pasang Blankon dari Busybox

Kompilasi dari Busybox biar greget!

Artikel ini untuk menjawab bagaimana cara belajar GNU/Linux atau perangkat lunak bebas/terbuka lainnya.

Merasa Terpanggil*

Orang seringkali salah kaprah bahwa saya seperti orang zealot. Padahal, kalau berhubungan dengan sistem operasi, sebenarnya saya agnostik. Kendati saya menyukai dan memilih GNU/Linux, saya pun memiliki beberapa lisensi sistem operasi Windows dan beberapa perangkat lunak tertutup.

Namun, saya merasa mendapatkan panggilan hidup. Saya percaya bahwa saya dipakai Tuhan untuk bidang saya (dan saya yakin Anda sekalian tidak sembarangan Tuhan tempatkan di mana Anda ada). Dari pergumulan, saya menemukan bahwa bidang TIK merupakan bidang yang paling menghancurkan supremasi hukum di Indonesia.

Dari tapa brata yang saya lakukan, ditemukan bahwa solusi sumbangsih untuk Indonesia adalah dengan memperkenalkan solusi tandingan (bukan sekedar alternatif). Itu sebabnya, saya pun memulai perang suci ini dan belajar memakai GNU/Linux.

Mengapa sampai sekarang saya masih suka GNU/Linux? Itu karena sistem ini berhubungan dengan tujuan hidup saya. Jadi, apakah Anda merasa terpanggil untuk Indonesia?

Bermain-main Dahulu Beria-ria Selalu

Hal yang pertama kali saya cari ketika berkenalan dengan GNU/Linux adalah mencari permainan yang unik. Ada banyak permainan yang menarik di Windows, tetapi tidak banyak yang tahu di GNU/Linux. Untungnya, Synaptic memberi banyak saran yang banyak. Tinggal bagaimana mau mencoba  satu-persatu.

Kalau mau diurutkan beberapa permainan yang saya pikir luar biasa:

  1. Clanbomber [TEH BEST, DAH, POKOKE!]
  2. Frozen Bubble
  3. Lincity
  4. Chromium BSU
  5. Nethack

Terus terang, Clanbomber merupakan permainan yang paling membuat saya bangga memiliki GNU/Linux. Teman SMA saya senang datang ke rumah saya khusus untuk bermain ini bersama saya. Kita bisa pilih tampilan.  Ada setan FreeBSD, pinguin Linux, ular Python, dan lain-lain. Permainannya seperti Bomberman, tetapi seru karena bisa bermain berdua. Ha… ha… ha….

Frozen Bubble itu permainan yang adiktif, apalagi [SPOILER]setelah sekian puluh babak, saya baru sadar bahwa setiap babak itu bisa dilewati dengan sekali atau dua kali tembak asal tepat.[/SPOILER] Setelah bosan bermain Age of Empire dan Kohan Ahriman’s Gift, saya suka bermain ini sendirian selama berjam-jam.

Chromium BSU jarang saya mainkan, tetapi dia merupakan permainan dengan grafik paling keren (saat itu di GNU/Linux). Obyektifnya adalah menembaki pesawat alien supaya jangan lewat. Lincity merupakan permainan sejenis permainan Sim City tapi grafisnya lebih bagus. Dengan pandangan isometrik, kita disuguhkan untuk membangun sebuah kota yang bagus.

Nethack merupakan permainan untuk geek. Anda bukanlah heker sejati kalau belum memainkan permainan ini. Yah, tak perlu sampai ke level 42 sampai menemukan Amulet of Yendor. Ha… ha… ha….

Saya pikir, untuk bisa belajar itu harus menemukan kesukaan. Mulai dari bermain, saya mulai berkenalan dengan sistem GNU/Linux. Bahkan, menarik untuk bisa memainkan beberapa permainan di sistem operasi lain di dalam GNU/Linux.

Ketika rekan saya memasang Mangos di komputernya, saya coba memasang klien WoW di GNU/Linux. Senangnya saya adalah waktu itu menggunakan klien WoW dengan Wine lebih bagus daripada memainkannya di sistem operasi aslinya.

Ketika Valve mengeluarkan dedicated server for GNU/Linux, saya mengunduh dan memasangnya di salah satu server percobaan. Rekan-rekan saya sepulang jam kantor dulu langsung tersambung ke server tersebut.

Dari beberapa percobaan itu, saya mulai menemukan bahwa GNU/Linux itu menggunakan berkas teks biasa. Lalu, bagaimana dengan keamanan?

Ternyata UNIX sudah menyediakan keamanan dengan sistem pemilik, grup pemilik, dan orang lain. Kalau 777 itu berarti pemilik, orang yang segrup sama pemilik, dan orang-orang lainnya boleh membaca, menulis, dan mengeksekusi. Aw! Itu sangat berbahaya. Mulailah saya memperhatikan perizinan berkas-berkas yang saya miliki.

Memasang GNU/Linux

Kalau memasang GNU/Linux, saya selalu mengingat perkataan Pak Ibam, orang yang membawa Internet ke Indonesia dan pemegang domain .id pertama:

Gunakanlah distro yang banyak digunakan  orang sekitar kalian.

Itu yang selalu saya ingat. Yang pertama saya gunakan adalah Debian. Hal ini karena kampus saya pengguna Debian. Lalu, saya sempat jatuh hati kepada Mandrake (sekarang Mandriva/Mageia). Alasannya cuma satu: KDE3 yang dipasang Mandrake keren sekali. Apalagi, 4 CD yang ditawarkan cukup lengkap.

Entah mengapa, saya tidak suka Redhat. Saya tidak begitu suka RPM. Entah mengapa, saya selalu bermasalah dengan pemasangan menggunakan RPM. Saya juga tak suka dengan tampilan GNOME dia yang standar. Mungkin karena dia untuk korporat.

Saya baru belajar sistem operasi setelah berusaha memasang (B)LFS (Linux From Scratch). Kebetulan saya berkuliah dengan koneksi Internet memadai. Jadi, saya bisa mengunduh paket-paket yang dibutuhkan.

LFS merupakan distro yang baik untuk belajar mengenai sistem operasi GNU/Linux. Beberapa hal yang keren yang saya pelajari dari LFS:

  1. Bersyukur. Terutama kepada pengembang BlankOn dan distro lainnya. Saya membutuhkan sekitar sebulan untuk memasang LFS sampai BLFS. Memasang sendiri memerlukan kesabaran menunggu hasil kompilasi (padahal saya sudah AMD AthlonXP dan memori 512 MB, prosesor tercepat dan memori terbesar di kalangan rakyat jelata kala itu). Belum lagi kalau ternyata salah kompilasi karena terlalu agresif menaruh parameter kompilator.
  2. Bootstrapping. Ternyata, setiap kompilator harus dikompilasi terhadap dirinya sendiri. Itu sebabnya, sebelum memasang sistem sebenarnya, harus memasang sistem antara yang isinya identik. Baru, dari sistem sementara itu, kita memasang sistem sebenarnya.
  3. Penambalan (patching). Ini perlu karena beberapa pustaka dibuat untuk GCC versi tertentu. Ada juga pustaka dasar yang memiliki diktator sehingga harus ditambal. GCC sendiri perlu ditambal. Kernel yang waktu itu hanya untuk GCC 2.95.
  4. Optimasi kompilator. Dulu saya cuma tahu -O2, -O3, dan -march=athlonxp -mcpu=athlonxp sebagai gaya-gayaan. Apalagi, optimasi -O3 sering kali membuat sistem saya labil. Namun, setelah negara api menyerang #eh, setelah masa ARM dan Linaro muncul saat ini, saya mengerti pentingnya optimasi kompilator. Terutama, saat kita bermain  SoC.
  5. Injeksi kode. Hal yang paling keren dari GNU/Linux adalah LD_PRELOAD. Kita bisa membuat fungsi sendiri dan menginjeksi fungsi tersebut untuk menggantikan fungsi yang sudah ada. Keren! Teknik ini nantinya berguna kalau Anda sudah bermain Jemalloc atau sejenisnya.

Saya rasa masih banyak yang saya dapatkan.

Investasi Hidup

Saya teringat sebuah buku yang menjadi pedoman hidup saya, “101 Kiat Sukses”. Saya lupa siapa yang menulisnya, maklum itu saya baca sewaktu saya masih kecil (SD/SMP?). Dalam tulisan Beliau ada satu kiat sukses yang saya pegang sampai sekarang:

Buy high, sell higher.

Ilustrasi buku tersebut adalah ketika IPO saham Microsoft kala itu dibuka dengan harga yang mahal. Banyak orang jadi malas membeli. Namun, investor yang membeli saham Microsoft menjadi terkejut dan heran. Saham Microsoft naik berkali-kali lipat. Mereka mendapatkan untung berjuta kali lipat dibandingkan investasi di tempat lain.

Investasi terbesar dalam hidup saya adalah mempertaruhkan karir saya dalam TIK kepada FOSS. Di tengah ejekan orang dan sikap skeptik orang, saya melihat bahwa FOSS merupakan masa depan. Kendati FUD banyak beredar, IBM (yang dendam kepada Microsoft gara-gara O/S2) dan beberapa korporasi dunia lainnya memberikan dukungan kepada GNU/Linux.

Kala itu banyak kabar tersiar bahwa Microsoft akan sewaktu-waktu menggunakan portfolio-nya untuk menuntut setiap perusahaan yang menggunakan GNU/Linux. Terbukti, sampai sekarang tidak ada satu pun yang menggunakan portfolio-nya melawan Linux. Setiap korporasi Amerika masih saling menghormati satu sama lain. Mereka takut saling melawan satu sama lain. Dan anehnya, malah Apple yang membuka genderang perang terhadap korporasi lainnya.

GNU/Linux menjadi sistem yang luar biasa manis dan produk-produk FOSS lainnya menjadi primadona. Anda dapat menyebutkan satu saja produk invovasi TIK dan semuanya berbasiskan FOSS. Saya pun kecipratan. Saya jadi belajar membangun sistem kartu pintar di UI. Dari itu, saya bersama tim pernah jadi finalis APICTA.

Saya juga bangga dengan budaya di UI. Sistem di UI, terlepas dari tingginya turnover, mampu menciptakan efisiensi sistem dan inovasi. Walau pun tidak ada referensi, terkadang saya merasa seperti menciptakan tren di Indonesia. (Memang narsis, tapi biarin toh ini blog pribadi saya hahaha… :))

Contohnya, kami yang pertama kali membuat blog berbasis WordPress MU (sekarang WordPress Multisite). Pembaca sidik jari menjadi model yang dipakai beberapa instansi pemerintah.

Aduh, Anda mungkin tak melihat muka saya yang memerah sewaktu menulis prestasi-prestasi saya. Saya paling tidak suka menulis prestasi. Aku, ‘kan, pemalu… blushing hahhaa….

Intinya, saya cuma mau bilang, investasi hidup di FOSS itu berbuah manis. 🙂

Mau?