Yak, setelah selesai memasang BlankOn 8 pada laptop saya, saya pertama-tama kagum. Namun, seperti saya bilang, ternyata ada beberapa hal yang perlu dipermak agar memenuhi kebutuhan saya.

Manokwari Tanpa

Entah mungkin paket “blankon-desktop” tidak lengkap, atau ada paket meta lain yang seharusnya dipasang, BlankOn saya ada beberapa kekurangan.

Manokwari Tanpa Konfigurator Dasar

Saya bingung dengan BlankOn Tweak. Saya cuma ingin mengubah tematik, huruf, dan jumlah Ruang kerja Metacity. Ya, sudah, saya coba untuk memasang perkakas yang sudah saya ketahui.

Untuk konfigurator Gnome3, Gnome Tweak Tool jawaban. Untuk konfigurator tematik yang agak baik, gunakan “lxappearance”. Untuk semacam Regedit, saya menggunakan GConf Editor.

$ sudo apt-get install gnome-tweak-tool lxappearance gconf-editor

Yak, itu sudah cukup.

Manokwari Tanpa Peluncur Aplikasi

Saya mendapati bahwa Manokwari tidak memiliki peluncur aplikasi (ALT+F2 atau META+R). Ya, ampun, mana pintasan global (global binding) tidak berfungsi pula. Saya terbiasa memakai papan ketik dan absennya pintasan global amat mengganggu.

Untungnya, Pattimura telah membuat saya tergila-gila dengan Synapse. Itu, loh, peluncur aplikasi yang kontekstual yang bikin tambah malas pindah ke Windoze. Ya, sudah, saya pun memasang itu:

$ sudo apt-get install synapse

Jadi, deh:

Synapse terpasang di Manokwari

Synapse terpasang di Manokwari. Tematik Virgillio

Gatal Ganti Tematik Menu Manokwari

Saya gatal mendengar bahwa Manokwari terdiri dari HTML5. Dan ternyata, benar! Menu itu disusun berdasarkan CSS. Serunya, seperti kecurigaan saya, Manokwari memasang sebuah gambar sebagai latar.

Berkas-berkas Manokwari ada di direktori

 /usr/lib/manokwari/system/

Yeah! Berkasnya cukup sederhana. Namun, sayang seribu sayang, saya sedang mencetak kartu mahasiswa baru, jadi saya belum bisa berbuat macam-macam. Jangankan ngoprek, tidur pun kurang.

Ahem, kembali dari curcol tidak jelas. Saya pun sekedar iseng dapat gambar bagus dari blog Kepak Garuda. Bermodalkan GIMP dan perkakas cap yang dimilikinya, beserta beberapa hal yang lain, jadilah gambar ini:

texture.jpg

texture.jpg silakan ikuti tautan untuk mengunduh yang asli.

Gambar itu kemudian ditimpa ke gambar asli menu Manokwari. Anggap bahwa gambar hasil suntingan ditaruh di “/tmp”. Maka caranya:

$ cd /usr/lib/manokwari/system/
$ sudo mv texture.jpg texture.jpg.orig
$ sudo mv /tmp/texture.jpg .

Setelah ditaruh gambarnya, muat ulang Manokwari. Dari referensi di Internet, sepertinya kita harus keluar lalu masuk kembali. Saya termasuk orang yang malas menunggu, jadi saya coba ingat dari kepala dan menemukan dalam ingatan bahwa desktop manager dijalankan oleh gnome-session. Jadi, kalau proses Manokwari dibunuh, dia pasti dibangkitkan kembali.

$ killall manokwari

Dan, menu pun berubah menjadi:

Menu Manokwari

Menu Manokwari berubah! 🙂

Memasang dan Membuang Aplikasi

Menurut saya, Totem itu aplikasi paling menyusahkan. Kodek banyak yang tidak terpasang dan sulit sekali untuk mengonfigurasi karena pengembang GNOME menganggap bahwa kita orang idiot yang tidak perlu opsi-opsi yang lengkap.

Yang kedua, saya sebenarnya menyukai Audacious. Namun, entah sejak versi berapa, Audacious tidak lagi bisa memainkan Musepack. Galat di FFAudio bla… bla… bla…. Dengan berat hati, saya berpindah ke lain hati.

Untuk menggantikan Totem, saya memilih VLC. Untuk menggantikan Audacious, saya menggunakan Clementine.

$ sudo apt-get remove totem audacious
$ sudo apt-get install vlc clementine

Untuk acara bakar-bakar CD, saya memasang “sound-juicer”. Lalu, untuk menjalankan Steam, seperti biasa saya memasang Wine. Saya masih menunggu versi GNU/Linux yang katanya akan segera keluar. Berhubung saya sudah beli beberapa permainan.

$ sudo apt-get install wine sound-juicer

Kesimpulan

Aduh sudah malam dan saya sudah tidak kuat. Nanti lagi saya coba ubek-ubek lagi Manokwari. Aplikasi ini sangat menarik.

Bangsa ini membanggakan karena memiliki pengembang-pengembang BlankOn dan Manokwari. Merdeka!