Dilarang Jongkok!

Kalau saja Romo Mangun masih hidup, ia pasti tidak akan membiarkan tanda ini berseliweran. Ah, berapa banyak bangunan baru yang sudah memasang tanda ini. Tidakkah arsitek mereka mengerti kecacatan bangunan mereka?

Coba Anda datang ke Universitas Indonesia. Saya belum pernah mengunjungi semua bangunan, terutama bangunan baru. Tetapi, di setiap bangunan yang saya kunjungi selalu terdapat dua tipe kloset: WC jongkok dan WC duduk. Selalu ada minimal dua WC untuk dua preferensi tersebut.

Saat merancang bangunan Universitas Indonesia, para pendiri bangsa ini menghargai preferensi budaya bangsa ini. Setiap orang yang masih menggunakan budaya bangsa ini berhak untuk mendapatkan fasilitas kenyamanan. Tak lupa pula, untuk tamu yang berkunjung dan tuan nyonya yang sudah terbiasa budaya Barat juga terlayani. Semuanya sama.

Menurut Anda, mana lebih higienis: mencebok dengan tangan atau dengan tisu?

Menurut video, keduanya sama-sama jorok. Kehigienisan ditentukan bagaimana cara Anda mencuci tangan, bukan cara Anda cebok. Baik cara asing mau pun cara Indonesia, keduanya tidak higienis. Ilmu modern menjawab itu dengan menyediakan antiseptik setiap kali kita membersihkan diri.

Memang, ada cerita mengenaskan ketika saya mencari gambar tentang WC jongkok. Kisah seorang gadis yang pangkal pahanya rusak (perhatian, jangan berusaha cari, fotonya sangat tidak pantas) akibat jatuh dari tempat dudukan. Mungkin maksud pengelola memang baik agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti itu. Apalagi, beberapa tempat perbelanjaan memiliki WC yang licin. Tetapi, ini tidak lepas dari pertanyaan mengapa arsiteknya dari semula tidak memperhitungkan adanya budaya ini?

Apakah kami yang masih menganut budaya lama tidak layak mendapatkan pelayanan yang sama? Apakah kami dianggap kuno dan tidak higienis? Apakah kami memang sudah usang dan tak layak mendapatkan tempat di dunia modern?

WC jongkok hanyalah sebuah bongkahan dari gunung es dari sebuah pertanyaan:

“Seberapa inferiorkah budaya Indonesia sehingga ia tak lagi mendapat tempat di kehidupan modern?”

Sebuah bangunan dibangun dengan kenyamanan di dalamnya, sebuah tempat perlindungan. Ia dibangun agar sang penghuni dan yang berkunjung terasa di rumah. Saya sangat menantikan mall atau plaza yang mengerti falsafah ini.