Sekarang sedang ramai dalam pembicaraan tentang seorang dara yang mengomel di PATH karena kehadiran ibu-ibu hamil yang seenaknya saja minta jatah kursi duduk. Beliau menuduh wanita hamil itu malas karena tidak berangkat pagi jam lima seperti ibu-ibu hamil yang lainnya. Akibat perkataan tersebut, ia dicela oleh banyak orang di Internet.

Yang pertama, saya juga mau bilang bahwa yang menyebarkan tulisan dara tersebut sama bersalahnya. Mereka tidak tahu bahwa efek menyebarkan tulisan tersebut secara daring akan berakibat fatal bagi sang dara. Apalagi, apa yang dipasang di Internet takkan pernah bisa dihapus. Aib ini akan melekat seumur hidup dara ini.

Seandainya pun memang dia bersalah, apakah dara tersebut tidak layak untuk mendapatkan pengampunan?

Yang kedua, selaku pengguna KRL, saya juga sering menjumpai tingkah ini bukan hanya sang dara. Saya menjumpai bahkan kaum lelaki pun ada yang tidak punya kemaluan dengan berbalik mengejek ibu-ibu hamil sampai menyuruh dengan kasar ibu tersebut untuk ke gerbong wanita. Jadi, perilaku sang gadis bisa jadi merupakan bentuk empati dari sekelilingnya yang juga kesal dengan kelakuan ibu hamil.

Menurut UndangUndang yang berlaku, perusahaan wajib memberikan cuti dibayar selama tiga bulan kepada ibu hamil. Sisanya tergantung negosiasi dengan perusahaan, alias bisa jadi cuti yang dibayar. Saya tidak tahu bagaimana perusahaan di Indonesia mengaturnya, namun menurut UU Pasal 154 huruf b No. 13/2003 jelas mengatur bahwa ibu hamil yang dipaksa berhenti bekerja dapat membela diri.

Yang ketiga, seberapa tahu ibu-ibu hamil dengan haknya? Jangan-jangan dia tidak tahu dengan UU ini sehingga ia terintimidasi dengan kontrak yang mengharuskan dia bekerja. Seberapa, sih, peraturan perundang-undangan mengatur gaji seseorang? Jangan-jangan dengan mengambil cuti hamil tersebut, seseorang kehilangan sejumlah besar penghasilannya.

Yang keempat, transportasi yang tidak manusiawi, jalan yang berlubang, dan rambu-rambu yang tidak efektif membuat perilaku sebagian kita, terutama yang berkendara (umum/pribadi) di DKI Jakarta, berubah menjadi lebih beringas. Ini dikarenakan fungsi kontrol pemerintah yang tidak benar. Bagaimana cara memecat anggota Dewan yang tidak bekerja? Bagaimana masyarakat memiliki kontrol terhadap anggaran dan hasil kerja? Adakah pihak media massa yang secara aktif meliput penggunaan kas negara terutama tentang transportasi umum ini?

Yang kelima, hal ini justru sebuah indikasi untuk mempertanyakan bagaimana pendidikan moral berlangsung saat ini. Apakah nilai-nilai Pancasila seperti Budi Pekerti, Tenggang Rasa, dan Hormat-menghormati sudah tak lagi diajarkan di sekolah? Ataukah jangan-jangan sudah tidak lagi relevan. Ini buat semua orang, bukan hanya sang “tertuduh”.

Yang keenam, tahukah kita bahwa dara tersebut pun berhak karena dia pincang? Tahukah kita kondisi KRL pada jam sibuk? Yap, terkadang kita suka menghakimi tanpa tahu kondisi orang tersebut. Tahukah kita beban hidupnya sehingga dia berusaha mengeluarkan kekesalan dalam pikirannya yang menumpuk? Hal tersebut menyebabkan kita marah kepada orang lain.

Saya sebenarnya mau membahas tentang cyber-bullying dan efeknya bagi orang Indonesia. Itu sebabnya, saya sedang memantau kalau-kalau terjadi sesuatu dengan dara ini. Kalau itu terjadi, saya rasa memang perlu bangsa ini dibukakan tentang bahayanya cyber-bullying.

Ada yang lebih mengerti permasalahannya? Saya juga mau tanya pengalaman teman-teman di negeri orang tentang ibu hamil dan transportasi umum. Siapa tahu ada yang lebih berpengalaman.

Itu makanya, saya minta supaya pejabat publik supaya sekali seminggu menggunakan transportasi umum. Biar dia tahu bagaimana laknatnya kondisi di sana pada jam sibuk. Jangan cuma naik mobil ditemani voorrijder.