Tulisan ini merupakan tanggapan saya dari artikel menarik dari Lae Silaban mengenai adanya penyedia video lokal. Saya tulis di blog ini soalnya di sana tak bisa isi komentar. Inti tulisan itu adalah tantang berat penyedia konten lokal menghadapi YouTube.

Fokus, Diversifikasi, dan Terbaik

Saya setuju dengan pendapat Lae kita itu. Dari tampilan konten yang diberikan oleh Vidio.com maupun MeTube, terlihat bahwa kedua situs tersebut hanya merupakan klon dari YouTube. Tentu saja bakal kalah dengan YouTube yang jauh lebih kuat infrastruktur dan SDM-nya.

Sebagai pasar niche, seharusnya penyedia video lokal menerapkan model mittelstand: fokus, diversifikasi, dan terbaik. Fokus, tidak berusaha menjangkau semua kebutuhan, tetapi bersedia konsentrasi penuh kepada kebutuhan lokal. Diversifikasi, menyediakan layanan yang tidak ada di YouTube. Terbaik, layanan yang terdiversifikasi ini akan selalu yang terbaik.

Sebagai layanan video, penyedia video lokal dapat fokus kepada komunitas-komunitas lokal. Ia tidak perlu menyediakan layanan umum seperti YouTube. Fokus ini misalnya dapat diwujudkan dengan menyediakan saluran, situs, dan forum yang terintegrasi. Oh, dan tentu saja terminologi yang ramah Bahasa Indonesia.

Fokus saja tidak cukup, ia harus berani menggebrak. Misalnya, Nico-Nico Douga menciptakan antarmuka dan program yang membuat penyedia konten menjadi bintang. Bintang-bintang baru seperti Kero, ClariS, dan lainnya bermunculan setelah konten-konten mereka menjadi populer.

Terbaik adalah satu yang menjadi inti mengapa produk Jerman selalu mahal tetapi laku. Kelakuan produk Indonesia biasanya menurun seiring perkembangan dan sudah berbasis pengambilan keuntungan. Itu sebabnya, jarang ada loyalis kepada suatu produk lokal kecuali karena rasa kebangsaan.

Kendati Nico-Nico Douga tampilannya seperti dari era Geocities, penggunanya sudah familiar. Sedikit demi sedikit, mereka memoles situs sambil mendapatkan masukan dari komunitas. Mereka pelan-pelan menyediakan komunitas yang vibran.

Ya, sudah pastilah, yah, penyedia konten video sekarang pasti berbentuk media sosial. Tidak mungkin hanya penyedia konten biasa saja. Sayangnya, Google masih seperti pulau-pulau yang tak terintegrasi. Itu makanya, Google Plus jarang dipakai kecuali oleh para pakar SEO yang suka menambah-nambahi saya di Google+! [Baiklah, saya berhenti di sini sebelum ada curcol]

Ya, itu, intinya, seperti Nico-Nico Douga, jika memang serius, penyedia video lokal dapat membangun komunitas yang organik.

Sarana Berbagi

Kendati pada awalnya layanan situs-situs berbeda, ujung-ujungnya semua situs yang berbeda itu menjadi produk yang serupa. Ya, Facebook, Instagram, Pinterest, dan lain sebagainya. Semua mengarah kepada social platform.

Social Platform adalah istilah saya untuk produk-produk web yang bertindak sebagai mediator untuk setiap entitas di atasnya dapat berinteraksi. Berbeda dengan layanan web biasa (web service), ada unsur penyediaan identitas di dalamnya sehingga setiap interaksi, layanan, dan entititas memiliki keterhubungan.

Intinya, dia menyediakan layanan berbagi. Seperti yang Lae Silaban bilang, layanan itu dapat berupa API, Embed, dan lain sebagainya.

Kalau Facebook memiliki OpenGraph, yang lainnya memilih untuk menggunakan protokol Open Social.

Di Jepang, menurut artikel di IEEE yang sayangnya sebagian besar Anda tak punya akses, Open Social digunakan oleh media-media sosial lokal untuk berhubungan dengan aplikasi pihak ketiga. Evolusi mobile game di sana berkembang dengan menyediakan integritas media sosial dan penyediaan konten berdasarkan waktu (event-based game content).

Ya, intinya, ganti mobile game dengan enterprise platform atau situs blog. Integrasi yang apik menggunakan standar terbuka, maka penyedia konten video dapat membuka peluang masuk ke pasar penyedia konten bagi korporat atau blogger biasa.

Legal

Saya rasa Youtube tidak mungkin rugi. Mana mungkin Ellen mengambil begitu saja video dari YouTube tanpa ada kerja sama hitam di atas putih dengan Google. Kerja sama afiliasi dengan Google pasti tidak akan gratis begitu saja. Lembaga-lembaga non-profit yang memiliki dana pun tertarik untuk menggunakan Google dalam mendokumentasikan karya mereka.

Ya, kalau saya boleh langsung tarik, saya rasa Pemda-Pemda akan tertarik menaruh konten kerja sama mereka ke dalam penyedia lokal. Asalkan ada program yang jelas, mereka pasti tertarik dalam mendokumentasikan wisata atau pun hal lain dari daerah mereka. Setidaknya penyedia konten lokal dikasih uang rokok, dong.

Dalam pengaturan perjanjian ini, termasuk dengan penyedia konten pribadi, aspek legal yang paling penting. Setidaknya, penyedia konten lokal harus siap dengan tiga hal: sangkalan, perjanjian akhir, dan kebijakan privasi.

Selain itu, penyedia konten lokal harus menyediakan antarmuka pelaporan. Antarmuka pelaporan ini berjalan dua sisi. Satu dari sisi pihak luar yang merasa kontennya dipakai orang. Satu lagi pihak pengguna yang merasa dizolimi dengan tuduhan. Sebagai penyedia lokal, seharusnya aspek hukum lokal lebih dipenuhi dan unggul dibandingkan dengan YouTube.

Tentunya, tantangan terbesar adalah batas izin penyedia konten. Ini masih abu-abu dan tidak jelas. Hampir tidak mungkin penyedia konten amatir menyediakan konten lokal tanpa melanggar hak cipta. Sejauh mana negara (pemerintah dan pihak-pihak terkait) mau bermain?

Kalau Amerika Serikat, mereka menggunakan Amandemen Pertama UUD mereka untuk melindungi pengguna-pengguna amatir ini. Beberapa negara produsen konten menggunakan tindakan pasif. Artinya, kalau sang pemilik konten tidak menuntut, pihak berwenang akan membiarkan konten yang melanggar hak cipta tersebut.

Misalnya, seorang Ibu takkan ditangkap karena memosting video anaknya ulang tahun. Selama Disney Indonesia tidak menuntut Ibu itu karena menyanyikan lagu “Happy Birthday to You”, pihak kepolisian tidak akan secara aktif menangkap Ibu itu. Pihak penyedia konten video pun membiarkan saja.

Ada manajemen artis yang enggan saya sebut namanya yang secara aktif mendeaktivasi konten-konten milik artis manajemennya di YouTube dan penyedia konten lainnya. Ada juga artis yang secara terang-terangan mendukung penyebaran konten yang dihasilkannya. Pasti akan ada friksi dari dua pandangan tersebut.

Penyedia konten lokal dapat menjadi mediator atau secara aktif mempromosikan pandangan yang jelas kepada semua pihak. Ia tentu bisa jadi yang terdepan karena proses bisnis yang dihasilkan sesuai dengan arahan bangsa ini.

Contohnya, Vevo mendekati pemusik/manajemen artis untuk menggunakan jasa dia. Sehingga, video resmi yang dikelola di YouTube di bawah kendali Vevo. Vevo pun punya kekuatan khusus sehingga Google menerapkan enkripsi khusus bagi video Vevo.

Akhir Cerita (TL;DR)

Kalau penyedia video lokal bersedia menyediakan social platform dengan kearifan lokal, kemungkinan mereka bisa lebih hebat dan bertahan. Nico-nico Douga contohnya.