Seorang rekan bertanya tentang arti slogan INAICTA 2011:

Leverage Digital Creativity for National Economic Growth

Sebuah pertanyaan yang benar-benar mengena dalam hati saya. Sebagai seorang yang pernah ikut dalam tim INAICTA/APICTA 2007, saya pun berpikir dan menjawab:

“The next thing after Koprol”. Sesuatu yang beda, bisa dijual, dan orang nangkep konsepnya.

Ya, iyalah, kriteria pertama dari sebuah produksi industri kreatif adalah sesuatu yang berbeda. Sebuah produk yang dimiliki hanya oleh sang produsen, unik. Tidak melulu berkualitas tinggi. Tetapi, ada daya tarik yang berbeda dengan orang lain. Daya tarik itu bukan melulu tentang produk tersebut.

Aneh memang, tetapi sebuah produk yang bisa dijual bukan berarti produk tersebut adalah produk yang dewasa. Produk tersebut memiliki sesuatu yang bisa memiliki daya tarik. Misalnya, walau pun produk Cina tidak begitu berkualitas, tetapi harganya yang murah dan dapat dengan mudah dikustomisasi membuat banyak penjual dari negara lain membelinya. Produk Jerman terkenal dengan kualitasnya sehingga walau pun harga mahal, ada saja yang membelinya. Produk FOSS dikerjakan oleh kontributor di waktu senggang, tetapi komunitas yang kuat membuat banyak orang dan organisasi yang mendukung. Produk Apple banyak yang membeli walau pun mahal karena mereka menempatkan barang-barang mereka sebagai barang premium.

Yah, kira-kira Anda mengertilah….

Produk yang berbeda ini harus bisa dijual. Tampaknya INAICTA/APICTA ini adalah ajang temu antara tim dengan investor. Saya pikir jika Anda seorang enterpreuner bermodalkan ide kreatif, INAICTA/APICTA bisa menjadi ajang untuk Anda bisa menjual produk Anda. Asalkan Anda punya ide yang dapat dikomunikasikan kepada investor dalam bentuk ROI, tak jawara pun tak mengapa. Yang penting ada investor yang tertarik produk Anda.

Hal yang menarik, di APICTA Anda bahkan bisa menyewa seorang presenter untuk menjual produk Anda! Entah sekarang, tetapi sewaktu 2007 kemarin, sih, begitu katanya. Itu makanya, berbeda dengan presentasi kuliah, di sana Anda tidak perlu bergiliran untuk mempresentasikan produk Anda. Anda hanya perlu meyakinkan juri, investor, atau setidaknya diri Anda bahwa ide Anda berharga.

Hal yang paling aneh dari industri kreatif adalah justru familiaritas orang-orang dalam penggunaannya. Semakin aneh produk Anda, tetapi bila ada jembatan keledainya, orang akan tertarik menggunakannya. Makanya, usahakan banyak use case yang bisa dikomunikasikan kepada orang.

Sebenarnya dari penelitian saya, saya menemukan bahwa Google Wave memiliki konsep yang benar mengenai komunikasi. Ia mengumpulkan apa pun yang bisa dianggap sebagai kanal komunikasi. Hal tersebut bisa saja dokumen yang disunting bersama, sebuah korespondensi surel, sebuah percakapan, dan lain sebagainya. Hanya saja, ia terlalu maju untuk waktunya. Ia membutuhkan sumber daya yang belum mencukupi saat itu. Dan, tidak seorang pun mengerti konsep Wave. Saya pun tampaknya tidak. 🙂

Dahulu, ketika mempresentasikan di depan juri, saya menemukan bahwa bingkai kerja SmartInfrastructure UI yang kami kerjakan tidaklah familiar. Kami kesulitan menjelaskan konsep. Bahkan, ada satu juri yang dari negara lain yang bertanya tentang keamanan kartu pintar, sesuatu yang merupakan fitur dasar dari kartu pintar. Saya sadar, tidak semua orang punya latar belakang yang sama dengan yang kita punya. Berbeda dengan presentasi tugas akhir yang berusaha membuat dosen terkesan dengan banyak jargon, presentasi produk harus punya jargon yang membumi.

Kata-kata seperti enkripsi, dekripsi, Master Key, dan kata-kata ajaib dari dunia CIS (Cryptography and Information Security), sebaiknya dijabarkan dengan bahasa: mampu melindungi dari penipuan. Ketika ditanya tentang detailnya, tetap saja gunakan jargon membumi dan menghindari jargon-jargon aneh. Bahkan, tidak perlu orang tahu tentang APDU. Yah, namanya juga orang dari dunia bicara lewat kode, khilaf kami!

Hal ini cukup memicu saya untuk belajar mengkomunikasikan sesuatu dengan bahasa yang dipahami oleh orang lain.

Ah, saya berbicara seakan-akan sudah empu. Saya juga masih banyak belajar. Pengalaman saya ini mungkin banyak kekurangan, tetapi saya mau belajar untuk membagikannya. Mungkin Anda juga dapat membagikan sesuatu. Seperti slogan web Iang zaman dulu, “ilmu itu, ya, untuk dibagi”.