Tulisan dari Rhenald Khasali membahas mengenai Dul dan anak-anak lainnya yang mengalami gangguan pesatnya teknologi membuat saya gatal menulis. Berbeda dengan yang dahulu, saat ini manusia modern lebih rentan terbuka terhadap deras informasi. Peralatan elektronik yang banyak bermunculan membuat evolusi sosial berjalan semakin cepat seperti laju perubahan iklim.

Orang tua cukup berpuas diri dengan hal tersebut. Dengan mampu membelikan peralatan elektronik, mereka membiarkan anak-anak mereka asyik dengan layar kecil tersebut. Orang tua bisa beristirahat atau melakukan hal yang lain. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia, namun di seluruh dunia juga.

Menurut penelitian awal dari Dr. Karuppiah, sebagian besar anak-anak ini sebagian besar tidak diatur dengan baik oleh orang tua mereka. Hal ini berbeda dengan masa lalu ketika orang tua memperbolehkan anaknya bermain komputer ketika sudah agak tua pada jam-jam tertentu saja. Hal ini membuat anak berisiko terkena dampak sosial dan kesehatan.

Ada dua dampak kesehatan disebutkan dalam artikel tersebut, antara lain akibat posisi duduk yang salah dan mata yang semakin tegang. Dampak sosial pun tidak kalah berbahaya, yakni kecanduan bermain dan cyber bullying. Yang terakhir ini sangat berbahaya dan sudah memakan banyak korban.

Google Trends pencarian Internet di Indonesia Januari 2012 s.d. April 2013

Google Trends pencarian Internet di Indonesia Januari 2012 s.d. April 2013. [Gambar ini sudah saya sensor sehingga Anda tidak perlu membaca kata-kata kotor.]

Ketika saya diundang untuk berbicara mengenai media sosial, saya melakukan riset kecil-kecilan mengenai Internet dan penggunaannya di Indonesia. Saya menemukan bahwa ada tiga tren pencarian yang ada:

  1. Cara masuk ke Facebook.
  2. Pornografi.
  3. Bajakan.

Inilah kenyataan di Indonesia. Sebagian besar orang menggunakan Internet untuk memberikan data diri dan teman-temannya secara cuma-cuma kepada media sosial. Yang kedua adalah untuk memuaskan birahi. Dan yang terakhir, momok bagi para penggiat musik, mencari bajakan.

Lalu apakah Anda dapat menuduh orang Indonesia gratisan?

Saya pikir agak lebay untuk menuduh seluruh orang Indonesia. Karena nyatanya tidak semua orang Indonesia bisa menggunakan Internet. Orang-orang kampung, orang-orang buta huruf, dan orang-orang tua adalah contoh manusia Indonesia yang nirteknologi.

Kenyataannya pengguna terbanyak dari Internet adalah kawula muda. Anda dapat bayangkan bagaimana 5 s.d. 10 tahun mendatang pemikiran akan banyak berubah. Dengan tren pencarian demikian, hal-hal yang masih tabu saat ini akan menjadi lumrah pada masa itu.

Anda masih berpikir agama akan menjadi jawaban?

Oh, Anda mungkin usianya sudah jauh di atas saya. Di Internet, selain topik pengetahuan yang berkembang, berkembang pula paham Liberalisme. Bukan cuma Liberalisme, bahkan Ateisme berkembang. Faktanya, saat ini ilmu pengetahuan masih enggan memasukkan Tuhan ke dalam perhitungan karena bias.

Canda satir yang seharusnya digunakan oleh orang-orang berpendidikan pun sudah dinikmati oleh anak muda. Silakan buka 9Gag atau pun situs lainnya yang sejenis. Canda satir adalah norma di sana. Satir agama pun termasuk di dalamnya. Hal-hal yang dipercandakan oleh para teolog/pemikir terbuka juga bagi khalayak umum, terutama kawula muda.

Apakah Anda yang tidak bisa membedakan antara Sekulerisme dan Ateisme dapat menjadi pedoman bagi anak Anda?

Ini juga menjadi sebuah problematika tersendiri. Kebanyakan orang tua masih menganut sistem ajar Jepang, posisi orang tua di atas anak-anak. Orang tua mengeksploitasi hubungan tersebut untuk membuat anak taat.

Alih-alih menjelaskan sesuatu, atau seperti kata Oprah menganggap mereka sebagai dewasa muda (young adults), orang tua menganggap remeh kemampuan anak-anaknya dalam menganalisis. Ketika anak-anak itu lebih tahu dari orang tua, kediktatoran itu mengakibatkan anak tidak lagi menghargai orang tua. Itu sebabnya, akhir-akhir ini anak lebih suka memberontak.

Mereka tak terbiasa mencurahkan perasaan mereka kepada manusia lain. Mereka menggunakan media sosial untuk menyatakannya. Makanya, jangan tabu lihat ketika segerombolan kawula muda sedang berbicara, beberapa di antara mereka asyik dengan layar perangkat mereka.

Siapakah yang didengar oleh mereka? Musik.

Beberapa orang meremehkan pengaruh musik. Namun, hasil studi Steven Stand dan Jim Grundlach dalam “The Effect of Country Music on Suicide” menjelaskan ada keterkaitan antara tingkat bunuh diri dengan musik Country. Penelitian yang memenangkan IG Noble tahun 2004 ini menjelaskan bahwa semakin sering sebuah radio kota memutarkan lagu-lagu Country, semakin tinggi angka bunuh diri.

Seperti dijelaskan oleh spydersden, dari analisis 1400 lagu Country yang populer, ditemukan tema-tema pecahnya hubungan, seperti perceraian dan selingkuh. Selain itu, musik ini juga banyak melagukan bahwa Alkohol sebagai jalan keluar. Kedua ini erat kaitannya dengan bunuh diri.

Dengan tren pencarian teratas yang berikutnya adalah musik, perlu kita bertanya akan ke arah mana bangsa ini pergi?

Dari beberapa situs tangga lagu bajakan yang saya temukan — saya tidak sertakan hasilnya karena Anda bisa Google. Tapi, jangan unduh lagu ilegal! — kebanyakan lagu Indonesia yang sedang populer saat ini adalah mengenai selingkuh dan ditinggal pergi. Walau banyak juga lagu positif yang ada.

Saya tidak tahu manakah yang paling sering didengar. Keputusan banyak musisi untuk meluncurkan lagu dengan isi positif cukup saya apresiasi. Tanpa sadar mereka telah membantu bangsa ini untuk bangkit.

Atau jangan-jangan mereka juga seperti industri musik Amerika yang sepakat untuk memasarkan lagu-lagu yang membangkitkan semangat? Yah, entah mereka bisa berkonspirasi atau sekedar kebetulan, tetap saja banyak lagu baru yang juga menjatuhkan mental.

Saya bukan psikolog/antropolog, jadi saya berhenti sampai di sini mengenai kultur. Yang pasti, teknologi telah membentuk kultur baru. Kultur ini merekatkan manusia secara digital, namun sekaligus memisahkan mereka secara nyata.

Sebagai orang tua, musisi, dan tokoh publik apakah reaksi Anda tentang tantangan ini?

Kalau saya, saya berusaha memberitahukan ini semua. Ini buktinya. Aduh, sebenarnya saya mau menulis sedikit, tahu-tahu sudah jadi artikel panjang. Untuk itu, saya berhenti sekarang. Silakan nikmati gambar dari XKCD sebagai kesimpulan.

Swimsuit Issue

Parents: talk to your kids about popup blockers. Also, at some point, sex. But crucial fundamentals first!