DISCLAIMER:

Tulisan ini ditujukan untuk mendidik orang-orang Indonesia untuk mengerti sifat dari Internet. Saya sangat melarang penggunaan informasi dalam blog ini untuk tujuan selain pendidikan. Baik itu dibuat untuk menguntit gebetan atau pun yang lainnya. Dengan membaca tulisan ini, Anda menyetujui untuk bertanggung jawab atas aksi Anda sendiri dan bertanggung jawab penuh untuk tidak menyalahgunakan informasi di dalam tulisan ini.

Jumpa lagi dengan tulisan iseng saya yang non teknis tentang apa yang terjadi di dunia. Tema berita kali ini adalah tentang Internet.

Gerakan #KONI2012

Saat ini di Internet ada sebuah fenomena seru. Sebuah organisasi, The Invisible Children, membuat sebuah pesan untuk memburu Joseph Koni. Dengan sebuah tayangan di Youtube, mereka berusaha mengumpulkan dukungan. Dalam video mereka, mereka juga menganjurkan gerakan #KONI2012 sebagai sebuah eksperimen untuk menggerakkan pemuda-pemudi untuk membuat perubahan. Tujuan mereka, menekan pemerintah AS untuk menolong menghentikan Joseph Koni dari menjadikan anak-anak kecil sebagai tentara.

Seperti Dean Leysen, saya juga setuju bahwa gerakan ini memang perlu. Tetapi, apa yang dibilang oleh organisasi tersebut tidak boleh sepenuhnya dipercaya. Internet adalah tempat kebohongan sekaligus kebeneran terbesar. Saya akan tertawa bila ada orang yang mengaku mengetahui sesuatu karena Internet berkata demikian, ya, terutama untuk yang suka debat agama. Sebuah informasi di Internet harus dicari oposisinya dan dibandingkan.

Saya pun menemukan oposisi gerakan tersebut.

Menurut kata DanTheGreatHD, sebuah pengguna YouTube juga, integritas Invisible Hands patut dipertanyakan. Menurut laporan Charity Navigator, sebuah organisasi yang mengukur LSM, Invinsible Hand dinilai 3 (nyaris 2) dari 4. Hal ini karena akuntabilitas keuangannya diragukan karena tidak ada lembaga independen yang mengaudit Invisible Hand. Hal ini yang membuat tujuan organisasi tersebut patut dipertanyakan.

Kesimpulan saya?

Saya menyimpulkan bahwa Invisible Hand patut memang patut dipertanyakan. Tetapi, baik Invisible Hand, Dean Leysen, maupun DanTheGreatHD sama-sama menyimpulkan bahwa Joseph Koni harus dihentikan. Tidak hanya sampai di situ, tindakan yang perlu dilakukan adalah membantu Uganda dan negara sekitar dalam memulihkan trauma pasca perang. Invisible Hand perlu melakukan audit independen terhadap dirinya untuk menambah kredibilitas.

Sejujurnya saya tidak menyalahkan maupun membenarkan Invisible Hand. Untuk sebuah organisasi dengan tujuan mulia di daerah abu-abu terkadang harus melakukan banyak kompromi. Mungkin ada faktor lain yang kita tidak ketahui sehingga mereka merahasiakannya.

Menguntit di Internet

Perusahaan bodoh mana yang menaruh informasi kritikal secara daring? Oh, maaf, cloud computing membuat pernyataan saya terdengar salah. Mungkin dahulu benar, mungkin pernyataan itu sekarang sudah tidak relevan. Entahlah, saya sependapat dengan Stallman, data milik kita harus dilindungi. Itu sebabnya, menaruh data pribadi di Internet tidaklah benar.

Sebagus-bagusnya kita berusaha merahasiakan informasi pribadi, ada saja pihak ketiga yang membocorkannya. Ambil contoh Facebook Parenting, seseorang berusaha melindungi tulisannya. Tetap saja ayah dan ibunya tahu. Terlepas dari benar atau salah isi tulisannya, apa yang dia lakukan tetap saja terkuak. Privasinya terlanggar.

Mencari Informasi tentang Seseorang di Internet

Saya pun terkadang geleng-geleng dengan anak sekarang. Banyak yang berusaha melindungi akun Twitter-nya. Ada juga yang membuat akun kedua untuk merahasiakan beberapa hal dari orang-orang. Duh, helo [baca dengan gaya ababil], saya menggunakan Internet dari zaman Friendster belum ada dan anonymous FTP masih diindeks di Altavista. Kegiatan kalian mudah sekali diketahui. 🙂

Saya geleng-geleng karena mereka merasa aman padahal tidak. Rasa aman yang salah ini sangat membahayakan. Itu sebabnya, saya mau menguak mengapa rasa aman yang salah (false sense of security) itu perlu dibuang jauh-jauh.

Prinsipnya sama, kalau dulu, kita harus memanfaatkan orang-orang sekitar untuk mengetahui kegiatan seseorang. Misalnya, kita sudah berteman akrab dengan abang-abang penjaga Warnet tempat subyek kita biasa bermain. Atau orang-orang lain yang juga ada di sekitar mereka yang tidak berinteraksi langsung, tetapi ada di situ, misalnya rekan kita biasa main catur sewaktu ronda.

Prinsipnya kira-kira juga sama. Hanya saja, kali ini dipermudah cukup dengan mengetahui teman-teman si subyek tersebut di Twitter. Anda tidak perlu lagi sembunyi-sembunyi datang secara fisik untuk menanyakan kepada orang lain tentang anak subyek Anda. Anda cukup mencari informasi tentang dia dari tweet-nya di akun tersembunyi.

Nah, bagaimana Anda tahu kalau dia membuat akun kedua atau ketiga atau seterusnya? Hal ini dimudahkan dengan tidak adanya konsensus di antara pertemanan mereka untuk sama-sama membuat akun kedua, ketiga, maupun keempat. Pasti ada di antara rekan-rekannya yang menggunakan akun utama dan berlangganan akun-akun tersebut sekaligus. Ada beberapa yang pintar dengan melindungi akunnya, tetapi banyak yang tidak. Pasti ada, ‘lah.

Menyusup Sebagai Orang Lain

Ketika kita tahu bahwa anak subyek yang hendak kita ikuti ternyata cukup pintar dan teman-temannya sepertinya juga bagus sekali menyembunyikan akunnya. Kita bisa masuk sebagai orang lain mulai menyusup dengan mendekati di ring kedua atau ketiga pertemanan si subyek. Toh, tidak ada juga yang tahu.

Salah satu cara membuat identitas palsu adalah dengan melakukan pencarian Google Image atau forum-forum dengan mencari artis-artis luar negeri yang tak terkenal. Untuk di Indonesia misalnya paling cocok untuk menggunakan artis Thailand. Mereka secara struktur tubuh memiliki paras Indonesia. Selain itu, biasanya artis-artis yang tak terkenal itu banyak melakukan foto natural tanpa penyuntingan berlebihan sehingga terlihat natural.

Mengapa ini bisa berhasil?

Di Facebook, banyak orang yang ingin berteman dengan banyak orang dari pelbagai negara. Hal ini sebenarnya hal yang baik dan saya merasa sangat bersalah mempublikasikan cara ini. Saya kuatir dapat membuat banyak orang tidak lagi melakukan hal positif tersebut. Mohon jangan terpengaruh tulisan ini secara negatif.

Dengan mengeksploitasi sifat tersebut, kita dapat dengan mudah menyusup masuk ke beberapa teman subyek. Untuk menambah kredibilitas, buat akun-akun palsu lainnya dengan saling terkait. Tambahkan banyak orang, atau Anda bisa menunggu orang-orang asing untuk menjadi teman Anda. Hei, akan selalu ada orang di dunia ini yang ingin berteman dengan seorang gadis cantik alami. Karena itu, terkadang menambah terlalu banyak teman dapat dicurigai sebagai akun SPAM, biarkan akun itu terintegrasi secara natural.

Setelah dipercaya, kita pun dapat melakukan operasi seperti yang saya lakukan sebelumnya. Akan selalu ada orang yang merasa aman dan mempublikasikan aksinya dan teman-temannya ke Internet. Hei, bersyukurlah kepada pemerintah Indonesia, terutama pemkot Jakarta yang mengambil ruang-ruang publik sehingga anak-anak kita subyek kita kekurangan tempat untuk mengekspresikan diri dan berteman. Kenakalan mereka dan ekspresi mereka sekarang ke Internet tanpa kontrol. Mereka merasa tak diawasi dan perlakuan tanpa tanggung jawab itu seru.

Siapa yang dapat melindungi kita?

Ambil contoh, pemerintah Indonesia mengatakan bahwa kita harus dilindungi dari maksud-maksud jahat. Itu sebabnya, proyek Nawala dibuat. Hal-hal yang melindungi akhlak bangsa sepertinya dikerjakan. Dan lagi-lagi, pemerintah merasakan hal yang sama dengan anak-anak kita, menggunakan DNS yang disaring dan merasa aman (padahal tidak). Dengan mengganti DNS ke Google atau pun DNS-DNS lainnya, mereka tetap saja bisa mengakses materi-materi tak pantas.

Stop this false sense of security, please!

Tidak ada yang dapat melindungi kita selain kesadaran untuk tidak menyebarkan tulisan aneh. Itu bukan saja melindungi kita dari dipecat, tapi juga melindungi kita dari penggunaan data-data pribadi kita untuk maksud-maksud jahat. Tidak ada pemerintahan yang dapat melindungi warganya dari kejahatan Internet apabila kejahatan tersebut berada di luar yuridiksinya.

Sekalipun Zuckerberg ingin menjadikan Internet beridentitas, akan selalu ada yang setuju bahwa Internet harus tetap anonim. Seperti kata Moot, dengan menjadi anonim, justru seseorang bisa menjadi dirinya sendiri. Dan saya setuju, anonim adalah sesuatu yang ada dari Internet. Anonim membuat sebuah kekuatan dari Internet untuk sebuah perubahan.

Dan berita berikut tentang Internet yang saya mau beritakan menjadi alasannya.

Akuntabilitas

Perang di dunia maya sudah lama ada. Dari jebol-menjebol sampai yang terbaru sekarang, STUXNET. Ada juga sebuah perusahaan Antivirus yang kode sumbernya dicuri. Meh, yang terakhir itu saya tidak peduli. Toh, saya memakai GNU/Linux. Akan tetapi, hal ini menjadikan pemerintah di seluruh dunia mulai berpikir untuk menyensor Internet.

Alasan ini dipakai agar setiap pemerintah dapat melindungi warga negaranya dari pihak-pihak yang mencurigakan. Pertanyaan saya, siapakah yang dapat melindungi oposisi, LSM, atau pun kelompok minoritas dari pemerintahan abusif?

Ambil contoh kasus SOPA dan ProtectIP, generasi tua ingin agar AS memiliki UU untuk melindungi copyright. Pendukung utamanya adalah media (RIAA dan Hollywood). Sehingga, pemberitaan di televisi dan koran hanya mendukung SOPA dan ProtectIP. Kekecewaan dari banyak orang dibuat seperti seakan-akan protes itu antara perusahaan Hollywood lawan perusahaan Silicon Valley. Tetapi, gerakan akar bawah menemukan tempat di Internet untuk menyuarakan keberatan.

Internet menjadi sebuah media tempat suara-suara “sumbang” bersuara. Suara-suara yang biasanya menyuarakan kebenaran ini membuat sebuah audit terhadap pemerintahan dapat dilakukan. Kebenaran memang pahit, tetapi itu penting untuk membuat negara bertahan.

Sebelum Genghis Khan membakar kota dan memperkosa orang-orang Jin, ia harus melewati tembok Raksasa. Tetapi, gaji yang kecil dari pasukan perbatasan akibat korupsi membuat mereka membuka pintu untuk Genghis Khan masuk. Hal ini takkan terjadi apabila pejabat-pejabat korup ini dihukum. Tetapi, bagaimana mungkin mereka dihukum sedangkan pemerintahan satu suara? Oposisi dianggap pengkhianat dan rakyat tak diberi kekuasaan.

Juga lihat bagaimana kerajaan Romawi yang kuat akhirnya jatuh. Ratusan tahun mereka kuat, tetapi setelah pemerintahan senat yang dipilih langsung oleh rakyat digantikan dengan kekaisaran, perlahan mereka mengalami kejatuhan. Dimulai dari kejatuhan Romawi Timur (Byzantium) dan kemudian Romawi Barat.

Sensor melemahkan negara. Sensor menyebabkan pemegang kekuasaan tidak terkontrol. Ketidakpuasan menyebabkan warga menjadi tidak merasa memiliki. Rasa tidak memiliki mengakibatkan disintegrasi. Akhirnya, negara jatuh. Negara yang jatuh menghancurkan kemanusiaan.

Indonesia sebagai negara dengan berjuta kepentingan memerlukan Internet sebagai sarana untuk menyalurkan kebebasan. Apalagi dengan pejabat publik yang ke Jerman sementara warganya terkena tsunami. Atau kepala wakil rakyatnya yang justru menyalahkan mereka karena tinggal di pulau. Tidak ada seseorang yang mampu melepaskan kegeramannya.

Beberapa orang berbakat memutuskan untuk ke luar negeri. Padahal, mereka sangat diperlukan. Ada juga orang-orang yang tidak suka dan mulai meremehkan pejabat negara. Hukum pun mulai tidak diindahkan. Ini berbahaya sekali!

Untungnya, gerakan Koin untuk Prita, satu juta dukungan untuk Bibit Chandra, dan lain sebagainya menyalurkan keputusasaan mereka lewat gerakan akar rumput. Sewaktu gunung Merapi meletus, banyak orang ikut bantu dan saling berhubungan. Dan semuanya karena adanya Internet.

Perkembangan Internet di Indonesia

Internet itu penting dan seharusnya pemerintah membangun kabel sendiri. Saya sedih sekali bahwa dua bulan ini jaringan Inherent telah putus. Ketika saya ke Kalimantan, saya bingung menjawab pertanyaan tentang pengiriman cakram berisi repositori. Sebenarnya, saya hendak menyarankan mereka untuk menghubungi universitas sekitar yang terhubung Inherent untuk menyalin dari sana. Tapi, apa daya jaringan tak mampu.

Sementara itu, Google Indonesia meluncurkan program Bisnis Online. Sepertinya Google seperti perusahaan TIK lainnya mengincar Indonesia sebagai pasar besar. Semoga mereka sukses.

Duh, saya malas membahas Internet di Indonesia, terutama penjualan. Selama pita jaringan mahal, belum ada pembayaran daring yang terhubung dengan bank, dan kebijakan perlindungan Internet, itu masih utopia. Tapi, saya salut sama Kaskus yang telah membidani pasar daring.