Bandwithnya seikhlasnya...

JP (bukan nama sebenarnya) saat mengunjungi situs-situs dari Indonesia tertentu.

Bagaimana cara menilai sebuah situs bagus? Saya punya standar minimal:

Ketika lebih cepat membuka Youtube dengan kualitas 240p daripada situs Anda, maka situs Anda perlu dipertanyakan. Ketika menonton 360p lebih lancar dari membuka situs Anda, itu artinya perancang situs Anda makan gaji buta! Anda perlu menggunakan pengembang situs yang lain.

Saya kesal! Ada suatu situs penting di Indonesia yang dibutuhkan untuk harkat hidup orang banyak tetapi sulit sekali dibuka. Dan bukan hanya situs itu saja, ternyata banyak situs di Indonesia yang memiliki situasi serupa. Saya bukan pakar web, tetapi saya sudah ada dari zaman Warnet masih Rp16.000,00 per jam dan 14.4 kbps adalah kecepatan yang optimal. Jadi, izinkanlah saya marah-marah, protes, dan kasih solusi. 🙂

Terlepas dari omongan saya yang rada kasar tadi — mohon maaf buat Anda yang tersinggung, ini puncak kekesalan saya setelah selama bertahun-tahun masih saja sama masalahnya — saya berminat untuk memberikan sebuah solusi. Semoga tips yang saya berikan berkenan untuk diimplementasikan.

Perhatikan Isi

Pada masa Web 1.0 dan ucapan “Under Construction” merupakan norma, GIF dengan animasi dan tag marquee merupakan primadona. Tetapi semenjak zaman Web 2.0, orang sudah menganut ucapan “Beta” dan prinsip KISS diterapkan.

KISS artinya “Kip it simpel stupid!” [read: Keep it simple, stupid!]. Anda hendak memajang informasi kepada pengguna. Jadi, usahakan Anda definisikan untuk menaruh apa di situs Anda:

  • Mana yang perlu di halaman depan;
  • mana yang cukup cuplikan saja; dan
  • mana yang ditaruh di halaman lain saja.

Untuk membantu bagaimana memilahnya, Anda dapat menggunakan berikut:

  • Siapa target atensi Anda. Jadi, pisahkan informasi berdasarkan target tertentu, misalnya: mahasiswa, dosen, dan pengunjung iseng. Contoh: situs IBM.
  • Fasilitas yang biasa digunakan orang. Cara tahunya bisa dengan menggunakan fungsi counter, lho…. (Counter bukan untuk adsense, doang.)
  • Tanyalah diri sendiri, apa yang Anda harapkan Anda dapatkan dari mengunjungi situs Anda?

Setelah demikian, lakukan Indonesian Idol 2012 edisi situs Anda untuk menentukan siapa yang perlu dipajang di halaman depan dan siapa yang perlu di belakang. Ingat! orang Indonesia itu terbiasa visual bukan membaca tulisan. Lautan tulisan justru membuat orang terintimidasi.

Perhatikan Gambar Anda

Ada pengembang web yang mungkin berpikir bahwa orang yang mengunjungi situsnya  menggunakan jaringan Intranet atau langsung dari komputer dia. Buktinya, gambar lebih dari satu mega bita dijadikan latar belakang. Ada kemungkinan juga, sih, dia lulusan kritikus film yang elit dan visualphile, sehingga setiap ikonnya dibuat dengan presisi komposisi warna yang rumit. Lihat, kalau diperbesar ikon rumahnya ada bercak di sisi kiri jendela mirip siluet orang; ada sebuah interpretasi rumit mengenai ini.

Kalau itu bukan Anda dan situs Anda bukanlah untuk sebuah karya seni, mohon perhatikan hal-hal berikut:

  • Kompresi gambar Anda!
  • Perhatikan jumlah gambar Anda karena itu menentukan berapa jumlah rit koneksi Internet untuk membuka situs Anda.

Cara kompresi gambar ada dua:

  • Turunkan gradasi warna. Cara turunkan gradasi warna dapat dengan menggunakan blur. Pengaburan ini fungsi sebenarnya bukan cuma buat menyensor dada, tetapi juga untuk menurunkan gradasi warna. Kombinasi Wand untuk memilih area tertentu dan Gaussian Blur di GIMP bisa dipakai untuk itu. Atau, coba cari saja plugin GIMP untuk optimasi web.
  • Simpan dengan format JPEG dan turunkan kualitas. Kalau di GIMP, gunakan indeks warna. Mainkan kualitas dan sampling yang dipakai. Menurut pengalaman saya, format JPEG adalah format yang paling irit. (GIF yang pertama, sih, tapi siapa yang mau pakai GIF?)

Kalau Anda mau lebih keren lagi, gunakan CSS sprite. CSS sprite adalah sebuah teknik dari Yahoo untuk menyimpan gambar-gambar ikon dalam satu berkas gambar. Nantinya gambar yang besar itu dipotong-potong dengan menggunakan teknik klip CSS.

Yang paling penting dari semua: hentikan animasi yang tak penting! Gambar yang beranimasi cenderung mengganggu orang dari serius membaca tulisan. Sudah secara alami Anda akan melihat gambar bergerak. Itu bagian dari keselamatan di alam dan duduk lebih dari 8 jam di depan komputer tak akan menghilangkan hasil evolusi berjuta tahun.

Duniamu Mengalihkan Duniaku

Saya sebagai orang yang lebih dari 8 jam di depan komputer menggunakan tematik hitam dan kontras rendah. Sayangnya, beberapa orang kreatif menghias lapaknya dengan warna hitam dan hurufnya berwarna putih. Untuk situs-situs ini, saya kerap kali harus menggunakan penyunting untuk mengisi formulir. Karena formulir dan hurufnya berwarna putih, saya seringkali harus melakukan tebak-tebak berhadiah. Saran saya, tolong buat formulirnya berwarna hitam juga, dong. Atau, mohon warnai formulirnya.

Memang, ini derita saya dan saya tidak bisa menyalahkan mereka. Ya, sudah, saya terima itu. Tapi, berikut ini yang lebih parah.

Satu hal yang menghalangi saya untuk mengikuti proses sosial dari sebuah situs adalah situs yang pengembangnya menggunakan asumsi bahwa penggunanya menggunakan peramban tertentu saja. Saya sadar, terkadang menjadi seorang pengguna peramban  minoritas berarti kehilangan fungsional tertentu.

Apakah itu perlu?

Sebuah situs yang hanya mengambil masukan dan melakukan seluruh operasinya di sisi server, apakah ini perlu menggunakan peramban tertentu? Saya paham kalau misalnya sebuah situs diperuntukan bagi IE6 karena menggunakan ActiveX. Tapi, situs yang hanya memerlukan fungsi tradisional, mengapa perlu berjalan di peramban tertentu?

Saya menggunakan Opera 12.0 versi GNU/Linux selain Firefox. Ada sisi sentimentil bagi saya untuk menggunakan peramban ini. Selain cepat, dahulu sewaktu zaman Window Maker masih pengatur jendela saya, Opera 2.0 merupakan peramban yang paling modern. Sepertinya perasaan itu masih belum hilang. Apalagi, Ctrl+Shift+N masih ada untuk terhubung ke situs…. * ahem

Sisi sentimentil lainnya, dia merupakan peramban inovatif dan hanya mendukung standar web resmi. Sebagai pecinta standar terbuka, saya menyukai sikap Opera. Dan seharusnya dengan standar terbuka, saya seharusnya dapat menulis komentar. Tetapi, mengapa fitur komentar tidak muncul di situs Anda, wahai situs berita K?

Mohon untuk situs-situs penting bagi hajat hidup orang banyak, gunakan fitur-fitur standar yang sudah pasti berjalan di seluruh peramban (kecuali IE6). Amal ibadah Anda pasti diterima di sisi-Nya. Apalagi kalau Anda menggunakan URI nan cantik dan bisa diindeks oleh Google. Saya sumpahin Anda dapat jodoh yang baik dan mertua yang pengertian! Amin.

Saya tahu, menggunakan Flash dapat menghasilkan animasi yang keren. Tapi, mohon pahami bahwa Flash membutuhkan data bita yang besar. Sistem operasi saya pun kurang stabil dengan banyak Flash yang berjalan.

Menjadi pengembang web bukan soal mengembangkan konten. Ada hal-hal yang harus diperhatikan, terutama soal teknis. Setelah mengatur struktur informasi, seseorang atau tim juga harus belajar memverifikasi situsnya. Caranya:

  • Lihat situs dari berbagai peramban dan sistem operasi.
  • Gunakan validator daring untuk melihat akuntabilitasnya.

Lebih gampangnya, saya beri contoh kasus.

Terkadang sistem operasi tertentu tidak mendukung fasilitas yang membuat peramban yang sama pada sistem operasi lain tidak masalah. Sebagai contoh, huruf web yang saya gunakan di situs ini menggunakan Google Webfonts. Terlihat indah bila di GNU/Linux dan Windows 7.

Sayangnya, ketika saya menggunakan Windows XP, tulisan situs ini jadi jelek. Usut punya usut, Windows XP harus mengaktifkan Clear Type untuk bisa melihat situs ini dengan bagus.  Berhubung ini masalah Windows XP dan remeh, saya akhirnya memutuskan tetap menggunakan huruf web. Apalagi, IE6 sudah dianggap almarhum oleh Microsoft. Jadi, buat apa saya dukung web itu?

Tapi Bagaimana Mungkin, Membaca Saja Aku Sulit

Gampang, kok. Cukup gunakan slogan TIK yang terkenal: re-use. Re-use bukan mengambil konten orang lalu menaruh di situs dengan iklan bejibun tanpa memberikan kredit (menyebut penulis asli atau tautan ke situs asli misalnya). Itu namanya menyolong dan di dunia akademis disebut plagiat.

Re-use artinya menggunakan komponen-komponen yang sudah tersedia untuk digunakan sebagai dasar. Misalnya Anda kurang bisa PHP seperti saya, gunakan Drupal atau WordPress dan pakai tematik yang sesuai dengan kebutuhan.

Anda mungkin sebuah situs berita profesional atau situs pertemanan dan memerlukan fungsi Javascript untuk interaktivitas. Anda bisa menggunakan JQuery daripada menulis sendiri skrip Anda. Atau, gunakan Modernizr sebagai dasar pengatur konten Anda.

Pustaka-pustaka itu diciptakan supaya Anda tidak perlu melewati proses yang sama untuk bisa kompatibel dengan banyak peramban. Dari pengalaman saya di tahun 2000-an, menulis “if (ie4|ns4|w3c)” di dalam skrip itu sesuatu banget. Untung saja sekarang proses itu tidak perlu dilewati. Sudah ada orang-orang baik yang mau berbagi dan membakukan proses fallback dan fitur-fitur tertentu dengan teruji secara internasional.

Mengapa Anda tidak memanfaatkannya? Hitung-hitung Anda menambah amal mereka dengan mengizinkan mereka membantu Anda. Gunakanlah alat-alat yang sudah beredar di Internet dan dengan gratis sambil memperhatikan data.

Mari gunakan bingkaikerja yang sudah teruji dan baik demi kepentingan bersama.

Tujuan Curhat Ini

Saya punya impian, infrastruktur TIK benar-benar menjadi sebuah perkakas yang membantu bukan menyusahkan.