Ada beberapa keberatan yang saya hendak ajukan kepada penggiat dunia maya sekarang, berhubungan terhadap aksesibilitas:

  1. Buat tema yang pas. Jangan membuat komentar menjadi mubazir.
  2. Hentikan konten sampah.
  3. Jangan berdebat kusir.

Buat Tema Yang Pas

Sering kali, dalam sebuah terbitan yang menarik melibatkan diskusi yang panjang. Nah, tema yang tidak memperhatikan segi komentar yang panjang sering kali membuat orang tidak membaca komentar orang lain. Memang, seharusnya sang komentator belajar untuk mengirim komentar singkat. Tapi, kalau labelnya sudah humaniora, filsafat, bahkan agama, mana mungkin penjelasan bisa pendek?

Sering kali kita pusing membaca komentar orang dalam sebuah entri karena terlihat panjang. Beberapa mesin tematik juga secara brutal memotong baris-baris kosong pada komentar yang menyebabkan komentar-komentar panjang jadi terpotong. Malas jadinya membaca sehingga komentar seperlunya dan sekenanya. Inilah salah satu asal-muasal perang suci di komentar (flamewars).

Mari perhatikan RFC 678. Ini adalah kebijakan masa lalu tentang tulisan digital. Lebar tulisan maksimal seharusnya 72 karakter dan tingginya 60 baris. Memang, semenjak zaman lebar pita berlimpah dan aspek monitor semakin dalam, kita mulai meninggalkan konvensi-konvensi ini. Tapi, kok, semakin lama tulisan panjang semakin sulit untuk dibaca.

Coba perhatikan jurnal-jurnal ilmiah semacam ACM dan IEEE Conference. Kebanyakan tata letak mereka menggunakan dua kolom. Hal ini agar tulisan lebih padat dan mudah dibaca. Aspek mudah dibaca ini yang membuat banyak orang, terutama para pemrogram, menentukan bahwa jarak ideal sebuah tulisan adalah 60 karakter.

Omong-omong, kalau Anda membuat CSS untuk formulir isian sehingga berwarna seperti tematik situs Anda, jangan lupa untuk memberi warna kontras terhadap huruf yang diberikan warna tulisan Anda. Tidak semua sistem operasi menggunakan warna putih sebagai warna tematiknya. Kalau tidak bisa, lebih baik tinggalkan warna isian formulir Anda sesuai dengan warna baku peramban masing-masing pengunjung Anda.

Hentikan Konten Sampah

Anda tidak akan kaya dengan menaruh iklan di Internet. Yang ada hanyalah Anda mengganggu orang-orang dalam mencari konten di Internet. Masalah SEO ini membuat pening kepala. Saya sering kali terganggu dalam mencari topik-topik penelitian, terutama ketika mencari tulisan-tulisan populer.

Saya sudah lama tidak lagi membaca buku. Jurnal-jurnal ilmiah jauh lebih tertatar. Lalu, ketika blog mulai dipakai untuk menulis hal-hal yang bisa jadi tren di masa mendatang, saya memilih untuk membaca blog.

Sebagai contoh, coba lihat bufferbloat. Ini isu terkini dan belum dibahas secara mendetail dalam jurnal mana pun. Baru sekedar wacana tak begitu lama dan baru satu bengkel kerja yang membahasnya. Artinya, ini bisa jadi topik baru yang bisa diteliti untuk menghasilkan barang produksi baru. Bayangkan seandainya yang nomor satu adalah tautan-tautan SEO. Bisa-bisa masalah sebenarnya menjadi kabur.

Hentikan Berdebat Kusir

Hal terakhir yang membuat pening adalah ketika banyak yang berdebat kusir. Hal ini paling banyak saya temui di dalam debat-debat keagamaan. Menurut saya, kebanyakan dari mereka hanyalah untuk memuaskan ego mereka. Untuk membuktikan kalau mereka benar dan orang lain salah. Sama sekali bukan buat Tuhan.

Tidak ada yang bertobat. Hanya menambah kebencian. Tidak ada garis kesimpulan. Sumpah serapah pun acap kali muncul.

Sebagai pengguna lama dalam Internet, perlu saya tegaskan satu hal:

Identitas di Internet bukanlah sumber yang dapat dipercaya.

Masih segar diingatan bahwa Wikipedia masih belum dapat dipercaya. Internet adalah sumber yang tidak dapat dipercaya. Tentu ini berkontradiksi dengan apa yang saya tulis pada poin sebelumnya, yakni saya menggunakan Internet sebagai sumber bahan pembelajaran.

Masalahnya, sering kali orang membaca tulisan dan menganggapnya sebagai kebenaran. Beberapa kaum fundamentalis bahkan menggunakan referensi tautan di Internet untuk menjustifikasikannya. Bahkan, tanpa dikonfirmasikan lebih lanjut, ada orang yang menganggap sebuah komentar di forum Internet sebagai sebuah kebenaran.

Saya teringat tulisan Budi Rahadjo di InfoLINUX beberapa waktu yang lalu. Orang bisa saja menyampah dalam Internet dan Internet akan merekamnya sebagai sebuah kebenaran. Bermodalkan beberapa lorong, orang bisa menjadi siapa saja. Facebook dan Twitter bahkan memudahkan penipuan jenis ini.

Orang bisa saja menulis apa pun di Internet. Tetapi, tanpa data akurat, Anda berhak (bahkan wajib) untuk ragu. Hentikan berdebat dengan orang/bot/troll bila masing-masing pihak berpijak pada tanah yang berbeda. Tidak akan adil. Tidak akan menyelesaikan masalah.