Ahoy, lad?

Ahoy, lad?

Seorang musisi Gereja mentwit sebuah pernyataan:

Sidney Mohede on Twitter

Sedih jg lihat tweet orang2 ‘pelayanan’ yg masih mau membajak & mencuri lagu/album yg kita kerjakan dengan kerja keras.

Sedih memang menjadi musisi zaman sekarang. Mereka menjadi korban perang idealisme. Karya-karya mereka selalu dibajak orang. Namun, sebenarnya tidak semua pembajak itu memiliki motif keuangan.

Sekali lagi, saya tidak berusaha membela pembajakan. Sebaliknya, saya memilih FOSS untuk melawan itu. Saya pun mendengarkan lagu dari CD yang saya beli. Namun, ada hal-hal lain dibalik pembajakan dan saya tertarik membuka hal-hal tersebut.

Keuntungan Menginjak Hak

Terus terang, dari awal tulisan ini saya nyatakan bahwa secara pribadi memilih pandangan sosial yang berpendapat bahwa hak cipta harus dibatasi. Di luar karya musik, hak cipta dipakai untuk mencegah kompetitor membuat obat yang sama sehingga harga obat paten mahal. Hal ini menyebabkan penyakit-penyakit yang seharusnya bisa disembuhkan menjadi mematikan. Mantan menteri kesehatan, Siti Fadillah, pernah memrotes praktik komersialisasi ini.

Karya-karya sastra yang seharusnya menjadi domain publik terus diperpanjang hak ciptanya oleh penerbit. Padahal, sebuah tulisan karya sastra dulunya memiliki hak cipta 10 tahun. Kemudian, karya tersebut menjadi domain publik yang dapat disalin, ditingkatkan, dan dimodifikasi oleh siapa pun. Orang pun dapat menikmati karya sastra. Hal ini memungkinkan orang-orang yang tak mampu dapat mengakses karya tersebut sambil memberikan insentif kepada penulis.

Yang terbaru dari itu semua adalah adanya usaha penciptaan paten disain baju. Paten ini ditolak karena motif-motif baju dan segala macam diciptakan dari tren yang sudah ada. Kecuali Anda sejenis dengan Lady Gaga, tak seorang pun mau memakai disain baju yang sangat berbeda. Lagi pula, disainer-disainer pasti membangun karyanya berdasarkan inspirasi lainnya.

Dari dunia pendidikan, terjadi pula protes mengenai akses publikasi ilmiah yang dikenakan biaya dan biaya publikasi itu sendiri. Banyak dari publikasi ilmiah tersebut merupakan pembiayaan dari dana publik. Sudah seharusnya mereka tersedia untuk publik. Apalagi, mengapa justru periset yang harus bayar untuk hasil kerjanya dapat dibaca orang? Namun, yang terjadi adalah penulis harus membayar publikasi dan pembaca harus membayar untuk mengakses tulisan yang dibiayai publik itu. Itu sebabnya, ada periset yang memilih untuk publikasikan langsung tanpa melalui publikasi.

Hal-hal pengindustrian karya-karya tersebut dengan mencabut beberapa hak seperti domain publik menyebabkan timbulnya haktivisme (hacktivism). Penyebabnya satu: demi mendapatkan keuntungan, korporasi melanggar hak-hak yang sudah ada dan diakui. Mereka punya uang dan pelobi untuk menggolkannya sehingga memiliki ketetapan hukum. Pejuang kemanusiaan, atau setidaknya itulah yang ingin dilakukan, sebagai individu-individu terpaksa harus berjuang dengan cara yang “lain.”

Budaya Sebagai Inti Manusia Bukan Industri

Generasi 90-an dan lebih tua biasanya membeli kaset dan vinil. Mereka dapat memberikannya kepada orang lain, atau menjual kembali kaset tersebut. Bahkan, kaset tersebut bisa direkam ulang ke kaset lainnya.

Pada masa itu, penerbit berfungsi sebagai pendistribusi album. Itu sebabnya, pada masa itu record label (label) berfungsi sebagai distributor. Namun, semua berubah ketika negara api menyerang. Musik tumbuh sebagai sebuah industri, bukan lagi puncak dari kebudayaan manusia (the pinnacle of culture).

Penerbit pun berubah menjadi sebuah mesin uang dengan melewati batasan yang seharusnya tak dilewati. Mereka mulai mempermak artis sesuai dengan tuntutan pasar (baca: arah pasar yang mereka tentukan).  Artis tak lagi bebas berekspresi. Yang paling parah dari semua itu, hak kepemilikan dipindahtangankan kepada label. Artis hanya memiliki sedikit. Bahkan, artis yang sudah/baru saja meninggal menjadi pusat keuntungan perusahaan.

Untuk melawan itu, beberapa musisi keluar dari label utama. Artis seperti Radiohead dan Hanson menjadi contoh utama. Dengan pertumbuhan Youtube dan iTunes, beberapa musisi baru lebih memilih untuk menjadi musisi di Youtube dan menjual karyanya di iTunes. Namun sayangnya, ini hanya terjadi di luar Indonesia.

Akses Terbatas dan Kemampuan Terbatas

Saya langsung saja ke Indonesia. Ada beberapa faktor yang membuat pembajakan menjadi tenar:

  1. Secara sistematis bangsa Indonesia diperbodoh dengan tontonan tidak makna.
  2. Tingkat ekonomi yang menurun menyebabkan daya beli merosot.
  3. Penghargaan seni yang rendah.
  4. Distribusi musik yang harus berubah.

Secara tidak sadar, orang-orang yang mengeruk keuntungan dengan memasang cerita-cerita dangkal dalam sinetron telah sukses memperbodoh bangsa ini. Metafora-metafora yang seharusnya bagian dari cerita sehingga menyebabkan interpretasi penonton diambil dari tayangan tersebut. Akibatnya, bangsa ini menjadi lebih pragmatis dan tak bisa berpikir abstrak lebih dalam.

Tak seperti Keluarga Cemara yang mengajarkan berpikir bahwa roda kehidupan membawa ke bawah. Atau Satu Paman Tujuh Ponakan yang membuka kehidupan, kejujuran, dan bertahan hidup. Saya masih ingat episode ketika mereka membuka usaha cuci baju dan salah satu ponakannya menemukan uang di celana. Bahkan sinetron Si Doel mengajak berpikir tentang kenyataan sosial ketika Babeh ternyata selingkuh. Oh, tidak, Cinta Fitri pokoknya mengajarkan pemeran utama rajin beragama dan sering dibentak  oleh tokoh jahat.

Sekali lagi, seni seharusnya sebuah pusat inti kebudayaan dan hasil pemikiran menjadi cetek akibat aksi-aksi tak bertanggung jawab pemraktik kesenian. Di tengah penurunan nilai tersebut, orang mulai mempertanyakan keberhargaan dari hasil karya tersebut. Benarkah kita perlu menghargai karya tersebut?

Pertanyaan tersebut bukan bagi para pembajak, tetapi juga bagi masyarakat lainnya. Apakah guru/dosen mendalami bahwa membajak itu salah? Sedangkan, buku-buku ajaran mereka pun banyak yang hasil salinan. Mereka sadar, murid mereka tak punya uang untuk itu.

Tentu, tak semua orang menyerah. Ada usaha untuk membuat buku sekolah gratis (BSE, di mana nasibmu?). Pak Ibam sendiri membuka repositori Bebas dan menulis buku Kunyuk untuk mata kuliah Sistem Operasi. Dan beberapa usaha lainnya. Namun, hal fundamental masih belum terjawab: akses murah kepada sebuah karya tulis.

Dan hal tersebut juga melanda karya seni. Bagaimana mungkin orang dapat membeli CD musik? Padahal, sekarang satu CD yang asli seharga Rp20.000,00 s.d. Rp25.000,00 untuk karya yang biasa. Untuk karya-karya istimewa, harga berkisar dari Rp40.000,00 s.d. Rp 60.000,00.

Murah sebenarnya, tetapi sayangnya orang sudah berstigma bahwa CD itu mahal!

Sadar atau tidak, tak ada (dalam pengetahuan saya) musisi yang mengiklankan bahwa CD mereka sudah terjangkau (saya tak pakai kata murah karena karya seni bukan murahan). Tak ada yang memberitahukan bahwa semenjak 2010/2011 harga CD sudah turun drastis. Tak ada yang memberitahukan bahwa CD ini 5, 8, atau 11 dan lebih  lagu itu dibuat dengan air mata.

Parahnya, mungkin hanya saya, artis-artis sekarang menimbulkan kesan bahwa mereka hasil karya label bukan mereka sendiri. Munculnya ben-ben yang lipsync dan minus one semakin memperkuat anggapan itu (walau pun sebenarnya seringkali artis dipaksa untuk itu). Sehingga, bagi orang berpengaruh (masyarakat penikmat yang sebenarnya bisa mendukung anti pembajakan), kepalsuan yang mengkhianati idealisme seni membuat mereka undur dari ide bahwa seni itu berharga. Tentu saja, motif ekonomi juga memaksa orang untuk tidak mendukung hak musisi.

Dunia Digital, Dunia Baru

Dahulu, kaset dibiarkan untuk disalin karena hasil salinannya tak akan sebagus aslinya. Dengan adanya media digital, itu pun berubah. Penyalinan sebuah media menghasilkan hasil salin 1:1. Sebuah berkas autentik tidak lagi berbeda dengan salinannya. Ini membuat permainan berubah!

Adanya digitalisasi media membuat masalah baru pula. Ketika zaman kaset, seseorang meminjamkan kasetnya kepada orang lain untuk didengarkan. Itu praktik yang wajar pada masa itu. Namun, sekarang zamannya ketika orang meminjamkan lagu, mereka membuat salinan media tersebut.

Dengan adanya digitalisasi, seseorang dapat membeli sebuah CD dan membagikannya kepada rekan-rekan. Aturan main pun berubah. Orang-orang tidak boleh lagi menyalin media rekannya. Mereka tak boleh lagi membagikan artis yang mereka sukai kepada orang lain.

Dunia industri melihat peluang dalam mengunci konten yang mereka miliki. Industri hiburan ingin melindungi konten mereka. Mereka berusaha menambahkan restriksi pada media yang berisi konten mereka. Timbullah sebuah kesadaran untuk memasang DRM.

DRM ini justru merugikan konsumen. Lagu yang mereka miliki tidak dapat dimainkan pada perangkat-perangkat lain. Sesuai undang-undang, mereka bisa membuat salinan sebagai cadangan. Namun, hak tersebut dirampas. Penggunaan DRM, terutama yang mengharuskan daring, membuat konsumen menjadi tidak penuh menikmati konten yang sudah dibelinya.

Ketika menggunakan komputer dengan sistem operasi yang berbeda, konsumen kehilangan hak untuk memainkan musik yang sudah ia beli. Ketika ia menggunakan produk non-Apple, lagu yang dibelinya di iTunes tak dapat dimainkan. Padahal, konten yang dibelinya adalah sebuah format universal semisal MP3. Padahal, ia sudah membeli pula lisensi dari penggunaan MP3. Mengapa ia tak dapat menggunakan hak lisensi tersebut?

Pertanyaannya, lalu apa yang kita beli di iTunes? Apa yang kita beli di toko CD? Semua paradigma lama yang kita ketahui telah berubah dan industri hiburan ingin mendefinisikan ulang hal-hal tersebut.

Di tengah-tengah gegap gempita dunia digital, Internet berusaha menyatukan manusia. Namun, lagi-lagi teknologi dipakai untuk mendiskriminasikan orang. Alat pembayaran yang dipisahkan oleh geografis membuat orang dari tempat lain tak bisa menikmati lainnya.

Akhir Kata

Wow, tulisannya panjang benar. Memang, karena pembajakan bukan sekedar motif keuangan. Ada juga latar belakangnya tentang perjuangan hak sebagai manusia di tengah-tengah gegap gempita korporasi.

Sekali lagi, saya tak membela pembajakan. Sebagai puncak dari kebudayaan, pekerja seni seharusnya berpikir kreatif dan memikirkan masalah-masalah budaya ini. Ini merupakan tanggung jawab mereka sebagai filsuf-filsuf zaman ini. Mereka seharusnya menyuarakan perubahan.

Jadi ketika musisi berteriak tentang pembajakan tanpa melihat esensinya dan garis besar latar belakang, seorang dapat bertanya:

  • “are you a bard or beggar asking for coins?”
  • “apakah mereka bersuara dari hati mereka ataukah label mereka yang berbicara?”
  • “apakah mereka paham apa yang dibedakan?”
  • “apakah mereka paham tentang gejolak-gejolak sosial yang ada?”

Musisi tidaklah sekedar bernyanyi.  Dari zaman raja-raja sampai sekarang, musisi adalah penyuara dan isi dari apa yang dia lagukan merupakan puncak dari pemikiran. Dari masa ke masa musisi selalu pada tempat yang terhormat dalam budaya. Jika memang mereka tidak setuju dengan pembajakan, mereka haruslah menyuarakan suara itu dengan alasan. Mereka sediakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang terhubung dengan budaya zaman ini.

Ada beberapa artis yang menyediakan jawaban mereka.

  1. Pongky Barata dan istri menyediakan jalur langsung supaya orang yang mau lagu mereka dapat menghubunginya.
  2. Beberapa artis mengizinkan pembajakan karena mereka diuntungkan dari jalur lain seperti konser dan buah tangan.
  3. Banyak artis berjuang melawan pembajakan dan mulai memikirkan distribusi secara digital.
  4. Neil Young, bapak Rock, menganggap bahwa Pembajakan adalah media Radio yang baru. dia menganggap pembajakan seperti radio yang memutarkan musik.

Dan mungkin ada artis lainnya yang menyediakan solusi lainnya. Saya, sih, tidak mengikuti perkembangan lagu sekarang. Habis, lagunya menyesatkan membuat galau dan tak bermakna. Banyak yang cuma ingin jualan laku saja. Sekali lagi, inilah stigma yang muncul, walau pun sebenarnya banyak lagu yang baru (seperti Pay, Ras Muhammad, Bondan, dkk.) yang bagus.

Akhir Kata Sebenarnya

Tulisan ini sudah dari beberapa hari lalu. Tiba-tiba ada saja pembahasan sehingga tulisan ini semakin panjang. Tapi, asli, kali ini memang akhir kata. Ha… ha… ha….

Kembali kepada masalah rohani, saya baru saja mengikuti pelatihan dari gereja saya. Terkejutnya saya, mereka menyatakan bahwa pembajakan merupakan sebuah hal yang salah. Dan ini jawaban gereja mengenai masalah tersebut. Mereka ingin agar umat menghargai hasil karya orang lain.

Terlepas dari konsep domain publik yang hilang dan hak konsumen yang telah diambil oleh korporasi, saya pun menerima hal itu. Toh, saya pun telah berusaha menggunakan produk legal. Lagu-lagu yang saya dengar semuanya saya rip dari CD yang saya beli. Bahkan, untuk urusan perangkat lunak legal, saya memiliki Windows XP dan M$ Office 2007 yang asli.

(Mengapa versi lama? Yang baru mahal! Kebetulan saya hanya mampu versi itu. Mengapa beli? Well, some people don’t care about idealism and keep sending me documents with proprietary formats and exotic copyrighted fonts.)

Mungkin gereja dengan pengetahuan yang terbatas tak melihat sisi kemanusiaan yang lain. Tapi, mereka berusaha melihat bahwa musisi-musisi dan penulis buku juga perlu didukung. Periuk mereka tetap mengebul dari apa yang terjual. Saya pun menerimanya.

Sekali lagi, kalau orang berbicara bahwa pembajakan itu salah, saya pun setuju. Tapi, tulisan ini menyediakan perspektif lain. Saya harap, tulisan ini dapat membukakan bahwa masalah pembajakan tidak dapat dipandang dari satu sisi saja. Dari berbagai sudut pandang itulah, baru kita membuat solusi bersama.

Pembajakan sebuah masalah multidimensi. Kita perlu pahami dari sisi-sisi lain untuk dapat mengatasinya. Bukan sekedar terabas tak terarah yang justru mementalkan usaha-usaha tersebut. Bagaimana pendapat Anda tentang krisis multidimensi ini?

  • Sarkastik

Errata

Sebagaimana kekurangan saya dalam menulis, banyak poin yang melompat-lompat sehingga tulisannya terkesan menjatuhkan. Padahal sebenarnya memberi saran dan solusi. Beberapa poin membutuhkan tautan yang saya lupa laman situsnya karena sudah lama tak berkunjung. Itu sebabnya, tulisan ini akan selalu disunting agar niatan dalam kepala saya menyambung dengan tulisan.

  1. Menambahkan tautan kepada akibat DMCA.
  2. Memberi penekanan tentang bahwa saya sebenarnya mau membahas stigma yang berkembang dari hasil pengamatan saya dan kondisi sebenarnya dari musisi. (terutama soal masalah lipsync/minus one)
  3. Menambahkan Neil Young