HAKI Logo UI

HAKI Logo UI

Saya mendapati spanduk di situs UI yang tak mengarah ke mana-mana. Saya cari di Google dan membuat tautannya ke arah yang benar, setidaknya di blog ini, yakni menuju SIYANKI UI (Sistem Informasi Pelayanan Hak Kekayaan Intelektual Universitas Indonesia). Di dalam sistem informasi tersebut, ada tautan yang berisi dokumen HAKI tentang logo Makara UI. Isinya berisi pemindaian sertifikat-sertifikat HAKI.

Sistem ini menggunakan spanduk utama berupa gambar penuh. Padahal, seharusnya logo dan nama sistem berupa tulisan dengan format Heading (H1 atau H2). Jadinya saya tidak bisa menyalin tapi terpaksa mengetik. Ini bertentangan dengan ide web semantik. Tetapi, di Google ia urutan pertama ketika kita mencari “HAKI UI”. Namun, tak tampak ketika mengetik “logo UI”. Wajarlah, mengingat lawannya adalah situs-situs lain yang sudah bertahun-tahun bercokol.

Ah, saya benci per-SEO-an dan lagi pula, sistem ini sangat bagus. Halaman pertama dari SIYANKI UI menjelaskan tentang posisi legal MAKARA UI. Sangat menjelaskan dan tepat. Situs ini bisa jadi referensi ketika kita mau berbicara tentang kepastian hukum penggunaan MAKARA UI. Kudos kepada pengembang.

Yang pasti, HAKI adalah barang baru di Indonesia. Pertama kali yang saya tahu adalah UU tahun 2001, tahun HAKI pertama kali disosialisasikan untuk digunakan. Saya tidak tahu apakah sebelumnya ada UU HAKI, karena itu saya tetap menyimpan MP3 pra 2001. UU ini tidak berlaku surut, ‘kan?

Nah, berbicara soal HAKI, apakah yang dimaksud dengan HAKI? Apakah perangkat lunak/algoritma termasuk yang bisa di-HAKI-kan? Nah, itu saya pikir butuh orang hukum yang membahasnya.

Hal yang menarik dari soal HAKI adalah sejauh mana penggunaan logo seperti UI yang dapat digunakan? Istilahnya, sekarang banyak taksi yang mirip dengan taksi Blue Bird. Apakah logo dan biru Blue Bird juga sudah dipatenkan? Ataukah jangan-jangan tidak sama sekali.

Nah, apakah logo makara UI dengan bentuk yang lain (merah biru untuk Fasilkom, perak untuk ekonomi, dan lainnya) juga dilindungi oleh sertifikat ini? Saya melihat hanya logo kuning saja yang dilindungi merek tersebut.

Lalu, apakah nama Universitas Indonesia itu sendiri dipatenkan? Sejauh mana penggunaan nama UI itu diperbolehkan?

Nah, itu baru masalah di pucuk permukaan gunung es. Ada masalah lain seperti apakah negara ini menggunakan fair use clause? Apakah implementasi yang telah ada yang bukan dari organisasi Universitas Indonesia boleh dilanjutkan?

Lalu, jika terjadi penindakan, bagaimanakah sikap UI? Apakah represif? Apakah karya seni pun dilabrak? Ataukah ada strategi humanistik yang dimiliki UI untuk mengatasi pelanggaran HAKI?

Ini sebenarnya sebuah isu yang sedang dihadapi di luar negeri sana. Sekarang korporasi sedang bingung bagaimana mengomersialisasikan perangkat lunak bebas dan terbuka (FOSS). Nokia dulu kena getahnya di tahun 2008 dan kini Oracle.

Lalu, ada juga kisah troll paten. Sebuah sebutan untuk perusahaan yang hanya mengumpulkan paten sebagai portfolionya tapi tidak pernah benar-benar mengimplementasikannya. Bila ada perusahaan lain yang hendak mengimplementasikan sebuah inovasi yang didalamnya terkandung mekanisme yang ada di paten tersebut, maka perusahaan tersebut akan dituntut.

Itu yang membunuh Amerika Serikat dan membuat Cina maju. Troll paten hanya terdengar di Amerika Serikat dan Cina tidak begitu menghargai patennya. Sehingga, di Cina orang bebas meniru apa saja dan mengekspornya ke luar negeri. Mereka cukup lama dalam menerapkan

Ah, melihat UI telah menggunakan HAKI, berarti sudah memberikan kontribusi kepada Indonesia dalam penegakan HAKI. Pertanyaannya,  apakah Indonesia akan menjalani proses yang sama seperti Amerika Serikat dalam hal kemandekan penciptaan?

Hal yang dapat terjawab lima belas sampai dua puluh tahun mendatang…. 😛