Lagu Touhou – Bad Apple! dimainkan dengan menggunakan peralatan musik tradisional dari Jepang dengan set panggung .

Shamisen1: Nami Kineie [http://www.kineienami.jp]
Shamisen2: Sakurako Satoh
Koto: Nahoko Ohata [http://music.geocities.jp/mizukawatos…]
Shakuhachi1: Makoto Takei [http://www.takeimakoto.com]
Shakuhachi2: Toshiya Mizukawa [http://music.geocities.jp/mizukawatos…]
Drums: Keiko Tada [http://blog.livedoor.jp/tara8/]
 
Arrangement:Yorihide Fukushima [http://www.fukushima-yorihide.com]
Recorded and mixed by: Toshiya Mizukawa [http://music.geocities.jp /mizukawatoshiya]
Calligraphy: Jiro Shirosuzu [http://siroisuzu.web.fc2.com/]
Photography, Editing:Ikiro P [http://www.voiceblog.jp/johson/]
Head: Kohtaro Fujiyama [http://www.wazuma.jp]
Original:BadApple!! [ZUN ~Team Shanghai Alice~] [Toho Gensokyo ~Stage 3]

Salah satu wacana untuk melestarikan budaya adalah dengan menginfusikannya dengan budaya populer (pop). Bukan sekedar budaya pop, namun budaya pop yang masih eksperimental seperti Tohou. Tohou adalah sebuah permainan pesawat tempur yang menampilkan karakter pilotnya sebagai wanita-wanita jejadian. Bad Apple! adalah sebuah BGM (musik latar) di tingkat 3 permainan tersebut. Dengan sentuhan berbagai orang, Bad Apple! menjadi sebuah mim yang ternama bahkan sampai masuk CNN.

Akulturasi budaya seperti ini pun terjadi pula pada orkestra yang menggunakan karakter-karakter K-On sebagai maskot. Ada juga musisi Jazz yang melagukan musik-musik Anime dalam Platina Jazz.

Bagaimana dengan musisi Indonesia?

Saya, sih, seringnya melihat mereka menampilkan elegan musik-musik eksperimental. Masalahnya, tidak banyak penikmat lagu seperti itu. Kalau saya lihat, kebanyakan masih menggunakan pakem alat tradisional difusikan dengan birama modern. Itu sebabnya, kesulitan beberapa komposer adalah membuat pemusiknya paham akan not-not modern.

Saya belum lihat ada yang melagukan Buka Sitik Jozz dengan mengintegrasikan lagu tersebut dengan birama pentatonik musik daerah. Seperti lagu Bad Apple! ini yang dibuat demikian; lagu ini dibuat dengan birama-birama tradisi (dengan sedikit penyesuaian komposisi modern) sehingga bisa dimainkan dengan alat musik tradisional. Adakah yang demikian? Saya penasaran.