Where is the dragon?

Where is the dragon?

 

Komunitas Ubuntu saat ini terpecah dengan banyak tokoh-tokoh penting Ubuntu mengundurkan diri dari komunitas Ubuntu. Tokoh-tokoh penting seperti Martin Owens, Elisabeth K., dan beberapa pos yang memenuhi Planet Ubuntu lainnya menyatakan ketidaknyamanan mereka. Frustrasi mereka memuncak ketika proyek MIR diluncurkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Keberadaan proyek tersebut yang ternyata sudah 9 bulan sebelum diluncurkan membuat komunitas Ubuntu mempertanyakan transparansi Canonical.

MIR adalah sebuah pengganti X11 seperti Wayland yang akan bertindak sebagai penyedia grafis. Ada beberapa alasan MIR dibuat. Beberapa yang penting antara lain:

  1. Wayland waktu itu belum memiliki protokol masukan (Input Protocol).
  2. Cara Wayland dibuat membuat kehadiran penggerak-penggerak tertutur (prorietary drivers) tidak begitu disukai. Wayland awalnya dilisensikan LGPL, walau sekarang sudah pindah ke lisensi MIT. MIR dibuat agar kerja sama dengan nVIDIA dan AMD bisa terjadi untuk proyek MIR.
  3. NIH syndrome (Not Invented Here syndrome), sebuah sindrom yang menyebabkan pengembang membuat sendiri sebuah aplikasi/pustaka karena pengembang tidak terlibat dalam pengembangan solusi-solusi yang sudah ada.

Mungkin buat orang-orang yang hanya mengerti bahwa mereka mendapatkan perangkat lunak gratis tidak mengerti tentang prinsip-prinsip Perangkat Lunak Bebas (Free Software). Perangkat Lunak Bebas bukan berbicara mengenai gratis, melainkan kebebasan berpendapat dan menentukan nasib sendiri. Transparansi merupakan satu hal yang penting dalam berkontribusi. Bila suatu keputusan saat berubah tanpa pemberitahuan, orang tidak terlibat saat pengambilan keputusan akan merasa ditinggalkan. Maka mereka merasa kontribusi mereka sia-sia dan mereka hanya seperti dimanfaatkan saja!

MIR mungkin bisa mengundang banyak pengembangan perangkat lunak tertutup ke GNU/Linux. Namun, hal ini sangat berbahaya bagi gerakan Perangkat Lunak Bebas. Pengembangan GNU/Linux yang tertutup akan menyebabkan sistem operasi ini menjadi sama dengan sistem operasi lainnya.

Berhubung saat ini pundak saya sedang nyeri, saya tidak bisa menulis panjang lebar mengenai hal ini. Perlahan tapi pasti, para pengembang perangkat lunak sedang mengimplementasikan perangkat lunak tertutup berbasis DRM. Konsep yang paling berbahaya dari mereka adalah perangkat lunak tidak lagi dibeli, tetapi dipinjamkan kepada pengguna. Implikasi dari itu adalah perangkat keras yang dimiliki oleh pengguna tidak benar-benar dimiliki oleh pengguna karena diatur oleh pemilik (pengembang) perangkat lunak.

Perangkat PS4 yang akan keluar adalah salah satu contoh. Sistem ini digadang-gadang untuk hanya bisa memainkan satu cakram permainan di satu mesin saja. Artinya, tidak ada lagi istilah membeli perangkat lunak bekas atau tukar pinjam CD/DVD/Blue Ray. Anda hanya dipinjamkan sebuah salinan aplikasi yang hanya dapat dijalankan di satu mesin. Bayangkanlah, kalau ini sampai terjadi secara global, perangkat lunak semakin mahal saja.

Kalau perangkat lunak semakin mahal, cuma ada dua solusi: 1) memperkosa hukum dengan membuat bajakan; dan 2) terjadi jurang informasi yang dalam. Yang pertama akan menyebabkan supremasi hukum menjadi lemah dan itu akan merembet kepada kedaulatan sebuah negara. Sedangkan hal yang kedua akan menyebabkan yang miskin semakin miskin dan kesempatan untuk maju semakin kecil untuk orang-orang yang tak punya akses.

Saat ini masyarakat Indonesia tidak mengganggap kebutuhan perangkat lunak sebagai sesuatu yang amat penting. Namun, disadari atau tidak, kita semakin tergantung kepada keberadaan perangkat lunak. Mereka mendikte bagaimana generasi ini hidup. Bahkan, tanpa disadari generasi 10 tahun di bawah saya sudah tergantung terhadap teknologi. Apalagi banyak orang tua yang semakin mengikat anaknya kepada komputer semenjak usia dini dengan membelikan pad-pad dan lainnya.

Yak, sepertinya generasi Indonesia sesudah saya akan menjadi generasi yang bergantung kepada teknologi dan perangkat lunak yang menjalankannya. Mereka akan menggunakan piranti teknologi sebagai penyokong hidup mereka. Efisiensi akan bertambah, namun bagi orang yang tidak mampu akan tergeser oleh zaman.

Seperti kata Amartya Sen, orang miskin bukanlah orang yang tak punya. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki akses kepada kebutuhan dasar seperti tempat tinggal, pendidikan, dan pemenuhan hak azasi. Perangkat Lunak Bebas membuka akses tersebut bagi mereka yang tak mampu.

Maka pertanyaan untuk Canonical adalah bagaimana MIR dapat menjawab bahwa their Ubuntu is always a free software? Oh, wait, it’s no longer free as in free software but free as in gratis?

Yah, biar bagaimana pun Ubuntu tetap merupakan distro yang telah banyak berjasa. Mari kita lihat ke arah mana Ubuntu akan dibawa oleh Canonical. Semoga ke arah yang lebih baik. Semoga Ubuntu tetap untuk manusia.