Saya melihat sebuah tautan oleh rekan saya di media sosial kepada sebuah tulisan oleh Ivan Lanin. Dia meng-Indonesiakan istilah crowdsourcing menjadi urun daya. Satu alasan dari dia mengapa tidak menggunakan istilah gotong royong adalah karena medianya, yakni Internet.

Kalau saya melihat, istilah gotong royong masih bisa digunakan untuk crowdsourcing. Apalagi, penggunaan kata crowdsourcing tidak melulu mengenai Internet. Kendati saat ini lebih banyak digunakan dengan menggunakan Internet, tetapi Wikipedia tetap memberikan contoh penggunaan sebelum Internet ada.

Apa yang berbeda dengan gotong royong?

Secara penjabaran, crowdsourcing dibuat dari sudut pandang kapitalisme. Sebaliknya, gotong royong dibuat dari sudut pandang tradisi Indonesia yang cenderung sosialisme. Istilah crowdsourcing dikoinisasi dari dua kata: crowd dan outsourcing. Yang memang lebih tepatnya dijabarkan seperti ini: (Jeff Howe, 2006)

Sebuah tindakan perusahaan untuk menyelesaikan sebuah tugas yang biasa dikerjakan oleh pihak profesional/karyawan kepada khalayak ramai.

Yang menarik dari tulisan tersebut, definisi crowdsourcing lebih kepada

pengaplikasian prinsip-prinsip Open Source kepada bidang-bidang lain selain perangkat lunak.

Prinsip Open Source lebih diidentifikasi kepada kolaborasi terbuka. Sebuah sistem yang terbuka untuk menyediakan solusi bagi kolaborator dan non-kolaborator. Artinya, siapa pun bisa menjadi kolaborator dan hasil kerjanya dapat dinikmati oleh siapa pun juga. Bukankah ini yang kita namakan gotong royong?

Walaupun gotong royong merupakan terminologi yang aneh bagi budaya Barat, penggunaan aplikasi FOSS membuat banyak mata terbuka tentang penggunaan prinsip-prinsip tersebut kepada yang lain. Yochai Benkler, seperti yang saya kutip dari tulisan saya terdahulu, menggunakan ini kepada ekonomi.  Salah satu yang paling berkembang di dunia pemerintahan adalah berkembangnya Open Specification.

Gerakan Open Specification adalah untuk memindahkan format dokumen pemerintahan kepada format dengan spesifikasi yang terbuka. Hal ini yang memaksa Microsoft menggunakan uangnya untuk memasukkan OOXML sebagai salah satu standar ISO.  Salah satu contoh gerakan ini adalah pemerintah Inggris yang menyatakan akan pindah ke solusi Open Source untuk menghilangkan oligopoli vendor.

Kembali ke topik, penggunaan urun daya yang dibilang oleh Ivan Lanin nampaknya bagus juga. Seperti penggunaan kata ratron atau surel, Bahasa Indonesia seperti bahasa lainnya dibentuk oleh pengertian penggunanya. Entah urun daya atau gotong royong, tergantung bagaimana kita menggunakannya. Untuk saat ini, saya masih lebih suka menggunakan gotong royong, sebuah kata yang terkoinisasi lebih dahulu oleh bangsa ini untuk perilaku kerja bersama terbuka ini. Pun demikian, saya bukan ahli bahasa, pendapat beda bolehlah.

Bacaan Lebih Lanjut

Daftar Pustaka

Jeff Howe (2006, June 02). Crowdsourcing: A Definition. Retrieved August 02, 2014 from http://crowdsourcing.typepad.com/cs/2006/06/crowdsourcing_a.html.^