Mark Zuckerberg dan Elon Musk berselisih pendapat mengenai keberadaan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/A.I.). Perselisihan dimulai dari Elon Musk yang menginginkan agar pemerintahan seluruh dunia segera bersatu membuat aturan yang mengatur kecerdasan buatan. Kemudian, melalui Facebook Live, Zuckerberg membantah Elon Musk dan mengatakan bahwa kecerdasan buatan sangat membantu dan berharap bahwa 10 tahun mendatang kecerdasan buatan dapat menolong memperbaiki kehidupan manusia. Elon Musk merupakan bagian dari penanda tangan surat terbuka yang dibuat tahun 2015 untuk meminta pengembangan kecerdasan buatan yang bertanggung jawab.

Kata-kata Mereka

Agar elok, mari kita bandingkan perkataan mereka mengenai kecerdasan buatan agar lebih mudah membahas apa sebenarnya yang menjadi masalah.

Perkataan Elon Musk

Berikut apa yang dikatakan oleh Elon Musk:

“Normally the way regulations are set up is a whole bunch of bad things happen, there’s a public outcry and then after many years the regulatory agencies set up to regulate that industry. That in the past has been bad but not something that represented a fundamental risk to the existence of civilisation. AI is a fundamental risk to the existence of civilisation in a way that car accidents, aeroplane crashes, faulty drugs or bad food were not. They were harmful to a set of individuals but they were not harmful to society as a whole.”

Menurut Musk, normalnya regulasi dibuat setelah terjadi pertentangan di publik yang memaksa sesuatu untuk diregulasi. Hal ini karena risiko yang dapat timbul tidak mengancam keberadaan peradaban manusia. [Sedangkan] Kecerdasan Buatan adalah ancaman yang mengancam peradaban yang mana berbeda [tingkat ancamannya] dengan kecelakaan mobil, kecelakaan pesawat, obat-obatan terlarang,  atau makanan yang buruk. Semuanya itu berbahaya kepada beberapa individu, tetapi mereka tidak berbahaya kepada masyarakat secara keseluruhan [seperti kecerdasan buatan].

Elon Musk mencemaskan kecerdasan buatan yang dapat mengancam keberadaan peradaban manusia.

Perkataan Zuckerberg

Berikut yang dikatakan oleh Zuckerberg:

I have pretty strong opinions on this. I am optimistic. I think you can build things and the world gets better. But with AI especially, I am really optimistic. And I think people who are naysayers and try to drum up these doomsday scenarios—I just, I don’t understand it. It’s really negative and in some ways I actually think it is pretty irresponsible In the next five to 10 years, AI is going to deliver so many improvements in the quality of our lives… Whenever I hear people saying AI is going to hurt people in the future, I think, “yeah, you know, technology can generally always be used for good and bad, and you need to be careful about how you build it, and you need to be careful about what you build and how it is going to be used.” But people who are arguing for slowing down the process of building AI, I just find that really questionable. I have a hard time wrapping my head around that.

Zuckerberg berpendapat bahwa kita dapat membangun banyak hal untuk membuat dunia yang lebih baik. Tentang kecerdasan buatan, dia optimis dan tidak mengerti mengapa ada orang-orang yang menentang dengan alasan penyebab kiamat. Padahal, dalam waktu 10 tahun, kecerdasan buatan dapat meningkatkan kualitas hidup kita. Memang, semua teknologi bisa digunakan untuk kebaikan atau kejahatan dan kita harus berhati-hati dalam menggunakan teknologi. Untuk orang-orang yang berargumen untuk memperlama proses pembuatan kecerdasan buatan, Zuckerberg mempertanyakan pendapat tersebut.

Zuckerberg berpendapat bahwa kecerdasan buatan hanyalah sebuah teknologi sama seperti teknologi lainnya. Ia dapat digunakan untuk kebaikan atau keburukan. Sehingga, memperlambat pengembangannya adalah hal yang tidak masuk akal.

Kecerdasan Buatan yang Dimaksud

Apa, sih, yang mereka perdebatkan?

Dari segi tingkat kecerdasan, ada tiga jenis kecerdasan buatan:

  • Kecerdasan Buatan Lemah, Weak A.I./Artificial Narrow Intelligence (ANI). Sistem kecerdasan buatan yang dibuat untuk menyelesaikan satu area permasalahan saja. Misalnya, kecerdasan buatan yang dibuat untuk bermain catur.
  • Kecerdasan Buatan Umum, Artificial General Intelligence (AGI). Sistem kecerdasan buatan yang dibuat untuk mereplikasi pikiran manusia.
  • Kecerdasan Buatan Super, Artificial Superintelligence (ASI). Sistem kecerdasan buatan yang memiliki kemampuan berpikir jauh lebih pintar dari manusia.

Hal yang ditakutkan oleh Elon Musk adalah kecerdasan buatan umum (AGI) yang saat ini sedang dikembangkan. Ada dua sifat yang menjadi ancaman membuat kecerdasan buatan ini menakutkan:

  1. AGI memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh manusia. Hal ini membuat penyeliaan menjadi proses yang rumit bahkan mustahil.
  2. AGI memiliki kemampuan untuk memperbaiki algoritma untuk mencapai tujuan. Perbaikan tanpa penyeliaan manusia dapat menghasilkan keputusan yang tidak dapat dicegah.

Intinya, ketika pengembangan kecerdasan buatan tanpa penyelia tercapai masalah dapat muncul. Arah algoritma yang tak terduga dapat membuat algoritma kecerdasan buatan menjadi jahat (rogue). Itu sebabnya, ada usaha seperti Google yang berusaha mengembangkan kecerdasan buatan yang tidak curang.

Ancaman Nyata Saat Ini

Hal yang paling berpengaruh dalam kecerdasan buatan adalah otomatisasi. Otomatisasi meningkatkan efisiensi yang dapat menurunkan biaya produksi. Lengan-lengan robotika dan mesin yang diatur secara canggih menghasilkan paket produk secara cepat.

Sayangnya, keberadaan otomatisasi menghilangkan kebutuhan industri akan pekerja (manusia). Otomatisasi menghilangkan banyak pekerjaan yang tersedia bagi manusia. Mereka tergantikan oleh mesin yang lebih efisien dan anti mogok kerja.

Zuckerberg tidaklah 100% melawan Musk. Seperti Elon Musk, dia menyetujui juga pentingnya pendapatan dasar universal (universal basic income, UBI). Pendapatan dasar universal adalah bantuan tunai langsung yang diberikan oleh pemerintah kepada masyarakat akibat adanya otomatisasi industri yang menggantikan pekerja. Sebagai contoh, Pemerintah Alaska menerapkan kebijakan Permanent Fund Dividend (PFD) yang memberikan uang rata-rata senilai US$1.000,00 per kepala.

Pemerintahan SBY pernah mencoba melakukan program UBI melalui Bantuan Langsung Tunai (BLT). Penyebabnya bukanlah otomatisasi industri, tetapi inflasi yang berlebihan. Namun, karena data penduduk yang digunakan adalah data lama, maka BLT berlangsung gagal dan mendapat kecaman. Timbul konflik di beberapa daerah akibat adanya BLT. Selain itu, persepsi masyarakat merasa bahwa BLT membebankan APBN. Waktu yang terbatas pun menjadikan BLT menjadi tidak tepat guna karena belum sempat efektif implementasinya.

Padahal, menurut Evans dan Popova dalam penelitian mereka di Kenya, justru tingkat penggunaan uang dari BLT sangat baik. Ketika wanita menjadi pemegang keuangan, alkohol dan rokok justru tidak terbeli. Mereka fokus untuk pemenuhan rumah tangga. Mungkin, itulah sebabnya Jokowi/Ahok menggunakan variasi BLT dalam KJP untuk dapat menaikkan standar hidup mereka sekaligus memberikan kepercayaan kepada masyarakat bahwa uang yang diberikan tidak untuk disia-siakan.

UBI bisa jadi solusi jangka panjang untuk hilangnya lapangan pekerjaan. Ada tantangan yang akan dihadapi ketika ini diterapkan di Indonesia. Pendataan penduduk yang akurat dan waktu untuk menerapkan yang cukup lama. Selain itu, pemerintah memiliki tugas untuk meyakinkan masyarakat yang masih memiliki lapangan pekerjaan bahwa tidak apa untuk memberikan gratis uang kepada mereka yang pekerjaannya terhilang.

Saya belum yakin kalau Indonesia akan bisa menganggap mereka yang menganggur sebagai penyebab hilangnya lapangan pekerjaan. Jangan-jangan, saat otomatisasi tiba, kita akan mengira bahwa mereka hanyalah orang-orang yang malas. Bahkan, kita tidak lagi mengganggap mereka adalah orang-orang yang kesempatannya telah hilang, tetapi lebih rendah dari itu.

Itulah makanya, saya setuju bahwa pencapaian teknologi perlu diimbangi dengan kajian yang mendalam mengenai dampak sosial yang akan muncul. Tidak untuk mencegah kemajuan, namun untuk sebuah kemanusiaan yang masih bebas dan merdeka.