Pengunjung, Pemilik, dan Anak Pemilik Restoran

Pengunjung, Pemilik, dan Anak Pemilik Restoran

Ada banyak pengunjung yang senang mengunjungi sebuah restoran. Alasan utama mereka pastinya karena kebutuhan mereka terpenuhi. Pelayanan yang disediakan restoran tersebut memuaskan. Kita dianggap tinggi di dalam restoran tersebut.

Banyak yang berkunjung untuk menu-menu istimewa yang tak dijumpai. Apalagi bila restoran tersebut menyediakan harga yang sangat terjangkau. Pastinya, lebih banyak orang yang berkunjung. Kantong-kantong yang bergemerincing pun berkunjung.

Cuma, ketika sebuah api menyala dan mulai membakar restoran tersebut. Semua orang berlarian ke luar menyelamatkan diri. Sambil membawa barang masing-masing, mereka mulai panik dan histeris.  Mereka yang lapar segera bergegas ke restoran lainnya dan berusaha melupakan kebakaran tersebut.

Dengan wajah terpesona, termangu, bahkan sedih, pengunjung yang lain memutuskan untuk lihat dari luar. Beberapa bingung dengan membuat berbagai spekulasi mengenai penyebab kebakaran. Yang lainnya bersedih, mereka membayangkan bagaimana nasib para pekerja restoran itu. Mereka juga sedih karena tempat makan mereka hilang.

Empati mulai bermunculan melihat sang pemilik mulai memadamkan api. Dari luar restoran, mereka berharap agar pemilik restoran pergi keluar dan meninggalkan restoran yang terbakar. Tak ada seorang yang berani membantu. Apalagi, api sudah semakin membesar.

Frustrasi itu ternyata tidak menghinggapi seseorang. Berbeda dengan yang lain, ia tidak berlari keluar. Ia justru segera mencari ember untuk diisi air. Dengan sekuat tenaga, ia berusaha memadamkan api. Bahu membahu bersama pemilik restoran, ia mencari cara.

Gagahnya api tidak memadamkan semangatnya. Dengan tekun ia mencari sumber air. Tergopoh-gopoh, berlekas-lekas, dan dengan teliti ia menyiram air dalam ember ke sumber-sumber api. Sumber api yang bisa dipadamkan segera dicarinya. Sampai datang pemadam kebakaran memadamkan api, ia tetap terus memadamkan api hingga padam benar.

Hinggaplah kebingungan di antara pengunjung yang lain. Bertanya-tanya tentang gerangan orang ini. Yang rela bersama sang pemilik memadamkan api. Ketika ditanya, orang tersebut menjawab, “restoran ini milik ayah saya. Kami hidup dari sini. Puluhan tahun kami membangunnya.”

Indonesia, milikmukah?