Sometimes, people refused to be saved.

Salvation? No way, Jose!

Sebagai seorang administrator TIK di UI, saya sering kali kesulitan dalam menerapkan strategi keamanan. Sering kali pengguna tidak paham akan pentingnya sebuah sarana keamanan. Bahkan, untuk bisa menerapkan kebijakan yang ketat pun dirasakan sebagai sebuah arogansi bagi banyak pengguna. Ujung-ujungnya, kebijakan tersebut terpaksa dicabut.

Ternyata, hal ini dialami pula dengan perusahaan-perusahaan yang lain. Dari hasil berbicara dengan pembicara di CompTIA, beberapa kliennya pun ada pula yang kesulitan seperti itu. Itu pun setelah saya renungi juga ternyata dialami dengan rekan-rekan yang lainnya. Saya jadi tertarik untuk eksplorasi lebih lanjut.

Dari hasil pembicaraan-pembicaraan itu, beberapa contoh tipikal kejadian yang terjadi:

  1. Atasan mem-bypass kebijakan TIK untuk mendapatkan tujuan.
  2. Rekan kerja yang merasa kenal merasa rekan TIK semena-mena jika menerapkan tegas kebijakan TIK.
  3. Klien merasa diganggu jalan kerjanya dengan kebijakan TIK dan dirasa tidak perlu menerapkan kebijakan TIK.
  4. Rekan sejawat merasa terancam periuknya ketika kebijakan TIK baru menghilangkan pengaruhnya.

Dalam tapa brata saya, saya berusaha melihat perusahaan yang bisa sukses (pada level tertentu) menerapkan kebijakan TIK. Dari hasil riset amatir saya dan hasil diskusi, berikut tipikal perusahaan yang berhasil menerapkan kebijakan TIK:

  1. Perusahaan yang merupakan cabang dari perusahaan asing yang telah memiliki kebijakan TIK yang ketat.
  2. Perusahaan yang pimpinan/tokoh sentral yang memilih tunduk kepada kebijakan TIK.

Saya tidak memasukkan perusahaan pengembang perangkat lunak. Perusahaan pengembang perangkat lunak bila tidak menerapkan kedua kriteria tersebut, maka mereka tidak menerapkan dengan benar kebijakan TIK-nya. Itu sebabnya, perusahaan pengembang perangkat lunak sama saja bagi saya dalam hal ini.

TL; DR

Saya menawarkan proses penyerapan kebijakan TIK:

  1. Memunculkan kesadaran tentang pentingnya kebijakan TIK tersebut dimulai dari level manajemen.
  2. Memunculkan kesadaran akan pentingnya perlindungan data sensitif.
  3. Memastikan semua orang bahwa itu tidak mengganggu periuk mereka, bahkan bisa meningkatkan.

Yak, kalau membaca selanjutnya, silakan saja.

Tinjauan akan Mentalitas Bangsa Indonesia

Ada beberapa dugaan saya yang menjadi halangan dari mental (mental block) yang menyebabkan kebijakan TIK tidak efektif:

  1. Cara pandang tentang sebuah kebijakan.
  2. Cara pandang tentang privasi.
  3. Cara pandang tentang perubahan.

Saya akan membahas ini satu persatu.

Cara Berpikir Panjang

Nampaknya, pandangan bahwa Indonesia adalah bangsa feodal adalah benar. Nampak bahwa kebijakan terpusat dari pimpinan dan gerak-gerik pemimpin mempengaruhi cara sebuah perusahaan memandang kebijakan TIK. Tidak ada kesadaran dari pihak karyawan itu sendiri.

Seperti kata ketua DPR, urusan politik adalah pemikiran elit politisi. Rakyat tak perlu tahu tentang itu. Rakyat dianggap tidak memiliki kemampuan untuk mengerti urusan-urusan “tingkat tinggi” tersebut.

Pandangan ini tidak salah karena sedikit banyak terpengaruh dari cara pendidikan kita. Dari pengalaman pribadi saya ketika mengalami pendidikan di Indonesia, saya diajarkan untuk menurut perintah guru. Bahkan, murid seakan pantang memiliki inisiatif. Bisa-bisa, kita dibentak oleh guru bila terlalu banyak bertanya. Benar, tidak?

Ini yang menurut saya menyebabkan bangsa kita tidak bisa berpikir jangka panjang. Kita tidak dilatih untuk bertanggung jawab atas sebuah tindakan. Kita menunggu agar orang tua/guru yang mengarahkan. Sehingga, tak terpikir oleh kita mengapa sebuah kebijakan tercipta.

Tak terpikir mengapa lampu merah harus berhenti. Tak terpikir mengapa harus membuang sampah pada tempatnya. Tak terpikir mengapa tidak boleh menyelak. Baru terpikir ketika Pak Polisi atau Bu Polwan berdiri di perempatan jalan.

Itu sebabnya, hal yang pertama dilakukan agar sebuah kebijakan TIK adalah menimbulkan kesadaran. Kesadaran itu biasanya dari level manajemen.

Semangat Berbagi yang Berlebihan

Berbeda dengan budaya Barat, Indonesia memiliki budaya berbagi. Artinya, sebuah affair dalam satu RT/desa dapat diketahui satu RW/kampung. Artinya, kita terbiasa untuk membicarakan hal-hal yang sensitif sekalipun sebagai bentuk sosialisasi dengan sesama.

Mental berbagi ini wajar terjadi juga karena perbedaan budaya. Budaya Barat mengasuh anak-anaknya sampai lulus kuliah/sekolah. Kemudian, anak-anak mereka secara sadar akan meninggalkan rumah. Itu sebabnya, bagi mereka memalukan jika harus tinggal dengan orang tua jika sudah cukup umur.

Dengan tingginya individualitas, orang Barat terbiasa dengan privasi. Mereka membedakan antara sebuah informasi yang tak perlu dibagi dengan pekerjaan. Nahas bagi Somat, cintanya dengan Dewi diketahui oleh orang sekampung dan menjadi bahan buah bibir. Ibarat kata, dalam kita sering muncul kalimat legendaris:

“Eh, ini rahasia jangan kasih tahu siapa-siapa. Si [INSERT OTHER PERSON HERE] itu ternyata [INSERT SENSITIVE INFORMATION HERE]”

Pertukaran informasi yang sensitif dari satu orang ke orang lain (gosip sekampung) sedikit banyak mempengaruhi cara pandang orang terhadap data sensitif. Rekan saya mengatakan bahwa rekannya di Jepang kaget melihat data-data dirinya banyak dibukakan di Facebook.

Ya, kalau Anda sedikit iseng membandingkan antara profil Facebook orang Jepang dan orang Indonesia, Anda akan melihat perbedaan mencolok. Kita bisa tahu tentang seseorang banyak sekali di Facebook. Isu-isu di BBM juga sedikit banyak dipercayai oleh orang-orang. Bahkan, ada pemimpin-pemimpin agama yang mengkonfirmasi kebenaran khotbahnya karena berdasarkan informasi di Internet.

Rasa percaya berlebihan ini yang dimanfaatkan para penipu pesan pendek dewasa ini. Bermodalkan kelengahan dari rasa percaya akan kabar selentingan, segerombol penipu dapat dengan mudah mendapatkan uang. Apalagi, dengan memanfaatkan kelengahan pihak bank yang tak dapat dengan mudah menahan transaksi keuangan dengan cepat.

Nah, yang kedua yang perlu dilakukan adalah menyadarkan pengguna bahwa informasi sensitif tak boleh dibocorkan kepada orang lain.

Periuk Harus Terus Mengebul

Rekan saya seorang lulusan Jepang sering berbicara kepada saya dengan antusias:

“Kalau TIK meningkat, maka harkat manusia akan meningkat dan mereka bisa memulai melakukan hal yang lain.”

Impian murni ahli TIK adalah otomatisasi proses sehingga lebih efisien. Pertanyaannya, bagaimana dengan pihak-pihak yang tergusur dalam dunia tersebut? Rekan saya bilang bahwa mereka pasti ikut naik.

Kenyataannya di Indonesia, kebanyakan orang tergusur dan tidak dapat bangkit. Seperti poin yang pertama, bangsa ini tidak dilatih untuk berpikir alternatif. Kita lebih menyukai jalan yang sudah pasti. Anda akan dicemooh bila memilih jalan yang tidak pasti.

Contohnya, rekan-rekan saya yang entrepeneur mendapat tantangan dari keluarganya. Mereka bilang, “kamu ini pengangguran bukan, sih?” Hal ini karena entrepeneur masuk ke masa depan yang tidak jelas seperti musisi. Tidak jelas tiap bulan isi rekeningnya dapat terisi atau tidak. Saya sendiri pun mengalaminya. Ketika saya memilih untuk masuk ke dunia FOSS, semua pun bertanya-tanya.

Maka ketika sebuah jabatan yang sudah pasti tergeser, orang pasti akan bertanya hendak ke mana ia akan pergi. Pengaruh yang hilang pun terasa akan menakutkan di lingkungan yang penuh dengan birokrasi dan permainan elit. Anda dapat tergusur dan dibuang ke posisi yang tidak menyenangkan.

Saya beruntung di PPSI, ketika mesin absen gesek diganti dengan mesin e-Akses, pengembang mesin lama mendukung saya dan tim. Bahkan, ia memberikan masukan agar lebih hebat lagi. Saya secara pribadi merasa berhutang budi dengan itu. Sedikit banyak peristiwa ini mengajari saya bahwa bila sistem buatan saya diganti yang baru, saya pun harus legowo. Itu sebabnya, saya suka di PPSI, friksi pekerjaan minimal.

Tapi, itu karena saya di PPSI, bagaimana dengan tempat lain?

Sewaktu saya mahasiswa, saya mengerjakan tugas akhir mengerjakan sistem informasi Puskesmas. Tim saya memilih sebuah Puskesmas kecamatan yang cukup maju (sudah lulus ISO 9000:2000). Kami melihat sistem yang ada sangat bagus. Dari rekam medik hingga inventori dicatat di aplikasi tersebut. Pencarian pun cukup mudah.

Sayangnya, ia dikembangkan dengan CA Clipper dan basis data DBase 3. Kelemahannya adalah aplikasi ini tidak bisa diakses oleh banyak pihak. Berkas basis data yang dibagikan melalui jaringan menjadi kendala. Protokol SMB tidak membiarkan berkas ini diakses banyak sekaligus. Selain itu, terjadi race condition untuk menulis.

Kami pun menawarkan membuat sistem aplikasi Puskesmas yang berbasis Web untuk mengganti sistem lama tersebut. Saya sebagai pengembang merasa bahwa waktu mengembangkan itu ada pihak yang secara strategis berusaha agar sistem itu tidak di-deploy di sana. Kami pun santai saja, mungkin karena kami waktu itu pun tidak menyadari ada intrik seperti itu. Apalagi, berhubung kami ingin lulus dan mereka sudah baik membuka diri — bahkan, kami sampai diundang menemui pengembang aplikasi lama. Kode program pun teronggok di perpustakaan dan tim kami sudah terpencar ke berbagai tempat.

Hmm… setelah saya pikir-pikir, tugas-tugas kuliah yang lain pun kebanyakan melibatkan instansi pemerintahan. Ha… ha… ha….

Orang-orang yang ahli dalam TIK biasanya adalah orang memiliki spesifikasi tinggi. Anda takkan kekurangan pekerjaan. Saya sendiri pun merasa kebanggaan kerja di UI, tapi bila harus didepak saya pasti bisa melamar ke tempat lain. Kalau tidak diterima di negeri ini, ya, saya terpaksa kerja di luar. 🙂

Namun sebagai refleksi umur, ternyata saya sama juga.

Saya lahir di masa SUN Java berjaya. Semua teknologi Java seperti Portlet hingga ke SSO pun saya kuasai. Saya pun menguasai beberapa lambda programming seperti Haskell dan Scheme. Saya juga menguasai PERL sebagai bahasa de facto (pada masa saya) text processing. Namun, sekarang zamannya Python, PHP, dan Rails. Zamannya menggunakan pengembangan yang lebih rapid. Saya pun sekarang kesulitan untuk belajar bahasa-bahasa baru dan konsep-konsepnya.

Tidak semua orang bisa cepat beradaptasi. Beberapa bidang ilmu dan kemampuan memiliki saturasi. Proses berpikir yang mengerucut membuat sulit untuk menerima hal-hal yang baru. Perkembangan yang pesat membuat keahlian yang seseorang telah seumur hidup investasikan menjadi obsolet/tidak terpakai. Mereka bukan mesin, mereka punya keluarga yang harus mereka nafkahi. Anda tidak bisa membuang mereka seenaknya!

Itu sebabnya, langkah penerapan kebijakan TIK seharusnya melibatkan pengalihan status pekerja yang terganti. Setidaknya, mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih baik atau setidaknya setara dengan apa yang mereka lakukan. Tugas penerap kebijakan baru adalah mengayomi sebanyak mungkin orang. Toh, mereka juga orang-orang yang berjasa bagi organisasi tempat kita bekerja.

Langkah terakhir yang perlu diperhatikan adalah Anda harus memastikan bahwa dapur semua orang harus mengepul. Atau setidaknya, minimal sedikit orang yang terganggu. Jangan sampai mereka menjadi duri dalam daging yang dapat memecah belah organisasi.

Akhir Kata

Sebenarnya ada beberapa tinjauan yang saya mau tuliskan. Namun, ternyata untuk satu tinjauan saja tulisan ini sudah banyak. Saya bukan seorang psikolog, tapi bidang ilmu saya sedikit banyak menyimpulkan bahwa sarana TIK bukan inti. Sarana TIK merupakan perkakas untuk membantu proses bisnis seseorang menjadi efisien.

Kalau kita mau membantu menyenangkan orang, bukan dengan membuat roller coster, tetapi strategi agar orang tersebut mau memakai ayunan yang kita buat. Strategi ini melibatkan kita untuk memahami perilaku sosial pada sebuah organisasi dan memutuskan menggunakan sebuah pendekatan. Mau tidak mau, pendekatan ini melibatkan ranah antropologi di tempat kerja. (Cia, elah, keren banget dah istilahnya…)

Bagaimana dengan rekan-rekan?