Pedagang Kecil

Pedagang Kecil

Saya membaca tulisan dari Dr. Ari mengenai berita menyesatkan di BBM (BlackBerry Messenger). Berita tersebut menganjurkan agar tidak membeli terompet tahun baru karena takut terinfeksi TBC. Beliau menyanggah info dalam BBM tersebut yang menyesatkan. Beliau mengatakan bahwa orang yang tertular biasanya tinggal serumah atau sekantor dengan orang lain yang telah terkena TBC. Kesalahan fatal lain dalam pesan tersebut adalah disebutkan bahwa penyebab TBC adalah virus. Padahal, seharusnya penyebab penyakit ini adalah kuman.

Saya juga membaca, Pak Andri Adiwibowo dalam blognya menyebutkan bahwa penyebab TBC (TB) menyebutkan bahwa kuman tubercle bacill ini disebarkan melalui udara. Bakteri ini ada dalam sebuah partikel basah yang menguap di udara (droplet). Sumbernya bisa bersin atau cairan lain yang dikeluarkan oleh penderita. Dan beberapa hal-hal teknis mengenai tuberkolusis ini.

Wow, saya senang sekali ada dua orang dari bidang yang berbeda menjelaskan tentang Tuberkulosis. Mata saya yang awam jadi terbuka. Saya heran, mengapa jajanan rakyat akhir-akhir ini, kok, diberitakan menakutkan?

Sebut saja: pedagang bakso dengan boraks dan daging campuran; pedagang gorengan yang menggoreng dengan plastik; dan pedagang daging dengan daging gelondongan. Ini membuat masyarakat takut membeli di pasar tradisional atau tukang-tukang keliling. Padahal, mereka berusaha dengan dana terbatas untuk menjadi enterpreneur.

Mereka tidak meminta-minta atau pun merampok. Mereka berkeliling berpuluh-puluh kilometer. Mereka menjajakan dagangan di tengah terik mentari dan karbon monoksida gas buang kendaraan bermotor. Sayang sekali bila hanya karena oknum-oknum, banyak pedagang kecil yang jujur tersisihkan.

Saya lihat, stasiun televisi ramai-ramai membuat reportase tentang praktik-praktik curang pedagang kecil. Saya bersyukur atas informasi tersebut. Tapi, alangkah baiknya sebagai bagian dari CSR (apalagi stasiun TV dapat untung dari acara tersebut), stasiun TV membiayai sosialisasi pedagang dan pembeli. Atau, mungkin stasiun TV tersebut bisa bikin lembaga pembinaan dan mengeluarkan sertifikat jaminan bagi para pedagang tersebut. Sehingga, kita yang beli tidak takut-takut dan para pedagang tersebut juga terjamin.

Buat orang-orang yang suka mem-broadcast informasi yang belum tentu benar, terutama tentang pedagang kecil: kasihanilah mereka yang cuma punya modal Rp200.000,00 sampai dengan beberapa juta. Mari saling membantu. Jangan sampai mereka yang susah payah mau berusaha dihalang-halangi. Akhirnya, mereka cuma punya pilihan menjadi bromocorah.