak lebih bagus dari perangkat lunak tertutup bila tidak dibarengi oleh kebijakan internal perusahaan. Tapi, itu cerita lain.

My Personal Side Note

My Personal Side Note

Virtual Reality technology is an effort of making virtual world closer to physical world. Augmented Reality is an effort of making real world closer to virtual space. Each passing days the two are getting closer to each other until both terms are interchangeable. Fortunately, nowadays we call them Augmented Reality for the sake of sales.

Just like other terms seems Virtual Reality got some sort of techie sound to it. In the 80’s and 90’s, tech world sounds futuristic. People loves to call computer-like jargon on any high-level device. At that time, techno sound was born. People getting excited from the new digital sound produced by a single keyboard called synthesizer.

Since Nokia introduced technology for human beings, basically many products trying to get this philosophy. A product is to enhance human’s experience with their environment. Well, this concept was coined by father of Ubiquitous Computing, the late Mark Weiser. He introduced three type of devices: tabs, pads (yes, it was his term), and board.[*]

Anyway, it is also an ironic thing that the technology that a technology for human beings making them inhuman. I find myself in a shocking experience that we are degrading in society because of this technology. One of the terrible things happen was there is a story somewhere that people gather yet not talking each other. They talk to their devices.

Where would we bring this society into the new digital age?

An enthusiast researcher, a friend of mine, said that the technology leverage the level of humanity. People would not need to work in some jobs that could be handled by a machine. People then can move on to think the other things with higher education.

I agree, it is convenience and efficient. When a person not spending their time in washing their clothes because of the invention of washing machine, they can allocate that particular time to do something, e.g. learning. Some technologies are the salvations of humanity.

But… [yeah, this type of sentence always produce but]

some technologies parting us from reality to virtual spaces.

One reality that made me think hard is this: nowadays young adults take their attention on their smart devices than on their surrounding. Sometimes, I find in a group discussion, many young people on their devices while talking to each other. Sometimes they humming just to give a little gesture that they are listening.

But, I think they weren’t!

Can human multi-threading? Could they simultaneously do two or more things that need high attentions at the same time?

I know how thread works. You give a block of processing time exclusively to a job. Then in time they would yield to the job creator. Then, the processing time given to another job. Yes, it makes interactivity and snappier experience.

But, here’s the problem: how about if there are two or more jobs that require intensive processing?

In a weight-based job scheduler, the Operating System would gives the most weighted job more time than the previous. Sometimes, this preference would cause a problem of starving jobs. In other times, it might produce a deadlock because the system was waiting the least job. So, some scheduler making a timeout for the job waiting in queue.

In the fair scheduler, the job is given equally treated. The jobs are ended by force. The problem with this type of scheduler is it sometimes end the job at a wrong time. Sometimes, a badly programmed application is hanging because it still open an I/O resource while it already completed the processing. Well, to this type of problem, they introduce mutex.

Well, how about human? What type of scheduler they use to give attention for two or three heavily-needed attention type of activities?

When a people talking to you and then there is an interesting tweet/talk/status show up, don’t you would gives maximum attention to that thing and some details of the person’s talk are missing?

And what if the missing part was, “I love you, would you love me back?” or something bad, “I think I’d kill myself today”?

Don’t you think they would feel being alienated when other people take a gaze to their device?

People feels by seeing other people’s face gestures. The body language make a mark of something. A sentence might be a joke, might be a sad story. We know how it is by analyzing the speaker. That’s why we connected to each other by the presence of each person. Being these features deprecated, don’t people get lonely and misunderstood by that?

I know I don’t have a valid research on this. But, it seems people would feel uncomfortable around the people who do that. I think, that’s why they do the same thing. Yes, they too starting to play with their devices.

Some would said that people can do two things simultaneously. I don’t buy that as simple as a man having multi-processors. A Firefox may have different profiles, but it can only be activated one at a time. Why? Because human can only process one at a time.

Firefox may have tabs and windows, but we only see one particular at a time. We might have the ability to cycle from tabs to tabs or making windows side by side, yet we don’t see it all at the same time. May be some can, but even there is this “that some”, that some might extremely rare.

I know that Surrogate is not that far away in the future, but before it becomes science fiction no more, questions raised:

  1. What is the value of being real?
  2. Can digital world replace physical world?
  3. Can we say about the changing culture is safe for humankind?

I know that there are flaws on my arguments, especially that I don’t counter this with any research references. But, are we in the right track?

Oh, btw, I was trying to write are these technologies truly for humankind? I know they are, at least they were intended to be like that. But, are we as a community of human species ready for those? Are our nation ready? Are we ready?

At this time I wish each university in our country have at least one pervasive lab. Technology is no longer for engineers/computer scientists. It is a part of growing culture and since Indonesia has many local cultures. It intrigue me to find out how each local culture coping with new technology.

Oh, well, c’est la vie.

Note:

[*] Now you know the origin of a joke picture of Steve Jobs on iPhone, iPad, and iMat.

Sekali Lagi Soal Infrastruktur

Sekali Lagi Soal Infrastruktur

Sebuah operator telepon yang telah saya langgan selama hampir 10 tahun menelepon saya. Sang operator bertanya, mengapa saya masih menggunakan sinyal 2G? Dia pun menawarkan saya untuk berpindah ke sinyal 3G.

Singkat cerita, saya lalu ceramahi dia. 🙂

  1. Anda menawarkan 3G tapi tidak menyediakan paket tak terbatas (unlimited). Itu, khan, namanya gak niat! Biaya paket data Anda itu, ‘kan, mahal.
  2. Saya pelanggan lama, tapi paket Unlimited Anda hanya ditawarkan kepada pengguna baru dan sekarang Anda menghentikan paket baru.

Kira-kira itulah intinya dan Beliau menghentikan pembicaraan. Saya, sih, sebenarnya ingin uneg-uneg tentang SMS penawaran yang saya tidak butuhkan. Tapi, ya, sudahlah….

Lalu, seperti biasa saya berusaha untuk obyektif. Hari minggu kemarin saya mencoba untuk mengaktifkan fitur 3G. Pagi ini telepon saya mati. Tampaknya, sinyal 3G tidak stabil dan menyebabkan telepon saya menjadi boros baterai.

Saya juga menemukan berita bahwa SMS antar operator tidak akan gratis lagi mulai bulan Juni. Sekilas kalau saya baca itu, kok, sepertinya kebijakan memihak kepada pengusaha, bukan kepada kepentingan rakyat banyak seperti yang diamanahkan oleh UUD’45.

Mungkin ada yang bisa memberikan alasan yang logis dan mematahkan pandangan skeptis saya?

Saya melihat peluang yang luar biasa dalam OpenBTS. Wow, saya memberikan tepuk tangan kepada para penggiatnya di Indonesia. Terutama Pak Onno yang membela dengan menulis bahwa OpenBTS itu sebenarnya legal.

Buat orang-orang yang tidak mengerti betapa terbelakangnya negara ini, coba Anda keluar dari Jakarta dan pergi ke kota-kota lain. Saya sendiri telah merasakan bagaimana sebuah ibu kota provinsi mendapatkan penjatahan arus listrik (baca: pemadaman bergilir). Apa lagi koneksi Internet dan telepon.

Dari pada biaya investasi operator komersial yang mahal menghalangi investasi, lebih baik dibiarkan sajalah operator nirlaba. Biarkan saja operator komunitas beroperasi memasang kabel data dan jangan dihalang-halangi. Toh, itu amanah dari UUD’45. (Sosialisme bukan romantika para Orang Tua pendiri bangsa kita)

Kalau perlu, lebih baik para operator seluler berembuk dan memutuskan untuk membangun jaringan bersama. Supaya tambalan di jalan yang merusak tidak ada lagi. Supaya kabel-kabel antar operator tidak saling terpacul. Supaya biaya murah dan kita punya peta rancang bangun perkabelan.

Ah, mimpi yang indah. Lirik 2014 dan berharap ada yang baca ini dan menangkap aspirasi ini.

NB: OpenBTS FTW!

IT Junkie

IT Junkie

You know that you are an IT junkie with these kind of symptoms:

  1. Writing GBU (God Bless yoU) with GNU
  2. Writing “Love you too, sys” (Should have “sys sis”)
  3. Writing “planet” on the browser unconsciously every time open a new tab.
  4. Watch Monty Python, the sketch, the Holy Grail and the Life of Brian.
  5. Either a Star Wars nor Trekkian, with the ordo of Original or the Next Generation.
  6. Have no life.

True story.*

Akhirnya Daftar Juga

Akhirnya Daftar Juga

Akhirnya saya mendaftar ke sebuah forum yang baru berganti domain. Hal ini karena protes pribadi saya telah selesai. Memang protes yang sepertinya tidak berguna. Tidak ada yang dipengaruhi dan tidak pernah cerita di publik. Tapi, ini hak saya, toh, sebagai bentuk kepedulian saya terhadap domain negeri ini.

Mengapa saya protes tak mau daftar?

Dulu sewaktu zaman ccTLD, saya mendapatkan cerita dari Mbah Internet betapa bangganya Indonesia mendapatkan domain berakhiran ID. Kita Indonesia termasuk pengguna awal Internet. Beberapa universitas di Indonesia (termasuk UI) mendapatkan 1 blok IP. Bahkan, UI mendapatkan satu blok IP kelas B! Satu blok kelas B /16 itu sesuatu banget, deh….

Yah, sekarang zaman sudah berubah, ccTLD sepertinya sudah ditinggalkan karena gTLD. Makanya, saya tidak mempermasalahkan orang tidak begitu paham akan arti “.id” itu. Tapi, bagi saya adalah sebuah ironi bila sebuah forum Indonesia berdomain negara lain. Itu sebabnya, saya tidak pernah mendaftar dan hanya sesekali menengok forum itu.

Di satu sisi, saya juga bingung dengan pendaftaran domain yang hanya bisa menggunakan peramban tertentu. Selain itu, pendaftaran domain juga lebih rumit harus menyertakan identitas yang lengkap. Semua diberi akhiran “.web.id” sehingga orang tidak bisa bermain dengan nama domain. Ah, mungkin memang kebijakan mereka dan saya menghargai saja.

Yak, sekarang sudah mendaftar, apakah sudah bisa trolling? 😛


NB: .com itu arti commercial, jangan asal pakai untuk sekolah dan NGO. 🙂

Bahaya Komputasi Awan (Cloud Computing)

Bahaya Komputasi Awan (Cloud Computing)

Kecewa dengan rilis Diablo 3 yang membutuhkan koneksi Internet untuk bermain membuat saya merenungkan, “mengapa mereka membuat Diablo 3 harus membutuhkan koneksi Internet padahal saya hanya bermain sendiri?” Anehnya, pertanyaan yang ditanyakan oleh banyak penggila Diablo ini dianggap Blizzard sebagai sesuatu yang seharusnya tidak perlu mengingat koneksi Internet hari ini.

Ah, sudahlah. Yang pasti 560 ribu rupiah tidak jadi keluar. Dan akhirnya di akhir perenungan saya pun menuliskan ini.

Mati Perusahaan, Mati Dataku

Semenjak Ericsson memutuskan untuk hengkang dari dunia telepon genggam, secara resmi Sony Ericsson berubah menjadi Sony. Domain Sony Ericsson pun sudah tidak ada. SE PC Suite secara tanpa saya sadari tiba-tiba berubah menjadi Sony PC Suite. Celakanya, saya menyimpan cadangan data saya di server sana. SMS-SMS yang selama ini saya telah cadangkan di laptop tidak bisa terakses lagi karena sepertinya tidak dapat dibaca oleh Sony PC Suite.

Aku Hanya Bisa Menurut Perubahan Kebijakan

Dulu saya memberi tag kepada teman-teman saya di Facebook. Lalu, kemudian di Facebook terdapat tulisan indah nan menawan yang mengatakan klik di sini untuk diperbaharui menjadi versi terbaru. Saya tidak menggubrisnya karena saya sendiri tidak merasa perlu perubahan.

Sampai suatu hari  yang berawan, tiba-tiba semua format berubah. Dan data-data tag saya hilang. Semua teman masuk ke label Teman. Label lain seperti <nama SMP saya>, <nama SMA>, <nama kampus saya>, “Dosen”, dan lainnya hilang. Terus terang, saya masuk IPA karena tidak kuat menghapal — itu sebabnya saya lemah di IPS. Saya juga bukan orang yang rajin. Tag yang dibuat dalam beberapa tahun pun hilang.

Apakah saya bisa protes? Sudah bersyukur dapat gratisan. Apalagi, selalu ada klausul karet yang menyebabkan perusahaan penyedia dapat mengubah Term & Condition tanpa terjerat tuntutan hukum. (Silakan luangkan waktu untuk baca ToS layanan daring mana pun)

Konspirasi Apa Ini?

Eh, itu, kok, iklannya tahu kalau saya kerja di komputer? Memangnya saya menyetujui untuk data pribadi saya (URL yang saya kunjungi, profil saya, dan hasil pencarian saya) dapat ditambang?

Jaringan Tidak Sebagus yang Dikira

Dengan adanya bufferbloat dan saturasi jaringan, kembali kita tertawan oleh penyedia koneksi Internet. Waduh, sudah bergantung kepada perusahaan penyedia jasa, sekarang ditambah pula harus bergantung kepada penyedia koneksi Internet. Wow, kombo tripel ditambah dengan ketergantungan agar PLN tidak mati.

Apakah saya dapat bonus piring cantik?

Andai Aku Bisa

Seandainya saya adalah seorang calon pelanggan penting yang setiap kata merupakan titah, saya akan memastikan berikut:

  1. Memastikan perjanjian melibatkan asuransi jaminan keberadaan data dan perubahan ToS tidak dapat mengubah kewajiban tersebut.
  2. Mengadakan audit untuk memastikan bahwa data saya baik dalam server penyedia atau pun CDN yang dia gunakan menjamin privasi. Kalau perlu, paksa supaya pakai perangkat lunak dengan AGPL (Affero GPL).
  3. Memastikan bahwa layanan tetap berjalan pada saat luring. Sehingga, saat jaringan seperti hubungan pacaran Ababil di Facebook, proses bisnis tetap berjalan.
Ngantuk….

 

Logika BBM

Logika BBM

Katanya hari ini ada demo menggugat kenaikan BBM. Saya baca di koran katanya DPR menawarkan untuk 122 trilyun rupiah untuk subsidi supaya bensin tidak naik. Saya gatal mengomentarinya karena saya tidak mengerti mengapa kita harus memrotes kenaikan BBM tersebut?

Penyebab kenaikan BBM:

  1. Konsumsi BBM meningkat dari perkiraan 40.000.000.000 Liter menjadi 47.800.000.000 Liter (sengaja menyertakan jumlah nol biar bisa melihat bahwa peningkatan luar biasa). (Sumber. Tempo.co Bisnis.)
  2. Harga Minyak Dunia meningkat dari perkiraan 90-95 US$/barel menjadi 122 US$/barel dan kemungkinan akan menjadi 128 US$/barrel pada bulan Maret (Sumber: maesaroh, ICP Melambung Tembus USD 128/Barel, Seputar Indonesia, Ekonomi & Bisnis, p.17, edisi 27 Maret 2012)

Terakhir saya periksa, 1 US$ = Rp 9200,00 dan Indonesia telah lama keluar dari OPEC karena sudah resmi sebagai negara net importir. Artinya, jumlah minyak yang dibeli Indonesia jauh lebih banyak dari jumlah yang diekspor. Artinya, ada penambahan beban APBN yang luar biasa dari meningkatnya konsumsi minyak. Kalikan jumlah uangnya dan koversikan ke dalam rupiah. Berapa itu? (Tambahkan dengan indeks korupsi negara kita dan tingkat inefisiensi distribusi BBM untuk mendapatkan efek nyata)

Itu sebabnya, saya tidak habis pikir, memangnya berapa pemasukan negara kita sehingga kita mampu memsubsidi Rp 178.000.000.000.000,00 (sengaja memperpanjang triliun) untuk konsumsi BBM saja? Saya coba lihat dari sisi lain. Kata oposisi, subsidi bahan bakar hanya 8,7% dari total anggaran. Itu masih jumlah yang kecil bila dibandingkan belanja birokrasi yang sampai 50% lebih.

Waduh, bingung saya…. Apalagi ini sudah mau 2014, masing-masing partai berusaha merebut hati rakyat. Dari partai pemerintah yang pernah mengklaim harga minyak diturunkan 3 kali (tapi ongkos angkutan umum tetap tidak turun) sampai partai oposisi yang ingin membuktikan kalau mereka pun bisa membuat perubahan.

Sebenarnya, kalau mau berlogika sedikit, kita perlu mempertanyakan: “mengapa rakyat ribut ketika subsidi BBM naik?”

Kalau saya lihat dari kehidupan di Jakarta, kebanyakan standar hidup kaum menengah menetapkan bahwa kepemilikan mobil atau motor adalah sebuah pencapaian hidup. Alasan logis yang paling saya dengar adalah:

  1. karena angkutan umum di Jakarta tidak memadai; dan
  2. sulit untuk mobilisasi bila menggunakan angkutan umum karena terkadang daerah tujuan tidak dijangkau oleh angkot.

Saya sendiri sebagai orang Jakarta merasakannya. Saya lebih memilih untuk menaiki taksi. Alasannya sederhana:

  1. banyak orang sembarangan merokok di kendaraan umum padahal sebagai seorang yang pernah operasi paru-paru saya tidak bisa menghirup udara rokok;
  2. total mencapai sebuah tujuan dengan naik angkot hampir sama dengan naik taksi; bahkan, bisa jauh lebih murah bila ada lebih dari satu orang; [asumsi Anda seperti saya, yang harus menaiki lebih dari dua angkot]
  3. angkutan di Jakarta kalau macet tersendat, tapi kalau jalan lancar ngetem menunggu penumpang; ujung-ujungnya telat.

Tentu, alasan pertama tidak semua orang perlu. Tapi, saya rasa dua alasan setelahnya merupakan faktor utama orang lebih memilih kredit motor atau mobil. Apalagi, kalau kita mau cek, jumlah bus Trans Jakarta sering kali tidak memadai.

Duh, keputusan untuk menggunakan kendaraan umum pun bergeming ketika orang-orang terdekat mempertanyakan keputusan saya untuk menggunakan kendaraan umum. Alasan karena untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global, sebagai solusi kemacetan, dan sebagai salah satu penyumbang indeks pengguna angkutan kendaraan umum sehingga terlihat signifikan; cukup signifikan sehingga pemerintah tidak bisa  mengabaikan untuk memperbaiki angkutan umum; sebagai bentuk solidaritas kepada saudara-saudara kita yang kurang mampu pun dengan mudah dipentalkan mereka. Alasan yang paling penting, “nanti kasihan anak istri kamu kalau mau ke mana-mana…”

Pertanyaan Yang Ditukar Session 7

Episode Finale

Kemudian saya menatap ke arah kamera. Sambil memain-mainkan mata dan alis tiba-tiba terdengar monolog dari batin,

“loh, bukannya sebenarnya masalah utama kita adalah ketersediaan transportasi umum?” [SFX: crash drum 12x]

Kemudian saya membatin, “sudah bertahun-tahun masalah transportasi umum yang tidak pernah efisien menjadi penyakit Indonesia.”

[SFX: high tension, orchestral hit]

“Bukankah negara ini negara sosial? Mengapa memberikan kepada swasta kalau terbukti swasta tidak pernah efisien? Lihat saja, sampai bangku kasir jalan tol dibuang menteri. Mengapa tidak ada audit obyektif tentang penyelenggara swasta?”

[Jeda Iklan]

“Ah, bukankah kita punya UU Keterbukaan Informasi Publik? Mengapa tak ada LSM yang memanfaatkannya untuk mempublikasikan borok-borok (jika ada) birokrasi. Mengapa pemerintah tidak membuat saja lembaga transportasi publik yang transparan mengacu UU tersebut? Bukankah kita negara sosialis berdasarkan UUD?”

[Tiba-tiba ada dua cewek cantik penjual duren berkelahi dengan cewek jaipongan berkelahi karena berebut nafkah. Dan kamera menyorot perkelahian itu selama beberapa menit sebelum dilerai produser yang secara tak sengaja masuk, kemudian kembali ke saya]

“Ah, aku pusing. Coba para pejabat publik itu juga diharuskan menaiki angkutan umum, eat their own dog food. Aduh, ingin rasanya memblokir Raider yang menyosor masuk sebagai bentuk protes. Mereka katanya pelayan masyarakat, berarti secara kasta mereka di bawah aku. Seharusnya mereka yang mengalah sama aku, dong. Aku….”

[NB: skrip sebenarnya menuliskan bahwa saya harus mengulang bagian UUD 1945, tetapi produser melarang karena mengurangi slot iklan.]

[Jeda Iklan]

Lalu saya mengangkat kepala dan melotot ke arah kamera,

“Astaga! Mengapa tidak ada protes besar-besaran untuk perbaikan transportasi umum?” [SFX: high tension orchestral hit]

Bersambung ke Session 8.

Sinopsis Session 8

Saya akhirnya memutuskan untuk membuka kembali Ars Technica, Phoronix, Planet Debian, Planet Ubuntu, Planet GNOME, dan 9GAG. Lalu saya membuka Yakuake dan kembali melakukan “mkdir bangun && cd bangun && ccmake.. && make -j3 && sudo make install”.

Lalu, saya menatap postingan-postingan di Na9a, 1cuk, dan twit teman-teman soal BBM yang membuat saya menulis entri ini.

Akankah saya menggulung ke bawah untuk melihat postingan non BBM?

Jawabannya hanya ada di Session 8.

Sekedar Omongan Tentang Internet

Sekedar Omongan Tentang Internet

DISCLAIMER:

Tulisan ini ditujukan untuk mendidik orang-orang Indonesia untuk mengerti sifat dari Internet. Saya sangat melarang penggunaan informasi dalam blog ini untuk tujuan selain pendidikan. Baik itu dibuat untuk menguntit gebetan atau pun yang lainnya. Dengan membaca tulisan ini, Anda menyetujui untuk bertanggung jawab atas aksi Anda sendiri dan bertanggung jawab penuh untuk tidak menyalahgunakan informasi di dalam tulisan ini.

Jumpa lagi dengan tulisan iseng saya yang non teknis tentang apa yang terjadi di dunia. Tema berita kali ini adalah tentang Internet.

Gerakan #KONI2012

Saat ini di Internet ada sebuah fenomena seru. Sebuah organisasi, The Invisible Children, membuat sebuah pesan untuk memburu Joseph Koni. Dengan sebuah tayangan di Youtube, mereka berusaha mengumpulkan dukungan. Dalam video mereka, mereka juga menganjurkan gerakan #KONI2012 sebagai sebuah eksperimen untuk menggerakkan pemuda-pemudi untuk membuat perubahan. Tujuan mereka, menekan pemerintah AS untuk menolong menghentikan Joseph Koni dari menjadikan anak-anak kecil sebagai tentara.

Seperti Dean Leysen, saya juga setuju bahwa gerakan ini memang perlu. Tetapi, apa yang dibilang oleh organisasi tersebut tidak boleh sepenuhnya dipercaya. Internet adalah tempat kebohongan sekaligus kebeneran terbesar. Saya akan tertawa bila ada orang yang mengaku mengetahui sesuatu karena Internet berkata demikian, ya, terutama untuk yang suka debat agama. Sebuah informasi di Internet harus dicari oposisinya dan dibandingkan.

Saya pun menemukan oposisi gerakan tersebut.

Menurut kata DanTheGreatHD, sebuah pengguna YouTube juga, integritas Invisible Hands patut dipertanyakan. Menurut laporan Charity Navigator, sebuah organisasi yang mengukur LSM, Invinsible Hand dinilai 3 (nyaris 2) dari 4. Hal ini karena akuntabilitas keuangannya diragukan karena tidak ada lembaga independen yang mengaudit Invisible Hand. Hal ini yang membuat tujuan organisasi tersebut patut dipertanyakan.

Kesimpulan saya?

Saya menyimpulkan bahwa Invisible Hand patut memang patut dipertanyakan. Tetapi, baik Invisible Hand, Dean Leysen, maupun DanTheGreatHD sama-sama menyimpulkan bahwa Joseph Koni harus dihentikan. Tidak hanya sampai di situ, tindakan yang perlu dilakukan adalah membantu Uganda dan negara sekitar dalam memulihkan trauma pasca perang. Invisible Hand perlu melakukan audit independen terhadap dirinya untuk menambah kredibilitas.

Sejujurnya saya tidak menyalahkan maupun membenarkan Invisible Hand. Untuk sebuah organisasi dengan tujuan mulia di daerah abu-abu terkadang harus melakukan banyak kompromi. Mungkin ada faktor lain yang kita tidak ketahui sehingga mereka merahasiakannya.

Menguntit di Internet

Perusahaan bodoh mana yang menaruh informasi kritikal secara daring? Oh, maaf, cloud computing membuat pernyataan saya terdengar salah. Mungkin dahulu benar, mungkin pernyataan itu sekarang sudah tidak relevan. Entahlah, saya sependapat dengan Stallman, data milik kita harus dilindungi. Itu sebabnya, menaruh data pribadi di Internet tidaklah benar.

Sebagus-bagusnya kita berusaha merahasiakan informasi pribadi, ada saja pihak ketiga yang membocorkannya. Ambil contoh Facebook Parenting, seseorang berusaha melindungi tulisannya. Tetap saja ayah dan ibunya tahu. Terlepas dari benar atau salah isi tulisannya, apa yang dia lakukan tetap saja terkuak. Privasinya terlanggar.

Mencari Informasi tentang Seseorang di Internet

Saya pun terkadang geleng-geleng dengan anak sekarang. Banyak yang berusaha melindungi akun Twitter-nya. Ada juga yang membuat akun kedua untuk merahasiakan beberapa hal dari orang-orang. Duh, helo [baca dengan gaya ababil], saya menggunakan Internet dari zaman Friendster belum ada dan anonymous FTP masih diindeks di Altavista. Kegiatan kalian mudah sekali diketahui. 🙂

Saya geleng-geleng karena mereka merasa aman padahal tidak. Rasa aman yang salah ini sangat membahayakan. Itu sebabnya, saya mau menguak mengapa rasa aman yang salah (false sense of security) itu perlu dibuang jauh-jauh.

Prinsipnya sama, kalau dulu, kita harus memanfaatkan orang-orang sekitar untuk mengetahui kegiatan seseorang. Misalnya, kita sudah berteman akrab dengan abang-abang penjaga Warnet tempat subyek kita biasa bermain. Atau orang-orang lain yang juga ada di sekitar mereka yang tidak berinteraksi langsung, tetapi ada di situ, misalnya rekan kita biasa main catur sewaktu ronda.

Prinsipnya kira-kira juga sama. Hanya saja, kali ini dipermudah cukup dengan mengetahui teman-teman si subyek tersebut di Twitter. Anda tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi datang secara fisik untuk menanyakan kepada orang lain tentang anak subyek Anda. Anda cukup mencari informasi tentang dia dari tweet-nya di akun tersembunyi.

Nah, bagaimana Anda tahu kalau dia membuat akun kedua atau ketiga atau seterusnya? Hal ini dimudahkan dengan tidak adanya konsensus di antara pertemanan mereka untuk sama-sama membuat akun kedua, ketiga, maupun keempat. Pasti ada di antara rekan-rekannya yang menggunakan akun utama dan berlangganan akun-akun tersebut sekaligus. Ada beberapa yang pintar dengan melindungi akunnya, tetapi banyak yang tidak. Pasti ada, ‘lah.

Menyusup Sebagai Orang Lain

Ketika kita tahu bahwa anak subyek yang hendak kita ikuti ternyata cukup pintar dan teman-temannya sepertinya juga bagus sekali menyembunyikan akunnya. Kita bisa masuk sebagai orang lain mulai menyusup dengan mendekati di ring kedua atau ketiga pertemanan si subyek. Toh, tidak ada juga yang tahu.

Salah satu cara membuat identitas palsu adalah dengan melakukan pencarian Google Image atau forum-forum dengan mencari artis-artis luar negeri yang tak terkenal. Untuk di Indonesia misalnya paling cocok untuk menggunakan artis Thailand. Mereka secara struktur tubuh memiliki paras Indonesia. Selain itu, biasanya artis-artis yang tak terkenal itu banyak melakukan foto natural tanpa penyuntingan berlebihan sehingga terlihat natural.

Mengapa ini bisa berhasil?

Di Facebook, banyak orang yang ingin berteman dengan banyak orang dari pelbagai negara. Hal ini sebenarnya hal yang baik dan saya merasa sangat bersalah mempublikasikan cara ini. Saya kuatir dapat membuat banyak orang tidak lagi melakukan hal positif tersebut. Mohon jangan terpengaruh tulisan ini secara negatif.

Dengan mengeksploitasi sifat tersebut, kita dapat dengan mudah menyusup masuk ke beberapa teman subyek. Untuk menambah kredibilitas, buat akun-akun palsu lainnya dengan saling terkait. Tambahkan banyak orang, atau Anda bisa menunggu orang-orang asing untuk menjadi teman Anda. Hei, akan selalu ada orang di dunia ini yang ingin berteman dengan seorang gadis cantik alami. Karena itu, terkadang menambah terlalu banyak teman dapat dicurigai sebagai akun SPAM, biarkan akun itu terintegrasi secara natural.

Setelah dipercaya, kita pun dapat melakukan operasi seperti yang saya lakukan sebelumnya. Akan selalu ada orang yang merasa aman dan mempublikasikan aksinya dan teman-temannya ke Internet. Hei, bersyukurlah kepada pemerintah Indonesia, terutama pemkot Jakarta yang mengambil ruang-ruang publik sehingga anak-anak kita subyek kita kekurangan tempat untuk mengekspresikan diri dan berteman. Kenakalan mereka dan ekspresi mereka sekarang ke Internet tanpa kontrol. Mereka merasa tak diawasi dan perlakuan tanpa tanggung jawab itu seru.

Siapa yang dapat melindungi kita?

Ambil contoh, pemerintah Indonesia mengatakan bahwa kita harus dilindungi dari maksud-maksud jahat. Itu sebabnya, proyek Nawala dibuat. Hal-hal yang melindungi akhlak bangsa sepertinya dikerjakan. Dan lagi-lagi, pemerintah merasakan hal yang sama dengan anak-anak kita, menggunakan DNS yang disaring dan merasa aman (padahal tidak). Dengan mengganti DNS ke Google atau pun DNS-DNS lainnya, mereka tetap saja bisa mengakses materi-materi tak pantas.

Stop this false sense of security, please!

Tidak ada yang dapat melindungi kita selain kesadaran untuk tidak menyebarkan tulisan aneh. Itu bukan saja melindungi kita dari dipecat, tapi juga melindungi kita dari penggunaan data-data pribadi kita untuk maksud-maksud jahat. Tidak ada pemerintahan yang dapat melindungi warganya dari kejahatan Internet apabila kejahatan tersebut berada di luar yuridiksinya.

Sekalipun Zuckerberg ingin menjadikan Internet beridentitas, akan selalu ada yang setuju bahwa Internet harus tetap anonim. Seperti kata Moot, dengan menjadi anonim, justru seseorang bisa menjadi dirinya sendiri. Dan saya setuju, anonim adalah sesuatu yang ada dari Internet. Anonim membuat sebuah kekuatan dari Internet untuk sebuah perubahan.

Dan berita berikut tentang Internet yang saya mau beritakan menjadi alasannya.

Akuntabilitas

Perang di dunia maya sudah lama ada. Dari jebol-menjebol sampai yang terbaru sekarang, STUXNET. Ada juga sebuah perusahaan Antivirus yang kode sumbernya dicuri. Meh, yang terakhir itu saya tidak peduli. Toh, saya memakai GNU/Linux. Akan tetapi, hal ini menjadikan pemerintah di seluruh dunia mulai berpikir untuk menyensor Internet.

Alasan ini dipakai agar setiap pemerintah dapat melindungi warga negaranya dari pihak-pihak yang mencurigakan. Pertanyaan saya, siapakah yang dapat melindungi oposisi, LSM, atau pun kelompok minoritas dari pemerintahan abusif?

Ambil contoh kasus SOPA dan ProtectIP, generasi tua ingin agar AS memiliki UU untuk melindungi copyright. Pendukung utamanya adalah media (RIAA dan Hollywood). Sehingga, pemberitaan di televisi dan koran hanya mendukung SOPA dan ProtectIP. Kekecewaan dari banyak orang dibuat seperti seakan-akan protes itu antara perusahaan Hollywood lawan perusahaan Silicon Valley. Tetapi, gerakan akar bawah menemukan tempat di Internet untuk menyuarakan keberatan.

Internet menjadi sebuah media tempat suara-suara “sumbang” bersuara. Suara-suara yang biasanya menyuarakan kebenaran ini membuat sebuah audit terhadap pemerintahan dapat dilakukan. Kebenaran memang pahit, tetapi itu penting untuk membuat negara bertahan.

Sebelum Genghis Khan membakar kota dan memperkosa orang-orang Jin, ia harus melewati tembok Raksasa. Tetapi, gaji yang kecil dari pasukan perbatasan akibat korupsi membuat mereka membuka pintu untuk Genghis Khan masuk. Hal ini takkan terjadi apabila pejabat-pejabat korup ini dihukum. Tetapi, bagaimana mungkin mereka dihukum sedangkan pemerintahan satu suara? Oposisi dianggap pengkhianat dan rakyat tak diberi kekuasaan.

Juga lihat bagaimana kerajaan Romawi yang kuat akhirnya jatuh. Ratusan tahun mereka kuat, tetapi setelah pemerintahan senat yang dipilih langsung oleh rakyat digantikan dengan kekaisaran, perlahan mereka mengalami kejatuhan. Dimulai dari kejatuhan Romawi Timur (Byzantium) dan kemudian Romawi Barat.

Sensor melemahkan negara. Sensor menyebabkan pemegang kekuasaan tidak terkontrol. Ketidakpuasan menyebabkan warga menjadi tidak merasa memiliki. Rasa tidak memiliki mengakibatkan disintegrasi. Akhirnya, negara jatuh. Negara yang jatuh menghancurkan kemanusiaan.

Indonesia sebagai negara dengan berjuta kepentingan memerlukan Internet sebagai sarana untuk menyalurkan kebebasan. Apalagi dengan pejabat publik yang ke Jerman sementara warganya terkena tsunami. Atau kepala wakil rakyatnya yang justru menyalahkan mereka karena tinggal di pulau. Tidak ada seseorang yang mampu melepaskan kegeramannya.

Beberapa orang berbakat memutuskan untuk ke luar negeri. Padahal, mereka sangat diperlukan. Ada juga orang-orang yang tidak suka dan mulai meremehkan pejabat negara. Hukum pun mulai tidak diindahkan. Ini berbahaya sekali!

Untungnya, gerakan Koin untuk Prita, satu juta dukungan untuk Bibit Chandra, dan lain sebagainya menyalurkan keputusasaan mereka lewat gerakan akar rumput. Sewaktu gunung Merapi meletus, banyak orang ikut bantu dan saling berhubungan. Dan semuanya karena adanya Internet.

Perkembangan Internet di Indonesia

Internet itu penting dan seharusnya pemerintah membangun kabel sendiri. Saya sedih sekali bahwa dua bulan ini jaringan Inherent telah putus. Ketika saya ke Kalimantan, saya bingung menjawab pertanyaan tentang pengiriman cakram berisi repositori. Sebenarnya, saya hendak menyarankan mereka untuk menghubungi universitas sekitar yang terhubung Inherent untuk menyalin dari sana. Tapi, apa daya jaringan tak mampu.

Sementara itu, Google Indonesia meluncurkan program Bisnis Online. Sepertinya Google seperti perusahaan TIK lainnya mengincar Indonesia sebagai pasar besar. Semoga mereka sukses.

Duh, saya malas membahas Internet di Indonesia, terutama penjualan. Selama pita jaringan mahal, belum ada pembayaran daring yang terhubung dengan bank, dan kebijakan perlindungan Internet, itu masih utopia. Tapi, saya salut sama Kaskus yang telah membidani pasar daring.

Kembali Ke Dasar

Kembali Ke Dasar

Saya diberitahu bahwa FOSS masuk ke dalam mata ajar sekolah. Katanya, sih, Pak Onno dan kawan-kawan memperjuangkannya. Baguslah, FOSS memang penting untuk kemajuan bangsa. Lumayanlah, mungkin bangsa ini bisa mengejar ketertinggalan dari Brazil.

Saya sempat berbincang-bincang dengan seorang pimpinan LSM. Orang-orang suka mempertanyakan keputusan LSM yang dia pimpin untuk selalu mengedepankan FOSS; bahkan berseloroh untuk tambahkan logo pinguin di LSM tersebut. Lalu dia bilang, “Semangat FOSS adalah semangat berbagi. Kebanyakan orang FOSS-lah yang turun ke daerah dan berbagi. Lagipula, kami percaya, Indonesia butuh software legal dan saat ini FOSS-lah jawaban untuk sebagian besar kita.”

Lalu kemarin saya pergi ke Gramedia Margonda untuk mencari buku panduan tentang Drupal. Saya tidak menemukannya, tetapi betapa terkejut saya melihat buku komputer yang ditawarkan. Mayoritas buku tentang cara pakai perangkat lunak tertutup yang saya yakin mayoritas kita hanya dapat didapatkan secara membajak. Hanya ada satu buku mengenai GNU/Linux Debian.

Saya tidak menemukan buku tentang Drupal. Yang ada hanya buku Joomla, Prestashop, dan buku-buku mencari uang di Internet. Ada juga buku membuka akun di WordPress, Blogger, dan Tumblr. Ya, sudah, saya pasrah dan pulang dengan tangan kosong.

Saya tidak tahu, apakah ini pertanda dari Tuhan mengenai hal-hal yang berhubungan ini, percaya atau tidak, terjadi dalam waktu secara kronologis pada hidup saya. Tetapi, tampaknya ini mengingatkan saya betapa kurangnya buku dan panduan mengenai aplikasi FOSS berbahasa Indonesia.

Dahulu, pernah ada isu di dunia FOSS tentang perlunya ada pengguna menengah. Waktu itu, ada jarak antara pengguna baru dan pengguna lanjut (suhu, guru, dsb.). Bagaimana mungkin suhu-suhu yang telah memasang Debian beberapa tahun lalu ingat cara memasang pada mesin baru? Mereka yang terbiasa dengan sed dan awk takkan bisa mengajarkan kepada pengguna baru. Apalagi, Debian menyediakan dokumentasi teknis lengkap di /usr/share/doc.

Dan di Indonesia sepertinya diperlukan pengguna-pengguna yang menggunakan aplikasi FOSS untuk keperluan sehari-hari. Saya belum menemukan buku-buku panduan aplikasi Blender3D, GIMP, mau pun Inkscape dalam Bahasa Indonesia. Saya tidak tahu tentang panduan OpenOffice/LibreOffice. Saya juga tidak tahu apakah ada yang pernah membahas Redmine dalam Bahasa Indonesia.

Saya sadari, saya hanya mengerti Smart Card, Pemrograman Java, dan Kompilasi Aplikasi. Saya mengerti bagaimana membuat sebuah sistem yang terkustomisasi. Saya mengerti optimasi sistemberkas. Tetapi, saya tidak mengerti bagaimana menggunakan aplikasi-aplikasi biasa. Dan ini menyulitkan saya ketika saya hendak membantu orang-orang.

Mungkin, di tahun 2012 ini saya harus menyempatkan waktu menggunakan aplikasi-aplikasi seperti LibreOffice, GIMP, KDENLive, dan sebagainya. Mungkin menuliskan beberapa tips. Menaruhnya di sebuah WIKI atau mungkin buku daring.

Sedikit pertanyaan, adakah dokumentasi Bahasa Indonesia mengenai aplikasi-aplikasi tersebut? Sudikah kiranya Anda untuk membagikannya?

Oh, iya, saya sudah menyiapkan laman komparasi di sini.

Kepastian Hukum dan Kreativitas

Kepastian Hukum dan Kreativitas

Menurut sebuah artikel The Atlantic, komunitas Reddit akan melakukan protes dengan membekukan situs Reddit selama beberapa jam. Hal ini dilakukan pada tanggal 18 Januari 2012 seturut dengan adanya sidang dengar pendapat yang mengundang pendiri Reddit. Menurut artikel tersebut, komunitas Wikipedia juga mengusulkan 48 jam boikot untuk menolak SOPA.

SOPA dan Protect IP adalah sekumpulan produk hukum yang hendak digolkan di negara Amerika Serikat untuk memberikan pemerintah AS menutup akses kepada situs-situs yang melanggar hak cipta. Menurut AMERICAblog.com, SOPA diajukan oleh badan legislatif AS (House of Representatives/semacam MPR) dan Protect IP diajukan oleh dewan Senator. Keduanya akan memberikan kekuasaan pemerintah AS dalam memberhentikan situs-situs yang dianggap melanggar dan yang dianggap menyediakan fasilitas untuk melakukan pelanggaran.

Penting, Ya? (TL;DR)

Saya bukannya kurang kerjaan memperhatikan masalah negara orang. Ada beberapa hal yang membuat saya kuatir dengan adanya kebijakan tersebut: Sebagian besar konten bagus berasal dari AS. DNS pusat ada di AS. Kendati Internet menyebar, hub lokal terbesar berada di AS. PayPal pusat berada di AS. Visa dan Mastercard ada di AS. Kendati SOPA dan ProtectIP hanya berlaku di AS, keputusan ini juga mempengaruhi negara-negara yang lain. Kita punya politisi latah. Mereka bisa saja mencontek ide-ide tersebut dan menerapkannya di Indonesia. Maka, saya bisa pastikan, negara ini punya masa depan yang kelam dalam industri kreativitas. Bukti? Budaya yang populer sekarang berasal dari negara-negara Asia Timur, bukan AS. Pemberlakuan politik sensor seperti ini dapat memberikan kekuasaan tak terbatas kepada korporasi dalam menentukan arah kebijakan. Hal ini dapat memangkas pertumbuhan ekonomi baru, terutama dalam bidang kreatif. Kreativitas dapat terkontrol sesuai dengan kebutuhan mereka.

[NB: Saya sudah sebisa mungkin mengompres informasi supaya jangan tl;dr.]

Menangkap Peluang

Saya tidak habis pikir, mengapa jaringan Internet yang menjadi urat nadi orang banyak begitu mahal di Indonesia. Tetapi, jaringan Internet telah melahirkan situs YouTube. Dari situs YouTube lahir eksperimen-eksperimen baru. Banyak eksperimen yang sebelumnya tidak didukung oleh industri utama (mainstream) digemari. Kemudian, mereka membuat produk kreatif.

Untuk pembayaran, mereka memiliki PayPal. Untuk distribusi lagu, mereka dapat menggunakan toko daring iTunes. Ada banyak toko daring yang kemudian muncul dan menggandeng artis-artis YouTube dalam mendistribusikan barang seperti kaos, mug, dan lain sebagainya. Ada juga toko-toko daring yang khusus memfasilitasi penjualan barang-barang lainnya. Bahkan, ada yang memanfaatkan situs media sosial seperti Facebook dalam Facebook Marketplace.

Memang selalu ada dua sisi dari koin. Internet juga pusat liberalisasi. Banyak yang takut kalau Internet dapat menimbulkan keresahan dan penurunan akhlak. Ah, rasa-rasanya penyensoran adalah hal yang paling bodoh yang pernah terjadi di Indonesia. Seorang rekan yang dari pedalaman pernah menyaksikan bahwa penduduk sana tahu berita adegan mesum antara dua artis beberapa waktu lalu. Dari pada sibuk menyensor, lebih baik membuat konten tandingan yang memberikan kearifan budaya kita.

UU Hak Cipta dan Strategi Bisnis

Saya tidak tahu kapan UU Hak Cipta yang baru akan keluar menggantikan UU Tahun 2002. Tetapi, saya setuju dengan pendapat bahwa UU Hak Cipta harus ditegakkan dengan cara pelaporan aktif. Artinya, sebuah konten yang diduga melanggar hak cipta tidak bakal disergap polisi sebelum ada laporan dari sang pemilik konten. Negara Jepang melakukan ini [Condry, 2004].

Menurut studi tersebut, hal ini membuat para penyelenggara CD tidak berani menuntut. Penuntutan dapat mengakibatkan kemarahan para fan. Mereka pun tidak pernah menganggap penurunan penjualan CD akibat dari pembajakan. Memang karena terjadi penurunan penjualan CD secara global. Hal ini karena terjadi penurunan pendapatan.

Mengapa CD menjadi tidak menguntungkan?

Menurut studi itu, harga CD terlalu mahal. Nilainya tidak sebanding dengan yang didapatkan. Membeli satu CD yang mahal demi satu atau dua lagu yang bagus sangat tidak masuk akal. Saya rasa masuk akal untuk mahasiswa berpikir ulang untuk mendapatkan CD seharga Rp50.000,00.

Di situlah peran toko daring semacam iTunes berperan. Peran pembayaran daring itu sangat besar dalam menjaga kelangsungan. Saya rasa, banyak yang tidak keberatan membayar per lagu untuk lagu-lagu yang bagus.

Ah, saya berharap ada pihak bank yang membaca tulisan ini. Seandainya ada toko daring yang terhubung langsung dengan bank. Apalagi terhubung dengan e-Banking. Hai, BNI, saya mau akun saya bisa dipakai PayPal tanpa harus membuat kartu kredit.

Seandainya pihak bank dan pihak penjual bekerja sama dan mengizinkan orang-orang menaruh barang dagangan, pasti banyak orang yang terjun ke industri kreatif. Jangankan itu, pasti permasalahan pemasaran produk daerah juga terlewati. Dengan harga pantas dan prosedur yang mudah dan aman, orang pasti mau membayar musik yang bagus.

UU Paten

Awas yang berani membuat perangkat lunak sebagai paten. Algoritma tidak boleh dipatenkan!

Nelangsa

Nelangsa

Pada tahun 1996, Mr. Children mendatangi PT Aquarius dan meminta lagunya, “Kiseki no Hoshi” untuk ditulis ulang. Kemudian, Katon Bagaskara menulis kembali menjadi “Usah Kau Lara Sendiri”. Lagu ini dinyanyikannya bersama dengan Ruth Sahanaya. Lagu ini digunakan untuk menghimpun dana dalam penanggulangan AIDS.

Saya heran  dengan yang tidak paham tentang hal ini dan membuat komentar tidak enak di video-video Youtube “Kiseki no Hoshi”. Padahal, Mr. Children termasuk salah satu artis favorit saya sewaktu pertama kali mengenal budaya pop Jepang (Komik, Anime, Drama, dan Kostum) bersama dengan JAM Project, Megumi Hayashibara, dan X Japan. Seharusnya mereka tahu Mr. Children dari lagu “Poison” yang menjadi lagu drama “GTO”. Kalau tidak salah pernah diputar di Indosiar.

Omong-omong soal Katon Bagaskara, saya salut dengan Beliau yang selalu menggunakan kata-kata puitis dalam lagunya. Kata-kata yang jarang terdengar dan terasa asing menemukan makna yang dalam di dalam setiap lagunya. Kata seperti “Saujana” membuat mata saya terbuka dan mengerti bahwa sebenarnya Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang luar biasa. Masalahnya, tidak banyak orang yang mendokumentasikan kata-kata Bahasa Indonesia. Entah berapa banyak yang telah hilang, tidak seperti bahasa Inggris yang bahkan dapat ditentukan kata tertuanya secara ilmiah.

Miris memang….

Tempo Edisi 14-20 November 2011 dalam kolom Bahasa menuliskan seorang dosen Bahasa Indonesia di sebuah universitas di Jerman tertegun ketika muridnya menyatakan bahwa bahasa ini akan selalu kelas tiga. Ia tertegun tak bisa membalas karena presiden negara ini menebarkan kata bahasa Inggris dalam pidato resminya. Masakkan, Indonesianis yang mendokumentasikan Indonesia justru dari bangsa lain.

Masalah lain dari penegakan Bahasa Indonesia adalah dilema sosial. Banyak saudara kita dari suku tertentu suka menyebutkan sukunya dengan ejaan dan tulisan Inggris. Saya pada awalnya suka memrotes hal tersebut. Tetapi masalahnya, mereka selama ini mengalami diskriminasi sosial. Apalagi, saya baru tahu kalau ternyata sebutan suku tersebut terkadang dipakai untuk merendahkan. Protes saya bisa jadi menyakitkan dan saya tidak bermaksud seperti itu.

Itu sebabnya, kendati ada sebutan lain untuk suku saudara kita itu, seperti yang suka dipakai  oleh Gus Dur, ini semua tergantung bagaimana kita. Maukah kita menggunakan istilah alternatif yang lebih sopan, bermartabat, dan tentunya itu adalah kata dalam Bahasa Indonesia itu? Saya pun enggan memaksa, karena ini masalah bagaimana kita sebagai sebuah bangsa. Tergantung saudara kita dan kita sendiri apakah mau menyamankan diri dengan istilah tersebut.

Apakah kita mau menyamankan diri dengan istilah Indonesia? Ini hanya bangsa ini yang bisa menjawab. Ini tergantung kita sendiri.

Saya sendiri berusaha menyamankan diri dengan Bahasa Indonesia, termasuk dalam penggunaan komputer. Kendati banyak yang tidak menyukai istilah komputer dipadankan ke Bahasa Indonesia, saya berusaha mencoba sebisa mungkin menggunakan Bahasa Indonesia. Untungnya, tim Blankon membuat saya tidak perlu mencari-cari aplikasi berbahasa Indonesia. Saya sudah punya komputer berbahasa Indonesia, bukan cuma panduannya saja. 🙂

Tidak mudah menggunakan kata “unduh”, “unggah”, dan “surel” dalam percakapan sehari-hari. Tetapi, saya sudah terbiasa dengan gerakan FOSS yang juga seanalogi dengan ini. Menggunakan kata “unduh” bagaikan menggunakan LibreOffice daripada  Microsoft Office. Seperti memilih KDE atau GNOME, saya mengerti bahwa kata “surel” dan “ratron” memiliki dua kubu yang berbeda untuk menggantikan “email” (Windows).

Akan ada banyak istilah pengganti untuk sebuah istilah komputer. Tetapi, saya bisa memandangnya sebagai sebuah ekspresi kebebasan. Setiap orang berusaha mendalami Bahasa Indonesia, seperti pengembang yang berusaha menerapkan algoritmanya sendiri dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan. Proses kreatif yang teruji menghasilkan kata-kata yang dapat digunakan. Usaha-usaha ini pun menyebabkan orang lebih suka menggunakan Bahasa Indonesia karena mereka merasa memiliki bahasa ini; seperti ada istilah “eat your own dog food” bagi para pengembang aplikasi.

Saya tidak berusaha menjadi seorang cauvinis. Tetapi, saya melihat dan berusaha mengaitkan antara bahasa dengan rasa cinta tanah air dalam hubungannya dengan prestasi bangsa. Dari hasil uji amatir, saya melihat terdapat korelasi positif antara keduanya dengan majunya sebuah bangsa. Bahasa merupakan bagian dari budaya. Pengentalan penggunaan bahasa berimplikasi kepada pengagungan budaya nasional. Pengagungan budaya nasional melahirkan nasionalisme. Nasionalisme melahirkan kecintaan kepada bangsa. Kecintaan kepada bangsa membuat individu ingin menyumbang sesuatu kepada bangsa. Hasil sumbangsih ini yang pada akhirnya mengangkat hidup orang banyak.

Seperti penggunaan FOSS, Bahasa Indonesia juga mengalami banyak penolakan. Kalau FOSS punya Richard M. Stallman dan FSF yang fanatik, Eric Raymond yang pragmatis, dan banyak pejuang FOSS lainnya, siapakah yang akan membela Bahasa Indonesia?

Lagu penutup: Betharia Sonata — Hati yang Luka

(great person died)

(great person died)

John McCarthy

John McCarthy 1927 -- 2011

John McCarthy, pencipta bahasa pemrograman LISP, telah meninggal dunia tadi malam. Saya mendapatkan ini dari sebuah pesan di Twitter yang sudah di-RT.

LISP adalah salah satu bahasa pemrograman dari paradigma Functional Programming (FP) yang saya pernah pelajari. Terus terang, saya lebih suka Haskell dibanding LISP. Tetapi, saya pertama kali berkenalan dengan paradigma ini melalui LISP. Berbeda dengan OOP dan prosedural, FP mengajarkan untuk membagi masalah menjadi sub masalah terkecil. Ah, saya ingat bagaimana mengubah paradigma looping menjadi rekursif.

Saya tidak begitu tahu tentang John McCarthy, tetapi LISP merupakan sebuah maha karya. Untuk itu sebuah penghormatan bagi Beliau. ;-(

Numpang Lewat: Hukum Terkendali

Numpang Lewat: Hukum Terkendali

PayPal Memblokir Diaspora

Paypal memblokir akun Diaspora. Diaspora adalah sebuah proyek FOSS untuk jejaring sosial yang terdistribusi. Prinsipnya sama dengan Opera Unite. Anda dapat mempublikasikan konten Anda secara daring tanpa harus menaruhnya di Internet (atau cloud). Hal ini menjamin Anda sebagai pemilik data punya kendali atas apa yang Anda punya.

Seharusnya, tanpa sepengetahuan Anda, orang tidak bisa mengunduh atau pun memakai karya Anda sembarangan. Tetapi, berhubung dengan data Anda berada dalam kuasa pihak ketiga, Anda takkan tahu kapan data Anda disalahgunakan — sampai satu titik di mana kerugian menimpa Anda.

Sangat disayangkan bahwa Paypal secara baku membekukan siapa saja dalam jangka 6 bulan bila tidak memenuhi kriterianya. Keuntungan bila Anda menjadi pemain dominan adalah Anda punya kesempatan untuk menjadi diktator. Itu sebabnya, alternatif itu sangat berharga.

Jika di Internet terjadi kejahatan, dapatkah hukum Indonesia melindungi warganya?

Free Bieber

Sebuah RUU di Amerika yang akan segera disahkan menggerakkan orang-orang untuk membuat petisi terhadapnya. Gerakan “Free Bieber” ini adalah sebuah gerakan moral untuk menentang digolkannya RUU ini menjadi UU. RUU ini melarang publikasi konten-konten yang berisi karya-karya yang telah dilindungi oleh copyright.

Dalam satir situs Free Bieber, hal ini sama saja dengan Justin Bieber akan dapat tuntutan karena ia menyanyikan lagu Chris Brown di YouTube sewaktu ia masih belum terkenal.

Saya tidak tahu kapan UU Hak Cipta yang baru akan disahkan. Saya berharap klausul-klausul Fair Use ada di hukum kita. Jangan sampai industri kreatif kita mati. Omong-omong, Industri kreatif itu berhubungan dengan industri pariwisata.

Funkot

Dari status G+ teman, saya menemukan bahwa di Jepang sedang terkenal aliran Funkot. Tadinya saya mengira aliran musik Funky Kota ini terinspirasi dari supir-supir Angkot (Angkutan Kota) yang senang memutar lagu remix trance (dugem). Ternyata, ini adalah sebuah aliran musik yang sering dimainkan di diskotik-diskotik daerah Kota.

Menurut Nico-Nico Douga, mereka terinspirasi dari lagu Barakatak, “Bergoyang Lagi”. Sejujurnya, lagu Barakatak yang membekas di hati saya justru “Maju Maju Maju”. Maklum, saya masih kecil waktu itu. Seingat saya, Barakatak termasuk yang saya sukai karena mereka termasuk aliran World Music. Mereka sejaman dengan Krakatau Band, cmiiw, seingat saya…

Saya sendiri tidak menyukai aliran trance, speed metal, dan sejenisnya. Saya pusing mendengar lagu yang drumnya berpola sama. Tetapi, ini suatu kebanggaan untuk musik kita boleh mendunia.

Indonesia Lebih Baik

Indonesia Lebih Baik

Pantas beberapa hari ini pesan pendek iklan tidak ada lagi masuk ke nomor saya. Ternyata, SMS konten premium sudah mulai dihentikan dan beberapa penyedia layanan sudah mulai ditutup. Wow, akhirnya!

Hanya saja, ada beberapa cerita yang tidak menyenangkan. Ada artis yang memutuskan untuk vakum bila ini membangkrutkan industri musik. Ada juga yang tidak cemas karena mengharapkan penjualan CD kembali terdongkrak. Padahal, penjualan CD sangat tidak ideal di Indonesia. Pertama, harga mahal. Kedua, sebagian sistem suara yang dimiliki tidak mendukung kualitas. Ketiga, orang sudah terbiasa membeli CD kompilasi MP3.

Saya punya ide, tetapi ide saya tidak asli. Saya akui ini adalah sebuah ide dari apa yang iTunes sudah tawarkan di Amerika Serikat. Tentunya, hal ini dengan penyesuaian kultur di Indonesia.

Konsorsium Penjualan Musik Daring

Bagaimana bila para produsen musik membuat sebuah konsorsium penjualan daring. Model pembayarannya menggunakan minimal tiga:

  1. Pembayaran melalui transfer bank.
  2. Pembayaran melalui kartu kredit.
  3. Pembayaran melalui pihak ketiga semisal Paypal.

Nah, saya, sih, lebih menekankan untuk pembayaran kepada bank. Saya pikir lebih baik bila konsorsium musik ini membuat sebuah pembayaran terpadu yang terhubung langsung kepada bank-bank di Indonesia. Pengguna sistem ini bisa mendaftarkan akun bank-nya sebagai akun yang digunakan.

Kartu kredit dan Paypal sebenarnya tidak saya sarankan karena keduanya memerlukan pengisian aplikasi yang ribet. Lagipula, standar yang dapat digunakan untuk menggunakan kartu kredit menyebabkan pembeli-pembeli potensial tidak dapat dijangkau. Mereka dianggap tidak mampu.

Independensi Konsorsium Musik

Saya menyarankan bahwa konsorsium musik ini independen dan memperbolehkan aktivitas jual beli dari penggunanya. Hal ini mendukung industri kreatif. Orang bisa membuat lagunya sendiri dan mempublikasikan di bawah benderanya sendiri. Hal ini untuk merangkul musik Indie dan label-label yang kecil.

Mitos yang sering kali muncul adalah dengan membuka keran sebebas-bebasnya maka label besar terancam. Padahal, setiap label kecil biasanya menggarap pasar-pasar yang niche. Justru, dengan adanya pasar-pasar niche, industri musik bisa terus bergeliat dengan melihat tren dan penciptaan pasar baru.

Pencarian bakat kreatif pun bisa menjadi murah karena label bisa dengan mudah melihat bakat mana yang sedang naik daun. Hal ini bisa terlihat dari profil orang-orang yang kreatif yang telah mendapatkan nama dari hasil rekaman terdahulu mereka. Tidak perlu menangis-nangis di TV segala dan mengantri berjam-jam untuk audisi. Contoh yang sudah jadi seperti Owl City dan Pomplamoose. Memang, ada juga yang ingin tetap independen seperti RWJ. Tapi, itu, kan, sebuah pilihan.

Bangunlah!

Sudah lama yang namanya pembayaran mikro (micropayment) didengung-dengungkan. Tapi, kok, sampai sekarang belum ada? Sisi teknologi sudah ada, industri kreatif sudah berkeliat, dan infrastruktur sudah cukup untuk memulai.