Sebuah operator telepon yang telah saya langgan selama hampir 10 tahun menelepon saya. Sang operator bertanya, mengapa saya masih menggunakan sinyal 2G? Dia pun menawarkan saya untuk berpindah ke sinyal 3G.

Singkat cerita, saya lalu ceramahi dia. 🙂

  1. Anda menawarkan 3G tapi tidak menyediakan paket tak terbatas (unlimited). Itu, khan, namanya gak niat! Biaya paket data Anda itu, ‘kan, mahal.
  2. Saya pelanggan lama, tapi paket Unlimited Anda hanya ditawarkan kepada pengguna baru dan sekarang Anda menghentikan paket baru.

Kira-kira itulah intinya dan Beliau menghentikan pembicaraan. Saya, sih, sebenarnya ingin uneg-uneg tentang SMS penawaran yang saya tidak butuhkan. Tapi, ya, sudahlah….

Lalu, seperti biasa saya berusaha untuk obyektif. Hari minggu kemarin saya mencoba untuk mengaktifkan fitur 3G. Pagi ini telepon saya mati. Tampaknya, sinyal 3G tidak stabil dan menyebabkan telepon saya menjadi boros baterai.

Saya juga menemukan berita bahwa SMS antar operator tidak akan gratis lagi mulai bulan Juni. Sekilas kalau saya baca itu, kok, sepertinya kebijakan memihak kepada pengusaha, bukan kepada kepentingan rakyat banyak seperti yang diamanahkan oleh UUD’45.

Mungkin ada yang bisa memberikan alasan yang logis dan mematahkan pandangan skeptis saya?

Saya melihat peluang yang luar biasa dalam OpenBTS. Wow, saya memberikan tepuk tangan kepada para penggiatnya di Indonesia. Terutama Pak Onno yang membela dengan menulis bahwa OpenBTS itu sebenarnya legal.

Buat orang-orang yang tidak mengerti betapa terbelakangnya negara ini, coba Anda keluar dari Jakarta dan pergi ke kota-kota lain. Saya sendiri telah merasakan bagaimana sebuah ibu kota provinsi mendapatkan penjatahan arus listrik (baca: pemadaman bergilir). Apa lagi koneksi Internet dan telepon.

Dari pada biaya investasi operator komersial yang mahal menghalangi investasi, lebih baik dibiarkan sajalah operator nirlaba. Biarkan saja operator komunitas beroperasi memasang kabel data dan jangan dihalang-halangi. Toh, itu amanah dari UUD’45. (Sosialisme bukan romantika para Orang Tua pendiri bangsa kita)

Kalau perlu, lebih baik para operator seluler berembuk dan memutuskan untuk membangun jaringan bersama. Supaya tambalan di jalan yang merusak tidak ada lagi. Supaya kabel-kabel antar operator tidak saling terpacul. Supaya biaya murah dan kita punya peta rancang bangun perkabelan.

Ah, mimpi yang indah. Lirik 2014 dan berharap ada yang baca ini dan menangkap aspirasi ini.

NB: OpenBTS FTW!