Selamat tahun baru 2015 bagi yang merayakan! Banyak sekali perubahan yang dialami tahun baru ini. Saya sendiri berharap ada banyak perubahan yang menarik di tahun ini.

Perubahan Status

Lembaga TIK di Universitas Indonesia, tempat saya bekerja telah berganti pimpinan mengikuti kepemimpinan rektor yang baru, Prof. Dr. Ir. Muhammad Anis, M.Met.. Dari Ibu Prof. Dr. Ir. Riri Fitri Sari, M.Sc., M.M. menjadi Ibu Betty Purwandari, S.Kom., M.Sc., PhD.. Tak terasa sudah 8 tahun semenjak saya pertama di bawah kepemimpinan Ibu Riri. Wow, waktu tak terasa dan sudah banyak pencapaian yang dicapai. Ya, begitulah, saya tidak pintar bersantun kata. Selamat jalan Ibu, selamat datang Ibu.

Selain itu, struktur lembaga tempat saya bekerja pun berubah. Kami tak lagi langsung di bawah Rektor, tetapi sudah berstatus direktorat. Nama pun berubah, dari Pusat Pengembangan dan Pelayanan Sistem Informasi (PPSI) menjadi Direktorat Sistem dan Teknologi Informasi.

Saya tertarik bagaimana perubahan status kelembagaan akan berpengaruh terhadap kewenangan. Kira-kira bagaimana pengaruhnya mengenai pengelolaan data digital di Universitas Indonesia, fungsi pengawasan sistem informasi, dan stategi UI terkait arahan sistem informasi. Tantangan dan peluang, itu yang sementara ini yang saya simpulkan.

Ekonomi Kreatif

Sejauh mana keseriusan pemerintahan Jokowi-JK terhadap ekonomi kreatif akan teruji dalam kedua hal ini:

  1. Pembebasan Vimeo dari daftar cekal.
  2. Penataan jalur arus lintas data yang murah dan terjangkau.

Berikut alasannya.

Vimeo

Vimeo adalah situs de facto untuk para sineas. Anda boleh lihat semua film bebas/pendek yang didistribusikan, bahkan yang mendapatkan penghargaan. Semua pastinya ada di Vimeo. Saya bahkan kesulitan menemukan film yang ada di Youtube (kecuali yang telah diunggah tanpa izin oleh orang lain).

Berbeda dengan Youtube, Vimeo menargetkan langsung sineas-sineas independen untuk menyimpan film mereka dan menampilkannya langsung ke format HD. Ya, intinya, Vimeo tempat berkumpulnya sineas-sineas independen, salah satu aktor penting dalam ekonomi kreatif. Jadi, kalau memang Indonesia benar-benar mendukung industri kreatif, tidak seharusnya Vimeo dicekal.

Vimeo Staff's pick on this time of writing.

Vimeo Staff’s pick on front page taken at this time of writing. (Color down-sampled to 256-bit for convenience bandwith saving)

Saya lampirkan halaman depan Vimeo bagian kurasi staf Vimeo sebagai bukti bahwa Vimeo adalah tempat gaulnya orang-orang kreatif.

Lebar Pita Internet

Strategi yang saya lihat yang dilakukan pemerintah akhir-akhir ini adalah sering mengadakan pameran-pameran UMKM dan hasil unik daerah. Siapakah target atensi pemerintah? Sesama pegawai pemerintah yang mengetahui acara tersebut? Orang-orang yang memang memiliki waktu dan usaha lebih untuk acara-acara tersebut? Orang-orang yang kebetulan lagi ada di sekitar seperti saya? Mereka saja, ‘kah?

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang lain? Apakah mereka tidak potensial untuk menjadi pelanggan?

Beberapa waktu ini saya memperhatikan perilaku pengguna di Steam, sebuah pasar daring yang berkembang pesat. Lebih spesifik lagi, perilaku pengguna dari Indonesia di dalam kompetisi DoTA 2 se-Asia.

Valve, perusahaan pemilik Steam dan DoTA 2, menjalankan strategi penggalangan dana bernama DoTA 2 Asia Championship 2015 Compendium. Setiap pengguna membeli poin Compendium dan 25%-nya masuk ke total hadiah yang akan diberikan kepada para pemenang. Saat penulisan ini, sudah terkumpul lebih dari satu juta dua ratus ribu dolar Amerika!

Setiap orang yang sudah membeli poin Compendium namanya akan berwarna merah, sedangkan kami yang tidak tetap berwarna putih. Dari awal dimulainya Compendium dan sampai hari ini saya bermain, sudah puluhan jam, saya lupa tepatnya, selalu ada pemain Indonesia yang namanya berwarna merah. Padahal, satu DoTA 2 Asia Compendium seharga Rp122.999,00!

Ini bisa jadi sebuah indikasi bahwa orang Indonesia sudah tidak takut lagi bertransaksi daring. Lihat saja, OLX dan berniaga.com saja sudah berani memasang iklan. Hanya saja, saya bayangkan bagaimana sulitnya mempublikasikan hasil karya ke Internet dengan koneksi Internet seadanya dan terkadang diputus-putus. Itu saja masih di pulau Jawa, apalagi daerah luar Jawa.

Kita butuh infrastruktur Internet yang cukup (memadai).

Masa Depan Demokrasi

Tahun 2014 etika jurnalistik benar-benar diuji. Dari tidak berimbangnya media dalam pemberitaan Pemilu 2014 sampai peliputan tidak etis dalam kecelakaan AirAsia. Semua ini bisa menimbulkan stigma di masyarakat bahwa media terlalu bebas.

Bayangkan bahaya laten yang akan muncul. Pemerintah akan punya legitimasi untuk mencekik jurnalistik dengan alasan etika moral. Alasan tersebut menjadi legitimasi sensor terhadap demokrasi dan sensor terhadap fungsi check and balance. Waduh, kolonialisme korporasi, kemiskinan, dan utang yang tiba-tiba mencekik bisa terjadi!

Saya berharap di tahun 2015 ini, yang mana pun wadah aliansi Pers-nya, sama-sama setuju bahwa etika jurnalistik perlu diutamakan. Aliansi Pers boleh bertarung satu sama lain untuk supremasi, tapi lindungilah kebebasan jurnalistik yang ada sekarang.

Pemimpin Indonesia

Saya akhiri 2015 dengan pencapaian yang menarik, Indonesia dipimpin oleh non-militer dengan segudang prestasi. Beberapa menterinya memang patut dipertanyakan. Tetapi, tidaklah rusak susu sebelanga.

Terobosan perubahan mental, kira-kira itu tema yang dia anut. Hasilnya, kebijakan aneh-aneh yang sengaja dibuat untuk menstimulus perubahan mental. Kadang terlalu aneh sampai dibuat parodi, misalnya pernikahan PNS.

Saya setuju. Indonesia adalah negara Republik, dari rakyat untuk rakyat. Artinya, peran serta rakyat tidak berpangku tangan kepada pemerintah. Kita semua punya tanggung jawab masing-masing demi kemajuan bangsa Indonesia.

Mulailah dengan membuang sampah pada tempatnya. 🙂

MERDEKA!