Saat ini sedang ada sebuah kasus di Amerika Serikat yang menginginkan Apple menyediakan perkakas untuk FBI dapat masuk ke iPhone untuk mendapatkan data. Dasar kasusnya adalah peristiwa terorisme tempo hari. Apple menolak. Namun, seperti yang diberitakan oleh ArsTechnica, FBI memberikan argumen bahwa Apple mendua; memberikan iData kepada pemerintah Cina sementara menolak FBI dalam melawan terorisme.

Ada dua perbedaan mendasar. Pemerintah Cina meminta Apple menaruh data khusus pengguna iPhone di Cina. Yang diminta oleh FBI adalah perkakas untuk mengakses iPhone mana pun.

Mengenai pemerintah Cina yang meminta data khusus pengguna iPhone di Cina, hal ini sebenarnya apa yang dahulu diminta untuk RIM lakukan terhadap data Blackberry di Indonesia. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan:

  1. Pemerintah dapat melakukan sensor dan pengaturan terhadap semua yang ada di dalam negara.
  2. Pemerintah dapat melakukan perlindungan karena data yang terlibat masih dalam yuridiksi negara.
  3. Hukum yang berlaku di negara tersebut dapat diterapkan kepada entitas teknologi.

Poin (1) (2) dan (3) intinya kepada penjangkauan data dan perlindungan negara kepada warganya. Hal ini bisa berakibat buruk, dengan memakai kekuatan ini untuk membungkam lawan politik dan whistleblower. Bisa juga berakibat baik karena pemerintah dapat menindak sesuai dengan hukum yang berlaku di negara tersebut.

Ada hal yang baik dan buruk yang dilakukan oleh pemerintah Cina, yang diminta FBI adalah jelas kebutuhan spionase. Selama ini seperti yang sudah-sudah, FBI dengan izin pengadilan sudah dapat mengakses data-data tertentu. Dengan dibukanya algoritma pengacakan seperti yang diminta FBI, FBI dapat menjangkau semua pengguna iPhone! Masalahnya, tak semua pengguna iPhone merupakan warga negara Amerika Serikat.

Jelas sekali, bila Apple mengabulkan permintaan ini, maka dunia akan meninggalkan iPhone. Banyak negara yang akan mulai mengampanyekannya. Siapa juga yang mau warga negaranya diawasi asing? Apalagi warga negara tersebut memiliki potensi untuk menjadi pemimpin di masa depan.

Memang, tidak ada yang aman di dunia ini. Seperti konferensi enkripsi, mereka mengumumkan adanya algoritma baru, lalu sorenya sudah ada yang bisa membobol. Enkripsi Apple tidak sebegitu amannya. Dia bisa saja dibobol. Namun, perlu usaha ekstra dan insentif untuk itu.

Ibarat pintu yang terkunci yang bisa dibor untuk bisa masuk paksa. Tetap saja tidak ada maling yang menggunakan cara itu. Hal ini karena bor dapat menimbulkan suara keras sehingga membangunkan tetangga. Namun, yang diminta FBI adalah kunci serep sehingga dia dapat masuk tanpa perlu menimbulkan suara.

Bagaimana perasaan Anda untuk menitipkan kunci duplikat rumah Anda pada polisi? Saya, sih, sebagai seorang minoritas lebih suka kalau pemerintah tidak punya akses terlalu banyak. Jangan sampai sekelompok orang dari golongan mayoritas menggunakan fasilitas negara untuk bisa menindas minoritas. Sudah banyak kasus negara menutup mata ketika ada akses tak diinginkan. Bahkan, korporasi dapat menggunakan negara untuk membungkam banyak orang. Hal inilah juga yang ditakutkan banyak aktivis.

Apple sedang berada di persimpangan antara ditinggalkan banyak orang. Itu sebabnya, dia akan berjuang melawan FBI yang secara terang-terangan meminta itu. Siapa juga yang mau jadi dell hell berikutnya?