Tentang

Tanggal 15 Desember 2014 kemarin PEMDA DKI Jakarta menerbitkan aplikasi Smart City Jakarta. Menurut situs tersebut, aplikasi ini adalah

Smart City Jakarta logo Portal Smart City adalah aplikasi yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk memberikan masyarakat informasi kondisi Jakarta melalui mitra aplikasi yang bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seperti QLUE, WAZE & TWITTER. Portal Smart City akan memberikan informasi yang transparan kepada masyarakat dengan memperlihatkan hasil kinerja pemerintahan Jakarta dalam menangani permasalahan yang ada di Jakarta. Portal Smart City juga dapat membantu masyarakat untuk mengetahui fasilitasi umum untuk dijadikan referensi dan informasi sesuai kebutuhan sehari-hari.

Sesuai dengan penjelasan situs Smart City ini, ada tiga aplikasi yang diintegrasikan oleh Smart City; Qlue, Waze, dan Twitter.

Qlue

Aplikasi Qlue yang dikembangkan oleh TerralogiQ. TerralogiQ adalah perusahaan yang bergerak di bidang solusi pencitraan bumi. Menurut situs TerralogiQ, perusahaan ini salah satu rekanan Google Enterprise yang resmi di Indonesia. Pantas saja aplikasi ini begitu terintegrasi dengan Android dan Google Maps.

Qlue Login Page

Qlue Login Page

Beberapa fitur Qlue yang saya lihat sekilas:

  1. Sistem pelaporan terpadu yang sudah terkategori.
  2. Sistem geotagging terpadu untuk urun daya penandaan tempat-tempat di Jakarta.
  3. Integrasi dengan Google Maps dan Google Street View.
  4. Integrasi dengan login Google dan Facebook.

Pada saat penulisan kali ini, implementasi dengan menggunakan akun Google saya gagal. Padahal, saya melihat bahwa aplikasi ini sudah terhubung dengan Google Play. Ya, sudah, saya tak bisa membahas lebih lanjut. Mungkin nanti saya akan coba lagi.

Waze

Perusahaan yang sudah dibeli oleh Google ini menggunakan pelaporan terpadu dari penggunanya tentang lalu lintas, terutama kemacetan dan penyebabnya. Situs Smart City menggunakan masukan dari API Waze untuk menentukan:

  • Kondisi Lalu Lintas
  • Laporan Macet
  • Laporan Kecelakaan
  • Laporan Bencana Alam

Dengan menggunakan API Waze, data-data pada peta pun lebih kaya. Terutama dari faktor urun daya pelaporan kemacetan di jalan.

Twitter

Peran media sosial ini adalah menyediakan pelaporan waktu-nyata (realtime) dengan menggunakan dua tagar “#banjir” dan “#petajkt” (tanpa tanda petik).

Oh, seandainya kita mau melapor melalui Twitter, dapat langsung membuat sebuah twit publik dengan menggunakan dua tagar tersebut. Berarti nanti aplikasi Smart City akan membaca tagar tersebut dan meneruskannya. Mungkin contoh pelaporan:

#banjir #petajkt ada di Kampung Melayu, setinggi 1 meter.

Sepertinya Pemprov DKI Jakarta harus lebih menyosialisasikan tentang fitur ini. Apakah aplikasi Smart City membaca juga geotag yang disediakan oleh Twitter, saya pun tak tahu. Kalau iya, akan jauh lebih kaya fitur. Artinya Masyarakat bisa saja melaporkan melalui Twitter, bukan terhubung langsung dengan aplikasi.

Dalam hal ini, anonimitas masih bisa dijamin. Skenario ini dicapai misalnya dengan membuat akun sejenis Jonru versi benar dan jujur. Akun anonim ini bisa digunakan untuk melaporkan berbagai hal bila ada warga yang cukup mengerti tentang privasi namun mau ikut berpartisipasi secara anonim.

Analisis Aplikasi

Sepertinya pengembang aplikasi Smart City Jakarta adalah TerralogiQ. Soalnya, situs ini mirip sekali dengan demo produk VMAP yang dimiliki oleh TerralogiQ. Saya, sih, menduga aplikasi ini dibangun dengan menggunakan VMAP dengan kustomisasi tambahan seperti integrasi beberapa aplikasi yang telah disebutkan, ada beberapa yang penting:

  • Pengaksesan CCTV, stasiun Trans Jakarta, dan sejenisnya.
  • Peta bencana seperti tinggi air, kebakaran, dan sejenisnya.
  • Peta pelaporan masyarakat.
  • Integrasi dengan Waze.

Cara pakai

Ada lima kategori menu yang bisa diaktifkan.

  • Laporan Masyarakat (Qlue)
  • Laporan Banjir Peta Jakarta
  • Peta Manajemen Bencana
  • Waze Social GPS Maps & Traffic
  • Informasi Pendukung
  • Destinasi Lokal

Secara baku, pertama-tama situs Smart City hanya menampilkan penanda dari Qlue. Untuk bisa mengaktifkan penanda-penanda tertentu, menu pada logo Jakarta harus diaktifkan. Misalnya, untuk mengaktifkan penanda kebakaran, tanda centang pada item kebakaran harus aktif .

e.g. enable Waze marker for traffics.

e.g. enable Waze marker for traffics.

Setiap penanda pada peta bisa diklik/sentuh untuk mengaktifkan detail kejadian.

A marker detail

A marker detail. (Image resized and reduced to 128-bit color)

Bahkan bisa melihat komentar dari kejadian tersebut. Komentar dari orang lain bisa membuat pelapor merasa dihargai karena telah bersusah payah melapor.

Comments

Interactivity can be a self-rewarding achievement for reporting.

Selanjutnya, saya jabarkan kelebihannya dan kekurangannya.

Kelebihan

Saya hanya menjabarkan empat baris, namun keempat fitur itu adalah sesuatu yang sangat wah. Saya kagum dengan ambisi Pemprov DKI Jakarta dengan aplikasi ini. Ini model yang patut dicontoh oleh pemerintah daerah lainnya.

Penggunaan Waze dan pelaporan aktif membuat partisipasi aktif masyarakat dengan pemerintah. Sistem ini bisa menjadi hub yang menghubungkan antar anggota masyarakat DKI Jakarta dan sekitarnya. Bahkan, seperti dibahas sebelumnya, interaktivitas membuat keterlibatan masyarakat dalam aplikasi ini.

Penggunaan beberapa sistem mengakibatkan kemacetan terpantau lebih efektif. Selama ini Google Map memiliki kekurangan karena terbaharui setiap sekitar 15 menit sampai setengah jam. Dengan CCTV, Waze, dan pelaporan sendiri, diharapkan masyarakat dapat mendapatkan informasi secepat-cepatnya. Ya, setidaknya CCTV memperlihatkan informasi lalu lintas lebih cepat.

Saya baru menggunakan aplikasi ini, tapi saya sudah melihat banyak manfaat seperti adanya pelaporan tempat-tempat tertentu. Saya bayangkan, seandainya di masa depan saya bisa melakukan eksplorasi ke Jakarta dan menemukan tempat-tempat baru yang menarik. Wow! Pariwisata yang menyenangkan.

Kelemahan

Saya harus melihat satu halaman intro yang memuat sebuah gambar berukuran besar sebelum saya bisa menggunakan situs ini. Ah, terkandung sebuah doa bahwa di era Jokowi ini Internet akan menjadi lebih murah dan cepat bagi rakyat Indonesia umumnya dan rakyat DKI Jakarta khususnya. Amin.

Tapi, apakah memang gambar yang hanya 343 KB itu membuat berat?

Saya sudah hitung aset-aset gambar yang ada. Cukup teroptimasi, apalagi menggunakan pelayanan dari Google. Jadi, sebenarnya ukuran gambar seharusnya tidak masalah.

Ternyata, penggunaan Javascript yang disamarkan (obfuscated)-lah yang menambah lama waktu untuk situs ini bisa fungsional. Peramban membutuhkan waktu yang agak lama untuk mengompilasi kode-kode yang sebenarnya dapat dengan mudah dipecahkan bila niat.

Saya membuka aplikasi ini di tiga mesin peramban: Presto (Opera 12.15), Gecko (Firefox 33.0), dan Chromium (Opera Developer 27.0.1683.0 dan Google Chrome 35.0.1912.2). Kesimpulannya:

  • Presto tidak dapat menjalankan Javascript yang tersamarkan sehingga animasi gambar awal mati dan peta berwarna putih. Tapi, newsticker yang ada di bawah dan menu bisa dimuat dan animasinya berjalan.
  • Gecko dapat menjalankan semua fungsi yang saya uji. Namun, animasinya patah-patah. Peramban saya selalu crash ketika saya mengklik salah satu gambar. Padahal, memori komputer saya 16GB.
  • Chromium menjalankan semuanya dengan sempurna. Nampaknya aplikasi ini dibangun untuk Chromium.

Cuma satu kekurangan teknis ini saja, sih. Sisanya aplikasi ini menakjubkan. Terutama, untuk niat baik Pemerintah yang mau membuka diri.

Tampilan Pada Perangkat Pintar

Saya pun menyertakan tampilan situs ini pada peramban LG G2 dengan sistem operasi Android CM12 Lollipop 5.0.1.

Saya lihat tampilan sempurna bila menggunakan peramban pada Android saya. Penanda-penanda dapat dengan jelas dipencet untuk dapat diaktifkan.

Saran

Aplikasi ini sungguh menakjubkan. Namun, untuk penggunaan yang sebenarnya masih ada beberapa perbaikan. Dari analisis sederhana saya, ada dua jenis saran.

Saran Teknis

Berikut saran teknis saya:

  • Hentikan penyamaran Javascript. Lebih baik konsentrasi kepada kestabilan penyediaan layanan dari pada berusaha menyembunyikan kode sumber.
  • Sebaiknya layar utama langsung ke peta. Intro dapat ditaruh ke easter egg atau layar tentang.
  • Gunakan URI yang benar sesuai dengan standar web! [lazy javascript is lazy!]

Contoh penggunaan URI yang benar adalah seperti ini:

http://smartcity.jakarta.go.id/#mitrakerjasama
URI yang menunjukkan laman Mitra Kerja sama, misalnya.
http://smartcity.jakarta.go.id/#@-6.1896744,106.836843,15z
URI yang menunjukkan Stasiun Gondangdia, misalnya.
https://www.google.co.id/maps/@-6.1896744,106.836843,15z?hl=id
Contoh URI yang menunjukkan satu resource Stasiun Gondangdia oleh Google Maps.

 

Saya mungkin bisa saja bilang, tolong jangan bikin Sir Tim Berners-Lee menangis. Tapi, alasan utama mengapa pentingnya penggunaan URI yang benar adalah tempat-tempat dan kejadian dapat direferensikan. Hal ini bisa membuat aplikasi ini berguna. Misalnya, dipakai sebagai referensi oleh orang lain dalam dokumen hukum, blog situs, atau pun sekedar dalam percakapan maya.

Contoh kecilnya, seseorang bisa memanfaatkan lokasi Warung unik pada situs untuk memberitahukan tempat makan unik tersebut sebagai titik berkumpul kepada rekan-rekan lainnya.

Saran Berkelanjutan

Agar proyek ini berkelanjutan dan dapat dikembangkan lebih lanjut, saya berharap:

  • Pemprov DKI telah mengevaluasi kontraknya. Pastikan bahwa kode sumber dan hak milik ada di tangan Pemprov DKI. Bisa jadi alasan utamanya adalah karena aplikasi ini dibiayai dari uang rakyat dan menggunakan data-data dari partisipasi rakyat Indonesia.
  • Nah, seandainya memang milik Pemprov DKI, data-data tersebut sebaiknya dapat dirilis dan diakses oleh pihak ketiga dengan menggunakan API yang terpublikasi. Artinya, sesuai dengan OpenGov, Pemprov DKI menyediakan Smart City API yang bisa dimanfaatkan oleh pihak ketiga.
  • Pihak ketiga yang punya kebutuhan khusus dapat juga diberi akses untuk memperkaya data-data yang ada.
  • Fasilitas anonimitas sebagai syarat pelaporan diakomodasi oleh hukum Indonesia. Alangkah baiknya kalau bisa melaporkan secara anonim secara eksplisit tanpa harus melakukan teknik-teknik tertentu.

Menurut saya, sudah saatnya paradigma penyediaan platform daripada end product. Pemprov mungkin hanya menyediakan data umum untuk kebutuhan spesifik. Tapi, data-data ini bisa jadi sangat berguna untuk suatu kebutuhan unik (niche) yang lain.

Akhir Kata

Aplikasi Smart City sangat menakjubkan. Berhubung baru diterbitkan, wajarlah ada kelemahan di beberapa tempat. Saya sangat mengagumi langkah Pemprov DKI dan berharap Pemerintah Daerah lainnya menyusul dan membentuk konsorsium OpenGov.

Oh, iya, kepada pengembang, selamat! Aplikasi Anda bagus.

~lolImHavingGoosebumps

Bacaan Lebih Lanjut