67 tahun Baton itu dibawaTelah 67 tahun lamanya baton itu dibawa lari. Terjerembab, jatuh, dan berdarah-darah adalah makanan para pelari yang membawanya. Namun, baton itu tetap saja ada yang memegang dan membawanya lari.

Berlari ke depan tanpa tahu kapan harus berhenti. Kadang menyakitkan ketika melihat banyak pemain lain yang hanya menonton dari bangku samping. Mereka menolak berlomba karena lebih gampang menunggu pemain yang bertanding sampai garis akhir.

Kadang sedih melihat pelari yang kelelahan. Saking kelelahannya, pelari itu sudah tak lagi berlari dengan postur yang benar. Terjerembab jatuh dan ingin tetap di tanah. Ingin rasanya menunggu medis datang menggotong badan yang telah hancur keluar.

Terima kasih.

Terima kasih kepada para pelari yang tetap memutuskan berdiri dan melanjutkan pertandingan. Terima kasih kepada para pelari yang terus bertanding hingga akhirnya sampai di titik tempat pelari berikutnya. Terima kasih kepada para pelari yang legowo memberikan batonnya kepada pelari berikutnya.

Kendati telah banyak yang menyangsikan; kendati telah banyak yang berhenti berlari; kendati banyak yang berusaha mengganti baton dengan baton lainnya; akan selalu ada orang yang setia membawa lari baton itu.

Akan selalu ada orang yang mengingat pelari terdahulu yang telah tumbang. Akan selalu ada orang yang mengingat mereka yang berlari. Akan ada orang-orang yang memutuskan untuk berlari membawa baton itu kendati mereka tak dibuatkan nomor punggung.

Ya, sudah 67 tahun baton itu dibawa dari generasi ke generasi.  Ada tahun-tahun datang dan pergi. Satu generasi berakhir dan satu generasi lahir. Saya yakin, baton itu akan terus dibawa sampai kiamat. Amin.

Dirgahayu kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Merdeka!