KRL Mania

KRL Commuter Line Melaju Mengantar Saya Kerja

Gambar saya cukup miriplah dengan Kereta Listrik (KRL) milik Commuter Line (anak perusahaan PT KAI). Di gambar-gambar yang lain tidak dipasangi kawat baja. Padahal, semua KRL dipasangi kawat baja di depan. Habis, suka ada orang iseng menimpuk KRL.

Omong-omong soal timpuk-menimpuk, mata saya pernah kena pecahan kaca ketika KRL ditimpuk di daerah Tanjung Barat. Lumayan, mata agak sedikit merah. Untung tidak sampai luka. Kalau luka, mungkin berhenti pula karir komputer saya dan saya harus belajar meminta-minta di jalan. Maklum, selain mengetik, saya tidak memiliki kemampuan lain yang mumpuni.

Semenjak PT KAI melakukan spin off menciptakan Commuter Line, terjadi peningkatan kualitas pelayanan KRL. Mulai dari loket yang mulai tertib antri, loket dilayani wanita muda, dan penyiar yang juga suaranya wanita. Dulu pernah ada penyiar favorit di Pondok Cina. Suaranya seksi sekali. Ha… ha… ha….

Saya juga salut dengan keamanan stasiun dan KRL yang beroperasi. Di setiap stasiun selalu terjaga dengan ketat. Selain itu, di KRL hampir setiap gerbong dijaga. Saya bahkan berani membuka laptop, sesuatu yang dahulu tidak pernah terbayang saya bisa kerjakan.

Berhubung saya pengguna KRL yang cuma bisa di TIK, berikut saya paparkan apa yang saya amati dari perubahan Commuter Line dari sisi TIK.

Akun Twitter

Hal yang bagus dari Commuter Line juga adalah penggunaan akun Twitter @CommuterLine yang aktif memberitakan dan menjawab pertanyaan seputar KRL. Saya mengikuti akun ini. Contoh yang menjawab pertanyaan:

Info Commuter Line on Twitter

@muthiara04 U/ mengecek sisa saldo yang dimiliki silahkan Ibu datang ke loket Stasiun terdekat. Untuk mengecek saldo jgn dilakukan di gate.

Saya melihat bahwa Commuter Line benar-benar menggunakan aplikasi Twitter sebagai sarana untuk lebih dekat kepada penggunanya. Hal ini dirasa tepat karena:

  1. Pengguna KRL adalah warga Jabodetabek yang memiliki akses layanan ke Twitter/Facebook.
  2. Twitter sebagai sarana kronologi menyediakan arus yang bisa diikuti secara kronologis sehingga memudahkan orang untuk mengawasi secara waktu-nyata (realtime?).
  3. Media Sosial mendekatkan perusahaan kepada pengguna. Sekarang era yang humanistik, tidak lagi modernisme. Perusahaan tidak bercitra kaku, melainkan luwes dan ramah.

Saya sendiri merasa terbantu dengan pengumuman-pengumuman di akun Twitter tersebut.

Sarana Situs Daring

Saya merasa situs Commuter Line yang terbaik di antara perusahaan penyedia jasa di Indonesia. Dia menyediakan daftar jadwal KRL di halaman depan. Bukan hanya itu, dia juga menyediakan peta jalur KRL. Yang lebih istimewa, mereka menyediakan jasa menerima keluhan. Saya, sih, tidak mengharapkan lebih. Saya belum tahu apakah itu efektif atau tidak. Tapi, ini sebuah terobosan!

Yang menjadi perhatian saya adalah mengenai potensi Open Data melalui aplikasi waktu-nyata. Melalui rekan saya, saya menemukan adanya aplikasi jejaring yang diakses langsung melalui URL. Format kembalinya HTML. Contoh bila saya mengakses stasiun UI, maka URI-nya “http://infoka.krl.co.id/to/ui” akan menghasilkan: (saya cuplik)

realtime Stasiun UI

Jadwal Kereta Waktu-Nyata Stasiun UI

Saya cukup terkagum-kagum akan ini. Saya tertarik, apakah bisa aplikasi tersebut mengembalikan RDF? Saya pun mencoba apakah jangan-jangan bisa menghasilkan RDF juga:

$ curl -I -H "Accept: application/rdf+xml" http://infoka.krl.co.id/to/jak
HTTP/1.1 200 OK
Date: Wed, 03 Jul 2013 09:16:39 GMT
Server: Apache/2.2.15 (CentOS)
X-Powered-By: PHP/5.4.14
Set-Cookie: ci_session=a%3A5%3A%7Bs%3A10%3A%22session_id%22%3Bs%3A32%3A%22f82d0d12359e92a044386de684643776%22%3Bs%3A10%3A%22ip_address%22%3Bs%3A13%3A%22152.118.37.37%22%3Bs%3A10%3A%22user_agent%22%3Bs%3A11%3A%22curl%2F7.31.0%22%3Bs%3A13%3A%22last_activity%22%3Bi%3A1372842999%3Bs%3A9%3A%22user_data%22%3Bs%3A0%3A%22%22%3B%7Df32ffaa762336460b01b121b101ff81c; expires=Wed, 03-Jul-2013 11:16:39 GMT; path=/
Last-Modified: Sat, 06 Jul 2013 09:16:39 GMT
Cache-Control: post-check=0, pre-check=0
Pragma: no-cache
Content-Type: text/html; charset=UTF-8

Ternyata tidak bisa. Berarti hanya menghasilkan halaman HTML saja. Seandainya bisa RDF, sudah pasti menjadi aplikasi Open Data yang paling komprehensif pertama di Indonesia. Saya bisa membanggakan hal tersebut ke rekan-rekan di luar sana. Ha… ha… ha….

Yah, tapi sebenarnya bermodalkan regex, kita bisa membuat aplikasi Android atau aplikasi terminal yang bisa secara waktu-nyata menyediakan informasi stasiun. Bahkan, bermodalkan GPS pada telepon pintar, aplikasi tersebut bisa dimodifikasi untuk menyarankan stasiun terdekat. Dengan informasi lalin, bisa dipadukan untuk menyarankan akurasi stasiun terdekat.

Wow, selamat datang di Open Data! Ada yang tertarik? Saya sedang sibuk DoTA 2, jadi belum ada waktu untuk itu. 🙂

Oh, iya, buat Anda yang mengaku Heker/Kreker atau apa pun, hargailah etika. Jangan serang aplikasi publik!

Kartu Elektrik

Hal yang terbaru adalah penggunaan tiket elektronik. Saya sebenarnya ingin membahas ini. Tapi tahu-tahu malah membahas yang lain lebih lanjut.

Saya lihat Commuter Line berhati-hati dalam menerapkan kebijakan kartu elektrik. Sudah sejak lama mereka memodifikasi dan berusaha mengimplementasi kartu elektrik. Dari penjajakan dengan sebuah bank penyedia e-wallet sampai penyediaan kartu elektrik berlangganan percobaan, Commet.

Proses  berlangsung bertahun-tahun. Namun, kemarin tetap saja antrian pengguna ketika pertama kali menggunakan kartu elektrik ini cukup serius. Bahkan, kata rekan saya, antrian di Lenteng Agung sampai membuat jalan raya macet. Yah, saya tetap maklum dengan Commuter Line. Dia cukup berani untuk akhirnya melompat ke inovasi baru.

Berikut hal-hal yang saya amati dari proses tersebut:

  1. Proses membaca kartu sekitar 5 detik dan lebih. Padahal, kalau saya bandingkan ketika saya di kota sebelah (Kuala Lumpur dan Singapur), kartu hanya membutuhkan waktu kurang lebih sedetik atau dua. Nampaknya Commuter Line perlu menulis ulang aplikasinya.
  2. Hanya ada dua atau tiga pembaca kartu sehingga orang membludak mengantri.
  3. Banyak orang yang belum paham memasukkan kartu (atau menaruh di atas untuk kartu multi trip) sehingga bisa sampai semenit sebelum kartu masuk.
  4. Disiplin mengantri yang belum optimal mengakibatkan banyak orang yang berdesak-desakan sehingga memperlama waktu proses. Saya sendiri hampir mengamuk karena selalu diselak orang.

Commuter Line menyediakan dua jenis kartu: 1) single trip (kartu sekali jalan); dan 2) multi trip (kartu berlangganan). Berbeda dengan kartu langganan sebelumnya, kartu berlangganan multi trip dibuat dengan batasan saldo, bukan waktu. Jadi, dengan saldo di atas Rp7000,00 kita bisa menggunakan kartu tersebut sampai kapan saja.

Satu kartu langganan seharga Rp20.000,00 dan tak bisa diuangkan. Namun, isi saldonya bisa diuangkan di setiap stasiun KRL se-Jabodetabek. Lumayanlah kalo lagi bokek bisa mencairkan dana maksimal Rp1.000.000,00.

Saya iseng-iseng membaca kartu multi trip yang saya punya dan menemukan informasi berikut:

Wed Jul  3 14:58:31 2013
Reader 0: OMNIKEY CardMan 5x21 CL (OKCM0071403111351035286222863276) 00 00
  Card state: Card inserted,
  ATR: 3B 84 80 01 01 11 20 03 36

ATR: 3B 84 80 01 01 11 20 03 36
+ TS = 3B --> Direct Convention
+ T0 = 84, Y(1): 1000, K: 4 (historical bytes)
  TD(1) = 80 --> Y(i+1) = 1000, Protocol T = 0
-----
  TD(2) = 01 --> Y(i+1) = 0000, Protocol T = 1
-----
+ Historical bytes: 01 11 20 03
  Category indicator byte: 01 (proprietary format)
+ TCK = 36 (correct checksum)

Possibly identified card (using /usr/share/pcsc/smartcard_list.txt):
3B 84 80 01 01 11 20 03 36
        Snapper Sprat (Transport)
        https://www.snapper.co.nz/snapper-store/

Yak, berhubung waktu menulis blog ini kebablasan sehingga menghabiskan satu ronde di DoTA 2, saya belum mencari tahu lebih lanjut kartu ini. Silakan Anda cari tahu sendiri kalau penasaran. Saya, sih, berharap kalau APDU untuk membaca dapat dibuka, lumayanlah bisa baca sendiri tinggal berapa sisa saldo.

Yang pasti, sungguh mengagumkan kinerja PT KAI (dalam hal ini Commuter Line)! Kudos!

kembali ber-DoTA 2