Pada tahun 1996, Mr. Children mendatangi PT Aquarius dan meminta lagunya, “Kiseki no Hoshi” untuk ditulis ulang. Kemudian, Katon Bagaskara menulis kembali menjadi “Usah Kau Lara Sendiri”. Lagu ini dinyanyikannya bersama dengan Ruth Sahanaya. Lagu ini digunakan untuk menghimpun dana dalam penanggulangan AIDS.

Saya heran  dengan yang tidak paham tentang hal ini dan membuat komentar tidak enak di video-video Youtube “Kiseki no Hoshi”. Padahal, Mr. Children termasuk salah satu artis favorit saya sewaktu pertama kali mengenal budaya pop Jepang (Komik, Anime, Drama, dan Kostum) bersama dengan JAM Project, Megumi Hayashibara, dan X Japan. Seharusnya mereka tahu Mr. Children dari lagu “Poison” yang menjadi lagu drama “GTO”. Kalau tidak salah pernah diputar di Indosiar.

Omong-omong soal Katon Bagaskara, saya salut dengan Beliau yang selalu menggunakan kata-kata puitis dalam lagunya. Kata-kata yang jarang terdengar dan terasa asing menemukan makna yang dalam di dalam setiap lagunya. Kata seperti “Saujana” membuat mata saya terbuka dan mengerti bahwa sebenarnya Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang luar biasa. Masalahnya, tidak banyak orang yang mendokumentasikan kata-kata Bahasa Indonesia. Entah berapa banyak yang telah hilang, tidak seperti bahasa Inggris yang bahkan dapat ditentukan kata tertuanya secara ilmiah.

Miris memang….

Tempo Edisi 14-20 November 2011 dalam kolom Bahasa menuliskan seorang dosen Bahasa Indonesia di sebuah universitas di Jerman tertegun ketika muridnya menyatakan bahwa bahasa ini akan selalu kelas tiga. Ia tertegun tak bisa membalas karena presiden negara ini menebarkan kata bahasa Inggris dalam pidato resminya. Masakkan, Indonesianis yang mendokumentasikan Indonesia justru dari bangsa lain.

Masalah lain dari penegakan Bahasa Indonesia adalah dilema sosial. Banyak saudara kita dari suku tertentu suka menyebutkan sukunya dengan ejaan dan tulisan Inggris. Saya pada awalnya suka memrotes hal tersebut. Tetapi masalahnya, mereka selama ini mengalami diskriminasi sosial. Apalagi, saya baru tahu kalau ternyata sebutan suku tersebut terkadang dipakai untuk merendahkan. Protes saya bisa jadi menyakitkan dan saya tidak bermaksud seperti itu.

Itu sebabnya, kendati ada sebutan lain untuk suku saudara kita itu, seperti yang suka dipakai  oleh Gus Dur, ini semua tergantung bagaimana kita. Maukah kita menggunakan istilah alternatif yang lebih sopan, bermartabat, dan tentunya itu adalah kata dalam Bahasa Indonesia itu? Saya pun enggan memaksa, karena ini masalah bagaimana kita sebagai sebuah bangsa. Tergantung saudara kita dan kita sendiri apakah mau menyamankan diri dengan istilah tersebut.

Apakah kita mau menyamankan diri dengan istilah Indonesia? Ini hanya bangsa ini yang bisa menjawab. Ini tergantung kita sendiri.

Saya sendiri berusaha menyamankan diri dengan Bahasa Indonesia, termasuk dalam penggunaan komputer. Kendati banyak yang tidak menyukai istilah komputer dipadankan ke Bahasa Indonesia, saya berusaha mencoba sebisa mungkin menggunakan Bahasa Indonesia. Untungnya, tim Blankon membuat saya tidak perlu mencari-cari aplikasi berbahasa Indonesia. Saya sudah punya komputer berbahasa Indonesia, bukan cuma panduannya saja. 🙂

Tidak mudah menggunakan kata “unduh”, “unggah”, dan “surel” dalam percakapan sehari-hari. Tetapi, saya sudah terbiasa dengan gerakan FOSS yang juga seanalogi dengan ini. Menggunakan kata “unduh” bagaikan menggunakan LibreOffice daripada  Microsoft Office. Seperti memilih KDE atau GNOME, saya mengerti bahwa kata “surel” dan “ratron” memiliki dua kubu yang berbeda untuk menggantikan “email” (Windows).

Akan ada banyak istilah pengganti untuk sebuah istilah komputer. Tetapi, saya bisa memandangnya sebagai sebuah ekspresi kebebasan. Setiap orang berusaha mendalami Bahasa Indonesia, seperti pengembang yang berusaha menerapkan algoritmanya sendiri dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan. Proses kreatif yang teruji menghasilkan kata-kata yang dapat digunakan. Usaha-usaha ini pun menyebabkan orang lebih suka menggunakan Bahasa Indonesia karena mereka merasa memiliki bahasa ini; seperti ada istilah “eat your own dog food” bagi para pengembang aplikasi.

Saya tidak berusaha menjadi seorang cauvinis. Tetapi, saya melihat dan berusaha mengaitkan antara bahasa dengan rasa cinta tanah air dalam hubungannya dengan prestasi bangsa. Dari hasil uji amatir, saya melihat terdapat korelasi positif antara keduanya dengan majunya sebuah bangsa. Bahasa merupakan bagian dari budaya. Pengentalan penggunaan bahasa berimplikasi kepada pengagungan budaya nasional. Pengagungan budaya nasional melahirkan nasionalisme. Nasionalisme melahirkan kecintaan kepada bangsa. Kecintaan kepada bangsa membuat individu ingin menyumbang sesuatu kepada bangsa. Hasil sumbangsih ini yang pada akhirnya mengangkat hidup orang banyak.

Seperti penggunaan FOSS, Bahasa Indonesia juga mengalami banyak penolakan. Kalau FOSS punya Richard M. Stallman dan FSF yang fanatik, Eric Raymond yang pragmatis, dan banyak pejuang FOSS lainnya, siapakah yang akan membela Bahasa Indonesia?

Lagu penutup: Betharia Sonata — Hati yang Luka