Ada beberapa berita yang beredar di Internet yang cukup berpengaruh saat ini mengenai teknologi dan pengaruhnya terhadap berbangsa dan bernegara. Seringkali orang meremehkan fungsi vital teknologi sebagai infrastruktur dasar dalam berkomunikasi. Artinya, secara tidak sadar, manusia yang telah terhubung secara digital hidupnya, pada level berbeda, bergantung kepada perangkat lunak. Itu sebabnya, saya gatal menulis catatan ini.

Tidak seperti koran yang menulis berita beropini dengan label “Fakta”, saya dari mula akan bilang bahwa artikel ini berisi pendapat saya. Jadi, sudah pasti tidak 100% obyektif.

Sekali Lagi UEFI dan “Trusted Computing”

Tulisan Matthew Garrett tentang UEFI membuat saya tambah kuatir tentang masa depan perkomputeran. Garret berpendapat bahwa UEFI memang akan memiliki beberapa celah keamanan untuk rilis-rilis awal. Tetapi, seiring dengan perbaikan, celah-celah itu tertutup sehingga tidak ada lagi tersisa untuk diserang.

Sebagai seorang yang berkecimpung dengan dunia komputer, saya cuma bisa geleng-geleng. Masalah keamanan itu masalah kucing-kucingan. Seberapa kuat pun sebuah algoritma, dengan binari lebih besar dari kernel Linux, pasti ada saja celah dari firmware UEFI. Saya termasuk yang tidak setuju dengan fitur secure boot pada UEFI.

UEFI merupakan sebuah bagian dari yang namanya “Trusted Computing”, komputasi terpercaya. Sebuah ide tentang bagaimana komputer bisa dibuat agar komputer bebas dari virus, trojan, dan aplikasi-aplikasi ganas. Perlindungan sempurna karena dari semenjak menyalakan komputer, sudah ditentukan hanya aplikasi-aplikasi yang dipercaya saja yang berjalan.

Masalahnya, mereka memutuskan bahwa pengguna, yang seharusnya pemilik perangkat keras, tidak termasuk yang dapat dipercaya. Hal ini karena banyak pengguna yang menggunakan program ilegal untuk menjalankan torrent atau pun aplikasi peretas. Kendali ada di tangan korporasi terpercaya.

Penjajahan Hak Milik Barang

Cory Doctorow dalam ceramahnya mengingatkan tentang bahaya mengenai hal ini. Pemerintah yang represif dapat memasang alat penyadap dan memotong kebebasan. Selain itu, peran sektor-sektor bisnis menentukan fungsi mana saja yang dapat diaktifkan dari sebuah produk yang kita beli.

Orang bilang bahwa sekarang zamannya gadget (doctorow menyebut “appliance”, tetapi saya pikir kita lebih familiar menyebutnya “gadget”). Sebuah perangkat dibuat untuk memenuhi fungsi-fungsi tertentu saja. Misalnya, untuk membuat sebuah TV pintar, membuat telepon pintar, dan lain sebagainya.

Namun, kenyataannya bahan yang digunakan sebenarnya adalah sebuah komputasi untuk kebutuhan umum (general purpose computing). Komputer ini kemudian disusupi dengan aplikasi mata-mata (spyware) yang mencegah pengguna tidak bisa melakukan apa pun selain yang dibutuhkan. Ia bahkan bisa membuat barang tersebut melakukan penghancuran diri sendiri.

Anda tahu masalahnya di mana?

Nantinya orang bukan lagi membeli barang, tetapi menyewa barang berdasarkan EULA. Hal ini karena orang tidak benar-benar memiliki barang yang “dibelinya”.

Sensor dan Pengawasan

Perang dunia maya itu nyata. Mereka bukan sekedar perang-perang ingusan yang sekedar mengubah tampilan situs. Mereka perang untuk mencuri dan menghancurkan sumber daya negara lain.

Mungkin perang tersebut tidak langsung mengenai warga sipil. Teknologi dari perang tersebut akan dapat diimplementasikan ke dalam dunia sipil. Dengan menggunakan teknologi tersebut, kebebasan sipil dapat dikendalikan.

Sensor terhadap informasi menyebabkan teknologi tidak dapat lagi digunakan untuk melakukan protes. Dukungan terhadap KPK dan institusi lainnya mungkin tidak dapat disalurkan lagi. Oposisi pun dapat dibungkam.

Terjadi tren di seluruh dunia, termasuk di Amerika, muncul usaha pemerintah untuk dapat menyensor warganya. Dari sensor Twitter, sensor hasil pencaharian di Google, dan sampai penutupan jalur Internet (One kill switch).

Kalau menurut saya, ini wajar saja terjadi. Seperti dahulu wartawan demikian tidak terkendali dan akibatnya borok perang Vietnam terbuka. Wartawan melaporkan strategi tentara Amerika yang membakar desa-desa. Ini yang menyebabkan rakyat Amerika marah dan mencabut dukungan terhadap perang Vietnam.

Apa yang terjadi di Mesir dan Syria merupakan alarm bagi pemerintah. Hukum yang saat ini memenangkan lobi-lobi korporasi membuat banyak pihak yang terpinggirkan merasa hak mereka diambil. Bukan tidak mungkin, kejatuhan ekonomi Eropa akan menjatuhkan ekonomi global. Rakyat tentu akan bertanya, mengapa ini bisa terjadi? Dan sisanya dapat dibayangkan sendiri.

Jika pemerintah dapat mengendalikan teknologi komunikasi, ke manakah arah bara dalam sekam itu pergi?

Open Government

Untungnya, saat ini sudah banyak proyek Open Government (OpenGov) di seluruh dunia. Dari sisi pemerintahan, OpenGov adalah sebuah kebijakan transparansi yang memperbolehkan warganya mengakses dokumen-dokumen negara. Dengan demikian, warga negara dapat mengakses dokumen tersebut.

Dari sisi ilmu komputer, OpenGov merupakan evolusi dari e-government. Dalam sistem ini, interaksi antar dua sistem dapat dilakukan karena penggunaan dokumen standar terbuka. Selain itu, pemanfaatan teknologi web semantik membuat data-data tersebut dapat dipadukan untuk menjadi sebuah pengetahuan baru.

Sayangnya, keterbukaan adalah sesuatu yang terlihat menakutkan. Sama seperti proyek-proyek data terbuka, OpenGov banyak berbenturan dengan keengganan negara untuk membuka dokumennya. Lagipula, ada beberapa dokumen negara yang merupakan rahasia negara. Bagaimana dengan itu?

Indonesia memiliki instrumen UU Keterbukaan Informasi Publik. Saya belum mempelajarinya secara ekstensif, tetapi setidaknya semangat keterbukaan dapat dilihat dalam UU tersebut. Ini sebuah langkah maju.

Keterbukaan informasi publik ini merupakan sebuah instrumen untuk menguatkan rasa memiliki bagi warga negara. Sebagai instrumen hukum, ia membuka proses audit yang menjamin sebuah pemerintahan tidak korup. Sebagai sebuah alat negara, ia membuka peluang untuk warga negara untuk aktif berkontribusi.

e-Voting

Gunnar Wolf menulis tentang ketidaksetujuannya menggunakan e-voting.

e-Voting memiliki keunggulan memungut suara dengan cepat, mudah, dan murah. Karena segala sesuatu dijalankan secara elektronik, segala sesuatu dapat dihitung secara waktu nyata.

Menurut Wolf, e-voting terbukti merupakan solusi yang mahal. Selain itu, penggunaan e-voting insecure, violates secrecy, allows for fraud. Atau kalau dialihbahasakan, e-voting tidak aman karena; 1) rekam jejak pemilih dapat diketahui; 2) sistem dapat disusupi untuk menambahkan suara.

Kalau mau dianalogikan, sebagai kasus pengumpulan data anonim yang ternyata mengandung sebuah kata kunci. Memang, kata kunci ini tidak terdeteksi. Tetapi dengan menggunakan teknik temu kembali, data dapat dilacak kepada seseorang. Jadi, data tidak benar-benar anonim.

Memang, ini bisa menjadi sebuah fitur atau galat. Tergantung bagaimana regulasi dapat mengatur transparansi sistem. Pada lain pihak, pengembang Debian lainnya menceritakan tentang pembaharuan sistem pemungutan suara di Belgia. Di sana kini dibuat juga versi cetak kertas pemungutan suara. Dengann adanya versi cetak ini, penghitungan manual dapat dilakukan.

Hmm… teknologi bila sudah bermain di ranah sosial menjadi rumit. Banyak aspek sosial dan filosofis yang mennjadi pertimbangan. Sebuah sistem “nggak sekedar tinggal” perlu dikembangkan dengan baik. Itu sebabnya, saya pikir sudah saatnya laboraturium kajian berkembang, bukan sekedar laboratorium cabang murni saja.

Kesimpulan


NB:

Tadinya saya tidak ingin memasang entri ini. Habis, terlihat paranoid. Saya hanya sekedar iseng mencoba Lekhonee GNOME yang ternyata tidak punya tombol untuk menyimpan sebagai Draft. Ya, sudah, berhubung sudah teragregat di banyak tempat. Saya selesaikan saja tulisan ini.

Tapi, memang masyarakat global saling terkait satu sama lain dan suatu usaha di negara lain terhubung ke negara lainnya. Indonesia pasti terkena. Dan salah satu isu yang paling santer saat ini, ya, itu, usaha penyensoran hak dengan iming-iming kemudahan.

Hal ini diumpamakan Esau yang menukar hak kesulungannya untuk sepiring kacang merah.

NB2:

ternyata masalahnya Lekhonee menimpa tulisan sebelumnya. Mungkin saya tak sengaja memasang.