Ketika berjalan-jalan di toko musik, saya menemukan album-album menarik. Saya menemukan CD Kla Project Dekade. Secara tak sengaja saya melihat ada album baru Saint Loco, Momentum. Langsung, saya membeli keduanya beserta satu album rohani Parade Band Festival dari RPK 96,3 FM.

Untuk album-album ini, saya melakukan hak salin saya atas mereka. Banjir besar Jakarta waktu lalu membuat kamar saya terendam dan menghancurkan banyak kaset yang tak dapat diketemukan lagi di toko kaset. Semenjak itu, saya merasa penting untuk membakar semuanya.

Dari pengalaman saya, pembakar nomor satu saya adalah K3B. Hal ini karena K3B mendukung modus Paranoia. Modus Paranoia membaca CD dan memastikan data yang dibakar sama. Entah mengapa, CD sepertinya gampang rusak kendati sudah disimpan dengan baik.

$ sudo apt-get install k3b libk3b6-extracodecs

Untuk beberapa format, pasang SOX.

$ sudo apt-get install sox

Saya, sih, tidak begitu memakai SOX karena saya memakai encodingyang lain. Terutama yang spesifik.

FLAC

FLAC adalah sebuah kompresi audio yang tidak menghilangkan detail suara. Biasanya, saya menggunakan FLAC untuk album-album luar negeri. Soalnya, entah mengapa mereka suaranya lebih kaya dibandingkan album sini. Tapi, beberapa album Indonesia, seperti dua album yang baru saya beli ini juga FLAC.

Untuk dapat menggunakan FLAC di K3B:

$ sudo apt-get install flac

Beres.

Musepack

Musepack adalah format hilang-detail (lossy) yang paling saya sukai. Kelemahan dari Musepack hanya satu, tidak banyak yang dapat memutar berkas format ini. Yah, berhubung semua koleksi musik saya untuk konsumsi pribadi, saya tidak peduli! Toh, saya memainkannya di laptop tercinta.

Cara pasang Musepack untuk bisa dipakai oleh K3B:

$ sudo apt-get install mppenc

Beres sudah.

AAC

AAC adalah format kedua yang saya rekomendasikan. Karena punya Apple, sudah pasti format ini didukung oleh banyak perangkat. Kalau kebetulan membawa laptop dianggap memusingkan, bisa memakai perangkat yang lebih mungil.

Ada dua encoding AAC di GNU/Linux. Yang pertama adalah FAAC dan yang kedua Nero AAC.  Untuk FAAC, tinggal memasangnya saja.

$ sudo apt-get install faac

Untuk Nero AAC, Anda harus mengunduhnya di situs Nero. Kemudian, ekstraksi 3 berkas aplikasi “neroAacEnc”, “neroAacTag”, dan “neroAacDec” ke direktori tertentu. Saya menaruhnya di “/usr/local/bin” seperti standar FHS.

Untuk memasang Nero AAC, ikuti langkah yang ada di sini. Saya mengubah skrip pembungkus (wrapper script) menjadi seperti berikut:

#!/bin/bash
/usr/local/bin/neroAacEnc -if "$1" -of "$2"
/usr/local/bin/neroAacTag "$2" -meta:title="$3" -meta:artist="$4" -meta:comment="$5" -meta:track="$6" -meta:album="$7" -meta:year="$8"

Berkas itu saya simpan menjadi “/usr/local/sbin/neroaac” mengikuti kaidah FHS.

Sedikit Catatan

Kalau tidak salah, dahulu saya pernah dengar UU kita mendukung penyalinan untuk tujuan back up.Semangatnya sama seperti fair use dalam UU di Amerika Serikat. Tapi, apakah UU kita masih mendukung ini, yah?

Saya berharap informasi di blog ini digunakan untuk tujuan yang benar. Hargailah artis yang sudah berupaya menghasilkan rekaman yang bagus. Belilah CD yang asli dan dukung artis yang Anda sukai agar mereka dapat berkembang.

Percaya, deh, ketika Anda membeli CD seharga Rp 80.000,00 (2 CD, Dekade) untuk sebuah maha karya, entah mengapa jadi tidak cepat bosan. Ini karena informasi spasial, detail alat musik, dan beberapa properti suara lagu tetap terjaga.

Tanpa steroid, equalizer normal dan efek-efek mati, sebuah lagu dari CD asli terdengar hingga ke sukma. Berlebihan? Coba saja kalau tidak percaya.