Nampaknya pasar Microsoft berubah dari destop menuju cloud computing. Komputasi awan memang menjadi pasar yang seksi. Sayangnya, produk-produk Perangkat Lunak Bebas dan Terbuka (Free/Open Source Software, FOSS) secara de facto menguasai pasar. Mau tak mau, Microsoft sebagai tim yang baru masuk pun harus berhenti arogan dan memilih untuk mengakomodasi FOSS.

Dimulai dari pernyataan Satya Nadella, CEO Microsoft, yang secara kontroversial menyatakan: “Microsoft ♥ Linux”. Pernyataan ini memulai langkah baru dari Microsoft untuk secara resmi mendukung sistem operasi terbuka ini. Pernyataan ini sebenarnya berkata bahwa sekarang Microsoft benar-benar mendukung PaaS yang berisi komponen FOSS, sang pemimpin pasar.

Alasan-alasan

Para pemimpin pasar dalam PaaS/IaaS, Amazon, Heroku, Salesforce, Google, dan lainnya aktif menggunakan FOSS di belakang produk mereka. Mereka terbuka menggunakan teknologi FOSS. Bahkan, mereka menjadi suporter untuk proyek-proyek FOSS.

Beberapa waktu [baca:tahun] yang lalu, Microsoft pernah memperkenalkan Fourth Paradigm (kata lainnya sekarang lebih dikenal dengan Big Data) kepada mahasiswa Fasilkom UI. Kebetulan saya hadir di sana. Beliau menyatakan bahwa perkakas yang lazim digunakan adalah Apache Hadoop. Big data adalah industri yang seksi saat ini.

Munculnya para entrepeneur muda, startups, yang bergerak di bidang teknologi pun menjadi pasar baru. Teknologi yang digunakan oleh para startups pun biasanya menggunakan LAMP (Linux, Apache, MySQL, PHP) atau sejenisnya yang notabene adalah FOSS. Harga yang dibayarkan lebih murah dan komunitas mereka tumbuh mengenal FOSS sebagai perkakas. Solusi-solusi mereka pun dibangun berdasarkan FOSS.

Menurut data yang disusun dari AngelList oleh Leo Polovets, startups biasanya menggunakan Heroku dan Amazon. Mereka pun aktif menggunakan teknologi baru dan berharap menjadi pemain utama dalam teknologi tersebut. Itu sebabnya, saat ini mereka senang menggunakan Node.js. Saat ini, Javascript menjadi bahasa yang meningkat pesat popularitasnya selain Python.

Ketiga faktor tersebut membuat Microsoft harus mau tak mau terlibat dalam FOSS.

Membuka Diri

Sebagai bagian dari kulturnya sendiri, Microsoft sangat membanggakan produk-produknya. Terutama untuk produk yang dipakai banyak orang. Namun, Silverlight menjadi contoh nyata bahwa produk tertutup membuat orang menjauhi teknologi tersebut.

Munculnya iOS dan Android membuka pasar mobile dan mengalahkan Windows Phone. Pasar peladen yang didominasi oleh produk-produk FOSS pun mengancam Windows Server. Mau tak mau, Microsoft harus menggunakan strateginya untuk membuat solusi yang dibuatnya tetap relevan.

Membuka diri adalah jawaban. Agar tetap relevan, Microsoft harus membuat produknya terbuka bagi pihak-pihak yang mulai mempertimbangkan menggunakan FOSS. Produk yang terbuka ini diharapkan membawa orang-orang kembali ke Microsoft.

Bisnis adalah pragmatis dan Microsoft adalah pemain yang pragmatis.