Katanya hari ini ada demo menggugat kenaikan BBM. Saya baca di koran katanya DPR menawarkan untuk 122 trilyun rupiah untuk subsidi supaya bensin tidak naik. Saya gatal mengomentarinya karena saya tidak mengerti mengapa kita harus memrotes kenaikan BBM tersebut?

Penyebab kenaikan BBM:

  1. Konsumsi BBM meningkat dari perkiraan 40.000.000.000 Liter menjadi 47.800.000.000 Liter (sengaja menyertakan jumlah nol biar bisa melihat bahwa peningkatan luar biasa). (Sumber. Tempo.co Bisnis.)
  2. Harga Minyak Dunia meningkat dari perkiraan 90-95 US$/barel menjadi 122 US$/barel dan kemungkinan akan menjadi 128 US$/barrel pada bulan Maret (Sumber: maesaroh, ICP Melambung Tembus USD 128/Barel, Seputar Indonesia, Ekonomi & Bisnis, p.17, edisi 27 Maret 2012)

Terakhir saya periksa, 1 US$ = Rp 9200,00 dan Indonesia telah lama keluar dari OPEC karena sudah resmi sebagai negara net importir. Artinya, jumlah minyak yang dibeli Indonesia jauh lebih banyak dari jumlah yang diekspor. Artinya, ada penambahan beban APBN yang luar biasa dari meningkatnya konsumsi minyak. Kalikan jumlah uangnya dan koversikan ke dalam rupiah. Berapa itu? (Tambahkan dengan indeks korupsi negara kita dan tingkat inefisiensi distribusi BBM untuk mendapatkan efek nyata)

Itu sebabnya, saya tidak habis pikir, memangnya berapa pemasukan negara kita sehingga kita mampu memsubsidi Rp 178.000.000.000.000,00 (sengaja memperpanjang triliun) untuk konsumsi BBM saja? Saya coba lihat dari sisi lain. Kata oposisi, subsidi bahan bakar hanya 8,7% dari total anggaran. Itu masih jumlah yang kecil bila dibandingkan belanja birokrasi yang sampai 50% lebih.

Waduh, bingung saya…. Apalagi ini sudah mau 2014, masing-masing partai berusaha merebut hati rakyat. Dari partai pemerintah yang pernah mengklaim harga minyak diturunkan 3 kali (tapi ongkos angkutan umum tetap tidak turun) sampai partai oposisi yang ingin membuktikan kalau mereka pun bisa membuat perubahan.

Sebenarnya, kalau mau berlogika sedikit, kita perlu mempertanyakan: “mengapa rakyat ribut ketika subsidi BBM naik?”

Kalau saya lihat dari kehidupan di Jakarta, kebanyakan standar hidup kaum menengah menetapkan bahwa kepemilikan mobil atau motor adalah sebuah pencapaian hidup. Alasan logis yang paling saya dengar adalah:

  1. karena angkutan umum di Jakarta tidak memadai; dan
  2. sulit untuk mobilisasi bila menggunakan angkutan umum karena terkadang daerah tujuan tidak dijangkau oleh angkot.

Saya sendiri sebagai orang Jakarta merasakannya. Saya lebih memilih untuk menaiki taksi. Alasannya sederhana:

  1. banyak orang sembarangan merokok di kendaraan umum padahal sebagai seorang yang pernah operasi paru-paru saya tidak bisa menghirup udara rokok;
  2. total mencapai sebuah tujuan dengan naik angkot hampir sama dengan naik taksi; bahkan, bisa jauh lebih murah bila ada lebih dari satu orang; [asumsi Anda seperti saya, yang harus menaiki lebih dari dua angkot]
  3. angkutan di Jakarta kalau macet tersendat, tapi kalau jalan lancar ngetem menunggu penumpang; ujung-ujungnya telat.

Tentu, alasan pertama tidak semua orang perlu. Tapi, saya rasa dua alasan setelahnya merupakan faktor utama orang lebih memilih kredit motor atau mobil. Apalagi, kalau kita mau cek, jumlah bus Trans Jakarta sering kali tidak memadai.

Duh, keputusan untuk menggunakan kendaraan umum pun bergeming ketika orang-orang terdekat mempertanyakan keputusan saya untuk menggunakan kendaraan umum. Alasan karena untuk menyelamatkan bumi dari pemanasan global, sebagai solusi kemacetan, dan sebagai salah satu penyumbang indeks pengguna angkutan kendaraan umum sehingga terlihat signifikan; cukup signifikan sehingga pemerintah tidak bisa  mengabaikan untuk memperbaiki angkutan umum; sebagai bentuk solidaritas kepada saudara-saudara kita yang kurang mampu pun dengan mudah dipentalkan mereka. Alasan yang paling penting, “nanti kasihan anak istri kamu kalau mau ke mana-mana…”

Pertanyaan Yang Ditukar Session 7

Episode Finale

Kemudian saya menatap ke arah kamera. Sambil memain-mainkan mata dan alis tiba-tiba terdengar monolog dari batin,

“loh, bukannya sebenarnya masalah utama kita adalah ketersediaan transportasi umum?” [SFX: crash drum 12x]

Kemudian saya membatin, “sudah bertahun-tahun masalah transportasi umum yang tidak pernah efisien menjadi penyakit Indonesia.”

[SFX: high tension, orchestral hit]

“Bukankah negara ini negara sosial? Mengapa memberikan kepada swasta kalau terbukti swasta tidak pernah efisien? Lihat saja, sampai bangku kasir jalan tol dibuang menteri. Mengapa tidak ada audit obyektif tentang penyelenggara swasta?”

[Jeda Iklan]

“Ah, bukankah kita punya UU Keterbukaan Informasi Publik? Mengapa tak ada LSM yang memanfaatkannya untuk mempublikasikan borok-borok (jika ada) birokrasi. Mengapa pemerintah tidak membuat saja lembaga transportasi publik yang transparan mengacu UU tersebut? Bukankah kita negara sosialis berdasarkan UUD?”

[Tiba-tiba ada dua cewek cantik penjual duren berkelahi dengan cewek jaipongan berkelahi karena berebut nafkah. Dan kamera menyorot perkelahian itu selama beberapa menit sebelum dilerai produser yang secara tak sengaja masuk, kemudian kembali ke saya]

“Ah, aku pusing. Coba para pejabat publik itu juga diharuskan menaiki angkutan umum, eat their own dog food. Aduh, ingin rasanya memblokir Raider yang menyosor masuk sebagai bentuk protes. Mereka katanya pelayan masyarakat, berarti secara kasta mereka di bawah aku. Seharusnya mereka yang mengalah sama aku, dong. Aku….”

[NB: skrip sebenarnya menuliskan bahwa saya harus mengulang bagian UUD 1945, tetapi produser melarang karena mengurangi slot iklan.]

[Jeda Iklan]

Lalu saya mengangkat kepala dan melotot ke arah kamera,

“Astaga! Mengapa tidak ada protes besar-besaran untuk perbaikan transportasi umum?” [SFX: high tension orchestral hit]

Bersambung ke Session 8.

Sinopsis Session 8

Saya akhirnya memutuskan untuk membuka kembali Ars Technica, Phoronix, Planet Debian, Planet Ubuntu, Planet GNOME, dan 9GAG. Lalu saya membuka Yakuake dan kembali melakukan “mkdir bangun && cd bangun && ccmake.. && make -j3 && sudo make install”.

Lalu, saya menatap postingan-postingan di Na9a, 1cuk, dan twit teman-teman soal BBM yang membuat saya menulis entri ini.

Akankah saya menggulung ke bawah untuk melihat postingan non BBM?

Jawabannya hanya ada di Session 8.