Category Archives

226 Articles
Bahaya Algoritma Big Data dapat Menghasilkan Keputusan yang Rasis

Bahaya Algoritma Big Data dapat Menghasilkan Keputusan yang Rasis

TL;DR

Aplikasi Big Data atau apa pun aplikasi pembelajaran mesin tetap memerlukan pengawasan untuk menghasilkan keputusan yang benar. Tanpa pengawasan, sebuah algoritma pembelajaran mesin yang dimiliki oleh aplikasi Big Data dapat menghasilkan keputusan rasis.

Rangkuman Artikel

Suatu hari Prof. Latanya Sweeney menemukan bahwa Google Ads menyarankan namanya sebagai orang yang pernah di penjara. Padahal, dia tidak pernah masuk penjara. Hal ini membuat dia meneliti lebih lanjut.

Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata algoritma pembelajaran Google Ads menemukan bahwa sekitar 80% lebih nama yang biasa diberikan kepada bayi kulit hitam berisi artikel tentang kriminalitas yang berakhir di penjara. Artinya, Google Ads membentuk informasi tersebut dari artikel-artikel yang berisi nama tersebut.

Seorang matematikawan, Prof. Alvaro Bedoya, menjelaskan bahwa selain data, input yang diberikan (tanpa sengaja) oleh pengguna Big Data juga dapat mempengaruhi keputusan pembelajaran mesin (machine learning) pada perangkat lunak Big Data. Misalnya, keputusan menghasilkan calon tenaga kerja.

Pada awalnya, perangkat lunak AcmeIN memilih calon pekerja dengan variasi usia. Ketika perusahaan-perusahaan yang menggunakan AcmeIN memilih calon-calon tenaga kerja dengan usia muda, perangkat lunak AcmeIN kemudian belajar. Pada kueri berikutnya, AcmeIN 2.0, perangkat lunak akan menyaring orang-orang yang usianya tidak masuk secara otomatis. Padahal, belum tentu pekerjaan tersebut memiliki batasan umur.

Berdasarkan dua orang tersebut, penulis menyarankan ada beberapa hal yang perlu dilakukan:

  1. Meningkatkan kapasitas teknologi para advokat kepentingan umum, dan membentuk kelompok yang lebih besar berisi teknolog yang peduli kepentingan publik. Dengan terlibatnya teknolog dalam debat pengambilan keputusan dan meleknya pengambil keputusan tentang teknologi Big Data dan algoritmanya, maka diharapkan pemerintah dan organisasi masyarakat tersebut menjadi lebih kuat.
  2. Menekankan “transparansi algoritma”. Dengan menjamin keterbukaan algoritma untuk sistem kritikal seperti edukasi dan pengadilan, kita dapat mengevaluasi bias yang mungkin terjadi dan memperjuangkan perubahan untuk menghapus bias tersebut.
  3. Mengeksplorasi regulasi yang efektif tentang data personal. Sistem hukum yang sekarang sudah tidak dapat lagi memberikan arahan bagaimana data pribadi kita dapat digunakan dalam teknologi yang setiap hari kita tergantung. Kita bisa lebih lanjut.

Can computers be racist? Big data, inequality, and discrimination

RE: Tak Mau Kalah dengan…

RE: Tak Mau Kalah dengan…

Tulisan ini merupakan tanggapan saya dari artikel menarik dari Lae Silaban mengenai adanya penyedia video lokal. Saya tulis di blog ini soalnya di sana tak bisa isi komentar. Inti tulisan itu adalah tantang berat penyedia konten lokal menghadapi YouTube.

Fokus, Diversifikasi, dan Terbaik

Saya setuju dengan pendapat Lae kita itu. Dari tampilan konten yang diberikan oleh Vidio.com maupun MeTube, terlihat bahwa kedua situs tersebut hanya merupakan klon dari YouTube. Tentu saja bakal kalah dengan YouTube yang jauh lebih kuat infrastruktur dan SDM-nya.

Sebagai pasar niche, seharusnya penyedia video lokal menerapkan model mittelstand: fokus, diversifikasi, dan terbaik. Fokus, tidak berusaha menjangkau semua kebutuhan, tetapi bersedia konsentrasi penuh kepada kebutuhan lokal. Diversifikasi, menyediakan layanan yang tidak ada di YouTube. Terbaik, layanan yang terdiversifikasi ini akan selalu yang terbaik.

Sebagai layanan video, penyedia video lokal dapat fokus kepada komunitas-komunitas lokal. Ia tidak perlu menyediakan layanan umum seperti YouTube. Fokus ini misalnya dapat diwujudkan dengan menyediakan saluran, situs, dan forum yang terintegrasi. Oh, dan tentu saja terminologi yang ramah Bahasa Indonesia.

Fokus saja tidak cukup, ia harus berani menggebrak. Misalnya, Nico-Nico Douga menciptakan antarmuka dan program yang membuat penyedia konten menjadi bintang. Bintang-bintang baru seperti Kero, ClariS, dan lainnya bermunculan setelah konten-konten mereka menjadi populer.

Terbaik adalah satu yang menjadi inti mengapa produk Jerman selalu mahal tetapi laku. Kelakuan produk Indonesia biasanya menurun seiring perkembangan dan sudah berbasis pengambilan keuntungan. Itu sebabnya, jarang ada loyalis kepada suatu produk lokal kecuali karena rasa kebangsaan.

Kendati Nico-Nico Douga tampilannya seperti dari era Geocities, penggunanya sudah familiar. Sedikit demi sedikit, mereka memoles situs sambil mendapatkan masukan dari komunitas. Mereka pelan-pelan menyediakan komunitas yang vibran.

Ya, sudah pastilah, yah, penyedia konten video sekarang pasti berbentuk media sosial. Tidak mungkin hanya penyedia konten biasa saja. Sayangnya, Google masih seperti pulau-pulau yang tak terintegrasi. Itu makanya, Google Plus jarang dipakai kecuali oleh para pakar SEO yang suka menambah-nambahi saya di Google+! [Baiklah, saya berhenti di sini sebelum ada curcol]

Ya, itu, intinya, seperti Nico-Nico Douga, jika memang serius, penyedia video lokal dapat membangun komunitas yang organik.

Sarana Berbagi

Kendati pada awalnya layanan situs-situs berbeda, ujung-ujungnya semua situs yang berbeda itu menjadi produk yang serupa. Ya, Facebook, Instagram, Pinterest, dan lain sebagainya. Semua mengarah kepada social platform.

Social Platform adalah istilah saya untuk produk-produk web yang bertindak sebagai mediator untuk setiap entitas di atasnya dapat berinteraksi. Berbeda dengan layanan web biasa (web service), ada unsur penyediaan identitas di dalamnya sehingga setiap interaksi, layanan, dan entititas memiliki keterhubungan.

Intinya, dia menyediakan layanan berbagi. Seperti yang Lae Silaban bilang, layanan itu dapat berupa API, Embed, dan lain sebagainya.

Kalau Facebook memiliki OpenGraph, yang lainnya memilih untuk menggunakan protokol Open Social.

Di Jepang, menurut artikel di IEEE yang sayangnya sebagian besar Anda tak punya akses, Open Social digunakan oleh media-media sosial lokal untuk berhubungan dengan aplikasi pihak ketiga. Evolusi mobile game di sana berkembang dengan menyediakan integritas media sosial dan penyediaan konten berdasarkan waktu (event-based game content).

Ya, intinya, ganti mobile game dengan enterprise platform atau situs blog. Integrasi yang apik menggunakan standar terbuka, maka penyedia konten video dapat membuka peluang masuk ke pasar penyedia konten bagi korporat atau blogger biasa.

Legal

Saya rasa Youtube tidak mungkin rugi. Mana mungkin Ellen mengambil begitu saja video dari YouTube tanpa ada kerja sama hitam di atas putih dengan Google. Kerja sama afiliasi dengan Google pasti tidak akan gratis begitu saja. Lembaga-lembaga non-profit yang memiliki dana pun tertarik untuk menggunakan Google dalam mendokumentasikan karya mereka.

Ya, kalau saya boleh langsung tarik, saya rasa Pemda-Pemda akan tertarik menaruh konten kerja sama mereka ke dalam penyedia lokal. Asalkan ada program yang jelas, mereka pasti tertarik dalam mendokumentasikan wisata atau pun hal lain dari daerah mereka. Setidaknya penyedia konten lokal dikasih uang rokok, dong.

Dalam pengaturan perjanjian ini, termasuk dengan penyedia konten pribadi, aspek legal yang paling penting. Setidaknya, penyedia konten lokal harus siap dengan tiga hal: sangkalan, perjanjian akhir, dan kebijakan privasi.

Selain itu, penyedia konten lokal harus menyediakan antarmuka pelaporan. Antarmuka pelaporan ini berjalan dua sisi. Satu dari sisi pihak luar yang merasa kontennya dipakai orang. Satu lagi pihak pengguna yang merasa dizolimi dengan tuduhan. Sebagai penyedia lokal, seharusnya aspek hukum lokal lebih dipenuhi dan unggul dibandingkan dengan YouTube.

Tentunya, tantangan terbesar adalah batas izin penyedia konten. Ini masih abu-abu dan tidak jelas. Hampir tidak mungkin penyedia konten amatir menyediakan konten lokal tanpa melanggar hak cipta. Sejauh mana negara (pemerintah dan pihak-pihak terkait) mau bermain?

Kalau Amerika Serikat, mereka menggunakan Amandemen Pertama UUD mereka untuk melindungi pengguna-pengguna amatir ini. Beberapa negara produsen konten menggunakan tindakan pasif. Artinya, kalau sang pemilik konten tidak menuntut, pihak berwenang akan membiarkan konten yang melanggar hak cipta tersebut.

Misalnya, seorang Ibu takkan ditangkap karena memosting video anaknya ulang tahun. Selama Disney Indonesia tidak menuntut Ibu itu karena menyanyikan lagu “Happy Birthday to You”, pihak kepolisian tidak akan secara aktif menangkap Ibu itu. Pihak penyedia konten video pun membiarkan saja.

Ada manajemen artis yang enggan saya sebut namanya yang secara aktif mendeaktivasi konten-konten milik artis manajemennya di YouTube dan penyedia konten lainnya. Ada juga artis yang secara terang-terangan mendukung penyebaran konten yang dihasilkannya. Pasti akan ada friksi dari dua pandangan tersebut.

Penyedia konten lokal dapat menjadi mediator atau secara aktif mempromosikan pandangan yang jelas kepada semua pihak. Ia tentu bisa jadi yang terdepan karena proses bisnis yang dihasilkan sesuai dengan arahan bangsa ini.

Contohnya, Vevo mendekati pemusik/manajemen artis untuk menggunakan jasa dia. Sehingga, video resmi yang dikelola di YouTube di bawah kendali Vevo. Vevo pun punya kekuatan khusus sehingga Google menerapkan enkripsi khusus bagi video Vevo.

Akhir Cerita (TL;DR)

Kalau penyedia video lokal bersedia menyediakan social platform dengan kearifan lokal, kemungkinan mereka bisa lebih hebat dan bertahan. Nico-nico Douga contohnya.

Mengurangi Jalan Tidak Serta-merta Menambah Kemacetan

Secara umum kita tahu bahwa menambah jalan tidak memecahkan solusi kemacetan. Ternyata, yang sebaliknya pun juga: mengurangi jalan pun tidak menambah kemacetan. Malah, ada tambahan lain dengan menggunakan ruang yang terbebas akibat itu. Misalnya, di Seoul tingkat polusi berkurang karena ada jalur hijau yang dibuat.

Tentu saja, peran peningkatan Angkutan Umum bermain. Walau nampak trivial di negara lain, di Indonesia hal ini masih sulit. Apalagi banyak yang bermain di sana. Mudah-mudahan Menteri Perhubungan yang baru bisa keras menekan sehingga terjadi peningkatan ketersediaan angkutan umum dan kualitasnya.

Lisensi Resmi Saya

Lisensi Resmi Saya

Seringkali orang salah kaprah dalam memperkenalkan Perangkat Lunak Bebas/Terbuka (PLBT atau FOSS, Free/Open Source Software). Mereka selalu memperkenalkannya sebagai produk gratis. Akibatnya, orang menganggap remeh produk-produk PLBT sebagai produk untuk kaum proletar.

Saya punya lisensi Windows XP Professional asli. Saya juga punya lisensi Microsoft Office 2007. Saya pun punya lisensi Microsoft Visio 2010. Tetapi, mengapa saya masih memilih GNU/Linux.

Iya, seperti yang Anda lihat saya bertahap memiliki perangkat-perangkat lunak tersebut seiring dengan kebutuhan. Kebutuhan membuka berkas-berkas tersebut dari orang lain. Dan, dari waktu ke waktu saya pasti mengeluhkan hal tersebut di media sosial. :)

Berapa, sih, fitur yang diinginkan kebanyakan kita dari sebuah pengolah kata? Saya rasa tak banyak dan fitur-fitur populer kebanyakan sudah diimplementasi dengan baik di produk-produk PLBT.

Kebanyakan dari kita hanya terperangkap oleh euforia produk. Padahal, ada pembelajaran yang diperlukan ketika sebuah versi baru diluncurkan. Namun, kita menganggap itu wajar dan menerimanya dengan lapang dada. Berbeda bila itu sesuatu dengan merek lain. Alergi ini yang menyebabkan kita masih ketergantungan dengan produk-produk asing dan vendor.

Kalau orang bertanya kepada saya, mengapa saya membela PLBT? Jawaban saya adalah karena PLBT memberikan kebebasan, kreativitas, dan integritas untuk berkembang. Saya percaya dengan PLBT kita bisa mandiri dan menciptakan lingkungan kerja yang terhubung satu sama lain.

Media Sosial dan Evolusi Masyarakat
A dart almost at the best point.

Media Sosial dan Evolusi Masyarakat

Tulisan dari Rhenald Khasali membahas mengenai Dul dan anak-anak lainnya yang mengalami gangguan pesatnya teknologi membuat saya gatal menulis. Berbeda dengan yang dahulu, saat ini manusia modern lebih rentan terbuka terhadap deras informasi. Peralatan elektronik yang banyak bermunculan membuat evolusi sosial berjalan semakin cepat seperti laju perubahan iklim.

Orang tua cukup berpuas diri dengan hal tersebut. Dengan mampu membelikan peralatan elektronik, mereka membiarkan anak-anak mereka asyik dengan layar kecil tersebut. Orang tua bisa beristirahat atau melakukan hal yang lain. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di seluruh dunia juga.

Menurut penelitian awal dari Dr. Karuppiah, sebagian besar anak-anak ini sebagian besar tidak diatur dengan baik oleh orang tua mereka. Hal ini berbeda dengan masa lalu ketika orang tua memperbolehkan anaknya bermain komputer ketika sudah agak tua pada jam-jam tertentu saja. Hal ini membuat anak berisiko terkena dampak sosial dan kesehatan.

Ada dua dampak kesehatan disebutkan dalam artikel tersebut, antara lain akibat posisi duduk yang salah dan mata yang semakin tegang. Dampak sosial pun tidak kalah berbahaya, yakni kecanduan bermain dan cyber bullying. Yang terakhir ini sangat berbahaya dan sudah memakan banyak korban.

Google Trends pencarian Internet di Indonesia Januari 2012 s.d. April 2013

Google Trends pencarian Internet di Indonesia Januari 2012 s.d. April 2013. [Gambar ini sudah saya sensor sehingga Anda tidak perlu membaca kata-kata kotor.]

Ketika saya diundang untuk berbicara mengenai media sosial, saya melakukan riset kecil-kecilan mengenai Internet dan penggunaannya di Indonesia. Saya menemukan bahwa ada tiga tren pencarian yang ada:

  1. Cara masuk ke Facebook.
  2. Pornografi.
  3. Bajakan.

Inilah kenyataan di Indonesia. Sebagian besar orang menggunakan Internet untuk memberikan data diri dan teman-temannya secara cuma-cuma kepada media sosial. Yang kedua adalah untuk memuaskan birahi. Dan yang terakhir, momok bagi para penggiat musik, mencari bajakan.

Lalu apakah Anda dapat menuduh orang Indonesia gratisan?

Saya pikir agak lebay untuk menuduh seluruh orang Indonesia. Karena nyatanya tidak semua orang Indonesia bisa menggunakan Internet. Orang-orang kampung, orang-orang buta huruf, dan orang-orang tua adalah contoh manusia Indonesia yang nirteknologi.

Kenyataannya pengguna terbanyak dari Internet adalah kawula muda. Anda dapat bayangkan bagaimana 5 s.d. 10 tahun mendatang pemikiran akan banyak berubah. Dengan tren pencarian demikian, hal-hal yang masih tabu saat ini akan menjadi lumrah pada masa itu.

Anda masih berpikir agama akan menjadi jawaban?

Oh, Anda mungkin usianya sudah jauh di atas saya. Di Internet, selain topik pengetahuan yang berkembang, berkembang pula paham Liberalisme. Bukan cuma Liberalisme, bahkan Ateisme berkembang. Faktanya, saat ini ilmu pengetahuan masih enggan memasukkan Tuhan ke dalam perhitungan karena bias.

Canda satir yang seharusnya digunakan oleh orang-orang berpendidikan pun sudah dinikmati oleh anak muda. Silakan buka 9Gag atau pun situs lainnya yang sejenis. Canda satir adalah norma di sana. Satir agama pun termasuk di dalamnya. Hal-hal yang dipercandakan oleh para teolog/pemikir terbuka juga bagi khalayak umum, terutama kawula muda.

Apakah Anda yang tidak bisa membedakan antara Sekulerisme dan Ateisme dapat menjadi pedoman bagi anak Anda?

Ini juga menjadi sebuah problematika tersendiri. Kebanyakan orang tua masih menganut sistem ajar Jepang, posisi orang tua di atas anak-anak. Orang tua mengeksploitasi hubungan tersebut untuk membuat anak taat.

Alih-alih menjelaskan sesuatu, atau seperti kata Oprah menganggap mereka sebagai dewasa muda (young adults), orang tua menganggap remeh kemampuan anak-anaknya dalam menganalisis. Ketika anak-anak itu lebih tahu dari orang tua, kediktatoran itu mengakibatkan anak tidak lagi menghargai orang tua. Itu sebabnya, akhir-akhir ini anak lebih suka memberontak.

Mereka tak terbiasa mencurahkan perasaan mereka kepada manusia lain. Mereka menggunakan media sosial untuk menyatakannya. Makanya, jangan tabu lihat ketika segerombolan kawula muda sedang berbicara, beberapa di antara mereka asyik dengan layar perangkat mereka.

Siapakah yang didengar oleh mereka? Musik.

Beberapa orang meremehkan pengaruh musik. Namun, hasil studi Steven Stand dan Jim Grundlach dalam “The Effect of Country Music on Suicide” menjelaskan ada keterkaitan antara tingkat bunuh diri dengan musik Country. Penelitian yang memenangkan IG Noble tahun 2004 ini menjelaskan bahwa semakin sering sebuah radio kota memutarkan lagu-lagu Country, semakin tinggi angka bunuh diri.

Seperti dijelaskan oleh spydersden, dari analisis 1400 lagu Country yang populer, ditemukan tema-tema pecahnya hubungan, seperti perceraian dan selingkuh. Selain itu, musik ini juga banyak melagukan bahwa Alkohol sebagai jalan keluar. Kedua ini erat kaitannya dengan bunuh diri.

Dengan tren pencarian teratas yang berikutnya adalah musik, perlu kita bertanya akan ke arah mana bangsa ini pergi?

Dari beberapa situs tangga lagu bajakan yang saya temukan — saya tidak sertakan hasilnya karena Anda bisa Google. Tapi, jangan unduh lagu ilegal! — kebanyakan lagu Indonesia yang sedang populer saat ini adalah mengenai selingkuh dan ditinggal pergi. Walau banyak juga lagu positif yang ada.

Saya tidak tahu manakah yang paling sering didengar. Keputusan banyak musisi untuk meluncurkan lagu dengan isi positif cukup saya apresiasi. Tanpa sadar mereka telah membantu bangsa ini untuk bangkit.

Atau jangan-jangan mereka juga seperti industri musik Amerika yang sepakat untuk memasarkan lagu-lagu yang membangkitkan semangat? Yah, entah mereka bisa berkonspirasi atau sekedar kebetulan, tetap saja banyak lagu baru yang juga menjatuhkan mental.

Saya bukan psikolog/antropolog, jadi saya berhenti sampai di sini mengenai kultur. Yang pasti, teknologi telah membentuk kultur baru. Kultur ini merekatkan manusia secara digital, namun sekaligus memisahkan mereka secara nyata.

Sebagai orang tua, musisi, dan tokoh publik apakah reaksi Anda tentang tantangan ini?

Kalau saya, saya berusaha memberitahukan ini semua. Ini buktinya. Aduh, sebenarnya saya mau menulis sedikit, tahu-tahu sudah jadi artikel panjang. Untuk itu, saya berhenti sekarang. Silakan nikmati gambar dari XKCD sebagai kesimpulan.

Parents: talk to your kids about popup blockers. Also, at some point, sex. But crucial fundamentals first!

4L4Y Generator

4L4Y Generator

alayers Tulisan asli:

Pertama, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia. Kedoewa, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia. Ketiga, Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Dari situs Alay Generator, dengan tiga parameter terpilih (HuRUf bEsAr keCil, P4k3 4n9k4 D0n9, Disngkt-sngkt biar pndk)

prtm, kM ptr4 Dn pTr 1Nd0n35, mN6aK3 b3Rt3mPh Drh jN6 5T3, t4nh 1ndN5. kdW, K4m1 PT3R D4N pTR 1NDn5, mn6K3 brb4n65 jn6 5t, bN6s 1nDn5. kt16, km Pt3R dn ptr 1nDn5A, mndjnDj3ng b4hs pr5t4N, bhS 1ndn5.

Dari situs Klik Edukasi, dengan tiga parameter terpilih (HuRUf bEsAr keCil, P4k3 4n9k4 D0n9, Disngkt-sngkt biar pndk)

pErTam, k4m ptr dn ptr 1Ndn5, Mn64k BrtmPh drh jn6 5t, tnh 1NdN51. kdeW, Km ptr d4n PTr 1nd0N514, Mngak Brbn65 jn6 5t, bnG5 1NdNe54. kET6A, kmi pT3r4 d4n P3tr 1ndN35, mNDjndJn6 b4h45 Pr5tn, bHas4 1ndn5I.

Dari situs Cheyuz’s Alay Generator (V5)

P3ltama, kam1 p03t3la dand p03t3l1 1nd0n3s1A, m3ngAk03 b3lt03mPAch dalach jaNX sAt03, Tanach 1Nd0n3s1a. k3d03WA, KAm1 p03t3la Dand p03T3L1 1nd0N3S1a, m3ngak03 b3lbanGsA janx saT03, bangSa 1Nd0n3S1a. k3T1ga, Kam1 p03t3La daNd p03t3l1 1nd0n3s1a, m3ndJ03ndJ03nX bahasa p3lsAt03An, bahasa 1nd0N3s1a.

Ketiga situs tersebut ternyata secara tidak konsisten membentuk kalimat 4l4y. Hal ini dapat dibuktikan bahwa hasil dapat berbeda ketika tombol pembuatan dipencet berulang kali. Situs Alay Generator dan Blog Edukasi nampaknya menggunakan algoritma yang sama. Situs Cheyuz memiliki metode algoritma lain yang mempelajari bahwa anak Alay sering menggunakan bahasa cayank sebagai alternatif penulisan.

Namun, ketiga aplikasi tersebut nampaknya melupakan faktor yang membuat bahasa 4l4y kompleks: Ragam Bahasa Homofon. Ragam bahasa homofon hanyalah istilah yang saya berikan kepada ragam bahasa  ini. Bahasa 4l4y menggunakan kata yang terdengar seperti dengan kata yang seharusnya.

Alih-alih menggunakan kata yang seharusnya, bahasa 4l4y menggunakan kata yang terdengar sama (atau mendekati sama) dengan kata tersebut. Dengan mengambil semangat muda yang tak terikat dengan aturan, bahasa 4l4y menggunakan cara pelafalan yang diambil dari berbagai bahasa. Biasanya bahasa yang digunakan dari Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Tentunya, pelafalan slang pun menjadi bagian dalam homofon kata tersebut.

Contohnya adalah kata “before” yang dalam bahasa 4l4y menjadi “b4”. Kata ini dibentuk dari “b” yang dibaca “bi” dan “4” yang dibaca “for”. Kata “b4” menjadi homofon dengan salah satu instans pelafalan “before” adalah “bifor”.

Selama ini yang saya tahu para ahli bahasa baru berkutat kepada satu bahasa. Dengan adanya bahasa sintetis semacam bahasa 4l4y yang menyintetikkan banyak bahasa, sudah saatnya dimulai penelitian bahasa dari struktur suara. Artinya, bukan dari tulisan yang diterjemahkan kepada pembunyian, tetapi dari pembunyian yang diterjemahkan kepada tulisan. Plus, tulisan tersebut ditambah-tambahi dengan karakter obfuskasi.

Apakah ada aplikasi dari bahasa ini? Ada! Bahasa sandi dan bahasa dunia. Dengan memahami konteks bahasa 4l4y, setidaknya kita harus memahami individu yang tumbuh dari budaya lokal dan berusaha mendunia.

Viva 4D! x

Keamanan Informasi dan Regulasi

Keamanan Informasi dan Regulasi

censorshiiiip

[Tulisan ini sebagai balasan Twit yang tidak cukup. Kalau tak tertarik baca silakan lewat saja. He… he… he….]

Saya banyak menulis tentang keamanan informasi di blog ini. Dari banyak tulisan itu, dapat disimpulkan bahwa Internet menjadi ruang sadap-menyadap yang penuh. Informasi menjadi barang dagangan. Hal ini terjadi karena perilaku orang-orang yang menggunakan Internet tidak sadar keamanan dan celah geografis yang menyebabkan hukum tak berlaku.

Dulu, celah geografis hanya dimanfaatkan oleh penjahat-penjahat fisik seperti koruptor untuk melarikan diri dari kejaran pemerintah. Penjahat perang pun memanfaatkan celah tersebut untuk melarikan diri dari pengadilan Den Haag. Mereka melarikan diri ke negara-negara yang tak memiliki perjanjian ekstradisi.\

Sekarang, celah yang terkandung dalam Internet ini dimanfaatkan oleh banyak pihak dengan banyak kepentingan. Negara-negara memanfaatkan anonimitas untuk membuat saluran tak resmi. Pemberi kabar (whistleblower) memanfaatkan anonimitas untuk membukakan fakta. Penyedia media memanfaatkan non-ekstradisi untuk menaruh konten-konten “haram”. Semua ini tak diatur oleh hukum.

Karena semua menggunakan fasilitas yang sama, maka terciptalah kesetimbangan. Semua sama-sama bisa dirugikan mau pun diuntungkan. Ada pun usaha-usaha yang dilakukan semuanya sama-sama hanya berbentuk pedoman. Pedoman-pedoman tersebut antara lain:

  • Negara-negara maju menyediakan semacam buku panduan “Code Warrior” yang berisi panduan pengamanan akses informasi sensitif kepada personel-personelnya. Hal ini untuk menghindari spionase dan kebocoran informasi. Selain itu, setiap personel menjadi padat karya.
  • Lembaga-lembaga nirlaba membuat program untuk melindungi pemberi kabar. Mereka memperjuangkan juga perilaku-perilaku tak layak dari golongan berkuasa di pemerintahan atau pun korporasi yang melanggar hak orang banyak. Mereka juga memberikan pelatihan dan penyadaran tentang Internet Sehat dan beberapa hal lainnya.
  • Korporasi dan semua lembaga yang membutuhkan keamanan dalam transaksi informasinya pun membuat kebijakan TIK dalam lembaga untuk melindungi informasi mereka. Ada yang membuat VPN, leased line, enkripsi, atau pun memanfaatkan TOR.
  • Dan lain-lain.

Semua bermain pada level yang sama. Tidak ada yang memiliki kekuatan absolut dalam bertindak. Hal ini yang membuat sebuah kesetimbangan dalam Internet. Internet menjadi ruang netral yang tak dikuasai siapa pun.

Regulasi dan Kepentingan yang Bermain

Semenjak Twitter mengguncang Mesir dan negara-negara di Timur Tengah, kekuatiran terjadi di banyak pemerintahan di dunia. Mereka takut, kalau-kalau di negara masing-masing bisa terjadi hal yang sama. Internet bisa menghancurkan status quo dan menjadi sarana untuk menggerakkan massa.

Selama ini, media informasi yang ada hanyalah televisi dan sensor berjalan di dalamnya dengan baik. Pemilik media ini pasti seseorang yang bemain pula dalam politik. Setiap kepentingan akan berusaha disusupi dalam program-program mereka.

Bagaimana dengan kepentingan itu bisa menyusup? Sebagai contoh yang mudah, kita bisa menggunakan acara berita. Tergantung dari siapa yang memiliki stasiun berita tersebut, maka bisa jadi pemberitaan akan berbeda. Apalagi, bila kedua stasiun dimiliki oleh oposisi dan sama-sama bersaing dalam kepresidenan. Begitu pula dengan majalah dan koran. Tergantung siapa pemegang media, maka berita yang disajikan akan berbeda.

Namun, hal tersebut berubah setelah Internet menyerang. Informasi-informasi alternatif yang berbeda dengan versi “resmi” bermunculan. Informasi-informasi ini kemudian dapat menyentuh orang-orang yang berkepentingan dan membuka mata banyak orang. anti-SOPA/Pro IP dan revolusi Mesir adalah contoh utama dalam pergerakan ini.

Media seperti Fox Network dan beberapa media terkemuka lainnya menghadapi kendala kepercayaan, terutama dari para pengguna Internet yang notabene masih muda. Ketika media bergerak ke Partai Republik di AS berhasil menggaet para pemilik media, Obama berhasil mengerahkan tim TIK-nya untuk bergerak di Twitter, Facebook, dan bahkan Blog. Warga negara yang muda ini kemudian menjadi swing voters yang menggolkan Obama menjadi presiden.

Negara Api Pun Menyerang

Omong-omong tentang Revolusi Mesir, semenjak kejadian tersebut, pemerintah di seluruh dunia mulai menguatirkan keberadaan Internet. Kecemasan tersebut juga beralasan terutama semenjak gerakan “kami adalah 99%” yang menghasilkan Occupy Wall Street. Gerakan ini terpengaruh oleh film The One Percent yang membukakan mata bahwa sebagian besar harta di Amerika dimiliki oleh 1% penduduk. Walau pun gerakan OWS tidak menghasilkan apa pun, namun itu menjadi barometer bahwa Internet bisa mengubah permainan.

Informasi yang tidak dapat dikendalikan dapat menghancurkan tatanan politik sehingga perlu diatur. Berdasarkan laporan Google yang dilansir oleh Tech2, terjadi peningkatan permintaan data oleh pemerintah di seluruh dunia kepada Google. Menurut Freedom House, terjadi peningkatan yang cukup signifikan dan terus bertumbuh dalam pengontrolan media Internet.

Kasus yang terbaru adalah negara Inggris yang mulai menerapkan sensor dengan alasan kepentingan perlindungan anak. Sepertinya alasan yang bagus dan perlu didukung. Namun pertanyaannya, apakah benar bisa ini dilakukan?

Dengan apakah Internet dapat disensor? Arus yang berpetabita takkan sanggup disensor seluruhnya. Yang ada hanya menyensor IP, DNS, atau pun satu blok jaringan. Padahal, seharusnya yang disensor adalah gambar/artikel tertentu saja. Pertanyaan berikutnya, apakah pemerintah Inggris dapat menjamin bahwa teknologi sensor tersebut hanya digunakan untuk perlindungan anak?

Di Indonesia saja, sebuah situs berita Asia yang sering berisi berita-berita kontroversial se-Asia diblok oleh Nawala. Saat itu, situs tersebut sedang membahas sebuah partai politik di Indonesia yang pejabat-pejabatnya terkena kasus. Padahal, Nawala sesuai definisi di situsnya: [diambil hari ini, 23 Juli 2013 18:15]

Nawala

DNS Nawala adalah layanan DNS yang bebas digunakan oleh pengguna akhir atau penyedia jasa internet untuk mendapatkan akses internet bersih dan aman. DNS Nawala melakukan penapisan situs-situs berkandungan negatif yang tidak sesuai dengan norma kesusilaan dan budaya Indonesia, seperti situs berkandungan pornografi atau perjudian. Selain itu DNS Nawala juga menapis situs-situs yang berbahaya dan melanggar aturan perundangan, seperti situs penipuan, malware dan phising.

Di dalam definisi tersebut, tidak ada tertulis bahwa situs Internet yang mengandung berita politis yang bertentangan dengan partai politik tertentu bisa diblok. Saya tidak akan membahas siapa partai politik tersebut dan apa nama situs tersebut. Saya sendiri bukan pengunjung tetap ke situs tersebut, saya pun tahu bahwa dia diblok karena ada teman saya di Facebook yang mengeluhkan bahwa dia tidak bisa mengakses situs tersebut. Tulisan ini murni untuk kepentingan edukasi sehingga saya takkan masuk ke ranah politik.

Pertanyaan saya tetap sama seperti yang saya tanyakan di dalam Twitter:

Ketika teknologi sensor Internet oleh pemerintah dilegitimasi oleh hukum, adakah mekanisme negara untuk memproteksi terhadap penyalahgunaannya?

Sebagai seorang minoritas, saya sangat berkepentingan mengenai isu ini. Di tengah-tengah diversifikasi Pancasila, ada niatan golongan tertentu yang ingin menjadi mutlak. Saya dapat memberikan berbagai bukti pelanggaran hukum dengan pembiaran tersebut. Namun, lagi-lagi itu ranah politik dan cenderung subyektif sehingga takkan saya bahas di sini.

Namun, tetap, kekuatiran saya adalah ketika sensor dilakukan terhadap Internet, maka kesetimbangan akan hilang. Ketika informasi dapat dikendalikan, arah kebijakan dan pandangan masyarakat dapat diarahkan. Sang pemegang kebijakan dapat berlaku sewenang-wenang. Setiap orang yang hendak melawan dapat diberanguskan hak bicaranya.

Sayangnya, Indonesia tidak sesederhana itu. Ketika sebuah golongan berusaha menjadi mutlak, maka golongan-golongan lain yang merasa dilangkahi akan bertindak. Yang saya takutkan adalah hal tersebut akan mengarah kepada perang sipil dan kebencian etnis. Saat ini, di berbagai pelosok Indonesia sudah ada benih untuk itu tinggal penyulutnya saja.

Kata Akhir

Indonesia merupakan Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi satu. Setiap elemen yang berbeda menjadi satu karena adanya toleransi dan keterbukaan satu sama lain. Keterbukaan ini penting agar kecurigaan dapat hilang. Sensor menghilangkan unsur pendukung tersebut. Makanya, alih-alih menyensor, seharusnya hukum membahas tentang kenetralan Internet dan hak bersuara yang dijamin.

Seperti biasa, saya berhenti di sini dan saya sudah memangkas bahasan supaya jangan terlalu banyak. Semoga ini masih bisa dibaca dengan baik. Soalnya, saya tahu, tulisan yang terlalu panjang berpotensi tidak dibaca. Ha… ha… ha….

Commuter Line (PT KAI) Kini Dengan Kartu Masuk
KRL Commuter Line Melaju Mengantar Saya Kerja

Commuter Line (PT KAI) Kini Dengan Kartu Masuk

KRL Mania

KRL Commuter Line Melaju Mengantar Saya Kerja

Gambar saya cukup miriplah dengan Kereta Listrik (KRL) milik Commuter Line (anak perusahaan PT KAI). Di gambar-gambar yang lain tidak dipasangi kawat baja. Padahal, semua KRL dipasangi kawat baja di depan. Habis, suka ada orang iseng menimpuk KRL.

Omong-omong soal timpuk-menimpuk, mata saya pernah kena pecahan kaca ketika KRL ditimpuk di daerah Tanjung Barat. Lumayan, mata agak sedikit merah. Untung tidak sampai luka. Kalau luka, mungkin berhenti pula karir komputer saya dan saya harus belajar meminta-minta di jalan. Maklum, selain mengetik, saya tidak memiliki kemampuan lain yang mumpuni.

Semenjak PT KAI melakukan spin off menciptakan Commuter Line, terjadi peningkatan kualitas pelayanan KRL. Mulai dari loket yang mulai tertib antri, loket dilayani wanita muda, dan penyiar yang juga suaranya wanita. Dulu pernah ada penyiar favorit di Pondok Cina. Suaranya seksi sekali. Ha… ha… ha….

Saya juga salut dengan keamanan stasiun dan KRL yang beroperasi. Di setiap stasiun selalu terjaga dengan ketat. Selain itu, di KRL hampir setiap gerbong dijaga. Saya bahkan berani membuka laptop, sesuatu yang dahulu tidak pernah terbayang saya bisa kerjakan.

Berhubung saya pengguna KRL yang cuma bisa di TIK, berikut saya paparkan apa yang saya amati dari perubahan Commuter Line dari sisi TIK.

Akun Twitter

Hal yang bagus dari Commuter Line juga adalah penggunaan akun Twitter @CommuterLine yang aktif memberitakan dan menjawab pertanyaan seputar KRL. Saya mengikuti akun ini. Contoh yang menjawab pertanyaan:

Info Commuter Line on Twitter

@muthiara04 U/ mengecek sisa saldo yang dimiliki silahkan Ibu datang ke loket Stasiun terdekat. Untuk mengecek saldo jgn dilakukan di gate.

Saya melihat bahwa Commuter Line benar-benar menggunakan aplikasi Twitter sebagai sarana untuk lebih dekat kepada penggunanya. Hal ini dirasa tepat karena:

  1. Pengguna KRL adalah warga Jabodetabek yang memiliki akses layanan ke Twitter/Facebook.
  2. Twitter sebagai sarana kronologi menyediakan arus yang bisa diikuti secara kronologis sehingga memudahkan orang untuk mengawasi secara waktu-nyata (realtime?).
  3. Media Sosial mendekatkan perusahaan kepada pengguna. Sekarang era yang humanistik, tidak lagi modernisme. Perusahaan tidak bercitra kaku, melainkan luwes dan ramah.

Saya sendiri merasa terbantu dengan pengumuman-pengumuman di akun Twitter tersebut.

Sarana Situs Daring

Saya merasa situs Commuter Line yang terbaik di antara perusahaan penyedia jasa di Indonesia. Dia menyediakan daftar jadwal KRL di halaman depan. Bukan hanya itu, dia juga menyediakan peta jalur KRL. Yang lebih istimewa, mereka menyediakan jasa menerima keluhan. Saya, sih, tidak mengharapkan lebih. Saya belum tahu apakah itu efektif atau tidak. Tapi, ini sebuah terobosan!

Yang menjadi perhatian saya adalah mengenai potensi Open Data melalui aplikasi waktu-nyata. Melalui rekan saya, saya menemukan adanya aplikasi jejaring yang diakses langsung melalui URL. Format kembalinya HTML. Contoh bila saya mengakses stasiun UI, maka URI-nya “http://infoka.krl.co.id/to/ui” akan menghasilkan: (saya cuplik)

realtime Stasiun UI

Jadwal Kereta Waktu-Nyata Stasiun UI

Saya cukup terkagum-kagum akan ini. Saya tertarik, apakah bisa aplikasi tersebut mengembalikan RDF? Saya pun mencoba apakah jangan-jangan bisa menghasilkan RDF juga:

Ternyata tidak bisa. Berarti hanya menghasilkan halaman HTML saja. Seandainya bisa RDF, sudah pasti menjadi aplikasi Open Data yang paling komprehensif pertama di Indonesia. Saya bisa membanggakan hal tersebut ke rekan-rekan di luar sana. Ha… ha… ha….

Yah, tapi sebenarnya bermodalkan regex, kita bisa membuat aplikasi Android atau aplikasi terminal yang bisa secara waktu-nyata menyediakan informasi stasiun. Bahkan, bermodalkan GPS pada telepon pintar, aplikasi tersebut bisa dimodifikasi untuk menyarankan stasiun terdekat. Dengan informasi lalin, bisa dipadukan untuk menyarankan akurasi stasiun terdekat.

Wow, selamat datang di Open Data! Ada yang tertarik? Saya sedang sibuk DoTA 2, jadi belum ada waktu untuk itu. :-)

Oh, iya, buat Anda yang mengaku Heker/Kreker atau apa pun, hargailah etika. Jangan serang aplikasi publik!

Kartu Elektrik

Hal yang terbaru adalah penggunaan tiket elektronik. Saya sebenarnya ingin membahas ini. Tapi tahu-tahu malah membahas yang lain lebih lanjut.

Saya lihat Commuter Line berhati-hati dalam menerapkan kebijakan kartu elektrik. Sudah sejak lama mereka memodifikasi dan berusaha mengimplementasi kartu elektrik. Dari penjajakan dengan sebuah bank penyedia e-wallet sampai penyediaan kartu elektrik berlangganan percobaan, Commet.

Proses  berlangsung bertahun-tahun. Namun, kemarin tetap saja antrian pengguna ketika pertama kali menggunakan kartu elektrik ini cukup serius. Bahkan, kata rekan saya, antrian di Lenteng Agung sampai membuat jalan raya macet. Yah, saya tetap maklum dengan Commuter Line. Dia cukup berani untuk akhirnya melompat ke inovasi baru.

Berikut hal-hal yang saya amati dari proses tersebut:

  1. Proses membaca kartu sekitar 5 detik dan lebih. Padahal, kalau saya bandingkan ketika saya di kota sebelah (Kuala Lumpur dan Singapur), kartu hanya membutuhkan waktu kurang lebih sedetik atau dua. Nampaknya Commuter Line perlu menulis ulang aplikasinya.
  2. Hanya ada dua atau tiga pembaca kartu sehingga orang membludak mengantri.
  3. Banyak orang yang belum paham memasukkan kartu (atau menaruh di atas untuk kartu multi trip) sehingga bisa sampai semenit sebelum kartu masuk.
  4. Disiplin mengantri yang belum optimal mengakibatkan banyak orang yang berdesak-desakan sehingga memperlama waktu proses. Saya sendiri hampir mengamuk karena selalu diselak orang.

Commuter Line menyediakan dua jenis kartu: 1) single trip (kartu sekali jalan); dan 2) multi trip (kartu berlangganan). Berbeda dengan kartu langganan sebelumnya, kartu berlangganan multi trip dibuat dengan batasan saldo, bukan waktu. Jadi, dengan saldo di atas Rp7000,00 kita bisa menggunakan kartu tersebut sampai kapan saja.

Satu kartu langganan seharga Rp20.000,00 dan tak bisa diuangkan. Namun, isi saldonya bisa diuangkan di setiap stasiun KRL se-Jabodetabek. Lumayanlah kalo lagi bokek bisa mencairkan dana maksimal Rp1.000.000,00.

Saya iseng-iseng membaca kartu multi trip yang saya punya dan menemukan informasi berikut:

Yak, berhubung waktu menulis blog ini kebablasan sehingga menghabiskan satu ronde di DoTA 2, saya belum mencari tahu lebih lanjut kartu ini. Silakan Anda cari tahu sendiri kalau penasaran. Saya, sih, berharap kalau APDU untuk membaca dapat dibuka, lumayanlah bisa baca sendiri tinggal berapa sisa saldo.

Yang pasti, sungguh mengagumkan kinerja PT KAI (dalam hal ini Commuter Line)! Kudos!

kembali ber-DoTA 2

Tetap Berjuang!

Tetap Berjuang!

Pun pucuk terkulai dan ulam berguguran, tetaplah carang tercangkok lekat.

Sewaktu saya membaca manga (komik Jepang), saya menemukan gambaran tentang wanita. Wanita digambarkan dalam tayangan populer seperti seorang yang tidak aman, ingin dihargai, dan menginginkan lelaki yang mengerti dirinya. Demikianlah film/novel populer “Twilight” dalam menggambarkannya. Namun, di manga yang lain saya menemukan bahwa ternyata lelaki adalah makhluk terlemah ketika berbicara cinta.

Di tengah-tengah sikapnya yang acuh-tak acuh, lelaki menutupi hatinya yang gampang terluka. Laiknya seekor anjing yang menunggu tuannya, banyak lelaki yang tak berdaya di hadapan kaum Hawa. Kendati tak terbalas, mereka masih menunggu sang empunya hati agar memberikan hatinya juga. Aneh tapi nyata.

Terus terang, saya dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkan bahwa lelaki harus kuat dan mengayomi. Ia harus tegar dan teguh. Siapa lagi yang dapat mengayomi kalau sang nahkoda kehilangan arah?

Namun, hampir 80% penghuni RSJ Bogor adalah lelaki. Penyebab penyakit mereka sebagian besar adalah putus cinta. Saya pun baru-baru ini saja tahu hal ini.

Ketika saya membuka mata tentang aspek ini, saya terkejut. Saya pun menemukan ternyata pria-pria muda di sekitar saya banyak yang mengalami kejatuhan. Ada yang menjadi gila hampir schizo. Ada yang merusak diri dengan ke Warnet dan membolos kuliah. Bahkan, ada yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya ketika pacarnya memutuskan hubungan mereka.

Saya panik!

Patutkah lelaki demikian? Bukankah selama ini gambaran lelaki sebagai seorang yang mengayomi dan kuat menanggung keadaan? Apakah yang terjadi? Di tengah kepanikan itu, saya pun menyalahkan media dan budaya Pop yang menganjurkan pelemahan pria. Ada juga hendak berpikir untuk menuduh mereka yang lemah sebagai produk gagal kemanusiaan. Untungnya itu tak sedikit pun terbesit lama.

Di tengah kepanikan itu, saya pun bernalar! Tak ada gunanya menyalahkan media dan budaya Pop.  Manusia sejati harus bersolusi. Saya pikir, ketetapan hatilah yang mampu menghipnotis diri untuk tetap berjuang; memberikan alasan untuk melihat indahnya hidup di tengah badai dan asa yang semakin menipis. Sebuah ungkapan yang mampu menggambarkan perjuangan, kendati hidup telah tersakiti oleh orang yang disayang.

Tantangan Alih Bahasa

Saya pun mengungkapkannya dengan bahasa Inggris:

Even if the loved one doesn’t love you back, doesn’t mean you must unlove yourself.

Artinya, walau pun yang kita cintai tak mencintai kita, bukan berarti kita harus berhenti mengasihi diri kita sendiri. Saya pun berusaha meng-Indonesia-kan ungkapan tersebut:

Pun yang kau cintai tak mencintaimu, bukan berarti kamu harus berhenti mencintai dirimu.

Sayangnya, ada masalah dengan kalimat ini. Kalimat “to love yourself” dalam bangsa Barat berarti untuk menghargai dirimu, memperlakukan dirimu sendiri dengan baik, memeliharanya dan mensyukurinya. Dalam konteks kekinian yang saya pahami, hal tersebut tidak berlaku untuk Bahasa Indonesia. Dalam konteks kekinian, kata “mencintai dirimu sendiri” berimplikasi kepada kesombongan, egois, dan segala hal yang negatif berbau chauvinistik.

Tantangan kedua dalam menerjemahkan begitu saja adalah eufimisme bahasa. Eufimisme yang berlebihan dalam Bahasa Indonesia mengakibatkan kata-kata harafiah mengalami penurunan kuasa. Maksud saya, dalam bahasa Inggris mereka sering menyebutkan setiap kata yang dipakai dalam percakapan sehari-hari dalam kalimat romantis dan puisi. Setiap kata harafiah dalam bahasa Inggris memiliki kuasa kuat dalam menimbulkan kesan mendalam bagi pendengarnya.

Uh, saya kesulitan memberikan contoh tanpa mengubah tulisan ini menjadi sebuah tulisan ilmiah yang panjang dan tak terbaca. Tapi, saya coba memberikan satu atau dua contoh supaya lebih dipahami.

Sebuah cuplikan teks lagu dari sebuah lagu populer Inggris, “I won’t give up”, Jason Mraz:

I won’t give up on us Even if the skies get rough I’m giving you all my love I’m still looking up

Yang kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia secara harafiah menjadi:

Aku takkan menyerah dengan [hubungan] kita. Walau langit semakin tak bersahabat. Aku memberikan seluruh cintaku. Aku masih menantikan.

Hmm… sepertinya ini bukan contoh yang baik. Ini, kok, terjemahannya tampak puitis juga. Ah, ini saja, “Inside of love”, Nada Surf:

Watching terrible TV  it kills all thoughts Getting spacier than an astronaut Making out with people I hardly know or like I can’t believe what i do late at night

Kalau diterjemahkan:

Menonton acara TV membosankan, untuk membunuh seluruh pikiran. Mendapatkan ruang lebih besar dari pada seorang astronot Bercinta dengan orang yang hampir tak kukenali dan sukai Aku tak percaya apa yang aku lakukan malam hari

Ketika menulis tulisan ini, saya menyadari bahwa ternyata akhir-akhir ini artis Indonesia berusaha mempopulerkan terjemahan harafiah dari lagu berbahasa Inggris. Sebab, kok, sepertinya ungkapan-ungkapan yang sepertinya dangkal dan tak begitu nyaman di telinga orang Indonesia akhir-akhir ini terinterpretasi lebih kuat. Walau pun ada juga teks lagu yang seakan memaksakan konsep romantika ala Barat. Yah, salut untuk globalisasi dan sinkretisme konsep seni!

Oh, iya, kembali kepada Nada Surf.

Interpretasi saya adalah bahwa Nada Surf menggambarkan orang yang suka mendapatkan privasi dengan menyendiri di ruang tamu. Menonton acara TV untuk membunuh pikiran-pikirannya. Dipenuhi dengan tayangan-tayangan TV tersebut, ia tersedot ke sebuah dunia tanpa batas. Dalam khayalan-khayalan yang ia kehendaki ia pun melakukan….

Kendati ini adalah gambaran pria modern yang telah hidup di perkotaan, konsep ini masih rancu bagi sebagian besar orang Indonesia. Lagi pula, kebanyakan kita tidak menggambarkan keadaan secara harafiah. Sudah adat Asia untuk tidak membuka diri selebar-lebarnya. Itu sebabnya, banyak bapak di Indonesia yang risih untuk menyatakan kepada anaknya, “Papa sayang sama kamu.”

Walau pun sebenarnya bangga, seorang ayah Asia jarang memuji anaknya. Seorang pemudi Indonesia jarang menyatakan cintanya, ia menunggu pemuda yang menyatakan. Seorang pemuda tak langsung menyatakan kesukaannya, biasanya melalui pihak ketiga (makcomblang) ia berani menghampiri. Mungkin hanya ibu saja yang terbuka menyatakan cintanya kepada anak-anaknya. Itu sebabnya, orang lebih mengenal kasih ibu ketimbang sang ayah yang membanting tulang demi keluarga.

Dengan ketertutupan itu, konsep-konsep harafiah menjadi asing. Itu konsep Barat yang biasa terbuka menyatakan segala sesuatu secara gamblang. Itu bukan konsep orang Asia. Itu bukanlah konsep orang Indonesia.

Kalimat seperti “cinta ini membunuhku” (terjemahan dari “this love’s killing me”) terasa asing dan aneh. Ini sebenarnya adalah ungkapan asing. Saya bukannya anti terhadap kalimat asing, tapi apakah benar Bahasa Indonesia sedangkal itu untuk tidak memiliki ungkapan untuk menyatakannya?

Majas dan Pantun

Saya ingat dengan kisah-kisah novel yang saya baca sewaktu SMA dulu. Kisah-kisah dongeng si Pahit Lidah dan kisah-kisah kependekaran (maaf saya sudah lupa judul-judulnya) mengingatkan saya sesuatu. Bangsa Melayu adalah bangsa yang berpantun. Bangsa yang menyatakan segala sesuatu dengan alegori, personifikasi, dan metafora. Saya ingat bagaimana ketika seorang pendekar bersilat lidah dengan pendekar lainnya untuk mengukur ilmu. Saya ingat bagaimana dua penasihat raja berbalas perumpamaan untuk menyatakan siapa yang lebih unggul.

Sekali lagi, saya pun terhenyak dan sekali lagi memutuskan:

Sastra bangsa Melayu dibangun dengan majas! Dengan alegori, dengan personifikasi, dan dengan metafora.

Solusi Saya untuk Ungkapan Bahasa Indonesia

Kembali kepada ungkapan saya yang semula dalam bahasa Inggris. Saya pun berupaya menemukan ungkapan yang berhubungan dengan ketetapan cinta. Kedangkalan pengetahuan saya tentang Bahasa Indonesia hanya menemukan kalimat berikut:

Pucuk dicinta, ulam pun tiba.

Menurut KBBI daring (tak bisa ditautkan, URL tak tersedia) dan Kamus Peribahasa, arti ungkapan tersebut adalah mendapatkan hal yang lebih dari yang diidamkan. Ingin mendapatkan pucuk, lebih dari itu malah mendapatkan ulam. Ulam adalah pucuknya pucuk. Ia adalah pucuk muda yang cocok untuk dijadikan sayur lalap.

Hal berikutnya, saya terinspirasi dengan penggambaran Alkitab tentang pohon Anggur. Bahwa Yesus adalah pokok anggur dan kita adalah carang-carang yang tercangkok kepada-Nya. Dalam hal ini, setiap carang akan tetap hidup selama ia lekat tercangkok.

Anda bisa mengaitkan ini secara religius atau tidak, tetapi saya mencoba untuk menggeneralisasinya sesuai konsep umum tanpa embel-embel keagamaan. Saya pikir selama sakratul maut belum menjemput, setiap manusia tetaplah hidup. Hidup manusia kendati berada dalam roda, kadang di atas, kadang di bawah, tetapi roda tersebut tetap berputar.

Ketika saya berpikir tentang manusia sebagai pusatnya, saya menemukan sebuah gambaran. Manusia bisa digambarkan sebagai sebuah pokok dan setiap harapan yang timbul adalah carang-carang kehidupannya. Beberapa seperti bernapas dan berpikir diberikan secara otomatis, artinya ia adalah carang yang tumbuh dari dalam manusia itu sendiri.

Cinta kepada lawan jenis di lain pihak adalah sebuah carang yang dicangkokkan kepada manusia. Hal ini saya interpretasikan dari cara manusia mulai mengenal cinta. Biasanya, sebelum akil balik dan umur belum tinggi menjulang, manusia tidak terpikir untuk menyukai lawan jenis. Pikiran kanak-kanak yang murni tak mengenal perbedaan dan memandang semua sama.

Seiring dengan umur yang semakin meninggi, tergantung orang-orang, manusia pun memandang sekelilingnya berbeda. Dengan stigma di masyarakat yang menginspirasi dirinya, ia pun mulai memandang sesama jenis dengan berbeda. Hal ini ditunjang pula dengan sifat naluriah untuk melakukan kehendak alam terbesar: mempertahankan keberadaan spesiesnya.

Ketika ia mulai memandang berbeda lawan jenisnya, perasaan tak bernalar pun menyerang. Cinta platonik yang tak terbalas pun bersemi. Dengan adanya cinta yang tak terbalas ini, akal sehat mengalah kepada kekalutan. Sang individu pun mulai berpikir yang tidak-tidak.

Namun, saya coba menawarkan untuk melihat bahwa kendati harapan-harapan yang indah tak kesampaian, namun hidup manusia tetap ada. Harapan untuk sang cinta memperhatikan mungkin pupus. Atau sesuatu yang lebih dari itu, bahwa ia akan selamanya menjadi tulang rusuk yang hilang sudah tak kesampaian lagi. Tetap, seseorang seharusnya bersyukur memiliki cinta yang tercangkok lekat.

Biarlah ketika cinta itu mengalami ujian berat dengan seluruh daun-daun dan pucuknya gugur dan seakan mengering, namun selama cangkokan masih lekat dan kayu carang tidak mengeriput, akan tumbuh pucuk yang lain. Memang, gugurnya semua harapan ini menyakitkan. Tapi, waktu menyembuhkan segalanya. Positivisme akan membukakan jalan untuk dia yang lain yang lebih mencintai dirimu dan menerimamu.

Lagipula, bagaimana orang lain dapat menghargaimu sedangkan dirimu sendiri tak kau hargai?

Akhir Kata dan Arti Lain

Seperti ungkapan “pucuk dicinta, ulam pun tiba”, ungkapan yang saya buat ini ternyata juga mengandung arti lain. Rekan saya, Narpati, mengartikannya untuk tema perjuangan. Kendati harapan yang lain telah punah, sebuah carang tetap terlekat pada pokok dan masih hidup. Selama ia masih dapat berdiri tegap harapan baru akan tercipta. Yah, itu terserah dan saya rasa itulah indahnya kedalaman Bahasa Indonesia.

Saya mungkin seorang pengguna Bahasa Indonesia yang masih amatir. Saya bukan ahli sastra. Tetapi, saya sudah sebisa mungkin membela bahasa yang menjadi salah satu pilar bangsa ini.

Madu dan Racun

Madu dan Racun

Koleksi lagu Madu dan Racun. Di mulai dari penyanyi asli, seorang penyiar radio Prambors, Arie Wibowo sampai J-Rocks.

Penyanyi asli: (Pop)

Penyanyi berikut yang mempopulerkan: (Pop)

Versi cadas dari negeri tetangga: (Hard rock)

Versi cadas juga: (Glam Rock)

Kembali ke dalam negeri dalam aliran J-Rock oleh band yang sama dengan nama alirannya:

Ada beberapa alasan mengapa saya suka lagu ini:

  1. Liriknya ciri khas Melayu, penuh majas, namun tetap relevan pada tata bahasa sehari-hari.
  2. Tata nadanya (chord progression?) dinamis sehingga masih bisa relevan untuk dibuat ke hampir semua aliran musik.
  3. Jangkauan nadanya tidak terlalu jauh dan tidak datar sehingga bisa dimainkan sesuai dengan area.
  4. Tetap relevan dengan isu anak muda di segala zaman (galau).

Demikianlah.

Membajak Itu Indah*

Membajak Itu Indah*

Ahoy, lad?

Ahoy, lad?

Seorang musisi Gereja mentwit sebuah pernyataan:

Sidney Mohede on Twitter

Sedih jg lihat tweet orang2 ‘pelayanan’ yg masih mau membajak & mencuri lagu/album yg kita kerjakan dengan kerja keras.

Sedih memang menjadi musisi zaman sekarang. Mereka menjadi korban perang idealisme. Karya-karya mereka selalu dibajak orang. Namun, sebenarnya tidak semua pembajak itu memiliki motif keuangan.

Sekali lagi, saya tidak berusaha membela pembajakan. Sebaliknya, saya memilih FOSS untuk melawan itu. Saya pun mendengarkan lagu dari CD yang saya beli. Namun, ada hal-hal lain dibalik pembajakan dan saya tertarik membuka hal-hal tersebut.

Keuntungan Menginjak Hak

Terus terang, dari awal tulisan ini saya nyatakan bahwa secara pribadi memilih pandangan sosial yang berpendapat bahwa hak cipta harus dibatasi. Di luar karya musik, hak cipta dipakai untuk mencegah kompetitor membuat obat yang sama sehingga harga obat paten mahal. Hal ini menyebabkan penyakit-penyakit yang seharusnya bisa disembuhkan menjadi mematikan. Mantan menteri kesehatan, Siti Fadillah, pernah memrotes praktik komersialisasi ini.

Karya-karya sastra yang seharusnya menjadi domain publik terus diperpanjang hak ciptanya oleh penerbit. Padahal, sebuah tulisan karya sastra dulunya memiliki hak cipta 10 tahun. Kemudian, karya tersebut menjadi domain publik yang dapat disalin, ditingkatkan, dan dimodifikasi oleh siapa pun. Orang pun dapat menikmati karya sastra. Hal ini memungkinkan orang-orang yang tak mampu dapat mengakses karya tersebut sambil memberikan insentif kepada penulis.

Yang terbaru dari itu semua adalah adanya usaha penciptaan paten disain baju. Paten ini ditolak karena motif-motif baju dan segala macam diciptakan dari tren yang sudah ada. Kecuali Anda sejenis dengan Lady Gaga, tak seorang pun mau memakai disain baju yang sangat berbeda. Lagi pula, disainer-disainer pasti membangun karyanya berdasarkan inspirasi lainnya.

Dari dunia pendidikan, terjadi pula protes mengenai akses publikasi ilmiah yang dikenakan biaya dan biaya publikasi itu sendiri. Banyak dari publikasi ilmiah tersebut merupakan pembiayaan dari dana publik. Sudah seharusnya mereka tersedia untuk publik. Apalagi, mengapa justru periset yang harus bayar untuk hasil kerjanya dapat dibaca orang? Namun, yang terjadi adalah penulis harus membayar publikasi dan pembaca harus membayar untuk mengakses tulisan yang dibiayai publik itu. Itu sebabnya, ada periset yang memilih untuk publikasikan langsung tanpa melalui publikasi.

Hal-hal pengindustrian karya-karya tersebut dengan mencabut beberapa hak seperti domain publik menyebabkan timbulnya haktivisme (hacktivism). Penyebabnya satu: demi mendapatkan keuntungan, korporasi melanggar hak-hak yang sudah ada dan diakui. Mereka punya uang dan pelobi untuk menggolkannya sehingga memiliki ketetapan hukum. Pejuang kemanusiaan, atau setidaknya itulah yang ingin dilakukan, sebagai individu-individu terpaksa harus berjuang dengan cara yang “lain.”

Budaya Sebagai Inti Manusia Bukan Industri

Generasi 90-an dan lebih tua biasanya membeli kaset dan vinil. Mereka dapat memberikannya kepada orang lain, atau menjual kembali kaset tersebut. Bahkan, kaset tersebut bisa direkam ulang ke kaset lainnya.

Pada masa itu, penerbit berfungsi sebagai pendistribusi album. Itu sebabnya, pada masa itu record label (label) berfungsi sebagai distributor. Namun, semua berubah ketika negara api menyerang. Musik tumbuh sebagai sebuah industri, bukan lagi puncak dari kebudayaan manusia (the pinnacle of culture).

Penerbit pun berubah menjadi sebuah mesin uang dengan melewati batasan yang seharusnya tak dilewati. Mereka mulai mempermak artis sesuai dengan tuntutan pasar (baca: arah pasar yang mereka tentukan).  Artis tak lagi bebas berekspresi. Yang paling parah dari semua itu, hak kepemilikan dipindahtangankan kepada label. Artis hanya memiliki sedikit. Bahkan, artis yang sudah/baru saja meninggal menjadi pusat keuntungan perusahaan.

Untuk melawan itu, beberapa musisi keluar dari label utama. Artis seperti Radiohead dan Hanson menjadi contoh utama. Dengan pertumbuhan Youtube dan iTunes, beberapa musisi baru lebih memilih untuk menjadi musisi di Youtube dan menjual karyanya di iTunes. Namun sayangnya, ini hanya terjadi di luar Indonesia.

Akses Terbatas dan Kemampuan Terbatas

Saya langsung saja ke Indonesia. Ada beberapa faktor yang membuat pembajakan menjadi tenar:

  1. Secara sistematis bangsa Indonesia diperbodoh dengan tontonan tidak makna.
  2. Tingkat ekonomi yang menurun menyebabkan daya beli merosot.
  3. Penghargaan seni yang rendah.
  4. Distribusi musik yang harus berubah.

Secara tidak sadar, orang-orang yang mengeruk keuntungan dengan memasang cerita-cerita dangkal dalam sinetron telah sukses memperbodoh bangsa ini. Metafora-metafora yang seharusnya bagian dari cerita sehingga menyebabkan interpretasi penonton diambil dari tayangan tersebut. Akibatnya, bangsa ini menjadi lebih pragmatis dan tak bisa berpikir abstrak lebih dalam.

Tak seperti Keluarga Cemara yang mengajarkan berpikir bahwa roda kehidupan membawa ke bawah. Atau Satu Paman Tujuh Ponakan yang membuka kehidupan, kejujuran, dan bertahan hidup. Saya masih ingat episode ketika mereka membuka usaha cuci baju dan salah satu ponakannya menemukan uang di celana. Bahkan sinetron Si Doel mengajak berpikir tentang kenyataan sosial ketika Babeh ternyata selingkuh. Oh, tidak, Cinta Fitri pokoknya mengajarkan pemeran utama rajin beragama dan sering dibentak  oleh tokoh jahat.

Sekali lagi, seni seharusnya sebuah pusat inti kebudayaan dan hasil pemikiran menjadi cetek akibat aksi-aksi tak bertanggung jawab pemraktik kesenian. Di tengah penurunan nilai tersebut, orang mulai mempertanyakan keberhargaan dari hasil karya tersebut. Benarkah kita perlu menghargai karya tersebut?

Pertanyaan tersebut bukan bagi para pembajak, tetapi juga bagi masyarakat lainnya. Apakah guru/dosen mendalami bahwa membajak itu salah? Sedangkan, buku-buku ajaran mereka pun banyak yang hasil salinan. Mereka sadar, murid mereka tak punya uang untuk itu.

Tentu, tak semua orang menyerah. Ada usaha untuk membuat buku sekolah gratis (BSE, di mana nasibmu?). Pak Ibam sendiri membuka repositori Bebas dan menulis buku Kunyuk untuk mata kuliah Sistem Operasi. Dan beberapa usaha lainnya. Namun, hal fundamental masih belum terjawab: akses murah kepada sebuah karya tulis.

Dan hal tersebut juga melanda karya seni. Bagaimana mungkin orang dapat membeli CD musik? Padahal, sekarang satu CD yang asli seharga Rp20.000,00 s.d. Rp25.000,00 untuk karya yang biasa. Untuk karya-karya istimewa, harga berkisar dari Rp40.000,00 s.d. Rp 60.000,00.

Murah sebenarnya, tetapi sayangnya orang sudah berstigma bahwa CD itu mahal!

Sadar atau tidak, tak ada (dalam pengetahuan saya) musisi yang mengiklankan bahwa CD mereka sudah terjangkau (saya tak pakai kata murah karena karya seni bukan murahan). Tak ada yang memberitahukan bahwa semenjak 2010/2011 harga CD sudah turun drastis. Tak ada yang memberitahukan bahwa CD ini 5, 8, atau 11 dan lebih  lagu itu dibuat dengan air mata.

Parahnya, mungkin hanya saya, artis-artis sekarang menimbulkan kesan bahwa mereka hasil karya label bukan mereka sendiri. Munculnya ben-ben yang lipsync dan minus one semakin memperkuat anggapan itu (walau pun sebenarnya seringkali artis dipaksa untuk itu). Sehingga, bagi orang berpengaruh (masyarakat penikmat yang sebenarnya bisa mendukung anti pembajakan), kepalsuan yang mengkhianati idealisme seni membuat mereka undur dari ide bahwa seni itu berharga. Tentu saja, motif ekonomi juga memaksa orang untuk tidak mendukung hak musisi.

Dunia Digital, Dunia Baru

Dahulu, kaset dibiarkan untuk disalin karena hasil salinannya tak akan sebagus aslinya. Dengan adanya media digital, itu pun berubah. Penyalinan sebuah media menghasilkan hasil salin 1:1. Sebuah berkas autentik tidak lagi berbeda dengan salinannya. Ini membuat permainan berubah!

Adanya digitalisasi media membuat masalah baru pula. Ketika zaman kaset, seseorang meminjamkan kasetnya kepada orang lain untuk didengarkan. Itu praktik yang wajar pada masa itu. Namun, sekarang zamannya ketika orang meminjamkan lagu, mereka membuat salinan media tersebut.

Dengan adanya digitalisasi, seseorang dapat membeli sebuah CD dan membagikannya kepada rekan-rekan. Aturan main pun berubah. Orang-orang tidak boleh lagi menyalin media rekannya. Mereka tak boleh lagi membagikan artis yang mereka sukai kepada orang lain.

Dunia industri melihat peluang dalam mengunci konten yang mereka miliki. Industri hiburan ingin melindungi konten mereka. Mereka berusaha menambahkan restriksi pada media yang berisi konten mereka. Timbullah sebuah kesadaran untuk memasang DRM.

DRM ini justru merugikan konsumen. Lagu yang mereka miliki tidak dapat dimainkan pada perangkat-perangkat lain. Sesuai undang-undang, mereka bisa membuat salinan sebagai cadangan. Namun, hak tersebut dirampas. Penggunaan DRM, terutama yang mengharuskan daring, membuat konsumen menjadi tidak penuh menikmati konten yang sudah dibelinya.

Ketika menggunakan komputer dengan sistem operasi yang berbeda, konsumen kehilangan hak untuk memainkan musik yang sudah ia beli. Ketika ia menggunakan produk non-Apple, lagu yang dibelinya di iTunes tak dapat dimainkan. Padahal, konten yang dibelinya adalah sebuah format universal semisal MP3. Padahal, ia sudah membeli pula lisensi dari penggunaan MP3. Mengapa ia tak dapat menggunakan hak lisensi tersebut?

Pertanyaannya, lalu apa yang kita beli di iTunes? Apa yang kita beli di toko CD? Semua paradigma lama yang kita ketahui telah berubah dan industri hiburan ingin mendefinisikan ulang hal-hal tersebut.

Di tengah-tengah gegap gempita dunia digital, Internet berusaha menyatukan manusia. Namun, lagi-lagi teknologi dipakai untuk mendiskriminasikan orang. Alat pembayaran yang dipisahkan oleh geografis membuat orang dari tempat lain tak bisa menikmati lainnya.

Akhir Kata

Wow, tulisannya panjang benar. Memang, karena pembajakan bukan sekedar motif keuangan. Ada juga latar belakangnya tentang perjuangan hak sebagai manusia di tengah-tengah gegap gempita korporasi.

Sekali lagi, saya tak membela pembajakan. Sebagai puncak dari kebudayaan, pekerja seni seharusnya berpikir kreatif dan memikirkan masalah-masalah budaya ini. Ini merupakan tanggung jawab mereka sebagai filsuf-filsuf zaman ini. Mereka seharusnya menyuarakan perubahan.

Jadi ketika musisi berteriak tentang pembajakan tanpa melihat esensinya dan garis besar latar belakang, seorang dapat bertanya:

  • “are you a bard or beggar asking for coins?”
  • “apakah mereka bersuara dari hati mereka ataukah label mereka yang berbicara?”
  • “apakah mereka paham apa yang dibedakan?”
  • “apakah mereka paham tentang gejolak-gejolak sosial yang ada?”

Musisi tidaklah sekedar bernyanyi.  Dari zaman raja-raja sampai sekarang, musisi adalah penyuara dan isi dari apa yang dia lagukan merupakan puncak dari pemikiran. Dari masa ke masa musisi selalu pada tempat yang terhormat dalam budaya. Jika memang mereka tidak setuju dengan pembajakan, mereka haruslah menyuarakan suara itu dengan alasan. Mereka sediakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terhubung dengan budaya zaman ini.

Ada beberapa artis yang menyediakan jawaban mereka.

  1. Pongky Barata dan istri menyediakan jalur langsung supaya orang yang mau lagu mereka dapat menghubunginya.
  2. Beberapa artis mengizinkan pembajakan karena mereka diuntungkan dari jalur lain seperti konser dan buah tangan.
  3. Banyak artis berjuang melawan pembajakan dan mulai memikirkan distribusi secara digital.
  4. Neil Young, bapak Rock, menganggap bahwa Pembajakan adalah media Radio yang baru. dia menganggap pembajakan seperti radio yang memutarkan musik.

Dan mungkin ada artis lainnya yang menyediakan solusi lainnya. Saya, sih, tidak mengikuti perkembangan lagu sekarang. Habis, lagunya menyesatkan membuat galau dan tak bermakna. Banyak yang cuma ingin jualan laku saja. Sekali lagi, inilah stigma yang muncul, walau pun sebenarnya banyak lagu yang baru (seperti Pay, Ras Muhammad, Bondan, dkk.) yang bagus.

Akhir Kata Sebenarnya

Tulisan ini sudah dari beberapa hari lalu. Tiba-tiba ada saja pembahasan sehingga tulisan ini semakin panjang. Tapi, asli, kali ini memang akhir kata. Ha… ha… ha….

Kembali kepada masalah rohani, saya baru saja mengikuti pelatihan dari gereja saya. Terkejutnya saya, mereka menyatakan bahwa pembajakan merupakan sebuah hal yang salah. Dan ini jawaban gereja mengenai masalah tersebut. Mereka ingin agar umat menghargai hasil karya orang lain.

Terlepas dari konsep domain publik yang hilang dan hak konsumen yang telah diambil oleh korporasi, saya pun menerima hal itu. Toh, saya pun telah berusaha menggunakan produk legal. Lagu-lagu yang saya dengar semuanya saya rip dari CD yang saya beli. Bahkan, untuk urusan perangkat lunak legal, saya memiliki Windows XP dan M$ Office 2007 yang asli.

(Mengapa versi lama? Yang baru mahal! Kebetulan saya hanya mampu versi itu. Mengapa beli? Well, some people don’t care about idealism and keep sending me documents with proprietary formats and exotic copyrighted fonts.)

Mungkin gereja dengan pengetahuan yang terbatas tak melihat sisi kemanusiaan yang lain. Tapi, mereka berusaha melihat bahwa musisi-musisi dan penulis buku juga perlu didukung. Periuk mereka tetap mengebul dari apa yang terjual. Saya pun menerimanya.

Sekali lagi, kalau orang berbicara bahwa pembajakan itu salah, saya pun setuju. Tapi, tulisan ini menyediakan perspektif lain. Saya harap, tulisan ini dapat membukakan bahwa masalah pembajakan tidak dapat dipandang dari satu sisi saja. Dari berbagai sudut pandang itulah, baru kita membuat solusi bersama.

Pembajakan sebuah masalah multidimensi. Kita perlu pahami dari sisi-sisi lain untuk dapat mengatasinya. Bukan sekedar terabas tak terarah yang justru mementalkan usaha-usaha tersebut. Bagaimana pendapat Anda tentang krisis multidimensi ini?

  • Sarkastik

Errata

Sebagaimana kekurangan saya dalam menulis, banyak poin yang melompat-lompat sehingga tulisannya terkesan menjatuhkan. Padahal sebenarnya memberi saran dan solusi. Beberapa poin membutuhkan tautan yang saya lupa laman situsnya karena sudah lama tak berkunjung. Itu sebabnya, tulisan ini akan selalu disunting agar niatan dalam kepala saya menyambung dengan tulisan.

  1. Menambahkan tautan kepada akibat DMCA.
  2. Memberi penekanan tentang bahwa saya sebenarnya mau membahas stigma yang berkembang dari hasil pengamatan saya dan kondisi sebenarnya dari musisi. (terutama soal masalah lipsync/minus one)
  3. Menambahkan Neil Young
Menerapkan Kebijakan TIK Berdasarkan Budaya Lokal

Menerapkan Kebijakan TIK Berdasarkan Budaya Lokal

Sometimes, people refused to be saved.

Salvation? No way, Jose!

Sebagai seorang administrator TIK di UI, saya sering kali kesulitan dalam menerapkan strategi keamanan. Sering kali pengguna tidak paham akan pentingnya sebuah sarana keamanan. Bahkan, untuk bisa menerapkan kebijakan yang ketat pun dirasakan sebagai sebuah arogansi bagi banyak pengguna. Ujung-ujungnya, kebijakan tersebut terpaksa dicabut.

Ternyata, hal ini dialami pula dengan perusahaan-perusahaan yang lain. Dari hasil berbicara dengan pembicara di CompTIA, beberapa kliennya pun ada pula yang kesulitan seperti itu. Itu pun setelah saya renungi juga ternyata dialami dengan rekan-rekan yang lainnya. Saya jadi tertarik untuk eksplorasi lebih lanjut.

Dari hasil pembicaraan-pembicaraan itu, beberapa contoh tipikal kejadian yang terjadi:

  1. Atasan mem-bypass kebijakan TIK untuk mendapatkan tujuan.
  2. Rekan kerja yang merasa kenal merasa rekan TIK semena-mena jika menerapkan tegas kebijakan TIK.
  3. Klien merasa diganggu jalan kerjanya dengan kebijakan TIK dan dirasa tidak perlu menerapkan kebijakan TIK.
  4. Rekan sejawat merasa terancam periuknya ketika kebijakan TIK baru menghilangkan pengaruhnya.

Dalam tapa brata saya, saya berusaha melihat perusahaan yang bisa sukses (pada level tertentu) menerapkan kebijakan TIK. Dari hasil riset amatir saya dan hasil diskusi, berikut tipikal perusahaan yang berhasil menerapkan kebijakan TIK:

  1. Perusahaan yang merupakan cabang dari perusahaan asing yang telah memiliki kebijakan TIK yang ketat.
  2. Perusahaan yang pimpinan/tokoh sentral yang memilih tunduk kepada kebijakan TIK.

Saya tidak memasukkan perusahaan pengembang perangkat lunak. Perusahaan pengembang perangkat lunak bila tidak menerapkan kedua kriteria tersebut, maka mereka tidak menerapkan dengan benar kebijakan TIK-nya. Itu sebabnya, perusahaan pengembang perangkat lunak sama saja bagi saya dalam hal ini.

TL; DR

Saya menawarkan proses penyerapan kebijakan TIK:

  1. Memunculkan kesadaran tentang pentingnya kebijakan TIK tersebut dimulai dari level manajemen.
  2. Memunculkan kesadaran akan pentingnya perlindungan data sensitif.
  3. Memastikan semua orang bahwa itu tidak mengganggu periuk mereka, bahkan bisa meningkatkan.

Yak, kalau membaca selanjutnya, silakan saja.

Tinjauan akan Mentalitas Bangsa Indonesia

Ada beberapa dugaan saya yang menjadi halangan dari mental (mental block) yang menyebabkan kebijakan TIK tidak efektif:

  1. Cara pandang tentang sebuah kebijakan.
  2. Cara pandang tentang privasi.
  3. Cara pandang tentang perubahan.

Saya akan membahas ini satu persatu.

Cara Berpikir Panjang

Nampaknya, pandangan bahwa Indonesia adalah bangsa feodal adalah benar. Nampak bahwa kebijakan terpusat dari pimpinan dan gerak-gerik pemimpin mempengaruhi cara sebuah perusahaan memandang kebijakan TIK. Tidak ada kesadaran dari pihak karyawan itu sendiri.

Seperti kata ketua DPR, urusan politik adalah pemikiran elit politisi. Rakyat tak perlu tahu tentang itu. Rakyat dianggap tidak memiliki kemampuan untuk mengerti urusan-urusan “tingkat tinggi” tersebut.

Pandangan ini tidak salah karena sedikit banyak terpengaruh dari cara pendidikan kita. Dari pengalaman pribadi saya ketika mengalami pendidikan di Indonesia, saya diajarkan untuk menurut perintah guru. Bahkan, murid seakan pantang memiliki inisiatif. Bisa-bisa, kita dibentak oleh guru bila terlalu banyak bertanya. Benar, tidak?

Ini yang menurut saya menyebabkan bangsa kita tidak bisa berpikir jangka panjang. Kita tidak dilatih untuk bertanggung jawab atas sebuah tindakan. Kita menunggu agar orang tua/guru yang mengarahkan. Sehingga, tak terpikir oleh kita mengapa sebuah kebijakan tercipta.

Tak terpikir mengapa lampu merah harus berhenti. Tak terpikir mengapa harus membuang sampah pada tempatnya. Tak terpikir mengapa tidak boleh menyelak. Baru terpikir ketika Pak Polisi atau Bu Polwan berdiri di perempatan jalan.

Itu sebabnya, hal yang pertama dilakukan agar sebuah kebijakan TIK adalah menimbulkan kesadaran. Kesadaran itu biasanya dari level manajemen.

Semangat Berbagi yang Berlebihan

Berbeda dengan budaya Barat, Indonesia memiliki budaya berbagi. Artinya, sebuah affair dalam satu RT/desa dapat diketahui satu RW/kampung. Artinya, kita terbiasa untuk membicarakan hal-hal yang sensitif sekalipun sebagai bentuk sosialisasi dengan sesama.

Mental berbagi ini wajar terjadi juga karena perbedaan budaya. Budaya Barat mengasuh anak-anaknya sampai lulus kuliah/sekolah. Kemudian, anak-anak mereka secara sadar akan meninggalkan rumah. Itu sebabnya, bagi mereka memalukan jika harus tinggal dengan orang tua jika sudah cukup umur.

Dengan tingginya individualitas, orang Barat terbiasa dengan privasi. Mereka membedakan antara sebuah informasi yang tak perlu dibagi dengan pekerjaan. Nahas bagi Somat, cintanya dengan Dewi diketahui oleh orang sekampung dan menjadi bahan buah bibir. Ibarat kata, dalam kita sering muncul kalimat legendaris:

“Eh, ini rahasia jangan kasih tahu siapa-siapa. Si [INSERT OTHER PERSON HERE] itu ternyata [INSERT SENSITIVE INFORMATION HERE]”

Pertukaran informasi yang sensitif dari satu orang ke orang lain (gosip sekampung) sedikit banyak mempengaruhi cara pandang orang terhadap data sensitif. Rekan saya mengatakan bahwa rekannya di Jepang kaget melihat data-data dirinya banyak dibukakan di Facebook.

Ya, kalau Anda sedikit iseng membandingkan antara profil Facebook orang Jepang dan orang Indonesia, Anda akan melihat perbedaan mencolok. Kita bisa tahu tentang seseorang banyak sekali di Facebook. Isu-isu di BBM juga sedikit banyak dipercayai oleh orang-orang. Bahkan, ada pemimpin-pemimpin agama yang mengkonfirmasi kebenaran khotbahnya karena berdasarkan informasi di Internet.

Rasa percaya berlebihan ini yang dimanfaatkan para penipu pesan pendek dewasa ini. Bermodalkan kelengahan dari rasa percaya akan kabar selentingan, segerombol penipu dapat dengan mudah mendapatkan uang. Apalagi, dengan memanfaatkan kelengahan pihak bank yang tak dapat dengan mudah menahan transaksi keuangan dengan cepat.

Nah, yang kedua yang perlu dilakukan adalah menyadarkan pengguna bahwa informasi sensitif tak boleh dibocorkan kepada orang lain.

Periuk Harus Terus Mengebul

Rekan saya seorang lulusan Jepang sering berbicara kepada saya dengan antusias:

“Kalau TIK meningkat, maka harkat manusia akan meningkat dan mereka bisa memulai melakukan hal yang lain.”

Impian murni ahli TIK adalah otomatisasi proses sehingga lebih efisien. Pertanyaannya, bagaimana dengan pihak-pihak yang tergusur dalam dunia tersebut? Rekan saya bilang bahwa mereka pasti ikut naik.

Kenyataannya di Indonesia, kebanyakan orang tergusur dan tidak dapat bangkit. Seperti poin yang pertama, bangsa ini tidak dilatih untuk berpikir alternatif. Kita lebih menyukai jalan yang sudah pasti. Anda akan dicemooh bila memilih jalan yang tidak pasti.

Contohnya, rekan-rekan saya yang entrepeneur mendapat tantangan dari keluarganya. Mereka bilang, “kamu ini pengangguran bukan, sih?” Hal ini karena entrepeneur masuk ke masa depan yang tidak jelas seperti musisi. Tidak jelas tiap bulan isi rekeningnya dapat terisi atau tidak. Saya sendiri pun mengalaminya. Ketika saya memilih untuk masuk ke dunia FOSS, semua pun bertanya-tanya.

Maka ketika sebuah jabatan yang sudah pasti tergeser, orang pasti akan bertanya hendak ke mana ia akan pergi. Pengaruh yang hilang pun terasa akan menakutkan di lingkungan yang penuh dengan birokrasi dan permainan elit. Anda dapat tergusur dan dibuang ke posisi yang tidak menyenangkan.

Saya beruntung di PPSI, ketika mesin absen gesek diganti dengan mesin e-Akses, pengembang mesin lama mendukung saya dan tim. Bahkan, ia memberikan masukan agar lebih hebat lagi. Saya secara pribadi merasa berhutang budi dengan itu. Sedikit banyak peristiwa ini mengajari saya bahwa bila sistem buatan saya diganti yang baru, saya pun harus legowo. Itu sebabnya, saya suka di PPSI, friksi pekerjaan minimal.

Tapi, itu karena saya di PPSI, bagaimana dengan tempat lain?

Sewaktu saya mahasiswa, saya mengerjakan tugas akhir mengerjakan sistem informasi Puskesmas. Tim saya memilih sebuah Puskesmas kecamatan yang cukup maju (sudah lulus ISO 9000:2000). Kami melihat sistem yang ada sangat bagus. Dari rekam medik hingga inventori dicatat di aplikasi tersebut. Pencarian pun cukup mudah.

Sayangnya, ia dikembangkan dengan CA Clipper dan basis data DBase 3. Kelemahannya adalah aplikasi ini tidak bisa diakses oleh banyak pihak. Berkas basis data yang dibagikan melalui jaringan menjadi kendala. Protokol SMB tidak membiarkan berkas ini diakses banyak sekaligus. Selain itu, terjadi race condition untuk menulis.

Kami pun menawarkan membuat sistem aplikasi Puskesmas yang berbasis Web untuk mengganti sistem lama tersebut. Saya sebagai pengembang merasa bahwa waktu mengembangkan itu ada pihak yang secara strategis berusaha agar sistem itu tidak di-deploy di sana. Kami pun santai saja, mungkin karena kami waktu itu pun tidak menyadari ada intrik seperti itu. Apalagi, berhubung kami ingin lulus dan mereka sudah baik membuka diri — bahkan, kami sampai diundang menemui pengembang aplikasi lama. Kode program pun teronggok di perpustakaan dan tim kami sudah terpencar ke berbagai tempat.

Hmm… setelah saya pikir-pikir, tugas-tugas kuliah yang lain pun kebanyakan melibatkan instansi pemerintahan. Ha… ha… ha….

Orang-orang yang ahli dalam TIK biasanya adalah orang memiliki spesifikasi tinggi. Anda takkan kekurangan pekerjaan. Saya sendiri pun merasa kebanggaan kerja di UI, tapi bila harus didepak saya pasti bisa melamar ke tempat lain. Kalau tidak diterima di negeri ini, ya, saya terpaksa kerja di luar. :-)

Namun sebagai refleksi umur, ternyata saya sama juga.

Saya lahir di masa SUN Java berjaya. Semua teknologi Java seperti Portlet hingga ke SSO pun saya kuasai. Saya pun menguasai beberapa lambda programming seperti Haskell dan Scheme. Saya juga menguasai PERL sebagai bahasa de facto (pada masa saya) text processing. Namun, sekarang zamannya Python, PHP, dan Rails. Zamannya menggunakan pengembangan yang lebih rapid. Saya pun sekarang kesulitan untuk belajar bahasa-bahasa baru dan konsep-konsepnya.

Tidak semua orang bisa cepat beradaptasi. Beberapa bidang ilmu dan kemampuan memiliki saturasi. Proses berpikir yang mengerucut membuat sulit untuk menerima hal-hal yang baru. Perkembangan yang pesat membuat keahlian yang seseorang telah seumur hidup investasikan menjadi obsolet/tidak terpakai. Mereka bukan mesin, mereka punya keluarga yang harus mereka nafkahi. Anda tidak bisa membuang mereka seenaknya!

Itu sebabnya, langkah penerapan kebijakan TIK seharusnya melibatkan pengalihan status pekerja yang terganti. Setidaknya, mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih baik atau setidaknya setara dengan apa yang mereka lakukan. Tugas penerap kebijakan baru adalah mengayomi sebanyak mungkin orang. Toh, mereka juga orang-orang yang berjasa bagi organisasi tempat kita bekerja.

Langkah terakhir yang perlu diperhatikan adalah Anda harus memastikan bahwa dapur semua orang harus mengepul. Atau setidaknya, minimal sedikit orang yang terganggu. Jangan sampai mereka menjadi duri dalam daging yang dapat memecah belah organisasi.

Akhir Kata

Sebenarnya ada beberapa tinjauan yang saya mau tuliskan. Namun, ternyata untuk satu tinjauan saja tulisan ini sudah banyak. Saya bukan seorang psikolog, tapi bidang ilmu saya sedikit banyak menyimpulkan bahwa sarana TIK bukan inti. Sarana TIK merupakan perkakas untuk membantu proses bisnis seseorang menjadi efisien.

Kalau kita mau membantu menyenangkan orang, bukan dengan membuat roller coster, tetapi strategi agar orang tersebut mau memakai ayunan yang kita buat. Strategi ini melibatkan kita untuk memahami perilaku sosial pada sebuah organisasi dan memutuskan menggunakan sebuah pendekatan. Mau tidak mau, pendekatan ini melibatkan ranah antropologi di tempat kerja. (Cia, elah, keren banget dah istilahnya…)

Bagaimana dengan rekan-rekan?

Kekuatan Berbagi

Kekuatan Berbagi

Indonesia Creative Open Source Software

Tadi siang saya dan kk Tonny berjalan cukup jauh dari kantor Inixindo ke halte Busway JCC. Kami baru saja ikut breefing di sana mengenai acara ICrOSS. Lumayan jauh, kira-kira empat sampai lima kilometer.

Acara yang kami isi adalah Workshop Raspberry Pi pada hari Kamis, 25 April 2005. Rencananya, setiap peserta akan mendapatkan modul berisi RPi. Asyiknya! Saya berharap bahwa acara ini bisa menciptakan peluang untuk komunitas ngoprek. Apalagi, setiap peserta bisa dapat satu. :-)

Kami nanti akan membawakan Internet of Things. Pak Bob, mantan pembimbing thesis saya, akan menjadi pembicara utama. Saya termasuk dalam tim yang akan mendemokan beberapa trik RPi.  Mudah-mudahan, saya bisa berbagi dengan baik dan persiapan bisa mencapai sempurna. Beban moral bertambah apalagi setelah tadi siang mendengar bahwa hasil workshop akan dibagikan kepada anak-anak SMK.

Beban moral mode on

Omong-omong, bukannya membela diri. Kalau beberapa hari ini saya tidak aktif berbagi, Anda tahu mengapa. Ha… ha… ha….

Keamanan Identitas

Keamanan Identitas

Scurity!

Saya baru saja menyelesaikan pelatihan CompTIA Security+ (2008 Objectives). Saya jadi vakum menulis karena tidak kuat menulis. Pulang-pergi ke daerah Sudirman (Jakarta) sungguh melelahkan. Saya salut dengan orang-orang yang melakukannya setiap hari kerja.

Oh, iya…

Oleh kantor saya ditawari antara Certified Ethical Hacker (CEH) atau CompTIA. Saya, mah, lebih memilih CompTIA. Lebih bergengsi dan lebih gimana, gitu… xD

Menurut saya, menginjeksi situs-situs sudah tidak semenarik social engineering. Botnet dan bahkan perang menggunakan situs pihak ketiga yang terbajak sudah lebih aplikatif. Ibarat jenderal perang, seseorang hanya perlu merencanakan sebuah obyektif (mencuri informasi, mengubah saham, merusak sebuah negara, dan berspekulatif misalnya) dan tinggal membeli botnet yang sudah jadi sesuai kebutuhan. Botnet pun tinggal bekerja dengan memanfaatkan kelengahan korban-korbannya.

Inilah kelebihan dari social engineering: menggunakan praktik-praktik sosial untuk mendapatkan informasi digital yang seringkali secara normal dijaga dalam sebuah benteng digital.

Apakah ini mungkin? Mungkin saja. Apalagi di Indonesia yang departemen terkaitnya cuma mengurusi bokep.

Masuk Gedung

Ketika saya masuk ke gedung tempat pelatihan, saya disuruh mendaftar ke meja registrasi. Hal yang membuat saya terkejut adalah sudah setiap orang dimonitor dengan CCTV, kita yang di meja registrasi juga ditangkap dengan kamera Web. Yang paling mengejutkan, saya harus menyerahkan KTP/SIM dan KTP/SIM tersebut dipindai ke dalam komputer.

Astaga! Memang, untuk manajemen keamanan bangunan tersebut, mereka berhak untuk melakukan pengamanan. Tetapi, apakah saya juga tidak berhak melindungi keamanan data saya?

Saya tidak pernah mengaudit keamanan manajemen gedung tersebut. Padahal, mereka sudah mengaudit saya dari pintu depan sampai ke meja registrasi. Bagaimana saya tahu kalau mereka tak akan menggunakan data dari KTP saya untuk hal-hal yang tidak benar atau menjualnya ke pihak ketiga?

Taruhlah bahwa mereka bertanggung jawab dan berintegritas atas keamanan data mereka. Namun, saya mau tahu bagaimana keamanan data saya yang telah mereka ambil? Apakah mereka menggunakan pengamanan yang cukup sehingga dapat dijamin bahwa memerlukan usaha dengan biaya yang tidak sebanding untuk mendapatkannya?

Sempat terbersit dalam hati saya untuk membeli materai Rp6000,00 dan menulis surat perjanjian yang ditandatangani oleh wakil manajemen gedung dan saya. Isinya adalah jaminan dan klausul perlindungan data KTP dan wajah saya yang dipindai takkan disalahgunakan. Selain itu, kebocoran data yang terjadi adalah sepenuhnya tanggung jawab manajemen yang berkewajiban untuk mengganti secara material maupun moral kerugian potensial yang terjadi.

Oh, iya, dong. Saya masuk gedung itu dengan penyanderaan data pribadi saya. Sedangkan mereka tidak diberikan tanggung jawab apa pun apabila terjadi kebocoran data. Anda tahu sendiri, ‘kan, penipuan sedang marak dewasa ini dan tak satupun berita yang menyebutkan negara secara aktif melibas gerakan tersebut. Ya, wajar, dong, saya paranoid. Saya bukan orang kaya yang bisa paksa negara menanggung kerugian saya.

Sayangnya, saya datang sebagai seorang pegawai dari sebuah institusi pendidikan di Indonesia. Gak asyik, ‘lah, pokoknya kalau cari gara-gara! :) [PEACE}

Privasi Itu Bahasa Asing

Saya pasrah saja melihat data personal saya ditawan. Apalagi, yang lain juga diam saja diperlakukan seperti itu. Duh, kok, bisa, ya, semua orang diam. Mengapa mereka tak merasa sungkan dengan invasi privasi tersebut?

Dari hasil perenungan yang mengganjal pintu ini, (Halah… :-D)

saya menemukan perbedaan budaya yang berbeda antara orang Jakarta (dan Indonesia umumnya) dengan bangsa melek TIK. Yang pertama, adalah kebiasaan rumah tangga Satelit vs. Keluarga Besar. Kalau di Amerika Serikat, katanya kalau anak sudah kuliah langsung keluar dari rumah dan hidup sendiri. Di Indonesia, masih lazim kakek-nenek, ayah-ibu, dan anak-anak tinggal bersama-sama dalam rumah besar.

Sudah pasti, keluarga tersebut biasa berbagi rahasia. Apalagi, entah mengapa bangsa kita itu latah sekali di media sosial. Tidak mengerti tentang adanya cyber bullying, sindikat pedofilia, dan bahaya lainnya. Untung hal yang positif dari situ adalah Fatin jadi trending topic.

Yang kedua, saya pelajari bahwa bangsa kita masih memegang teguh gotong royong. Gerakan gotong royong mengakrabkan orang. Itu sebabnya, budaya timur santun dan peduli, tepa selira. Hal ini mengakibatkan rasa mudah percaya dalam mempercayakan informasi. Saya perhatikan, gedung itu bisa saja, kok, ditembus tanpa menimbulkan kegaduhan.

Tapi, ya, itulah susahnya kalau sudah lama jadi Sysadmin. Tangan sudah terikat dengan etiket dan kode kehormatan. Sudah tak ada lagi nafsu untuk melakukan hal-hal yang aneh seperti itu. Walau pun tantangan untuk masuk ke gedung tanpa melewati prosedur merupakan sebuah hacking yang menarik, penjaga keamanan juga sama seperti saya.

Salam damai dari sesama admin! :)

Saya penasaran mengenai pencurian identitas, apakah menurut Anda itu adalah sebuah hal yang sepele sehingga tidak perlu diregulasi?

SPAM, Pencurian Identitas, dan Teknologi Sistem Temu Kembali
Ninja uses 4l4y language for on-the-fly encryption

SPAM, Pencurian Identitas, dan Teknologi Sistem Temu Kembali

Ninja uses 4l4y language for on-the-fly encryption

Ninja uses 4l4y language for on-the-fly encryption

Beberapa hari yang lalu banyak pengguna UI yang terjebak. Mereka mengirimkan pengguna dan sandi mereka. Setelah saya teliti, berikut salah satu pesan yang menipu:

Surat ini ditulis dengan judul: “Penting Pesan”. Surat ini dikirimkan dari akun surel dari universitas lain (di luar negeri) yang telah dijebol terlebih dahulu. Nampaknya saat ini banyak kelompok penjebol yang hendak menggunakan situs-situs tak bersalah sebagai proksi. Mereka menggunakan social engineering untuk mendapatkan akun-akun orang yang tak awas.

Memang, nampaknya kerawanan sistem informasi di korporasi dewasa ini semakin meningkat. Tetapi, kali ini saya tak ingin membahas penyadapan korporasi atau teknik-teknik kepo tingkat tinggi. Anda bisa mencari referensinya sendiri ahem, zero tech hacker, ahem karena saya bukan orang yang ahli di sana. Yang saya cermati kali ini adalah kemampuan penerjemahan bahasa.

Menarik sekali bahwa dewasa ini bahasa Inggris diterjemahkan dengan semakin sempurna ke dalam Bahasa Indonesia. Untung saja Bahasa Indonesia menggunakan semantik Diterangkan Menerangkan. Hal ini yang menyebabkan diperlukan penyusunan kalimat lebih lanjut untuk dapat masuk akal di Bahasa Indonesia. Akan tetapi, melihat ketepatan surat penipuan ini, bukan tidak mungkin sebentar lagi mereka akan memiliki surat yang hampir sempurna.

Sebenarnya, dapat saja dibuktikan bahwa ini adalah palsu. Caranya yakni dengan memperhatikan penulisan yang digunakan. Sebagai surat formal kepada klien, tidak mungkin  penulisan dengan tanda baca dan penempatan huruf yang salah terjadi. Namun, bagi mata yang tidak awas dan panik, detail-detail seperti demikian mungkin terhilang.

Jangankan detail tersebut, bahkan di halaman depan Webmail UI jelas terpampang bahwa Admin UI tidak pernah meminta sandi. Pesan itu pun terkadang tidak diperhatikan. Memang, kepanikan membuat hidup jadi salah langkah dan sebagai manusia hal tersebut wajar. :)

Kendati saya pecinta Bahasa Indonesia, entah mengapa dalam hal ini saya justru bersyukur dengan keberadaan bahasa prokem. Bahasa prokem membuat penerjemahan kata bertambah sulit. Sifat bahasa prokem yang organik menyebabkan ia selalu berubah dengan zaman. Sehingga, ia seperti Anti Virus yang selalu diperbaharui.

Tentu saja, mengenai bahasa tidak lengkap rasanya tanpa menyebutkan bahasa prokem terkompleks sedunia: Bahasa 4l4y. Kombinasi angka, simbol, dan huruf sudah cukup pusing. Penambahan huruf/simbol/angka yang tak perlu membuat sebuah kata menjadi terdistorsi lebih jauh. Yang membuat Bahasa 4l4y sebagai sebuah bahasa sandi adalah penggunaan asosiasi yang luar biasa.

Asosiasi Pelafalan Sebagai Penerjemahan Bahasa 4l4y

Asosiasi yang dimaksud bukan hanya kalimat, tetapi juga penggunaan simbol dan penulisan kata-kata. Sungguh jenius. Berikut contoh petikan dari surat Opi A Bubu, seorang jenius yang mampu mengenkode Bahasa 4l4y:

tHanKz b’4„„„„„„
yOz aLaWAiCe d bEzT…………….
iN meYe heArD„„„„„„,

Tanpa mengurangi rasa hormat, saya pikir tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa membuat mesin Turing untuk bisa mendekodekan bahasa ini. Tulisan ini unik karena memiliki banyak variasi percabangan untuk bisa mengartikannya. Sebagai contoh, saya, seorang manusia, akan memberitahu bagaimana saya tahu polanya, tetapi bukan cara mendapatkan pola tersebut.

Berikut hasil dekode hasil pertama:

  1. Yang pertama digunakan adalah variasi  kata thanks yang lazim digunakan. Perhatikan bahwa saya sudah memiliki kamus kata prokem dalam bahasa Inggris sebelumnya.
  2. Kata b’4 bisa bermakna berempat atau b (bi) 4 (four). Karena kata sebelumnya adalah bahasa Inggris, maka kali ini dipilih kata Inggris “before”. Sekali lagi, saya menggunakan kamus prokem karena b4 merupakan sebuah variasi kata prokem yang biasa digunakan dalam chatting. Biasanya kata ini dipakai dalam variasi “thx b4”.
  3. Simbol koma setelahnya dibuang karena tidak masuk akal. Namun, saya berpikir, mungkin pula ini dipakai sebagai penunjuk bahwa ada yang belum selesai — entah kalimat atau paragraf, walau pun asumsi awal saya berpikir itu adalah penanda bahwa baris pertama adalah sebuah kalimat yang belum selesai.
  4. Baris pertama dievaluasi sebagai kalimat “thanks before”. Otak saya melakukan optimasi dengan tidak mencari variasi arti yang lain karena paragraf ini terletak di akhir surat.

Kalimat kedua saya dekodekan sebagai berikut:

  1. Saya melewatkan kata pertama “yOz” karena tidak berarti apapun dalam kamus saya. Sejujurnya, tidak ada satu pun kata dalam baris ini yang terasosiasikan dengan bahasa prokem yang diketahui.
  2. Saya mengubah strategi saya dengan melafalkan kata-kata tersebut. Teknik ini mengasosiasikan pelafalan kata-kata tersebut dengan pelafalan kata-kata yang sudah diketahui dalam bahasa Inggris atau pun Bahasa Indonesia.
  3. Kembali, “yOz” tidak berarti apa pun karena asosiasi yang ada hanya “use” (bahasa Inggris), “Yosh” bahasa Jepang, atau mendekati kata “jus” Bahasa Indonesia. Ketiganya tidak masuk akal karena tidak mungkin ditaruh diawal kalimat. Itu sebabnya, diperlukan kata selanjutnya untuk bisa kembali ke kata pertama.
  4. Ketika di kata kedua “aLaWaiCe”, pelafalan kata tersebut terdengar seperti “always” (bahasa Inggris). Berhubung kalimat pertama adalah bahasa Inggris, maka besar kemungkinan kata tersebut berarti “always”.
  5. Karena sebelumnya menggunakan strategi asosiasi pelafalan bahasa Inggris, maka dua kata “d bEzT” diasosiasikan dengan bahasa Inggris dan diketemukan “the best”.
  6. Kalimat disusun ulang menjadi “yus always the best”. Dari pengujian, diketemukan bahwa kalimat tersebut masih belum utuh karena kata pertama.
  7. Untuk dapat mengartikan kata pertama, dicari penggunaan kalimat “[SMTH] always the best”. Otak saya melakukan optimasi dengan mendekatkan pencarian dengan mengganti “[SMTH]” dengan kata yang dekat bunyinya dengan “yus”.
  8. Akhirnya, diketemukan bahwa kata yang paling dekat adalah “you” (baca: you) dengan membuang pelafalan “s”. Maka, kalimat yang dimaksud adalah “you [are] always the best”.

Baris ketiga menjadi lebih mudah dengan baris pertama dan kedua.

  1. Kata “iN” dibaca sebagai “in”, untuk sementara tidak perlu dicari kata gantinya dan tidak ada pula kata prokem yang menggunakan simbol “iN”. Optimasi di otak saya memutuskan bahwa “in” sudah cukup masuk akal.
  2. Karena dari tadi secara konsisten digunakan kata Inggris, otak saya melakukan optimasi dengan menyempitkan kata “meYe” ke dalam konteks bahasa Inggris. Dari hasil pencarian diketemukan kata”my”.
  3. Kata “heArD” merupakan kata “heard” dalam bahasa Inggris. Kalimat yang terbentuk menjadi “in my heard”
  4. Ingat ketika saya bilang bahwa sepertinya tanda koma banyak merupakan tanda  penghubung? Dari situlah mulai disusun kalimat menjadi,”thanks before you [are] always the best in my heard”.
  5. Berhubung otak sudah mengetahui bahwa tulisan ini terkategorisasi sebagai surat, optimasi otak memroses kalimat tersebut sebagai surat-menyurat. Jenis surat yang digunakan sebagai penanda pun adalah surat cinta. Sebagai bagian dari surat, otak mengenali bahwa kata terima kasih lazim diberikan. Maka, kalimat tersebut bisa dibagi dua: “Thanks before. You [are] always the best in my heard”.
  6. Ada dua kemungkinan kalimat ini. Yang pertama, surat ini berbicara bahwa subyek akan selalu terdengar baik. Yang kedua, bila menggunakan asosiasi pelafalan, subyek akan selalu ada di hati. Kata “hati” memiliki nilai heuristik lebih tinggi dari pada “pendengaran”. Maka, untuk hasil terbaik dapat diterjemahkan bahwa kalimat tersebut adalah “Thanks before. You [are] always the best in my heart.”

Demikianlah selain menggunakan teknik stemming dan statistika, saya menawarkan penggunaan asosiasi pelafalan. Asosiasi yang dilakukan tidak bersifat binari, melainkan dapat pula bernilai fuzzy. Hal ini karena bahasa ini menggunakan sinonim bunyi yang mirip bukan identik. Proses dekode dapat berlangsung lama karena menggunakan backtracking dengan optimasi di beberapa tempat seperti kategori dan semantik kalimat.

Perlindungan Pesan Dengan Bahasa 4l4y yang Sesungguhnya

Apakah ini saja tantangannya? Tentu tidak, dalam penelaahan lebih lanjut saya menemukan bahwa bahasa ini menggunakan campuran Bahasa Indonesia, bahasa prokem, dan bahasa asing. Selain itu, saya menemukan kata yang telah diambil sinonimnya. Lalu sinonim tersebut dicari kata yang lafalnya sama. Jadi, bahasa 4l4y tidak sekedar permainan huruf dan angka saja seperti sebuah kamus sederhana yang berusaha meng-4l4y-kan bahasa.

Hal yang menarik dari studi amatir saya ini, saya menemukan bahwa kendati sulit untuk dipahami bagi kebanyakan orang, termasuk saya, sesama anak 4l4y dapat dengan mudah mengartikan semua tulisan itu dengan cepat. Mereka secara otomatis bisa menjawab pesan pendek satu sama lain seperti biasa. Bayangkan, sebuah bahasa kriptik yang telah tertanam di dalam otak manusia tanpa bisa diketahui oleh komputer.

Jadi, ketika Bahasa Indonesia telah dengan mudah dikenali oleh penerjemahan mesin dengan ketepatan hampir 99%, bahasa 4l4y dapat menjadi jawaban keluar untuk komunikasi yang aman. Tidak ada yang hina dengan itu. Para heker biasanya pun berkirim surel dengan bahasa kriptik. Mereka biasanya pun bertukar kunci publik dan berkomunikasi dengan GPG/OpenPGP.

Ada yang berani membuat Thesis/Disertasi bahasa 4l4y?

Membangun Komputer Impian
Bahan Impian

Membangun Komputer Impian

Bahan Impian

Bahan Impian

Setelah patah arang karena Diablo 3 harus selalu daring, saya sempat menghentikan untuk membangun komputer impian saya. Namun, setelah Torchlight 2 dan Valve memutuskan untuk membawa Steam masuk ke GNU/Linux, saya pun kembali meneruskan mega proyek pribadi nan menguras saku ini. Apalagi, dewasa ini banyak sekali sistem-sistem baru yang butuh dikompilasi (Android, Raspberry Pi, dkk.) yang menunggu untuk saya oprek.

Sedikit catatan, saya suka dengan AMD yang berinovasi di arsitektur daripada Intel yang hanya mengoptimasi teknologinya. Inovasi ini memang harus dibayar mahal. Menurut banyak penilaian, Intel i-Series memiliki kelebihan di semua lini. Prosesor Bulldozer buatan AMD kalah bahkan dengan Intel Core-i5.

Ya… ya… ya…. Mereka boleh menilai. Toh, mereka menilai di Windows untuk keperluan permainan yang kebanyakan dikompilasi dengan ICC. Windows sendiri arsitekturnya masih belum multi-threading. Sistem operasi yang benar-benar multi-threading murni hanya BeOS. Tetapi, GNU/Linux pun sudah lama berkeliat di sana. Banyak aplikasi GNU/Linux yang telah dioptimasi untuk lebih dari satu prosesor.

Berhubung saya menggunakan GNU/Linux, saya pun memilih arsitektur multi-prosesor, seri AMD FX. Singkat cerita, ini yang telah saya usahakan:

  • AMD FX-8350 Vishera, Black Edition, versi terbaru AMD (saat tulisan ini ditulis) perbaikan dari prosesor Bulldozer dengan kinerja yang lebih mantap.
  • MSI 990FXA-GD80. Tadinya saya mau beli GD65, tapi stok kosong. Setelah bergalau-galau ria memilih ini atau ASUS Formula Z, saya jadinya pilih ini. Prinsip saya semenjak zaman AthlonXP dulu: “Kalau mau murah meriah, ya, ECS. Kalau mau yang bagus, ya, MSI.” (Ini preferensi pribadi, bukan iklan. ASUS Formula Z atau Sabertooth atau yang lainnya mungkin lebih bagus, tapi MSI punya nilai sentimentil bagi saya.)
  • Patriot Division 4 Viper Xtreme, 16GB (4x4GB) 1866 MHz. Ya, ini yang pertama kali saya beli terlebih dahulu. Sayang, ternyata saat ini sudah keluar modul yang 32GB.

Agar komputer saya sempurna, rekan saya yang baik hati dan tidak sombong meminjamkan saya meminjamkan kartu grafis dan penyuplai daya yang bila digabungkan jauh lebih mahal dari apa yang telah saya beli. Dari sumber yang tak dapat saya sebutkan, saya pun mendapatkan  SATA. [Tenang, bukan diambil dari Opendata] :)

Berhubung saya mau tahu kinerja komputer saya, maka saya memasang GNU/Linux Gentoo. Setelah ini, tulisan akan sedikit jorok (banyak kode-kode). Untuk pembaca Planet, saya lindungi dengan pembatas. Tapi, bagi yang hendak tahu tentang trik-trik GNU/Linux, silakan baca selanjutnya.

Read More

RE: Terompet Tahun Baru dan TBC/TB
Pedagang Kecil

RE: Terompet Tahun Baru dan TBC/TB

Pedagang Kecil

Pedagang Kecil

Saya membaca tulisan dari Dr. Ari mengenai berita menyesatkan di BBM (BlackBerry Messenger). Berita tersebut menganjurkan agar tidak membeli terompet tahun baru karena takut terinfeksi TBC. Beliau menyanggah info dalam BBM tersebut yang menyesatkan. Beliau mengatakan bahwa orang yang tertular biasanya tinggal serumah atau sekantor dengan orang lain yang telah terkena TBC. Kesalahan fatal lain dalam pesan tersebut adalah disebutkan bahwa penyebab TBC adalah virus. Padahal, seharusnya penyebab penyakit ini adalah kuman.

Saya juga membaca, Pak Andri Adiwibowo dalam blognya menyebutkan bahwa penyebab TBC (TB) menyebutkan bahwa kuman tubercle bacill ini disebarkan melalui udara. Bakteri ini ada dalam sebuah partikel basah yang menguap di udara (droplet). Sumbernya bisa bersin atau cairan lain yang dikeluarkan oleh penderita. Dan beberapa hal-hal teknis mengenai tuberkolusis ini.

Wow, saya senang sekali ada dua orang dari bidang yang berbeda menjelaskan tentang Tuberkulosis. Mata saya yang awam jadi terbuka. Saya heran, mengapa jajanan rakyat akhir-akhir ini, kok, diberitakan menakutkan?

Sebut saja: pedagang bakso dengan boraks dan daging campuran; pedagang gorengan yang menggoreng dengan plastik; dan pedagang daging dengan daging gelondongan. Ini membuat masyarakat takut membeli di pasar tradisional atau tukang-tukang keliling. Padahal, mereka berusaha dengan dana terbatas untuk menjadi enterpreneur.

Mereka tidak meminta-minta atau pun merampok. Mereka berkeliling berpuluh-puluh kilometer. Mereka menjajakan dagangan di tengah terik mentari dan karbon monoksida gas buang kendaraan bermotor. Sayang sekali bila hanya karena oknum-oknum, banyak pedagang kecil yang jujur tersisihkan.

Saya lihat, stasiun televisi ramai-ramai membuat reportase tentang praktik-praktik curang pedagang kecil. Saya bersyukur atas informasi tersebut. Tapi, alangkah baiknya sebagai bagian dari CSR (apalagi stasiun TV dapat untung dari acara tersebut), stasiun TV membiayai sosialisasi pedagang dan pembeli. Atau, mungkin stasiun TV tersebut bisa bikin lembaga pembinaan dan mengeluarkan sertifikat jaminan bagi para pedagang tersebut. Sehingga, kita yang beli tidak takut-takut dan para pedagang tersebut juga terjamin.

Buat orang-orang yang suka mem-broadcast informasi yang belum tentu benar, terutama tentang pedagang kecil: kasihanilah mereka yang cuma punya modal Rp200.000,00 sampai dengan beberapa juta. Mari saling membantu. Jangan sampai mereka yang susah payah mau berusaha dihalang-halangi. Akhirnya, mereka cuma punya pilihan menjadi bromocorah.

Etika dan Bisnis

Etika dan Bisnis

Phoronix melaporkan tulisan Stallman (RMS) mengenai Ubuntu memasang spyware. RMS dalam tulisan tersebut menjelaskan bahwa Ubuntu telah memasang lens yang terhubung ke Internet sehingga pencarian yang dilakukan oleh pengguna di Dash diunggah ke Amazon. Ini merupakan sebuah pelanggaran hak privasi. Jono Bacon membuat tulisan menyanggah hal tersebut.

Bagi banyak orang, terutama orang Indonesia, pelanggaran privasi tidak terlalu berpengaruh. Banyak yang mengunggah foto-foto yang seharusnya pribadi ke Internet. Hal ini karena mereka menganggap bahwa Internet adalah sesuatu yang diskrit dari hidup mereka.

Memang, saat ini Internet merupakan sebuah kehidupan yang paralel. Namun, seiring dengan waktu dan teknologi komputasi awan, kehidupan manusia semakin integral dengan Internet. Sedikit demi sedikit kehidupan kita semakin tergantung dengan Internet.

Itu sebabnya, ketika Internet semakin terkontrol, maka kehidupan kita terkontrol. Setiap manusia dapat diarahkan kepada sesuatu yang diingini oleh pemegang Internet. Sayangnya, banyak pemerintahan yang menganggap mereka yang punya kendali, padahal kekuasaan ada pada korporasi global. Mereka mampu memberikan sugesti dengan menganalisis keinginan pengguna.

Mau contoh?

Lihat artis-artis zaman dahulu dan zaman sekarang. Dahulu, kulit sawo matang merupakan standar wanita cantik. Dan memang tepat seharusnya demikian karena orang Indonesia kebanyakan berkulit agak gelap.

Lihat artis zaman sekarang. Artis yang cantik adalah artis yang bermuka putih mulus dan berparas keindoan. Kulit harus putih dan berkilau. Berat badan harus kurus kerempeng. [Jujur, saya tidak suka ke mal karena saya sering hampir menangis melihat ada wanita yang kurus sekali (tidak normal sepertinya bulimia) dengan pakaian modis. Pikir saya, “Emak bapaknya kasih makan apa di rumah?”]

Saya melihat banyak wanita muda yang kehilangan kepercayaan diri akibat ini. Padahal, tidak ada yang salah dengan mereka. Sebagai penggemar novel visual Jepang (manga) saya mendapati bahwa ada banyak fetish yang tersedia. Artinya, setiap pria memiliki wanita idealnya masing-masing, namun sepertinya komersialisasi menganggap hanya ada satu selera.

Manusia

Ketika ada seseorang yang bertindak deviasi dari norma masyarakat. Mungkin Anda menyebutnya sebagai sebuah kejahatan. Tetapi, pada dasarnya ia menentukan sebuah pilihan. Artinya, ia mempraktikkan kehendak bebas yang ia miliki sebagai seorang manusia.

Memang, ada sebuah dilema ketika yang ia lakukan melukai orang lain. Pada titik inilah saya setuju bahwa ada perangkat pemerintahan yang membuat tingkah laku demikian harus diluruskan. Kebebasan hak yang dia lakukan melanggar hak orang lain. Seperti kata PMP (PPKn?), hak setiap orang dibatasi oleh hak orang lain.

Deviasi-deviasi yang terjadi pada manusia merupakan sebuah bentuk pertahanan manusia. Ibarat kata, manusia mempertaruhkan hartanya ke banyak tempat. Seandainya sebuah masyarakat gagal dan jatuh, satu masyarakat yang lain muncul.

Contoh deviasi pemikiran adalah pemikiran Bung Karno versus pemikiran Bung Hatta. Bagi Bung Karno, sekumpulan elit konglomerat yang terfokus dapat mengangkat negara. Berbeda dengan itu, Bung Hatta percaya dengan ekonomi yang terdistribusi.

Pemikiran Bung Karno melahirkan taipan-taipan ekonomi dan secara makro mengangkat ekonomi kita. Namun, ketika ekonomi dunia kolaps, ternyata sektor UMKM mampu bertahan. Sekarang, UMKM merupakan bisnis yang mengangkat Indonesia.

Konglomerasi dan ekonomi terdistribusi merupakan dua pandangan yang berbeda dari dua manusia. Keduanya dibiarkan muncul walau pun konglomerasi menjadi pemikiran arus utama. Namun, ketika konglomerasi gagal, pertahanan manusia berhasil memunculkan pemikiran yang lainnya sebagai solusi arus utama yang baru.

Itulah pentingnya keberagaman manusia. Ia tidak hanya berbicara etnosentrik, namun juga tentang pemikiran. Bhinneka Tunggal Ika bukan soal suku, namun juga pandangan yang dimiliki oleh manusia Indonesia.

Privasi

Ketika tindak-tanduk masyarakat dianalisis oleh sebuah entitas, ia memiliki kuasa untuk menggerakkan masyarakat untuk menjadi seperti yang ia mau. Apa yang terjadi bila entitas tersebut merupakan entitas komersial? Dapatkah ia meletakkan moral di atas kepentingan mencari keuntungan?

Tren ekonomi sosial dan berbasis humanitarian memang berkembang dewasa ini. Tetapi, pada akhirnya bisnis akan selalu berbicara bisnis. Ada neraca saldo yang harus diisi. Entitas komersial, sesuai dengan namanya, akan selalu bersifat komersial.

Jika kekuasaan pengetahuan akan tindakan manusia menjadi milik sekelompok orang, apakah dapat terjamin bahwa sekumpulan manusia itu tidak memanfaatkan hal tersebut untuk kepentingan ideologinya?

Hal yang terjadi di kenyataan,  seperti yang saya contohkan sebelumnya, adalah entitas komersial menggunakan itu untuk menggerakkan masyarakat untuk memiliki pemikiran yang sama. Mereka menyuntikkan pemikiran-pemikiran yang sesuai dengan tujuan mereka.

Inilah hasilnya:

  1. Penyeragaman pendapat yang terjadi di masyarakat menyebabkan keberagaman manusia menjadi dipertanyakan.
  2. Terjadi marginalisasi terhadap orang-orang yang tidak sesuai.
  3. Setiap yang berbeda dipaksa untuk menyesuaikan diri atau tertolak.

Inikah yang diingini oleh manusia? Inikah peradaban manusia?

Itu sebabnya, menolak memberikan data kepada entitas bisnis merupakan sebuah pilihan untuk melindungi manusia dari kepentingan-kepentingan komersial. Hak privasi menjunjung tinggi keberagaman manusia dengan memberikan kesempatan bagi manusia berkembang tanpa terekspos oleh dunia. Hal ini memberikan kontrol kepada manusia untuk ia bisa berpikir dan bertindak. Berpikir dan bertindak bukan karena dorongan orang lain, melainkan produksi dari pikiran orang tersebut sebagai makhluk yang memiliki jiwa dan hati nurani.

Privasi adalah salah satu instrumen untuk membela hak manusia dan mengangkat tinggi derajat manusia sebagai manusia yang berbeda dengan binatang.

Catatan

Ada banyak ide cerita dalam tulisan, jadi syukur kalau Anda mengerti tulisan saya. Saya, sih, menulis ini sebagai catatan kepada diri sendiri mengapa saya masih membela gerakan FOSS. Dunia penuh makna dan tidak sekedar yang terlihat.

Omong-omong, saya, sih, sudah sejak lama memakai BlankOn, jadi nampaknya seruan RMS untuk memboikot Ubuntu bukan buat saya. :)