Ninja uses 4l4y language for on-the-fly encryption

Ninja uses 4l4y language for on-the-fly encryption

Beberapa hari yang lalu banyak pengguna UI yang terjebak. Mereka mengirimkan pengguna dan sandi mereka. Setelah saya teliti, berikut salah satu pesan yang menipu:

PERINGATAN;

Kotak surat Anda telah melebihi batas penyimpanan 10GB ditetapkan oleh Anda
administrator, yang saat ini berjalan pada 10.9GB, Anda mungkin tidak dapat
untuk mengirim atau menerima pesan baru sampai Anda kembali memvalidasi kotak surat Anda.
Untuk memvalidasi kotak surat Anda, kirim informasi berikut di bawah ini:

Nama:
Username:
sandi:
Konfirmasi password ::
E-mail:
telepon:

Jika Anda tidak dapat memvalidasi kotak surat Anda, surat akan dinonaktifkan!

terima kasih
administrator sistem

Maaf atas ketidaknyamanan ini.
Kode verifikasi: en:06524
Surat Dukungan Teknis©2013

Surat ini ditulis dengan judul: “Penting Pesan”. Surat ini dikirimkan dari akun surel dari universitas lain (di luar negeri) yang telah dijebol terlebih dahulu. Nampaknya saat ini banyak kelompok penjebol yang hendak menggunakan situs-situs tak bersalah sebagai proksi. Mereka menggunakan social engineering untuk mendapatkan akun-akun orang yang tak awas.

Memang, nampaknya kerawanan sistem informasi di korporasi dewasa ini semakin meningkat. Tetapi, kali ini saya tak ingin membahas penyadapan korporasi atau teknik-teknik kepo tingkat tinggi. Anda bisa mencari referensinya sendiri ahem, zero tech hacker, ahem karena saya bukan orang yang ahli di sana. Yang saya cermati kali ini adalah kemampuan penerjemahan bahasa.

Menarik sekali bahwa dewasa ini bahasa Inggris diterjemahkan dengan semakin sempurna ke dalam Bahasa Indonesia. Untung saja Bahasa Indonesia menggunakan semantik Diterangkan Menerangkan. Hal ini yang menyebabkan diperlukan penyusunan kalimat lebih lanjut untuk dapat masuk akal di Bahasa Indonesia. Akan tetapi, melihat ketepatan surat penipuan ini, bukan tidak mungkin sebentar lagi mereka akan memiliki surat yang hampir sempurna.

Sebenarnya, dapat saja dibuktikan bahwa ini adalah palsu. Caranya yakni dengan memperhatikan penulisan yang digunakan. Sebagai surat formal kepada klien, tidak mungkin  penulisan dengan tanda baca dan penempatan huruf yang salah terjadi. Namun, bagi mata yang tidak awas dan panik, detail-detail seperti demikian mungkin terhilang.

Jangankan detail tersebut, bahkan di halaman depan Webmail UI jelas terpampang bahwa Admin UI tidak pernah meminta sandi. Pesan itu pun terkadang tidak diperhatikan. Memang, kepanikan membuat hidup jadi salah langkah dan sebagai manusia hal tersebut wajar. 🙂

Kendati saya pecinta Bahasa Indonesia, entah mengapa dalam hal ini saya justru bersyukur dengan keberadaan bahasa prokem. Bahasa prokem membuat penerjemahan kata bertambah sulit. Sifat bahasa prokem yang organik menyebabkan ia selalu berubah dengan zaman. Sehingga, ia seperti Anti Virus yang selalu diperbaharui.

Tentu saja, mengenai bahasa tidak lengkap rasanya tanpa menyebutkan bahasa prokem terkompleks sedunia: Bahasa 4l4y. Kombinasi angka, simbol, dan huruf sudah cukup pusing. Penambahan huruf/simbol/angka yang tak perlu membuat sebuah kata menjadi terdistorsi lebih jauh. Yang membuat Bahasa 4l4y sebagai sebuah bahasa sandi adalah penggunaan asosiasi yang luar biasa.

Asosiasi Pelafalan Sebagai Penerjemahan Bahasa 4l4y

Asosiasi yang dimaksud bukan hanya kalimat, tetapi juga penggunaan simbol dan penulisan kata-kata. Sungguh jenius. Berikut contoh petikan dari surat Opi A Bubu, seorang jenius yang mampu mengenkode Bahasa 4l4y:

tHanKz b’4„„„„„„
yOz aLaWAiCe d bEzT…………….
iN meYe heArD„„„„„„,

Tanpa mengurangi rasa hormat, saya pikir tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa membuat mesin Turing untuk bisa mendekodekan bahasa ini. Tulisan ini unik karena memiliki banyak variasi percabangan untuk bisa mengartikannya. Sebagai contoh, saya, seorang manusia, akan memberitahu bagaimana saya tahu polanya, tetapi bukan cara mendapatkan pola tersebut.

Berikut hasil dekode hasil pertama:

  1. Yang pertama digunakan adalah variasi  kata thanks yang lazim digunakan. Perhatikan bahwa saya sudah memiliki kamus kata prokem dalam bahasa Inggris sebelumnya.
  2. Kata b’4 bisa bermakna berempat atau b (bi) 4 (four). Karena kata sebelumnya adalah bahasa Inggris, maka kali ini dipilih kata Inggris “before”. Sekali lagi, saya menggunakan kamus prokem karena b4 merupakan sebuah variasi kata prokem yang biasa digunakan dalam chatting. Biasanya kata ini dipakai dalam variasi “thx b4”.
  3. Simbol koma setelahnya dibuang karena tidak masuk akal. Namun, saya berpikir, mungkin pula ini dipakai sebagai penunjuk bahwa ada yang belum selesai — entah kalimat atau paragraf, walau pun asumsi awal saya berpikir itu adalah penanda bahwa baris pertama adalah sebuah kalimat yang belum selesai.
  4. Baris pertama dievaluasi sebagai kalimat “thanks before”. Otak saya melakukan optimasi dengan tidak mencari variasi arti yang lain karena paragraf ini terletak di akhir surat.

Kalimat kedua saya dekodekan sebagai berikut:

  1. Saya melewatkan kata pertama “yOz” karena tidak berarti apapun dalam kamus saya. Sejujurnya, tidak ada satu pun kata dalam baris ini yang terasosiasikan dengan bahasa prokem yang diketahui.
  2. Saya mengubah strategi saya dengan melafalkan kata-kata tersebut. Teknik ini mengasosiasikan pelafalan kata-kata tersebut dengan pelafalan kata-kata yang sudah diketahui dalam bahasa Inggris atau pun Bahasa Indonesia.
  3. Kembali, “yOz” tidak berarti apa pun karena asosiasi yang ada hanya “use” (bahasa Inggris), “Yosh” bahasa Jepang, atau mendekati kata “jus” Bahasa Indonesia. Ketiganya tidak masuk akal karena tidak mungkin ditaruh diawal kalimat. Itu sebabnya, diperlukan kata selanjutnya untuk bisa kembali ke kata pertama.
  4. Ketika di kata kedua “aLaWaiCe”, pelafalan kata tersebut terdengar seperti “always” (bahasa Inggris). Berhubung kalimat pertama adalah bahasa Inggris, maka besar kemungkinan kata tersebut berarti “always”.
  5. Karena sebelumnya menggunakan strategi asosiasi pelafalan bahasa Inggris, maka dua kata “d bEzT” diasosiasikan dengan bahasa Inggris dan diketemukan “the best”.
  6. Kalimat disusun ulang menjadi “yus always the best”. Dari pengujian, diketemukan bahwa kalimat tersebut masih belum utuh karena kata pertama.
  7. Untuk dapat mengartikan kata pertama, dicari penggunaan kalimat “[SMTH] always the best”. Otak saya melakukan optimasi dengan mendekatkan pencarian dengan mengganti “[SMTH]” dengan kata yang dekat bunyinya dengan “yus”.
  8. Akhirnya, diketemukan bahwa kata yang paling dekat adalah “you” (baca: you) dengan membuang pelafalan “s”. Maka, kalimat yang dimaksud adalah “you [are] always the best”.

Baris ketiga menjadi lebih mudah dengan baris pertama dan kedua.

  1. Kata “iN” dibaca sebagai “in”, untuk sementara tidak perlu dicari kata gantinya dan tidak ada pula kata prokem yang menggunakan simbol “iN”. Optimasi di otak saya memutuskan bahwa “in” sudah cukup masuk akal.
  2. Karena dari tadi secara konsisten digunakan kata Inggris, otak saya melakukan optimasi dengan menyempitkan kata “meYe” ke dalam konteks bahasa Inggris. Dari hasil pencarian diketemukan kata”my”.
  3. Kata “heArD” merupakan kata “heard” dalam bahasa Inggris. Kalimat yang terbentuk menjadi “in my heard”
  4. Ingat ketika saya bilang bahwa sepertinya tanda koma banyak merupakan tanda  penghubung? Dari situlah mulai disusun kalimat menjadi,”thanks before you [are] always the best in my heard”.
  5. Berhubung otak sudah mengetahui bahwa tulisan ini terkategorisasi sebagai surat, optimasi otak memroses kalimat tersebut sebagai surat-menyurat. Jenis surat yang digunakan sebagai penanda pun adalah surat cinta. Sebagai bagian dari surat, otak mengenali bahwa kata terima kasih lazim diberikan. Maka, kalimat tersebut bisa dibagi dua: “Thanks before. You [are] always the best in my heard”.
  6. Ada dua kemungkinan kalimat ini. Yang pertama, surat ini berbicara bahwa subyek akan selalu terdengar baik. Yang kedua, bila menggunakan asosiasi pelafalan, subyek akan selalu ada di hati. Kata “hati” memiliki nilai heuristik lebih tinggi dari pada “pendengaran”. Maka, untuk hasil terbaik dapat diterjemahkan bahwa kalimat tersebut adalah “Thanks before. You [are] always the best in my heart.”

Demikianlah selain menggunakan teknik stemming dan statistika, saya menawarkan penggunaan asosiasi pelafalan. Asosiasi yang dilakukan tidak bersifat binari, melainkan dapat pula bernilai fuzzy. Hal ini karena bahasa ini menggunakan sinonim bunyi yang mirip bukan identik. Proses dekode dapat berlangsung lama karena menggunakan backtracking dengan optimasi di beberapa tempat seperti kategori dan semantik kalimat.

Perlindungan Pesan Dengan Bahasa 4l4y yang Sesungguhnya

Apakah ini saja tantangannya? Tentu tidak, dalam penelaahan lebih lanjut saya menemukan bahwa bahasa ini menggunakan campuran Bahasa Indonesia, bahasa prokem, dan bahasa asing. Selain itu, saya menemukan kata yang telah diambil sinonimnya. Lalu sinonim tersebut dicari kata yang lafalnya sama. Jadi, bahasa 4l4y tidak sekedar permainan huruf dan angka saja seperti sebuah kamus sederhana yang berusaha meng-4l4y-kan bahasa.

Hal yang menarik dari studi amatir saya ini, saya menemukan bahwa kendati sulit untuk dipahami bagi kebanyakan orang, termasuk saya, sesama anak 4l4y dapat dengan mudah mengartikan semua tulisan itu dengan cepat. Mereka secara otomatis bisa menjawab pesan pendek satu sama lain seperti biasa. Bayangkan, sebuah bahasa kriptik yang telah tertanam di dalam otak manusia tanpa bisa diketahui oleh komputer.

Jadi, ketika Bahasa Indonesia telah dengan mudah dikenali oleh penerjemahan mesin dengan ketepatan hampir 99%, bahasa 4l4y dapat menjadi jawaban keluar untuk komunikasi yang aman. Tidak ada yang hina dengan itu. Para heker biasanya pun berkirim surel dengan bahasa kriptik. Mereka biasanya pun bertukar kunci publik dan berkomunikasi dengan GPG/OpenPGP.

Ada yang berani membuat Thesis/Disertasi bahasa 4l4y?