Situs utama kernel Linux, kernel.org, terkena serangan. Akibatnya, saat ini repositori utama tidak bisa diakses. Tapi, jangan panik dululah.

Untungnya Linux menggunakan DVCS (Distributed VCS) GIT. Dari sisi teknikal, setiap orang yang memiliki salinan GIT Linux bisa menjadi master yang baru. Berbeda dengan SVN atau CVS yang merupakan VCS lama yang tersentralisasi. Untung yang kedua lagi adalah setiap perubahan di dalam repositori memiliki tanda tangan digital. Hal ini memastikan bahwa perubahan pada struktur GIT yang ilegal akan dapat dideteksi dengan ketidaksamaan isi dengan tanda tangan digital (checksum).

Salah satu akibat yang serius adalah Google menutup server GIT Android untuk sementara waktu. Beruntung, banyak orang yang memiliki akun di GitHub dan tempat lainnya telah siap untuk menjadi master.

Saya rasa, pembobolan ini hanya sekedar memberikan efek kepada orang-orang awam bahwa bahkan GNU/Linux tidak aman. Tambah sedikit teori konspirasi dan bla… bla… bla…. Ah, keamanan server  bergantung kepada administratornya dan perangkat lunak dan penggunanya. Banyak sekali celah untuk masuk.

Hanya saja, saya tidak setuju dengan penggunaan kata hacked.  Bagi saya, sesuai dengan istilah Erik S. Raymond dan Richard M. Stallman dan tokoh-tokoh luar biasa lainnya yang ada pada saat saya mulai mengenal komputer dan etiket, hacking != cracking. Jangan samakan kegiatan mulia seperti hacking dengan kegiatan tidak bertanggung jawab seperti cracking.

[BTW, saya jadi ingat majalah komputer Mikrodata. Sayang, sewaktu banjir besar di Jakarta dulu, koleksi saya juga ikut hilang…. Btw lagi, saya bukan bapak-bapak tua, hentikan panggil saya Om! :)]

Etika dan Realita

Berhubungan dengan etika, saya jadi ingat apa yang menjadi prinsip. Dulu saya belajar bahwa ternyata kampus-kampus itu kebanyakan mengizinkan dan membebaskan jaringan lokal mereka. Mungkin rekan-rekan yang bersekolah di luar negeri lebih paham. Konon, kampus-kampus lebih banyak membuka port. Hal ini memang penting karena kampus adalah dunia akademis ada banyak kepentingan di sana yang tidak perlu dihambat.

Bayangkan, seandainya saya memasang saringan di proksi untuk situs-situs tertentu. Ternyata, ada fakultas yang membutuhkan informasi di sana. Setiap kali ada penelitian, seseorang harus meminta izin dahulu ke universitas. Atau jika ada seseorang yang tiba-tiba membutuhkan data-data tak layak untuk penelitian — benar, lho, rekan saya ada yang meneliti tentang SPAM dulu dan kesulitan meminta korpus data tersebut.

Menurut saya, ide adalah layaknya seperti aliran air dan proses kreativitas seperti sebuah gelas yang dicelupkan ke sungai ide. Saat mengurus perizinan itu seperti proses mengangkat gelas tersebut. Tentu, saat izin lolos dan disetujui, kita kembali menaruh gelas kreativitas. Tetapi, air yang melewatinya sudah tak lagi sama. Kita kehilangan air ide yang sudah lewat. Orang-orang yang punya ide membludak akan terdiam seandainya dia sempat tersendat.

Tetapi….

Sekarang ini seperti ada tren bagi anak muda (kecuali saya, hehehe… saya juga anak muda) untuk  dapat meng-crack sesuatu. Kata hack itu terpeyorasi sedemikian sehingga memiliki arti yang tidak seperti dulu lagi. Contohnya: “eh, status gw itu dibajak sama orang. Akun gw kena hack“, “Ini pin BB gw yang baru, yang lama udah ilang kena hack“, dan lain sebagainya.

Hmm…

Setelah saya teliti lebih lanjut, ternyata orang tersebut menggunakan sandi yang jelek seperti “mother” atau “father”. Ada juga yang mendaftar ke situs-situs aneh. Ah, saya jadi ingat, dahulu saya pernah ke sebuah Warnet dan mendapati ketika saya hendak mengakses SIAK, sandi dan nama penggunanya sudah ada. Nampaknya ada yang menyimpan sandi di Firefox. Sepertinya dia tidak membaca peringatan dan langsung menekan tombol “Yes”.

Omong-omong, berapa banyak dari Anda yang membaca peringatan secara sungguh-sungguh?

Budaya digital memang kompleks dan berbeda dengan budaya analog. Di dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya tindakan kita tercakup dalam KUHP dan UU dan peraturan lainnya. Tetapi, kita tidak pernah secara langsung bersentuhan. Semua hukum transien bagi kita.

Hal ini berbeda dengan budaya digital yang berakar dari budaya literasi. Setiap tindakan kita selalu disuguhi hukum. Hukum seperti copyright, patent, dan lain sebagainya mengakibatkan produsen perangkat lunak harus menyertakan legalitas. Selain itu, peluang-peluang bisnis yang baru juga bermunculan. Celakanya, setiap peluang tersebut berpeluang juga melanggar etika dan bahkan human rights. Ingat, budaya digital baru beberapa puluh tahun, sedangkan budaya analog sudah berkembang ribuan tahun hingga sekarang.

Ide-ide yang dahulu tampak tabu, namun setelah dimanfaatkan ternyata bermanfaat. Ide-ide yang dahulu tampak brilian ternyata saat dikembangkan ke budaya digital menimbulkan efek negatif. Intinya saat ini terjadi evolusi cepat dalam budaya digital. Kalau budaya ini sedang berkembang, maka yang paling dapat digantungkan saat ini adalah etiket. Hukum belum cukup kuat untuk dapat memanfaatkan sesuatu yang belum lumrah.

Sejauh mana etiket dapat dijunjung? Sejauh mana kebebasan dapat diayomi?

Kalau saya, sih, berpendapat sejauh teknologi yang dikuasai dapat mengayominya. Selama teknologi masih dapat mendukung, saya terima saja. Beberapa contoh kasus sayangnya saya tidak tahu apakah boleh diceritakan atau tidak menyebabkan hal-hal negatif. Intinya kebebasan tersedia, tetapi setiap kebebasan yang kebablasan mengakibatkan terjadinya pengerdilan kebebasan. Sedihnya, dari waktu ke waktu kebebasan semakin mengecil dan digantikan dengan aturan yang semakin ketat. Sayang.

Padahal saya setuju dengan Derek Sivers, jangan hukum semua orang karena kesalahan seseorang. Tetapi, ini negara demokrasi. Orang cenderung reaktif dan ketakutan pun perlu diayomi. Pengaturan jadi dirasa perlu. 🙁

Saya, sih, inginnya semua orang bertanggung jawab. Seperti Bibi Anne yang berkata, “within great power lies great responsibility”. Ketika sebuah kebebasan tersedia, hendaknya seseorang berpikir sebelum ia menyalahgunakan kebebasan itu. Ketika admin terpaksa memutuskan untuk menutup celah tersebut akibat penyalahgunaan, tidakkah pelaku berpikir bahwa hal tersebut berdampak pula kepada orang lain? Celah yang sebenarnya dapat digunakan untuk proses kreatif akhirnya tertutup.

Tentu banyak orang yang berpikir, kalau tahu ada celah, kok, tetap dibuka, sih?

Terkadang untuk inovasi Anda harus berada di area abu-abu. Akademisi sering berada di area tersebut untuk kepentingan penelitian. Sama seperti dokter kandungan yang memeriksa kandungan, setiap akademisi juga dilengkapi oleh etika akademik. Hal ini yang mengakibatkan bahwa kendati di area abu-abu, akademisi tetap bersikap netral dan justru menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat bagi masyarakat. Itu sebabnya akademik cenderung permisif. Lihat saja sejarah Facebook.

Tentu, tidak semua orang punya etika yang bagus. Semua kembali berpulang kepada hati masing-masing orang. Internet yang merupakan salah satu inti kebudayaan digital masih berkembang. Hanya saja, kembali perlu diingat, kebebasan ada bukan untuk disalahgunakan, tetapi manfaatkanlah untuk pengembangan. Menurut saya, seperti pengajaran PMP, kebebasan seseorang dibatasi oleh kebebasan orang lain. Pikirkan dampak yang dialami oleh orang lain sebelum bertindak.