Saat ini adalah zamannya publikasi. Dengan menggunakan kamera SLR atau telepon pintar, kita sudah bisa membuat video bagus. Untuk promosi, kita bisa bikin video klip dengan mudah dan mengunggahnya ke Youtube.

KDENLive dan beberapa aplikasi FOSS sudah bisa membantu penyuntingan video dengan efek-efek yang cukup bagus. Masalah kualitas yang dihasilkan berpulang dari kemampuan sutradara.

Lalu bagaimana dengan suara?

Yang menarik adalah saya menemukan artikel tahun 2004 yang bercerita tentang sebuah studio rekaman profesional yang menggunakan FOSS sebagai komponen utama mereka:

  • Ardour sebagai multi track.
  • JAMin sebagai perkakas mastering.
  • JACK, server suara dengan latensi rendah. (sejenis pulseaudio tapi untuk profesional)
  • QJackCtl, antarmuka GUI yang disediakan untuk JACK.
  • Rosegarden, komposer MIDI.

Beberapa catatan lain adalah bagaimana membuat rekaman dengan keterbatasan alat. Saya menemukan adanya beberapa alat berikut yang membantu:

  • Hydrogen, sebuah drum kit buatan.
  • Rakarrack, sebuah efek gitar untuk GNU/Linux.

Menangkap Emosi dalam Drum

Mengapa menggunakan Hydrogen profesional?

Kata orang, pengalaman paling lama dalam merekam lagu adalah merekam drum, apalagi untuk band baru. Bisa jadi, satu sesi rekaman habis hanya untuk satu atau dua lagu karena usaha merekam pemain drum agar sesuai dengan ketukan. Kasihannya, untuk lebih cepat, ada yang berusaha menggunakan MIDI untuk rekaman.

[Yeah, you, drummer, practice with your metronome! It’s not like we loved to ditch you… ;( ]

Rekaman yang menggunakan MIDI memiliki satu kekurangan: emosi yang tidak tertangkap!

Bagaimana cara menangkap emosi dalam rekaman?

Kalau orang Rock bilang, rohnya tertangkap dalam permainan drum, gitar, dsb. Kalau menurut saya, menurut logika/bukan supranatural, sebuah emosi tertangkap dalam sebuah lagu dalam beberapa dimensi berikut:

  • Warna suara drum yang sedikit berbeda.
  • Tinggi/rendah volume suara yang terekam.
  • Off-beat, delay atau lebih cepat dari bpm seharusnya beberapa/sepersekian milidetik.

Pola-pola permainan ini dipetakan oleh otak kepada bagian emosi. Itu sebabnya, saya juga termasuk orang yang menyayangkan penggunaan minus one/lipsync bila sebuah band tampil langsung. Setiap anggota seharusnya berkontribusi untuk membentuk emosi lagu pada saat itu. Sama seperti suara yang harus di-reengineer setiap kali pindah lokasi, emosi sebuah lagu perlu ditranslasi dalam permainan yang sedikit berbeda. Kalau kata istilahnya, permainan (sedikit) berubah karena menangkap emosi yang dipancarkan oleh orang-orang yang ada saat itu.

Untuk bagaimana emosi setiap orang bisa terkait, hanya ahli psikologi dan dukun yang bisa menjelaskan. Saya bukan keduanya dan lagi artikel ini semakin melebar. 😛

Nah, untuk menangkap itu, Hydrogen membuat sebuah fungsi namanya humanizer. Kalau kata forum, sih, Hydrogen juga kurang manusiawi saat digunakan ketika melakukan rolling. Kalau memang niat, coba saja melakukan stretching, delaying, atau apa pun pada setiap bagian itu ketika proses mastering. Tapi, jangan berlebihan karena hitungannya hanya beberapa milidetik, hampir tidak begitu berasa.

Atau, kalau memang itu terasa berlebihan, misalnya mau buat video klip dua kali seminggu kayak Mystery Guitarman. Cara lainnya adalah dengan menggunakan fonta suara dari drumkit kita sendiri yang direkam sebelumnya. Nah, pas di bagian rolling/rapel, bisa coba disisipkan rapel dari pemain drum yang asli.

Omong-omong soal karakteristik drum…

Kalo dari hasil observasi, seteman [ini bahasa benarnya apa yah?] snare Indonesia dan orang Barat, tuh, beda. Kayaknya seteman orang luar itu seteman lunak dan seteman kita itu sebaliknya keras. Kalau boleh dibunyikan, orang Barat berbunyi “tsep” sementara kalo Indonesia bunyinya “tep” kadang “tek”. Ah, ini semakin absurd, silakan bandingkan sendiri untuk bunyi yang terbaik.

Ini Musik Saya

Sewaktu bilang Rakarrack itu adalah sebuah solusi menarik adalah karena kita bisa membuat banyak stacked effect sendiri. Dan berhubung ia menggunakan Jack, kita bisa menghubungkannya ke sebuah host LADSPA untuk efek yang beda. Bayangkan, Anda cuma bermodalkan sebuah gitar listrik bekas, Anda bisa menjadi musisi handal. Modal eksperimen, Anda bisa menciptakan penyuaraan (sounding?) yang berbeda dengan yang lain.

Harga itu bukan jaminan musik bagus. Buktinya, biar rig-nya ratusan juta, basis Muse menggunakan efek Yamato yang dia beli sewaktu iseng-iseng mampir ke sebuah toko musik di Jepang. Hasilnya, sebuah suara bas yang khas. Jadi, jangan rendah diri kalau tidak pakai barang mahal, yang penting penggunaan efek yang personal itu menghasilkan musik yang luar biasa.

Bagaimana solusi solo?

Untuk komposer yang solo, dapat menggunakan Sound Garden. Memang, beberapa hal perlu dilakukan agar rekaman terdengar lebih baik. Misalnya untuk hasil terbaik, sebaiknya gunakan huruf suara (sound font?) yang dapat diunduh gratis di web. Beberapa suara MIDI yang bagus dapat dipadukan dan digunakan untuk menghasilkan musik Anda sendiri.

Oh, iya, Anda bisa juga membuat huruf suara Anda sendiri. Kita punya puluhan ribu pulau dan suku bangsa. Anda bisa memasukkan suara suatu alat musik daerah di tempat Anda berada. Selain mempertahankan budaya, Anda juga bisa menciptakan suara khas Anda sendiri. Hitung-hitung usaha, Anda bisa mengajukan ke pemerintah daerah untuk membeli mikrofon US$3000 ~ US$ 5000 untuk hasil bagus. Win-win solution.

Kualitas Suara

Sedikit sesuatu dari saya… (duh, bingung, mau bilang tips tapi saya bukan ahli musik nanti dibilang sotoy….)

Dari hasil pendengaran saya, saya sering menemukan rekaman lagu terasa kosong. Konon, itu akibat dari penyaringan yang berlebihan. Analoginya seperti ini, beda antara film bioskop dan film sinetron biaya rendah adalah kualitas gambarnya. Film sinetron terlihat terlalu bening dan cerah, sementara film bioskop ada efek film grain.

Sebuah rekaman yang terlalu “bersih” terasa kosong. Alat-alat musik terasa seperti hampa karena tak ada interaksi satu sama lain. Ini, sih, penyebabnya adalah mereka terlalu dikompresi (over compressed). Memang, kompresi itu bagus untuk membuat sebuah suara bulat. Tapi, terlalu berlebihan menyebabkan suara mati.

Buat ruang untuk dinamika suara. Seberapa dinamis? Tergantung jenis musik. Kalau Rock, kalau perlu mentah; Pop lebih ringan; dan beberapa jenis musik berdasarkan hasil pendengaran. Ini seninya dalam sound/audio engineering, berdiri antara terlalu banyak noise dengan suara yang terasa kosong.

Tentunya untuk menghasilkan suara ambiens yang ditaruh ke dalam rekaman akhir adalah suatu solusi yang paling beres. Tapi, seorang pemilik studio mengeluhkan juga bahwa kadang pada saat proses penangkapan suara, hasil rekaman menentukan juga rekaman terakhir. Hal ini mengakibatkan ia tidak mau me-mastering suara-suara yang tidak sesuai dengan standarnya.

Ya, kalau sudah begitu, coba saja memberi hasil jadi per trek untuk rekaman digital dan merekam biasa untuk yang analog (misalnya vokal). Nah, sehabis itu coba menabung untuk membeli peralatan penangkapan suara yang memadai. Misalnya, gunakan kartu suara firewire atau usb atau solusi terakhir, modul kartu suara yang terpisah. Jangan pakai yang integrated chipset. Memang, akhir-akhir ini mereka bisa menangkap suara pada 192 kHz, tapi kemungkinan noise sangat tinggi.

Ah, tapi itu juga belum tentu benar. Silakan eksperimen dan temukan musikmu sendiri. 🙂

Kata Terakhir Agar Tulisan Ini Tidak Menjadi Artikel Musik Tapi Tetap Artikel Membahas Sarana Musik FOSS

Sedikit catatan, untuk membuat sebuah rekaman Youtube berbeda dengan rekaman untuk audiofilia (audiophile). Satu hal lagi, akhir-akhir ini audio engineer memodifikasi preset mereka agar rekaman teroptimasi di iTunes. Dari pandangan saya, musik yang dienkode dengan format MP3 pasti menghasilkan suara yang kurang dari aslinya.

Artinya, jangan kuatir jika ada seorang audiofilia menyerang Anda. Toh, ada 98% populasi yang tidak sadar. Bisa jadi kekurangan Anda adalah tanda tangan Anda, seperti Alanis Morissette dengan suara khasnya.

Eh, tapi setidaknya menyanyi jangan off tune. 😛

Katanya, sih, seorang audio engineer itu membutuhkan waktu setahun untuk dapat menemukan bentuk. Jadi, jangan cepat menyerah.

Selamat berkarya dengan FOSS! Selamat menjadi bintang Youtube berikutnya/duta kebudayaan/dsb.


Artikel ini bagian dari komitmen saya untuk menggunakan FOSS di luar keahlian saya: kartu pintar, server, kernel, dan pemrograman Java. Jadi, kalau keakuratannya kurang, mohon maaf.