Steam Linux Beta

Steam Linux Beta

Adanya klien Steam Linux tidak menambah apa pun kepada gerakan perangkat lunak bebas. Namun, saya senang untuk usaha Gabe dan kawan-kawan untuk menerjemahkan Steam ke dalam GNU/Linux. Usaha ini menambal kelemahan sistem operasi GNU/Linux, yakni kurangnya permainan. Ini juga sebagai ajang pembuktian bahwa GNU/Linux merupakan ekosistem potensial.

Tiga hari yang lalu saya mendapatkan surel dari Steam Beta. Hari ini saya sudah selesai mengunduh berkas-berkas pemasangan. Saya baru memasangnya kepada komputer kerja saya (Gentoo), jadi saya belum bisa menulis untuk laptop saya (BlankOn).  Saya juga tidak yakin untuk menulis tutorial, sebab ini masih Beta tertutup (ataukah sudah bisa diunduh?).

Untuk bisa masuk ke dalam program beta, Anda harus mengisi borang pada blog Valve Linux. Saya sudah lupa di mana, jadi silakan cari tulisan tentang itu di sana.

Steam Linux

Ada beberapa proses yang dilakukan oleh Steam Linux begitu selesai dipasang:

  • Memasang versi terbaru, alias mengunduh lagi untuk versi Steam Linux terbaru.
  • Memasukkan ulang kode verifikasi, kita dianggap sebagai komputer baru walau pun sudah ada klien Steam.
  • Memasukkan ulang login.
Saya lupa membuatkan cuplikan. Saya pikir ini proses yang trivial karena kalau Anda menggunakan Steam versi Windows, Anda sudah familiar dengan proses tersebut.
Steam Beta

Klien Steam Beta

Saya sulit membuat komparasi selain mengatakan bahwa baru ada beberapa permainan saja di dalam klien Steam Linux. Tampaknya, permainan Team Fortress 2 disediakan dengan status Free to Play, alias tersedia gratis khusus untuk Steam Linux. Saya sendiri, sih, sudah membeli permainan ini dari dulu. Tapi, yang lainnya perlu gesek-gesek kartu. Ah, saya masih banyak kebutuhan. 🙂

 

Steam System Information

Omong-omong, saya belum mencoba menjalankan Team Fortress. Proses ini butuh waktu lama karena di Indonesia belum tersedia koneksi murah nan cukup cepat. Mungkin saya bisa membandingkan Steam Linux dengan Steam yang dijalankan dengan Wine.

Berikut poin-poin yang saya dapati:

  • Fitur identik, kecuali pada permainan yang ditawarkan.
  • Sama-sama menggunakan emulasi, hal ini karena Steam Linux masih menggunakan pustaka 32-bit. Mungkin mereka mengingat bahwa sebagian besar permainan ditulis untuk mesin 32-bit (Windoze). Jadi, untuk menerjemahkan ke GNU/Linux juga perlu ke pustaka yang sama.
  • Tulisan lebih alami karena menggunakan fonta sistem. Tulisan pun sudah anti-alias sehingga tidak patah-patah seperti versi Wine.
  • Steam Big Picture (SBP) hanya dapat dijalankan pada Steam Linux. SBP ini adalah sebuah moda pusat media pada Steam. Sayangnya, suara yang ada pada saya terpotong-potong. Mungkin ada konfigurasi tambahan yang harus dilakukan.
Steam Big Screen

Steam Big Screen

Penutup

Untuk Gentoo, dapat menggunakan Layman untuk memasangnya. Saya tidak jabarkan di sini karena saya belum ada waktu. Saya menggunakan penggerak dari nVIDIA. Seandainya ada yang menggunakan penggerak terbuka (radeon/nouveau) harus menjalankan ini sebelum memulai steam:

export force_s3tc_enable=true

Mengapa hal tersebut diperlukan? Karena S3TC merupakan standarisasi OpenGL yang dipatenkan. (Yeah, fsck to those that so lamely put software patents into standards)

Saya rasa, mungkin laptop saya lebih kompatibel mengingat dia BlankOn 32-bit. Proses ini mungkin butuh tiga hari lagi. Sementara itu, demikian laporan pandangan mata saya.