Phoronix melaporkan tulisan Stallman (RMS) mengenai Ubuntu memasang spyware. RMS dalam tulisan tersebut menjelaskan bahwa Ubuntu telah memasang lens yang terhubung ke Internet sehingga pencarian yang dilakukan oleh pengguna di Dash diunggah ke Amazon. Ini merupakan sebuah pelanggaran hak privasi. Jono Bacon membuat tulisan menyanggah hal tersebut.

Bagi banyak orang, terutama orang Indonesia, pelanggaran privasi tidak terlalu berpengaruh. Banyak yang mengunggah foto-foto yang seharusnya pribadi ke Internet. Hal ini karena mereka menganggap bahwa Internet adalah sesuatu yang diskrit dari hidup mereka.

Memang, saat ini Internet merupakan sebuah kehidupan yang paralel. Namun, seiring dengan waktu dan teknologi komputasi awan, kehidupan manusia semakin integral dengan Internet. Sedikit demi sedikit kehidupan kita semakin tergantung dengan Internet.

Itu sebabnya, ketika Internet semakin terkontrol, maka kehidupan kita terkontrol. Setiap manusia dapat diarahkan kepada sesuatu yang diingini oleh pemegang Internet. Sayangnya, banyak pemerintahan yang menganggap mereka yang punya kendali, padahal kekuasaan ada pada korporasi global. Mereka mampu memberikan sugesti dengan menganalisis keinginan pengguna.

Mau contoh?

Lihat artis-artis zaman dahulu dan zaman sekarang. Dahulu, kulit sawo matang merupakan standar wanita cantik. Dan memang tepat seharusnya demikian karena orang Indonesia kebanyakan berkulit agak gelap.

Lihat artis zaman sekarang. Artis yang cantik adalah artis yang bermuka putih mulus dan berparas keindoan. Kulit harus putih dan berkilau. Berat badan harus kurus kerempeng. [Jujur, saya tidak suka ke mal karena saya sering hampir menangis melihat ada wanita yang kurus sekali (tidak normal sepertinya bulimia) dengan pakaian modis. Pikir saya, “Emak bapaknya kasih makan apa di rumah?”]

Saya melihat banyak wanita muda yang kehilangan kepercayaan diri akibat ini. Padahal, tidak ada yang salah dengan mereka. Sebagai penggemar novel visual Jepang (manga) saya mendapati bahwa ada banyak fetish yang tersedia. Artinya, setiap pria memiliki wanita idealnya masing-masing, namun sepertinya komersialisasi menganggap hanya ada satu selera.

Manusia

Ketika ada seseorang yang bertindak deviasi dari norma masyarakat. Mungkin Anda menyebutnya sebagai sebuah kejahatan. Tetapi, pada dasarnya ia menentukan sebuah pilihan. Artinya, ia mempraktikkan kehendak bebas yang ia miliki sebagai seorang manusia.

Memang, ada sebuah dilema ketika yang ia lakukan melukai orang lain. Pada titik inilah saya setuju bahwa ada perangkat pemerintahan yang membuat tingkah laku demikian harus diluruskan. Kebebasan hak yang dia lakukan melanggar hak orang lain. Seperti kata PMP (PPKn?), hak setiap orang dibatasi oleh hak orang lain.

Deviasi-deviasi yang terjadi pada manusia merupakan sebuah bentuk pertahanan manusia. Ibarat kata, manusia mempertaruhkan hartanya ke banyak tempat. Seandainya sebuah masyarakat gagal dan jatuh, satu masyarakat yang lain muncul.

Contoh deviasi pemikiran adalah pemikiran Bung Karno versus pemikiran Bung Hatta. Bagi Bung Karno, sekumpulan elit konglomerat yang terfokus dapat mengangkat negara. Berbeda dengan itu, Bung Hatta percaya dengan ekonomi yang terdistribusi.

Pemikiran Bung Karno melahirkan taipan-taipan ekonomi dan secara makro mengangkat ekonomi kita. Namun, ketika ekonomi dunia kolaps, ternyata sektor UMKM mampu bertahan. Sekarang, UMKM merupakan bisnis yang mengangkat Indonesia.

Konglomerasi dan ekonomi terdistribusi merupakan dua pandangan yang berbeda dari dua manusia. Keduanya dibiarkan muncul walau pun konglomerasi menjadi pemikiran arus utama. Namun, ketika konglomerasi gagal, pertahanan manusia berhasil memunculkan pemikiran yang lainnya sebagai solusi arus utama yang baru.

Itulah pentingnya keberagaman manusia. Ia tidak hanya berbicara etnosentrik, namun juga tentang pemikiran. Bhinneka Tunggal Ika bukan soal suku, namun juga pandangan yang dimiliki oleh manusia Indonesia.

Privasi

Ketika tindak-tanduk masyarakat dianalisis oleh sebuah entitas, ia memiliki kuasa untuk menggerakkan masyarakat untuk menjadi seperti yang ia mau. Apa yang terjadi bila entitas tersebut merupakan entitas komersial? Dapatkah ia meletakkan moral di atas kepentingan mencari keuntungan?

Tren ekonomi sosial dan berbasis humanitarian memang berkembang dewasa ini. Tetapi, pada akhirnya bisnis akan selalu berbicara bisnis. Ada neraca saldo yang harus diisi. Entitas komersial, sesuai dengan namanya, akan selalu bersifat komersial.

Jika kekuasaan pengetahuan akan tindakan manusia menjadi milik sekelompok orang, apakah dapat terjamin bahwa sekumpulan manusia itu tidak memanfaatkan hal tersebut untuk kepentingan ideologinya?

Hal yang terjadi di kenyataan,  seperti yang saya contohkan sebelumnya, adalah entitas komersial menggunakan itu untuk menggerakkan masyarakat untuk memiliki pemikiran yang sama. Mereka menyuntikkan pemikiran-pemikiran yang sesuai dengan tujuan mereka.

Inilah hasilnya:

  1. Penyeragaman pendapat yang terjadi di masyarakat menyebabkan keberagaman manusia menjadi dipertanyakan.
  2. Terjadi marginalisasi terhadap orang-orang yang tidak sesuai.
  3. Setiap yang berbeda dipaksa untuk menyesuaikan diri atau tertolak.

Inikah yang diingini oleh manusia? Inikah peradaban manusia?

Itu sebabnya, menolak memberikan data kepada entitas bisnis merupakan sebuah pilihan untuk melindungi manusia dari kepentingan-kepentingan komersial. Hak privasi menjunjung tinggi keberagaman manusia dengan memberikan kesempatan bagi manusia berkembang tanpa terekspos oleh dunia. Hal ini memberikan kontrol kepada manusia untuk ia bisa berpikir dan bertindak. Berpikir dan bertindak bukan karena dorongan orang lain, melainkan produksi dari pikiran orang tersebut sebagai makhluk yang memiliki jiwa dan hati nurani.

Privasi adalah salah satu instrumen untuk membela hak manusia dan mengangkat tinggi derajat manusia sebagai manusia yang berbeda dengan binatang.

Catatan

Ada banyak ide cerita dalam tulisan, jadi syukur kalau Anda mengerti tulisan saya. Saya, sih, menulis ini sebagai catatan kepada diri sendiri mengapa saya masih membela gerakan FOSS. Dunia penuh makna dan tidak sekedar yang terlihat.

Omong-omong, saya, sih, sudah sejak lama memakai BlankOn, jadi nampaknya seruan RMS untuk memboikot Ubuntu bukan buat saya. 🙂