Terkadang kita berpikir bahwa apa yang kita miliki benar-benar milik kita. Tetapi, benarkah demikian? Kemarin lusa saya kehilangan ATM saya. Akibatnya, saya tidak dapat mengambil uang, sedangkan bank tutup hari libur. Walau pun baru gajian, tetapi gaji itu tidak dapat dinikmati. Bukankah berarti sesuatu yang merupakan milik saya itu ternyata bukan milik saya karena saya tidak dapat menggunakannya?

Hari ini saya ke kantor, lalu memainkan bulu tangkis. Sayangnya ketika pulang, saya lupa membawa dompet. Padahal, kantor saya dilengkapi dengan fasilitas kartu pintar sehingga saya tidak dapat masuk tanpa kartu. Sudah memencet bel belasan menit, tetapi tidak ada orang di dalam. Wow, hanya saya yang bisa masuk ke sana. Tetapi, hak ekslusif ini justru yang membuat saya tak dapat ditolong oleh orang lain. Saya hanya dapat merasakan hawa AC yang dingin yang keluar dari sela-sela pintu tersebut sementara saya kepanasan.

Bengong di depan ruangan sendiri tak bisa masuk. Saya hanya menunggu siapa tahu ada rekan kerja saya yang datang. Tidak ada satu pun yang datang. Beruntung, ada satpam yang berpatroli yang mengatakan bahwa ada kartu cadangan di kantor mereka. Saya pun mencari-cari sampai akhirnya menemukan rekan satpam yang memiliki kartu tersebut. Proses ini pun lama karena satpam tersebut sedang patroli juga.

Saya sadar….

Hanya karena kita telah diberikan hak untuk menikmati sesuatu, bukan berarti hak tersebut adalah sesuatu yang milik kita. Hanya anugerah-Nyalah yang membuat kita dapat menikmati apa pun yang ada pada kita. Sisanya adalah titipan yang mungkin dapat kita nikmati atau hanya sebagai status milik kita.

Kini saya mengerti lebih dalam lagi arti kata bersyukur.