Pantas beberapa hari ini pesan pendek iklan tidak ada lagi masuk ke nomor saya. Ternyata, SMS konten premium sudah mulai dihentikan dan beberapa penyedia layanan sudah mulai ditutup. Wow, akhirnya!

Hanya saja, ada beberapa cerita yang tidak menyenangkan. Ada artis yang memutuskan untuk vakum bila ini membangkrutkan industri musik. Ada juga yang tidak cemas karena mengharapkan penjualan CD kembali terdongkrak. Padahal, penjualan CD sangat tidak ideal di Indonesia. Pertama, harga mahal. Kedua, sebagian sistem suara yang dimiliki tidak mendukung kualitas. Ketiga, orang sudah terbiasa membeli CD kompilasi MP3.

Saya punya ide, tetapi ide saya tidak asli. Saya akui ini adalah sebuah ide dari apa yang iTunes sudah tawarkan di Amerika Serikat. Tentunya, hal ini dengan penyesuaian kultur di Indonesia.

Konsorsium Penjualan Musik Daring

Bagaimana bila para produsen musik membuat sebuah konsorsium penjualan daring. Model pembayarannya menggunakan minimal tiga:

  1. Pembayaran melalui transfer bank.
  2. Pembayaran melalui kartu kredit.
  3. Pembayaran melalui pihak ketiga semisal Paypal.

Nah, saya, sih, lebih menekankan untuk pembayaran kepada bank. Saya pikir lebih baik bila konsorsium musik ini membuat sebuah pembayaran terpadu yang terhubung langsung kepada bank-bank di Indonesia. Pengguna sistem ini bisa mendaftarkan akun bank-nya sebagai akun yang digunakan.

Kartu kredit dan Paypal sebenarnya tidak saya sarankan karena keduanya memerlukan pengisian aplikasi yang ribet. Lagipula, standar yang dapat digunakan untuk menggunakan kartu kredit menyebabkan pembeli-pembeli potensial tidak dapat dijangkau. Mereka dianggap tidak mampu.

Independensi Konsorsium Musik

Saya menyarankan bahwa konsorsium musik ini independen dan memperbolehkan aktivitas jual beli dari penggunanya. Hal ini mendukung industri kreatif. Orang bisa membuat lagunya sendiri dan mempublikasikan di bawah benderanya sendiri. Hal ini untuk merangkul musik Indie dan label-label yang kecil.

Mitos yang sering kali muncul adalah dengan membuka keran sebebas-bebasnya maka label besar terancam. Padahal, setiap label kecil biasanya menggarap pasar-pasar yang niche. Justru, dengan adanya pasar-pasar niche, industri musik bisa terus bergeliat dengan melihat tren dan penciptaan pasar baru.

Pencarian bakat kreatif pun bisa menjadi murah karena label bisa dengan mudah melihat bakat mana yang sedang naik daun. Hal ini bisa terlihat dari profil orang-orang yang kreatif yang telah mendapatkan nama dari hasil rekaman terdahulu mereka. Tidak perlu menangis-nangis di TV segala dan mengantri berjam-jam untuk audisi. Contoh yang sudah jadi seperti Owl City dan Pomplamoose. Memang, ada juga yang ingin tetap independen seperti RWJ. Tapi, itu, kan, sebuah pilihan.

Bangunlah!

Sudah lama yang namanya pembayaran mikro (micropayment) didengung-dengungkan. Tapi, kok, sampai sekarang belum ada? Sisi teknologi sudah ada, industri kreatif sudah berkeliat, dan infrastruktur sudah cukup untuk memulai.